Connect with us

Hikmah

Kisah Perpisahan Dua Mistikus Islam Yang Menyedihkan (2)

Published

on

Kisah penangkapan dan eksekusi atas Abu Mansur al-Hallaj sangat menyentuh. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Asy-Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya.

Pada akhir tahun 902 Masehi, Al-Hallaj ditangkap ketika sedang mengadakan perjalanan di Thus. Tiga hari lamanya ia dipamerkan kepada khalayak ramai kemudian dipenjarakan.

Pada tahun 909 Masehi, Menteri Hamid berusaha sekuat tenaga untuk menyeretnya ke hukuman mati. Sehingga mereka harus menemukan bukti-bukti yang dapat membuat Al-Hallaj dijatuhi hukuman mati.

Dalam penggeledahan di rumah-rumah pengikutnya, polisi menemukan bagian-bagian surat yang ditulis dengan huruf-huruf yang tidak jelas yang mungkin merupakan kaligrafi nama Ali dan beberapa nama Allah. Namun beberapa tahun kemudian sang menteri berhasil memaksa hakim tertinggi Irak untuk menandatangani hukuman mati. Dan pada tanggal 26 Maret 922 ia pun dihukum mati.

Sebelum kematiannya, ia selalu menari-nari meski terbelenggu dalam perjalanan menuju tempat pelaksanaan eksekusi sambil membaca syair tentang kemabukan mistik.

Pada saat itu sahabatnya Asy-Syibli selalu menyertainya.  Kemudian Al-Hallaj meminta kepada sahabatnya itu untuk meminjaminya sajadah dan berdoalah ia. Kemudian Asy-Syibli bertanya, “Apa itu tasawuf?”

Al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Asy-Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. “Adakah yang lebih tinggi dari ini?” tanya Asy-Syibli.

“Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya!” jawab Al-Hallaj.

Lalu ketika Al-Hallaj diikat di tiang gantungan dan orang-orang mulai melemparinya dengan batu, Asy-Syibli justru melemparinya dengan sekuntum mawar dan karena mawar itulah Al-Hallaj mengeluh kesakitan.

Ketika ditanya mengapa seperti itu, dia menjawab bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi ia tentunya tahu dengan ungkapan mawar yang dilemparkan oleh sahabat terasa lebih menyakitkan daripada batu manapun.

Menjelang napas terakhirnya, kata-kata terakhir yang diucapkan Al-Hallaj adalah “Hasbul Wajid Ifradul Wahid Lahu”, Cukuplah bagi si pecinta untuk menjadikan Yang Esa Tunggal, yakni bahwa keberadaannya harus disingkirkan dari jalan cinta. Itulah tauhid sejati sepenuhnya batiniah dan dibayar dengan darah si pecinta. Anggota badan Al-Hallaj dipotong-potong dan ia diikat di tiang salib atau mungkin tiang gantungan kemudian dipenggal lehernya, tubuhnya dibakar dan abunya disebar di sungai Tigris.

Hikmah

Cicit Shahibul Maulid Simtudduror Al-Habib Muhammad: Zikiran Rajab Untuk Raih Kasih Sayang Allah Swt.

Published

on

“Termasuk Kemuliaan memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. di Bulan Rajab, kita mengenang kembali bagaimana salah satu suku di Yaman Masuk Islam yakni Hamadan. Mereka masuk Islam tanpa peperangan, tanpa perdebatan. Menerima utusan Rasulullah saw. yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw. yang selanjutnya untuk mengajar Al-Quran dan lainnya diutus kembali Sahabat Muadz bin Jabal.”

Hal tersebut disampaikan oleh Al-Habib Muhammad bin Ali bin Abdul Qodir Al-Habsyi, Cicit Shahibul Maulid Simtudduror pada Tausiahnya di Dusun Aidid, Kota Sewun, Yaman pada akun Fanpage الحبيب محمد بن علي الحبشي pada (21/01).

“Merupakan peristiwa yang terjadi di Bulan Rajab, pada saat itu Rasulullah saw. melakukan sujud syukur dan berkata ‘Salamun ‘ala Hamadan’ sebanyak dua kali karena diterimanya Islam oleh Suku Hamadan. Hal tersebut ditunjukkan dengan banyaknya perempuan-perempuan Yaman yang melahirkan laki-laki pecinta Rasulullah saw,” jelas Pendakwah Wasathiyah tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Ia juga juga menyampaikan bahwa pada Bulan Rajab banyak kemuliaan yang Allah berikan kepada mereka yang ingin bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah Swt).

“Senantiasa membaca zikir setelah shalat dengan bacaan sesuai sabda Nabi Muhammad saw. yakni,

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجب وَشَعْبَانَ وَبَلغنَا رَمَضَانَ

 Ya Allah berkahilah kami pada Bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami pada Bulan Ramadan. “Doa yang akan membawa pribadi kita menggapai Rahmat dan Ridla-Nya,” pungkasnya.

Patut diketahui bahwa Al-Habib Muhammad bin Ali bin Abdul Qodir Al-Habsyi merupakan pendakwah yang senantiasa mengajak umat kepada Mahabbah (kecintaan) terhadap Rasulullah saw. Waktunya banyak diisi untuk mengajar para pelajar di Ribathul Ilmis Syarif Kota Sewun, yang menjadi pusat pendidikan Salafiyah pertama di zamannya dan hingga kini banyak masih eksis berjalan dengan keberkahan Shahibul Maulid Simtudduror Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husin Al-Habsyi.

Pewarta: Abdul Mun’im Hasan
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Hikmah

Kisah Pendosa Yang Masuk Surga Berkat Sahabat Yang Mencintai Ulama

Published

on

Pada kegiatan Haul Syekh Nasidan bin Aidan yang ketiga, Habib Umar bin Salim al Haddad menjelaskan, dalam Kitab Majma’ul Bahrain karya Asy Syaikh Ma’ruf bin Muhammad Bajammal terdapat kisah seseorang yang lebih banyak dosanya daripada kebaikannya. Ketika ia meninggal, malaikat buru-buru ingin memasukkannya ke dalam neraka. Namun atas rahmat Allah Swt., Dia memerintahkan Jibril untuk menolong hamba-Nya tersebut.

Is’alhu, Ya Jibril, tanyakan kepadanya, apakah ia pernah duduk di dalam majelisnya orang-orang alim selama di dunia? Jika iya, maka masukkanlah ke dalam surga dengan syafaatnya orang-orang yang di majelis tersebut.”

Lalu Jibril bertanya kepada si Fulan dan ia menjawab tidak pernah.

Kemudian Jibril kembali menemui Allah dan menyampaikan jawaban tersebut.

Anta a’lamu bi hali abdik, Engkau lebih mengetahui keadaan hamba-Mu.”

Tapi Allah dengan rahmatnya memerintahkan untuk kembali menanyakan sebuah pertanyaan kepada si Fulan.

Is’alhu, Ya Jibril, tanyakan kepadanya, apakah ia mencintai ulama?

Maka Jibril pun bertanya kepadanya, lalu ia menjawab, “Tidak.”

Kemudian Allah berfirman lagi, “Is’alhu, Ya Jibril, apakah ia pernah duduk satu meja dengan orang alim? Jika iya maka masukkanlah ke surga dengan syafaat mereka.

”Jibril pun bertanya kepadanya, dan lagi-lagi ia menjawab, “Tidak.”

Tapi Allah tetap senantiasa memberikan rahmat kepada si Fulan dengan kembali memerintahkan Jibril,

Is’alhu, Ya Jibril, siapa namanya dan nama bapaknya. Jika namanya seperti nama orang alim, masukkanlah ke surga.

Maka ketika ditanya oleh Jibril, siapa namanya? Ternyata namanya jauh dari nama Islam.

Tapi Allah tetap perintahkan untuk memasukkannya ke dalam surga atas rahmat Allah.

Kemudian Allah berfirman kepada Jibril, “Peganglah tangannya dan masukkan ia ke dalam surga, karena ia mencintai seseorang yang mana orang itu mencintai seorang alim.”

Akhirnya, atas wasilah seseorang yang mencintai ulama tersebutlah si Fulan mendapatkan rahmat Allah untuk masuk surga.

Dalam kisah tersebut, kita dapat mempelajari bahwa rahmat Allah amat luas dari segala sisi, khususnya bagi orang-orang yang gemar menghadiri majelis ilmu dan mengingat kebaikan orang-orang shalih.

menegaskan bahwa manusia mulia itu ada dan atas barakah dan karamahnya, rahmat Allah Swt. bisa turun ke bumi.

“Kita sering dengar dalam atsar disebutkan bahwa zikrus shalihin tanzilur rahmat, menyebut nama orang-orang shalih dapat mengundang rahmat Allah Swt. kita sebut saja nama mereka kekasih Allah, pasti rahmat Allah, kucuran maghfirah bisa kita dapatkan. Kebalikannya, jika kita menyebut seseorang di mana orang tersebut jauh dari Allah Swt, maka niscaya rahmat Allah tidak akan turun kepada kita,” ungkapnya.

Continue Reading

Hikmah

Shalawat Munjiyat dan Faedahnya

Published

on

Shalawat Munjiyat secara bahasa memiliki arti Shalawat Penyelamat. Shalawat tersebut adalah salah satu shalawat yang sering dibaca setelah melaksanakan shalat wajib yang memiliki banyak faedah dan khasiat.

Salah satu ulama Thariqah Syadziliyah, Syekh As-Shalih Musa ad-Dlarir yang disebutkan dalam kitab al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ala al-Basyir wa an-Nadzir diceritakan bahwa ketika ia sedang mengendarai perahu di tengah laut, ternyata ada badai ‘Aqlabiyah’ yang datang menghempas perahunya dan sedikit sekali orang yang akan selamat dari badai tersebut. Semua orang berteriak karena mereka takut tenggelam.

Pada saat itu, Syekh Shalih malah terserang kantuk yang sangat sehingga membuatnya tertidur. Dalam tidurnya itu, ia bermimpi melihat Nabi Muhammad saw. yang memerintahkannya untuk membaca Shalawat Munjiyat.

Setelah mimpi itu sang Syekh terbangun dan menceritakan apa yang ia alami kepada penumpang lain. Mereka semua kemudian membaca shalawat tersebut dan ketika mencapai ke 300 kali, badai pun reda.

Dalam kitab Khazînatul Asrâr dijelaskan bahwa shalawat Munjiyat merupakan bagian dari Arasy. Barangsiapa yang berdoa dengan menggunakan shalawat tersebut pada tengah malam sebanyak 1000 kali, kemudian memohon apapun yang ia perlukan, baik perkara dunia maupun akhirat, Maka insya Allah atas kehendak-Nya, hajat tersebut akan terkabulkan dan cepatnya lebih cepat dari kilat yang menyambar.

Berikut adalah bacaan Shalawat Munjiyat lengkap dengan tulisan Arab, latin dan artinya:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَـــا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَـــاتِ

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât.

“Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending