Connect with us

Artikel

Manakib Adalah Lebarannya Para Salik

Published

on

Manakib Sulthon Aulia

Dalam rangka peringatan satu tahun kematian KH. Nur Muhammad Suharto, Wakil Talkin Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, panitia mengadakan Tahlil dan Manakib Sulton Awliya Syekh Abdul Qadir Al-Jilani yang bertempat di Madrasah TQN Pon.Pes Suryalaya Perwakilan Sanggau (Ahad, 30 Januari 2022). Acara yang dihadiri oleh para Ikhwan dan akhwat yang berasal dari Kabupaten Sanggau, Sekadau, dan Sintang ini berlangsung dengan khidmat.

Menunggu para jamaah hadir, dengan suara merdunya, Ust. Barokah, Lulusan UNSIQ Wonosobo, melantunkan salawat-salawat Nabi dengan diiringi tabuhan Banjari yang dipimpin oleh Ust. Maspurwanto, SH. Pengantar acara yang mengharu biru, karena panitia menampilkan foto-foto KH. Nur Muhammad Suharto saat berdakwah menyampaikan kalimah La Ilaha Illallah ke segala penjuru daerah dan medan yang berbeda. Dengan sigap, para Banser yang berasal dari PAC Parindu, Kembayan, dan Kapuas turut ambil bagian untuk pengamanan dan penerbitan dari awal hingga akhir acara dengan komando Bapak Joko Sumartono.

Acara dimulai dengan salat Dluha dan Kifaratul Bawli secara berjamaah, diimami oleh Ust. Yono Mubarok. Sebagai Imam, beliau memimpin salat sunnah ini dengan bacaan Jahar. Hal ini adalah salah satu metode dakwah tarekat yang dilakukan oleh KH. Nur Muhammad Suharto semasa hidupnya. Melihat pentingnya amalan guru, tingginya kebutuhan manusia akan bimbingannya, maka pelaksanaan salat sunnah secara berjamaah dan Jahar dimaksudkan littarbiyah, yakni untuk memberikan pendidikan tentang tata cara salat, berikut bacaan dan doa bagi mereka yang masih awam akan syariat dan tarekat. Sehingga, siapapun dapat menjadi murid yang istiqamah dalam tarekat ini. Setelah menjadi Imam, Ust. Yono Mubarok melanjutkan memimpin Tahlil untuk KH. Nur Muhammad Suharto.

Kemudian, masuk kepada acara inti, yakni Manakib Sulton Auliya Syekh Abdul Qadir Al-Jilani. Manakib dibuka dengan maqam doa oleh Ketua Yayasan Pon.Pes Suryalaya Perwakilan Sanggau, Ust. Priyono, sekaligus membagi para petugas yang akan memimpin Khidmah amaliah dan Khidmah ilmiah. Di antara mereka yang bertugas, Pembacaan Alquran (Ust. Barokah), Pembacaan Tanbih (Ust. Surono), Pembacaan Tawasul (Ust. Suryanto), Pembacaan manqabah dan doa (Ust.Yusuf), serta Khidmah ilmiah oleh Wakil Talkin Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin, KH. Safrullah, yang datang langsung dari Kalimantan Tengah.

Dalam Khidmah ilmiahnya, KH. Safrullah menyampaikan hal penting dalam pembinaan para salik. Beliau menyampaikan bahwa manakib adalah majlis yang mulia, karena manakib adalah perintah Sultan Awliya, amaliahnya Guru, dan juga hidangan (amal dan ilmu) para salik yang hadir. Maka tidak aneh jika melihat para jamaah yang hadir rela berduyun-duyun datang dengan sukacita, walaupun harus menempuh jarak tempuh 2, 3,4 bahkan 5 jam di perjalanan. Karena manakib adalah lebarannya para salik, lebarannya para pecinta karomah dan barokah guru.

KH. Safrullah menyampaikan sebuah hadis Nabi yang artinya, “Barangsiapa yang bermushofahah dengan para ulama, maka sejatinya dia sedang bermushofahah denganku. Barangsiapa yang satu majlis dengan ulama, maka sejatinya dia sedang semajlis denganku. Barangsiapa yang semajlis denganku di dunia, maka ia akan semajlis denganku di akhirat.”

Beliau menafsirkan hadis ini dengan menuqil pendapat Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, Abah Anom, dalam kitab Miftah al-Shudur, bahwa yang dimaksud ulama yang demikian haruslah memenuhi 6 syarat/kriteria:

  1. Al-Muttaquun, orang yang bertakwa, yakni orang yang mengerjakan semua perintah Allah secara zahir dan batin, serta menjauhi semua yang dilarang-Nya, secara zahir dan batin pula. Menurut Kanjeng Nabi Ketika ditanya bagaimana takwa itu, jawabnnya adalah , “at taqwa ha huna,” takwa itu letaknya di sini, sembari menunjuk kepada qalbunya. Siapapun juga mengakui, bahwa Abah Anom adalah manusia yang memiliki kriteria al-Muttaquun ini. Sehingga, jika muridnya dapat bersama dengan Gurunya yang al-Muttaquun, berarti juga telah bersama dengan Rasulullah Saw.
  2. Al-Taarikuun, yakni orang yang meninggalkan segala yang dilarang dan diharamkan oleh Allah, khususunya tentang sifat buruk dan penyakit-penyakit hati, seperti sombong, bodoh, malas, dan lainnya.
  3. Al-Warisuun, yakni orang-orang yang mendapat warisan pengetahuan dari para pendahulunya, yakni guru-gurunya yang musalsal hingga Rasulullah Saw, guru yang dapat mempertanggungjawabkan amaliah yang diajarkannya.
  4. Al-Aarifu, yakni orang yang sampai pada makam ma’rifat kepada Allah SWT. Dia mengenal Allah, sehingga dalam hidupnya tidak ada hal lain selain Allah Swt. Dia adalah orang yang istimewa.
  5. Al-Aamiluun, yakni orang yang mengamalkan ajaran pendahulunya, bukan orang yang hanya bisa memerintah murid, namun dia adalah pengamal yang sebenarnya. Sebelum memerintahkan amalan kepada muridnya, amalan itu diuji coba terlebih dahulu olehnya melalui berbagai alam. Sehingga, sangat berbahaya mengambil amalan jika bukan dari Guru, karena walaupun kalimahnya baik, jika bukan dari Guru, sangat besar kemungkinannya kita ditipu oleh jin. Seperti mengamalkan suatu amalan tanpa guru membuat seseorang dapat berada di Makkah, Madinah, dan tempat lainnya dalam waktu bersamaan, padahal sejatinya ia bukan berada di tempat itu, melainkan jin yang sedang menipu dan menyesatkan ruh dan pengliatannya di alam lain.
  6. Al-Mukhlishuun, yakni orang yang ikhlas. Ulama yang dimaksud Nabi adalah mereka yang ikhlas, tidak mengambil manfaat dan keuntungan dari murid-muridnya. Justru murid-muridnya yang mengambil banyak manfaat dan keuntungan darinya. Karena para murid dibawa wusul hingga Allah Swt, dan itulah keistimewaan memiliki seorang Guru yang mukhlis. Tentang Abah Anom, beliau adalah orang yang paling ikhlas sedunia. Hal ini disampaikan oleh Syekh Hisyam al-Kabbani saat bermunajat ingin mengetahui siapa orang yang paling ikhlas di bumi. Dalam munjatnya, ia diperintahkan untuk melakukan perjalanan ke Timur, hingga sampailah di Suryalaya, dan ia yakin bahwa Abah Anom adalah jawaban atas munjatnya tersebut.

Ini adalah 6 kriteria ulama yang dimaksudkan oleh Rasulullah Swt dalam pemaparan KH. Safrullah. Beliau menegaskan kepada jamaah yang hadir, sejatinya kita telah menemukan ulama yang dimaksud, yakni Abah Anom. Walaupun secara jasmani kita belum bertemu dengannya, namun secara ruhani kita telah bertemu dengannya melalui para wakil talkinnya. Wakil talkin hanya dipinjam lisannya untuk menyambungkan ruh pada Guru. Wakil talkin tidak memiliki Nur, yang memiliki Nur hanyalah mursyid yang memiliki 6 kriteria tadi.

Sebelum menutup Khidmah ilmiahnya, KH. Safrullah menyampaikan, bahwa sangat beruntung orang-orang yang telah mengambil talkin zikir. Lagi-lagi yang berhak mentalkin hanya mursyid, karena dalam dunia Tasawuf hanya mengenal dua kedudukan saja, yakni mursyid dan murid, baik dia wakil talkin, sesepuh, imam, maupun jamaah, kedudukannya adalah murid. Yang memiliki hak mewusulkan ruh adalah mursyid, bukan murid. Sehingga jika ada murid yang mengenakan pakaian mursyidnya, dia telah suul adab kepada Gurunya.

Sebagai ajakan dakwahnya, KH. Safrullah membacakan ayat Al-Quran yang artinya, …”jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.” Ayat yang dulu membuatnya bersedih, karena baginya ia sendiri belum tentu selamat, bagaimana ia justru diperintah untuk menyelamatkan anak-istrinya.

KH. Safrullah merasa beruntung bertemu dengan Mursyid yang kamil mukammil, karena ia menemukan jawaban atas ayat tersebut. Sehingga ia juga mengajak kepada para hadirin untuk mengajak anak, istri, suami, serta orang-orang yang tersayang untuk mengambil talkin zikir, tidak lain supaya kita semua dapat semajlis dengan Rasulullah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Semua murid hanya menumpang kepada kapal Guru yang berkaitan dan bersambung hingga kapal Rasulullah Saw. Terakhir beliau menyampaikan kembali maklumat Abah Anom, agar para murid senantiasa mengamalkan, mengamankan dan melestarikan amaliah TQN guna keselamatan dunia akhirat.

Setelah melantunkan salawat Bani Hasyim, Ust. Priyono memimpin pembacaan doa makan untuk kemudian para hadirin menyantap segala hidangan yang telah disiapkan oleh Ustdzh. Aisyah, Ustdzh. Ria, dan Ibu Bella lainnya. Acara berlangsung ramai, Khidmah, lancar, dan meriah. Semua bersuka cita melaksanakan Manakib Sang Sultan Awliya, karena ini adalah lebarannya para salik.

Continue Reading

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending