Connect with us

Artikel

Adab Anak dalam QS. al-Isra’:23

Oleh: Risky Aviv Nugroho, M.Pd.
(Guru PAI SDN Rejowinangun 1 Kota Yogyakarta)

Published

on

Adab

Adab adalah suatu hal penting yang menandakan bahwa manusia itu berpendidikan dan berbudaya. Manusia berbeda dengan binatang, karena adanya akal dan hati selain daripada nafsu. Adab adalah sebuah tindakan atau perilaku seseorang yang sesuai dengan tatanan norma dan nilai yang berlaku.

Dalam Islam, adab adalah perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Adab atau akhlak biasa diajarkan dalam ilmu tasawuf. Akal memiliki peran penting sebagai sarana untuk berpikir dan mempertimbankan baik dan buruk, benar dan salah, indah dan jelek dan lain sebagainya. Namun, yang memberikan keputusan apakah manusia itu akan memilih baik atau buruk, benar atau salah adalah hati. Untuk mengolah dan mendidik hati supaya bisa menjadi hati yang selamat adalah melalui pembelajaran tasawuf dengan adanya guru yang ahli tasawuf.

Apabila seorang mengetahui hal baik dan hal buruk, namun ia tetap melakukan keburukan tersebut, maka hal itu disebabkan oleh potensi hati yang tidak digunakan secara optimal sehingga manusia lebih mengedepankan nafsunya daripada akal dan hatinya. Adab atau perilaku yang baik dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengajaran yang fokus pada pengolahan hati supaya bisa menjadi hati yang selamat atau biasa disebut dengan qolbun salim.

Pendidikan adalah sebuah kebutuhan pokok yang diperlukan oleh manusia sejak dini. Pendidikan dan pembelajaran tasawuf sebagai sarana pengolahan hati sangat banyak caranya. Diantaranya adalah pendidikan adab anak kepada orangtua. Terlebih lagi pendidikan adab bagi anak-anak sangat penting diajarkan supaya memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. khususnya sikap dan perilaku anak terhadap orangtuanya. Islam mengajarkan kepada seorang anak untuk bersikap dan berperilaku baik dengan kedua orangtua, mengasihi dan menyayangi mereka serta menghormati dan memuliakannya.

Hal tersebut dapat dilihat dalam al-Quran QS. Al-Isra’ ayat 23 sebagai berikut :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)

Sesuai dengan ayat diatas, Islam mengajarkan kepada kita senantiasa menyembah kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya. Islam juga mengajarkan kepada seorang anak untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orangtua, yaitu bapak dan ibu dengan sepenuh hati dan sebaik mungkin. Bahkan sampai orangtuanya berumur lanjut, seorang anak harus tetap berbuat baik terhadap orangtuanya. Merawat mereka dengan penuh kasih sayang, menghormati dan memuliakannya.

Seorang anak juga tidak boleh menyakiti kedua orangtuanya, baik itu dengan sikap, perkataan, maupun perbuatan yang tidak baik kepada orangtua. Di ibaratkan dalam QS. al-Isra’ ayat 23 tersebut seorang anak dilarang berkata atau mengucapkan kata ‘ah’ kepada orangtuanya dan juga dilarang untuk membentak orangtua. Artinya, kita tidak boleh berkata kasar apalagi membentak atau bertindak dan berperilaku yang dapat menyakiti hati dan fisik orangtua kita.

Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam tafsir al-Wajiz menjelaskan makna ayat 23 dari QS. al-Isra’ bahwa sebagai seorang anak, apabila kedua orangtua kita atau salah satu dari mereka baik ibu atau ayah telah mencapai usia lanjut, dan kita hidup dan tinggal bersama keduanya, maka kita wajib berbakti kepada keduanya. Sebagaimana dahulu mereka merawat dan membantu kita saat masih kecil. Mencuci air seni keduanya, membersihkan najis yang ada pada mereka, memberikan apa yang mereka butuhkan, serta tidak merasa berat dan enggan membantu keduanya.

Sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada kita saat masih kecil. Mereka membantu membersihkan saat kita buang air kecil atau besar tanpa ada rasa berat atau enggan. Kita tidak boleh juga membentak orangtua atau berkata keras dan lantang kepada mereka. Hendaknya kita selalu mengucap dan berkata dengan mereka dengan perkataan yang baik yaitu perkataan yang indah, santun, dan lembut, dengan penuh kesantunan dan penghormatan kepada keduanya.

Dalam QS. al-Isra’ ayat 23 dapat diambil beberapa pelajaran untuk kita semua yaitu:

Pertama, perintah tentang kewajiban beribadah hanya kepada Allah SWT sekaligus perintah larangan untuk menyekutukan Allah SWT.

Kedua, kewajiban berbakti kepada kedua orangtua, yaitu berbuat baik kepada keduanya, melindungi mereka dari keburukan, serta mentaati keduanya dalam perkara yang baik dan benar.

Ketiga, larangan untuk berkata ‘ah’ atau perkataan yang kasar, membentak dan kata-kata yang dapat menyakiti hati keduanya, serta tidak menyakiti mereka dalam hal perkataan, perbuatan ataupun sikap. Keempat, wajib mendoakan ampunan dan rahmat untuk kedua orangtua. Semoga kita semuanya bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari penjelasan diatas serta senantiasa dapat membahagiakan kedua orangtua kita dan tidak menyakiti keduanya.

Baca juga: Urgensi Akhlak dalam Islam

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending