Connect with us

Pustaka

Martin Lings, Intelektual Syadziliyah Menulis Tasawuf

Published

on

Martin Lings

Sejak akhir abad lalu, aspek ruhani kembali menjadi perhatian manusia modern. Ragam kemajuan yang merupakan buah dari modernitas malah memunculkan dahaga pada spiritualisme. Di tengah-tengah gemerlap perkembangan teknologi, diam-diam banyak yang merasa batinnya kering, bahkan gersang. Kondisi ini tentu memantik terjadinya krisis spiritual yang seolah tak berujung. Lantas, apa yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan dahaga ruhani ini?

Martin Lings dalam buku ini menunjukkan rambu-rambu untuk mengatasinya. Lings adalah sosok intelektual yang sangat peduli terhadap krisis spiritual. Tasawuf bagi Lings bukan hanya sekadar kajian teoritis belaka. Tasawuf didekati sebagai laku. Tasawuf jugalah yang mengantarkan Lings hijrah ke Mesir dan mendalami dunia kesufian di sana. Bahkan Lings berbaiat tarekat Syadziliyah di negeri Nil ini.

Dengan sangat ilustratif dan simbolis, Lings menerangkan dimensi ruhani agama Islam secara mendalam. Buku yang sangat tepat dibaca hari-hari ini, baik sebagai pegangan dalam mendalami tasawuf, maupun bagi yang belum sepenuhnya mengenal Islam. Buku ini bisa menjadi pintu perkenalan ke dalam jantung agama kasih sayang ini sekaligus sebagai pelipur bagi batin yang gersang.[MUA]

Kitab

Kitab Al-Haqibah; Kompilasi Doa, Shalawat dan Wirid yang Disusun oleh Ayah Gus Mus

Published

on

KH. Bisri Mustofa yang merupakan ayah dari KH. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, di masa hidupnya adalah ulama yang produktif menulis kitab dengan berbahasa Arab – Pegon atau Arab – Jawa. Banyak karyanya yang menjadi rujukan keilmuan hingga saat ini mulai dari bidang tafsir, fiqih, sejarah hingga bahasa Arab.

Selain dari sekian banyak karyanya tersebut, Kiai Bisri juga mengumpulkan doa-doa dan ijazah wirid dari guru-gurunya yang dikumpulkan dan disusun dalam sebuah kitab yang bernama Al-Haqibah yang terdiri dari dua jilid untuk diamalkan oleh segenap santri dan masyarakat umum. Wirid-wirid tersebut antara lain berasal dari Mbah Kiai Wahab Chasbullah, Mbah Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Mahrus Aly, Kiai Abdullah Zaini, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Murtadlo Tuban, Kiai Nawawi Kajen, Sayyid Abdul Qodir Bafaqih Tuban, Kiai Thoha Rembang, Syaikh Cholil Bangkalan, Kiai Ma’ruf Kedunglo, Kiai Iskandar Berasan, Kiai Abdul Jabbar Kajen dan lain-lain.

Di lansir dari laman kuliahislam.com, Kiai Bisri memang memiliki hobi yang unik, yaitu memburu guru-gurunya untuk mengijazahkan doa-doa dan wirid secara langsung serta enggan menukil dari kitab-kitab karangan gurunya sendiri. Hal tersebut dikarenakan sanad ijazah doa yang diterima dan berharap berkah dari akumulasi “energi” doa yang telah ditirakati para Kiai sepuh.

Seperti ketika mengaji tafsir kepada Mbah Kiai Ma’ruf, Kedunglo Kediri, karena Kiai Bisri sudah paham Tafsir Jalalain, maka saat beliau menghadiri pengajian tersebut justru yang dibawa bukan tafsir Jalalain, tapi buku kosong guna mencatat doa yang akan disampaikan Mbah Kiai Ma’ruf.

Sayangnya, sebagaimana kitabnya yang lain, kitab Al-Haqibah juga ditulis dengan bahasa Arab – Pegon berikut juga khasiatnya. Sehingga bacaan tersebut perlu ditransliterasi dan diterjemahkan agar bisa dinikmati oleh orang yang non-Jawa.

Continue Reading

Hikmah

Mutiara Pencerahan Sufi

Dalam catatan sejarah, tidak sedikit para pemimpin Islam yang meminta fatwa dan nasihat keagamaan kepada para sufi.

Published

on

Mutiara Pencerahan Sufi

Sebut saja sebagian kecil dari pemimpin-pemimpin itu adalah Sulaiman bin Abdul Malik, Ja’far bin Muhammad, dan Harun ar-Rasyid. Bahkan Umar bin Abdul Aziz pun tidak segan-segan mengeluarkan biaya seribu dinar dari kas negara untuk mendapat nasihat Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Uthbah bin Mas’ud.

Tradisi nasihat-menasihati itu sebenarnya juga telah diisyaratkan oleh al-Qur’an baik lewat nashsh perintahnya (misalnya, QS. al-‘Ashr [103]:3), maupun lewat kisah-kisahnya, seperti kisah Luqman Hakim yang memberikan nasihat kepada anaknya. Sehingga dalam kehidupan nabi dan para sahabat pun banyak dijumpai tradisi saling menasihati untuk kebaikan dan kebenaran.

Dan, jika buku yang ada di tangan pembaca ini bermaksud meneruskan tradisi nasihat-menasihati tersebut tentu tidaklah berlebihan. Karena ada sekian ratus hikmah para sufi yang memuat nasihat dan petunjuk, berserakan dalam khazanah Islam. Barangkali muatan itu bisa memadukan pikiranpikiran yang berbeda, melegakan hati, melepaskan beban pikiran yang berat, dan menjaga kesantunan, seperti dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz.

Buku ini terdiri atas 200 cerita, dikumpulkan dari hikmah-hikmah yang bertebaran di berbagai kitab klasik pesantren, dan sebagian merupakan materi ceramah keagamaan penulis, KH. M.A. Fuad Hasyim. Setelah jilid pertama ini, akan menyusul dua jilid berikutnya, yaitu jilid ke-2 dan jilid ke-3.

Banyak kenangan yang sempat kami rekam bersama KH. M.A. Fuad Hasyim selama proses pracetak. Namun sebelum proses ini benar-benar selesai, kami dikagetkan oleh berita bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah, tepatnya 12 Juli 2004. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn, kami turut berbelasungkawa dan berdoa semoga rahmat Allah SWT senantiasa terlimpah untuk beliau. Amin.

Kami baru tahu siapa KH. M.A. Fuad Hasyim yang sebenarnya, ketika kami ta’ziah ke rumah beliau di Cirebon. Sungguh kami kagum, beliau telah menulis puluhan tahun. Karya-karya itu ditulis rapi dengan tangan, dan sebagian telah diketik “manual”. Oleh putera beliau, Kang A’im dan Babas, kami ditunjukkan begitu banyak karya beliau yang tersimpan di dalam kamar pribadi beliau. Mulai dari syair-syair, kisah para sahabat, dan studi keislaman lainnya. Kesemuanya ini menunjukkan sosok kiai yang lengkap, seniman, intelektual, dan dai (orator) yang kondang. Saat ini karya-karya beliau ini sedang kami siapkan untuk diterbitkan. Atas budi baik keluarga dari KH. M.A. Fuad Hasyim kami dapat meng-copy sebagian karya beliau.

Dalam buku ini, untuk pengantar penulis dan biodata, kami juga mendapatkan dari KH. M.A. Fuad Hasyim dalam bentuk tulisan tangan. Sebetulnya tidak begitu sengaja, pada saat kami melihat-lihat tulisan-tulisan beliau, di antara tumpukan buku-buku tebal ada buku tipis yang lusuh dan sudah rusak. Kami yakin itu bukan buku khusus milik beliau karena di dalamnya ada tulisan-tulisan anak kecil yang “awut-awutan”. Di antara lembaran buku itulah, ada tulisan KH. M.A. Fuad Hasyim, dan setelah kami baca ternyata pengantar dan biodata untuk buku yang saat ini ada di tangan pembaca.

Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan KH. M.A. Fuad Hasyim menyerahkan penerbitan naskah ini kepada kami. Juga kepada Ahmad Tohari yang memperkenalkan dan mendorong kami untuk menerbitkan naskah tersebut, dan kepada Agus Mu’thi yang telah dengan susah payah memindah dari naskah ketik ke dalam filefile komputer sehingga bisa diolah di meja redaksi. Dan kepada para pembaca, selamat menjelajah. [Pub]

Continue Reading

Pustaka

Sekuntum Bunga dari Taman Firdaus 

Published

on

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya

Buku Sekuntum Bunga dari Taman Firdaus merupakan cetak ulang dari karya karya besar Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, yang ditulis pada tahun 1982. Buku ini secara ilmiah menjawab pro dan kontra terhadap metode tarekat/tasawuf/sufi, yang selain mengedepankan logika berpikir berbasis ilmu eksakta, juga ditunjang dengan dasar-dasar dari al-Qur’an dan hadist.

Taman Firdaus

Di Indonesia, sejak tahun 70-80 an, telah berkembang dialektika di antara para ilmuwan muslim terkait hubungan agama dan sains. Dalam diskursus ini, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya melalui teori metafisika eksakta yang digagasnya, dapat disebut sebagai pelopor dalam pengembangan pemikiran mengenai keterkaitan ilmu tasawuf serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemikiran ini dinilai mampu menunjukkan ilmiahnya ayat-ayat al-Qur’an melalui metode tarekat/tasawuf, yang bisa dibuktikan kebenarannya secara sains dan terukur, bukan hanya sekedar dogmatis.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya merupakan seorang ilmuwan sekaligus tokoh ulama tasawuf/sufi besar dari Indonesia, mursyid dari Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Pemikiran, sosok kepribadian, dan pola dakwahnya yang unik, telah banyak diteliti dan ditulis para akademisi, peneliti, dan penulis, baik dari Indonesia maupun luar negeri. [MUA]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending