Connect with us

Uncategorized

Raker LD-PCNU Kota Bogor, Penguatan Dakwah Wasathiyah Aswaja

Published

on

Kota Bogor, JATMAN Online – Maraknya dakwah-dakwah yang berbau provokasi dan memecah belah umat Islam saat ini menjadikan Islam sebagai momok yang tidak lagi rahmatan lil alamin, Karena hal itu hilang setelah dakwah yang bernarasi negatif tersebar di mana-mana. Maka LD-PCNU hadir di tengah fenomena para dai provokator yang sangat membahayakan keutuhan NKRI ini sebagai solusi umat.

Peranan LD-PCNU kota Bogor sudah mulai terasa sejak dua tahun terakhir ini, banyak pos-pos di instansi pemerintah yang berhasil diisi oleh LD-PCNU Kota Bogor baik dalam kajian atau khotbah jumat. Bahkan dalam rapat kerja kali ini LD-PCNU yang mengusung tema “Penguatan Dakwah Wasathiyah Aswaja Al-Nahdhiyah” memiliki asa yang besar untuk menyejukan kota Bogor lewat mimbar-mimbar khotbah di Kota Bogor.

Sambutan membuka raker KH. Musthofa Abdullah bin Nuh menyampaikan bahwa LD-PCNU Kota Bogor harus menciptakan para pendakwah yang tidak arogan merasa dirinya paling benar, di mana saat ini banyak para pendakwah yang merasa paling faqih dan ahli dalam bidang tertentu.

“Justru kita harus mampu menyampaikan dakwah dengan keramahan dan kerendahan hati”, Ujar Abah Toto (panggilan akrab) Rois Syuriah PCNU Kota Bogor.

Kegiatan Rapat kerja LD-PCNU digelar selama dua hari di Villa Wasila Cijeruk, Kabupaten Bogor (10/12) Jum’at.

Hadir pada pada raker tersebut pengurus harian PCNU kota Bogor dan pengurus lengkap LD-PCNU kota Bogor.

Beberapa program kerja yang akan digiatkan untuk tahun depan, di antaranya yaitu mengadakan Youth Camp untuk para Rohis SMA/SMK/MA sebagai upaya deradikalisasi pada usia remaja di kota Bogor, menyelenggarakan pelatihan Imam & Khatib di kota Bogor dan program-progam lainnya. (red. Abdul Mun’im Hasan)

Tokoh

Mengenal Abu Yazid al Bustami dan Maqam Ruhaninya

Published

on

Abu Yazid al Bustami lahir di Bustam bagian timut laut Persia pada 874-947 M. Dalam kajian tasawuf, ialah tokoh yang pertama kali memperkenalkan fana’ baqa’ dan ittihad.

Dalam kitab Misykatul Anwar, Imam Ghazali menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Abu Yazid al Bustami, secara pengalaman adalah benar. Namun ia salah dalam mengungkapkan. Adapun Imam Ghazali pernah menyandang gelar Quthbul Auliya’ Quthbul Quthub sehingga penilaiannya pasti jernih.

Perihal Abu Yazid al Bustami, para ulama mengatakan, “Tidak meninggal Abu Yazid kecuali semua isi Al Quran ia praktikkan.”

Jika Abu Yazid tidak bisa mempraktikkan apa yang ada dalam al-Quran, maka ia berhenti mengaji. Karena itu, ketika ia sampai pada Surat Luqman ayat 14, yang berbunyi,

أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ = “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu”

Ia berhenti karena bingung. Bagaimana bisa bersyukur kepada Allah Swt. sekaligus pada orang tua. Karena waktu itu cuma satu. Ketika taat kepada Allah Swt., maka orangtuanya akan terlantar. Begitupun sebaliknya, jika taat pada orangtua, maka Allah Swt. akan terlantar.

Maka dari itu, ia meminta ridha kepada orangtuanya untuk dibebaskan kewajiban taat kepada orangtua dan memilih menyepurnakan taat kepada Allah Swt., kemudian permohonannya dikabulkan. Ia dibebaskan oleh orangtuanya dari kewajiban itu. Lalu ia dikaruniai kasyaf bertemu dengan Imam Ja’far shadiq bi ar-ruh serta dibimbing olehnya. Sehingga, dalam mencapai kehadirat Allah Swt., ia tidak berjalan sendiri. Melainkan melalui gurunya, Imam Ja’far Shadiq. Adapun semua orang yang kasyaf dan guru-guru tarekat meyakini hal itu.

Abu Yazid bergelar Sulthanul Arifin. Ketika ia mengatakan,

سبحاني سبحاني، ما أعظم شاني = “Maha Suci Aku, Maha Suci Aku, Betapa Besarnya Aku”

لا إله إلا أنا فاعبدوني = “Tiada Tuhan selain Aku, Maka sembahlah Aku”

Sesungguhnya ia dalam keadaan syathahat. Tapi kemudian semua muridnya ia berikan pisau sebagai ancaman, apabila ia berkata demikian lagi agar ia ditusuk. Namun ketika ia mengatakannya lagi dan sebagaimana perintah untuk menusuk tubuhnya, mendadak tubuhnya membesar hingga membuat muridnya keluar dari ruangan itu, kemudian mengecil seperti burung gereja. Itu pula yang menyebabkan ia memeperoleh gelar “Thoifur”. Itulah karamah beliau.

Abu Yazid adalah orang yang sangat ketat syariat. Ia sendiri yang mengatakan, “Jika kamu melihat seseorang yang diberi kekeramatan hingga dapat naik ke udara, maka janganlah kamu tertipu dengannya sehingga kamu dapat melihat dan meneliti bagaimana ia melaksanakan perintah dan larangan agama serta memelihara ketentuan-ketentuan hukum agama dan bagaimana ia melaksanakan syariat agama.”

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, Abu Yazid adalah tokoh yang memperkenalkan fana’ . Kondisi tersebut diperolehnya ketika ia tengah khusyu’. Dimana menurut para wali ia sedang berada dalam kondisi al ghaibah an ghairiyah bi wujudil wahdaniyah. Maka, ketika orang itu sudah ghaib dari selain Allah Swt. dan ketika hatinya hanya Allah Swt. saja, orang itu sebetulnya telah hadhir bi hadhrah ilahiyah.

Syekh Abdul Qadir al Jilani dalam Futuhul Ghaib menjelaskan, jika sudah masuk dalam al ghaibah al ghairiyah, sementara Allah Swt. belum menyingkap Jamaliyah-Nya, maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menjaga adab dengan sempurna. Jangan meminta dibukakan hijab dan jangan berani masuk sendiri ke hadhrah ilahiyah karena itu termasuk su’ul adab. Sebagaimana orang yang memasuki rumah tanpa izin pemiliknya, itu akan bermasalah. Tunggulah, sampai Allah Swt. sendiri yang memasukkan ke hadhrah ilahiyah-Nya.

Ketika sudah dipersilakan oleh Allah Swt. maka orang tersebut akan mengalami fana’. Tidak sadar pada hal lain selain kehadirat Allah Swt. Pada kondisi tersebut, orang itu masih sadar jika dirinya sedang tidak sadar. Namun jika ini diteruskan, ia akan masuk dalam kondisi dimana ia tidak sadar jika dirinya tidak sadar, kecuali hanya sadar kepada Allah Swt. Maqam inilah disebut fana’ul fana. Jika sudah demikian, ditanyai apa saja maka jawabannya selalu “Allah”. Karena ia sudah tidak sadar dengan sendirinya.

Kondisi seperti inilah yang sesungghnya dialami oleh Abu yazid ketika ia mengatakan,

سبحاني سبحاني، ما أعظم شاني

Maka lafaz “ني” pada hakikatnya tertuju pada Allah Swt. Sedangkan ke-dirian-nya sudah sirna. Kondisi Abu Yazid yang sudah tidak menyadari keberadaannya sendiri oleh Al Ghazali sama sekali tidak disalahkan. Yang salah adalah ketika ia menceritakan kondisi tersebut. Menurutnya, jika masih pada ilmu muamalah seperti mujahadah, riyadhah, itu boleh saja diceritakan. Tapi kalau sudah makrifat, apapun bahasanya pasti akan menjadi fitnah. Bagaimana mungkin bahasa yang terbatas bisa menggambarkan Allah Swt. yang tidak terbatas. Karena itu, ulama ahussunnah wal jamaah memilih tasawuf akhlaki dan tidak menampilkan tasawuf falsafi dengan berpedoman pada Imam Ghazali dan Imam Junaid al Baghdadi.

Lain halnya dengan Rasulullah Saw. Tidak akan ada yang sanggup memanage ruhani dengan varietas pengalaman batin yang dahsyat dalam satu tubuh selain Rasulullah Saw. Tidak ada yang makrifatnya lebih sempurna dari Rasulullah Saw., tetapi tidak ada syathahat yang keluar sampai menimbulkan fitnah.

Syathahat ibarat seseorang yang sedang jatuh cinta. Yang merasakan kondisi itu, baik tubuh dan lisannya tidak akan bisa diam. Ada kalanya diekspresikan melalui lagu, puisi, nyanyian dengan memunculkan bayangan yang dicintai. Kemudian orang itu membagi perjalanan cintanya kepada orang lain sejak pertama bertemu, berkenalan sampai menikah. Namun ungkapan ini sudah tidak bisa lagi diekspresikan ketika kondisi pasca menikah. Cintanya bukan lagi sebuah ungkapan, melainkan sudah menyatu dalam kamar. Seindah apapun kondisi tersebut, haram diceritakan. Begitu pula makrifat ilallah, ini adalah bagian intim yang tidak bisa diceritakan kepada siapapun yang dalam istilah tasawuf disebut ittihad.

*Tulisan di atas berdasarkan penjelasan Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag. (Pengasuh Majelis al-Dzikir wa al-Ta lim Mihrab al-Muhibbin).

Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak Santri kepada Kyai

Published

on

Akhlak Santri Kepada Kyai
Foto Barisan.co

Sebelum menetapkan pilihan untuk belajar di sebuah lembaga pendidikan, pondok pesantren atau mengaji kepada seorang guru, hendaknya para calon santri atau orang tuanya melakukan survey terlebih dahulu, bahkan kalau perlu shalat istikharah untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT. Hal ini pernah dilakukan oleh Imam Hanifah ketika akan berguru kepada Hammad ibn Abi Sulaiman yang mengantarkan beliau menjadi ulama besar, salah satu mujtahid mutlak yang sampai sekarang banyak diikuti oleh umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Sebaiknya para calon santri atau orang tuanya memilih lembaga pendidikan, pondok pesantren atau mengaji kepada seorang guru yang ‘alim (pandai), luas dan mendalam ilmunya, berakhlak mulia, memiliki sifat khashyatullah (takut kepada Allah SWT), serta benar-benar mampu mendidik para santri dengan baik dan berkualitas sehingga kelak mereka menjadi orang-orang yang ‘alim (pandai) dan berakhlak mulia serta bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Hal ini dapat dilihat dari segi kualitas pendidikannya, guru-gurunya dan faham keagamaannya.

Sebaiknya para calon santri atau orang tuanya memilih lembaga pendidikan atau guru yang memiliki faham keagamaan atau berhaluan AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH dan dapat ditelusuri sanad keilmuannya hingga Rasulullah SAW. Sebagian ulama salaf, — — yakni para ulama yang hidup sesudah Rasulullah SAW hingga abad ketiga hijriyah– — mengatakan :

“Sesungguhnya ilmu ini adalah masalah agama. Oleh karena itu, perhatikanlah dari siapa engkau akan mengambil (ilmu yang menjadi) ajaran agama kalian”.

Memilih guru yang memenuhi kualifikasi di atas sangat penting, karena guru bukan hanya bertugas menyampaikan ilmu (transfer of knowledge), tetapi juga membimbing rohaniah para santri (transfer of value) agar mereka memiliki hati yang bersih serta jiwa yang teguh sehingga mampu meraih kedekatan dengan Allah SWT.

Dengan memilih lembaga pendidikan dan guru-guru yang tepat, diharapkan para santri tidak akan berpindah ke lembaga pendidikan lain atau meninggalkan guru pertamanya dan berpaling kepada guru lain yang dinilai lebih berkualitas. Hal ini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti menambah biaya pendidikan, adaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru, serta sakit hati guru pertamanya sehingga bisa menyebabkan kurang berkah ilmunya.

Para santri harus selalu menghormati dan memuliakan guru, karena mreka tidak akan meraih ilmu yang bermanfaat kecuali jika mereka selalu menghormati dan memuliakan guru. Guru adalah bagaikan orang tua, bahkan melebihi orang tua, karena orang tua hanya bertanggung jawab dalam masalah pertumbuhan fisik anak, sedangkan guru bertanggung-jawab terhadap perkembangan rohaniah dan keberagamaan para muridnya. Jika orang tua juga berperan sebagai guru, maka dia adalah orang yang paling mulia dan paling wajib dihormati, karena dia bertanggungjawab terhadap pertumbuhan fisik sekaligus perkembangan rohaniah dan keberagamaan anaknya. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib berkata; “Aku adalah hamba orang yang pernah mengajariku ilmu pengetahuan, meskipun hanya satu huruf. Jika guruku mau, aku persilahkan menjual aku, atau menjadikan aku hamba sahayanya, atau memerdekakan aku.”

Dengan menghormati guru, diharapkan para santri meraih ridla guru dan terhindar dari murkanya, sehingga ilmunya bermanfaat serta berkah di dunia dan di akhirat. Di antara bentuk kongkret memuliakan kyai (guru) adalah sebagai berikut:

  1. Meyakini dan memandang kyai (guru) sebagai sosok manusia agung yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu serta bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga sangat layak untuk diikuti dan dijadikan suri tauladan oleh para santri. Dengan cara demikian, maka para santri akan mampu mengambil manfaat serta meraih keberuntungan. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nadlam ‘Umrithy :
    “Seorang pemuda akan diangkat (derajatnya) sesuai dengan kadar keyakinannya. Dan setiap orang yang tidak yakin, maka tidak akan bisa mengambil manfaat”

    Syeh Yusuf berkata bahwa beliau mendengar sebagian ulama salaf berkata :
    “Barang siapa tidak meyakini keagugungan gurunya, maka tidak akan sukses (beruntung)”1
    .
  2. Melaksanakan perintah guru selama perintah tersebut tidak melanggar syari’at agama Islam. Jika guru memerintahkan para murid melakukan suatu perbuatan yang melanggar hukum Islam, maka para murid tidak boleh melaksanakannya. Dikisahkan, suatu ketika Syaikh al-Halwani, seorang ulama yang berasal dari Negara Bukhara Uni Soviet tinggal di sebuah perkampungan. Kemudian beliau meminta para murid yang sudah menjadi alumni agar mengunjungi beliau. Maka seluruh alumni datang mengunjungi beliau, kecuali al-Syaikh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji. Pada kesempatan berikutnya, Syaikh al-Halwani berjumpa al-Syaikh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji dan menanyakan, “Mengapa engkau tidak memenuhi undanganku?” Maka al-Syeh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji menjawab; “Mohon maaf saya tidak bisa memenuhi undangan Tuan Guru karena saya sibuk mengurus ibu saya”. Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Halwani berkata; “Baik kalau begitu anda akan memperoleh keberkahan usia tetapi tidak mendapatkan keberkahan ilmu”. Akibat dari kemarahan Syaikh al-Halwani Sang Guru tersebut, maka al-Syaikh al-Imam al-Qodli Abu Bakar al-Zaranji lebih banyak menghabiskan hidupnya di perkampungan dan sama sekali tidak mengajar. Hal ini menunjukkan, bahwa seorang murid yang mengecewakan hati guru akan menyebabkan ilmunya kurang berkah dan kurang bermanfaat.2
  1. Meminta saran dan pertimbangan kepada guru dalam memilih disiplin ilmu yang akan dikaji dan hal-hal yang terkait dengan proses belajar-mengajar, jurusan, program studi atau fakultas karena meyakini bahwa guru lebih berpengalaman dalam masalah ini. Syaikhul Imam Burhanal-Haq wa al-Din RA. berkata: “Pada masa dahulu, para santri dengan suka rela menyerahkan sepenuhnya urusan belajar-mengajar kepada gurunya, maka mereka sukses dan meraih apa saja yang dicita-citakan. Akan tetapi pada masa kini, banyak santri yang menentukan sendiri pilihannya, maka akhirnya mereka gagal meraih cita-citanya dan tidak bisa meraih ilmu pengetahuan.” Dikisahkan, bahwa pada mulanya Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhariy belajar Ilmu Fiqh kepada Imam Muhammad ibn al-Hasan. Ketika Sang Guru melihat al-Bukhari lebih berbakat dalam bidang Ilmu Hadits, maka Sang Guru memerintahkan agar al-Bukhari menekuni Ilmu Hadits. Akhirnya al-Bukhari pun belajar Ilmu Hadist sehingga menjadi imam hadist paling terkemuka di seluruh penjuru dunia.
  2. Memanggil atau menyebut kyai (guru) dengan panggilan terhormat seperti menyebut status atau kedudukannya. Bukan langsung memanggil atau menyebut namanya, karena hal ini dinilai tidak sopan. Jika berbicara dengan guru, para santri harus memperhatikan sopan santun. Tidak boleh berbicara dengan suara keras, apalagi membentak; tidak boleh memulai berbicara kepada guru sebelum dipersilahkan; Juga tidak banyak berbicara di hadapan guru, atau bertanya hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi jika guru dalam keadaan lelah.
  1. Jika para santri ingin berkunjung ke rumah atau kamar kyai (guru) untuk mengaji, dipanggil, atau ada suatu keperluan, hendaklah memakai pakaian yang sopan dan rapi. Jika perlu mandi terlebih dahulu dan memakai parfum. Hendaklah para santri tidak mengganggu istirahat kyai (guru). Oleh karena itu, para santri tidak boleh mengetuk pintu rumah atau kamar, tetapi hendaknya sabar menunggu hingga kyai (guru) keluar dari kamar atau rumahnya. Jika sudah dipersilahkan masuk ke dalam rumah atau kamar kyai (guru), hendaklah para santri mengucapkan salam dan bermushofahah (salaman), kemudian duduk dengan penuh tawadlu’ seperti duduknya seseorang yang sedang tahiyyat atau bersila. Tidak boleh duduk di tempat duduk kyai (guru). Demikian juga tidak boleh duduk terlalu dekat dengan kyai (guru) kecuali dalam keadaan darurat, karena dikhawatirkan dapat mengurangi penghormatan kepada guru. Sesudah selesai, hendaknya para santri segera berpamitan. Karena jika para santri terlalu lama, dapat mengganggu aktivitas atau waktu istirahat kyai (guru).
  2. Jika bertemu kyai (guru), hendaklah para santri menundukkan pandangannya. Tidak boleh memandang wajah kyai (guru) dengan pandangan yang tajam (melotot) atau menoleh ke arah kanan, kiri dan atas, kecuali sangat darurat.
  3. Jika kyai (guru) sedang mengajar, hendaklah para santri menyimak dengan penuh konsentrasi serta mencatat penjelasannya dengan rapi agar dapat dibaca ulang sehingga meresap di dalam qalbu. Oleh karena itu para santri tidak boleh mengobrol atau bermain-main sehingga mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM). Para santri juga tidak boleh bersikap “sok pintar” dengan menyahuti ayat suci al-Qur’an, hadits, syi’ir atau lainnya yang sedang dibacakan oleh kyai (guru); atau menjawab pertanyaan kyai (guru) sebelum kyai (guru) menyelesaikan pertanyaannya, atau sebelum mempersilahkannya untuk menjawab; atau memandang rendah atau mengoreksi penjelasan kyai (guru). Jika ada penjelasan kyai (guru) yang dirasa tidak sesuai atau dinilai salah, hendaklah disampaikan dengan cara yang santun.
  1. Membantu kyai (guru) dalam menyelesakan tugas atau pekerjaannya. Seperti memasak makanan, memebersihkan rumah dan mencuci pakaian. Al-Qodli al-Imam Fahruddin al-Irsabandi, seorang ulama besar yang menjadi pimpinan para Imam di wilayah Marwa dan sangat dihormati oleh Sultan negeri tersebut mengatakan; “Saya memperoleh derajat atau kedudukan yang tinggi ini semata-mata karena berkah dari guruku, al-Qodli Abu Yazid al-Dabbusy. Saya selalu melayani beliau dan membantu beliau memasak makanannya”. Para ulama yang telah sukses meraih derajat yang tinggi menyatakan, bahwa untuk meraih ilmu memang perlu tekun belajar. Akan tetapi, untuk meraih keberkahan, harus diusahakan dengan melayani para guru ( العلم بِلتعلم والبَكة
    بِلخدمة )
  2. Memberikan hadiah kepada kyai (guru), sesuai dengan kemampuannya. Syeh Sadiduddin al-Syairazi menceritakan, bahwa salah seorang gurunya berkata; “Barangsiapa ingin mempunyai anak, cucu, atau keturunan yang ‘alim (menjadi ulama), hendaklah ia memuliakan para ulama dan memberikan hadiah kepada mereka. Jika seseorang senang memuliakan para ulama dan memberikan hadiah kepada mereka, maka dapat dipastikan anaknya, atau cucunya, atau keturunnya akan menjadi ulama”.
  3. Memuliakan putra-putri kyai (guru) dan orang-orang yang terkait dengan sang kyai (guru), seperti para pembantu, sopir dsb. Dikisahkan, pada masa dahulu ada seorang ulama besar di Bukhara Asia Tengah. Ketika beliau sedang mengajar, tiba-tiba beliau berdiri dan menghormati anak kecil. Maka para murid bertanya; “Mengapa sang ulama berdiri dan menghormati anak kecil?” Belau menjawab; “Dia adalah anak guruku. Aku menghormatinya sebagai penghormatan kepada ayahnya yang menjadi guruku”.
  1. Hendaknya para santri selalu mengenang kebaikan kyai (guru) dan memaafkan kesalahannya. Oleh karena itu para santri harus selalu mendoakan kyai (guru), baik sewaku masih hidup maupun sesudah wafat. Jika kyai (guru) sudah wafat, hendaknya para santri menziarahi kuburnya serta memohonkan ampunan atas semua dosa dan kesalahan kyai (guru) kepada Allah SWT.[]

1KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Maktabah al-Turats al-Islami, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tt. h. 10

2Syeh Ibrahim ibn Ismail, “Syarah Ta’lim al-Muta’allim”, karya Syeh al-Zarnuji, al-Haramaim Surabaya, 2006, h. 17

Continue Reading

Uncategorized

Pengurus MATAN DKI Jakarta Masa Bakti 2020-2024 Dilantik secara Virtual

Published

on

MATAN DKI

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Ketua Umum (Plt.) Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN), DR. Hasan Chabibie, M.Si. melantik Pengurus Wilayah MATAN DKI Jakarta Masa Bakti 2020-2024, kemarin malam (30/11) secara online di ruang Zoom.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un,” ucap KH. Ali M. Abdillah, MA yang terpilih kembali menjadi Ketua MATAN PW DKI Jakarta memulai sambutannya. “Amanah ini datang dari Allah dan akan kita kembalikan kepada Allah. Semoga kita bisa mengemban tugas dengan sebaik-baiknya,” tambah Yai Ali.

KH. Ali M. Abdillah, MA kembali melanjutkan kepengurusan periode ke-2 MATAN DKI Jakarta didampingi DR. Idris Wasahua, SH., MH., selaku Wakil Ketua dan H. Mustafid, M.Si sebagai Sekretaris. Seluruh pengurus MATAN PW DKI Jakarta diambil ikrarnya oleh Ketua Umum (Plt.) MATAN setelah memenuhi kesiapan dan kesanggupan mengemban amanah dakwah thoriqiyah ini.

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci al-Qur’an dan pembacaan sholawat thoriqiyah bersama-sama. Dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars MATAN.

MATAN DKI

Pada kesempatan ini Gus Hasan berpesan, “Kita perlu mengambil pelajaran dari pesan Abah Luthfi bahwa pengurus JATMAN nanti adalah kader-kader MATAN saat ini, maka marilah kita mempersiapkan diri semaksimal mungkin agar dapat berproses dan memberikan yang terbaik kepada masyayikh dan kemudian dapat menjalankan amanah sebaik-baiknya.”

Berbarengan dengan acara ini juga dilantik pula 3 kepengurusan komisariat, yaitu Komisariat Universitas Negeri Jakarta, Komisariat UNUSIA Jakarta dan Komisariat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hadir pula pada pelantikan ini Ra’is Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah  (JATMAN) Idaroh Wustho DKI Jakarta, DR KH Hamdan Rasyid, MA.[Af]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending