Connect with us

Pustaka

Menyelami Buku Shalawat Nariyah

Published

on

Shalawat nariyah adalah salah satu shalawat yang paling popular di Indonesia dan Mesir. Menurut ahlul asrar, shalawat nariyah sifatnya dingin karena dilimpahkan dan dipersembahkan kepada makhluk yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad Saw. Dalam Kitab An Najmuts Tsaqib halaman 110 karangan Ibnu Sha’d, shalawat nariah sudah berusia 500 tahun bersamaan dengan islamisasi di Indonesia yang sangat massif oleh walisongo pada abad ke-15.

Menurut beberapa ulama seperti Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari, Syeikh Ali Jum’ah, Habib Mundzir al Musawwa dan Syeikh Muhammad Zaki Ibrahim, shalawat nariyah dikarang oleh ulama yang bernama Syeikh Ibrahim at Tazi. Sedangkan beberapa ulama lainnya seperti Syeikh Muhammad bin Alwi al Maliki dan KH. Aziz Masyhuri menyatakan bahwa shalawat nariyah dikarang oleh Abdul Wahab at Tazi. Namun seluruhnya sepakat bahwa shalawat ini berasal dari Maroko dengan nama lain shalawat taziyah.

Shalawat nariyah yang sampai di Indonesia, sebetulnya sudah banyak mengalami penambahan kalimat dari redaksi aslinya, seperti lafadz “sayyidina muhammadinilladzi”yang sebelumnya hanya kata “ala nabiyyin”. Kemudian pada kalimat setelahnya ditemukan pula lafadz “wa husnul khawatim”, “al karim”, “fi kulli lamhatin wa nafasin bi’adadin kulli ma’lumin laka” yang seluruhnya merupakan tambahan-tambahan dari beberapa ulama dan sudah dijelaskan dalam buku Shalawat Nariyah tulisan Dr. Alvian Iqbal Zahasfan.

Dalam tulisannya, Dr. Alvian juga mengutip kitab Khozinatul Asrar karya Syeikh An Nazili halaman 181 yang menjelaskan tambahan lafadz shalawat, jumlah bilangan yang diijazahkan serta fadilahnya. Di dalamnya dijelaskan,

“Barangsiapa yang ingin menghasilkan sesuatu yang penting, atau menolak bencana, maka bacalah shalawat tafrijiyah (nama lain shalawat nariyah) ini, dan bertawasullah dengannya kepada Nabi, yang memiliki akhlak yang sangat agung, sebanyak 4444 kali, sesungguhnya Allah akan mengabulkan permohonannya sesuai dengan niatnya. Demikian pula disebutkan oleh muhadits besar, Ibnu Hajar al Atsqolani, bahwa bilangan itu ada sirr (rahasia)nya, karena itu merupakan suatu elemen dalam memberikan dampak qabul. Demikian dijelaskan dalam kitab Asrarus shalah (rahasia-rahasia shalawat)

Dr. Alvian juga mengkhususkan pengamal shalawat nariyah untuk bertawasul sebelum membacanya dan tetap menjaga adab-adab seorang muslim. Karena shalawat ini sejatinya ditujukan kepada Rasulullah Saw yang sangat menjunjung tinggi adab, maka membacanya pun harus menggunakan adab.

Hikmah

Mutiara Pencerahan Sufi

Dalam catatan sejarah, tidak sedikit para pemimpin Islam yang meminta fatwa dan nasihat keagamaan kepada para sufi.

Published

on

Mutiara Pencerahan Sufi

Sebut saja sebagian kecil dari pemimpin-pemimpin itu adalah Sulaiman bin Abdul Malik, Ja’far bin Muhammad, dan Harun ar-Rasyid. Bahkan Umar bin Abdul Aziz pun tidak segan-segan mengeluarkan biaya seribu dinar dari kas negara untuk mendapat nasihat Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Uthbah bin Mas’ud.

Tradisi nasihat-menasihati itu sebenarnya juga telah diisyaratkan oleh al-Qur’an baik lewat nashsh perintahnya (misalnya, QS. al-‘Ashr [103]:3), maupun lewat kisah-kisahnya, seperti kisah Luqman Hakim yang memberikan nasihat kepada anaknya. Sehingga dalam kehidupan nabi dan para sahabat pun banyak dijumpai tradisi saling menasihati untuk kebaikan dan kebenaran.

Dan, jika buku yang ada di tangan pembaca ini bermaksud meneruskan tradisi nasihat-menasihati tersebut tentu tidaklah berlebihan. Karena ada sekian ratus hikmah para sufi yang memuat nasihat dan petunjuk, berserakan dalam khazanah Islam. Barangkali muatan itu bisa memadukan pikiranpikiran yang berbeda, melegakan hati, melepaskan beban pikiran yang berat, dan menjaga kesantunan, seperti dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz.

Buku ini terdiri atas 200 cerita, dikumpulkan dari hikmah-hikmah yang bertebaran di berbagai kitab klasik pesantren, dan sebagian merupakan materi ceramah keagamaan penulis, KH. M.A. Fuad Hasyim. Setelah jilid pertama ini, akan menyusul dua jilid berikutnya, yaitu jilid ke-2 dan jilid ke-3.

Banyak kenangan yang sempat kami rekam bersama KH. M.A. Fuad Hasyim selama proses pracetak. Namun sebelum proses ini benar-benar selesai, kami dikagetkan oleh berita bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah, tepatnya 12 Juli 2004. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn, kami turut berbelasungkawa dan berdoa semoga rahmat Allah SWT senantiasa terlimpah untuk beliau. Amin.

Kami baru tahu siapa KH. M.A. Fuad Hasyim yang sebenarnya, ketika kami ta’ziah ke rumah beliau di Cirebon. Sungguh kami kagum, beliau telah menulis puluhan tahun. Karya-karya itu ditulis rapi dengan tangan, dan sebagian telah diketik “manual”. Oleh putera beliau, Kang A’im dan Babas, kami ditunjukkan begitu banyak karya beliau yang tersimpan di dalam kamar pribadi beliau. Mulai dari syair-syair, kisah para sahabat, dan studi keislaman lainnya. Kesemuanya ini menunjukkan sosok kiai yang lengkap, seniman, intelektual, dan dai (orator) yang kondang. Saat ini karya-karya beliau ini sedang kami siapkan untuk diterbitkan. Atas budi baik keluarga dari KH. M.A. Fuad Hasyim kami dapat meng-copy sebagian karya beliau.

Dalam buku ini, untuk pengantar penulis dan biodata, kami juga mendapatkan dari KH. M.A. Fuad Hasyim dalam bentuk tulisan tangan. Sebetulnya tidak begitu sengaja, pada saat kami melihat-lihat tulisan-tulisan beliau, di antara tumpukan buku-buku tebal ada buku tipis yang lusuh dan sudah rusak. Kami yakin itu bukan buku khusus milik beliau karena di dalamnya ada tulisan-tulisan anak kecil yang “awut-awutan”. Di antara lembaran buku itulah, ada tulisan KH. M.A. Fuad Hasyim, dan setelah kami baca ternyata pengantar dan biodata untuk buku yang saat ini ada di tangan pembaca.

Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan KH. M.A. Fuad Hasyim menyerahkan penerbitan naskah ini kepada kami. Juga kepada Ahmad Tohari yang memperkenalkan dan mendorong kami untuk menerbitkan naskah tersebut, dan kepada Agus Mu’thi yang telah dengan susah payah memindah dari naskah ketik ke dalam filefile komputer sehingga bisa diolah di meja redaksi. Dan kepada para pembaca, selamat menjelajah. [Pub]

Continue Reading

Pustaka

Sekuntum Bunga dari Taman Firdaus 

Published

on

Prof. Dr. Kadirun Yahya

Buku Sekuntum Bunga dari Taman Firdaus merupakan cetak ulang dari karya karya besar Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, yang ditulis pada tahun 1982. Buku ini secara ilmiah menjawab pro dan kontra terhadap metode tarekat/tasawuf/sufi, yang selain mengedepankan logika berpikir berbasis ilmu eksakta, juga ditunjang dengan dasar-dasar dari al-Qur’an dan hadist.

Taman Firdaus

Di Indonesia, sejak tahun 70-80 an, telah berkembang dialektika di antara para ilmuwan muslim terkait hubungan agama dan sains. Dalam diskursus ini, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya melalui teori metafisika eksakta yang digagasnya, dapat disebut sebagai pelopor dalam pengembangan pemikiran mengenai keterkaitan ilmu tasawuf serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemikiran ini dinilai mampu menunjukkan ilmiahnya ayat-ayat al-Qur’an melalui metode tarekat/tasawuf, yang bisa dibuktikan kebenarannya secara sains dan terukur, bukan hanya sekedar dogmatis.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya merupakan seorang ilmuwan sekaligus tokoh ulama tasawuf/sufi besar dari Indonesia, mursyid dari Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Pemikiran, sosok kepribadian, dan pola dakwahnya yang unik, telah banyak diteliti dan ditulis para akademisi, peneliti, dan penulis, baik dari Indonesia maupun luar negeri. [MUA]

Continue Reading

Pustaka

Walisongo Luar Negeri dalam Kitab Manaqib al Auliya’ al Abrar

Published

on

Nama “Walisongo” mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia, khususnya muslim di Jawa. Kepopulerannya bahkan dijelaskan pula oleh KH. Bisri Musthofa dalam kitab berbahasa Arab pegon yang berjudul Tarikh al Auliya’ Tarikh Walisanga yang selesai ditulis pada tahun1952 Masehi. Dalam kitab tersebut, KH. Bisri Musthofa tidak hanya menyebutkan Sembilan nama wali, tetapi lebih dari itu. Mereka diantaranya Raden Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Paku (Sunan Giri), Raden Syahid (Sunan Kalijaga), Raden Abdul Qadir (Sunan Gunung Jati), Raden Sa’id (Sunan Muria), Raden Amir Haji (Sunan Kudus), Sayyid Muhsin (Raden Wilis), Raden Haji Usman (Sunan Manyuran), Raden Patah (Sunan Bintoro), Raden Usman Haji (Sunan Ngudung), Raden Jakandar (Sunan Bangkalan), Khalifah Husain (Sunan Kertayasa), Sayyid Ahmad (Sunan Malaka), Pangeran Santri (Sunan Ngadilangu), Raden Abdul Jalil (Sunan Siti Jenar) dan Raden Qasim (Sunan Drajat).

Nama-nama di atas tentu sangat familiar dalam proses penyebaran Agama Islam di Jawa. Berbeda dengan KH. Bisri Musthofa, dan ulama nusantara kebanyakan yang membahas walisongo sebagai tokoh Nusantara, KH. Mishbah bin Zain al Musthofa justru mengadaptasi istilah tersebut untuk mengumpulkan wali-wali yang berasal dari luar Indonesia dan menghimpunnya dengan nama walisongo luar negeri. Ulama yang berasal dari Bangilan, Tuban itu menuangkan nama-nama walisongo luar negeri dalam kitabnya yang berjudul Manaqib al Auliya’ al Abrar yang diantaranya Abu al Qasim al Junaid, Abd al Qadir al Jilani, Abu al Hasan al Sadzili, Abu al ‘Abbas al Mursi, Abu al Husain al Rifa’I, Ibrahim al Dasuqi, Ibrahim al Matbuli, Ali al Khawwash dan Syams al Din Muhammad al Hanafi. Pemilihan nama-nama di atas didasari oleh kepopuleran mereka berdasarkan cerita-cerita ulama thariqah terdahulu. Dan bukan berarti nama-nama ulama lain yang tidak disebutkan itu lebih rendah derajatnya.

Kitab ini berisi kisah-kisah wali yang dikutib dari beberapa kitab tasawuf terkemuka seperti Asrar al Talibin, Futuhat al Makkiyah, Syarah Kharidah, dan lain-lain. Layaknya kisah-kisah sufi dalam kitab lain, Manaqib al Auliya’ al Abrar  juga memuat kisah-kisah dan qaul-qaul ulama yang mencerminkan kesalehan dan kedekatan mereka kepada Allah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Syeikh Abd al Qadir al Jilani berikut:

 “Tanda-tanda musibah yang didatangkan Allah dengan tujuan sebagai azab adalah ketika hamba tersebut tidak bisa sabar menghadapinya serta mengeluh dan mengadu kepada orang lain. Adapun tanda-tanda musibah yang didatangkan Allah dengan tujuan sebagai pelebur dosa adalah ketika hamba tersebut sabar dan tidak mengeluh kepada siapapun dalam menghadapinya. Ia juga tidak akan bosan melaksanakan perintah Allah dan menaati-Nya. Adapun musibah yang didatangkan Allah dengan tujuan untuk mengangkat derajat hamba-Nya adalah hamba tersebut ridha dengan apa yang dihadapi dan menerimanya dengan ikhlas. Hatinya masih tentram dan damai hingga musibah itu hilang.”

Kitab Manaqib al Auliya’ al Abrar ditulis dengan dua bahasa. Pertama Bahasa Arab, kemudian oleh penulis diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa dengan huruf Arab pegon untuk memudahkan pembaca (yang pada saat itu pembacanya adalah masyarakat Jawa) yang tidak bisa berbahasa Arab. Adapun di akhir kitab, penulis masih menyempatkan untuk menulis beberapa kisah kewalian dari tokoh lain seperti wali perempuan, Mu’adzah al Adawiyah yang menghabiskan sepanjang harinya dengan shalat sunnah enam ratus rakaat dan selama empat puluh tahun pandangannya tak pernah menghadap ke langit karena rasa takutnya terhadap Allah. Adapula cerita dari Dzun Nun al Mishri yang mengatakan bahwa semakin seseorang itu bertambah ilmunya, seharusnya bertambah pula zuhudnya. Namun pada saat ini, semakin seseorang itu bertambah ilmunya, justru ia semakin mencintai dunia. Dahulu ia melihat setiap orang berlomba-lomba mengeluarkan hartanya untuk memperoleh ilmu. Namun saat ini yang dilihat adalah setiap orang berlomba-lomba mengeluarkan ilmunya untuk memperoleh harta.

Wallahu a’lam bi as shawwab

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending