Connect with us

Thariqah

Tasawuf sebagai Identitas Keislaman Indonesia

Published

on

Pada 1912, seorang orientalis Belanda bernama Snouck Hourgronje pernah menuliskan pandangannya tentang agama Islam di Hindia Belanda (kini Indonesia). Dalam tulisannya yang juga ditujukan sebagai laporan kepada Ratu Belanda yang berjudul Islam, ia memaparkan banyak anggapan para pengamat agama Islam saat itu yang mengakui bahwa ajaran Islam, pada mulanya adalah ajaran yang sempat diragukan kelanggengannya. Bagaimana tidak, Jazirah Arab yang minus sumber airnya, berikut penduduknya yang terbagi-bagi dalam kesukuan, harus berhadapan dengan suatu ajaran yang sistematis. Daerah yang didiami oleh berbagai golongan yang -hubungan satu dengan lainnya, bersifat “kekuasaan adalah hak” rupanya bisa ditaklukkan oleh satu orang bernama Muhammad hanya dalam kurun waktu kurang lebih 13 tahun. Berbagai faksi Arabia dengan tindakan kasarnya dan tidak berperasaan moral itu bisa luluh oleh seorang manusia yang melakukan pendekatan asketik (sederhana). Perlakuan ini yang kemudian memunculkan keraguan berikutnya, yakni mosi ketidakpercayaan masyarakat Arabia yang menentang dakwah Nabi melontarkan tuduhan-tuduhan yang menganggap Nabi Muhammad menggunakan sihir dan hipnotis.

Redaksional Snouck ini dipicu oleh realita jumlah muslimin dunia yang kala itu menurut perkiraannya berjumlah 190-250 juta orang. Snouck meyakini jumlah ini akan terus bertambah, bahkan bertambah lebih besar daripada pertambahan yang hanya disebabkan oleh pertumbuhan penduduk secara alami, lanjutnya. Snouck, sebagai sarjana Barat yang diutus ke daratan Hindia Belanda (kini Indonesia) menemukan beberapa poin penting mengapa Islam begitu mudah menyebar dan diterima oleh orang-orang di kepulauan Nusantara. Beberapa faktor ia coba terangkan, namun satu di antaranya yang cukup kuat adalah melalui pendekatan tasawuf.

Tasawuf yang dimaksud di sini adalah pendekatan sufisme, yakni faham yang lebih menggunakan proses pengenalan Zat Allah melalui praktik-praktik meditasi. Dalam artian mendahulukan proses pengenalan kepada Allah melalui pengetahuan tentang Zat-Nya dan derajat kesatuan dengan Tuhan, dibanding mendahulukan praktik-praktik syariah. Menurut Jajat Burhanuddin, praktik sufisme merupakan media yang lebih mudah diterima masyarakat Nusantara pada umumnya, khususnya di Jawa. Sebab praktik ini tidak membutuhkan banyak kesulitan dalam pelaksanaan, dan dalam banyak aspek, sejalan dengan praktik-praktik dan pandangan dunia keagamaan masyarakat Jawa yang Hindu-Budha. Sufisme, sebagai sebuah pintu menuju Islam, dianggap sukses untuk mengarahkan manusia menjadi hamba Allah yang tunduk tanpa paksaan.

Corak Islam sufistik mampu membuat Tuhan begitu mudah difahami. Terlebih pembahasaan tentang sosok Allah yang Maha Indah, diabstraksikan dengan nada, pemandangan dan tampilan-tampilan yang menarik.  Sehingga, pemaknaan Allah sebagai Tuhan begitu dekat dan menenangkan batin. Metode seperti inilah yang dipakai sejak zaman Nabi Muhammad sampai terus mengalami perkembangan pesat ke berbagai daerah di Nusantara pada abad 12, yakni era munculnya pelembagaan beragam tarekat di dunia, dan pada abad 15, era dakwahnya Walisongo.

Dalam kerangka ini, menarik melihat penelitian A.H. Johns yang juga diamini Azra. Penelitian yang menggunakan banyak sumber sejarah lokal dan literatur sejarah Melayu-Indonesia ini menyatakan bahwa aspek sufistiklah yang menjadi karakter guru-guru yang mengajarkan ajaran Islam di Nusantara. Teori Johns ini dikemukakan dari kenyataan sejarah yang menjabarkan bahwa para sufi ini menyampaikan risalah Islam dengan kemasan atraktif, khususnya dalam menekankan kesesuaian Islam atau kontinuitas ketimbang perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal.

Argumen Johns di atas ingin menjelaskan bahwa para penyebar Islam yang datang, lebih banyak menggunakan pendekatan agama yang mudah melebur dalam diri kita. Tuhan, bukanlah ‘Zat yang Jauh’. Tuhan ada dimana pun. Ia bisa melebur dalam laku perbuatan, alunan musik, dan hal-hal sederhana lainnya. Tidak terbatas pada ruang lingkup ibadah yang ritualistik semata. Johns juga meyakini, otoritas karismatik para sufi inilah yang membuat mereka mendapat legitimasi kepercayaan tidak saja dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari raja atau penguasa setempat dan diberikan kepercayaan dalam beberapa bidang. Kepercayaan itu bisa bersifat jabatan hingga dinikahkan dengan anak Raja. Ini yang menjadi alasan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Selain munculnya institusi kerajaan Islam, sufisme juga memantik tradisi intelektual. Oman Fathurahman melihat, maraknya naskah-naskah klasik semisal Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu yang menggunakan corak sufistik adalah bukti betapa sufisme sudah marak di perbincangkan sejak zaman dahulu. Meskipun dominan, tentu tiap periode memiliki karakteristik, kecenderungan, dan penekanan yang relatif berbeda, meskipun masih dalam wacana intelektual keagamaan yang sama.

Metode dakwah seperti fakta di atas tentu mengingatkan kita pada metode yang dilakukan Nabi Muhammad. Nabi lebih mengutamakan pendekatan akhlak dan moral untuk dapat menaklukan hati para petinggi Quraisy, dibandingkan berperang atau mengadu kekayaan. Meskipun istilah ‘perang’ memang ada dalam sejarah Islam, akan tetapi Nabi lebih dahulu menyampaikan dakwah dengan pendekatan yang soft (lembut) baru setelah mendapatkan desakan yang keras Nabi memerintahkan umat untuk melakukan pertahanan. Wajah Islam yang seperti inilah yang jika ditarik garis panjangnya, sejalan dengan apa yang dilakukan oleh para Sufi yang sampai ke Nusantara. Dan terus berjejaring sampai zaman ini.

Wallahu a’lam bisshowab

Penulis: Sufyan Syafii, S.Hum adalah Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam sekaligus Staf Pengajar di Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta.

Referensi

Azyumardi Azra. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara XVII & XVIII; Akar Pembaruan Islam Indonesia. (Jakarta: Kencana, 2013).

Jajat Burhanuddin. Islam dalam Arus Sejarah Indonesia. (Jakarta: Kencana, 2017).

Oman Fathurrahman. Tradisi dan Wacana Intelektual Islam, dalam Islam dalam Arus Sejarah. (Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2012).

Snouck C. Hurgronje. Verspreide Geschriften van C. Snouck Hurgronje. (Kurt Schroeder/ Bonn dan Leipzig. 1923.) Terjemah oleh Soedarso Soekarno dan Rahayu S. Hidayat. Tulisan-tulisan tentang Islam di Hindia Belanda. INIS. 1995.

Sumber: matanciputat.org

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Thoriqoh Mu'tabaroh

Sejarah Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 1)

Published

on

Ilustrasi

Kelahiran dan Silsilah keturunan Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî lahir di desa Qasrul Arifân di dekat Bukhâra (Uzbekistan) pada bulan Muharram tahun 717 Hijriyah. Sebelum dilahirkan, gurunya Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî, telah mengisyaratkan akan kelahirannya. Setiap kali Syaikh as-Sammâsî melewati desa Qasrul Arifân, selalu berkata kepada para muridnya, “Dari desa ini aku mencium bau seorang wali.”

Setelah bayi yang dimaksud dilahirkan dan berusia tiga hari, Syaikh as-Sammasi melewati desa itu seperti biasa. Lalu kembali berkata pada para muridnya, “Bau seorang Wali yang aku ceritakan, sekarang ini semakin semerbak.”

Tak lama setelah itu, si bayi oleh kakeknya dibawa ke rumah Syaikh as-Sammasi. Ketika melihat bayi tersebut, Syaikh as-Sammâsî spontan berteriak gembira seraya menoleh kepada muridnya, “ini ‘anakku’. Inilah wali yang selama ini aku cium baunya. Insya Allah tidak lama lagi ia akan menjadi panutan banyak orang.”

Kemudian Syaikh as-Sammâsî menemui Sayyid ‘Amîr Kulâl untuk menyerahkan Pendidikan “anaknya” itu. Ketika itu Syaikh as-Sammâsî berkata, “Ini ‘anakku’. Didiklah dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai engkau teledor dalam mendidiknya. Jika engkau teledor, aku tak akan rela untuk selama-lamanya.”

Lalu Sayyid ‘Amâr kulîl berdiri dan berkata, “Aku akan melaksanakan perintahmu. Insya Allah aku tidak akan teledor dalam mendidiknya.”

Syaikh an-Naqsyabandî mengisahkan, “Kakekku mengirimku ke desa Sammâs dengan tujuan supaya aku mengabdi kepada Syaikh as-Sammâsî. Ketika aku berhasil menemuinya, sebelum waktu Maghrib tiba aku telah mendapatkan keberkahannya sehingga aku merasakan ketenangan pada diriku, ke-khusyu’an, tadharru’ serta kembali pada Allah.”

Lebih lanjut Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Ketika Syaikh as-Sammâsî meninggal dunia, kakekku membawaku ke Samarqand. Setiap kali mendengar ada orang saleh, ia membawaku kepadanya. Kepada orang yang saleh yang dikunjungi, ia memintakan doa untukku. Ternyata permintaan doa betul-betul terkabul. Aku mendapatkan keberkahan dari orang-orang saleh tersebut.”

Tarekat yang pendiriannya dinisbatkan kepada wali quthub bernama Muhammad Bahâ’uddîn bin Muhammad bin Muhammad al-Syarîf al-Husaini al-Hasani al-Uwaissî al-Bukhârî. Lebih dikenal dengan sebutan Syaikh an-Naqsyabandî.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Baca Juga:
Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Continue Reading

Thariqah

Biografi dan Silsilah Thariqah Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul memiliki nama asli KH. Muhammad Zaini Ghani. Beliau dikenal diseluruh pelosok negeri Indonesia terutama masyarakat Banjarmasin. Abah Guru Sekumpul merupakan ulama kharismatik asal Banjarmasin dan merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Yakni, KH. Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah Mufti bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan).

Lakab Guru Sekumpul merupakan panggilan akrab dari jamaahnya. Beliau lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Abah Guru Sekumpul ketika lahir diberi nama Qusyairi, namun karena sering sakit kemudian namanya diganti menjadi Muhammad Zaini.

Sewaktu kecil, ia tinggal di Kampung Keraton. Ayahnya, Abdul Ghani, dan ibunya, Masliah merupakan keluarga yang kekurangan dari segi ekonomi. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh penggosok batu intan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Meski hidup prihatin dan sederhana, Zaini muda mendapat pendidikan yang baik dari ayahnya dan neneknya yang bernama Salabiah. Di lingkungan keluarga ia mendapat didikan yang ketat dan disiplin serta mendapat pengawasan dari pamannya, Syekh Semman Mulya. Pada usia 5 tahun ia belajar al-Qur`an dengan Guru Hasan Pesayangan dan pada usia 6 tahun menempuh pendidikan di Madrasah Kampung Keraton. Pada usia 7 tahun ia masuk ke Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Abah Guru Sekumpul muda menempuh pendidikan di Pesantren Darussalam selama 12 tahun (1949-1961 M). Pada tahun 1949 (usia 7 tahun) ia masuk tingkat Tahdhiry/ Ibtida’iy dan pada tahun 1955 (usia 13 tahun) ia melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Pesantren yang sama. Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1961 (usia 19 tahun), lulus dengan nilai jayyid mumtaz. Selain belajar secara formal di pondok pesantren Darussalam, beliau juga menuntut ilmu di sejumlah halaqah di kediaman para ulama di sekitar Martapura sebagaimana lazim dilakukan oleh para santri di pesantren Darussalam. Tidak hanya itu, ia juga belajar dengan sejumlah guru di luar daerah Martapura, di antaranya ia pernah belajar dengan KH. M. Aini di Kampung Pandai Kandangan dan pernah belajar dengan KH. Muhammad di Gadung Rantau.

Sekitar tahun 1965 (usia 23 tahun), Abah Guru Sekumpul berangkat bersama pamannya, KH. Semman Mulya ke Bangil. Di Bangil ia dibimbing oleh Syekh Muhammad Syarwani Abdan selama beberapa waktu. Setelah memperoleh bimbingan spiritual, Zaini Muda disuruh sang guru untuk berangkat ke Mekkah menemui Sayyid Muhammad Amin Qutbi untuk mendapat bimbingan sufistik darinya. Sebelum berangkat ke Makkah, ia terlebih dahulu menemui Kyai Falak (Mama Falak) Bogor dan di sini ia memperoleh ijazah dan sanad suluk dan thariqah. Sambil menunaikan ibadah haji, Abah Guru Sekumpul mendapat bimbingan langsung dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi dan dihadiahi sejumlah kitab tasawuf.

Dengan demikian, Abah Guru Sekumpul telah belajar secara khusus tentang Tasawuf dan Suluk kepada tiga ulama, yaitu Syekh Syarwani Abdan di Bangil, Mama Falak di Bogor dan Sayyid Muhammad Amin Qutbiy di Makkah. Selain itu, rantai keilmuannya tersambung dengan sejumlah ulama besar di Makkah. Hal ini terlihat dari beberapa sanad bidang keilmuan dan thariqah yang diambilnya dari beberapa ulama diantaranya, Sayyid Muhammad Amin Qutbiy, Sayyid ‘Abd al-Qadir al-Bar, Sayyid Muhammad bin ‘Alwiy al-Malikiy, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Kyai Falak Bogor dan Syekh Isma’il al-Yamani. Kegemarannya menuntut ilmu dan bersilaturrahmi ke sejumlah ulama membuatnya memiliki banyak guru baik di Kalimantan, Jawa dan Madura maupun di Timur Tengah (Makkah). Ada yang menyebutkan bahwa gurunya berjumlah sekitar 179 hingga mendekati 200 orang. Wallahua’lam.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending