Connect with us

DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Road Map Kehidupan Manusia

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Kehidupan Manusia

Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari kehidupan di alam ruh (arwah), alam rahim (arham), alam dunia, alam kubur (barzakh), sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan setiap fase dari perjalanan panjang manusia tersebut.

Kehidupan di alam ruh (arwah) sudah kita lalui dan kita tidak akan pernah mengetahui, berapa lama kita hidup di alam ruh (arwah) tersebut. Demikian juga kehidupan di alam rahim (arham)
telah kita lalui. Berdasarkan informasi yang bersumber dari ayat-ayat suci al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dapat diketahui bahwa manusia hidup di alam rahim selama kurang lebih 9 (sembilan) bulan dari sejak pembuahan hingga 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani yang bercampur ovum); kemudian berkembang menjadi ‘alaqah (yang menempel di dinding rahim) selama 40 hari; kemudian berkembang menjadi mudlghah (segumpal daging) selama 40 hari. Sesudah genap 120 hari (4 bulan) dalam kandungan, berkembanglah menjadi janin yang siap ditiupkan ruh dan dituliskan kembali 4 (empat) hal yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT dan ditulis di lauh mahfudz, yakni; rizkinya, ajalnya, amal baik atau buruknya, serta nasibnya, baik bahagia maupun celaka. Sesudah genap berusia 6 (enam) bulan dalam kandungan, maka janin sudah siap dilahirkan sebagai bayi. Sungguh pun demikian, biasanya janin akan dilahirkan dengan sempurna pada usia kehamilan sekitar 9 (sembilan) bulan.

Sesudah dilahirkan dari perut Sang Ibu hingga wafat, manusia mengalami kehidupan pada fase ketiga, yakni kehidupan di alam dunia. Berapa lamakah manusia akan menjalani kehidupan di alam dunia? Sangat relatif. Ada yang begitu lahir langsung wafat, ada yang wafat saat masih bayi, ada yang di usia anak-anak, usia remaja, dewasa, setengah baya dan ada yang wafat sesudah tua renta. Semua bergantung pada takdir dan ketentuan Allah SWT. Sungguhpun demikian, Rasulullah SAW telah bersabda, bahwa “Umur umatku adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun”. Memang ada di antara umat Nabi Muhammad SAW yang usianya mencapai delapan puluh tahun, sembilan puluh tahun, bahkan lebih dari seratus tahun. Akan tetapi hal itu terbilang sangat langka.

Agar dalam mengarungi kehidupan di alam dunia manusia menjalaninya sesuai dengan tujuan dan tugas yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, yakni beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah di muka bumi, maka Allah SWT mengutus para nabi dan rasul serta menurunkan kitab suci yang berfungsi sebagai pembimbing dan pemberi pedoman bagi umat manusia dalam menempuh perjalanan hidup (rihlah) tersebut; suatu rihlah panjang yang akan dilalui oleh setiap manusia tanpa kecuali, sesuai rencana yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Perjalanan hidup manusia di alam dunia akan berakhir dengan kematian. Semua manusia, baik laki-laki ataupun perempuan; tua atau muda; beriman atau kafir; pemimpin dan pejabat negara ataupun rakyat biasa; konglomerat, orang yang kaya raya ataupun orang yang miskin, pasti akan wafat untuk menghadap Allah SWT serta mempertangung-jawabkan seluruh amal perbuatannya. Mereka akan meninggalkan keluarga, harta benda, pangkat dan jabatan serta segala sesuatu yang telah dikumpulkannya. Semua tidak akan berguna, kecuali iman dan amal salehnya, terutama shodaqoh jariyah (sedekah yang terus mengalir pahalanya), ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh.

Kematian adalah penghancur kelezatan dan gemerlapnya kehidupan di alam dunia (hadim al-ladzat).1 Kematian adalah akhir dari kehidupan manusia di dunia dengan segala hal yang telah dipersembahkannya. Sungguhpun demikian, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Justru kematian merupakan awal kehidupan yang hakiki. Bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kematian merupakan salah satu fase dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia yang pendek, sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk menuju akhirat yang panjang, kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga penuh dengan kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum terlintas oleh pikiran manusia. Sementara bagi orang-orang yang kafir, kematian merupakan sesuatu yang menakutkan. Oleh karena itu, mereka berupaya menghindar dari kematian dan ingin hidup di dunia seribu tahun lagi. Akan tetapi sikap orang-orang kafir tersebut adalah sia-sia dan utopia belaka, karena kematian pasti datang menjemput mereka.

Sesudah mengalami kematian di alam dunia, manusia akan menjalani kehidupan pada fase keempat, yaitu kehidupan di alam kubur (alam barzakh) yang sangat panjang, bisa berlangsung selama ribuan tahun tergantung pada kehendak Allah SWT, yaitu sejak wafat hingga datang hari kiamat. Selama berada di fase ini, manusia tinggal sendirian. Hanya iman dan amal saleh yang akan menemaninya. Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau jurang dari jurang-jurang neraka. Begitu memasuki kehidupan di alam kubur, manusia sudah akan mengetahui nasibnya, apakah termasuk ahli surga atau ahli neraka. Jika seseorang akan menjadi penghuni surga, maka sejak di alam kubur sudah dibukakan baginya pintu surga setiap pagi dan sore. Hawa serta kenikmatan surga sudah akan mereka rasakan. Sebaliknya jika akan menjadi penghuni neraka, maka sejak di alam kubur, pintu neraka pun akan dibukakan untuknya setiap pagi dan sore serta akan merasakan azab serta hawa panas api neraka yang sangat dahsyat.

Ketika hari kiamat telah tiba yang ditandai dengan terjadinya kehancuran total seluruh jagad raya atau alam semesta, maka manusia akan memasuki kehidupan pada fase kelima atau terakhir, yaitu kehidupan di alam akhirat yang bersifat abadi. Sesudah terjadinya kiamat, kehidupan manusia di alam akhirat dimulai dengan kebangkitan dari alam kubur yang disebut dengan yaum alba’ats. Kemudian seluruh manusia dari mulai Nabi Adam AS. sampai manusia terakhir dikumpulkan dalam satu tempat yang disebut Padang Mahsyar. Hari penghimpunan manusia di Padang Mahsyar ini disebut yaum al-hasyr. Saat itu, jarak matahari dengan manusia sangat dekat, sekitar satu mil, sehingga banyak di antara manusia yang mengalirkan keringat dari tubuhnya. Ada orang yang terus menerus mengalirkan keringat hingga membanjiri tubuhnya sampai pergelangan kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusar, ada yang sampai dada, bahkan banyak yang tenggelam oleh keringatnya sendiri. Semua tergantung pada amalnya.

Untuk apa umat manusia dihimpun di Padang Mahsyar? Mereka akan menjalani proses penghitungkan amal perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di alam dunia. Mereka harus mempertanggung-jawabkan seluruh amal perbuatannya di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, hari tersebut dinamakan yaum al-hisab. Sesudah selesai proses penghitungan amal, maka manusia akan menerima balasan dari hasil amal perbuatannya selama hidup di alam dunia. Inilah yang disebut yaum al-jaza’ (hari pembalasan). Bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh kemudian meraih rahmat Allah SWT, maka mereka akan mendapat balasan surga jannatu an-na’im (tempat kenikmatan) dan kekal di dalamnya. Sebaliknya, bagi orang-orang kafir, musyrik dan munafiq, mereka akan ditempatkan di neraka jahannam selama-lamanya. Sedangkan bagi orang-orang yang beriman, tetapi banyak berbuat maksiat dan dosa, maka nasibnya bergantung pada ketentuan Allah SWT. Jika Allah SWT berkenan mengampuni semua dosa mereka, maka mereka akan langsung ditempatkan di dalam surga selama-lamanya. Akan tetapi jika Allah SWT tidak mengampuni dosa-dosanya, maka mereka akan menerima balasan siksa di nereka atas perbuatan dosanya. Sesudah serangkaian siksaan atas dosa-dosanya, baru mereka dipindahkan ke surga jannatu an-na’im dan mereka akan kekal di dalamnya. Semoga kita para pembaca buku ini, termasuk orang-orang yang kelak akan masuk surga tanpa hisab. Amin Ya Mujibas sa’ilin.[]


1Perhatikan sabda Rasulullah SAW: perbanyaklah mengingat-ingat kematian yang dapat menghancurkan (merusak) dunia kelezatan (اكثروا من ذكر هاذم اللذات)

Baca juga: Do’a Bersama dan Sosialisasi Wathonah Jawa Timur

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (3)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.

Selain itu, para santri juga harus menghindari akhlak tercela (al-akhlak al-madzmumah) yang bersemayam di dalam dirinya. Di antaranya adalah sbb. :

  1. Pembohong. Bohong adalah menyampaikan informasi yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan kejadian yang sebenarnya. Apabila kita ingin menjadi manusia yang sukses, maka pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menjauhi kebohongan serta berpegang teguh pada kejujuran. Jika seseorang suka berdusta maka ia akan terjerumus pada kemunafikan sehingga layak disebut sebagai orang munafik.
  2. Munafik. Yaitu orang yang lahiriahnya berbeda batiniahnya. Performen lahiriahnya tampak bagus tetapi hatinya busuk, sehingga banyak orang yang tertipu.  Sifat munafik sangat tercela, sehingga  Al-Qur’an menyebutkan, bahwa orang-orang munafik itu kelak berada di neraka paling bawah. Pada masa Rasulullah SAW, orang-orang munafik sangat merepotkan karena mengganggu perjuangan beliau. Secara lahiriah mereka menampakkan seperti seorang muslim yang taat kepada Nabi, tetapi pada kenyataannya mereka berusaha merusak dan menghancurkan perjuangan beliau dari dalam. Rasulullah dalam hadistnya menyebutkan bahwa di antara ciri-ciri orang munafik adalah apabila  berbicara, suka berbohong; apabila berjanji, suka menginkari, dan apabila diberi amanah (dipercaya), suka berkhianat.

    “Ciri-ciri orang munafiq itu ada tiga; jika berbicara bohong, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanat berkhianat”.
  3. Bermuka dua. Di antara bentuk lain dari sifat munafiq adalah bermuka dua, yaitu ketika bertemu seseorang dia memujinya, tetapi di belakangnya ia menjelek-jelekkan bahkan mencaci makinya. Sebagaiman disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukahri dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

    “Dan engkau akan menjumpai sejahat-jahat manusia adalah orang yang bermuka dua. Dia menghadapi suatu kelompok dengan satu muka dan menghadapi kelompok yang lain dengan muka yang lain pula”.

    Demikian juga ucapan sahabat Abdullah ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

    “Dari Muhammad ibn Zaid bahwa ada sekelompok orang yang bertanya kepada kakeknya, yakni sahabat Abdullah ibn Umar RA.: Sesungguhnya kami, jika  menghadap para pejabat kami akan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kami bicarakan ketika kami telah keluar dari ruangan mereka. Sahabat Ibnu Umar berkata; Menurut hemat kami, perbuatan tersebut pada masa Rasulullah SAW dinilai sebagai perbuatan munafiq.”
  4. Egois, yaitu sifat yang hanya mementingkan diri sendiri dan sama sekali tidak memperdulikan penderitaan orang lain, terutama penderitaan yang dialami oleh umat Islam. Orang seperti ini pada hakikatnya tidak layak dikelompokkan sebagai bagian dari umat Islam. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW :

    “Barangsiapa tidak memperdulikan nasib ummat Islam, maka ia tidak  termasuk golongan mereka”.
  5. Konsumtif dan berlebih-lebihan  dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, karena hal itu sangat berpotensi menambah berat badan dan kegemukan (obesitas) sehingga mudah mengantuk dan malas beribadah serta belajar, bahkan berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit.

    Demikian juga berfoya-foya dalam membelanjakan dan mempergunakan harta sehingga mubaddzir. Bentuk lain dari sifat tabdzir adalah membuang sisa-sisa makanan yang tidak habis karena terlalu banyak dalam memasak atau mengambil makanan melebihi kebutuhan. Sifat tabdzir dinilai oleh Allah SWT sebagai sifat dan prilaku syaitan. Mereka dengan gampang membuang-membuang makanan, padahal di tempat lain banyak orang yang kelaparan karena tidak memiliki bahan makanan. Sebagaimana telah difirmankan Allah dalam surat al-Isra’ ayat 26 – 27:

    “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros adalah teman syetan dan syetan sangat ingkar kepada Allah”.
  6. Pelit (bakhil) dalam membayar zakat, infak dan sedekah serta dalam membantu kaum yang lemah. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 180:

    “Janganlah sekali-kali orang-orang yang pelit (bakhil) dengan harta yang Allah telah anugerahkan kepada mereka menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) dilangit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
  7. Takabbur (sombong), yaitu suatu sifat buruk yang bersemayam dalam diri seseorang karena merasa bahwa dirinya adalah orang hebat atau merasa memiliki keunggulan-keunggulan di atas orang lain. Sifat ini bisa muncul karena berbagai faktor. Bisa jadi karena merasa berasal dari keturunan orang-orang yang terhormat, bisa jadi karena merasa kaya, pandai, mempunyai pangkat dan kedudukan yang tinggi dsb. Takabbur atau sombong merupakan sifat buruk yang dibenci oleh Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Isra’ ayat 37:

    Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai puncak gunung”.

    Takabbur  terbagi menjadi  3 (tiga) macam; yaitu (1). Takabbur kepada Allah SWT, yang tercermin dalam sikap menolak untuk beribadah serta tidak mau memperdulikan ajaran-ajaran-Nya. (2). Takabbur kepada Rasulullah SAW yang tercermin dalam sikap menolak untuk mematuhi ajaran-ajarannya serta mengikuti sunnah-sunnahnya. (3). Takabbur kepada sesama manusia yang tercermin dalam sikap dan prilaku yang menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain.

    Untuk menghilangkan atau mengurangi sifat takabbur (sombong) yang bersemayam di dalam hati serta menumbuh kembangkan sifat tawadlu’, dapat dilakukan dengan beberapa cara sbb.:

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya bahwa manusia pada mulanya tercipta dari sperma (air mani) yang menjijikkan dan sama sekali tidak berharga, kemudian pada akhir kehidupannya, sesudah wafat akan menjadi bangkai yang lama kelamaan membusuk dan baunya sangat menyengat sehingga tidak ada seorang pun yang mau mendekati apalagi menemaninya, meskipun istri atau suami dan anak-anaknya. (الانسان اوله نطفة واخره جيفة). 

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa semua kelebihan yang dimilikinya, baik berupa wajah yang tampak atau cantik, harta benda yang melimpah ruah, ilmu pengetahuan dan gelar atau prestasi akademiki, pangkat, jabatan dsb. adalah karunia atau anugerah dari Allah SWT  yang wajib disyukuri, bukan untuk disombongkan; sekaligus juga  amanah yang kelak akan dimintakan pertanggung-jawaban.

    – Memandang orang lain dengan kelebihannya serta memandang diri sendiri dengan kekurangannya. Di antara nasehat Sulthan al-Auliya’ al-Syeh Abdul Qadir al-Jilani kepada para muridnya adalah sbb. ”Jika engkau bertemu orang yang berilmu (ulama), maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau beribadah didasarkan pada ilmu, sedangkan engkau beribadah hanya ikut-ikutan tanpa ilmu. Jika engkau bertemu orang yang bodoh, engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Dia berbuat maksiat dan dosa karena kebodohannya. Sedangkan engkau sudah berilmu, tapi masih berbuat maksiat dan dosa. Jika engkau bertemu orang yang lebih tua, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau sudah banyak amal ibadahnya, sedangkan engkau masih muda sehingga belum banyak beribadah. Jika engkau bertemu orang yang lebih muda, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena dia masih muda sehingga belum banyak dosanya, sedangkan engkau sudah tua sehingga sudah banyak berbuat dosa dan maksiat.

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa sifat takabbur (sombong) dapat menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, bahkan penolakan terhadap perintah Allah SWT. Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud (menghormat) kepada Adam, karena sifat sombong. Iblis yang diciptakan dari api merasa lebih baik dari pada Adam yang diciptakan dari tanah. Akibatnya Allah SWT membencinya dan mengusirnya dari surga. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-A’raf 12 – 13 :

    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surge, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
  8. Hasad (Iri Hati atau Dengki) adalah sifat atau rasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain, baik berupa harta, jabatan, pangkat, kesehatan maupun yang lain, kemudian dia ingin atau berusaha menghilangkan kenikmatan tersebut dari orang lain tersebut, baik dengan maksud supaya kenikmatan itu berpindah kepadanya atau tidak. Hasad adalah termasuk akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah), bahkan sangat berbahaya karena dapat mencelakakan orang lain. Seseorang yang hasad kepada orang lain akan berusaha menghilangkan kenikmatan yang diperoleh orang tersebut dengan berbagai cara, termasuk mencelakakan bahkan membunuhnya.

    Pada hakikatnya, seseorang yang bersifat hasad  adalah orang yang kurang beriman karena dia tidak rela terhadap kehendak dan ketentuan Allah SWT yang menganugerahkan kenikmatan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, untuk meredam sifat hasad yang bersemayam dalam diri manusia, diperlukan peningkatan dan penguatan iman sehingga dia menyadari bahwa kenikmatan adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Perlu ditanamkan juga bahwa sifat hasad itu akan menggerogoti pahala amal kebaikan, bagaikan api yang melahap kayu bakar.[]

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Rahim (Arham)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Alam Rahim

Sesudah sepasang pria dan wanita menikah serta melakukan hubungan suami istri, maka dengan izin Allah SWT seorang ibu akan hamil. Pada saat itulah kita sebagai manusia mengalami kehidupan pada fase kedua, yakni kehidupan di alam rahim atau arham. Ketika berada di alam arham, kita berproses dari nuthfah (sperma dan ovum) selama 40 hari. Kemudian berkembang dan berubah menjadi‘alaqoh (yang menempel di dinding rahim) selama 40 hari.

Kemudian berkembang dan berubah menjadi mudlghoh (segumpal daging). Sesudah berproses selama 40 hari, manusia yang semula masih dalam bentuk mudlghoh (segumpal daging), telah menjadi sempurna sebagai janin. Ketika usia kehamilan telah mencapai 120 hari (4 bulan), maka Allah SWT menyempurnakan penciptaan manusia dengan meniupkan ruh ke dalam tubuh janin.

Pada saat itu, Allah SWT juga mengutus malaikat untuk menuliskan kembali 4 (empat) ketentuan (takdir atau nasib) yang akan dialami oleh setiap manusia. Yaitu; (1). Rizkinya (2). Ajal atau masa kematiannya (3). Amal perbuatannya, baik atau buruk (4). Berbahagia dan beruntung atau celaka. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 189:

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah digaulinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (dalam beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah Kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Demikian juga dalam surat al-Mukminun (23) ayat 12–14:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia, makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik”.

Bedasarkan firman Allah SWT di atas dapat diketahui, bahwa jauh sebelum sains modern menemukan proses pembentukan embrio manusia , pada ke-7 M al-Quran telah menjelaskan proses tersebut secara detail. Prof Keith L Moore, guru besar Departemen Anatomi dan Biologi Sel Universitas Toronto pun telah membuktikan kebenaran firman Allah SWT tersebut. Beliau berkata “Saya tidak tahu apa-apa tentang agama, namun saya meyakini kebenaran fakta yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah,” papar Moore yang terkagum-kagum dengan penjelasan ayat suci al-Qur’an di atas yang secara akurat telah menjelaskan perkembangan embrio manusia.

Ayat suci al-Qur’an secara gamblang telah menjelaskan proses pembentukan embrio manusia. Al-Qur’an telah berbicara tentang pertumbuhan janin di dalam perut ibu fase demi fase, padahal janin dan pertumbuhannya tidak terlihat dengan mata kepala dan tidak mungkin juga dijelaskan hanya dengan menduga-duga atau mengira-ngira. Sains modern baru mengetahui proses penciptaan manusia di dalam rahim setelah ditemukannya alat–alat pemeriksaan modern. “Saya sungguh sangat berbahagia bisa membantu mengklarifikasi pernyataan al-Qur’an tentang proses perkembangan penciptaan manusia. Jelaslah bagi saya, bahwa pernyataan al-Qur’an itu pasti turun kepada Muhammad dari Tuhan,” papar Moore, ilmuwan terkemuka dalam bidang anatomi dan embriologi.

Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Mu’minun ayat 12-14 di atas dapat disimpulkan bahwa terbentuknya janin dalam rahim ibu adalah melalui 6 (enam) tahap (fase) sbb:

Tahap pertama; penciptaan janin dalam bentuk saripati air mani (nuthfah) yang disebut sulalah. Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan “dari saripati air mani yang hina”. Manusia bukan diciptakan dari seluruh mani yang keluar dari suami–istri, tetapi hanya dari bagian yang sangat halus. Itulah yang dimaksud dengan “sulalah”. Menurut riset yang telah dilakukan oleh para ahli anatomi dan embriologi, bahwa manusia itu tercipta hanya dari satu sel sperma saja. Sungguh hal itu sangat sedikit sekali bila dibanding dengan jutaan sel sperma yang keluar dari seorang pria. Sulalah adalah kata yang paling tepat dan cocok untuk menggambarkan proses terbentuknya janin, karena satu dari jutaan sperma seorang pria bergerak menuju ke dalam rahim untuk membuahi ovum seorang wanita.

Tahap kedua disebut ‘alaqoh. “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqoh).” ‘Alaqoh juga berarti nama dari binatang kecil yang hidup di air dan di tanah (sebangsa lintah) yang terkadang menempel di mulut binatang pada waktu minum air di rawa–rawa. Bentuk janin pada fase ini sangat mirip sekali dengan binatang lintah tersebut. Bahkan kalau keduanya difoto bersamaan, niscaya manusia tidak akan mampu membedakkan bentuk dan gambar keduanya.

Tahap ketiga, disebut mudghah (segumpal daging). Dalam kelanjutan surat al-Mukminun di atas dijelaskan, ”Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.”

Tahap keempat ditandai dengan muncul dan tumbuhnya tulang. “Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.” Para ahli dan spesialis dalam bidang medis telah menyimpulkan bahwa tulang itu muncul sebelum daging sebagai penutupnya. Setelah itu barulah muncul daging. Hal ini baru diketahui oleh para ahli pada zaman sekarang, itu pun dengan bantuan alat–alat fotografi.

Tahap kelima, pembungkusan tulang dengan daging. “Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…” Didahulukannya penciptaan tulang sebelum daging, karena daging membutuhkan tulang untuk menempel padanya. Maka tulang mesti sudah ada sebelum daging.

Tahap keenam adalah perubahan janin ke bentuk yang lain. “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain…” Menurut Dr Ahmad Hamid Ahmad, bersamaan dengan berakhirnya pekan ketujuh, panjang Mudghah sudah mencapai 8–16 milimeter” Termasuk yang membedakan pada periode ini adalah; bahwa tulang yang semula berbentuk bengkok menyerupai bulan sabit, kini mulai berubah lurus dan tegap. Di tambah lagi ada sesuatu yang membedakan janin dengan makhluk hidup yang lain, yaitu sempurnanya bentuk tubuh pada pekan ke delapan. Begitulah, proses penciptaan janin di dalam rahim seorang ibu, hingga akhirnya dilahirkan pada usia kehamilan sembilan bulan. Sungguh Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Proses penciptaan manusia pada ayat di atas, dijelaskan lebih rinci lagi oleh sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA.

Dari Abdullah ibn Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda kepada kami, dan beliau adalah orang yang jujur lagi dipercaya: “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nuthfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah yang menempel di dinding rahim) selama itu juga (40 hari), lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat hal (kalimat) yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, nasibnya apakah celaka atau bahagia. Demi Dzat Allah yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kalian ada yang telah melaksanakan perbuatan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah sehasta, namun dia telah didahului oleh al-kitab (ketetapan/takdir), maka dia mengerjakan perbuatan ahli neraka, lalu akhirnya dia masuk ke dalamnya (menjadi penghuni neraka). Di antara kalian ada yang mengerjakan perbuatan ahli al-naar (penduduk neraka), sehingga jarak antara dirinya dan neraka hanya sehasta. Akan tetapi dia telah didahului oleh takdirnya, maka dia mengerjakan perbuatan ahli surga, sehingga akhirnya dia memasukinya (menjadi penghuni surga).”4

Di samping tercipta dari unsur tanah yang rendah, secara ruhaniah manusia tercipta dari ruh Allah Yang Maha Agung. Sebagaimana difirmankan dalam surat as-Sajdah (32) ayat 9:

“Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

Para ulama telah sepakat, bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika janin berusia 120 hari, terhitung sejak pertemuan sel sperma dengan ovum. Artinya, peniupan ruh tersebut terjadi ketika janin telah berusia empat bulan penuh, masuk bulan kelima. Ruh adalah suatu unsur rohani yang menjadikan manusia hidup. Adapun substansi atau hakikat ruh tidak ada manusia yang mampu mengetahui. Hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Sebagaimana telah di firmankan dalam surat al-Isra’ ayat 85:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Berdasarkan firman Allah SWT dan Hadits Rasulullah SAW di atas dapat disimpulkan, bahwa secara biologis manusia itu tercipta dari sari pati tanah. Hal ini terjadi pada penciptaan Nabi Adam AS, sebagai manusia pertama yang secara langsung diciptakan dari tanah. Adapun keturunanya, tercipta dari tanah tetapi secara tidak langsung, yaitu sesudah diproses menjadi sperma dan ovum. Pada dasarnya, sperma dan ovum yang merupakan asal usul manusia adalah berasal dari berbagai sari pati makanan dan minuman baik nabati maupun hewani. Pada hakikatnya hewan pun berasal dari tanah, karena hewan bisa bertahan hidup dengan mengkonsumsi makanan yang berasal dari tanah. Jadi secara biologis manusia terbuat dari tanah yang melambangkan kerendahan dan kehinaan serta setelah mati akan menjadi bangkai dan kembali menjadi tanah. Oleh karena itu, manusia tidak pantas untuk menyombongkan diri meski pun ia memiliki berbagai kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk
yang lain. Sungguh pun demikian, dari segi rohaniah, manusia memiliki roh yang ditiupkan langsung oleh Allah SWT Dzat Yang Maha Tinggi.

Berhubung manusia tercipta dari unsur tanah yang rendah serta unsur roh Allah yang tinggi, maka di dalam diri manusia selalu terjadi pergulatan dan tarik menarik antara bisikan-bisikan yang mengajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merendahkan derajat manusia–seperti memuja-muja atau menuhankan benda-benda mati (kayu, batu, patung dan karya seni serta hasil teknologi manusia), harta, tahta dan wanita, berzina, berjudi, dan korupsi, dengan bisikan-bisikan yang mendorongnya untuk berbuat baik yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya di atas makhluk-makhluk Allah yang lain seperti beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT; memenuhi nafkah dan berbagai kebutuhan hidup dengan cara-cara yang halal sesuai dengan petunjuk Allah SWT; serta berbuat baik dan saling tolong menolong dengan sesama manusia. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah berusaha semaksimal mungkin agar dorongan-dorongan ke arah hal-hal yang positif mampu mengalahkan dorongan-dorongan yang mengajak kepada hal-hal negatif. (Bersambung)


4 Hadits ini diriwayatkan oleh: Imam al Bukhari dalam Shahih-nya, pada Kitab Bad’u al-Khalq, Bab Dzikrul Malaikah (no. 3208), kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3332 Lihat juga hadits no. 6594 dan 7454. Imam Muslim dalam Shahihnya, pada Kitab al Qadar no. 2643. Imam Abu Dawud no. 4708. Imam at-Tirmidzi no. 2138. Imam Ibnu Majah no. 76; Imam Al Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra 15198, 21069; Imam Ahmad dalam Musnad-nya No. 3624

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri
Foto @alasantri

Akhlak kepada Diri Sendiri; berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum )ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta(علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri  (علاقة الانسان لنفسه).

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Keempat, Menjaga kehormatan diri (al-‘iffah). Para santri harus menjaga kehormatan diri (al-‘iffah) dengan tidak bersikap thama’ terhadap harta atau kedudukan orang lain.

“Barangsiapa merasakan kelezatan ilmu dan mengamalkannya, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan silau atau memiliki keinginan(thama’)  terhadap harta atau jabatan orang lain”

Oleh karena itu para santri harus memiliki sikap mandiri dan menerima serta menikmati anugerah Allah SWT apa adanya (bersikap qonaah). Jangan membiasakan diri meminta-minta atau mengemis, karena agama Islam sangat mencela orang yang berprofesi sebagai pengemis, serta menghargai orang yang bekerja untuk mencari nafkah secara halal, baik dengan bertani, berdagang, menjadi karyawan, buruh dsb. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 273 :

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”.

Firman Allah SWT  di atas, memuji para sahabat Rasul yang tidak mau “menjadi pengemis”, meskipun mereka miskin karena tidak bisa berdagang lantaran sedang berperang membela agama Allah SWT melawan orang-orang kafir. Berhubung mereka tidak mau “menjadi pengemis”, maka masyarakat menyangka mereka adalah orang-orang kaya yang berkecukupan, padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang miskin. 

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Hakim ibn Hizam RA.:

“Tangan di atas adalah lebih baik dari pada tangan di bawah. Tangan di atas ialah tangan yang memberi dan tangan di bawah ialah tangan yang meminta”

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

“Sungguh jika salah seorang di antara kamu pada waktu pagi-pagi buta mengambil tali kemudian mencari kayu bakar dan menjualnya sehingga ia memperoleh makanan secukupnya dan bersedekah, maka hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada manusia”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar RA.

“Mengemis (meminta-minta) itu senantiasa merupakan cacat bagi seseorang di antara kamu sehingga dia menemui Allah di hari kiamat tanpa sepotong daging yang melekat di mukanya”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Abdullah ibn Adi :

“Ada dua orang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW untuk  meminta sedekah. Setelah Rasulullah SAW memperhatikan keadaan mereka, ternyata keduanya bertubuh kekar (kuat). Maka beliau  bersabda: Kalau kamu berdua meminta, saya akan memberi, tetapi ketahuliah bahwa orang-orang kaya dan mampu berusaha (kuat) tidaklah berhak menerimanya”.

Pernah salah seorang penduduk Madinah (kaum Anshor) datang meminta sedekah kepada Nabi. Beliau bertanya: Apakah anda mempunyai sesuatu benda di rumah? Orang Anshor itu menjawab: Saya hanya mempunyai sehelai tikar yang sebagian saya jadikan alas dan sebagian lainnya saya jadikan selimut, serta sebuah mangkok tempat air minum. Bawalah padaku, perintah Nabi. Setelah orang Anshor itu kembali kepada Rasulullah SAW dengan membawa barang-barang yang dimiliki, beliau melelang barang-barang tersebut kepada para sahabat, dan laku dua dirham. Kemudian beliau menyerahkan uang dua dirham tersebut kepada pemiliknya sambil berkata: Pergunakanlah satu dirham untuk membeli makananmu dan satu dirham lagi belikan sebuah kampak, dan bawalah padaku!. Setelah pemuda itu menyerahkan kampaknya kepada Rasulullah, maka beliau memasang tangkainya kemudian menyerahkannya kepada pemuda itu sambil bersabda; Pergilah mencari kayu bakar, dan juallah! Dua minggu kemudian kembalilah melapor padaku!. Dengan patuh pemuda itu keluar dan demikianlah, dua minggu kemudian dia kembali menghadap Nabi melaporkan bahwa dia telah berhasil menerima keuntungan 10 dirham. Lima dirham di antaranya telah dibelikan pakaian, sedang sisanya dipergunakan untuk persediaan membeli makanan mereka sekeluarga. Mendengar laporan itu Nabi bersabda: Bukankah itu lebih baik bagimu dari pada meminta-minta yang menjadikan cacat hitam di mukamu ketika menghadap Allah di hari kiamat nanti?”. Hadits Riwayat Abu Daud.

Kelima, Bersifat Wara’. Para santri harus bersifat wara’, yaitu bersikap hati-hati agar tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram atau diperoleh dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, menipu, korupsi dsb. Demikian juga pakaian, kendaraan, tempat tinggal dsb. Seseorang yang bersifat wara’ insya Allah hatinya akan bersinar sehingga mudah menangkap ilmu dari Allah SWT serta doa yang dipanjatkan akan mudah diijabah oleh Allah SWT. Sebaiknya seseorang yang suka mengkomsi makanan atau minuman yang haram, atau memakai pakaian dan menggunakan barang-barang yang haram atau diperoleh secara tidak halal, maka hatinya akan gelap gulita sehingga sulit menangkap ilmu Allah SWT, bahkan doa-doanya pun tidak akan dijabah. Sebagai telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 188:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.

Demikian juga dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Suci, yang tidak akan menerima, kecuali sesuatu yang suci. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul-Nya. Maka Allah SWT berfirman; ‘Wahai para rasul, makanlah kamu dari sesuatu yang baik dan beramallah yang baik’. Dan Allah pun berfirman; ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik yang telah Kami anugerahkan kepada kalian’. Kemudian Rasul mengkisahkan seorang laki-laki yang sudah lama sekali berdo’a memohon sesuatu kepada Allah. Begitu lamanya berdo’a sampai rambunya acak-acakan (tidak rapi), pakaiannya kotor terkena debu. Akan tetapi, bagaimana mungkin doanya dikabulkan kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sejak kecil diberi makanan yang haram”.[1]

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia juga akan mempengaruhi kehidupannya di alam akhirat. Jika halal dan thayyib, maka akan mengantarkan manusia ke surga. Sebaliknya, jika bersumber dari atau diperoleh dengan cara yang haram, maka akan mengantarkannya ke dalam neraka. Sebagimana disabdakan Rasulullah dalam hadits hasan:

“Setiap daging (manusia) yang tumbuh dari (makanan dan minuman) yang haram, maka lebih berhak untuk masuk neraka” (HR. Imam Tirmidzi dari Ka’ab ibn ‘Ajazah). [2]

Para santri juga harus menghindari makanan dan minuman yang syubhat (belum jelas halal atau haram),  karena seseorang yang terjerumus dalam hal-hal yang syubhat pasti akan terjerumus dalam hal-hal yang haram. Sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Abdillah Nu’man Ibnu Basyir RA.

“Dari sahabat Abu Abdillah Nu’man ibn al-Basyir RA. beliau berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas. Demikian pula, sesuatu yang haram juga sudah jelas. Akan tetapi, di antara yang halal dan yang haram itu terdapat sesuatu yang samar (syubhat) yang tidak banyak diketahui oleh umat manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, maka berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Sebaliknya barangsiapa terjatuh dalam sesuatu yang syubhat, maka ia pasti akan terjatuh pada sesuatu yang haram. Seperti pengembala yang mengembalakan hewan ternak di sekitar tanah larangan, maka dapat dipastikan hewan ternak tersebut memasuki tanah larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya setiap raja mempunyai larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya larangan Allah adalah hal-hal yang telah diharamkan. Ingat, sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, yang jika baik maka seluruh anggota badannya menjadi baik. Sebaliknya, jika segumpal daging tersebut buruk, maka seluruh anggota badan menjadi buruk. Ingat, segumpal daging tersebut adalah hati. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).[3]

Keenam, Rajin dan Bersungguh-sungguh dalam Belajar

Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar secara istiqomah (kontinu/ terus-menerus). Hal ini antara lain dilakukan dengan mengulang-ulang pelajaran (tikrar) agar memiliki pemahaman yang lebih mantap sehingga tidak mudah melupakan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari.  Sebagaimanadifirmankandalam surat al-Ankabut ayat 69 :

“Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami” (Surat 29, Al-Ankabut 69).

Pepatah Arab mengatakan :

“Barangsiapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu dan barangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”.

Pepatah lain mengatakan :

“Sesuai dengan kadar usahamu, engkau akan meraih cita-citamu”

Imam al-Syafi’i telah menggubah syi’ir sbb. :

Engkau mengidam-idamkan dirimu menjadi seorang ahli fiqh yang pandai berargumentasi, tetapi engkau tidak mau berpayah-payah belajar.Maka (hal itu adalah suatu kegilaan, karena) gila itu sangat banyak bentuknya.

Kalau untuk mencari harta benda saja harus berpayah-payah dan penuh derita, apalagi untuk meraih ilmu pengetahuan”

Ketujuh, Bersikap Sabar dan Istiqomah

Para santri hendaknya bersikap sabar dan istiqomah untuk belajar di sebuah lembaga pendidikan (pondok pesantren) hingga menamatkan pendidikannya. Juga istiqomah dalam mengkaji satu disiplin ilmu, sehingga tidak berpindah ke disiplin ilmu lainnya sebelum menguasai disiplin ilmu yang pertama. Dengan berpindah-pindah tempat belajar, maka akan mengganggu konsentrasi belajar, membuang-buang waktu, biaya, tenaga dan pikiran, bahkan menyakiti para guru yang ditinggalkannya.

Para santri juga harus bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam ujian hidup.Kesuksesan sebuah cita-cita sangat bergantung pada kesabaran dalam menghadapi ujian.

Kedelapan, Rajin Bangun Malam

Para santri hendaknya rajin bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajjud, berdizkir dan berdo’a. Karena pada sepertiga malam terakhir Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dan merupakan waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Jika para santri rajin melaksanakan tahajjud, maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya hingga meraih derajat yang terpuji. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 79:

“Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.


[1] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawai, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah,  (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.)  h. 18 – 19

[2] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghozali, Ihya’ Ulum al-Din,  (Beirut: Daar al-Fikr, 1995 M./1405 H.),  juz 2, h. 80

[3] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawawi, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah, (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.), h. 13-15; Dr. Mustafa al-Bugha dan Muhyiddin Mastu, Al-Wafi Fi Syarah al-Arba’in al-Nawawiyah, (Damaskus: Daar Ibnu Katsir, 1998 M./1418 H.) Cetakan ke-10, h. 35

Bersambung….

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Kunjungi koleksi pustaka digital JATMAN

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending