Connect with us

Thariqah

Thariqah Junaidiyah: Sejarah, Sanad, dan Ajaran

Published

on

Biografi Imam Junaid

Thariqah junaidiyah di nisbatkan kepada Imam Junaid Al-Baghdâdi. Nama lengkap beliau adalah Abû al-Qâsim al-Junaid ibn Muhammad al-Junaid al-Kharaz al-Qawariri al-Baghdâdi, yang memiliki julukan (laqab) sebagai Abû al-Qâsim. Gelar “al-Qawariri” disandarkan pada profesi ayahnya, yaitu seorang penjual kaca. Selain itu, beliau memiliki julukan al-Kharaz, yang artiya pedagang sutera, karena ia seorang pedagang sutera di kota Baghdad. Keluarga al-Junaid berasal dari Nahawand, namun beliau dilahirkan dan tumbuh di Irak, (Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman: 5).

Imam Al-Junaid merupakan salah seorang shûfi terkemuka dan ia pun seorang ahli fiqih. Beliau bermadzhab kepada Imâm Abû Tsaur. Imam Al-Junaid telah memberikan fatwa-fatwa hukum dalam madzhab tersebut pada umurnya yang baru 20 tahun. Beliau lama bergaul dan belajar kepada pamannya, yaitu Imam Sarri as-Saqthi, lalu kepada al-Harits al-Muhasibi, Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdâdi yang termasuk teman pamannya dan shufi terkemuka lainnya. Di kalangan shufi, imam al-Junaid dikenal sebagai pemuka dan pimpinan mereka dengan gelar Sayyid al-Thâ-ifah al-Shûfiyyah (Tadzkirat al-Auliyâ, halaman: 370).

Analisisnya terhadap berbagai masalah yang diajukan kepadanya sangatlah tajam, sehingga sering membuat para pendengarnya terkagum-kagum. Padahal sifat dan kemampuannya ini sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Kedudukannya diantara para shufi sangatlah terhormat, bahkan Sari al-Saqathi sendiri sempat mengakuinya. Dalam riwayat dinyatakan, ketika seseorang bertanya kepada Sari al-Saqati, “Apakah seorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari gurunya dalam tashawwuf?” Sari al-Saqati menjawab: “Tentu saja bisa, lantaran ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tingkat tashawwuf al-Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah kucapai.” (Tadzkirat al-Auliyâ”, halaman: 370).

Imam Al-Junaid salah seorang shufi yang memiliki jasa besar dalam menjaga kemurnian tashawwuf. Faham-faham dan akidah-akidah menyesatkan yang hendak masuk dalam ajaran tashawwuf habis dibersihkan oleh beliau. Oleh karena itu, banyak ungkapan-ungkapan beliau yang di kemudian hari menjadi landasan utama dalam usaha menjaga kebenaran tashawwuf dan kemurnian ajaran Islâm.

Abû Alî al-Raudzabari berkata: “Saya mendengar al-Junaid berkata kepada orang yang mengatakan bahwa ahli ma’rifat dapat sampai kepada suatu keadaan yang tidak bisa lagi baginya untuk berbuat apapun, Artinya menurutnya orang tersebut boleh meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang telah diwajibkan”, Imam Al-Junaid berkata kepadanya: “Ini adalah perkataan kaum yang berpendapat segala amal perbuatan akan gugur”. Ini bagiku adalah suatu pendapat yang sangat berbahaya. Seorang pelaku zina dan seorang yang mencuri jauh lebih baik dari pada orang yang memiliki pendapat seperti itu. Sesungguhnya orang-orang yang Ârif Billâh adalah mereka yang mengerjakan seluruh amal perbuatan sesuai perintah Allâh swt., karena hanya kepada-Nya amal perbuatan itu kembali. Andaikan aku hidup dengan umur 1000 tahun, dan aku tidak meninggalkan kebaikan sedikit pun selama umur tersebut, maka kebaikan itu tidak akan dianggap oleh Allâh swt. kecuali bila sesuai dengan apa yang telah diperintahkan-Nya. Inilah keyakinan yang terus memperkuat ma’rifat-ku dan memperkokoh keadaanku”.

Muhammad Ibn Abdullâh al-Razi berkata: Saya mendengar Abû Muhammad al-Jariri berkata: Saya mendengar al-Junaid berkata: “Kita tidak menjalankan tashawwuf dengan banyak bicara saja (al-Qîl Wa al-Qâl). Tapi kita melakukannya dengan lapar (puasa), meninggalkan kelezatan dunia dan melepaskan segala hal-hal yang menyenangkan dan yang indah. Karena tashawwuf adalah kemurnian hubungan dengan Allâh swt. yang dasarnya menghindari kesenangan dunia (Tadzkirat al-Auliyâ’, halaman: 372). Sebagaimana pernyataan Haritsah di hadapan Rasûlullâh saw.: “Aku hindarkan diriku dari dunia, aku hidupkan malamku dan aku laparkan siang hariku…”.  Al-Junaid juga berkata: “Seluruh jalan menuju Allâh swt. tertutup bagi semua makhluk, kecuali bagi mereka yang benar-benar mengikuti Rasûlullâh saw. dalam setiap keadaannya”.

Dalam kesempatan lain beliau berkata: “Jika seseorang dengan segala kejujurannya beribadah kepada Allâh Swt. selama satu juta tahun, namun kemudian ia berpaling dari-Nya walau hanya sesaat, maka apa yang tertinggal darinya jauh lebih banyak dibanding dengan apa yang telah ia dapatkan”. Beliau juga berkata: “Siapa yang tidak hafal al-Qur’an dan tidak menulis hadits-hadits Rasûlullâh Swt. maka orang tersebut jangan diikuti, karena ilmu kita ini (tashawwuf) diikat dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Sikap wara’, zuhud, taqwâ, tawâdhu’, dan kuat dalam ibadah sudah tentu merupakan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa al-Junaid. Suatu ketika beliau ditanya tentang kemegahan dunia, beliau menjawab: “Keberhasilan atas segala kebutuhan dunia adalah dengan meninggalkannya”.

Diriwayatkan dari Ja’far ibn Muhammad bahwa al-Junaid berkata kepadanya: “Jika Engkau sanggup untuk tidak memiliki peralatan apapun di rumahmu kecuali sehelai tikar maka lakukanlah tashawwuf…!”. Ja’far ibn Muhammad berkata: “Dan memang yang ada di rumah al-Junaid hanyalah sehelai tikar”. Diriwayatkan dari al-Khuldy bahwa al-Junaid al-Baghdadi selama dua puluh tahun tidak pernah makan kecuali satu kali dalam seminggu. Dalam setiap malam beliau melaksanakan shalat sebanyak 300 rakaat (Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman: 8). Sementara di siang hari, Imam al-Junaid menghabiskan waktunya untuk shalat sebanyak 300 rakaat dan 30.000 kali bacaan tasbîh.

Karamah Imam Al-Junaid

Banyak sekali karâmah yang dianugerahkan oleh Allâh swt. kepada al-Junaid sebagai bukti kebenaran keyakinan dan jalan yang ditempuhnya. Di antaranya; suatu ketika datang kepadanya seorang Yahudi kafir seraya bertanya: “Wahai Abu al-Qasim, apakah pengertian dari hadits Nabi Saw:

Takutilah pada firasat seorang mu’min, karena ia melihat dengan cahaya dari Allâh swt”. (Artinya penglihatan seorang mu‟min yang saleh itu memiliki kekuatan).

Mendengar pertanyaan spontan dari orang Yahudi itu, Imam al-Junaid sejenak menundukkan kepala. Tiba-tiba al-Junaid berkata: “Wahai orang Yahudi, perkataanmu benar, dan firasatku menyuruh untuk melepaskan simbol kekafiranmu, masuk Islâmlah Engkau karena telah datang waktu bagimu untuk masuk agama Islâm”. Mendapat jawaban demikian, orang Yahudi tersebut langsung masuk Islâm (Tadzkirat al-Auliyâ’, halaman: 374 dan Jâmi’ al-Karâmât al-Auliyâ, juz 2, halaman:10 dan Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman:15).

Suatu hari, Hadhrat Maulana Syaikh Junaid al-Baghdadi menderita sakit mata. Beliau pun memanggil seorang tabib.  Tabib itu berkata: “Jika matamu terasa berdenyut denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air” Namun ketika tiba waktu shalat, Syaikh Junaid malah berwudhu’, shalat, kemudian tidur. Ketika ia bangun, matanya telah sembuh. Ia mendengar sebuah suara berkata: “Junaid mengabaikan matanya demi memilih keridha-an Kami. Jika, demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para penghuni neraka, niscaya permohonannya akan Kami kabulkan.”

Keesokan harinya, sang tabib kembali mendatangi Syaikh Junaid dan melihat bahwa mata Junaid telah sembuh. “Apa yang telah Engkau lakukan?” tanya sang tabib keheranan. “Aku berwudhu‟ untuk shalat” jawab Syaikh Junaid. Seketika itu pula sang tabib, yang beragama Kristen, mengucapkan dua kalimat syahadat. “Ini adalah penyembuhan Sang Pencipta, bukan penyembuhan makhluk” komentar tabib tersebut.”Wahai Syaikh junaid, yang sakit bukan matamu. Engkaulah tabib yang sebenarnya, bukan aku.” Sahut tabib. (Tadzkirat al-Auliyâ, halaman: 376-377).

Abu Bakar al-Aththar berkata: “Menjelang al-Junaid wafat kami dengan beberapa orang sahabat berada di sisinya. Beliau dalam keadaan melaksanakan shalat dengan posisi duduk. Setiap kali hendak sujud ia menekuk kedua kakinya. Beliau terus berulang-ulang melakukan shalat, hingga ruh dari kakinya mulai terangkat. Ketika kakinya sudah tidak bisa lagi digerakkan, Abû Muhammad al-Jariri berkata kepadanya: Wahai Abu al-Qasim sebaiknya engkau berbaring!. Kemudian al-Junaid mengucapkan takbir dan membaca 70 ayat dari surat al-Baqarah namun sebelumnya beliau telah mangkhatamkan al-Qur’an karim. (Rijâl al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman:17).

Sanad Tharîqah Imam Junaid

Sanad adalah mata rantai orang-orang yang membawa sebuah disiplin ilmu (Silsilah al-Rijâl). Mata rantai ini terus bersambung satu sama lainnya hingga kepada pembawa awal ilmu-ilmu itu sendiri, yaitu Rasûlullâh Saw. Integritas sanad dengan ilmu-ilmu Islâm tidak dapat terpisahkan. Sanad dengan ilmu-ilmu keIslâman laksana paket yang merupakan satu kesatuan. Seluruh disiplin ilmu-ilmu Islâm dipastikan memiliki sanad. Sanad inilah yang menjamin keberlangsungan dan kemurnian ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islâm sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuat syari’at itu sendiri, Allâh Swt. dan Rasul-Nya.

Di antara sebab kokohnya (tidak terjadi perubahan) ajaran-ajaran yang dibawa Rasûlullâh Saw. dari berbagai usaha luar yang hendak merusaknya adalah karena keberadaan sanad. Hal ini berbeda dengan ajaran-ajaran atau syari’at nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Adanya berbagai perubahan pada ajaran-ajaran mereka, bahkan mungkin hingga terjadi pertentangan ajaran antara satu masa dengan masa lainnya setelah ditinggal oleh nabi-nabi yang bersangkutan adalah karena tidak memiliki sanad. Karena itu para ulama menyatakan bahwa sanad adalah salah satu “keistimewaaan” yang dikaruniakan oleh Allâh Swt. kepada umat nabi Muhammad Saw. di mana hal tersebut tidak dikaruniakan oleh Allâh Swt. terhadap umat-umat Nabi sebelumnya. Dengan jaminan sanad ini pula kelak kemurnian ajaran-ajaran Rasûlullâh Saw. akan terus berlangsung hingga datang hari kiamat. Imâm Ibn Sirin, seorang ulamâ terkemuka dari kalangan tabi’in berkata:

“Sesungguhnya ilmu agama ini adalah agama, maka lihatkan oleh kalian dari manakah kalian mengambil agama kalian”. (Diriwayatkan oleh Imâm Muslim dalam muqaddimah kitab Shahîh-nya).

Imâm Abdullâh ibn al-Mubarak berkata;

“Sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka setiap orang benar-benar akan berkata tentang urusan agama terhadap apapun yang ia inginkan”.

Silsilah tharîqah imâm Junaidî sampai Rasûlullâh Saw. adalah: Imâm Ma‟rûf al-Karkhi dari Imâm ‘Alî al-Ridlâ, dari Imâm ayahnya sendiri: Imam Musa al-Kadzîm, dari ayahnya sendiri: Imam Ja’far al-Shâdiq, dari ayahnya sendiri: Imâm Muhammad al-Baqîr, dari ayahnya sendiri: Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin, dari ayahnya sendiri: Imâm al-Husain (Syahîd Karbala), dari ayahnya sendiri: Imâm Alî ibn Abî Thâlib, Dari Rasûlullâh Saw.

Tharîqah al-Junaidiyah: keturunan Junaidi dan cabangnya adalah:

  1. tharîqah al-Khawajikan
  2. al-Kubrâwiyah
  3. al-Qâdiriyah

Ajaran dan Amalan

Imam al-Junaid menegaskan, bagaimanapun tingginya tingkatan yang telah dicapai, seorang shufi harus tetap meyakini Keesaan Tuhan dan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw. Dalam ajaran Shufi, delapan sifat harus dilatih. Kaum Shufi memiliki:

  1. Kemurahan hati seperti Ibrahim As.;
  2. Penerimaan yang tak bersisa sedikit pun dari Ismail As.;
  3. Kesabaran, sebagaimana dimiliki Ya‟kub As.;
  4. Kemampuan berkomunikasi dengan simbolisme, seperti halnya Zakaria As.;
  5. Pemisahan dari para pendukungnya sendiri, sebagaimana halnya Yahya As.;
  6. Jubah wool seperti mantel gembala Musa As.;
  7. Pengembaraan, seperti perjalanan Isa As.;
  8. Kerendah-hatian, seperti jiwa dari kerendahan hati Muhammad Saw. (Tadzkirat al-Auliyâ, halaman: 387).

Imam Al-Junaid juga menyusun shalawat kubro, yang tidak dicantumkan dalam artikel ini.

Wallau a’lam bisshowab

Sumber: Sabilus Salikin (Jalan Para Salik), halaman. 222-228, Cet. Pondok Pesantren Ngalah, Purwosari Pasuruan.

Editor: Warto’i

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Thoriqoh Mu'tabaroh

Sejarah Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 1)

Published

on

Ilustrasi

Kelahiran dan Silsilah keturunan Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî lahir di desa Qasrul Arifân di dekat Bukhâra (Uzbekistan) pada bulan Muharram tahun 717 Hijriyah. Sebelum dilahirkan, gurunya Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî, telah mengisyaratkan akan kelahirannya. Setiap kali Syaikh as-Sammâsî melewati desa Qasrul Arifân, selalu berkata kepada para muridnya, “Dari desa ini aku mencium bau seorang wali.”

Setelah bayi yang dimaksud dilahirkan dan berusia tiga hari, Syaikh as-Sammasi melewati desa itu seperti biasa. Lalu kembali berkata pada para muridnya, “Bau seorang Wali yang aku ceritakan, sekarang ini semakin semerbak.”

Tak lama setelah itu, si bayi oleh kakeknya dibawa ke rumah Syaikh as-Sammasi. Ketika melihat bayi tersebut, Syaikh as-Sammâsî spontan berteriak gembira seraya menoleh kepada muridnya, “ini ‘anakku’. Inilah wali yang selama ini aku cium baunya. Insya Allah tidak lama lagi ia akan menjadi panutan banyak orang.”

Kemudian Syaikh as-Sammâsî menemui Sayyid ‘Amîr Kulâl untuk menyerahkan Pendidikan “anaknya” itu. Ketika itu Syaikh as-Sammâsî berkata, “Ini ‘anakku’. Didiklah dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai engkau teledor dalam mendidiknya. Jika engkau teledor, aku tak akan rela untuk selama-lamanya.”

Lalu Sayyid ‘Amâr kulîl berdiri dan berkata, “Aku akan melaksanakan perintahmu. Insya Allah aku tidak akan teledor dalam mendidiknya.”

Syaikh an-Naqsyabandî mengisahkan, “Kakekku mengirimku ke desa Sammâs dengan tujuan supaya aku mengabdi kepada Syaikh as-Sammâsî. Ketika aku berhasil menemuinya, sebelum waktu Maghrib tiba aku telah mendapatkan keberkahannya sehingga aku merasakan ketenangan pada diriku, ke-khusyu’an, tadharru’ serta kembali pada Allah.”

Lebih lanjut Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Ketika Syaikh as-Sammâsî meninggal dunia, kakekku membawaku ke Samarqand. Setiap kali mendengar ada orang saleh, ia membawaku kepadanya. Kepada orang yang saleh yang dikunjungi, ia memintakan doa untukku. Ternyata permintaan doa betul-betul terkabul. Aku mendapatkan keberkahan dari orang-orang saleh tersebut.”

Tarekat yang pendiriannya dinisbatkan kepada wali quthub bernama Muhammad Bahâ’uddîn bin Muhammad bin Muhammad al-Syarîf al-Husaini al-Hasani al-Uwaissî al-Bukhârî. Lebih dikenal dengan sebutan Syaikh an-Naqsyabandî.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Baca Juga:
Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Continue Reading

Thariqah

Biografi dan Silsilah Thariqah Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul memiliki nama asli KH. Muhammad Zaini Ghani. Beliau dikenal diseluruh pelosok negeri Indonesia terutama masyarakat Banjarmasin. Abah Guru Sekumpul merupakan ulama kharismatik asal Banjarmasin dan merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Yakni, KH. Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah Mufti bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan).

Lakab Guru Sekumpul merupakan panggilan akrab dari jamaahnya. Beliau lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Abah Guru Sekumpul ketika lahir diberi nama Qusyairi, namun karena sering sakit kemudian namanya diganti menjadi Muhammad Zaini.

Sewaktu kecil, ia tinggal di Kampung Keraton. Ayahnya, Abdul Ghani, dan ibunya, Masliah merupakan keluarga yang kekurangan dari segi ekonomi. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh penggosok batu intan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Meski hidup prihatin dan sederhana, Zaini muda mendapat pendidikan yang baik dari ayahnya dan neneknya yang bernama Salabiah. Di lingkungan keluarga ia mendapat didikan yang ketat dan disiplin serta mendapat pengawasan dari pamannya, Syekh Semman Mulya. Pada usia 5 tahun ia belajar al-Qur`an dengan Guru Hasan Pesayangan dan pada usia 6 tahun menempuh pendidikan di Madrasah Kampung Keraton. Pada usia 7 tahun ia masuk ke Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Abah Guru Sekumpul muda menempuh pendidikan di Pesantren Darussalam selama 12 tahun (1949-1961 M). Pada tahun 1949 (usia 7 tahun) ia masuk tingkat Tahdhiry/ Ibtida’iy dan pada tahun 1955 (usia 13 tahun) ia melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Pesantren yang sama. Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1961 (usia 19 tahun), lulus dengan nilai jayyid mumtaz. Selain belajar secara formal di pondok pesantren Darussalam, beliau juga menuntut ilmu di sejumlah halaqah di kediaman para ulama di sekitar Martapura sebagaimana lazim dilakukan oleh para santri di pesantren Darussalam. Tidak hanya itu, ia juga belajar dengan sejumlah guru di luar daerah Martapura, di antaranya ia pernah belajar dengan KH. M. Aini di Kampung Pandai Kandangan dan pernah belajar dengan KH. Muhammad di Gadung Rantau.

Sekitar tahun 1965 (usia 23 tahun), Abah Guru Sekumpul berangkat bersama pamannya, KH. Semman Mulya ke Bangil. Di Bangil ia dibimbing oleh Syekh Muhammad Syarwani Abdan selama beberapa waktu. Setelah memperoleh bimbingan spiritual, Zaini Muda disuruh sang guru untuk berangkat ke Mekkah menemui Sayyid Muhammad Amin Qutbi untuk mendapat bimbingan sufistik darinya. Sebelum berangkat ke Makkah, ia terlebih dahulu menemui Kyai Falak (Mama Falak) Bogor dan di sini ia memperoleh ijazah dan sanad suluk dan thariqah. Sambil menunaikan ibadah haji, Abah Guru Sekumpul mendapat bimbingan langsung dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi dan dihadiahi sejumlah kitab tasawuf.

Dengan demikian, Abah Guru Sekumpul telah belajar secara khusus tentang Tasawuf dan Suluk kepada tiga ulama, yaitu Syekh Syarwani Abdan di Bangil, Mama Falak di Bogor dan Sayyid Muhammad Amin Qutbiy di Makkah. Selain itu, rantai keilmuannya tersambung dengan sejumlah ulama besar di Makkah. Hal ini terlihat dari beberapa sanad bidang keilmuan dan thariqah yang diambilnya dari beberapa ulama diantaranya, Sayyid Muhammad Amin Qutbiy, Sayyid ‘Abd al-Qadir al-Bar, Sayyid Muhammad bin ‘Alwiy al-Malikiy, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Kyai Falak Bogor dan Syekh Isma’il al-Yamani. Kegemarannya menuntut ilmu dan bersilaturrahmi ke sejumlah ulama membuatnya memiliki banyak guru baik di Kalimantan, Jawa dan Madura maupun di Timur Tengah (Makkah). Ada yang menyebutkan bahwa gurunya berjumlah sekitar 179 hingga mendekati 200 orang. Wallahua’lam.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending