Connect with us

Kitab

Cahaya dari Nusantara; Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya

Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya ibarat samudera. Keluasan ilmu dan kedalaman pandangan beliau seperti tak pernah habis untuk ditimba dan digali. Semuanya selalu menarik untuk diceritakan. Seperti buku yang berada di tangan Anda ini, Cahaya dari Nusantara, yang oleh penulisnya dengan apik didedahkan menjadi untaian mutiara yang berhasil beliau kumpulkan.

Published

on

Habib Muhdlor as-Segaf menuturkan telah belasan tahun mengumpulkan mutiara-mutiara ini, satu demi satu, lalu menyuguhkannya ke hadapan Anda. Beliau juga memilihkan mutiara terindah dari sekian banyak mutiara yang berhasil beliau kumpulkan. Maka, sebagai sesama murid Abah (demikian kami memanggil beliau), kami ingin menyampaikan rasa syukur dan terimakasih yang tak terkira atas upaya yang telah dilakukan Habib Muhdlor, sehingga oleh karenanya kita semua dapat lebih dekat mengenal Abah.

Tidak banyak orang yang sedekat Habib Muhdlor dengan Abah. Habib Muhdlor sering terlihat dimana Abah berada. Maka, tentu tidak mengherankan bila beliau mencatat begitu banyak tentang Abah. Beliau juga menyimpan begitu banyak peristiwa menarik dan unik yang terjadi saat bersama Abah. Anda akan menemukannya di dalam buku ini.

Sebelas bab tentang Abah yang coba disusun penulis merupakan intisari perjalanan bersama seorang guru. Penulis sangat detil mengcapture bahkan sampai soal hiasan foto di dinding rumah. Kebiasaan minum kopi dan kegemaran Abah berkalung tasbih dan menghiasi jari dengan cincin dan batu permata juga tidak luput dari catatan penulis.

Abah adalah orang yang gigih membela ide-ide nasionalisme, kebhinnekaan dalam bingkai NKRI. Beliau adalah tokoh besar, mulai dari Rais ‘Am Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN), sebuah organisasi tarekat di Indonesia, Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya juga seorang anggota Dewan Pertimbangan Presiden (biasa disingkat Wantimpres). Selain itu, beliau juga Ketua Organisasi Sufi Dunia. Walaupun demikian, Abah tetap tidak suka protokoler. Abah lebih memilih menikmati kebersamaan dengan umat.

Pada bab kedua penulis ingin bercerita tentang keseharian Abah di rumah. Abah selalu menjaga wudhunya, gemar bercanda dengan keluarga dan yang paling terlihat adalah Abah orang yang paling sayang kepada keluarga. Abah juga sangat apik membagi waktu, selalu memiliki waktu untuk membaca dan menulis walaupun rumah beliau selalu ramai dengan tamu yang datang silih berganti.

Membaca buku ini kita akan merasa makin dekat dengan Abah. Penulis berhasil dengan baik memaparkan kebiasaan Abah yang tidak dapat dilihat langsung oleh kita karena keterbatasan waktu dan ruang bersama Abah.

Habib Muhdlor as-Segaf juga tidak lupa menuliskan perjalanan keilmuan Abah, termasuk tentang sanad dan bai’at thoriqoh, sanad dan ijazah memakai imamah sampai kepada sanad Abah berlatih pencak silat. Nampak penulis tidak ingin ketinggalan sedikitpun menuliskan kesan yang beliau temui dan catat.

Pada sisi lain buku ini kita akan banyak menjumpai peritiwa-peristiwa unik tentang Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Seluruhnya dicatat dengan baik oleh penulis. Mulai dari cerita rumah yang terbakar hangus namun foto Abah yang tak tersentuh api, wali yang tubuhnya menjadi banyak, sampai kepada kebiasaan abah yang mengeluarkan zakat fitrah dalam jumlah yang sangat banyak.

Buku tentang Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya ini bisa dibilang cukup lengkap, terutama bagi kita yang penasaran dengan perjalanan sejarah beliau. Saya meyakini buku ini adalah bukti cinta seorang murid kepada gurunya. Seperti dawuh Abah, “Jika cinta kepada Gurumu, maka jaga Gurumu dengan perbuatanmu, ucapanmu dan tulisanmu.”[Hasbullah]

Kitab

Pelita Hati Seorang Ulama Sejati; Biografi Singkat Abah

Published

on

By

Mengapa ulama besar Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya memiliki popularitas yang sangat tinggi di mata (di antara) para ulama, para kyai, dan umat muslim di Indonesia, baik sebelum beliau menjabat sebagai ketua umum Majelis ulama indonesia (MUI) di Jawa Tengah, dan Ketua Umum/Presiden “Ahli Thariqah Nasional”, maupun setelah menjabat jabatan tersebut. Jawabannya terlalu (amat sangat) luas dan panjang, Bagaikan lautan samudra yang membentang luas tiada bertepi. Namun itu semua, salah satu jawabannya tak lain karena apa yang dilakukan beliau (Habib Luthfi), dan apa yang disikapi olehnya, serta apa yang dicita-citakan beliau sejalan dengan aspirasi dari sebagian besar umat muslim di Indonesia.

Habib Luthfi adalah salah seorang tokoh dan ulama besar yang kami pandang atau kami nilai mempunyai kemampuan serta memiliki posisi sentral yang layak untuk memberikan pandangan pandangannya (beliau) tentang etika moral (bermasyarakat, berpolitik, berilmu pengetahuan, sosial dan buaya) yang baik.

Sebagai seorang ulama besar, Habib Luthfi seing dengan tegas mengatakan bahwa, kaum ulama menanggung beban yang sangat berat dalam masyarakat, yaitu tanggung jawab menjaga moralitas dan etika sosial melalui kesanggupan sebagai ulama dalam menangkap makna-makna intrinsik di balik amalan amalan performa dengan menarik pelajaran dari lingkungan hidupnya di kalangan masyarakat, baik sosial, agama, maupun alam. Kaum ulama adalah pengemban amanat dan hikmah dari Allah SWT.

Seorang ulama diharapkan dapat menunaikan ilmu agamanya dengan mengamalkan secara konsisten dan konsekuen (istiqomah) yang baik dan benar di masyarakat hanya dengan itulah kaum ulama dapat diharapkan mampu dengan baik dan benar serta penuh otoritas, kewenangan, dan wibawa untuk melaksanakan tugas dan kewajiban ulama selaku “pewaris para nabi” sebagai kekuakatan moral dalam masyarakat.

Buku ini mengupas secara detail pribadi, sosok ulama besar “Habib Muhammad luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya” dalam kiprah dan prinsip pegayoman umat (keseluruhan) yang diembannya di dalam setiap atau semua aspek kehidupan yang sama-sama kita perjuangkan. Buku biografi ini dilengkapi dengan hasil kajian dari sejumlah ahli dan pengamatan, wawancara dengan sejumlah politisi, para alim ulama, para umaro, tokoh-tokoh masyarakat lainnya, termasuk pendapat pendapat objektif warga masyarakat biasa, kaum muslim dan muslimat umumnya. Seperti tercantum dalam judulnya “Pelita Hati Seorang Ulama Sejati (Biografi Singkat Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya)”, diharapkan dapat menjadikan pegangan atau sesuatu referensi bagi Sebagian atau seluruh umat muslim di Indonesia dalam “syiar Islam” atau penyebaran Islam sesungguhnya.

Masalah “kepemimpinan” memang menjadi hal yang sangat penting karena dialah (pemimpinan) yang akan menjadi suri teladan atau “lokomotif” nasib umatnya di masa mendatang (termasuk nasib bangsanya dan nasib rakyatnya). Dalam hal memilih pemimpin, jangan sampai seperti membeli kucing dalam karung” artinya sangat mungkin bisa menghasilkan figur pemimpin yang tidak jelas, tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki pengalaman sama sekali, serta tidak memiliki moralitas dan intelektual yang tinggi hal ini yang patut kita jaga Bersama, kita pelihara Bersama, agar dimana di dalam melakukan tugas dan karya seorang pemimpin tesebut dapat memberikan nuansa terbaik dalam segala aspek kehidupan umat, bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Kita patut bersyukur, bahwa para pemimpin dewasa ini sudah melirik para ulama sebagai tokoh sentral umat islam yang selama ini ditinggal atau diabaikan dan tenggelam dalam arus era globalinasi dan modernisasi. tokoh yang disodorkan dalam buku ini, memang patut dijadikan pegangan kuat untuk kita bersama sama melangkah dalam garis lurus (vertikal dan horisontal) berdasarkan kepada akhlakul karimah pribadi manusia seutuhnya.

Sekali lagi perlu disampaikan, buku biografi ini disusun atas sebuah kesadaran bahwa umat muslim yang cukup mayoritas yang berada di negeri ini, perlu dipimpin oleh orang, pribadi atau tokoh yang tepat. sudah bukan saat atau masanya lagi umat muslim memberikan “cek kosong” kepada orang orang, pribadi atau tokoh tokoh yang tidak jelas latar belakang dan kemampuannya.
Terakhir kepada sahabat sahabatku, istriku dan semuanya yang berada di pekalongan, juga diucapkan terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis selama dalam penyusunan biografi ini. kepada mereka (yang tidak dapat disebutkan) semoga allah swt selalu memberikan berkah dan rahmat serta hidayahnya.

Biografi ini terbit atas kerja sama banyak pihak. meskipun demikian sagala kesalahan atas penulisan dari kesimpulan maupun penafsiran, biarlah berpulang pada diri penulis.[Willy]

Continue Reading

Resensi

Cairo Oh Cairo; Perjalanan Seorang Aktivis MATAN

“Mushibatu qowmin ‘ala qowmin fawaidu”. Saya mendengar pesan hikmah ini pertama kali dari Romo KH. Hisyam Syafaat pada saat mengikuti pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin setiap selesai shalat ashar di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, saat mondok dulu. Pesan itu berarti bahwa “Musibah suatu kaum, bagi kaum yang lain bisa menjadi keberkahan atau memberikan sebuah manfaat”.

Published

on

By

Cairo Oh Cairo Viral

Dalam kasus sebuah negara, penjajahan negara Palestina adalah sebuah musibah, tapi bagi Israel itu adalah keberkahan. Dalam contoh kecil, musim hujan adalah musibah bagi penjual es campur, tapi bagi penjual minuman STMJ yang hangat adalah sebuah berkah. Begitu seterusnya.

Pada bulan Januari tahun 2011, saat itu saya masih mengikuti perkuliahan di Universitas Al-Azhar Mesir, seperti biasa tidak ada yang istimewa. Berangkat dari rumah di Toubromly memakai bus 926 di Mahattah Akhirah bersama teman-teman pelajar ma’had Al-Azhar yang rata-rata dari Rusia.

Usai mengikuti perkuliyahan hingga siang hari, teman akrab saya hafidz dan rajif mengajak terlebih dahulu untuk makan siang di warung biasanya yang berada di pintu belakang Al-Azhar untuk membeli Tho’miyah bil baidh, makanan khas Mesir. Warung ini tidak pernah sepi dari pembeli, kami semua yang beli tidak ada kursi untuk duduk makan, silakan cari sendiri di mana saja tempat, yang penting bisa makan.

Biasanya saya dan hafidz, usai disodori makanan yang sudah disiapkan, akan mencari tempat untuk makan di tangga flat apartemen dekat Maktabah penjual buku yang berada dekat warung tadi. Di sana, sambil makan kami sering mengobrol sesuatu yang kebanyakan tidak jelas, alias tidak ada temanya, palingan hanya seputar urusan kuliyah dan film-film terbaru yang bisa ditonton di rumah saat malam hari.

Setelah shalat dhuhur berjama’ah di masjid Al-Azhar yang bersebelahan langsung dengan Universitas Al-Azhar dan berhadapan dengan masjid Sayyidina Husein yang berada di seberang jalan, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya berjalan menyusuri toko-toko souvenir, makanan, hingga ashir ashob, minuman perasan tebu hingga sampai di mahattah Darrasah, tempat mangkalnya bus yang akan mengantarkan ke wilayah-wilayah di Cairo.

Bus yang saya cari adalah 80 Coret. Bus ini menjadi bus favorit mahasiswa Al-Azhar yang bertempat tinggal di kawasan Nasr City. Tidak seperti biasanya yang harus berebut untuk mencari kursi. Hari ini, jalanan sepi, para penumpang bus yang menunggu juga tidak banyak.

Tidak ada fikiran apapun hingga saya sampai di rumah dan membuka layar televisi Al-Jazeera. Rupanya lengangnya jalanan Cairo yang kami lalui mulai dari Darrosah, Nadi Sikkah, Hayyu Sadis, Hayyu Sabi’, hingga Hayyul Asyir diakibatkan oleh keadaan Mesir yang mulai tidak normal seperti biasanya.

Televisi Al-Jazeera menayangkan secara live demonstrasi yang terjadi di kawasan Tahrir Square yang menjadi Bundaran HI-nya kota Cairo. Hingga menjelang maghrib, semakin banyak para demonstran yang hadir. Polisi mulai kewalahan untuk mengaturnya.

Saat malam tiba, kerusuhan terjadi. Gedung yang berada di sekitar Tahrir mulai dirusak oleh massa, bahkan ada yang dibakar. Museum Ramses yang menyimpan seluruh benda-benda purbakala Mesir, termasuk di dalamnya ada sekitar 30 mumi dan diantara mumi itu adalah mumi Raja Ramsis II yang konon adalah fir’aun zamannya Nabi Musa juga ikut dijarah dan hendak dibakar oleh massa.

Mesir mengalami revolusi setelah sebelumnya diawali oleh negara Tunisia yang sukses dan Libiya yang dalam proses. Semakin malam, sekitar wilayah Nasr City semakin sepi, apalagi yang menjadi tempat tinggal saya di Toubromly, hanya ada suara-suara anjing liar yang berkeliaran saja, tanpa ada manusia yang lalu Lalang.

Rupanya, saat pagi hari, saya membuka kembali televisi Al-Jazeera dan beberapa televisi yang menyiarkan berita. Dari sekian banyak televisi berita, tidak ada satupun televisi Mesir yang menyiarkan kerusuhan dan demonstrasi yang terjadi di Tahrir Square, apalagi televisi yang dimiliki oleh pemerintah.

Para demontran masih bertahan walaupun semalaman mereka harus berperang dengan gas air mata dan senjata peluru karet dari para polisi usai menghacurkan dan membakar gedung-gedung yang ada di Tahrir Square. Wilayah-wilayah lain selain Cairo masih belum merasakan dampak dari kerusuhan yang ternyata bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Hosni Mubarok yang sudah memerintah sekitar 30 tahun ini.

Beberapa hari para demonstran malah semakin membludak. Tahrir Square menjadi rumah mereka. Tenda-tenda didirikan. Demonstrasi mulai meluas di kota-kota lain selain Cairo, termasuk sampai di wilayah yang menjadi basis berkumpulnya kebanyakan mahasiswa Indonesia di Nasr City, demo terjadi di Mahattah Zahra, hanya sekitar 10 menit berjalan dari rumah tempat saya tinggal.

Dalam kondisi politik yang memanas. Bukan hanya terjadi di Mesir, tapi di banyak negara-negara arab. Pemerintah Indonesia di Syiria yang sudah ramai dengan ISIS memutuskan untuk mengevakuasi seluruh warga yang ada di sana. Di Mesir, pemerintah China, Malaysia, Jerman, dan banyak negara lain sudah mulai mengevakuasi warganya. Indonesia masih belum bergeming.

Saya yang bekerja di pengiriman barang dari Mesir ke Indonesia merasakan imbasnya. Gara-gara dalam kondisi kerusuhan Mesir seperti ini tetap bekerja, saya bersama Omar dan Asif harus berhadapan dengan beberapa kompi militer Mesir yang mendatangi rumah kami yang penuh dengan barang-barang yang hendak dikirim ke Indonesia.

Dengan ditodongkan senjata laras panjang yang pucuknya berupa pisau, saya duduk di antara para tentara itu di mobil militer. Kami diajak ke markaz militer yang paling dekat dari Toubromly. Awalnya saya yang dipanggil untuk diinterogasi, namun Omar yang kebetulan juga dibawa bersama kami, memberikan aba-aba kepada pimpinan militer agar dia saja yang bicara. Omar pernah bertugas wajib militer selama 3 tahun sebelum bekerja bersama kami.

Beberapa jam kami diinterogasi, satu alasan yang membuat rumah kami digerebek adalah akibat laporan dari tetangga atas rumah, entah lantai berapa, yang menelpon pihak militer, karena dia mencurigai adanya aktifitas di lantai satu setiap hari yang ramai lalu lalang orang asing yang membawa barang. Mereka takut barang-barang itu dikumpulkan untuk mensuplay para pendemo di Tahrir Square untuk menggulingkan pemerintah.

Omar berhasil membujuk pimpinan militer yang menginterogasinya. Entah bagaimana cara dia membicarakan perihal aktifitas yang kami lakukan setiap hari di rumah flat apartemen lantai satu untuk mengumpulkan barang-barang dari Mesir yang hendak dikirim ke Indonesia. Sebelum kami digelandang ke markaz militer tadi, banyak sekali karton-karton yang dibuka paksa oleh prajurit militer Mesir dengan menggunakan pisau di ujung senjata laras panjangnya, memastikan tidak ada benda terlarang.

Mesir benar-benar kacau. Kerusuhan semakin meluas. Seluruh aktivitas sekolah dan perkantoran di seluruh negara diliburkan termasuk di Universitas Al-Azhar. Internet sempat diblokir hingga hampir satu minggu. Kami tidak bisa membuka facebook, tidak bisa bermain twitter. Hanya bisa menonton kondisi Mesir lewat televisi dan menonton film yang sudah disimpan di laptop.

Hampir tiap malam, Toubromly yang menjadi wilayah pinggiran sudah sering terjadi tembakan. Bahkan beberapa hari, saya sering menemukan selongsong bekas tembakan peluru yang dilakukan pada malam hari. Kalau malam tiba, orang-orang Mesir juga mulai banyak yang turun ke jalan untuk ronda malam.

Padahal, belum lama, saya bersama Mahmudi dan Asif beberapa bulan yang lalu masih asyik berkeliling wisata di Luxor dan Aswan dan disponsori oleh Menteri pendidikan Mesir. Luxor dan Aswan adalah dua kota bersejarah dan pernah menjadi ibu kota pada masa Fir’aun. Di Luxor ada museum terbuka terbesar sedunia. Kami juga mengunjungi Abu Simbel yang hampir berbatasan dengan Sudan. Saya sudah mencatat banyak artikel sebelumnya tentang perjalanan ini.

Peristiwa penangkapan saya oleh para militer Mesir, saya tuliskan dalam catatan di Kompasiana ini berjudul “Cairo Oh Cairo” dan ternyata viral. Kabar itu sampai di tanah air dan besoknya beberapa kali saya mendapatkan telepon dari beberapa stasiun televisi tanah air untuk mengabarkan kondisi Mesir terkini, beberapa televisi yang menghubungi saya diantaranya adalah Metro TV, TV One, Kompas TV, Jak TV dan SCTV.

Dari sinilah, yang awalnya pemerintah agak cuek dengan kondisi WNI yang ada di Mesir, akhirnya memerintahkan Bapak AM. Fachir yang menjadi Duta Besar Indonesia di Mesir untuk memutuskan evakuasi total seluruh WNI yang ada di Mesir. Saya tidak ikut evakuasi dan tidak mendaftarkannya. Saat ramai evakuasi, awalnya saya mencari tiket pesawat di teman-teman yang ada di Cairo tapi kesulitan mendapatkannya.

Akhirnya seorang teman yang ada Dubai membantu saya, dia membelikan tiket pesawat Emirat untuk saya buat perjalanan dari Mesir ke Dubai dan menuju Jakarta. Ketika pulang di Jakarta, saya bertemu dengan teman-teman blogger Kompasiana di Taman Ismail Marzuki, termasuk diundang Kang Pepih dan Mas Isjet ke kantornya Kompas Gramedia.

Itulah kisah yang pernah saya alami pada tahun 2011 lalu saat Mesir mengalami revolusi. Semua kisah itu, dari peristiwa sebelum rusuh, ketika saya jalan-jalan keliling Mesir di kota Luxor hingga Aswan, temasuk di Bali-nya Mesir yang di Sarm Syeikh dan Hurgada yang ada di Laut Merah, sampai peristiwa kerusuhan yang mengakibatkan kami diinterogasi ke markaz militer dan akhirnya kisah itu viral, semua itu sekarang bisa dinikmati kisahnya di salah satu 3 buku serial “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” berjudul “Cairo Oh Cairo”, sama dengan judul catatan Kompasiana yang dulu juga sempat viral.

Serial “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” terdiri dari tiga buku, pertama berjudul 926 Cairo, kedua berjudul Cairo Oh Cairo, dan yang ketiga berjudul Umroh Koboy. Masing-masing dari buku itu memiliki karakteristiknya sendiri.

Kembali ke pesan pertama tadi bahwa, Musibatu qowmin ‘ala qowmin fawaidu, telah menjadikan saya mendapatkan banyak bahan untuk menuliskan tentang Mesir. Selama di Mesir, saya mengalami 4 kali pergantian presiden. Mulai dari Presiden Hosni Mubarok yang nota bene kalau di Indonesia ibarat zamannya Pak Soeharto.

Lalu kedua menjumpai masa revolusi, digantikan oleh Presiden masa transisi adalah bernama Adli Mansour, selanjutnya digantikan oleh Presiden hasil pemilihan umum yakni Presiden Mohamed Morsi, dan kembali lagi Presiden dari kalangan Militer Mesir yakni Presiden Abdul Fattah As-Sisi. Semua masa pemerintahan memiliki ceritanya masing-masing.

Saya mendapatkan keberkahan hidup di Mesir di semua 4 masa itu. Dengan kondisi pemerintahan yang berbeda-beda itu, saya mendapatkan banyak catatan dan akhirnya alhamdulillah lahirlah 3 buku “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” yang berjudul 926 Cairo, Cairo Oh Cairo, dan Umroh Koboy ini.

Selamat mencari buku itu dan membacanya.[Bisri]

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak Santri, Kyai dan Wali Santri; Membangun Ekosistem Pendidikan Islami

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

By

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan berbagai keunggulan kepada manusia atas makhluk lainnya dengan ilmu dan amal. Semoga shalawat dan salam semoga tersanjung kepada Rasulullah Muhammad SAW, Nabi terakhir yang telah membebaskan umat manusia dari kegelapan kufur menuju cahaya iman. Juga kepada para keluarga dan sahabat yang menjadi sumber ilmu dan hikmah (kebijakan/wisdom).

Pada dasarnya, setiap pemeluk agama Islam, baik laki-laki maupun perempuan (Muslim dan Muslimah) wajib mempelajari ilmu pengetahuan, karena ilmu pengetahuan merupakan anugerah Allah SWT yang hanya diberikan kepada manusia. Kalau sifat kasih sayang, keberanian, kekuatan dan lain sebagainya dimiliki oleh manusia dan binatang, maka ilmu pengetahuan hanya dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu, berkat ilmu pengetahuan ini manusia menjadi makhluk yang mulia, sehingga para malaikat pun diperintahkan oleh Allah SWT untuk sujud (menghormat) kepada Nabi Adam AS.

Di antara ilmu pengetahun yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim adalah sebagai berikut: (1). Ilmu Aqidah, yaitu ilmu pengetahuan yang bertujuan mengenalkan manusia kepada Allah SWT dan hal-hal yang ghaib, sehingga mereka memiliki iman yang kokoh. (2). Ilmu Syari’ah yaitu ilmu pengetahuan yang mengajarkan tentang hukum-hukum dan tata cara beribadah kepada Allah SWT serta bermu’amalah (berinteraksi) dengan sesama manusia dan makhluk lainnya. (3). Ilmu Akhlak yang mengajarkan tentang nilai-nilai kebaikan yang harus diikuti dan dipraktekkan, serta nilai-nilai buruk yang harus dihindari dan ditinggalkan, seperti sifat dermawan dan pelit; pemberani dan pengecut; tawadlu’ (rendah hati) dan takabbur (sombong). Dari Ilmu Akhlak ini akan ditingkatkan menjadi ilmu Tasawuf, yaitu suatu ilmu yang bertujuan untuk menjaga kesucian hati manusia; menghindarkan diri dari hal-hal yang mengotorinya, serta cara-cara yang harus ditempuh untuk membersihkan kembali hati yang terlanjur kotor, karena perbuatan dosa dan maksiat. Seperti sifat ikhlas, tawakkal, ridla, dan zuhud, menghindari hal-hal yang syubhat dan makruh.

Ilmu-ilmu di atas merupakan ilmu yang paling mulia dan wajib dipelajari oleh setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan, karena ilmu-ilmu tersebut menjadi wasilah (perantara) yang akan menghantarkan pemiliknya untuk meraih derajat taqwa, suatu derajat yang akan menjamin pemiliknya medapatkan karomah (kemulian) di sisi Allah SWT serta kebahagiaan yang abadi, baik di dunia maupun akhirat.

Dewasa ini banyak santri yang mengkaji ilmu pengetahuan, namun tidak mampu menghayati dan mengamalkannya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memperhatikan syarat-syarat pencarian ilmu dan tidak menempuh metode yang telah digariskan oleh para ulama terdahulu. Pepatah Arab menyatakan:

Artinya: “Barang siapa salah jalan, maka akan tersesat dan tidak akan meraih tujuan, baik sedikit maupun banyak.”

Sehubungan dengan hal tersebut, maka buku ini akan menjelaskan tentang akhlak santri, kyai (guru) dan wali santri yang antara lain akan menjelaskan tentang metode dalam menggali ilmu pengetahuan, di samping nilai-nilai spiritual yang harus dimiliki dan diamalkan baik oleh santri, kyai (guru) maupun para wali santri sehingga membantu menghantarkan anak-anak kita meraih sukses di dunia dan akhirat.

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Trending