Connect with us

Kliwonan

Kliwonan, Inilah Pesan Habib Luthfi bin Yahya Menjelang Ramadan

Published

on

Maulana Al Habib Luthfi bin Yahya berpesan:

Semua amal yang kita perbuat sejatinya harus karena Allah Swt. baik dalam menjalankan perintahnya atau menjauhi larangannya.

Adapun yang dimaksud dengan al’amalu billah (الاعمال بالله), adalah amal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.  untuk mencegah segala muamalah negatif yang kembali kepada diri kita sendiri, seperti karena kurangnya lillah (لله) serta tidak merasa billah (بالله), maka akan timbul sifat riya’dan lain-lain. Tapi jika keduanya selalu mengiringi, maka kita akan malu kepada Allah Swt. Apabila hal ini sudah melekat dalam kehidupan kita, maka akan muncul sifat Haya’  (الحياء ) atau malu kepada Allah Swt.

Sebagai contoh, selama Bulan Ramadan ada keluarga yang kurang mampu, sehingga kepala keluarganya bekerja sedemikian rupa agar anak istrinya tetap makan. Karena penghasilannya terlalu minim, maka kerja berat ini dilakukan dengan mengorbankan dirinya yang tidak puasa, untuk keluarganya yang berpuasa. Tapi ia tidak bermaksud menentang apa yang diwajibkan Allah Swt. Intinya, ia melakukan ini dengan terpaksa.

Tapi ada contoh lain, seseorang yang tahu perintah Allah Swt., dengan sengaja merokok sambil berjalan di siang hari Bulan Ramadan. Padahal, ia bisa behenti di suatu tempat terlebih dahulu. Bukan karena hal lain, tetapi untuk menghormati orang yang berpuasa dan belajar malu kepada Allah Swt. Jika kepada Allah Swt saja tidak malu, mana mungkin akan malu kepada manusia. Maka kita perlu dididik bagaimana menjalankan amal dengan kita lillah (لله), billah (بالله), ilallah (الى الله) dan ‘alallah (على الله).

Latihan pertama, kita jangan kalah dengan nafsu. Seperti contoh, ketika puasa, ibu-ibu pada siang hari berjalan ke pasar, ia melihat banyak jenis makanan. Sebelum berbuka, pikirannya sudah bertumpuk menu makanan untuk berbuka. Tapi ketika sudah berbuka, itu semua akan kalah dengan hanya memakan nasi. Demikianlah nafsu. Maka, kita harus pandai menipu nafsu. Biarpun sedikit yang penting istiqamah, insha Allah.

Latihan kedua, Bulan Ramadan adalah waktu untuk panen amal. Maka, perbanyaklah membaca al-Quran, meramaikan mushala dengan tarawih serta mengikuti pengajian-pengajian di mushala-mushala para ulama, sesepuh, kiai dan ustadz yang mengajar di dalamnya.

Latihan ketiga, jagalah lingkungan masing-masing dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menyalakan petasan, sebab bisa mengganggu masyarakat lain. Karena, terkadang manusia egonya tinggi, asal dirinya senang, tapi tidak melihat lingkungan. Maka, anak-anak harus kita jaga. Kalaupun ingin bermain petasan, jika diizinkan, maka harus disediakan tempat lain yang luas agar tidak membahayakan orang lain.

Latiha keempat, hal lain seperti warung-warung makan, boleh ditertibkan sedikit tapi jangan terlalu mencolok. Bukan berarti menghalangi orang lain mencari rizki, tapi marilah sama-sama menjaga kehormatan Ramadan. Karena ini merupakan cara kita menghargai Allah Swt.

Terakhir, jangan mengambil sikap menentukan puasa masing-masing. Ikutilah peraturan yang ditetapkan pemerintah. Karena pemerintah bertanggung jawab penuh dalam pengambilan keputusan tersebut.

Kliwonan

Kliwonan, Syekh Muhammad Rajab Dieb: Yang Mulia Kalau Engkau Dicintai oleh Allah Swt

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online – Majelis Kliwonan pimpinan Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang biasa diselenggarakan secara rutin pada Jumat Kliwon kembali digelar di Kanzus Shalawat, Pekalongan pagi ini (18/02).

Bersamanya, turut hadir pula Syekh Muhammad Rajab Dieb dan puteranya dari Suriah. Dalam kesempatan tersebut Syekh Muhammad Rajab mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Al Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang telah mengumpulkannya bersama para jamaah dalam sebuah majelis zikir. Menurutnya, Majelis zikir ini adalah majelis yang dibanggakan Allah Swt. di hadapan para malaikat-Nya. Sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan bahwa malaikat berkumpul sampai memenuhi langit Allah Swt. Mereka berdoa untuk orang yang hadir dan berkata, “Ya Allah, berikan ampunan kepada mereka.” Dan ketika majelis itu selesai, malaikat itu naik kepada Allah. Dan kemudian Allah bertanya, “Dari mana kalian?” Sedangkan Allah mengetahui apa yang dilakukan malaikat-Nya. Malaikat menjawab, “Kami baru datang dari sebuah majelis dan hamba-Mu sedang meminta rahmat dan keridhaan kepada-Mu. Kemudian Allah berkata kepada malaikat-Nya, “Saksikanlah para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka semua.”

Syekh Muhammad Rajab juga menyampaikan bahwa sebaik-baik majelis di muka bumi ini adalah majelis zikir, majelis shalawat kepada Rasulullah Saw., majelis ilmu dan majelis makrifat. Sedangkan manusia yang paling utama adalah manusia yang menghadiri majelis ilmu dan majelis zikir seperti yang dilaksanakan di Kanzus Shalawat dan mereka mengambil manfaat dari majelis tersebut.

Keutamaan majelis ini disebutkan pula oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Qs. Fusshilat: 30)

Majelis zikir ini sejatinya menjadikan hamba lebih dekat kepada Tuhannya. Maka jika seorang hamba benar-benar beristiqomah secara syariat kepada Allah Swt. dengan mengerjakan perintah-Nya, baik yang fardhu maupun sunnah, maka Allah Swt. akan memberikan cinta-Nya kepada hamba tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits qudsi:

إنَّ اللهَ قال: من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ ، وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحبَّ إليَّ ممَّا افترضتُ عليه ، وما يزالُ عبدي يتقرَّبُ إليَّ بالنَّوافلِ حتَّى أُحبَّه ، فإذا أحببتُه : كنتُ سمعَه الَّذي يسمَعُ به ، وبصرَه الَّذي يُبصِرُ به ، ويدَه الَّتي يبطِشُ بها ، ورِجلَه الَّتي يمشي بها ، وإن سألني لأُعطينَّه ، ولئن استعاذني لأُعيذنَّه ، وما تردَّدتُ عن شيءٍ أنا فاعلُه ترَدُّدي عن نفسِ المؤمنِ ، يكرهُ الموتَ وأنا أكرهُ مُساءتَه

“Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa yang  memusuhi wali- Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah Hamba- Ku mendekat kepada- Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada hal- hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba- Ku tidak henti- hentinya mendekat kepada- Ku dengan Ibadah- Ibadah Sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada- Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada- Ku,  Aku pasti melindunginya. Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu- raguan- Ku tentang pencabutan nyawa orang Mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya. (H.R. Bukhari).”

Seseorang hamba yang mencintai Tuhannya, ia akan berpindah derajat dari cinta menjadi dicintai. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Syekh Muhammad Rajab dan oleh mutarjim diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia,

“Yang mulia itu bukan mencintai yang mulia itu bagaimana kalau engkau dicintai oleh Allah Swt.” Kata Syekh Muhammad Rajab.

Terakhir, ia menyampaikan kepada jamaah Kanzus Shalawat bahwa mencintai itu tidak hanya melaksanakan perintah fardhu, tetapi juga Sunnah. Sebagaimana shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, shalat sunnah tahajjud, puasa Sunnah, dan lain-lain dengan niat meneladani orang yang kita cintai yaitu Nabi Muhammad Saw.

“orang yang cinta dia akan mengikuti jalan orang yang dia cintai. Dan seorang pecinta itu akan melakukan sesuatu yang diridhai kekasih hatinya. Dan kita semua memiliki madrasah perguruan kita, yaitu perguruan cinta, perguruan zikir dan perguruan ilmu. Sesuai dengan thariqah Nabi Muhammad Saw. Dan semoga Allah Swt. menjadikan kita orang-orang yang mendengarkan dan mengamalkannya dengan baik.” Ungkapnya.

Continue Reading

Kliwonan

Kliwonan, Lima Pesan Habib Luthfi bin Yahya

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Di tengah situasi zaman yang bergerak dinamis, menimbulkan banyak galau. Munculnya fitnah dan persoalan yang membelit seseorang, lazimnya setiap orang Islam mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa ta’ala (Swt).

Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Rais Am Jam’iyyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah An-Nadliyah (JATMAN) memberikan pesan-pesan penting agar umat Islam terhindar dari fitnah zaman, Jumat (14/1).

Berikut lima pesan Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan:

1. Jangan Tinggalkan Teladan Ulama Salafus Shalihin

Dahsyatnya cobaan akhir zaman seharusnya menjadi pecutan bagi kita untuk kembali meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw, Ahlul bait, Sahabat, dan Ulama Salafunas shalih.

“Sekalipun Anda jatuh miskin, pegang teguhlah teladan salafus salihin bila ingin selamat dan mendapat rida-Nya,” tegas Pimpinan Majelis Kanzus Sholawat Pekalongan

2. Mengedepankan Iman dari pada Akal

Allah memang memerintah hamba-Nya untuk selalu menjadi orang yang kritis dan berpikir dalam merespon fenomena masyarakat yang terjadi di sekitar kita. Namun, sekritis apa pun akal kita dalam berpikir, tetaplah akal memiliki keterbatasan.

“Hanya iman yang dapat menguatkan akal atas permasalahan-permasalahan yang tidak dapat kita jangkau dan kita harus berhati-hati menanggapi orang-orang yang mengedepankan akal dari pada iman, karena hal tersebut membuat kita rugi dunia akhirat. Selain itu akal kita ini tidak dapat menerima semua kebesaran Allah SWT,” Tandasnya

3. Ziarah ke Ulama yang Sholih

Habib Luthfi menyampaikan nasehat ketiga agar selamat dari fitnah akhir zaman. Nasehat tersebut dengan memperbanyak kunjungan kepada Alim Ulama sholih, baik yang masih hidup atau yang meninggal.

Maulana Habib Lutfi bin Yahya menegaskan bahwa mengunjungi Alim Ulama itu banyak sekali manfaatnya, di antaranya adalah jauh dari musibah, penyakit, dan diberikan kelancaran rezeki, dan mengunjungi ulama jangan karena ada maksud tertentu saja. Ketika maksud tersebut sudah terpenuhi, kita tidak pernah berkunjung lagi kepada ulama.

4. Jangan Merasa Benar Sendiri

Yang Maha Tahu dan Maha Benar hanyalah Allah SWT. Namun, penyakit orang zaman akhir ini merasa benar sendiri baik secara individu mau pun organisasi. Tidak jarang, kita temukan saat ini kelompok yang merasa benar sendiri, sehingga kelompok menyalahkan lain.

Kita semua ini sama di mata Tuhan, hanya takwa yang membedakannya. Kita tidak boleh membeda-bedakan satu dengan yang lain atas nama agama, partai, suku, mazhab, dan lain sebagainya.

5. Jangan Tinggalkan Membaca Al-Qur’an & Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Maulana Habib Luthfi bin Yahya mengungkapkan bahwa Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya jamuan dari Sang Kholik kepada makhluknya, dan Nabi Muhammad sebaik-baiknya wasilah untuk kita dekat dengan-Nya.

Pewarta : Gus Abid Muaffan, Mun’im

Continue Reading

Kliwonan

Ngaji Kliwonan: Makna Tauhid dalam Surat Al Fatihah

Published

on

Maulana Habib Luthfi bin Yahya berkata:

Dalam kitab Jami’il Ushul fil Auliya’ pada bab Tauhid, dijelaskan bahwa keutamaan Surat Al Fatihah salah satunya ada pada kalimat Mukhathab Wahdaniyah yang maknanya tidak bisa di ganggu gugat. Kalimat tersebut memiliki penafsiran bahwa sesungguhnya Allah Swt. tidak ada sesuatupun yang menyekutukannya. Adapun yang dimaksud Mukhathab Wahdaniyah terdapat dalam kata “اِيَّاكَ” yang secara tegas menyatakan hanya mutlak milik Allah Swt.

Maka apabila seseorang menghendaki shalatnya khusyu’, ketika azan sudah berkumandang, ucapkanlah ‘Alhamdulillah’ karena usia kita sampai pada waktu shalat tersebut. Suatu kehormatan bagi seorang hamba untuk bisa menghadap Allah Swt. Hudhurnya adalah wudhu dengan bahagia. Selanjutnya ketika shalat sudah dimulai dengan membaca takbiratul ihram, usahakan untuk kembali hudhur, artinya mendatangi Allah Swt. Anggap bahwa shalat adalah kebanggaan seorang hamba kepada Allah Swt.

Kemudian khusyu’ yang kedua diambil dari ucapan,” اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ” yang memiliki arti “hanya kepadamulah” maksudnya bahwa Allah Swt. sama sekali tidak bisa diduakan. Kalimat tersebut memiliki makna, “aku menyembah, aku meminta yang secara langsung ditujukan kepada pencipta, yaitu Allah Swt.” Di dalam kalimat tersebut juga menggunakan lafdzul jama’ dalam kata نَعْبُدُ dan نَسْتَعِيْنُ yang artinya bukan untuk kita sendiri tetapi semua makhluk, yang seolah-olah memiliki arti dari sekian banyak hal, yang wajib disembah hanyalah Allah Swt. Maka itu, dalam permulaan Surat Al fatihah terdapat lafadz “اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ” yang merupakan keterangan dari kata “اِيَّاكَ”

Adapun selain pertolongan dari Allah Swt. yang diminta dalam kata “وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ”, sesungguhnya yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari hanya ikhtiar belaka. Tapi jika ikhtiar tidak bisa diposisikan dengan benar, maka justru akan mendatangkan kesyirikan, sebagai contoh:

“Jika saya sakit, saya harus minum obat agar saya sembuh”

Maka ikhtiarlah semata-mata untuk menambah taat kepada Allah Swt. Selain mendapat  pahala ikhtiar, maka akan pula mendapat pahala ketaatan.

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending