Connect with us

Artikel

Keutamaan Bulan Syaban dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

KH Zainal Arifin

Published

on

Keutamaan Bulan Rajab dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Hari ini (Rabu, 16/03/2021) memasuki tanggal 2 Syaban 1442 H, artinya sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Pembahasan bulan Syaban merujuk pada Kitab Maadzi fi Syaban yang artinya “Ada apa di bulan Syaban?” Kitab ini disusun oleh putra seorang ulama di kawasan Rusaifah di sebelah utara pusat Kota Mekah, yaitu Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Hasaniy. Saat ini, beliau sudah berpulang ke Ramahatullah. Namun, majelis ilmu di Rusaifah masih terus hidup yang dihadiri oleh murid-murid dari segala penjuru dunia. Beliau adalah pakar hadis dan menjadi guru khususnya ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah.

Kitab tersebut dimulai dengan membahas nama Syaban. Secara bahasa, syaban setidaknya mimiliki 3 (tiga) arti, yaitu:

  1. Bulan yang memiliki banyak cabang-cabang kebaikan
  2. Tersebar luas nampak dengan jelas/istimewa
  3. Jalan yang berada di pegunungan

Dari sisi nama, kemuliaan bulan Syaban sebagai gerbang masuknya orang beriman menuju bulan Ramadhan.

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Syaban, yang sekaligus dijadikan sebagai penuntun bagi umat muslim:

  1. Taahwilul Qiblah, yaitu diubahnya kiblat dari Baitul Maqdis menjadi ke arah Kabah, yang sekaligus sebagai isyarat dari Allah agar umat muslim melakukan instropeksi diri dan memperbaharui orientasi hidup. Diantaranya  adalah untuk ibadah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah:”Tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzaariyaat: 56). Ayat ini mengajarkan bahwa hidup dengan orientasi ibadah adalah kebahagiaan dan kenikmatan sejati di dunia dan di akhirat bersama orang-orang sholeh
  2. Rof’ul Amal, yaitu pada bulan Syaban, amal-amal dilaporkan kepada Allah sebagai pelaporan akbar dan pelaporan yang paling luas atau dapat dianalogikan dengan laporan tahunan. Rasulullah SAW selalu berpuasa di bulan Syaban, karena beliau ingin agar saat Malaikat melaporkan tahunan, Rasulullah dalam keadaan sedang berpuasa.
  3. Syahru sholawati ‘ala Nabiyi shalallahu alaihi wassalam, yaitu bulan Syaban adalah bulan shalawatnya kepada Rasulullah. Diantara keistimewaan bulan Syaban adalah Allah menurunkan ayat yang memerintahkan untuk bersholawat dan menyampaikan salam kepada Rasulullah, yaitu dalam QS Al Azhab 56:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Jika ayat tersebut diperhatikan, terlihat bahwa tidak ada perintah ibadah seperti perintah bersholawat kepada Nabi SAW, karena diawali dengan penegasan bahwa Allah dan Malaikat bersholawat kepada Rasulullah. Artinya, sholawat adalah ibadah yang istimewa. Sekaligus ayat itu menjelaskan bagaimana sholawat kepada Rasulullah dengan benar, yaitu sholawat yang lengkap adalah sholawat dan salam, Allahuma shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliima.

Baca juga: Bulan Rajab, Ini Beberapa Amalannya

Selain laporan tahunan, adapula Ar-Rof’ul Shouri yaitu laporan harian. Dalam hadis disebutkan bahwa waktu untuk laporan harian adalah ba’da zawal saat dzuhur. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menjaga 4 rakaat sebelum dzuhur dan 4 rakaat setelah dzuhur, maka Allah haram akan dirinya dari siksa Neraka” (Hadis at-Tirmidzi Nomor 428). Jumhur ulama termasuk Imam Nawawi berpendapat bahwa lebih utama melaksanakan shalat qabliyah dan ba’diyyah dzuhur masing-masing 2 rakaat atau 4 rakaat dengan 2 salam.

Dengan demikian, waktu dzuhur adalah waktu istimewa. Rasulullah SAW bersabda: “Waktu sebelum dzuhur adalah saat pintu-pintu langit dibuka oleh Allah, aku ingin ada amal sholeh yang diangkat ke langit“. Jika Rasulullah yang ma’sum (terjaga dari dosa) berdoa seperti itu, hal ini berarti menjadi motivasi umat muslim untuk melakukan banyak perbaikan dari begitu banyaknya dosa di masa lalu.

Dalam kitab tesebut juga disebutkan keutamaan, keistimewaan dan hakikat sholawat kepada Rasulullah: “Orang yang bersholawat pada Nabi, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali“. Dan ada riwayat lain yang menjadi penyelamat dan pembela kita yang kurang ibadahnya di dunia.

Ada sebuah riwayat, seorang pemabuk yang bertanya pada guru cara mengatasi mabuknya. Lalu, ia dibimbing oleh gurunya dengan memintanya agar pemabuk itu membaca sholawat untuk nabi berulang kali. Sampai lidahnya terasa manis, menggetarkan hati, dan muncul kerinduan kepada Rasulullah SAW.

Syaban adalah bulan bersholawat. Mari kita persiapkan sebaik-baiknya diri kita untuk ibadah di bulan Ramadhan. Para shalafush sholeh telah berdoa 3 bulan sebelum Ramadhan, yaitu doa tanpa putus agar dapat merasakan bulan Ramadhan sejak bulan Rajab, dan agar diberikan kesehatan dan kekuatan selama di bulan Ramadhan: “Ya Allah Berkahi di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan serta pertemukan kami kembali dengan bulan Ramadhan”.

Semoga kita termotivasi untuk meningkatkan ibadah mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki bulan Ramadhan, dan berdoa semoga seluruh ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin

Kajian ini disampaikan oleh KH Zainal Arifin dalam Ta’lim Madinah Quran pada hari selasa, 16 Maret 2021 pukul 05.35-06.10.

Artikel

Mengenal Tuhan dalam Perspektif Tauhid Wujudi

Published

on

Ketahuilah Tuhan itu Wujud yang Absolut yang tunggal [Wahdatul Wujud]. Karena tidak bisa dikenal hakikat-Nya hanya melalui pikiran yang relatif.

Mengenal Tuhan melalui pikiran laksana melihat obyek melalui bayangan sebuah cermin. Jadi tergantung cerminnya. Kalau cerminnya utuh dan bening maka terhadap objek yang tunggal akan tetap terlihat tunggal.

Akan tetapi jika cerminnya pecah, pecah tiga umpamanya, maka maka obyek yang tunggal akan terlihat tiga.  Begitu juga jika pecah menjadi banyak, maka obyek tunggal akan terlihat banyak.

Itulah sebabnya dalam disiplin teologi/ilmu ketuhanan didapati banyak konsep ketuhanan. Diatanranya:

1. Ada Polyteisme/Tuhan itu banyak
2. Ada Henoteisme/ada diagungkan di antara Tuhan yang banyak sebagai Maha Dewa
3. Ada Monoteisme/Tuhan itu Tunggal tidak dan terpisah dari alam [Imanen]
4. Ada Panteisme/semua keberadaan adalah tampilan dari sifat Tuhan.

Dalam Islam jalan untuk mengenal Tuhan adalah melalui Tauhi. Namun demikian dalam Islam sendiri meski Tuhannya sama yaitu Allah, rujukannya juga sama alqur’an dan hadits, akan tetapi ada perbedaan dalam konsepnya, ada banyak aliran yang berkembang, seperti As’ariyah, Muktazilah, Qodariyah, Jabariyah, dan Mujassimah.

Padahal Tuhan itu Esa adanya [Ahadit Dzat] sebagaimana yang telah dikonseptualisasikan oleh beberapa ulama sufi. Syeikh Al-Junaid Al-Baghdadi menjelaskakan:

التوحيد إفراد الموحد بتحقيق وحدانيته بكمال أحديته أنه الواحد الذي لم يلد ولم يولد، بنفي الأضداد والأنداد والأشباه بلا تشبيه ولا تكسف والتصوير ولاتمثيل ليس كمثله شيء وهو السميع البصير..

“Tauhid adalah menunggalkan yang Maha Tunggal (Muwahid) dengan mewujudkan Wahdaniyah-Nya lewat Kamilah (ke-Maha Kesempurnaan) Ahadiyah-Nya. Bahwa Dia-lah yang Wahdah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan. Kontra terhadap antagoni, tanpa keraguan dan keserupaan, tanpa upaya penyerupaan, tanpa bertanya bagaimana, tanpa tashawur (penggambaran), tanpa  pemisalan dan tidak ada sesuatu pun yang menyamai-Nya. Dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.”[i]  

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali  menjelaskan

انظر بعين التوحيد المحض وهذا النظر بعرفك قطعاً أنه الشاكر وأنه المشكور وأنه المحب وأنه المحبوب وهذا نظر من عرف أنه ليس الوجود غيره وأن كل شيء هالك إلا وجهه وأن ذلك صدق في كل حال ازلا وأبدا، لأن الغير هو الذي يتصور أن يكون له بنفسه قوام، ومثل هذا الغير لا وجود له بل هو محال أن بوجد إذ الموجود المحقق هو القائم بنفسه، وما ليس له بنفسه قوام فليس له بنفسه وجود بل هو قائم بغيره فهو موجود بغيره فإن اعتبر ذاته ولم يلتفت إلى غيره لم يكون له وجود البتة، وانما الموجود هو القائم بنفسه والقائم بنفسه هو الذي لو قدر عدم غيره بقي موجوداً فإن كان مح قيامه بنفسه يقوم بوجوده وجود غيره فهو قيوم، ولا قيوم إلا واحد، ولا يتصور أن يكون غير ذلك، فإذن ليس في الوجود غير الحي القيوم وهو الواحد الصمد

“Pandanglah dengan mata tauhid yang murni bahwasanya Dia (Allah) adalah Dzat yang bersyukur dan Dia itu yang berhak atas yang masykur (yang disyukuri). Dia yang mencintai dan dicintai. Ini adalah syuhud/pandangan orang yg mengetahu. Bahwa tidak ada sesuatu pun yang wujud selain Dia. Dan setiap sesuatu itu pasti binasa, kecuali Dzat-Nya.

Dan yang demikian itu benar di dalam setiap hal, baik dalam Azali dan Qadim-Nya. Karena sesungguhnya yang lain dari Al-Haq itu yang tergambar bahwasanya ada baginya yang berdiri sendiri dan contoh yang lain ini tidak akan wujud bagiNya, bahkan mustahil baginya akan wujud. Karena yang wujud hakiki ialah Yang berdiri Dengan Sendiri-Nya. Dan selain Dia tidak ada baginya berdiri sendiri. Maka tidak ada baginya wujud. Bahkan ia yang berdiri dengan Sebab yang lainnya, niscaya ia tidak akan wujud sama sekali.

Hanya saja yang telah wujud adalah Al-Qaim Binafsihi. Jikalau diumpamakan yang lain tidak ada lagi, maka Dia tetap Baqa (kekal) ada-Nya. Jikalau beserta berdiri sendiri-Nya, berdiri pula wujud lainnya dengan sebab Wujud-Nya, maka Dia itu Al-Qayyum (Maha Berdiri) dan tidak ada yang Al-Qayyum selain yang Ahadiyah dan tidak tergambar bahwa ada yang lain. Jadi, tidak akan wujudlah Yang Maha Hidup dan berdiri sendiri. Dialah Yang Maha Esa dan Tempat Meminta.”[ii]

Al-Imam Shadruddin Al-Qunawi menjelaskan

والحق سبحانه من حيث وحدة وجوده لم يصدرعنه إلا الواحد لا ستحالة إظهار الواحد غير الواحد وذلك عندنا هو الوجود العالم المفاص على أعيان المكونات ما وجد منها وما لم يوجد مما سبق العلم بوجود وهذا الوجود مشترك بين القلم الأعلى الذي هو أول موجود المسمى أيضاً بالعقل الأول وبين سائر الموجودات

“Al-Haq Subhanallah wa Ta’ala dari sisi ketunggalan Wujud tidak akan muncul kecuali yang Wahdah (Tunggal). Sebab, mustahil kenyataan Wahdah pada selain yang Wahdah dan Sesungguhnya wujud alam yang membias pada segala wujud alam Semesta baik apa yang ditemukan atau tidak termasuk sesuatu yang telah dahulu wujud alam yaitu wujud mustyarak (ambigu) yang terbagi pada Qalam a’ala (tertinggi) sebagai awal Maujud yang bernama Aqal Awwal sebagai pusat kejadian segala Maujud alam semesta.”[iii]

Hanya para arif/resi/genoses yang benar mengenal Tuhan. Mereka para al Arif Billah mengenal Tuhan dengan mata hati [Bashirah]. Dan untuk itu harus bisa melampaui pikiran dan hawa nafsu.

Agar bisa melampaui pikiran dan hawa nafsu dalam mengenal Tuhan inilah maka didalam Agama Islam disediakan dua jalan:

1. Jalan syariah/eksoteris
2. Jalan thariqoh/esoteris

Melalui jalan thariqoh dengan melakukan disiplin kerohanian yang ketat serta dibimbing oleh Mursyid Murrobi/guru master yang sejati. Maka para pejalan spiritual/salik akan sampai pada tujuan dari segala tujuan yaitu kesadaran Tauhidul Wujud.

Orang-orang yang telah sampai pada kesadaran tauhidul wujud mereka akan merasakan pengalaman Ketuhanan Yang Sama yang disebut dalam istilah tasawuf dengan Syuhudul Wahdah fil Katsrah/Melihat yang Tunggal dalam yang banyak dan Syuhudul Katsrah fil Wahdah/Melihat yang banyak dalam yang Tunggal.

Dalam Filsafat Ketuhanan, Tuhan dinyatakan bersifat Absolute Relatively. Sebagai wujud yang hakiki, Dia absolut. Dan sebagai konsep ilmi/konsepsi Dia Relative.

Inilah yang dimaksud puja sastra dalam kitab Sota Soma yang terkenal menjadi semboyan “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hono Darmo Magroa”

Penulis: Budi Handoyo
(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)


[i]  Al-Qusyairi, Risalah Al-Qusyairiya fi Ilmi At-Tashawwuf , Maktabah Al-Tawfikiyah Al-Qaherah hal 22)

[ii] Al-Ghazali,  Ihya Ulumuddin  Juz IV Syirkat Al-Quds, Al-Qaherah hal 132

[iii] Shadruddin Al-Qunawi,  Miftahul Ghaib Al-Jami wal Wujud, Dar Al-Kotob Al-ilmiyah, Beirut hal 21-22

Continue Reading

Artikel

Tauhid Sufi dalam Pandangan Ulama Aceh

Published

on

Dr. Muhammad Dhiahuddin Kuswandi[i] menjelaskan klasifikasi tauhid yang terbagi menjadi tiga tingkatan:

– Untuk orang awam, yaitu tauhid yang didasarkan pada Ilmu Kalam
– Untuk orang khawash, yaitu tauhid yang didasarkan pada Ilmu Filsafat Perennial
– Untuk orang khawasul  khawash, yaitu tauhid yang didasarkan Ilmu Tauhid Sufi.

Tauhid sufi adalah tauhid murni yang didasarkan pada faham wahdtul wujud sebagaimana yang telah dikonseptualisasikan oleh tokoh-tokoh sufi antara lain Al-Hallaj, Syeikh Ibnu Arabi, Syeikh Abdul Qadir al Jilani, Imam Shadruddin al Qunawi, Abdul Karim al Jili, Syeikh Abdul Rauf al Singkili dan lain sebagainya.

Dalam pandangan wahdatul wujud, hanya ada satu wujud mutlaq yaitu Allah Swt. sebagai hakikat segala sesuatu. Sedangkan alam dan manusia adalah merupakan tajalli atau madhar dari Sifat-Nya.

Pencapaian tertinggi dalam tauhdi sufi ini ditandai dengan pengalaman ruhani [religius experince] berupa kesadaran dikenal

شهود الكثرة في الوحدة وشهود الوحدة في الكثرة

Menyaksikan yang Eka [Tunggal] dalam aneka [banyak]  dan menyaksikan yang aneka dalam Eka.[ii]

Maksud شهود الكثرة في الوحدة  ibarat sebatang pohon. Kita lihat banyaknya daun, buah, cabang, ranting, kayu dan akar semuanya itu datang dari biji yang tampak pada sirr hati. Adapun pikiran kita hanyalah biji semata. Dari contoh ini dapat diambil makna bahwa daun, buah, cabang, ranting, kayu dan akar adalah cosmos [alam semesta termasuk manusia]. Sedangkan biji adalah ibarat Allah Swt.

Adapun maksud شهود الوحدة في الكثرة adalah memandang secara mesra kepada Allah Swt. Meliputi ia pada zarratul wujud sebagaimana contoh di atas, di mana yang tampak hanya biji. Kemudian dari biji itulah timbul daun dan sebagainya.[iii]

Abuya Syeikh. H. Amran Waly Al-Khalidy mengartikan Tauhid Sufi ibarat Tauhid Af’al, Tauhid Sifat dan Tauhid Dzat. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya makhluk ini adalah bekas dari perbuatan Allah. Perbuatan ini bersambung dengan sifat-sifat-Nya dan sifat-Nya berdiri pada Dzat-Nya. Oleh karena itu, apabila hilang perbuatan kita dalam perbuatan-Nya, sifat kita dalam sifat-Nya dan wujud kita dalam Dzat-Nya, orang-orang yang seperti inilah yang dapat bertauhid sufi. Hilang Wujud selain Allah Swt. di dalam Wujud-Nya, maka zahirlah dalam pandangannya Allah itu Esa pada perbuatan-Nya, pada sifat-Nya dan pada Dzat-Nya.[iv]

Imam Muhyiddin Ibnu Arabi, berkata;

من شهد الخلق لا فعل لهم فقد فاز، ومن شهدهم لا حياة لهم فقد حاز، ومن شهدهم عين العدم فقد وصل

“Barang siapa yang menyaksikan makhluk tiada ada perbuatan bagi mereka, maka sungguh ia telah menang. Barangsiapa yang menyaksikan makhluk tiada hidup bagi mereka, maka sungguh ia telah mendapat keuntungan. Dan Barangsiapa yang menyaksikan makhluk tiada wujud, maka sungguh ia telah wushul (sampai kepada Allah Swt).”[v]

Adapun arti dari sufi sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sayyidi Abdul Karim Al-Jili

الصوفي : من صفا من كدورات البشرية بأسماء الحق ولصفاته وذاته فهو مصفى مما سوى الحق.

“Sufi adalah orang yang jernih dan bersih hatinya dari berbagai kotoran manusiawi, dan mengisi bathinnya dengna nama-nama sifat-sifat dan Dzat Allah Swt. serta mensucikan segala sesuatu selain Al-Haq.”[vi]

Kegunaan Tauhid Sufi sebetulnya adalah untuk memperbaiki diri dengan cara bertaubat, zuhud, mudah melaksanakan ketaatan, menjunjung tinggi perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. baik dari segi ibadah dan muamalah. Untuk menghilangkan ananiyah (wujud diri), dapat beribadah dengan tidak melihat amal, imbalan dan maksud diri (popularitas) serta berkasih sayang sesama hamba Allah Swt. dan makhluk-Nya. Karena dia melihat bahwa baik dirinya maupun orang lain adalah milik Allah Swt. Sehingga ia dapat berakhlak dengan akhlak-Nya. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shalallahu Alayhi Wasallam;

تخلقوا بأخلاق الله

“Berakhlak kamu dengan Akhlak Allah Swt.”

Penulis: Budi Handoyo
(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam, Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)


[i] Pimpinan Keluarga Besar Wali Songo dan Pimpinan Majelis Tasbih Surabayah

[ii] Muhammad  Dhiahuddin Kuswandi, Tauhid Tasawuf dalam Peranan  dan Jejaknya dalam Peradaban Nusantara, Makalah Disampaikan Muzakarah Tauhid Tasawuf ke IV Asia Tenggara di Pesantren   Raudha Al-Hikam, Cibinong=Bogor Jawa Barat, pada Tanggal 25 s/d 27 Agustus 2016, hal 4-6

[iii] Haderanie, Permata  yang Indah [Ad-Durrunnafis], Nur Ilmu, Surabaya, hal 114-114

[iv] Abuya Syech H. Amran Waly Al-Khalidi, Risalah Tauhid Tasawuf & Tauhid Shufi Abuyah Syaikh Amran Waly Al-Khalidi, Jilid 1, Darul Ihsan, Labuhan Haji, Aceh Selatan, hal 105

[v] Abdul Madjid Syarnubi, Syarah Al-Hikam Ibnu Athaillah Al-Sakandari, Dar Ibnu Katsir, Beirut, hal  81

[vi] Abdul Karim Al-Jili, Al-Manazhiru Al-Ilahiyyah, Dar Al-Manar, Al-Qaherah, hal 170

Continue Reading

Artikel

Menjadi Waliyullah yang Kaya

Published

on

Kebanyakan orang awam beranggapan bahwa menempuh jalan tasawuf adalah meninggalkan seluruh perkara dunia dan hidup dalam kemisikinan. Ketahuilah, bahwa itu salah besar. Dr. Abdul Fattah as Samman dalam disertasinya mengungkap bahwa harta kekayaan Rasulullah Saw. jika dijumlahkan mencapai angka yang fantastis, yaitu setara dengan 1.217 Kg emas atau 1.217.000 gram. Jika harga emas pada hari ini adalah Rp.955.000, maka Rasulullah Saw. memiliki kekayaan sebesar Rp.1.162.235.000.000. angka yang sangat tinggi untuk orang yang dianggap miskin. Bahkan, bisa jadi ketika Rasulullah Saw. hidup di zaman ini, maka beliau akan mendapat gelar Crazy Rich Mekkah.

Namun, apakah Rasulullah Saw. menggunakan hartanya untuk kepentingan pribadi? Tentu saja tidak. Beliau menyedekahkan seluruh hartanya untuk kepentingan agama Islam. Maka itu pula yang dijadikan teladan oleh sahabat-sahabat yang lain seperti Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan lainnya. Bayangkan jika Rasulullah Saw. adalah orang yang miskin, tentu orang lain akan menganggap Rasulullah Saw. hanya memanfaatkan harta sahabat-sahabatnya tanpa memberikan kontribusi nyata terhadap keberlangsungan umat.

Perilaku Rasulullah Saw. seperti itulah yang kemudian ditiru oleh wali-wali Allah Swt. Menjadi ahli tasawuf bukanlah melarang kita untuk menjadi kaya dan memilih menjadi miskin. Melainkan melarang kita untuk dibutakan oleh kekayaan tersebut. Justru apabila ahli tasawuf itu adalah orang yang kaya, maka ia akan dengan mudah mendermakan hartanya di jalan Allah Swt. Dengan begitu agama Allah Swt. menjadi hidup dan keberkahannya akan kembali kepadanya. Seorang ulama mengatakan sebuah ungkapan bijak,

“Letakkanlah hartamu di tanganmu, jangan di hatimu. Maka jika kau ingin melepasnya, kau akan melepaskannya dengan mudah.”

Inilah sesungguhnya yang disebut zuhud. Hidup sederhana yang tidak bergantung kepada harta meskipun ia kaya. Jika seseorang berorientasi kepada kekayaan semata, ia akan lalai dikarenakan harta tersebut. Namun jika seseorang itu kaya karena Allah Swt., maka tentu saja ia akan memanfaatkan harta itu dengan sebaik-baiknya di jalan Allah Swt. sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.

Rasulullah Saw. Bersabda:

ازهد فى الدنيا يحبك الله وازهد فيما فى ايدي الناس يحبوك

“Berzuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah Swt. akan mencintaimu. Dan berzuhudlah terhadap perkara manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Syeikh Abu Hasan as Sadzili adalah salah satu waliyullah yang kaya. Pakaiannya berkelas dan rumahnya seperti istana. Namun seluruh kekayaannya itu tidak membuatnya lupa kepada Allah Swt. bahkan ia berkata,

لا كبيره عندنا اكبر من اثنين حب الدنيا بالايثار والمقام على الجهل بالرضا لانه حب الدنيا راس كل خطيئه والمقام على الجهل اصل معصيه

“Tidak ada dosa yang lebih besar melebihi mencintai dunia hingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya serta ridha terhadap kebodohan. Karena mencintai dunia adalah pokok setiap kesalahan dan ridha terhadap kebodohan adalah pokok dari kemaksiatan”

Wallahu a’lam

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending