Connect with us

Nasional

Silaturahmi KH Thoifur Mawardi ke kediaman Maulana Habib Luthfi

Rabu, 7 Oktober 2020 selepas Isya Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan kedatangan seorang tamu, ulama kharismatik dari kota Purworejo Jawa Tengan, alumni Abuya Sayid Muhammad Almaliki Mekkah, yaitu KH Thoifur Mawardi Purworejo.

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online: Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan terlihat sangat gembira dan senang sekali dg kedatangannya.

Begitu beliau tiba dan duduk sejenak di ruang tamu, sudut atas, maka salah seorang abdi dalem beliau memberi tahu, maka beliau Maulana Habib Luthfi bin Yahya langsung beranjak dari kamarnya dan segera menemuinya. Ternyata memang kedatangannya itu tengah dinanti-nanti oleh beliau.

Dua ulama besar yg saling menghormati dan saling menyintai, satu dari kalangan kyai yg satu dari kalangan dzurriyah nabi saw, persis seperti yg pernah terjadi dan dialami pada sahabat Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit ra.

Kedatangan KH Thoifur Mawardi Purworejo di kediaman Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan disamping untuk silaturahmi, juga untuk membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan masalah umat, perjuangan dakwah dan lainnya, juga untuk mengantarkan sebuah kitab karya Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan yg usai disyarahi dan beri ta’liq oleh beliau.

Pertemuan kedua ulama besar tersebut walaupun dalan waktu singkat dan tidak lama, yakni sekitar 2-3 jam, tapi terlihat sangat hangat penuh keakraban dan sejuk di pandang, petanda rahmat dan barokah Allah akan segera turun untuk keamanan dan keselamat negeri tercinta Indonesia ini, yg tengah dilanda berbagai macam masalah, penyakit dan lain sebagainya.

Keduanya mengungkapkan berbagai cerita sejarah dan untaian ilmu yg sangat menarik, yg kami hanya dapat tercengang, sambil mendengar dan mencatatnya dg setia.

Dari mulai cerita tentang sholawat, keampuhan membaca sholawat, sejarah nabi, makam para wali dari india, Mesir, Yaman, Mekkah hingga Indonesia, kaum Wahabi, sejarah para pejuang Indinesia, hingga cerita tentang guru mereka berdua, yaitu Abuya Sayid Muhammad al-Maliki Mekkah.

Yang menarik adalah saat Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan menceritakan secara rinci tentang berbagai karomah Abuya Sayid Muhammad al-Malik dan bagaimana kecintaan, perhatian, sayangnya Abuya Sayid Muhammad kepadanya, maka KH Thoifur Mawardi Purworejo menuturkan dengan tegas, “Iya betul, kawan-kawan santri menceritakan hal itu semua kepadaku. Abuya Sayid Muhammad al-Maliki Mekkah telah memperlakukan Maulana Habib Luthfi bin Yahya dengan sangat istimewa dan luar biasa, dan beliau sangat cinta dan sayang dengan Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.”[Habib Muhdor Ahmad]

Berita

KH Shodiq Hamzah Terima Gelar Doctor HC UIN Walisongo

Published

on

Semarang, JATMAN Online – KH Shodiq Hamzah menerima gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa (Dr. HC) dari UIN Walisongo dalam bidang Ilmu Tafsir pada Fakultas Ushuluddin dan Humaniora.

Penganugerahan diserahkan Rektor UIN Walisongo di Aula 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Selasa (29/11).

Kiai Shodiq mendaparkan gelar tersebut karena kiprahnya memberikan kontribusi yang signifikan dalam pendidikan Islam terutama dalam bidang Ilmu Tafsir al-Qur’an.

Promotor Prof. Dr. K.H. Ridlwan Nasir, M.A. dalam sambutannya menyampaikan dasar pemikiran penganugerahan ini ada beberapa, diantaranya karya-karya KH Shodiq Hamzah di bidang Alquran dan Tafsir.

“Karya-karya K.H. Shodiq Hamzah di Bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang tidak diragukan lagi diantaranya Al-Bayan Fi Ma’rifati Ma’ani Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, Qalb Al-Qur’an, Zubdatu Al-Bayan Fi Bayani Fadla’il Al-Suwar Al-Qur’an dan Dhilal Al-Manazil Fi Tarjamati Yasin dan Tahlil,” katanya.

Selain itu, produktifitas K.H. Shodiq dalam menghasilkan Karya (Kitab) dalam berbagai bidang Keilmuan Agama, setidaknya ada 37 kitab dan risalah hasil karya.

“jaringan Intelektual Ulama K.H. Shodiq Hamzah, yang sudah berlevel dunia melalui jaringan haramain dan sebagai salah satu pemegang sanad keilmuan dari Syekh Yasin al- Fadani hingga Sanad Keilmuan dari jaringan Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen Demak hingga Haramain,” jelasnya.

Prof. Ridlwan menambahkan, dalam bidang Sosial Keagamaan kiprah KH. Shodiq Hamzah, tidak diragukan lagi. Kyai kelahiran Demak 1 Januari 1954 ini juga berkiprah dalam aktivitas sosial dan keagamaan.

“Ia tercatat Pendiri dan Pengasuh PP. Asshodiqiyah Semarang, Pendiri dan pembimbing KBIHU Asshodiqiyah Semarang, Penasehat Masjid Agung Jawa Tengah, Penasehat MUI Jawa Tengah, Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang (1998-2000 dan 2010-2015), Anggota Dewan Syari’ah Forum Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Pusat, Pengurus JATMAN Idharah Wustha Jawa Tengah, Pendiri Yayasan Pendidikan Al-Fattah Sayung, Demak dan Salah satu pemrakarsa berdirinya Universitas Wahid Hasyim Semarang,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. Imam Taufiq menyampaikan pemberian gelar Doktor HC kepada KH Shodiq Hamzah atas kiprahnya dalam bidang ilmu Tafsir, terutama melalui salah satu karyanya yaitu Tafsir Al Bayan.

Kitab Al Bayan-fi Ma’rifah Ma’ani Al Quran ini menekankan aspek local genuine yang berorientasi pada bahasa dan konteks sosio kultural yang menggunakan bahasa Jawa latin kromo sebagai media penulisannya.

“Karya beliau dalam konteks kearifan lokal menjadi konsep kunci penyebarluasan ajaran agama. Selaras dengan UIN Walisongo yang menginisiasi paradigma kesatuan ilmu dalam keseluruhan proses akademik,” paparnya.

Prof Imam mengatakan bahwa kearifan local menjadi hal penting dalam menandai integritas keilmuan dan KH Shodiq Hamzah menjadikan kearifan lokal sebagai poin penting dalam karyanya, terepresentasi dalam spirit bi lisaani qaumihi sebagai ikhtiarnya dalam melestarikan risalah agama dalam karyanya.

KH Shodiq Hamzah menyampaikan pidato penganugerahan gelar kehormatan berjudul Al Quran dan spirit bilisani qaumih; Ikhtiar melestarikan risalah agama dalam bingkai kearifan lokal. Al-Quran hadir untuk semua umat. Fleksibilitas Al-Quran melalui ragam qiraat dan lahjah menjadikan Al-Quran responsif terhadap kondisi dan kebutuhan umat manusia.

Kemudahan Al-Quran untuk diakses oleh siapapun, menjadikan semua umat dapat mendekatinya dari berbagai aspek sesuai latar belakang dan kecenderungannya.

Ia menjelaskan dalam konteks peran mufasir dan ulama sebagai waratsatul anbiya, Al-Quran memberikan landasan bilisani qaumihi, suatu prinsip yang menunjukkan adanya kesadaran terhadap realitas dan kondisi umat.

“Dalam proses menafsirkan dan produk tafsir dari seorang ulama harus mencerminkan nilai-nilai kontekstual sekaligus menjaga lokalitas yang dapat memberikan solusi nyata khususnya bagi masyarakat dimana seorang mufasir berada, sehingga keberadaan Al-Quran sebagai hudan dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Continue Reading

Berita

Pembaretan Seribu Banser Semarang oleh Habib Luthfi

Published

on

NU Online Jateng

Semarang, JATMAN Online – Pembaretan kepada 1.000 Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Semarang secara simbolis dalam Kirab Merah Putih oleh Rais ‘Aam Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Maulana Habib Luthfi bin Yahya di lapangan Simpanglima Kota Semarang, Ahad (27/11) pagi.

Habib Luthfi dalam orasi kebangsan di Simpanglima Kota Semarang mengingatkan pentingnya nasionalisme dan menjaga persatuan bangsa. Sebab, menurut dia nusantara sangat besar dan disegani pada masa dahulu karena kekuatan persatuan, terutama sebagai salah satu jalur perdagangan atau yang dikenal dengan jalur sutra.

“Tunjukkan merah putih kita, tidak cukup yang dikibarkan tapi di dada kami. Merah putih melekat di dada disinari pancaran imannya. Dimanapun ia berada tetap cinta Indonesia,” kata Habib Luthfi.

“Kemerdekaan Indonesia berdarah, bukan hadiah,” tegasnya.

Usai memberikan orasi kebangsaan, Habib Luthfi melaksanakan pembaretan kepada 1.000 Banser secara simbolis. Pembaretan disaksikan langsung oleh jajaran Forum Komunikasi Daerah (Forkompinda) Kota Semarang, Camat, dan beberapa tamu kehormatan.

Dilansir dari NU Online Jateng, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Semarang Abdur Rahman seusai Kirab Merah Putih menyampaikan, pembaretan 1.000 Banser merupakan hasil kerja keras seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor.

“Alhamdulillah kerja keras dari seluruh pengurus PAC ini telah selesai mengikuti Diklatsar dan sudah mengikuti berbagai kegiatan sebagai rencana tindak lanjut (RTL). RTL ini salah satu bentuk komitmen seorang anggota baru Banser setelah mengikuti Diklatsar,” jelasnya.

PAC Ansor Kecamatan Ngaliyan, lanjutnya, berhasil merekrut 70 personil Banser, Pedurungan 80 personel, Genuk 150 personel, Tembalang 120 personel, Gunungpati 180 personel, Semarang Utara 120 personel, Banyumanik 180 personel, Tugu 65 personel, dan Gayamsari 35.

“Total ada 1000 personel baru. Ini nantinya masih akan dikelola lagi karena Banser memiliki kesatuan-kesatuan yang berbeda,” katanya.

Abdur Rahman mengatakan bahwa pembinaan setelah kaderisasi tahap awal sebagai Banser harus dilakukan dengan baik.

“Nanti masih ada Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) dan spesialisasinya, karena itu semua pasukan harus dididik dengan baik,” ujarnya.

Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ini bagi calon anggota Ansor dan lanjut mengikuti Diklatsar Banser merupakan agenda Ansor di tingkat kota/kabupaten. Namun, kata dia pada pelaksanaannya diberikan kepada PAC Ansor, siap maupun tidak siap.

“Bagi PAC yang belum siap bisa kita dorong, kita bantu agar bisa melakukan kaderisasi dasar karena ini kepentingan PAC agar terus berkembang sampai bisa membentuk ranting di semua kelurahan. Ini yang terus kita koordinasikan agar dua kaderisasi dasar ini bisa terlaksana di semua PAC,” pungkasnya.

Continue Reading

Berita

KH Zulfa Mustofa: Jangan Jadikan NU dan Pesantren Sebagai Alat Politik

Published

on

Jakarta, JATMAN Online – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Waketum PBNU) KH. Zulfa Mustofa memberikan tausiyah di hadapan para ulama dan santri Pondok Pesantren Manba’ush Sholichin Al-Charomain Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (10/9) silam.

Pesantren adalah NU lingkup yang lebih kecil, kalau ingin melihat ajaran-ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah ataupun pemikiran-pemikiran NU, manhaj NU, Thariqah NU maka lihatlah apa yang diajaran di Pesantren, dari mulai kajian fiqih, tauhid, tasawuf, tafsirnya.

“Dan dipesantren banyak kitab-kitab yang dikarang oleh ulama-ulama Nusantara salah satunya yakni, Syekh Nawani Al-Bantani,” kata Kiai Zulfa dikutip dari channel TV NU (29/11).

Kiai Zulfa menyebut pesantren dalam bahasa arab disebutkan sebagai Surah Musagharah Min Nahdlatul Ulama artinya miniaturnya Nahdlatul Ulama. Dan para pengurus Nahdlatul Ulama kebanyakan dari para pimpinan-pimpinan di Pesantren seluruh Indonesia.

Kiai Zulfa mengatakan bahwa banyak santri-santri hebat yang saat ini tengah menjalani karier di berbagai bidang dan tengah berjuang menjadi Menteri dan Presiden.

“Santri tidak boleh minder dan berkecil hati tidak bisa cakap dalam berbagai segmen dan lini-lini penting di kepemerintahan, buktinya kita pernah punya Presiden Indonesia, yaitu KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden saat ini. Santri harus banyak belajar dan gantungkan cita-citanya agar kelak kemudian hari bisa mencapai cita-cita itu,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Kiai Zulfa juga memperkenalkan kitab karangan yang ditulis sendiri yang berjudul Tuhfatul Qosiwadani fi tarjamahi syekh Muhammad Nawawi Bin Umar Al-Bantani, kitab ini berisi tentang sejarah Syekh Nawawi Al-Bantani sebagai Min Akbar Ulamai Jawi, yang berarti ulama jawa terbesar pada masanya. Syekh Nawawi mengarang kitab kurang lebih sebanyak 100 lebih.

“Nahdlatul Ulama dan Pesantren ini lebih besar daripada partai dan kepentingan politik apapun, maka dari itu jangan jadikan NU dan pesantren sebagai alat politik, Karena NU dan pesantren jauh lebih besar dan jauh lebih dahulu daripada itu semua,” ungkapnya.

Pewarta: A’isy Hanif Firdaus

Editor: Arip Suprsasetio

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending