Connect with us

Artikel

Jaringan Keulamaan dan Jalur Silsilah Tarekat al-Muhammadiyah Sulsel

Published

on

Tarekat sejak dahulu telah masyhur dikalangan ulama, kerajaan, dan masyarakat Sulawesi Selatan. Corak keagamaan tasawuf mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat. Mayoritas ulama terdahulu yang kembali ke tanah air setelah mengaji dan mukim di tanah saci Makkah telah mengantongi amaliyah ijazah tarekat dan diberikan ijazah menyebarkan tarekat. Bahkan jamaah haji, umumnya menginjakkan kaki di satu tempat bersejarah yaitu Jabal Abi Qubais.

Di tengah perkembangan zaman, tarekat masih mampu menunjukkan eksistensinya, karena sanad tarekat terpelihara melalui sistem pengajian, kekeluargaan maupun pondok pesantren. Sebagai tanggung jawab keilmuan dan bentuk khidmat kepada pewaris sanad, diskusi dan penelusuran sejarah menjadi sesuatu hal yang sangat penting bagi generasi yang ditinggalkan.

Pada Ahad, 12 Juni 2022, sekitar 70 ikhwan tarekat hadir di pusat zawiyah menelusuri jaringan dan warisan sanad keulamaan Tarekat al-Muhammadiyah. Khadim Tarekat al-Muhammadiyah, Syekh Dr. KH. Baharuddin AS., MA. bersama Rais Mustasyar Prof. Dr. H. Abdul Kadir Ahmad, MS. APU. menginisiasi diskusi terbatas kalangan ikhwan Tarekat al-Muhammadiyah dengan menghadirkan Drs. KH. Muhammad Ali (Khalifah Tarekat al-Muhammadiyah), Drs. KH. Mukammiluddin (murid KH. Muhammad Nur) dan Ustaz Fadly ibrahimahim (ahli waris Syekh Abdul Majid), Ustaz Yahya Syamsuddin, S.Th.I., M.Th.I (tokoh Tarekat al-Muhammadiyah Kampung Paropo).

Di momentum bersejarah ini, Prof. Dr. H. Abdul Kadir Ahmad, MS. APU. yang juga mudir JATMAN Sulsel menyampaikan bahwa praktik tarekat sudah ada sejak masuk dan berkembangannya Islam di kalangan keluarga kerajaan, ulama dan masyarakat. Misalnya, pahlawan nasional Sultan Hasanuddin 1653-1669 menganut Tarekat Qadiriyah dan Khalawatiyah.

Di daerah-daerah lain juga terdapat ulama-ulama kharismatik yang mendakwahkan Islam dan memberikan ijazah tarekat, seperti Makassar, Maros (Tekolabbua, Tambua dan Moncongloe), Pulau Salemo Pangkep, Gowa, Sinjai, Bone Soppeng Wajo, dan daerah lainnya.

Melacak sanad keilmuan dan tarekat para masyayikh terdahulu, harus mencermati penanggalan setiap peristiwa dari para tokoh. Jika ingin mengetahui ulama-ulama yang mengambil Tarekat al-Muhammadiyah di Jabal Abi Qubais dari tangan mulia Sayyid Ahmad A-Syarif Al-Sanusi, dapat ditelusuri tahun keberangkatan ulama Sulawesi ke Makkah dan kedatangan Sayyid Ahmad Al-Syarif ke tanah suci. Tentu dengan melihat penanggalan tersebut, data-data yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berdasarkan bukti otentik dari hasil penelitian, peran tarekat sangat besar dalam mengislamkan dan mendakwahkan daerah-daerah di Sulsel.

Mengenai ketersambungan sanad terdahulu, Kiai Mukammiluddin mengemukakan bahwa ini disebabkan adanya hubungan kekerabatan dan kedekatan ruhani sebelumnya. Zawiyah atau majelis zikir umumnya ditempatkan di rumah syekh tarekat. Dan paling urgen dalam bertarekat adalah memamahmi sisi lahir dan batin. Bagi ahli suluk, dalam perjalanannya akan menemukan banyak fadhilah dan hikmah-hikmah selama istiqamah melakoni wirid dan zikir tarekat.

Lebih detail lagi Ustaz Fadli menyampaikan ketersambungan sanad ulama Sulsel dan Haramain abad ke-18 setelah masa Syekh Yusuf al-Makassari terjadi rentang sejarah yang mengisi keulamaan hingga abad ke-19. Kalangan ilmuan lebih banyak mengawali perluasan keilmuan Islam berada pada masa Syekh KH. Muhammad As’ad dan  Syekh KH. Abdul Rasyid Pulau Salemo. Peran ulama abad 18 seakan-akan masih misteri yang harus dipecahkan.

Melalui isyarat ruhani dan ikhtiar, ia mampu mengungkap kembali titik temu ulama Sulawesi dan Nusantara hingga ke Haramain, Al-Azhar Mesir dan Universitas Qawariyyun Maroko. Salah satu ulama yang hidup pada abad 18 adalah Syekh Abdul Majid Al-Bugisy. Berangkat ke Makkah sejak umur 10 tahun (1830 M) dan Kembali ke Bone sekitar tahun 1860. Selama bemukim lebih kurang 30 tahun di Mekkah, Syekh Abdul Majid larut dalam tradisi keilmuan Islam Haramain. Ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka di Mekkah dan Madinah di antaranya Sayyid Muhammad bin Ali al-Sanusy, Syekh Yusuf Sumbulaweni, Syekh Ustman ad-Dimyathi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, dan lain-lain. Syekh Abdul Majid segenerasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani, bahkan ia berguru pada guru yang sama yakni Syekh Yusuf Sumbulaweni. Selain belajar hadis, fiqih, ilmu falak, dan pengobatan, ia memiliki kecenderungan pada tarekat. Syekh Abdul Majid memiliki literasi keagamaan yang kuat hingga 20-an literasi yang telah dihasilkan, yang paling eksklusif adalah tulisan tangan mushaf kuno yang tersimpan di LPMQ Museum Bayt Al-Quran TMII di Jakarta. Rumpun keluarga Syekh Abdul Majid termasuk ulama penulis mushaf.

Kedalaman ilmu Syekh Abdul Majid menginspirasi beberapa ulama Bugis untuk berangkat menuntut ilmu di Mekkah pada akhir abad 19. Kemudian Pada fase berikutnya, anak dan cucunya menjadi pelanjut transmisi keilmuan islam dan bagian dari parewa syara’ di Dulung Ajangale Bone. Di antaranya adalah AGH. Abdul Hayyi al-Bugisi Imam Pompanua (w.1915), AGH. Muhammad Khalifah al-Bugisi Kadhi Tellumpocco (w. 1922), AGH. Ahmad Surur al-Bugisi Imam Pompanua (w. 1932), dan AGH. Muhyiddin Imam Pompanua (w. 1943).

Pada beberapa kolofon naskah tulisannya, Syekh Abdul Majid memproklamirkan dirinya bermazhab Syafi’i berakidah Asy’ariyah dan bertarekat Muhammadiyah. Untuk melanjutkan dakwah al-Muhammadiyah, wirid Muhammadiyah diijazahkan kepada anak, murid dan keluarganya. Pengijazahan kemudian menjadi tradisi setiap imam, sehingga sampai pada tahun 1950-an parewa syara’ di Pompanua adalah pengikut Tarekat Sanusiyah Muhammadiyah.

Pada sebuah naskah ijazah, Syekh Abdul Majid mengambil Tarekat Muhammadiyah Sanusiyahh Idrisiyah kepada Sayyid Muhammad bin al-Sanusi. Dan ada kemungkinan juga mengambil ijazah ‘am kepada Sayyid Ahmad bin Idris (pengasas Tarekat Ahmadiyah)

Sementara itu, Ustaz Yahya Syamsuddin, S.Th.I., M.Th.I. mengatakan, Paropo sejak dahulu dikenali dengan kampung seni budaya yang masyarakatnya taat beragama. Literasi lisan mengungkapkan bahwa ada istilah tiga awal dikalangan keluarga Kerajaan Gowa, yaitu Awwal al-Islam (Kerajaan Tallo), Awwal al-Din (Kerajaan Gowa), Awwal al-Ma’rifah (Masjid Nurul Ma’arif Paropo menga mengenang istilah yang melekat kepada orang tua terdahulu di Paropo). Ulama-ulama bergantian memberikan pengajian, ceramah dan mengijazahkan tarekat. Umumnya masyarakat Paropo mengamalkan Tarekat Al-Muhammadiyah, jalur sanad Tekolabbua Maros melalui khaifah-khalifah Syekh KH. Syamsuddin, yaitu KH. Asnawi, KH. Puang Passallam dan KH. Mudo Kaemba. Selain itu, Gurunta H. Jafri Baco (khalifah Tarekat Muhammadiyah Paropo) juga belajar kepada dua ulama Tarekat al-Muhammadiyah KH. Kadir Khalid, MA. dan KH. Bilalu. Termasuk di antaranya yang sering membawakan pengajian adalah Allamah KH. Muhammad Nur.

Drs. KH. Muhammad Ali menuturkan bahwa ia mengikuti pengajian KH. Muhammad Nur selama 40 tahun dan KH. Kadir Khalid, MA. selama 20 tahun. Secara khusus, menyampaikan peristiwa-peristiwa spiritual KH. Muhammad Nur di Makkah, kemampuan belajarnya dan penguasaannya terhadap literatur-literatur Islam.

Tarekat sejak dahulu memiliki jaringan yang sangat luas di Sulsel dari sumber yang beragam dengan amalan khas yang sama. Sebagai langkah awal ikhwan Tarekat al-Muhammadiyah, peneliti dan umat untuk menerobos lubang sejarah keulamaan abad 18. Diskusi ilmiah tarekat ini berdasarkan data dan manuskrip peninggalan ulama-ulama, tentu ini menepis stigma bahwa tarekat itu dogma dan tidak ilmiah.

*Catatan: Tarekat al-Muhammadiyah adalah nama lain dari Tarekat Idrisiyah yang berkembang di Sulawesi Selatan. Mursyidnya saat ini adalah Dr. KH. Baharuddin yang merupakan Ketua MUI Makassar.

Penulis: Hardianto
Editor: Khoirum Millatin

Artikel

Habib Luthfi Ingatkan Ketum KNPI, Inilah Pesannya

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online – Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama sowan ke kediaman Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya di Jalan Dr. Wahidin, Noyonyaan Gg.7 Pekalongan Timur, Jawa Tengah, Senin (27/6).

Di depan Habib Luthfi, Haris bercerita soal dinamika kepemudaan dan rencana pelantikan pengurus DPP KNPI yang akan dilaksanakan pada Juli 2022 di Kota Yogyakarta.

“Abah Luthfi sangat ramah dan banyak wejangan yang diberikan kepada saya agar bisa memimpin KNPI lebih baik lagi,” ujarnya.

Haris mejelaskan pertemuan tersebut merupakan silaturahmi kebangsaan dan permohonan doa restu dalam masa kepemimpinan periode kedua dirinya menahkodai KNPI.

“Alhamdulillah pertemuan ini jadi momen berharga, selain dapat bersilaturahmi dengan Habib Luthfi sebagai salah satu ulama mahsyur pemersatu umat, saya dapat sowan secara empat mata dan menyampaikan mohon doa restu dalam kepemimpinan periode kedua ini,” kata Haris dalam keterangannya, Selasa (28/6).

Sementara itu, Habib Luthfi berpesan agar pemuda dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan serta berkontribusi pada pembangunan nasional.

“Generasi muda harus terus memompa semangat persatuan dan kesatuan di tengah arus globalisasi dan penuh keprihatinan. Buktikan KNPI dapat jadi motor penggerak untuk berbakti kepada negeri,” tutur Habib Luthfi.

Habib Luthfi pun mengingatkan kepada Haris agar KNPI tidak terjebak pada politik praktis hanya pada kepentingan partai politik tertentu saja.

“KNPI jangan sampai terjebak pada kepentingan politik praktis kekuasaan dan partai politik tertentu saja, arah politik KNPI harus untuk kepentingan rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (2)

Published

on

Kegiatan JATMAN di Jawa Timur terbagi menjadi dua katagori, pertama yang berkaitan dengan ritual dan yang kedua berkaitan dengan organisatoris yang mengacu pada NU yang orientasinya bisa bermanfaat bagi JATMAN, NU dan negara bahkan bagi pengamal thariqah.

Kegiatan yang berkaitan dengan ritual, telah dibentuk sebuah forum untuk pertemuan para mursyid,  yang mana selama dua tahun ke belakang telah berjalan dengan nama Forum Halaqah JATMAN, yang membahas permasalahan thariqah dan kewargaan serta keorganisasiannya.

Sedangkan yang berkaitan dengan organisatoris, ada sekitar 18-23 program prioritas yang dilakukan sebagai upaya konsolidasi organisasi. Ada sekitar 40 Idaroh Syu’biyyah di Jawa Timur yang diprioritaskan untuk diremajakan, dengan terlebih dahulu melakukan musyawarah pergantian pengurus dan pengusulan program.

Di JATMAN Jawa Timur, untuk menentukan rois dan jajaran pengurus baru yang mendapat amanah untuk menjalankan roda organisasi dan mengusung program kegiatan, dilakukan di dalam Musyawarah Daerah (Musda). Pada Tahun 2018, Musda dilaksanakan mulai Bulan April-Juli. Bahkan, sebelum Idaroh Wustho dibentuk pada tanggal 22 April, Idaroh Syu’biyyah Kabupaten Magetan sudah terlebih dahulu melakukan Musda pada tanggal 5 Juli.

Selama satu periode kepengurusan, hampir seluruh Idaroh Syu’biyah sudah melaksanakan Musda termasuk lepas pantai, Bawean. Kemudian Syu’biyyah juga sudah membentuk Ghusniyah di tiga kecamatan, bahkan beberapa sampai di tingkat desa.

Rois JATMAN Jawa Timur, Kiai Ngadiyin Anwar mengungkapkan jika tanpa ada kendaraan lain, dan dalam kondisi sehat dan normal, JATMAN tidak akan bisa jalan dengan baik. Kendaraan ini adalah kesiapan pengurus dalam menejemen organisasi di berbagai tingkatan. Di samping itu, aturan main  dan mekanisme kerjanya juga harus diperbaiki. Sebagaimana menurutnya, Haq bilaa nidzam, yaghlibul bathin bin nidzam, tanpa ada sistematika yang baik dalam mengelola organisasi, nanti yang tidak sah, bisa mengalahkan yang sah. Itulah peran Syu’biyyah dan ghusniyyah.

Pada tahun ini, Kegiatan besar JATMAN Jawa Timur akan digelar, yakni Multaqa Mursyid yang akan dilaksanakan sekitar Bulan Agustus mendatang. Pada forum ini, dilakukan bahsul matsail yang membahas permasalahan ketarekatan. Namun yang sering menjadi kendala adalah Multaqa ini mauquf karena ada masalah internal thariqah tertentu yang dibawa ke antar thariqah yang lain. Di samping tidak menguasai thariqah tersebut juga ada perasaan tidak enak jika membahas lebih detail, sedang itu menjadi faktor internal yang mengandung berbagai hal yang tidak perlu diketahui oleh yang lain. Maka permasalahan itu akhirnya dikembalikan. Tapi sayangnya, ketika dikembalikan, belum ada yang bisa mengkoordinir potensi ulama thariqah dari thariqah tertentu.

Maka dua tahun yang lalu, di Jawa timur, atas inisiasi sendiri yang bukan bagian dari program JATMAN Aliyyah, JATMAN Jawa timur membentuk Forum Multaqa untuk masing-masing thariqah yang bukan bagian dari Forum Multaqa Mursyid, Khalifah, Badal JATMAN Jatim. Seperti Thariqah Naqsabandiyah yang sudah tidga kali megadakan multaqa dan terakhir di trenggalek, Thariqah Qadiriyah juga sudah tiga kali dan terakhir di Magetan, Thariqah Sadziliyiah satu kali di Mojokerto, Thariqah Syathariyah sudah dua kali, dan hanya Thariqah Tijaniyah yang belum melaksanakan multaqa.

Selama kepengurusan JATMAN Jawa Timur pada periodesasi ini, Kiai Ngadiyin Anwar menyadari jika mungkin program pembaharuan ini belum sepenuhnya tuntas dan masih harus diteruskan pada periode yang akan datang. Rencananya, kepengurusannya ini akan diakhiri pada Februari 2023.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (1)

Published

on

Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Pulau Jawa yang menjadi basis gerakan tarekat. Dalam tulisan Syekh Abul Fadhol, Ahla al Musamarah fi Hikayat al Auliya’ al ‘Asyrah, Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel selama mengajar di Pesantren Ngampel Denta Surabaya, membekali para muridnya Tarekat Naqsabandiyah yang kemudian diteruskan oleh Raden Paku atau Sunan Giri.

Mengingat basis Islam di Jawa pada waktu itu ada di Surabaya, maka tidak heran jika perkumpulan tarekat ini sudah mendarah daging bersamaan dengan berkembangnya Islam di Jawa Timur.

Dengan berjalannya waktu, Tarekat Naqsabandiyah ini kemudian menyebar di berbagai wilayah dan terintegrasi dengan berbagai tarekat besar seperti Khalidiyah, menjadi Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah yang mana di Jawa Timur ada beberapa wilayah yang dianggap sentral seperti Malang, Kediri, Nganjuk, Ngawi dan Madiun

Di Malang, mursyid sepuhnya adalah Kiai Abdul Hayyi yang sudah mengalami tiga kali regenarasi. Saat ini, ijazah kemursyidan dipegang oleh Kiai Yahya Mu’idi yang zawiyahnya berada di Pondok pesantren Baitul Mukhlasin, Dusun Cokro, Desa Sukoanyar, Kec. Pakis, Kab. Malang.

Adapun di Kediri, Tarekat Naqsabandiyah berkembang di Kecamatan Baran yang saat ini dipimpin oleh Syekh Muhammad Miftahur Riza al-Barrani. Selanjutnya di Kecamatan Kertosono, Nganjuk dipimpin oleh Kiai Munawwir kemudian berlanjut kepada Kiai Hambali dan kepada Kiai Muslih, pengasuh Ponpes al-Musthofa.

Selain itu, ijazah mursyid Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah di Jawa Timur juga dipegang oleh Kiai Adnan Ngawi, Kiai Abdul Rouf di Madiun Selatan serta Kiai Ngadiyin Anwar, pengasuh Ponpes Thariqah Sulaimaniyah Madiun melalui jalur Kiai Sulaiman pada tahun 1904-1936, dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Adnan sampai tahun 1940, oleh Kiai Imam Muhyidin sampai tahun 1983, dan saat ini oleh Kiai Ngadiyin Anwar.

Di samping terintergrasi dengan Tarekat Khalidiyah, Tarekat Naqsabandiyah juga terintegrasi dengan Tarekat Qadiriyah yang dikenal dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN).

Di Jawa Timur, perkembangan tarekat ini rata-rata melalui sanad dari jalur Jawa Tengah seperti Mranggen-Demak oleh Kiai Abdurrahman, Kiai Muslih dan Kiai Muthohar, kemudian Kiai Sholeh Sukoharjo dan Kiai Nawawi Purworejo. Namun ada pula yang langsung dari jalur Banten oleh Syekh  Abdul Karim melalui Kiai Kholil Bangkalan di Madura, Kiai Romli Tamim Jombang dan lain-lain.

Perkembangan tarekat di Jawa Timur, mengalami pertumbuhan yang pesat. Setidaknya ada sekitar 13-16 tarekat yang ada di provinsi ini, dengan populasi tarekat yang terbesar ada sebanyak lima tarekat, termasuk dua di antaranya sudah lebih dulu dijelaskan di atas, sedangkan tiga lainnya adalah Tarekat Sadziliyah, Tarekat Syattariyah dan Tarekat Tijaniyah.

Adapun Tarekat Sadziliyah, pusatnya ada di Tulungagung yaitu di Pondok PETA, di mana mursyid sepuhnya adalah Kiai Mustaqim, kemudian dilanjutkan oleh puteranya Kiai Abdul Djalil Mustaqim dan saat ini dipegang oleh Syekh Charir M Sholahuddin al Ayyubi melalui dua jalur, yaitu Kiai Makruf Mekkah dan Syekh Yasin al-Fadani Madinah. Selanjutnya ada Tarekat Tijaniyah dari Maroko dan Tarekat Syattariyah yang berkembang di Surabaya dan Madura.

Tarekat-tarekat di atas juga tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Jember, Pasuruan, Mojokerto, Blitar dan banyak lagi yang selanjutnya terhimpun dan terverifikasi sanadnya dalam Organisasi JATMAN, khususnya Idaroh Wustho Provinsi Jawa Timur.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending