Connect with us

Artikel

3 Jenis Penuntut Ilmu Menurut Syaikh Nawawi al Bantani

Published

on

Foto: tebuireng.online

Arti kata ilmu menurut bahasa berasal dari bahasa arab (علم), bahasa latin (sciense) yang berarti tahu atau mengetahui atau memahami. Sedangkan menurut istilah ilmu adalah pengetahuan yang sistematis atau ilmiah.

Syaikh Nawawi al Bantani, salah seorang ulama asal Banten, Indonesia. Kemudian tinggal dan wafat di Makkah. Beliau menjelaskan dalam kitab Maraqibul ‘Ubudiyah tentang jenis-jenis penutut ilmu.

Jenis pertama, penuntut ilmu yang bertujuan agar ilmunya menjadi bekal menuju akhirat. Ia hanya mengharap ridha Allah dan kehidupan akhirat. Inilah orang yang beruntung, orang-orang yang selamat dari azab Allah dan bergabung dengan orang-orang yang baik. Ciri-cirinya ada tiga yaitu pertama hanya meraih kebahagiaan akhirat sehingga orientasinya hanya pada ilmu, kedua tidak menjadi ilmu sebagai sarana memperoleh kekayaan, ketiga senantiasa menuntun  kalbu untuk berjuang melawan nafsu amarah (sering melakukan dosa) menuju nafsu muthmainnah (sudah terbebas dari dosa) serta mengikuti teladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Tanda-tanda lain dari seseorang yang tidak menjadikan ilmunya sebagai alat mencari dunia, antara lain ia bersegera melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, menjauhi sifat berlebihan/kemewahan dalam hal makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal, menjauhkan diri dari merasa tidak berhasrat bergaul dengan penguasa selain untuk memberi nasihat, untuk memperjuangkan hak, atau untuk memberi bantuan demi memperoleh ridha Allah, dan tidak tergesa-gesa dan gegabah dalam memberikan fatwa. Jika ada orang bertanya tentang hukum syariat, jika ia tidak mengetahuinya maka ia arahkan seseorang tersebut kepada orang yang lebih alim dari dirinya.

Jenis kedua, penuntut ilmu yang bertujuan sebagai sarana memperoleh harta dunia. Dengan ilmunya, ia memperoleh kehormatan, pengaruh, kemuliaan, pangkat, dan kedudukan. Ia menjadikan ilmunya untuk mengumpulkan materi, sementara ia sadar akan kesalahannya ini. Ia pun paham dengan sebab-sebab yang dapat mengantarkannya pada tujuan duniawinya itu, Bahkan ia merasakan bahwa jiwanya rapuh.

Orang seperti ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, justru ia sendiri yang mendekatkan diri pada malapetaka. Jika saja ajal disegerakan kepadanya sementara ia belum sempat bertaubat dari caranya yang salah, maka ia riskan meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Na’udzu billah min dzalik…!!!

Jenis ketiga, Penuntut ilmu yang dikuasai oleh setan sehingga ia menjadikan ilmunya sebagai alat menumpuk materi atau harta, membanggakan kedudukan, kekuasaan diri, dan kekuatannya dengan banyaknya pengikut. Ia menjadikan ilmunya sebagai sarana menipu dan memperdaya orang demi mencapai keinginan-keinginan duniawi. Demikian digambarkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Dan janganlah kamu menjadikan sumpah-sumpah mu sebagai alat penipu yang menjadi penyebab kerusakan di antara kamu” (Q.S An-Nahl:94). Maksudnya yaitu ia melakukan dengan harapan dapat memenuhi hajat duniawinya.

Tegasnya, penuntut ilmu yang masuk dalam kategori ketiga ini meski ia menjadikan ilmunya sebagai sarana mendapatkan tujuan duniawi, tetapi dalam hatinya tersimpan keyakinan bahwa dirinya telah memperoleh kedudukan yang tinggi menurut Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ia amat tamak dan cepat bergerak terhadap kekayaan dunia, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Maka, orang yang ketiga ini termasuk orang-orang yang akan binasa, bodoh, dan terpedaya oleh setan. Pasalnya, semua harapan untuk bertaubat telah putus akibat sudah telanjur, sementara ia mengira dirinya termasuk golongan muhsinin, yaitu mereka yang telah berbuat kebajikan dengan ilmunya.

Maka dari itu, jadilah kamu wahai penuntut ilmu berada pada kelompok pertama, dan niscaya kamu akan selamat. Akan tetapi, kamu juga harus tetap waspada, jangan sampai kamu masuk dalam kelompok kedua yang berada di pinggir jurang kehancuran. Karena, berapa banyak orang yang menunda-nunda taubat, justru ajalnya disegerakan sebelum ia sempat bertaubat. Akibatnya, ia akan merugi, sesat, dan celaka.

Waspadalah, jangan sampai terjadi padamu masuk dalam golongan ketiga, sebab merekalah yang celaka karena dipermainkan oleh nafsu amarah mereka yang akhirnya kamu akan binasa sehingga harapan, kebahagiaan, dan keselamatan kamu akan pupus. Jika sudah demikian, kamu sendiri tidak dapat menantikan perbaikan, bahkan untuk diri kamu sendiri, alih-alih kembali pada kebaikan, namun malah sebaliknya.

Continue Reading

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending