Connect with us

Thariqah

Tasawuf sebagai Identitas Keislaman Indonesia

Published

on

Pada 1912, seorang orientalis Belanda bernama Snouck Hourgronje pernah menuliskan pandangannya tentang agama Islam di Hindia Belanda (kini Indonesia). Dalam tulisannya yang juga ditujukan sebagai laporan kepada Ratu Belanda yang berjudul Islam, ia memaparkan banyak anggapan para pengamat agama Islam saat itu yang mengakui bahwa ajaran Islam, pada mulanya adalah ajaran yang sempat diragukan kelanggengannya. Bagaimana tidak, Jazirah Arab yang minus sumber airnya, berikut penduduknya yang terbagi-bagi dalam kesukuan, harus berhadapan dengan suatu ajaran yang sistematis. Daerah yang didiami oleh berbagai golongan yang -hubungan satu dengan lainnya, bersifat “kekuasaan adalah hak” rupanya bisa ditaklukkan oleh satu orang bernama Muhammad hanya dalam kurun waktu kurang lebih 13 tahun. Berbagai faksi Arabia dengan tindakan kasarnya dan tidak berperasaan moral itu bisa luluh oleh seorang manusia yang melakukan pendekatan asketik (sederhana). Perlakuan ini yang kemudian memunculkan keraguan berikutnya, yakni mosi ketidakpercayaan masyarakat Arabia yang menentang dakwah Nabi melontarkan tuduhan-tuduhan yang menganggap Nabi Muhammad menggunakan sihir dan hipnotis.

Redaksional Snouck ini dipicu oleh realita jumlah muslimin dunia yang kala itu menurut perkiraannya berjumlah 190-250 juta orang. Snouck meyakini jumlah ini akan terus bertambah, bahkan bertambah lebih besar daripada pertambahan yang hanya disebabkan oleh pertumbuhan penduduk secara alami, lanjutnya. Snouck, sebagai sarjana Barat yang diutus ke daratan Hindia Belanda (kini Indonesia) menemukan beberapa poin penting mengapa Islam begitu mudah menyebar dan diterima oleh orang-orang di kepulauan Nusantara. Beberapa faktor ia coba terangkan, namun satu di antaranya yang cukup kuat adalah melalui pendekatan tasawuf.

Tasawuf yang dimaksud di sini adalah pendekatan sufisme, yakni faham yang lebih menggunakan proses pengenalan Zat Allah melalui praktik-praktik meditasi. Dalam artian mendahulukan proses pengenalan kepada Allah melalui pengetahuan tentang Zat-Nya dan derajat kesatuan dengan Tuhan, dibanding mendahulukan praktik-praktik syariah. Menurut Jajat Burhanuddin, praktik sufisme merupakan media yang lebih mudah diterima masyarakat Nusantara pada umumnya, khususnya di Jawa. Sebab praktik ini tidak membutuhkan banyak kesulitan dalam pelaksanaan, dan dalam banyak aspek, sejalan dengan praktik-praktik dan pandangan dunia keagamaan masyarakat Jawa yang Hindu-Budha. Sufisme, sebagai sebuah pintu menuju Islam, dianggap sukses untuk mengarahkan manusia menjadi hamba Allah yang tunduk tanpa paksaan.

Corak Islam sufistik mampu membuat Tuhan begitu mudah difahami. Terlebih pembahasaan tentang sosok Allah yang Maha Indah, diabstraksikan dengan nada, pemandangan dan tampilan-tampilan yang menarik.  Sehingga, pemaknaan Allah sebagai Tuhan begitu dekat dan menenangkan batin. Metode seperti inilah yang dipakai sejak zaman Nabi Muhammad sampai terus mengalami perkembangan pesat ke berbagai daerah di Nusantara pada abad 12, yakni era munculnya pelembagaan beragam tarekat di dunia, dan pada abad 15, era dakwahnya Walisongo.

Dalam kerangka ini, menarik melihat penelitian A.H. Johns yang juga diamini Azra. Penelitian yang menggunakan banyak sumber sejarah lokal dan literatur sejarah Melayu-Indonesia ini menyatakan bahwa aspek sufistiklah yang menjadi karakter guru-guru yang mengajarkan ajaran Islam di Nusantara. Teori Johns ini dikemukakan dari kenyataan sejarah yang menjabarkan bahwa para sufi ini menyampaikan risalah Islam dengan kemasan atraktif, khususnya dalam menekankan kesesuaian Islam atau kontinuitas ketimbang perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal.

Argumen Johns di atas ingin menjelaskan bahwa para penyebar Islam yang datang, lebih banyak menggunakan pendekatan agama yang mudah melebur dalam diri kita. Tuhan, bukanlah ‘Zat yang Jauh’. Tuhan ada dimana pun. Ia bisa melebur dalam laku perbuatan, alunan musik, dan hal-hal sederhana lainnya. Tidak terbatas pada ruang lingkup ibadah yang ritualistik semata. Johns juga meyakini, otoritas karismatik para sufi inilah yang membuat mereka mendapat legitimasi kepercayaan tidak saja dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari raja atau penguasa setempat dan diberikan kepercayaan dalam beberapa bidang. Kepercayaan itu bisa bersifat jabatan hingga dinikahkan dengan anak Raja. Ini yang menjadi alasan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Selain munculnya institusi kerajaan Islam, sufisme juga memantik tradisi intelektual. Oman Fathurahman melihat, maraknya naskah-naskah klasik semisal Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu yang menggunakan corak sufistik adalah bukti betapa sufisme sudah marak di perbincangkan sejak zaman dahulu. Meskipun dominan, tentu tiap periode memiliki karakteristik, kecenderungan, dan penekanan yang relatif berbeda, meskipun masih dalam wacana intelektual keagamaan yang sama.

Metode dakwah seperti fakta di atas tentu mengingatkan kita pada metode yang dilakukan Nabi Muhammad. Nabi lebih mengutamakan pendekatan akhlak dan moral untuk dapat menaklukan hati para petinggi Quraisy, dibandingkan berperang atau mengadu kekayaan. Meskipun istilah ‘perang’ memang ada dalam sejarah Islam, akan tetapi Nabi lebih dahulu menyampaikan dakwah dengan pendekatan yang soft (lembut) baru setelah mendapatkan desakan yang keras Nabi memerintahkan umat untuk melakukan pertahanan. Wajah Islam yang seperti inilah yang jika ditarik garis panjangnya, sejalan dengan apa yang dilakukan oleh para Sufi yang sampai ke Nusantara. Dan terus berjejaring sampai zaman ini.

Wallahu a’lam bisshowab

Penulis: Sufyan Syafii, S.Hum adalah Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam sekaligus Staf Pengajar di Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta.

Referensi

Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara XVII & XVIII; Akar Pembaruan Islam Indonesia. (Jakarta: Kencana, 2013).

Jajat Burhanuddin. Islam dalam Arus Sejarah Indonesia. (Jakarta: Kencana, 2017).

Oman Fathurrahman. Tradisi dan Wacana Intelektual Islam, dalam Islam dalam Arus Sejarah. (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2012).

Snouck C. Hurgronje. Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje. (Kurt Schroeder/ Bonn dan Leipzig. 1923.) Terjemah oleh Soedarso Soekarno dan Rahayu S. Hidayat. Tulisan-tulisan tentang Islam di Hindia Belanda. INIS. 1995.

Sumber: matanciputat.org

Artikel

Maqam Ihsan Menurut Syekh Yusri

Published

on

By

Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah pada pengajiannya menjelaskan tentang maksud dari ilmu tasawuf adalah sampai kepada maqam ihsan.

Tidaklah setiap orang melakukan pekerjaan kemudian ia menyempurnakannya. Begitu pula dengan seorang yang beribadah, maka tidak semua mengerjakannya dengan sempurna sesuai dengan yang dipinta oleh Allah Ta’ala.

Ilmu tasawuf ini mengajarkan kita untuk mewujudkan makna dari maqam ihsan, sehingga kita menjadi orang yang ahli ihsan. Makna ini lebih penting dari pada membahas asal kata tasawuf itu sendiri, karena terkadang lafaz itu membuat kegaduhan dari banyaknya pendapat.

Allah Ta’ala telah berfirman tentang makna ihsan ini, yaitu pada ayat:

“الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا”

Artinya: “Allah Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya “ (QS. Al Mulk: 2).

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa yang akan menjadi pertimbangan adalah kesempurnaan atau kwalitas dari amal kita, bukan kwantitasnya. Pada ayat lain Allah berfirman:

“إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”

Artinya: “Sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)” (QS. Al Baqarah: 195).

Allah mencintai orang yang ihsan dalam amalnya, sehingga maqam ihsan ini adalah maqam yang diridhaiNya. Sebagaimana orang yang bermaqamkan ihsan juga akan mendapatkan rahmatNya, sebagaimana disebutkan dalam Al qur’an:

“إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ”

Artinya: “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan“ (QS. Al A’raf: 56).

Syekh Yusri mengatakan bahwa Maqam ihsan adalah menyempurnakan amal perbuatan, dan mempersembahkannya hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak bermaksudkan dunia yang ia bisa dapatkan, atau perempuan yang akan ia nikahi sebagaimana dalam hadits baginda Nabi SAW. Yaitu dengan ikhlas dalam beramal dan tidak menyekutukannya dengan selain Allah Ta’ala:

“وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا”

Artinya: “Dan tidaklah ia menyekutukan Allah dalam beribadah kepada Tuhannya dengan sesuatu apapun“(QS. Al Kahfi: 110).

Bukan pula karena surga dan neraka, meskipun dia berharap untuk mendapatkan pahala dan diselamatkan dari neraka, karena dia adalah seorang hamba yang lemah, akan tetapi tidaklah hal ini sebagai faktor utama dalam ibadahnya.

Yang menjadi tujuan utama dalam ibadahnya adalah cinta kepada Allah Ta’ala, karena Allah cinta kepada orang yang ahli ihsan.

Maqam ihsan adalah derajat yang sangat mulia, yang tidak bisa dicapai kecuali dengan riyadhah nafsu dan mentarbiahnya hingga selamat dari perkara yang menghalangi dirinya dari tujuan ini.

Yaitu, menjadikan Allah sebagai tujuan kita, sesuai dengan sifat Allah dalam surat Al Ikhlas yaitu As Somadiyyah yang artinya Allah adalah yang Maha dituju pada setiap sesuatu. Wallahu A’lam.

Sumber: Akun Facebook Ahbab Maulana Syeikh Yusri Rusydi Al Hasany

Continue Reading

Thoriqoh Mu'tabaroh

Thoriqoh Uwaisiyah

Published

on

Thoriqoh Uwaisiyah

Penisbatan tharîqah kepada Uwais al-Qarni Ra (w. 36 H) Abu ‘Amir Uwais bin ‘Amir al-Muradi Tsumma al-Qarn. Beliau adalah termasuk golongan pembesar Tabi‟in (menurut Pendapat yang ashah) (Syaikh Ismâil haqqi bin Musthâfa al-Khalwati al-Barsawi, Tamâm al-Faidh fi Bâbi al-Rijâl. Libanon: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 18), bahkan termasuk pembesar Tabi‟in dan orang yang paling utama pada masanya. Kedudukan Uwais al-Qarni Ra disaksikan sendiri oleh Rasûlullâh Saw., beliau bersabda:

Thoriqoh Uwaisiyah

“Aku mencium nafas tuhan yang Maha Rahman dari arah tanah Yaman”

Yang dimaksud oleh nabi adalah mencium bau harum kekasih Allâh Swt. yaitu Uwais al-Qarni Ra.
Rasûlullâh Saw. menuturkan keistimewaan Uwais dikabarkan Allâh Swt. kepada Umar dan Ali bahwa: ”Ada seseorang dari umatku yang bisa memberikan syafaat di hari kiamat sebanyak bulu domba dari jumlah domba yang dimiliki oleh Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak), lalu para sahabat bertanya: “Siapa dia wahai Rasûlullâh Saw.?”. Rasul Saw. Menjawab: “Ia adalah hamba Allâh Swt”. Siapa namanya ya Rasul? “Rasul menjawab: “Ia bernama Uwais al-Qarni Ra”.

Thoriqoh Uwaisiyah

Rasul Saw. bersabda: “Yang mencegah untuk menemuiku adalah dua hal (1) karena keadaan, dan (2) karena dia menghormati aturan. Sebab dia mengasuh ibunya yang sudah tua, buta matanya, lumpuh kedua tangan dan kakinya. Uwais bekerja sebagai pengembala unta di siang hari dengan upah yang cukup untuk dibelanjakan untuk ibunya, dirinya dan dishadaqahkan kepada tetangganya yang miskin. Para sahabat bertanya apakah kita bisa melihatnya atau tidak? Rasul Saw. bersabda: Abu Bakar al-Shiddiq r.a tidak bisa menemukannya, yang bisa menemukan dia adalah Umar dan Ali. Dia memiliki ciri-ciri berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak tangannya tanda putih, tanda putih itu bukan penyakit belang (barosh). Jika kalian menemukan dia sampaikan salamku padanya, lalu mintakan doanya untuk umatku”, (Muslim, Shahih Muslim hadits, Libanon: Dar al-Fikr, nomor: 2542 jilid 4, juz 7, halaman: 188 & Farid al-Din al-Attor, Tadzkirat al-Auliyâ‟, Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 49).

Setelah Rasûlullâh Saw. dan Abu Bakar al-Shiddiq r.a wafat, Umar diangkat menjadi Khalifah. Di sela-sela kesibukan Umar sebagai Khalifah beliau teringat tentang sabda Rasul tentang Uwais. Lalu Umar mengajak Ali bin Abi Thalib untuk mencarinya di kota Najt (Yaman). Umar mengumpulkan penduduk Najt dan bertanya: Apakah di antara kalian ada seseorang dari suku Qorn? penduduk Najt menjawab: “Ya”. Kemudian salah satu dari penduduk Qorn mendekati Umar, lalu Umar mengabarkan tentang Uwais dan para penduduk tidak mengenalnya. Dengan nada tinggi Umar berkata: “Nabi Muhammad Saw. pemilik syariat ini tidak berkata sembarangan”. Sebagian penduduk berkata: wahai pemimpin orang mukmin, Uwais adalah orang yang tidak pantas Engkau cari karena dia adalah orang gila lagi gelandangan. ‘Umar berkata: “Aku mendatangi kalian hanya untuknya, di mana dia?”. Para penduduk Najt menjawab: “Dia ada di lembah Uranah sedang mengembala unta di rerumputan, dia mengembala unta sampai waktu sore hari kemudian kami memberinya makan sore, dia tidak bergaul dalam keramaian penduduk, tidak berteman dengan siapapun, tidak memakan makanan orang pada umumnya, tidak bergembira seperti suka cita orang pada biasanya, justru dia menangis tatkala semua orang tertawa, dan dia tertawa tatkala banyak orang-orang menangis”. Umar berkata: “Bawalah aku menemui dia”. Lalu para penduduk mengantar Umar dan Ali menuju ke tempat Uwais, saat itu Uwais sedang shalat, ketika Uwais merasakan kedatangan Umar dan Ali, dia mempercepat shalatnya, lalu ketika Umar melihat Uwais selesai shalat, Umar langsung mengucapkan salam kepada Uwais. Lalu Uwais menjawab salam Umar dan Ali. Umar bertanya: “Siapa namamu?” Uwais menjawab: “Abdullah (hamba Allâh Swt.)”, Umar berkata, kita juga hamba-hamba Allâh Swt., siapa nama yang dikhususkan untukmu. Uwais menjawab: “Uwais”. Kemudian Umar berkata: “Tunjukkan tangan kananmu kepadaku”. Pada saat itu terlihat tanda putih di telapak tangan Uwais seperti yang disebutkan oleh nabi Muhammad Saw. Umar berkata: “Nabi kirim salam kepadamu dan berwasiat kepadamu untuk mendo‟akan aku”. Uwais berkata: “Engkau lebih utama mendo‟akan seluruh orang-orang muslim karena Engkau adalah orang yang paling utama di muka bumi ini”. Umar berkata: “Aku juga mendo‟akan orang mukmin tetapi seyogyanya Engkau mengikuti wasiat Nabi untuk berdo‟a”. Uwais keberatan untuk diminta mendo‟akan, sehingga Uwais berkata: “Wahai Umar mintalah do‟a kepada seseorang selain aku”. Umar membujuk Uwais untuk mau berdo‟a, lalu Umar berkata: “Rasul telah menunjukkan tanda-tandamu kepada kami, dan semua tanda itu ada padamu”. Uwais berkata: “Ambillah wasiat Nabi itu dariku”, lalu sahabat Umar dan Ali kembali ke Madinah, kemudian Uwais bersujud di tanah sambil berdo‟a: “Wahai Tuhanku, kekasihmu nabi Muhammad Saw. telah memindahkan keadaan ini kepadaku, kekasihmu berwasiat kepadaku untuk berdo‟a. Wahai tuhanku, Ampunilah seluruh umat nabi Muhammad Saw.”, (Farid al-Din al-Attor, Tadzkirat al-Auliyâ‟, Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 49-50).

Setelah pertemuan antara Uwais dengan Umar dan Ali, Lalu tersiar kabar bahwa Uwais memiliki derajat yang tinggi, sehingga penduduk kota Yaman selalu mencari dan mendatanginya. Dengan keadaan ini Uwais merasa terganggu untuk bermunajat kepada Allâh Swt., sehingga Ia meninggalkan Yaman agar tidak diketahui keberadaannya oleh penduduk, setelah itu tidak ada yang melihat Uwais di manapun kecuali Harim Bin Hayyan, dia berkata: “Aku mendengar bahwa Uwais bisa diterima syafa‟atnya pada hari qiamat, sehingga aku melakukan perjalanan untuk mencarinya, lama aku mencarinya sehingga hatiku terbuai kerinduan untuk bertemu dengan Uwais. Seluruh desa dan kota telah aku lalui, sehingga aku sampai di kota Kuffah. Pencarianku terhenti pada seorang laki-laki yang memiliki ciri-ciri yang persis seperti yang diceritakan Nabi, Umar, dan Ali. Laki-laki itu sedang berwudhu‟ di pinggir sungai Furadh. Hatiku senang sekali dan berucap salam padanya, kemudian dia menjawab dan melihat ke arahku, kemudian aku ingin mencium tangannya, tapi dia menolak. Aku berkata semoga Allâh Swt. mengasihimu dan mengampunimu wahai Uwais. Bagaimana kabarmu? Setelah aku bertanya seperti itu aku tidak kuasa membendung tangisku karena merasa kasihan terhadap keadaan Uwais yang lemah dan Uwais juga menangis. Usai menangis Uwais berkata: “Wahai Harim bin Hayyan, siapa yang menunjukkanmu kepadaku?”. Aku tidak menjawab pertanyaan itu lalu aku balik bertanya: “Bagaimana Anda tahu namaku dan bapakku ?” Uwais menjawab: “Dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Waspada yang menceritakan kepadaku, ruhku telah mengenali ruhmu, karena antara ruh orang-orang mukmin saling mengenal”. Harim, berkata kepada Uwais: “Ceritakanlah kepadaku tentang haditsnya Rasul?” Uwais menjawab: “Aku tidak pernah bertemu dengan Nabi tetapi aku mendengar hadits Nabi yang diriwayatkan dari sahabatnya, aku tidak menyukai membuka pintu fatwa dan pengingat karena aku telah disibukkan selain hal itu”. Lalu aku berkata: “Aku menyukai mendengar ayat al-Qur‟an darimu, kemudian Uwais memegang tanganku sambil mengucapkan ta‟awudz, Uwais menangis tersedu-sedu, kemudian membaca ayat al-Quran:

Thoriqoh Uwaisiyah

Kemudian Uwais menjerit dengan keras, bahkan aku tidak mengetahui apakah akalnya masih ada atau tidak. Selang beberapa saat Uwais berkata: “Wahai Harim bin Hayyan, kenapa engkau mendatangiku?”. Aku menjawab: “Tujuanku mencarimu untuk merasa tenang dan nyaman bersamamu”, Uwais mengomentari jawabanku: “Aku tidak mengerti, bahwasanya orang yang mengenal Allâh Swt. bagaimana ia bisa merasa tenang dan nyaman bersama selain-Nya?”. Aku berkata: “Berilah aku wasiat”. Uwais berkata: “Jadikan kematian di bawah kepalamu (ingat pada kematian) dan di dalam kepalamu dan setelah itu tidak ada pengaruh kehidupan setelah kematian (tidak ingat pada kehidupan dunia dan yang diingat hanya Allâh Swt. semata), jangan Engkau memandang dosa kecil tapi pandanglah pada besarnya maksiat kepada Allâh Swt. karena jika Engkau meremehkan dosa maka Engkau telah meremehkan berpaling dari Allâh Swt”. Harim berkata: “Apa yang Engkau perintahkan kepadaku? Di tempat mana aku bermukim?” Uwais berkata: “Bertempatlah di Syam” Aku berkata: “Bagaimana aku mendapatkan penghidupan di kota Syam (Syiria)?” Uwais berkata: “Jauhkan perasaan itu dari hatimu, karena keragu-raguan telah mencemari hatimu, sehingga nasihat tidak bermanfaat”. aku berkata lagi: “Berilah aku wasiat” Uwais berkata: “Bapakmu Hayyan telah mati, Nabi Adam, Hawa, Nuh, Ibrahim, Musa, Nabi Muhammad Saw. dan seluruh Nabi dan Rasul telah meninggal semua, abu Bakar, Umar bin al-Khattab telah mati” aku bertanya kepada Uwais “apakah Umar bin al-Khattab telah mati?” Uwais menjawab: “Ya. Allâh Swt. telah memberikan kabar kepadaku melalui ilham tentang kematian Umar bin al-Khattab”. Kemudian Uwais berkata: “Wahai Harim, aku dan Engkau termasuk golongan orang-orang yang mati”. Kemudian Uwais membaca shalawat kepada Nabi, berdo‟a dengan do‟a yang pelan. Lalu Uwais berkata: “Wasiatku kepadamu bersuluklah dengan jalan sesuai syari‟at dan Tharîqah orang-orang yang baik, jangan Engkau melupakan dzikir kepada Allâh Swt. walaupun sekejap, jika Engkau sudah sampai kepada kaummu berilah nasihat kepada mereka, jangan Engkau memutus nasihat (mengharapkan kebaikan) dari Hamba Allâh Swt., jangan Engkau menyimpang dari taat kepada pemimpin umat sehingga imanmu tidak keluar tanpa kamu sadari, Engkau tidak mengetahui apakah Engkau akan jatuh ke neraka atau tidak”. Kemudian Uwais berkata: “Wahai Harim, Engkau dan aku tidak akan pernah bertemu sejak saat ini, jangan lupakan aku dalam do‟a, berangkatlah ketika aku berangkat, jangan Engkau tinggalkan aku sedetikpun sebelum kepergianmu”. Lalu aku dan Uwais menangis, kemudian Uwais pergi sementara aku memandanginya dari belakang sampai Uwais naik ke gunung. Setelah peristiwa itu aku tidak melihat dan mengetahui keadaannya, (al-Din al-Attar, Tadzkirat al-Auliyâ‟. Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 51–52).

Nasihat-nasihat Uwais al-Qorn

Thoriqoh Uwaisiyah

Maksudnya adalah apabila seseorang sudah ma‟rifat kepada Allâh Swt. (pokok), maka akan mudah baginya semua mahluk (cabang)

Thoriqoh Uwaisiyah

Maksudnya adalah keselamatan itu ada pada menyendiri (secara ruhani bukan secara jasadi)

Thoriqoh Uwaisiyah

ٍMaksudnya adalah ingatlah kepada kematian dan janganlah ingat pada kehidupan dunia dan ingatlah hanya Allâh Swt. semata

Thoriqoh Uwaisiyah

Janganlah mengharap kehidupan setelah mati. Maksudnya adalah membekali hidup untuk menyongsong kematian.

  • Aku mencari kedudukan, maka aku temukan kedudukanku di dalam sifat tawadhu‟.
  • Aku mencari kepemimpinan, maka aku temukan kepemimpinan itu dalam (memberi) nasihat kepada orang.
  • Aku mencari keagungan, maka aku temukan keagungan di dalam sifat fakir.
  • Aku mencari sunnah dan aku temukan sunnah itu di dalam sifat takwa.
  • Aku mencari kemuliaan, maka aku temukan kemuliaan itu dalam sifat qona‟ah.
  • Aku mencari kenyamanan maka aku temukan kenyamanan itu dalam sifat zuhud.
  • Ingatlah kepada kematian.
  • Jika kamu mampu (untuk) tidak memisahkan hatimu dengan air mata, maka lakukanlah.
  • Bernadzarlah kepada kaummu ketika kamu kembali kepada mereka.
  • Dan bersungguh-sungguhlah dalam (menghidupi) dirimu.
  • Takutlah meninggalkan (sholat) jamaah.
  • Kamu meninggalkan agamamu sedangkan kamu tidak menyadarinya. Kemudian kamu mati dan masuk neraka pada hari kiamat, (al-Din al-Attar, Tadzkirat al-Auliyâ‟. Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 54-55).

Penjelasan: Sebagian wali Allâh Swt. diberi julukan Uwais. Artinya tidak membutuhkan bimbingan dari seorang guru, karena Uwais adalah Faidhul Ilahi (anugerah Ilahi) tanpa perantara orang lain dan berkah cahaya kenabian. Derajat ini adalah maqâm yang sangat tinggi sebagaimana firman Allâh Swt:

Thoriqoh Uwaisiyah

Maka intisab Tharîqahnya secara hakikat langsung kepada Allâh Swt. dan proses suluknya sesuai dengan suluk Nabi sebagaimana sabda Nabi Saw:

Thoriqoh Uwaisiyah

Tuhanku telah mendidikku, maka Allâh Swt. lah yang memperbaiki adabku.

Sumber: Sabilussalikin-30 Thariqah

Continue Reading

Artikel

Al-Fuhum al-Yusriyah Menurut Syekh Yusri Rusydi

Published

on

By

Sudah menjadi maklum bahwa Maulana Syekh Yusri Rusydi tidak jarang menyampaikan pemahaman beliau di tengah penjelasan kitab, jika penjelasan yang beliau sampaikan itu belum pernah ada yang menyampaikannya, beliau akan menamakannya dengan istilah “al-Fuhum al-Yusriyah ‘ala…

Tak ayal. Contohnya, beliau sendiri berseberangan pendapat dengan sang Guru, syeikh Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari dalam permasalahan lafadz أب dalam Quran tepatnya kisah Nabi Ibrahim yang mendoakan sang Ayah.

Menurut syekh Yusri hafizahullah, أب disitu berarti paman, bukan ayah kandung, karena lafadz أب dalam bahasa Arab tidak melulu berarti ayah kandung, tapi juga paman, kakek atau buyut. Ayah kandung Nabi Ibrahim bernama Tarih, wafat ketika sang Nabi masih kecil, kemudian sang pamanlah -Azar- yang mengasuhnya.

Juga pada hadis Nabi yang mengatakan, “Inna abi wa abaaka finnar” (Sungguh Abi dan abimu di Neraka), Abi di sini berarti paman Nabi (Abu Lahab), bukan Abdullah bin Abdul Muthallib, seperti yang dipahami kaum Wahabi.

Contoh lain, makna Sabar menurut “al-Fahmu al-Yusri” ada 4, Sabar dalam ketaatan menjalankan ibadah, Sabar untuk menjauhi maksiat, Sabar dan ridha atas qadar dan ketetapan Allah pada setiap makhluk, dan Istiqomah dengan manhaj ini selama hidup.

Ridha menurut “Al-Fahmu Al-Yusri” ialah merasa bahagia dalam setiap keadaan. Apapun itu, bahkan ketika tidak punya apa-apa, jika manusia merasa senang, sabar dan Qona’ah, disitu ia mencapai derajat ridha, untuk melaju derajat di atasnya, yaitu Mahabbah.

Fitnah, menurut “Al-Fahmu al-Yusri” ialah segala sesuatu yang dapat menjauhkan kita dari Allah. Makna ini lebih umum dari makna biasanya.

Makna-makna semacam ini beliau dapatkan dari pemahaman yang luas terhadap al-Quran, Bahasa Arab, dan hadis-hadis Nabi. Tak perlu bertanya bagaimana dahsyatnya beliau kalau menjelaskan hadis, lengkap dengan hikmah dan kisah yang melatarbelakangi.

Laporan: Mohammad Hendri Alfaruq

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending