Connect with us

Tokoh

Mengenal Al Hallaj, Waliyullah yang Dianggap Sesat

Published

on

Al Hallaj bernama lengkap Abu Mughits al Husain bin Manshur bin Muhammad al Baidhawi (244-309 H/857-922 M). Ia lahir di Thur, bagian dari Distrik Baidha, Persia. Nama Al Hallaj diperoleh karena ia bekerja sebagai tukang kapas. Sedangkan ayahnya adalah penyortir wol.

Al Hallaj dikenal karena pahamnya tentang hulul. Sebuah kesesatan jika hulul dipahami dengan masuknya ruh Allah Swt. kepada manusia tertentu. Tentu saja itu adalah musyrik. Bahkan, dengan menyebut bahwa Allah punya ruh saja termasuk katagori musyrik.

Istilah hulul sendiri sebetulnya sudah Allah Swt. jelaskan dalam al Quran, yaitu:

  • وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.“ (Qs. Al Anfal: 24)

  • وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qs. Qaf: 16)

  •  وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ رَمٰىۚ

“Dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar.” (Qs. Al Anfal: 17)

Orang yang tidak memahami Al Hallaj, tentu tidak akan menyukainya karena paham ini meskipun tidak sampai mengkafirkan. Tapi orang-orang thariqah meyakini bahwa beliau waliyullah. Kesimpulan ini didapat dari qaul Syekh Abdul Qadir al Jilani ketika ditanya mengenai Al Hallaj, ia mengatakan,

عثر الحلاج ولم يكن في زمانه من يأخذ بيده، ولو أدركته لأخذت بيده

 “Al-Hallaj tersandung, dan tidak ada seorang pun di masanya untuk mengambil tangannya (untuk menyelamatkanya). Dan jika aku mengetahuinya, tentu aku akan mengambil tangannya.”

Syekh Abdul Qadir al Jilani memahami posisi Al Hallaj. Terlebih, ia pernah memiliki murid serupa Al Hallaj yang juga ingin diadili sebagaimana Al Hallaj diadili. Lalu Syekh berkata, “Ini (kondisi batin yang dialami muridnya) benar. Tapi pandangannya multabasun (meragukan). Nur bashirah-nya multabasun ke mata zahir. Kemudian tercampur pandangan batin dan zahirnya.”

Yang bisa menjelaskan kondisi ini adalah Syekh Abdul Qadir. Karena ia mengerti perbedaan antara mata batin dan mata zahir.

Lalu, mengapa Al Hallaj tetap dieksekusi? Dalam kitab Nasy’atut Tashawwufil Islam, karya Dr. Ibrahim Basuni, ada tiga hal yang menjadi alasan dieksekusinya Al Hallaj, antara lain:

  • Hukuman Al Hallaj yang dianggap membela Syiah Qaramithah yang menentang pemerintah saat itu. Dimana Al Hallaj memang tinggal di desa yang mayoritas penduduknya adalah Syiah Qaramithah
  • Karena pernyataannya “Ana al Haq” yang menyebabkan ia tertuduh sebagai penyebar kesesatan. Namun pendapat ini dipandang lemah
  • Ada persaingan antara ulama fiqih dengan Al Hallaj, dimana ulama fiqih pada saat itu kalah pamor dengan ulama sufi. Kemudian mereka menyuruh muridnya mencuri kitab Al hallaj yang sedang ditulis. Kemudian di dalam kitab itu ditulis ajaran yang sesat seperti haji tak perlu ke Mekkah, cukup memutari kamar saja. Dan pendapat ketiga inilah yang dianggap paling kuat

Menjelang kematian Al Hallaj, yang menjadi perdebatan adalah tentang pertanggungjawaban kitabnya. Maka ketika ia ditanya, “Apakah ini kitabmu?” ia menjawab, “Demi Allah, ini kitabku” kemudian ia ditanya lagi, “Kalau begitu, kamu telah sesat.” Kemudian ia menjawab, “Tidak ada yang aku tulis kecuali al Quran dan Hadis.”

  • Baca Juga:

Al Hallaj adalah murid dari ulama sufi terkemuka, Imam Junaid al Baghdadi. Pertemuannya adalah pertemuan dua orang yang kasyaf-nya seolah diadu. Suatu ketika Al Hallaj mengunjungi rumah Imam Junaid, mengetuk pintunya dan mengucapkan salam. Kemudian Imam Junaid bertanya, “Siapa di luar?” Lalu dijawab oleh Al Hallaj. Kemudian ditimpali lagi oleh Imam Junaid, “Oh kamu, yang nanti akan mati di tiang pembantaian?” Lalu Al Hallaj menjawab, “Iya. Tapi pada saat itu akan ada sufi yang harus melepas jubahnya berganti menjadi ulama fiqih.”

Benar saja. Karena pada saat Al Hallaj akan dieksekusi, Imam Junaid diminta fatwa tentang apakah Al Hallaj sesat atau tidak. Namun, berdasarkan perspektif tasawuf, ia sama sekali tidak menemukan letak kesalahan Al Hallaj. Kecuali setelah ia lepaskan jubah kesufiannya dan mengenakan jubah fiqih. Maka secara fiqih, Al Hallaj memang salah.

Banyak argumen yang menganggap bahwa Al Hallaj adalah orang yang sesat. Namun kenyataannya, ia adalah seorang mufassir. Karena kezuhudannya, ia bisa makan hanya dengan satu suapan dan tiga teguk air. Bahkan, ia bisa mendirikan shalat hingga 400 rakaat dalam sehari semalam.

Ketika ia tetap diputus bersalah, ia kembali ditanya, apa permohonan terakhirnya. Kemudian ia menjawab bahwa ia ingin melaksanakan shalat dua rakaat dan meminta sahabatnya, Asy Syibli untuk meminjaminya sajadah. Selesai shalat ia lantas menari sambil bersyair,

 أَقَتلوني يا ثِقاتي # إِنَّ في قَتلي حَيات

Bunuhlah aku wahai sahabatku, karena terbunuhnya aku adalah hidupku

 وَمَماتي في حَياتي # وَحَياتي في مَماتي

Kematianku ada dalam kehidupanku, dan kehidupanku ada dalam kematianku

أَنا عِندي مَحوُ ذاتي#  مَن أَجَلَّ المَكرُماتِ

Aku menghilangkan diriku, demi kehormatan

وَبَقائي في صِفاتي # مِن قَبيحِ السَيِّئاتِ

Kekekalanku ada dalam sifatku, dari buruknya hal-hal yang buruk

سَئِمَت روحي حَياتي # في الرُسومِ البالِياتِ

Jiwaku muak dengan hidupku, di dalam lukisan yang usang

فَاِقتُلوني وَاِحرِقوني # بِعِظامي الفانِياتِ

Bunuh aku dan bakar aku, dengan tulang-tulangku yang fana

ثُمَّ مُرّوا بِرُفاتي # في القُبورِ الدارِساتِ

Kemudian lewatilah jenazahku, di kuburan pembelajaran

تَجِدوا سِرَّ حَبيبي#  في طَوايا الباقِياتِ

Engkau menemukan rahasia kekasihku, pada sisa lapisannya

إِنيّ شَيخٌ كَبيرٌ#  ثُمَّ إِنّي صِرتُ طِفلاً

Sesungguhnya aku adalah orang yang sudah tua, kemudian menjadi anak kecil

في حُجورِ المُرضِعاتِ # ساكِناً في لَحدٍ قَبرٍ

Di panti-panti jompo, tinggal dalam kuburan

في أَراضٍ سَبِخاتِ # وَلَدَت أُمّي أَباها

Di rawa-rawa, ibuku melahirkan ayahnya

إِنَّ ذا من عَجَباتي # فَبَناتي بَعدَ أَن كُن

Ini adalah salah satu keajaibanku, memiliki seorang putri setelah aku ada

نَ بَناتي أَخَواتي # لَيسَ مِن فِعلِ زَمانٍ

Putri dari saudaraku, bukan dari bekerjanya waktu

لا وَلا فِعلِ الزُناةِ#  فَاجمَع الأَجزاء جَمعاً

Dan bukan pula dari perbuatan zina, maka berkumpullah seluruh bagian-bagiannya

مِن جُسومٍ نَيِّراتِ # مِن هَواءٍ ثُمَّ نارِ

Dari bagian-bagian yang bercahaya, dari udara dan api

ثُمَّ مِن ماءٍ فراتِ#  فَازرَعِ الكُلَّ بِأَرضٍ

Kemudian dari air Eufrat, tumbuhlah semua yang ada di bumi

تُربُها تُربُ مَواتِ  #وَتَعاهَدها بِسَقيٍ

Kemudian yang sudah mati menjadi debu, Ia berjanji untuk menyirami

مِن كُؤوسٍ دائِراتِ # مِن جَوارٍ ساقِياتٍ

Dari cangkir-cangkir yang berputar, dari sisi anak sungai

وَسَواقٍ جارِياتِ # فَإِذا أَتَمَمتَ سَبعاً

Dan dari pengendali yang terus melaju, ketika sudah menyelesaikannya tujuh kali  

أَنبَتَت كُلَّ نَباتِ

Maka tumbuhlah setiap jenis tumbuhan

Dan ketika orang-orang melempari Al Hallaj dengan batu, Asy Syibli justru melemparinya dengan mawar. Pada saat itu Al Hallaj marah, “Mawar yang dilemparkan oleh sahabat terasa lebih menyakitkan daripada batu manapun.”

Sayangnya, Al Hallaj tidak bisa dibela ketika ia mengatakan, نحن روحان حللنا بدنا (Kami adalah dua ruh yang menyatu pada satu badan), yang pada pernyataannya membuat orang lain mendefinisikan bahwa hulul itu menyatunya ruh Allah Swt. dan ruh sufi dalam satu badan.

Padahal dalam perspektif ilmu balaghah, ungkapan “انا الحق” jika diartikan dengan gaya bahasa yang panjang, memiliki makna, “aku ini representasi dari ciptaan al Haq.” Analoginya adalah sebuah lukisan yang dibuat oleh Affandi pasti meninggalkan ciri khasnya sendiri. Maka jika ada orang yang meniru, meskipun persisnya seperti apa, pasti dapat diketahui mana yang asli atau palsu. Mengapa dapat dibedakan? Karena ada ciri khas yang tertinggal dari pencipta atas ciptaanya.

Lalu adakah ciptaan yang tidak menggambarkan ciptaannya? Mungkinkah ada ciptaan Allah Swt. yang tidak menggambarkan kekuasaan Allah Swt.? Dalam istilah Al Hallaj, itu diganti dengan kata “الحق”. Mungkinkah ada ciptaan yang tidak menggambarkan penciptanya Al Haq? Al Hallaj sesungguhnya memiliki kesadaran yang seolah-olah mengatakan, “Saya itu tidak ada kecuali semua representasi dari Allah Al Haq.”

Tidaklah sejengkal apa yang ada dalam tubuh kita ini kecuali dalam rangka menegaskan sebagai karya dari Allah Swt. sendiri. Maka tidak ada dalam diri Al Hallaj itu kecuali representasi Allah Swt. Memang menjadi salah ketika orang itu memahami pernyataan Al Hallaj dengan pikiran yang sangat lugas. Kemudian mengatakan kalimat “Ana Al Haq” yang dikatakan Al Hallaj itu sesat.

Maka, perbedaan kalimat “انا ربكم الاعلى” dan “انا الحق” adalah pada kalimat “انا الحق” itu, dirinya Al Hallaj yang hilang, kesadaran ketuhanan yang mengambil seluruh kesadarannya. Dan itu tetap dihukumi tauhid. Sedangkan pada kalimat  “انا ربكم الاعلى” yang diucapkan oleh Firaun, Allah lah yang hilang, kemudian Firaun yang membesar mengganti kesadaran ketuhanan. Dan itu jelas dihukumi musyrik.

Mengapa Allah sampai menjadikan wali seperti ini? Karena Allah ingin menunjukkan bahwa jika seseorang beribadah kepada Allah Swt. secara total, maka ia bisa sampai posisi ini. Sayangnya, Al Hallaj tidak menempatkan cinta itu sesuai porsinya. Tidak semua orang yang jatuh cinta itu benar dalam menggambarkan cinta. Tapi bahwa orang itu pasti mengalami jatuh cinta itu tidak bisa diingkari. Apakah ketika orang itu mendefinisikan cinta salah berarti perasaan cintanya salah? Kira-kira demikianlah yang dialami Al Hallaj dan Abu Yazid al Bustami.

Setiap sesuatu yang diciptakan oleh Allah Swt., tentu pada aspek penciptaan itu mewarisi identitas penciptanya. Dan identitas pencipta itu yang oleh al Hallaj disebut “Lahut”. Aspek ketuhanan yang Allah Swt. titipkan kepada makhluk.

Seperti apa aspek ketuhanan itu? yaitu sifat-sifat yang baik seperti sabar, pemaaf, sebagai karunia Allah Swt. kepada manusia sebagai Khalifah di bumi. Karena untuk mengelola bumi, diperlukan kesamaan ilmu yang antara yang memandatkan dan yang dimandatkan. Meskipun tentu saja definisi sabar dalam konteks manusia dan Tuhan tetap harus dibedakan maknanya.

Begitu pula dengan sifat kemanusiaan yang ada dalam diri manusia yang disebut “Nasut”. Maka al Hallaj mengatakan, “siapa yang bisa menghilangkan sifat nasutnya, dia kekal dalam sifat lahutnya”. Tapi kemudian Al Hallaj mengidentifikasi, bahwa dalam zat Allah, terdapat aspek yang disamakan oleh makhluk seperti asma’, af’al. Meskipun pada hakikatnya tak pernah sama. Allah Swt. dengan asma’, sifat dan af’al nya disebut aspek nasut yang bisa disamakan makhluk. Tapi Allah Swt. sebagai zat itu disebut lahut.

Nasutnya Allah Swt. dan manusia itu jelas berbeda makna. Jika manusia sudah bisa menghilangkan sifat nasutnya dan kekal dalam sifat lahutnya, ia tinggal menunggu kapan Allah Swt. menurunkan sifat nasut-Nya pada lahut-Nya. Jadi, hulul harus diartikan dengan masuknya nasut Allah Swt. kepada lahut manusia, yaitu sifat-sifat ketuhanan pada sifat baik manusia. Karena jika diartikan sebagai zat Allah pasti akan bahaya maknanya.

اِنَّ اللهَ اَصْطَفَى اَجْسَامًا حَلَّ فِيْهَا بِمَعَانِى الرُّبُوْبِيَّةِ وَاَزَالَ عَنْهَا مَعَانِى الْبَشَرِيَّةِ

“Sesungguhnya Allah memilih jasad- jasad (tertentu) dan menempatinya dengan makna ketuhanan (setelah) menghilangkan sifat- sifat kemanusiaan”.

*Tulisan di atas berdasarkan penjelasan Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag. (Pengasuh Majelis al-Dzikir wa al-Ta lim Mihrab al-Muhibbin).

Editor: Khoirum Millatin

Tokoh

Guru, Karya dan Akhir Hayat Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul yang lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Memiliki kisah akhir yang penuh semangat meski dalam kondisi sakit beliau tetap mengajar dan mengisi pengajian meski tidak rutin seperti biasa dilakukan di tempatnya.

Akhir Hayat Abah Guru Sekumpul

Pada awal tahun 2000-an, kesehatan Guru Sekumpul mulai menurun dan sakit-sakitan. Pada tahun 2002 beliau harus melakukan cuci darah. Dengan semakin menurunnya kesehatan sang guru, maka pengajian tidak lagi dapat berlangsung secara rutin. Beberapa kali pengajian diliburkan, bahkan ada yang diliburkan berbulan-bulan. Dalam kondisi menurun itu beliau menyampaikan pengajian dari dalam rumah yang disiarkan lewat TV, baik dengan kondisi duduk atau sambil berbaring. Jamaah yang datang tetap dapat menyaksikan dan menyimak pengajian beliau meski tidak datang ke Mushalla Arraudhah seperti biasa.

Pada tahun 2005 kondisi beliau semakin kritis hingga kemudian diterbangkan ke Singapura untuk dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Setelah 10 hari dirawat di sana, Guru Sekumpul dikembalikan ke Martapura. Tepat subuh Rabu 5 Rajab 1424 H/10 Agustus 2005 ulama kharismatik ini wafat pada usia 63 tahun. Beliau dimakamkan di Komplek Sekumpul di samping Mushalla Arraudhah berdampingan dengan makam pamannya (Syekh Semman Mulya) dan ibunda beliau.

Beliau meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Hj. Juwairiyah, Hj. Laila dan Hj. Siti Noor Jannah, dan dua anak yaitu Muhammad Amin Badali Al-Banjari dan Ahmad Hafi Badali Al-Banjari. Beliau juga meninggalkan Komplek Arraudhah Sekumpul yang sampai saat ini masih semarak dengan kegiatan keagamaan, meski tidak seperti ketika beliau masih hidup.

Guru-Guru Pendidikannya

Berikut ini adalah beberapa guru KH. Muhammad Zaini selama belajar di Martapura baik di pesantren maupun luar pesantren. Gurunya di tingkat Ibtida’iy adalah KH. Sulaiman, KH. Abdul Hamid Husein, KH. Mahalli Abdul Qadir, KH. M. Zein, KH. Rafi’i dan KH. Syahran. Gurunya di tingkat Tsanawiy/’Aliy adalah KH. Husein Dahlan, KH. Salman Yusuf, KH. Semman Mulia, KH. Salman Jalil, KH. Salim Ma’ruf, KH. Husin Qadri, dan KH. Sya’rani Arif.Guru-gurunya di bidang Tajwid adalah KH. Sya’rani Arif, KH. Nashrun Thahir, KH. Semman Mulia, dan KH. M. Aini.

Kitab yang Diajarkan dan Karyanya

Ada sejumlah kitab mu’tabarah dan terkenal yang pernah dikaji dalam pengajian. Di bidang Tafsir dan hadis ada beberapa kitab yang dikaji, yaitu Tafsir Jalalayn, Tafsir Khazin, Tafsir Marah al-Labid, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Riyadh ash-Shalihin. Di bidang ilmu Kalam, beberapa kitab yang dikaji, yaitu Sifat Dua Puluh (Habib ‘Utsman Batawi), Kifayah al-‘Awwam, Jawahir al-Murid, dan Syarah ‘Abd al-Salam ‘ala Jawharah fi ‘Ilm al-Kalam. Di bidang fiqih, beberapa kitab yang dikaji adalah Parukunan Besar, Sabil al Muhtadin, Syarh Sittin, Syarh Matan Zubad, Bajuri ‘ala al Qasimi, Syarh Matan Hadhramiy, dan Qalyubiwa Humayrah Syarh Minhaj an-Nawawi. Di bidang Tasawuf dan akhlak, cukup banyak kitab yang telah dikaji, yaitu Penawar Bagi Hati, Sayr as-Salikin, Ta’lim al-Muta’allim, Sullam at-Tawfiq, Kitab Arba’in, Bidayah al-Hidayah, Irsyad al-‘Ibad, Kifayah al Atqiya`, Mursyid al-Amin, Minhaj al-‘Abidin, Ihya` ‘Ulum ad Din, Syarh Hikam/iqazh al-Himam, Wujud an-Nabiy fi Kulli Makan, Insan al-Kamil, Fath ar-Rahman, Zad al-Muttaqin, Syarh ‘Ainiyyah, Taqrib al-Ushulfi at-Tashil al-Wushul, al-Fusul al-‘Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hikmiyyah, al-‘Alamah al-Kibriyyah, wa al-Fahhamah, Tafrih al-Qulub wa at-Tafrij al-Kurub, ‘Ilm an Nibras manhat al-Akyas, al-Mawa`id fi al-Fawa`id, ar-Risalah an-Nuraniyyah, Syarh Ardabiliy, Tanbih al-Mugharrin, Maraqiy al-‘Ubudiyyah, Nasha`ih ad-Diniyyah, Nur azh-Zhulam, Ayyuha al-Walad dan Khulashah at-Tashanif. Ada beberapa lagi kitab yang dikaji yang tidak disebutkan di sini terkait pengajian kitab sirah dan manaqib.

Peninggalan yang tidak kalah pentingnya adalah beberapa risalah yang ditulis oleh Guru Sekumpul. Beberapa risalah tersebut adalah: (1) Risalah Mubarakah, (2) Manaqib Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadirial Hasani as-Samman al-Madani, (3) Ar-Risalah an-Nuraniyyah fi Syarh Tawassulat as-Sammaniyyah, (4) Nubdzah min Manaqib al-Imam Masyhur bi al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin ‘Ali Ba’alawi, dan (5) al-Imdad fi Awrad Ahl al-Widad.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Thariqah

Biografi dan Silsilah Thariqah Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul memiliki nama asli KH. Muhammad Zaini Ghani. Beliau dikenal diseluruh pelosok negeri Indonesia terutama masyarakat Banjarmasin. Abah Guru Sekumpul merupakan ulama kharismatik asal Banjarmasin dan merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Yakni, KH. Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah Mufti bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan).

Lakab Guru Sekumpul merupakan panggilan akrab dari jamaahnya. Beliau lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Abah Guru Sekumpul ketika lahir diberi nama Qusyairi, namun karena sering sakit kemudian namanya diganti menjadi Muhammad Zaini.

Sewaktu kecil, ia tinggal di Kampung Keraton. Ayahnya, Abdul Ghani, dan ibunya, Masliah merupakan keluarga yang kekurangan dari segi ekonomi. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh penggosok batu intan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Meski hidup prihatin dan sederhana, Zaini muda mendapat pendidikan yang baik dari ayahnya dan neneknya yang bernama Salabiah. Di lingkungan keluarga ia mendapat didikan yang ketat dan disiplin serta mendapat pengawasan dari pamannya, Syekh Semman Mulya. Pada usia 5 tahun ia belajar al-Qur`an dengan Guru Hasan Pesayangan dan pada usia 6 tahun menempuh pendidikan di Madrasah Kampung Keraton. Pada usia 7 tahun ia masuk ke Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Abah Guru Sekumpul muda menempuh pendidikan di Pesantren Darussalam selama 12 tahun (1949-1961 M). Pada tahun 1949 (usia 7 tahun) ia masuk tingkat Tahdhiry/ Ibtida’iy dan pada tahun 1955 (usia 13 tahun) ia melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Pesantren yang sama. Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1961 (usia 19 tahun), lulus dengan nilai jayyid mumtaz. Selain belajar secara formal di pondok pesantren Darussalam, beliau juga menuntut ilmu di sejumlah halaqah di kediaman para ulama di sekitar Martapura sebagaimana lazim dilakukan oleh para santri di pesantren Darussalam. Tidak hanya itu, ia juga belajar dengan sejumlah guru di luar daerah Martapura, di antaranya ia pernah belajar dengan KH. M. Aini di Kampung Pandai Kandangan dan pernah belajar dengan KH. Muhammad di Gadung Rantau.

Sekitar tahun 1965 (usia 23 tahun), Abah Guru Sekumpul berangkat bersama pamannya, KH. Semman Mulya ke Bangil. Di Bangil ia dibimbing oleh Syekh Muhammad Syarwani Abdan selama beberapa waktu. Setelah memperoleh bimbingan spiritual, Zaini Muda disuruh sang guru untuk berangkat ke Mekkah menemui Sayyid Muhammad Amin Qutbi untuk mendapat bimbingan sufistik darinya. Sebelum berangkat ke Makkah, ia terlebih dahulu menemui Kyai Falak (Mama Falak) Bogor dan di sini ia memperoleh ijazah dan sanad suluk dan thariqah. Sambil menunaikan ibadah haji, Abah Guru Sekumpul mendapat bimbingan langsung dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi dan dihadiahi sejumlah kitab tasawuf.

Dengan demikian, Abah Guru Sekumpul telah belajar secara khusus tentang Tasawuf dan Suluk kepada tiga ulama, yaitu Syekh Syarwani Abdan di Bangil, Mama Falak di Bogor dan Sayyid Muhammad Amin Qutbiy di Makkah. Selain itu, rantai keilmuannya tersambung dengan sejumlah ulama besar di Makkah. Hal ini terlihat dari beberapa sanad bidang keilmuan dan thariqah yang diambilnya dari beberapa ulama diantaranya, Sayyid Muhammad Amin Qutbiy, Sayyid ‘Abd al-Qadir al-Bar, Sayyid Muhammad bin ‘Alwiy al-Malikiy, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Kyai Falak Bogor dan Syekh Isma’il al-Yamani. Kegemarannya menuntut ilmu dan bersilaturrahmi ke sejumlah ulama membuatnya memiliki banyak guru baik di Kalimantan, Jawa dan Madura maupun di Timur Tengah (Makkah). Ada yang menyebutkan bahwa gurunya berjumlah sekitar 179 hingga mendekati 200 orang. Wallahua’lam.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Profil Thariqah

Thariqah Qadiriyah: Karya dan Murid Syekh Abdul Qadir al-Jilani (2)

Published

on

Karya-Karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani merupakan salah satu ulama yang cukup produktif di masanya. Beliau banyak membahas mengenai hal-hal yang sangat mendasar, seperti tata cara shalat, puasa, haji dan sebagainya. Selain itu, beliau juga membahas mengenai aqidah serta membuat tafsir al-Qur’an 30 (tiga puluh) juz. Beliau juga menuliskan beberapa nasehat penting bagi umat islam.

Menurut cucu ke-25 Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu Prof. Dr. Muhammad Fadhil al-Jailani, beliau telah berkunjung ke 50 perpustakaan resmi dan puluhan perpustakaan lainnya di lebih dari 20 negara sejak tahun 1977 hingga saat ini, Ia menemukan tafsir al-jailani yang merupakan tafsir al-Qur’an 30 Juz di perpustakaan Vatikan setelah 8 abad dinyatakan hilang. Hingga saat ini, beliau telah menemukan 17 kitab dan 6 manuskrip termasuk kitab tafsir al-Jailani, yang ia syarahi dan menghasilkan sekitar 9752 lembar.

Berikut adalah diantara karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani:

1. Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq

Kitab tersebut terdiri dari beberapa pembahasan, diantaranya:

  1. Fiqih ibadah, yang menerangkan hal-hal pokok dalam islam, seperti bersuci, salat, zakat, puasa, I’tikaf, haji, keutamaan bulan Rajab, dan keutamaan bulan Sya’ban.
  2. Aqidah, yang di dalamnya menerangkan makna iman, mengenal Allah, kedudukan Al-Qur’an, kedudukan orang mukmin di akhirat, beriman pada qada’ dan qodar, iman terhadap siksa dan nikmat kubur, surga dan neraka adalah mahluk, kenabian Nabi Muhammad Saw., kehalifahan pasca Rasulullah, dan kelompok-kelompok dalam Islam.
  3. Tafsir, di dalamnya menerangkan isi tafsir surat an-Nahl ayat 98, surat An-Namlayat 30, surat An-Nur ayat 31, surat Al-Hujurat ayat 13, surat At-Taubah ayat 36, dan tafsir dari lafal bismillahirrahmanirrahim
  4. Tasawwuf, yang di dalamya menerangkan etika bermasyarakat, etika personal, etika pernikahan, dan amar makruf nahi munkar.

2. Al-Fathu Ar-Rabbani wa Al-Faydur Ar-Rahmani

Merupakan sebuah kitab yang mencakup wasiat, nasehat-nasehat, dan petunjuk-petunjuk di 62 (enam puluh dua) yang diasuhnya sejak tanggal 3 Syawal 545 H/5 Februari 1151 M sampai tanggal 6 Sya’ban 546 H/30 Nopember 1152 M yang membahas ihwal permasalahan keimanan, keihlasan, dan sebagainya.

3. Tafsir Al-Jailani

Merupakan salah satu karya beliau berupa tafsir al-Qur’an 30 (tiga puluh) juz yang mengulas ayat-ayatnya. Kini tafsir tersebut telah berhasil di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 6 (enam) jilid dan diterbitkan atas kerjasama antara Zawiyah Ar-Raudlah, Markaz Al-Jailani Asia Tenggara dan Qaf Media.

4. Futuh Al-Ghoib

Kitab ini berisi tentang nasehat-nasehat, pemikiran dan pendapat mengenai berbagai permasalahan, seperti penjelasan tentang keadaan dunia, keadaan jiwa syahwat, dan ketundukan kepada perintah Allah Swt.

5. Sirrul Asrar

Kitab ini berisi tuntunan bagi para salik (orang yang menjalani kesufian) menapaki jalan-jalan yang sunyi menuju rahasi di balik rahasia. Syaikh Abdul QAdir Al-Jailani mengajak untuk menelusuri jejak-jejak (ayat-ayat) Allah yang terhampar di alam semesta dan di dalam diri kita. Selain itu dibahas pula mengenai ajaran-ajaran dasar Islam, seperti shalat, puasa, dan haji. Panduan shalat-shalat sunnah dan zikir-zikir penyejuk qalbu juga dibahas pada kitab ini. Karya ini memandu untuk meraih hakikat kelembutan, mencapai keihlasan, dan menghampiri Sang Kekasih Yang Mahasuci. Prinsip-prinsip spiritualitas Islam diulas secara lugas.

6. As-Shalawat wa Al-Aurad

7. Ar-Rasail

8. Ad-Diwan

9. Ya Waqit Al-Hikam

10. Asrar Al-Isra`

11. Jala’ Al-Khathir fi Al-Zhahir wal Bathin Al-Amru Al-Muhkam

12. Aurâd al-Ayyam As-Sabah

13. Muhtasar Ihya’ Ulumuddin

14. Usuluddin

15. Hizib al-Washilah

16. Maratib Al-Wujud

17. Wirid Shalat Kubrâ

18. Hizib Al-Raja

19. Hizib Al-Washilah

Murid-Murid Syaikh Abdul Qadir alJailani

Imam al-Syathnufi menyebutkan dalam kitab Bahjah al-Asrar, ulama-ulama besar dan para wali yang telah belajar ilmu dan tharîqah dari Syaikh Abdul Qadir. Kebanyakan dari mereka adalah ahli fatwa, ahli hukum (pengadilan) atau orang yang mumpuni di bidang ilmu syari’at khususnya hadits, fiqih, dan al-Qur’an.

Murid-murid beliau yang ahli di bidang hukum (pengadilan):

  1. Abu Ya’la Muhammad al-Fara`
  2. Qadhi Al-Qudhah Abu Hasan Ali
  3. Al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan
  4. Qadhi al-Qudhah Abu al-Qasim Abdul Malik bin Isa bin Darbas al-Maridini,
  5. Al-Imam Abu Amr Utsman,
  6. Al-Qadhi Abu Thâlib Abdur Rahman Mufti Irak
  7. Syaikh al-Qudhah Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Qadhi Ahmad bin Bakhtiyar Al-Wasithi yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Munadi, (Adhwa’, halaman: 177)

Murid-murid beliau di bidang fatwa:

  1. Abu Abdillah Muhammad bin Samdawaih Al-Sharfini
  2. Ahmad bin Muhammad bin Samdawaih Al-Sharfini,
  3. Abu Bakar Abdullâh bin Nashar bin Hamzah Al-Tamimi Al-Bakri Al-Baghdadi penyusun kitab Anwar Al-Nazhir fi Ma’ifati Akhbari al-Syaikh Abdul Qâdir
  4. Al-Imam Abu Amr Utsman bin Ismail bin Ibrahim Al-Sa’di
  5. Al-Hasan bin Abdullâh al-Dimyati
  6. Syaikh Al-Fuqaha’ Abu Abdillah bin Sanan
  7. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Muhammad Al-Azhari Al-Sharbini
  8. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Shâlih Bahauddin
  9. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Abdullâh bin Al-Husain bin Al-Akbari Al-Bashri Al-Dharir,
  10. Abu Muhammad Al-Hasan Al-Farisi
  11. Abdul Karim Al-Farisi
  12. Abu Al-Fadhl
  13. Ahmad bin Shâlih bin Syafi’ al-Hambali
  14. Abu Ahmad Yahya bin Barokah bin Mahfuzh Al-Daibaqi Al-Babishri Al-Iraqi
  15. Abu Al-Qasim Khalaf bin Iyasy bin Abdul Aziz al-Mishri
  16. Najm Al-Din Abu Al-Faraj Abdul Mun’im bin Ali bin Nashir bin
    Shuqail Al-Harani.

Murid-murid beliau yang terkenal ahli fiqh:

  1. Muhammad bin Abi Al-Makarim Al-Fadhl bin Bakhtiyar bin Abi Nashr Al-Ya’qubi
  2. Abu Abdul Malik Dziyan bin Abu al-Ma’ali Rasyid bin Nabhan Al-Iraqi,
  3. Al-Imam Abu Ahmad yang terkenal memiliki banyak kelebihan, karya tulis dan karamah,
  4. Abu Al-Farj Abdur Rahman Al-Anshari Al-Khazraji yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Hambali
  5. Al-Mufti Abu ‘Ali bin Abdur Rahman Al-Anshari Al-Khazraji
  6. Abu Muhammad Yusuf bin Al-Muzhaffar bin Syuja’ Al-‘Aquli Al-Aziji Al-Shahari
  7. Abu Al-Abbas Ahmad bin Ismail al-Aziji yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Thabal
  8. Abu Al-Ridha Hamzah bin Abu Al-Abbas Ahmad bin Ismail Al-Aziji
  9. Muhammad bin Ismail Al-Aziji
  10. Abu Al-Fath Nashar bin Fatayan bin Muthahar al-Mutsni,
  11. Ali bin Abi Thâhir bin Ibrahîm bin Naja Al-Mufashir Al-Wa’izh Al-Anshari. Dan masih banyak lagi yang lain (Adhwa’, halaman: 178).

Murid-murid beliau yang hafal al-Qur’an dan ahli hadits fiqhiyah:

  1. Abu Hafs Amr bin Abi Nashr bin ‘Ali al-Ghazal
  2. Al-Imam Muhammad Mahmud bin Utsman Al-Ni’al
  3. Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi. Dan masih banyak yang lain.

murid-murid beliau yang menjadi guru tharîqah:

  1. Abu Al-Sa’ud Ahmad bin Abu Bakar Al-Harami yang dijuluki Sirajul
    Auliyâ’
  2. Al-Syahid Abu Abdillah Muhammad bin Abu Ma’ali
  3. Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Wahab al-Aziji
  4. Syaikh Abdul Aziz bin Dalaf Al-Bagdadi yang mana dari beliaulah silsilah tharîqah Qâdiriyah menyebar ke Indonesia. Dan masih banyak yang lain, (Adhwa, halaman: 179).

Editor: Hamzah Alfarisi

Sumber:

  1. Tim Penyusun (Idarah Aliyah JATMAN). 2022. Menyimak Biografi Pendiri Thariqah Mu’tabarah. Pekalongan (ID): JATMAN.
  2. Tim Penyusun. 2012. Sabilus Salikin, Jalan Para Salik. Pasuruan (ID): Pondok Pesantren Ngalah.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending