Connect with us

Artikel

Keutamaan Bulan Syaban dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

KH Zainal Arifin

Published

on

Keutamaan Bulan Rajab dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Hari ini (Rabu, 16/03/2021) memasuki tanggal 2 Syaban 1442 H, artinya sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Pembahasan bulan Syaban merujuk pada Kitab Maadzi fi Syaban yang artinya “Ada apa di bulan Syaban?” Kitab ini disusun oleh putra seorang ulama di kawasan Rusaifah di sebelah utara pusat Kota Mekah, yaitu Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Hasaniy. Saat ini, beliau sudah berpulang ke Ramahatullah. Namun, majelis ilmu di Rusaifah masih terus hidup yang dihadiri oleh murid-murid dari segala penjuru dunia. Beliau adalah pakar hadis dan menjadi guru khususnya ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah.

Kitab tersebut dimulai dengan membahas nama Syaban. Secara bahasa, syaban setidaknya mimiliki 3 (tiga) arti, yaitu:

  1. Bulan yang memiliki banyak cabang-cabang kebaikan
  2. Tersebar luas nampak dengan jelas/istimewa
  3. Jalan yang berada di pegunungan

Dari sisi nama, kemuliaan bulan Syaban sebagai gerbang masuknya orang beriman menuju bulan Ramadhan.

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Syaban, yang sekaligus dijadikan sebagai penuntun bagi umat muslim:

  1. Taahwilul Qiblah, yaitu diubahnya kiblat dari Baitul Maqdis menjadi ke arah Kabah, yang sekaligus sebagai isyarat dari Allah agar umat muslim melakukan instropeksi diri dan memperbaharui orientasi hidup. Diantaranya  adalah untuk ibadah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah:”Tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzaariyaat: 56). Ayat ini mengajarkan bahwa hidup dengan orientasi ibadah adalah kebahagiaan dan kenikmatan sejati di dunia dan di akhirat bersama orang-orang sholeh
  2. Rof’ul Amal, yaitu pada bulan Syaban, amal-amal dilaporkan kepada Allah sebagai pelaporan akbar dan pelaporan yang paling luas atau dapat dianalogikan dengan laporan tahunan. Rasulullah SAW selalu berpuasa di bulan Syaban, karena beliau ingin agar saat Malaikat melaporkan tahunan, Rasulullah dalam keadaan sedang berpuasa.
  3. Syahru sholawati ‘ala Nabiyi shalallahu alaihi wassalam, yaitu bulan Syaban adalah bulan shalawatnya kepada Rasulullah. Diantara keistimewaan bulan Syaban adalah Allah menurunkan ayat yang memerintahkan untuk bersholawat dan menyampaikan salam kepada Rasulullah, yaitu dalam QS Al Azhab 56:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Jika ayat tersebut diperhatikan, terlihat bahwa tidak ada perintah ibadah seperti perintah bersholawat kepada Nabi SAW, karena diawali dengan penegasan bahwa Allah dan Malaikat bersholawat kepada Rasulullah. Artinya, sholawat adalah ibadah yang istimewa. Sekaligus ayat itu menjelaskan bagaimana sholawat kepada Rasulullah dengan benar, yaitu sholawat yang lengkap adalah sholawat dan salam, Allahuma shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliima.

Baca juga: Bulan Rajab, Ini Beberapa Amalannya

Selain laporan tahunan, adapula Ar-Rof’ul Shouri yaitu laporan harian. Dalam hadis disebutkan bahwa waktu untuk laporan harian adalah ba’da zawal saat dzuhur. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menjaga 4 rakaat sebelum dzuhur dan 4 rakaat setelah dzuhur, maka Allah haram akan dirinya dari siksa Neraka” (Hadis at-Tirmidzi Nomor 428). Jumhur ulama termasuk Imam Nawawi berpendapat bahwa lebih utama melaksanakan shalat qabliyah dan ba’diyyah dzuhur masing-masing 2 rakaat atau 4 rakaat dengan 2 salam.

Dengan demikian, waktu dzuhur adalah waktu istimewa. Rasulullah SAW bersabda: “Waktu sebelum dzuhur adalah saat pintu-pintu langit dibuka oleh Allah, aku ingin ada amal sholeh yang diangkat ke langit“. Jika Rasulullah yang ma’sum (terjaga dari dosa) berdoa seperti itu, hal ini berarti menjadi motivasi umat muslim untuk melakukan banyak perbaikan dari begitu banyaknya dosa di masa lalu.

Dalam kitab tesebut juga disebutkan keutamaan, keistimewaan dan hakikat sholawat kepada Rasulullah: “Orang yang bersholawat pada Nabi, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali“. Dan ada riwayat lain yang menjadi penyelamat dan pembela kita yang kurang ibadahnya di dunia.

Ada sebuah riwayat, seorang pemabuk yang bertanya pada guru cara mengatasi mabuknya. Lalu, ia dibimbing oleh gurunya dengan memintanya agar pemabuk itu membaca sholawat untuk nabi berulang kali. Sampai lidahnya terasa manis, menggetarkan hati, dan muncul kerinduan kepada Rasulullah SAW.

Syaban adalah bulan bersholawat. Mari kita persiapkan sebaik-baiknya diri kita untuk ibadah di bulan Ramadhan. Para shalafush sholeh telah berdoa 3 bulan sebelum Ramadhan, yaitu doa tanpa putus agar dapat merasakan bulan Ramadhan sejak bulan Rajab, dan agar diberikan kesehatan dan kekuatan selama di bulan Ramadhan: “Ya Allah Berkahi di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan serta pertemukan kami kembali dengan bulan Ramadhan”.

Semoga kita termotivasi untuk meningkatkan ibadah mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki bulan Ramadhan, dan berdoa semoga seluruh ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin

Kajian ini disampaikan oleh KH Zainal Arifin dalam Ta’lim Madinah Quran pada hari selasa, 16 Maret 2021 pukul 05.35-06.10.

Artikel

Ngaji Kitab Tasawuf Dari Ulama Syam

Published

on

Turki, JATMAN.OR.ID – Kitab Tasawuf Risalah Mustarsyidin karya Imam Haris Al-Muhasibi (243 H) seperti sebuah ceramah yang ditulis, tanpa bab dan tema mengalir bahkan kadang ada beberapa tema yang diulang. Alhamdulillah kemarin pagi langsung dibaca khatam selama 2 jam oleh Syekh Dr Khaled Kharsah.

Karena khatam saya upayakan untuk merekonstruksi dalam bacaan ringan tanpa menghilangkan subtansi, agar orang yang baru memulai belajar Tasawuf seperti saya dapat dengan mudah memahami. Sebab meskipun kitab ini berukuran kecil namun menjadi rujukan beberapa kitab Tasawuf besar seperti Ihya’ Ulumuddin, Qut Al-Qulub, Risalah Qusyairiyah dan sebagainya.

Saya mengawali dari hal. 90. Sebab bahasan utama dari kitab Tasawuf adalah menjernihkan hati, membersihkan jiwa atau menyucikan kalbu.

قال بعض الحكماء مثل القلب مثل بيت له ستة أبواب ثم قيل له احذر ألا يدخل عليك من أحد هذه الأبواب شئ فيفسد عليك البيت فالقلب هو البيت والابواب اللسان والسمع والبصر واليدان والرجلان والشم فمتى انفتح باب من هذه الأبواب بغير علم ضاع البيت

“Hati, ibaratnya adalah rumah dengan 6 pintu. Pintu-pintu tersebut harus dijaga. Demikian pula, hati memiliki 6 pintu, yakni mata, mulut, telinga, hidung, dua tangan dan kaki. Bila ada pintu yang tidak dijaga maka akan ada maling yang mencuri dar dalam rumah.”

Syetan akan berupaya masuk ke dalam hati karena hati adalah pusat kendali dan kontrol. Jika hati baik maka baik seluruh anggota tubuh. Dan jika hati rusak maka rusak seluruh tubuh (HR Muslim).

Kewajiban mulut adalah berkata jujur baik saat senang atau marah. Menahan ucapan baik saat menyendiri atau banyak orang. Sebagaimana terdapat dalam hadis:

ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﻌﻤﻞ ﻳﺪﺧﻠﻨﻲ اﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﺒﺎﻋﺪﻧﻲ ﻋﻦ اﻟﻨﺎﺭ

“Wahai Rasulullah, beritahu kepadaku sebuah amalan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka…”

Diantara jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

ﻭﻫﻞ ﻳﻜﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ اﻟﻨﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﺎﺧﺮﻫﻢ ﺇﻻ ﺣﺼﺎﺋﺪ ﺃﻟﺴﻨﺘﻬﻢ

“Bukankah manusia dijerumuskan ke neraka tidak lain karena perangkap mulut mereka sendiri?” (HR Tirmidzi)

Mata juga memiliki tugas, yakni memejamkan mata dari hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang dirahasiakan agar tidak dilihat. Sebagaimana dalam hadis:

«اﻟﻨﻈﺮﺓ ﺳﻬﻢ ﻣﺴﻤﻮﻡ ﻣﻦ ﺳﻬﺎﻡ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻟﻌﻨﻪ اﻟﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺁﺗﺎﻩ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻳﺠﺪ ﺣﻼﻭﺗﻪ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ»

“Penglihatan adalah panah beracun dari iblis, semoga Allah melaknatnya. Barangsiapa meninggalkan pandangan (yang terlarang) karena takut kepada Allah maka Allah akan memberikan iman yang dapat ia rasakan manisnya iman dalam hatinya”

Syekh Dr Khaled Kharsah mengutip takhrij dari Syekh Abu Ghuddah terkait riwayat hadis tersebut:

هناك روايات عديدة في الحاكم والطبراني في الكبير باسانيد ضعيفة

Ada banyak riwayat tentang hadis tersebut oleh Al-Hakim dan Thabrani dengan sanad yang dhaif (hal. 93)

Jika hati terlanjur sakit maka penyakit hati diobati (hal. 56)

1. Prasangka buruk

واحم القلب عن سوء الظن بحسن التأويل

Jagalah hati dari prasangka buruk dengan takwil yang bagus

2. Iri hati

وادفع الحسد بقصر الامل

Singkirkan iri hati dengan angan-angan yang pendek

3. Sombong

وانف الكبر بسلطان العز

Buang kesombongan dengan keagungan Allah

4. Menjaga amanah

واحفظ امانتك بطلب العلم

Jaga amanah dengan ilmu

5. Musibah

واستعد الصبر لكل موطن

Persiapkan sabar di semua tempat

6. Nikmat

واصحب النعمة بالشكر

Bersyukur atas nikmat

7. Selalu minta tolong kepada Allah

واستعن بالله في كل أمر

Minta pertolongan Allah dalam setiap hal

8. Tekun

وكل عمل تحب تلقاه به فألزم به نفسك

Setiap amal yang engkau senangi untuk menghadap kepada Allah maka teguhkan hatimu

9. Menghindari keburukan orang lain

وكل أمر تكرهه لغيرك فاعتزله من اخلاقك

Jika tidak senang dari orang lain maka hindarilah

10. Selektif memilih teman

وكل صاحب لا تزداد به خيرا في كل يوم فانبذ عنك صحبته

Jika ada teman yang tidak menambah kebaikan bagi mu maka jangan berteman dengannya

11. Menerima kesalahan orang

وحصن عملك باداب أهل الحلم

Jaga amalmu dengan akhlak mulia

12. Memaafkan

وخذ بحظك من العفو والتجاوز

Sediakan pintu maaf

Oleh: KH. Ma’ruf Khozin

(Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur)

Continue Reading

Artikel

Kelahiran Cahaya Peradaban: Analisa Pergerakan Nabi Muhammad Saw

Published

on

Bekasi, JATMAN.OR.ID – Bayi agung dari klan Bani Hasyim yang lahir pada 12 Robiul Awal tahun 570 M (dalam pendapat lain disebut 571 Masehi) lahir dalam masa konflik itu bernama Muhammad Saw. Bangsa Arab mungkin tidak pernah memprediksi bahwa di tanah panas itu, akan lahir manusia yang mampu mambangun mercusuar peradaban umat manusia kurang dari 1 abad.

Komunitas Yahudi khususnya, mereka menafsirkan bahwa akan ada penerus di dalam komunitas mereka yang akan memperjuangkan “Tanah yang dijanjikan” sebagaimana Musa memperjuangkan kaumnya dari penindasan Fir’aun. Walaupun beberapa Pendeta Yahudi dari mereka yang ahli kitab, juga dari pendeta Nasrani mengakui bahwa akan ada Jabang Bayi yang nanti akan meneruskan Risalah Nabi Ibrahim As., Musa As. dan Isa As. di dalam sejarah Agama Samawi.

Mengapa saya menyebut sebagai Tahun Konflik? Pertama, bahwa pada saat itu, Tanah Makkah yang telah menjadi tempat ziarah seluruh manusia, diserbu oleh Tentara Abrahah yang berambisi menghancurkan Ka’bah yang dibuat oleh Bapak Agama Samawi, Ibrahim As. Mereka iri karena tempat tersebut dijadikan sebagai ritus besar manusia dari berbagai penjuru, khususnya mereka yang bertauhid, untuk kembali mengingat Ibrahim beserta keluarganya. Dapat kita lihat bahwa Abrahah dan Pengikutnya merupakan penganut Kristen dan memiliki tempat ritual sendiri, ia ingin menghancurkan Kabah karena ingin tempat ritualnya menjadi tujuan utama. Menurut Prof. Quraish Syihab, dalam tafsirnya di Surah Al-Fil, menerangkan, bahwa pada Surah Al-Fil ada kata “Kaid” yang berarti ada motif atau sesuatu yang tersembunyi di balik penyerangan Abrahah. Kaid tersebut adalah kedengkian Abrahah terhadap masyarakat Makkah yang mendapatkan keuntungan materi dan kemuliaan akibat banyaknya orang yang mengunjungi Ka’bah.

Kedua, karena pada saat itu terjadi saling klaim antara umat Yahudi dan Nasrani, bahwa Nabi yang meneruskan risalah ialah lahir dari kelompok keduanya.

Muhammad Saw. yang Agung itu kemudian lahir sebagai Bayi yang dicita-citakan agama samawi sebelumnya. Ia lahir dari Bangsa Arab keturunan Abd Manaf, Keturunan Abdul Mutholib, tetua pemegang kunci Ka’bah. Di bawah kendalinyalah Ka’bah diurus. Karenanya beliau tidak pernah menyembah Patung. Karena faham bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan yang disembah Ibrahim. Bukan Berhala buatan manusia, sebagaimana orang Arab lain kebanyakan menyembahnya. Keluarga keturunan Muhammad kemungkinan besar memahami Sejarah Kenabian karena ketika ditarik garis keturuannya yaitu sampai kepada Ibrahim As melalui Ismail As.

Sebelum lahir, Nabi Agung Muhammad Saw. sudah dalam keadaan Yatim. Ayahnya meninggal pada saat ia masih di dalam kandungan.

Kondisi bangsa Arab pada waktu itu tergolong mapan soal Kesejahteraan (wealth) namun mereka mengalami sebuah disintegrasi Budaya. Hal ini bisa kita lihat akan majunya perdagangan internasional. Bahkan dalam sebuah Teori Genealogi penyebaran Islam, orang Arab sudah berdagang ke Negeri Cina. Bangsa Arab hidup berklan (Clan) dan dipimpin oleh seorang Syaikh, yang memiliki hak prerogatif untuk mengatur harta rampasan perang dan menentukan perang atau tidaknya sekelompok klan. Karakter dipengaruhi lingkungan. Arab ialah tanah panas yang kering, tak heran bahwa mereka mesti berkelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan memiliki tatanan politik dalam urusan perang.

Dalam perspektif Sosiologi dan Antropologi, Muhammad Saw. dilahirkan dari Klan Tua, yang dihormati oleh klan-klan lain. Hal tersebut kemudian tidak heran Abdul Mutholib menjadi pemegang kunci Ka’bah. Ketika lahir dari perut Ibunda Aminah, Nabi Muhammad diarak dan diadakan upacara sebagai bentuk penghormatan bahwa telah lahir bayi dari Klan Tua yang terhormat.

Sepertinya jika membuka sejarah, Muhammad sebagai bayi dan masa anak-anak justru seringkali menghadapi situasi yang menyedihkan. Hal ini mungkin dinamakan sebagai “Situasi Ambang Batas”. Bagaimana mungkin Anak yang lahir sudah ditinggal Ayahnya dan ketika umur 6 Tahun menjadi Yatim Piatu dapat membawanya menjadi Pemimpin terkemuka yang sukses mendidik masyarakat arab yang mengalami disintegrasi Budaya parah? Perbudakan, Judi, Membunuh Bayi perempuan, kesalahan orientasi spiritual telah terjadi di masa Muhammad kecil. Jelas secara genetik, intelektualitas Muhammad menolaknya. Inilah awal mulanya ia mentransfigurasi diri dan mentrasformasi masyarakat secara zohir dan batin. Ia akan melampaui “Kemampuan ambang Batas” dirinya sebagai manusia biasa.

Situasi ambang Batas yang dimaksudkan ialah pengalaman merespons keadaan tersulit dalam hidup seseorang. Hal tersebut membutuhkan kemampuan batin dan intelek agar dapat mengendalikan Stimulus (di luar) dan Respons (di dalam) diri Nabi.

Pengalaman menyedihkan, kesulitan hidup, serta kritik atas Budaya bangsanya merupakan hal yang membuat dirinya mampu melampaui manusia biasa sebagai manusia pada umumnya. Bekal-bekal seperti keturunan yang membuatnya memiliki previlage, berada dalam situasi Ambang Batas, serta karakteristik kepribadian yang kuat, ialah modal awal Nabi Muhammad SAW. Hidupnya selalu penuh dengan tantangan dan hampir tidak pernah mengalami “fase nyaman”.

Benar bahwa ketika Muhammad berumur 40 tahun, mengalami fase yang disebut sebagai “menarik diri” (Teori ini seperti dikemukakan Sejarawan Toynbee dalam A Study Of History hal tersebut terjadi pada semua Tokoh Sejarah yang memiliki Kemampuan besar pada Perubahan umat Manusia). Ini merupakan puncak dari Muhammad Saw melepaskan kemampuan biasanya kepada kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain. Situasi puncak ini merupakan pencerahan bagi dirinya dalam menghadapi realitas eksistensi masyarakatnya. Ia mempelajarinya sembari mencari inspirasi dari keadaan hening. Dalam istilah Jawa, ini dinamakan Tapa. Tapa melepaskan sifat-sifat manusia biasa. Dalam diskursus sejarah, sangat sering ditemukan laku ini pada orang-orang yang membawa perubahan besar. Proses tersebut dinamakan Transfigurasi. Mengolah kepribadian lama, menjadi lebih mumpuni menghadapi masalah.

Sampai akhirnya dia Kembali dalam keadaan yang lebih siap. Kekuatan spiritualitas pribadinya membimbingnya untuk secara terang melakukan transformasi sosial.

Kita menjadi tidak heran kemudian beliau mampu mengemban dua tugas secara langsung dan sukses. Selain sebagai Sayyidin Ing Alaga (pemimpin revolusi) dan Sayyidin Panata Agama (pemimpin spiritual) bagi masyarakat Arab.

Kekuatan konsolidasinya seperti air yang membasahi Kapas. Karena ditopang berbagai macam kemampuan. Ia mempunyai simpul-simpul pergerakan yang kokoh. Terlebih sahabatnya yang tak lain adalah mertua, ponakan, serta menantunya. Muhammad mengikatnya secara genetik. Sehingga kuat sekali pengaruhnya.

Agamanya, adalah agama yang rasional, dan membawa rasa spiritual ke arah yang lebih tinggi. Dari Tuhan yang dibuat, menjadi Tuhan yang membuat. Dari Tuhan yang terlihat dan lemah, ke Tuhan yang Tidak terlihat (namun meliputi) dan Maha Kuat. Agamanya menghargai Eksistensi manusia. Ia melarang praktik Budaya membunuh anak perempuan. Dia juga menyampaikan bahwa seumur hidup seorang anggotanya, adalah belajar. Sudah pasti ia menginginkan bahwa masyarakatnya dapat menjadi kelompok di dunia yang intelek tetapi memiliki rasa penghargaan terhadap eksistensi manusia.

Muhammad Saw. adalah manusia yang patut dipelajari fikir dan geraknya. Sayangnya kita mungkin jarang sekali yang mengkajinya. Padahal secara keilmuan, beliau sedang mempraktikkan bagaimana kita dapat mengantarkan sebuah bangsa yang Tandus, yang berkarakter keras ke berbagai belahan dunia dan mengatakan bahwa “Aku berhasil mengubahnya”.

Semoga Allah menyebarkan wewangian di kuburnya yang Mulia, dengan wangi Kebijaksanaan, dan Teladan kepada seluruh Umat Manusia.

Bekasi, 11 Oktober 2021/ Robiul Awal 1443 H

Fajar Chaidir Qurrota A’yun
(Ketua PK MATAN STAI HAS Bekasi)

Continue Reading

Artikel

Model Manajemen Kepemimpinan Transformasional di Bidang Pendidikan

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Mutu proses pendidikan dianggap baik apabila sumber daya sekolah mampu mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk kerangka mutu proses pendidikan ini adalah kesehatan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain- lain.

Hasil pendidikan dikatakan bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurkuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajran tertentu. Selain itu, mutu pendidikan dapat dilihat dari tertib administrasi.

Salah satu model kepemimpinan pendidikan yang diprediksi mampu mendorong terciptanya efektifitas institusi pendidikan adalah kepemimpinan transformasional. Jenis kepemimpinan ini menggambarkan adanya tingkat kemampuan pemimpin untuk mengubah mentalitas dan perilaku pengikut menjadi lebih baik dengan cara menunjukkan dan mendorong mereka untuk  melakukan  sesuatu yang kelihatan mustahil.

Konsep kepemimpinan ini menawarkan perspektif perubahan pada keseluruhan institusi pendidikan, sehingga pengikut menyadari eksistensinya untuk membangun institusi yang siap menyongsong perubahan bahkan menciptakan perubahan. Sejalan dengan yang diungkapkan O’ Leary (2021) menyatakan bahwa Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manager bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.

Seiring dengan perubahan kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah dalam hal ini pondok pesantren, karena aturan regulasi dari pemerintah melalui peraturan kementrian agama yang ada, maka manajemen kepemimpin juga akan mengalami perubahan. Pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan Islam Khas Nusantara.

Secara garis besar metode pendidikan di Pesantren adalah penggabungan antara metode pendidikan modern dan tradisional. Penggabungan dua metode ini didasarkan pada tuntutan zaman, bahwa, kita tidak dapat mengelak dari tantangan, perkembangan, dan kemajuan zaman dengan segala perniknya, tetapi juga kita sepatutnya tidak melepaskan nilai-nilai tradisional yang biasanya mengajarkan tentang nilai-nilai luhur budaya dan agama.

Dr. Suryadi selaku Koordinator Program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman Parung Bogor, memberikan pelatihan terhadap kepala sekolah, guru, santri dan mahasiswa/I dari pondok pesantren tersebut, yang berjumlah 400 peserta via zoom (22/09).

“Ekspektasi pelatihan ini adalah Menjadikan pondok pesantren Sebagai role model dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional bidang Pendidikan,” ungkap Suryadi.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diawali dengan Paparan secara Umum oleh Dr. Suryadi, dilanjutkan oleh dr. Santi Anugerahsari, SpM, M.Sc, FISQua (Kepala SMF Mata RSUD Koja)  menyampaikan materi tentang manajemen kepemimpinan di era covid: cara hidup sehat di era pandemic, dilanjutkan oleh  Nining Parlina, S.Pd. Gr., M.Si (Han) menyampaikan materi tentang Manajemen Kepemimpinan : praktik Mindfullness sebagai strategi Manajemen Stress dikalangan pendidik di era disrupsi.

Materi dilanjutkan oleh Rihlah Nur Aulia,MA (Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Sosial UNJ) memperkuat materi  dengan tema Karakteristik Kepemimpinan Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam.  Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pemateri dari kepala sekolah SMAN 36 Jakarta bapak Drs. Moch Endang Supardi, M.Si., M.Pd menyampaikan Materi tentang Kepemimpinan Transformasional kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di persekolahan. Selanjutnya pemateri pamungkas dari kepala Sekolah SMAN 109 Jakarta menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional dalam manajemen kesiswaan.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari semua peserta, dibuktikan adanya pertanyaan mendalam dari tiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending