Connect with us

Artikel

Algoritma Tasawuf

Published

on

Rancang Bangun Manusia

Algoritma adalah langkah-langkah logis yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. Algoritma dalam kaitan dengan tasawuf memiliki makna bahwa tasawuf dengan segenap metodenya melalui tariqah secara logis diterima sebagai sebuah kebenaran dalam diri dan sistem hidup manusia. Mengapa hal ini perlu didiskusikan? Konsep tasawuf acapkali dimaknai sebagai menghilangnya diri manusia dalam ruang sosio kulturalnya. Bahwa manusia diminta untuk menjauhkan diri dari manusia lainnya dan kehidupan dunia. Kesalahpahaman ini tampaknya perlu dibahas untuk menjelaskan makna tasawuf bagi sebuah sistem hidup manusia.

Manusia diciptakan, dibentuk, digerakkan dengan maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Ia bukanlah makhluk yang tersia-siakan, karena Allah secara hakikat hendak menjadikannya sebagai makhluk yang secara totalitas semata menujuNya (Qs.[51]:56). Dengan tujuan yang jelas, maka Allah membekali manusia dengan tiga komponen utama untuk menujuNya: kemampuan akal (ilmul aql), kemampuan intuisi (ilmul ahwal), dan kemampuan ruhaniyah (ilmul asrar).

Kemampuan akal mendorong manusia untuk menggunakan segenap kemampuan sadarnya secara logis bernalar untuk membongkar menguak segenap rahasia yang Allah letakkan dalam segenap bentang alam. Ilmul aql menuntut relasi sebab-akibat, bahwa sebuah peristiwa tertentu itu hadir atau ada karena secara logika akal disebabkan oleh sebuah peristiwa lainnya. Sebuah peristiwa tidak hadir dengan sendirinya tanpa relasi sebab-akibat. Akal menuntut manusia untuk membuktikan secara rasional dan logis bahwa sebuah benda berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena disebabkan oleh adanya dorongan yang menyebabkannya ia bergerak.

Kemampuan intuisi merupakan sebuah kemampuan tertentu untuk memahami apa yang Allah kehendaki dengan menggerakkan rasa dan jiwa batinnya yang terdalam. MemahamiNya dengan merasakanNya dalam hati setiap manusia, bahwa segenap ruang ide dan setiap sudut sisi kosmos tidak dapat dilihat secara nalar logika akal semata. MenujuNya bukan melihat fisik wujudNya, melainkan merasakan cintaNya, arrahman dan arrahim Allah yang ada setiap diri manusia. Manusia yang mengutamakan aras logika acapkali tertutupi oleh hadirnya sisi batiniyahnya. Maka aras logika harus berdampingan dengan aras intuisinya. Kemampuan ilmu kedua ini disebut ilmul ahwal, memahami hadirnya sebuah sistem kerja intuisi dalam diri manusia melalui rasa.

Kemampuan ruhaniyah adalah kemampuan rahasia yang tidak diketahui oleh diri manusia sendiri, tetapi sesungguhnya ia ada dan hadir. Ia adalah ruh, sebuah entitas yang hadir nyata dan tanpanya ia tidak dapat disebut oleh manusia. Manusia ada dan hadir eksistensinya bukan karena akal dan rasa semata bahkan, melainkan adanya komponen yang paling utama dan mendasar yaitu ruh. Tanpa ruh, manusia akan disebut jasad tak bernyawa, sebujur jenazah yang tak lagi berkehendak. Struktur ruh adalah rahasia terdalam, rahasia yang hanya diketahui olehNya. Manusia hanya memahami bahwa ruh itu ada dan hadir, tetapi ia tidak memahami struktur ruh. Ilmu mengetahuinya berada dalam tingkat ilmul asrar, sebuah ilmu yang hanya diketahui oleh Allah sendiri, para Nabi dan mungkin para auliya.

Tasawuf dalam Struktur Tubuh

Akal adalah wujud nalar sebab-akibat yang tampak, berwujud dan dapat ditangkap oleh pancaindera dan rasionalitas akal. Mendayagunakan akal manusia adalah hal penting yang dengannya, ia berbeda dengan makhluk lainnya baik hewan, malaikat, dan iblis. Hewan, dan malaikat yang tak menggunakan akalnya, yang dengan itu hukum-hukum Tuhan tak bermakna baginya. Sebaliknya iblis yang semata menggunakan akalnya, justru menjadikannya ia terjerumus dalam kesombongannya dan memasukkannya ke dalam jurang neraka. Hukum-hukum Tuhan menjadi tak bermakna sama sekali dihadapannya karena ia tak peduli dengan hukum-hukum Tuhan.

Akal yang diletakkan dalam struktur tubuh manusia adalah untuk memahami posisinya, mengetahui hakikat dirinya sendiri dihadapan Tuhan dan alam semesta. Akal adalah alat penting bagi Adam a.s. untuk memahami ciptaanNya (Qs.[2]:31). Allah menjelaskan kepada Adam a.s. atas benda-benda, inilah makna penting akal bagi manusia. Bahwa dengan akal itu manusia memahami dan mengetahui segala hal melalui akal. Inilah metode awal untuk mengetahui objek dan metode ini diteruskan hingga kini dalam bentuk pengajaran dari seorang guru kepada sang murid (Rahman: 2020).

Akal tidak dapat disebutkan sebagai entitas tunggal, karena wujud manusia juga tidak tunggal. Wujud manusia terdiri atas beberapa unsur selain wujud fisik, ia juga memiliki rasa untuk dapat mengetahui sesuatu. Disinilah hadir wujud intuisi manusia yang merasa, memahami bahwa Allah tidak sekedar diketahui melalui akal semata, melainkan melalui hadirnya rasa. Disinilai kecerdasan intuisi menuntut manusia untuk memahami hadirnya arrahman dan arrahim Allah. Manusia menerima hadirnya intuisi, dan dengan itu terbentuk dan tercipta pemahaman metafisika.

Memahami hadirnya rasa intuisi manusia terdalam membutuhkan sebuah ilmu tersendiri, dan disinilah pentingnya tasawuf bagi manusia. Tasawuf melatih sisi intuisi manusia, ia hadir untuk menggerakkan rasa guna memahami kehendak-kehendakNya dalam diri manusia. Allah yang hadir tidak dengan wujudNya, melainkan melalui rasa arrahman dan arrahim dalam rasa jiwa manusia. Rasa manusia untuk memahami Tuhan hadir melalui kalbu, dan kalbu ini adalah sarana manusia untuk menerima ilmu pengetahuan dari Tuhan. Tasawuf adalah sebuah supra intelektual untuk memahami kehendak Allah. Supra intelektual mengajarkan manusia dalam memahami segala hal yang paling vital dalam hidup manusia (Hasan: 2012).

Pemahaman pada diri manusia melalui akal tidak dapat bekerja sendiri, ia kini didampingi oleh intuisi melalui tasawuf. Bahwa manusia perlu memahami hakikat ontologis dirinya, sekaligus memahami hadirnya Tuhan di dalam diri. Manusia dengan semata akalnya tidak dapat berjalan sendiri untuk memahami hakikat terdalam dari adanya objek alam dan manusia. Bahwa memahami Allah dengan segenap kehendaknya harus didukung oleh hidupnya rasa dan hati, bukan akalnya semata. Metodologi irfani dalam sistem pengetahuan kini menduduki arti penting dalam memahami relasi manusia dan Tuhan selain metode burhani dan metode bayani. Bahwa untuk memahami kitab suci al-Qur’an (bayani) juga memerlukan kecerdasan akal (burhani), sekaligus kecerdasan jiwa (irfani).

Tasawuf bukanlah ekslusivisme perilaku, tasawuf adalah sikap untuk memahami kehendak Tuhan. Tasawuf adalah sikap inklusif untuk mengolah sisi batiniyah manusia terdalam dengan mengendalikan ego. Ia tetap bersama dengan manusia lainnya, ia tetap membangun kehidupan dengan menggunakan basis spiritualitasnya tanpa kehilangan sedikitpun nilai rasionalitasnya. Manusia yang selalu menumbuhsuburkan nilai-nilai keadaban atas dasar kecintaan terhadapNya. Ketika dengan bertasawuf ia menjauh dari manusia lainnya, maka sesungguhnya ia telah terjerat oleh egonya sendiri. Tasawuf bukan eksklusivisme sikap, tetapi justru membangun sebuah struktur sosio-kultur yang memanusiakan manusia lainnya.

Manusia yang terancam oleh sebuah ego untuk menguasai, menundukkan, membangun keakuan sekaligus pengakuan eksistensi atas hadirnya ia. Ego yang telah menjadikan manusia untuk unjuk posisi, unjuk keinginan tanpa menyadari bahwa ia hanyalah serpihan ketiadaan. Dalam algoritma tasawuf, akal yang menunjukkan eksistensi dalam bentuknya didampingi oleh sifat ketuhanan untuk mengendalikan keinginan hewaniyah. Manusia yang mampu melihat ke dalam dan menyadari adanya relasi dirinya dengan Tuhan. Bahwa adanya karena adaNya, hadirnya karena hadirNya, sebuah sistem kerja kosmik yang menyadari bahwa tanpaNya ia tak bermakna.

Menjadi logis dan sekaligus rasional bahwa kebutuhan manusia atas tasawuf adalah sangat penting, mengingat bahaya eksklusivisme ego dalam setiap diri manusia. Inilah makna algoritma tasawuf yang mengembalikan manusia pada kesadaran awalnya sebelum ia tercipta, bahwa ia telah berjanji untuk selalu menjadi hambaNya. Manusia yang kembali diingatkan oleh tasawuf untuk faham siapa hakikat dirinya, dan menyadarkan pula bahwa kelak ia akan kembali juga padaNya. Sehebat apapun ego menyeruak mengantarkan manusia untuk memiliki dan menundukkan, tetap ia hanyalah wujud daging dan tulang yang rapuh. Ia menjadi kuat ketika nilai spiritualisme membasahi jiwanya yang kering.

Tidak hanya tasawuf tetapi juga tariqah sebagai metode dalam menjalankan tasawuf juga memiliki posisi penting. Pembelajar tasawuf memerlukan sekolah dan guru untuk membimbing agar ia tidak tersesat, layaknya seorang mahasiswa yang membutuhkan sebuah perguruan tinggi dan dosen untuk membimbingnya memahami sebuah konsep-konsep ilmu pengetahuan. Tariqah adalah “perguruan tinggi” bagi pembelajar ilmu tasawuf, karena di dalam tariqah terdapat sekumpulan metode belajar dan pengetahuan tertentu untuk mengetahui, memahami dan menjalankan sebuah ilmu tasawuf. Begitu banyak tariqah layaknya begitu banyak pilihan perguruan tinggi dalam ilmu tasawuf. Setiap murid memiliki sebuah kebebasan untuk menentukan mana yang menurutnya baik. Kesemua tariqah walau memiliki metode dan kurikulum pengajaran yang beragam, tetapi kesemuanya memiliki satu tujuan yang sama, yaitu memahami siapa hakikat dirinya dihadapan Allah. 

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (Qs. As-Syams: 9-10)

Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja

(Dosen Program Magister Hukum Universitas Al Azhar Indonesia)




Artikel

Model-model Pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Published

on

Pembersihan jiwa atau Tazkiyatun Nafs adalah upaya menghilangkan keburukan-keburukan yang sudah lama terbenam dalam hati hamba. Proses ini berfungsi untuk menyiapkan diri menerima cahaya dari Allah Swt. Karena tidak mungkin cahaya bisa masuk dalam ruang yang gelap tanpa adanya setitik kebaikan di dalamnya. Gelapnya hati inilah hijab yang menghalangi makrifat terhadap Allah.

Oleh sebab itu, untuk membersihkan hati dari kotoran-kotoran tersebut perlu dilakukan beberapa cara, di antaranya:

1. Lapar (Al-Ju’)

Sesungguhnya lapar merupakan keadaan ahli hakikat. Menurut al-Ghazali, lapar dapat mengurangi dan memutihan darah dalam hati (al-qalb). Putihnya darah adalah cahayanya. Dengan cahaya dapat menghancurkan lemak hati. Hancurnya lemak dapat melembutkan hati dan hati yang lembut bisa menjadi kunci mukasyafah, sedangkan kerasnya hati adalah hijabnya.

2. Melanggengkan Wudlu (Dawam al-Wudlu’)

Wudlu adalah cahaya dan dosa akan berguguran ketika seorang hamba berwudlu. Para ulama menyatakan bahwa melanggengkan wudlu akan meluaskan rizki. Perbuatan itu juga merupakan amaliyah waliyullah sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani

3. Khalwat

Khalwat menurut Kiai Muhammad Shiddiq Piji adalah menyendirinya hati dari manusia. Menurut sebagian ulama, tarekat khalwah adalah pembicaraan rahasia (muhadatsat al-Sirri) bersama al-Haqq. Khalwah merupakan salah satu kebiasaan Nabi Muhammad saw. saat memulai perjalanan ruhaninya hingga mendapat wahyu untuk berdakwah

4. Zikir

Zikir dalam keterangan Kiai Muhammad Shiddiq Piji merupakan rukun terpenting dalam tarekat. Tidak mungkin seseorang bisa wushul kepada Allah kecuali dengan membiasakan zikir itu. Zikir adalah ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Oleh sebab itu para ulama’ tarekat mengatakan barang siapa diberikan istiqamah dalam zikir, maka ia telah mendapat hamparan dunia kewalian (wilayah). Dalam al-Qur’an, Allah memberi perintah zzikir lebih banyak dari perintah ibadah yang lainnya.

Di antara ke empat proses Tazkiyatun Nafs, zikir menjadi nyawa yang mengisi setiap proses ibadah. Ibn Athaillah menjelaskan bahwa macam macam zikir dalam tarekat dapat berupa zikir lisan lafaz, zikir qalbi, dan zikir sirril khafiy. Sedangkan manfaat zikir menurutnya dapat menghilangkan duka, kesusahan dan gundah gulana; mensucikan bagian tubuh yang terbangun dari makanan haram; menghilangkan gelap dan noda hati; menghilangkan kerak atau karat hati; melembutkan hati; membakar nafsu (syahwat dan ghadab); mencegah ketaatan tubuh pada prilaku yang menyimpang dari agama; mematahkan bisikan syetan; mencegah keburukan, menjaga dari segala sesuatu; membuka pintu ghaib/mengangkat hijab; menjadikan ruh mencintai Allah, dan menjadikan sufi selalu bersama Allah.

Continue Reading

Artikel

Sufi adalah Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Published

on

Permasalahan apakah orang-orang sufi termasuk bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah polemik yang dipertanyakan oleh sebagian orang yang belum mengenal tasawuf secara utuh. Bahkan banyak anggapan bahwa ajaran ini berasal dari Hindu dan Budha dan para Filsuf Yunani.

Menurut Syekh Abul Fadhol dalam Syarh Kawakib al-Lama’ah, ini terjadi karena kebanyakan orang muslim melihat adanya kemiripan antara tokoh-tokoh sufi dan kebiasaan orang-orang Budha, termasuk dalam akhlak mereka, perilaku zuhud serta menahan hawa nafsu. Atas dasar inilah mereka menduga ada korelasi antara ajaran tasawuf dan Budha.

Lebih ekstrem dari itu, ada ungkapan bahwa tokoh-tokoh sufi seperti Abu Yazid al-Busthami, Ma’ruf al-Karkhi dan Abu al Qasim al-Junaidi adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu syariat Islam. Mereka menciptakan amalan fisik maupun hati bersumber dari Agama Budha dan mencampurkannya dengan Syariat Islam.

Yang dimaksud oleh anggapan-anggapan tersebut adalah bagian dari Sinkretisme. Tentu saja ini merupakan kesalahan besar. Bahkan seorang tokoh yang bernama Abu Abdillah al-Marizi, hanya menilai al-Ghazali dari murid-muridnya saja, tidak dengan membaca karyanya. Tentu ini tidak komprehensif untuk mengetahui penilaiannya terhadap ajaran tasawuf al-Ghazali. Padahal, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para sufi memiliki dasar yang kuat.

Seperti definisi tasawuf menurut al-Ghazali, yaitu mengosongkan hati dari hal selain Allah dan menganggap rendah selain-Nya. Kemudian dijelaskan oleh Syekh Jalaludin al-Mahalli dalam Kitab Syarh Jam’ul Jawami’ bahwa jalan yang ditempuh oleh al-Junaid itu terbebas dari bid’ah-bid’ah yang berputar atas kepasrahan kepada Allah serta terbebas dari hawa nafsu.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan sendiri oleh al-Junaid,

“Jalan menuju Allah Swt. itu tertutup atas makhluknya, kecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah saw.“

Dan ungkapannya yang lain,

“Mazhab kita, wahai golongan sufi, ini diikat (berdasarkan) dasar-dasar al-Quran dan Sunnah.”

Juga dipertegas lagi oleh Ibnu Athaillah,

“Allah telah mengumpulkan seluruh kebaikan dalam suatu gedung, dan Dia menjadikan sebagai kuncinya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad saw.”

Dari pendapat tersebut, mana bisa ahli tasawuf disebut sebagai orang-orang yang bodoh dan mencampuradukan syariat serta bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal penjelasan di atas menunjukkan bahwa mereka memiliki dasar tasawuf yang kuat, yaitu dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. dan menaatinya.

Sehingga, ini selaras dengan yang disampaikan oleh Syekh Abul Fadhol,

“Barangsiapa yang menjadikan ilmu tasawuf sebagai bagian dari hukum-hukum syariat, ia benar. Namun, ia tidak akan merasakan bahwa tasawuf itu bagian dari syariat kecuali orang yang luas wawasannya di bidang syariat hingga puncak sesuai kemampuan manusia.”

Adapun orang-orang yang mengaku menempuh jalur sufi namun tidak memenuhi syariat adalah kesalahan yang besar. Dan orang-orang yang mengingkari tasawuf secara kesuluruhan hanyalah menilai sesuatu yang umum terhadap sesuatu yang khusus.

Continue Reading

Artikel

Tasawuf dalam Menjawab Problematika Sosial Di Era Milineal

Published

on

Umat Islam dalam skala global maupun lokal menghadapi berbagai problem yang kompleks dan mendasar. Dikatakatan kompleks karena mencakup berbagai unsur kehidupan, baik sosial, politik maupun budaya. Dan mendasar karena mencakup akar identitas dari umat yaitu keislaman itu sendiri.

Kejayaan dan kemunduran umat, bisa dilihat dari tiga variable yang menentukan, yaitu: hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan agama serta Negara. Adapun kejayaan umat Islam ditandai dengan:

1. Adanya kedekatakan individu hubungan tiap-tiap individu warga umat dengan Allah yaitu berupa ketaqwaan
2. Adanya semangat persaudaraan/ukhuwah islamiyah
3. Adanya tanggung jawab dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar

Pada kenyataannya kondisi umat Islam tidak mencerminkan tiga indikator di atas, bahkan sebaliknya dilanda tiga kelemahan dan kehancuran dalam tiga bidang tersebut yakni:

1. Lemahnya ketaqwaan (moral force), yang ditunjukkan dengan merajalelanya kemaksiatan
2. Lemahnya ukhuwah islamiyah (brotherhood), yang ditunjukkan banyaknya pertikaian, permusuhan, disintegrasi umat baik secara vertikal maupun horizontal
3. Lemahnya tanggung jawab dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga umat Islam kehilangan self control maupun social control yang menyebabkan Islam menjadi tersisih dan tertindas oleh peradaban sekuler

Kenapa bisa demikian? hal ini disebabkan ada dua faktor, internal dan eksternal:

1. Internal; kedangkalan terhadap agama, kecenderungan cinta dunia dan tiada kepeminpinan umat yang efektif
2. Eksternal; yaitu adanya konspirasi musuh-musuh umat melalui rekayasa sosial dan politik (social and political engineering)

Dua faktor itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan kejatuhan sehingga tersisihkan peranannya sebagai mercusuar dan pimpinan dunia. Lalu apa yang harus dilakukan?

Setidaknya ada beberapa point sebagai solusi mengatasi problematika di atas:

1. Memacu semangat generasi muda untuk mengkaji agama secara intesif dengan dibangunnya lembaga-lembaga pendidikan yang qualified baik sistem sekolah, unversitas maupun pesantren-pesantren. Membangkitkan kembali semangat spiritual agama yaitu kehidupan bertasawuf melalui tarekat-tarekat yang shahih dan mu’tabarah
2. Menghidupkan kembali lembaga kesultanan dan ruhnya yaitu tauhid tasawuf sebagai pusaka keramat kerajaan

Syekh Abul Abbas Ahmad Zarruqimengartikan tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskan hati hanya untuk Allah semata. Kedudukan tasawuf seperti kedudukan ruh dan jasad, karena untuk mencapai Ihsan yang dijelaskan Rasullullah dalam sebuah hadis dikatakan:

مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك

“Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. (HR.Muslim).”

(Al-Futuhat al-Rahmaniah fi Hall Alfaz al-Hikam al-Ataiyah, Dar Nashirun, Beirut, Hal 43-44).

Selama ini umat islam telah kehilangan ruhnya yaitu tasawuf sehingga Islam di era milineal sekarang ibarat jasad yang mudah menjadi rekayasa sosial dan potitik melaui konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk merusak tatanan diniyah. Kehadiran tasawuf di era milienal  sangat dibutuhkan untuk memperbaiki moralitas bangsa. Sayyidi Abu Hasan Asy-Syadzili berkata,

التصوف تدريب النفس على العبودية، وردها لأحكام الربوبية

“Tasawuf itu tadrib al-nafs (melatih nafsu) untuk tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum-hukum Rububiyah (ketuhanan).”

(Kitab Haqa’id at-Tasawuf, Dar al-Taqwa Damaskus hal 18).

Syekh Ahmad bin Muhammad Ajibah al-Hasani, menjelaskan terdapat lima pokok dan dasar tasawuf yang dapat membaguskan amal yang benar, yaitu,

1. Takwa kepada Allah di kala sepi dan keramaian
2. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw. baik dalam perkataan dan perbuatan
3. Tidak bergantung kepada makhluk baik di hadapan maupun di belakangnya
4. Ridla dengan pemberian Allah baik banyak maupun sedikit
5. Segala permasalahan diserahkan kepada Allah baik waktu gembira maupun susah.

(Al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarhi al-Mahabits al-Ashaliyyah, Dar-Al-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, hal 354).

Tujuan tasawuf  adalah  untuk memperbaiki tiga varibel yaitu memperbaiki variabel vertikal yaitu  memperkokoh iman melalui peningkatan tauhid makrifat dan membersihkan kotoran-kotoran nafsu yang ada dalam hati dan membersihkan sangkutan hati dari selain Allah Swt. sehingga hubungan antara hamba dan Allah menjadi baik. Kemudian perbaikan dua variabel horizontal dengan  memperbagus akhlak sehingga hubungan sesama, masyarakat dan agama serta negara menjadi baik. 

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending