Connect with us

Artikel

Kenapa Mesti Hati-hati Memilih Apa yang Dimakan?

KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Dosen jurusan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta/Pengamal, pengaman, pelestari ajaran Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah Ma’had Suryalaya]

Published

on

makan

Apa yang kita makan, yang kita minum, mempengaruhi bukan hanya kondisi fisik tapi juga nonfisik. Jadi, kalau ada keanehan dalam kondisi tubuh dan status ruh pasti karena, disadari atau tidak, kita telah memasukkan makanan-minuman yang tidak dikehendaki tubuh dan ruh. Jadilah penyakit jasmani, terjadilah gangguan ruhani.

Ajaran dan laku kesufian sangat serius sekali memberi perhatian pada apa yang kita konsumsi utamanya yang bisa mempengaruhi stabilitas emosi. Oleh karenanya, di dunia kesufian ada riyadhoh untuk tidak mengkonsumsi makanan yang bernyawa, yang memiliki ’emosi’ seperti manusia.

Di masa Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad, ada ijazah riyadhoh bernama ‘ngabeuti‘. Seperti ‘puasa mutih’, di mana murid-murid yang sedang melakoni riyadhoh ini hanya mengkonsumsi ‘beubeutian‘ –ubi, singkong, sayur-sayuran. Tidak dimasak apalagi menggunakan penyedap. Mereka tidak mengkonsumsi daging, ikan dan makhluq bernyawa lainnya.

Kenapa demikian?

Karena makanan yang berasal dari sesuatu yang bernyawa-beremosi itu mempengaruhi kesehatan dan kecerdasan emosi pelaku kesufian. Hewan-hewan itu merekam emosi mereka saat hidup hingga penghujung kematiannya dan ketika dikonsumsi jejak emosi itu terrekam oleh emosi pengkonsumsinya.

Di era industri daging untuk konsumsi saat ini, hewan-hewan diternak dengan massal melalui proses kimiawi dan saat tiba penyembelihannya mayoritas peternak mengabaikan etika agama. Lihatlah bagaimana hewan-hewan ini sejak diternakkan bahkan hingga saat penyembelihan, dibiarkan dalam keadaan stress, ketakutan, kepanikan, kemarahan, kebencian dan kondisi-kondisi emosi negatif lainnya. Belum lagi, hilangnya relasi emosional-spiritual antara penyembelih dan yang disembelih karena prosesnya sudah sangat mekanik, menggunakan mesin potong.

Kondisi emosi negatif hewan yang kelak kita konsumsi itu, sekali lagi, menyimpan memori emosi yang buruk dan akan terekam emosi tersebut oleh siapapun yang mengkonsumsinya. Pada gilirannya, konsumen dari daging yang diolah secara brutal dan tak sehat itu mempengaruhi emosinya: jadi lebih mudah marah, stess, panikan, dan senang membenci.

Oleh karenanya, mulailah berhati-hati mengkonsumsi daging yang prosesnya tak kita ketahui secara baik. Jika harus mengkonsumsi daging, pilihlah yang sejak proses ternak, pemilihan, penyembelihan dan pengurusan hewannya menjungjung tinggi etika ‘kehewanan’ seperti diajarkan Islam. Agar setelah dikonsumsi, menyehatkan jasmani terlebih rohani kita.

Di atas segalanya, saat menikmati wisata kuliner di mana dan kapan pun, sudah saatnya diri kita mulai mengajukan pertanyaan mendasar, apakah makanan yang akan kita lahap ini amat dibutuhkan tubuh untuk lebih sehat? Apakah hidangan yang akan kita santap ini bisa memberikan energi untuk saya lebih rajin beribadah, memberi kekuataan saat amaliyah/riyadhoh, dan menunaikan setiap kebaikan?

Sudah waktunya saat memilih makanan tidak lagi bersandar pada pertanyaan nafsu: enak atau tidak, kita suka atau tidak, tapi sudah soal pemenuhan kebutuhan kesehatan jasmani-ruhani. Ini sebagai bentuk kasih sayang kepada tubuh yang telah berjasa menjadi hunian ruh kita; mensyukuri tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisinya. Salam kuliner sehat.[]

Continue Reading

Artikel

Tentang Penganugerahan Dr. HC kepada KH. Afifuddin Muhajir

Published

on

KH. Afifuddin Muhajir

“Selamat untuk Almukarram KH. Afifuddin Muhajir, Rais Syuriah PBNU, atas gelar Doktor Honoris Causa yang beliau terima dari UIN Walisongo Semarang”. KH Afifuddin tidak memerlukan gelar. Namun pemberian gelar ini, menunjukkan bahwa lembaga akademis —dalam hal ini UIN Walisongo— cukup jeli mengetahui dan mengakui keilmuan dan kepakaran beliau. Sekali lagi Selamat. Mabruk alfu-alfi mabruk.” (KH. Ahmad Mustofa Bisri, Mustasyar PBNU, Pengasuh PP Raudlatut Thalibin Rembang).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah salah satu jimat NU. Beliau sanggup menjaga keseimbangan antara al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih dan al-a’akhdzu bil jadidil ashlah. Ini karena beliau mengerti turats klasik sambil terus membaca buku-buku keislaman kontemporer. Semoga Allah SWT memperbanyak orang-orang seperti Kiai Afif ini. (KH Miftachul Akhyar, Rais Am PBNU & Pengasuh PP Miftahus Sunnah Surabaya).

“K.H. Aifuddin Muhajir adalah seorang alim dan penulis yang tawadhu‘, padahal posisi sebagai salah seorang al-raasikhuuna fii al-’ilm patut disematkan kepada kiai ini. Maka penganugerahan gelar Doktor (HC) untuknya sudah pada tempat yang tepat dan benar.” (Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 1998-2005, Pendiri Maarif Institute).

Di lingkungan NU, tak mudah menemukan seorang kiai yang kealimannya disepakati oleh semua. Kiai Afifuddin Muhajir adalah salah satu kiai NU yang kealimannya sudah “mujma’ alaih” itu. Ia telah menjadi marja’ (acuan akademis) di forum-forum bahtsul masail NU, baik di Munas maupun Muktamar. Atas penganugerahan ini saya ucapkan selamat dan sukses. (Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU dan Pengasuh PP al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta).

Gagasan Islam Washatiyah Kiai Afifuddin Muhajir dapat diterima oleh berbagai kalangan baik pada tingkat nasional maupun internasional. Dengan argumen yang logis, obyektif dan rasional, gagasan Kiai Afif ini telah meneguhkan persemaian Ahlussunah Waljama’ah di segala penjuru dunia. Selamat atas penganugerahan Doktor Honoris Causa untuk beliau di UIN Walisongo Semarang. (KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo).

Saya mengenal KH Afifuddin Muhajir sebagai kiai yang hampir seluruh perjalanan hidupnya ditempa dan mengajar di pondok pesantren dengan penguasaan dan penghayatan yang tinggi pada tradisi akademik yang, kata orang, hanya ada di perguruan tinggi. Oleh sebab pemberian gelar doktor honoris causa oleh UIN Walisongo kepada beliau sangat layak dan patut diapresiasi. (Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, guru besar Hukum Tata Negara dan Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah kiai alim yang mengerti teks (nash) dan konteks (siyaq) secara sekaligus. Ia tahu wilayah ta’qquli yang perlu dimasuki aktivitas ijtihad dan wilayah ta’abbudi yang seharusnya sepi dari lalu lalang istinbath. Mungkin karena keunggulan itu, pikiran-pikiran Kiai Afif lebih mudah diterima publik Islam secara luas. Atas penganugerahan doktor honoris causa kepada beliau, saya ucapakan selamat dan semoga maslahat buat umat. (KH Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriyah PBNU).

Kiai Afifuddin Muhajir adalah kiai yang tak hanya berfikir moderat melainkan juga bertindak secara moderat. Ketika muncul pro-kontra tentang suatu masalah di kalangan para ulama, Kiai Afif selalu mencari jalan moderasi dengan melakukan al-jam’u wa al-taufiq. (Ning Hj. Yenny Zannuba Wahid, Pendiri Wahid Foundation).

Saya melihat KH Afifuddin Muhajir sebagai seorang kiai ahli Fiqh yang tidak mau hanya berhenti pada ‘ibârah, melainkan menukik ke relung maqâshid dan mabâdi’; cermat dalam menangkap masalah dan mencari jalan keluar dengan tetap berpegang pada dalil yang kuat. Sudah semestinya kalau gelar doktor dianugerahkan kepadanya. (Prof. Dr. Muhammad Machasin, Musytasyar PBNU dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Salah satu kepiawaian Kiai Afif yang amat menonjol dan dikenal luas adalah di bidang ushul al-fiqh. Dalam banyak kesempatan ia sering menyatakan, untuk memahami teks (ayat, nash), tak cukup hanya mengandalkan kitab tafsir al-Quran semata, apalagi cuma merujuk terjemahannya saja. (Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia Periode 2014-2019).

Penganugerahan Dr. HC kepada KH Afifuddin Muhajir sudah sangat tepat, kerena keahlian Kiai Afif dalam bidang Ilmu Ushul Fiqh sudah sangat masyhur di kalangan peminat ilmu-ilmu keislaman. Selamat dan sukses! (KH Dr. Abdul Malik Madani, Katim Am PBNU Periode 2010-2015, Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta).

KH Afifuddin Muhajir merupakan sosok unik yang sulit dicari bandingannya. Kemampuan inteleklualitasnya khususnya di bidang ushul fiqh benar-benar mengagumkan, melampaui batas lokalitas, menjangkau dunia global. Semua itu diperolehnya hanya di satu pesantren, Pondok Pesantren Sukorejo Situbonbo. Keilmuan yang benar-benar berkah dan memberkahi dunia keilmuan. Auranya kian bersinar kuat saat intelektualitasnya menyatu dalam kepribadiannya yang sangat rendah hati. (Prof Dr KH Abdul A’la Basyir, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya).

KH Afifuddin Muhajir adalah ulama yang berpikiran moderat, dalam arti kuat menjaga pemikiran Islam tradisional sambil mengapresiasi pemikiran modern. Ia bukan hanya bagus dalam berbicara tetapi juga beliau mampu menulis kitab dalam bahasa Arab fasih, bagai ulama Arab. (KH Husein Muhammad, Pengasuh PP Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon).

Sosok ini sangat santun dan bersahaja. Produk asli pesantren namun wawasannya sangat luas. Semangat mencari ilmu dan rasa ingin tahunya sangat besar. Beliaulah salah satu mutiara terpendam dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo (Prof. Nadirsyah Hosen, P.hD, Monash University dan PCI NU Australia – New Zealand).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah kiai alim terutama dalam bidang fikih dan ushul fiqh. Salah satu keistimewaan Kiai Afif adalah kepiawaiannya mendialogkan khazanah kitab kuning dengan diskursus modern. Reputasi akademiknya sangat mengesankan. Ciri nalar fikihnya adalah wasathiyyah, memadukan nushush al-syari’ah dan maqashid al-syari’ah. Sebagaimana umumnya Kiai NU, Kiai Afif menghadirkan diri dalam ekspresi Islam yang ramah dan santun. Selamat atas penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada beliau. Penghargaan ini sangat layak untuk beliau. (Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag, Guru Besar UIN Semarang, Ketum PW IKA PMII Jateng / Wakil Ketua PWNU Jateng).

Gagasan Kiai Afifuddin tentang NKRI dalam perspetif Maqashid al-Syariah, bukan saja merupakan komitmen religiusitas dan nasionalisme beliau, tetapi juga merupakan penuguhan eksistensi NKRI sebagai negara yang secara teologis dan politis memang sudah Islami. (Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Continue Reading

Artikel

Komite Hijaz, Spirit Pergerakan Sang Pahlawan KH. Wahab Hasbullah

Published

on

By

Jombang, JATMAN.OR.ID: Tim Gets Indonesia pada saat perjalanan menuju pusara sang pahlawan KH. Wahab Hasbullah di Jombang, Jawa Timur, Selasa sore (12/1) bersepakat untuk membacakan spirit perjuangannya.

Perlu diketahui, Kyai Wahab Hasbullah lahir pada tanggal 31 maret 1888 M di Jombang dan wafat pada tanggal 29 desember 1971 M dimakamkan di desa Tambak Rejo kecamatan Jombang kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kyai Wahab tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri NU, inisiator GP Ansor, pencipta lagu “Yalal Wathan” yang sering didengungkan warga nahdliyin, pelopor kebebasan berpikir, namun ia juga dikenal sebagai komandan Komite Hijaz yang didirikan pada 1924-1925.

Pembentukan Komite tersebut tidak lain tidak bukan hanya semata-mata sebagai respon ancaman kebijakan monolitik yanh digulirkan Ibnu Saud dari Nejad.

Ibnu Saud memiliki pandangan monolitik dalam bermazhab, sehingga ia memiliki sikap tendesius kearah fundamentalisme agama.

Salah satu kebijakan yang akan dilakukan pada masa itu adalah “pemutusan batin” antara umat islam dan panutannya yakni Nabi Muhammad Saw. Terlebih ia mengancam makam nabi Muhammad Saw dibongkar.

Hal demikian menjadi keresahan serta kegelisahan semua umat Islam kala itu. Namun, sejarah mencatat, hanya umat Islam dari Indonesia–melalui Komite Hijaz dipelopori Kyai Wahab–yang berani menyampaikan keberatannya terhadap kebijakan Ibnu Saud tersebut.

Melalui Komite Hijaz para ulama Indonesia bergerak mengajak ulama-ulama seluruh dunia menolak kebijakan Ibnu Saud. Dan para ulama pun sepakat untuk menolak kebijakan ibnu Saud, kemudian Ibnu Saud pun mengurungkan membongkar makam nabi Muhammad Saw.

Inilah salah satu spirit terbesar dari sang pahlawan Kyai Wahab Hasbullah yang harus kita refleksikan diri khususnya Tim Gets Indonesia umumnya untuk semua masyarakat Indonesia betapa ia tak ada rasa takut dalam membela kebenaran dan harus diawali dengan pergerakan diri sebelum menggerakkan orang lain. Wallahualam (Toi)

Continue Reading

Artikel

Sufisme Milenial, Jembatan Keislaman-Kebangsaan: Refleksi 9 Tahun MATAN

Published

on

By

Ngaji TI

Tradisi Islam Indonesia dipengaruhi gerakan sufisme yang menjadi nyawa, semangat, dan sekaligus karakternya. Sufisme tidak hanya menjadi nilai, namun juga menggerakkan Islam Indonesia. Sufisme mendorong perubahan dan membangkitkan semangat Islam Indonesia.

Kisah-kisah perjuangan dan proses menuju kemerdekaan Indonesia, termaktub bagaimana para kiai sufi bergerak, menumbuhkan nilai, sekaligus menjadi nyawa perjuangan. Kiai-kiai sufi di berbagai kawasan menggerakkan pengikutnya tidak hanya sebagai komunitas yang mandiri, tapi juga menginspirasi perjuangan kemerdekaan.

Pangeran Diponegoro (1785-1855) menjadi cermin penting bagaimana gerakan sufisme dan tradisi pesantren, menjadi nyawa bagi perjuangan melawan kolonial. Raden Mas Mustahar atau Sultan Ngabdul Kamid dikenal luas sebagai penggerak, pahlawan, yang menginspirasi perlawanan terhadap kolonial. Perang Jawa pada 1825-1830 merupakan perang tersulit yang membangkrutkan pemerintah Hindia Belanda, tapi juga menjadi titik balik gerakan perjuangan kemerdekaan.

Para kiai sufi pengikut Diponegoro menyebar di berbagai kawasan di penjuru Jawa untuk merawat nilai, tradisi, pengetahuan, sekaligus mimpi besar kemerdekaan. Jaringan pesantren terkoneksi dengan semangat perjuangan dan nilai sufisme, yang kemudian menginspirasi perjuangan kemerdekaan satu abad setelahnya.

Kita bisa mencatat gerakan-gerakan sufi yang termaktub dalam sejarah, sebagai gerakan keislaman-kebangsaan yang saling berjejaring, terkoneksi dalam ide dan gagasan, sekaligus punya tujuan yang sama untuk masa depan Indonesia. Meski kenyataan merdeka masih jauh dari proses, tapi para kiai sufi tidak berhenti menabur semangat, menanam nilai-nilai, dan menyiram semangat untuk menjadi bangsa yang terlepas dari penjajahan asing. Keteguhan niat, kekuatan tekad dan fokus pada tujuan yang dilambari oleh kepercayaan kuat kepada Allah merupakan kunci gerakan dari kaum sufi menjemput kemerdekaan.

Lalu, bagaimana sufisme pada masa sekarang, di zaman inovasi teknologi, big data dan machine learning dengan lompatan kecerdasan buatan?

Saat ini, kita bisa melihat bagaimana tantangan-tantangan zaman yang tidak kalah besar. Problem radikalisme beragama, pelintiran kebencian, hingga berbagai masalah kemanusiaan yang menyeruak di sekitar pandemi, menjadi tantangan bersama.

Kami, bersama-sama santri-santri yang tergabung di Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (MATAN) berusaha merumuskan gerakan bersama untuk menjadikan sufisme membumi di kalangan anak muda: generasi milenial dan lapisan-lapisan generasi setelahnya. MATAN bergerak atas perintah dan dawuh para guru kami, terutama Maulana Habib Luthfi bin Yahya, sebagai mursyid kami secara dhahir dan batin.

MATAN menjadi ruang sekaligus oase bagi generasi muda, santri-mahasiswa, untuk mendorong gerakan-gerakan kemaslahatan berbasis kampus. Selain itu, juga bersama-sama dan berkolaborasi dengan beragam organisasi pemuda, ormas, dan komunitas muslim di berbagai kawasan untuk menggerakkan tradisi: agar nilai-nilai sufisme menjadi inspirasi. Sebagaimana dawuh para guru, kami berkhidmah di berbagai ruang dan profesi untuk berjuang dengan cara masing-masing memberi dampak kemaslahatan.

Di usia 9 tahun MATAN saat ini, ada tiga hal mendasar yang menjadi refleksi bersama.

Pertama, menumbuhkan solidaritas di tengah pandemi. Saat ini kita berada di tengah situasi yang tidak mudah bagi semua pihak. Pandemi telah merontokkan tatanan dunia, dengan segala konsekuensinya. Konstelasi politik, tatanan ekonomi, hingga ekosistem pendidikan berubah secara drastis. Dunia pendidikan di seluruh dunia juga terdampak, dengan lebih 60 negara di dunia menghentikan sistem pembelajaran tatap muka. Lompatan penggunakan teknologi di dunia pendidikan membantu menumbuhkan semangat pembelajaran, mendukung agar nyala api belajar tidak padam.

Para kiai mengajarkan kita untuk adaptif terhadap pandemi, meski sangat tidak mudah. Sebagian pesantren telah beradaptasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Majelis dizkir dan shalawat ditunda sementara dan diatur dengan protokol kesehatan agar semua aman. Meski majelis dzikir dan shalawat bergeser formatnya, tapi nilai-nilai keberkahan tetap meresap dan menjadi semangat para santri.

Nah, menumbuhkan solidaritas bersama ini hal yang krusial. Para kiai sufi sekaligus juga pengikutnya turut memainkan peran sentral, sebagai penghubung kohesi sosial dan solidaritas. Dalam konteks ini, para kader MATAN menjadi jembatan aksi untuk menguatkan solidaritas di tengah pandemi.

Kedua, pentingnya agama sebagai inspirasi dan sumber berbagi kemaslahatan. Saya setuju dengan pernyataan Menteri Agama Gus Yaqut C Qoumas bahwa agama seharusnya menjadi satu inspirasi. Ini sejalan dengan petuah Maulana Habib Luthfi bin Yahya untuk terus menjadikan Islam sebagai agama yang memancarkan kasih sayang, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW. Petuah, ajaran, dan tindakan Maulana Habib Luthfi mencerminkan Islam sebagai agama rahmah, bukah agama penuh amarah.

Tren interaksi digital membawa dampak meningkatnya kebencian di berbagai ruang, baik ruang interaksi maupun media sosial. Kebencian-kebencian ini berbahaya untuk masa depan perdamaian dan kohesi sosial. Maka, perlu terus menjaga semangat dengan beragama sebagai inspirasi, agama yang menebar kemaslahatan.

Ketiga, tantangan di tengah era big data dan machine learning. Inovasi digital yang sangat massif juga menantang kita, terutama dalam menentukan referensi yang tepat. Otoritas di ruang digital dipertarungkan, dengan menggunakan algoritma spesifik dan ketepatan optimasi data.

Nah, generasi muda yang berpegang pada nilai-nilai sufisme bisa mengalirkan inspirasi di media sosial. Ini penting agar referensi beragama dan otoritas digital menjadi seimbang dengan pilihan yang beragam. Menginjeksi nilai-nilai sufisme dalam konten-konten digital berarti menanam cinta di tengah belantara. Nilai-nilai itu, beragama dengan cinta, akhirnya akan mekar di tengah belantara digital dengan meminggirkan kebencian, hate speech dan pelintiran kebohongan.

Sembilan tahun MATAN, mari tetap berkhidmah di garis perjuangan. Mari tetap berpegang pada dawuh para Habaib dan kiai. Mari bersama-sama menjaga Indonesia dengan Islam cinta, semoga Allah meridhoi segala ikhtiar kita.

*M. Hasan Chabibie, Plt. Ketua Umum Pimpinan Pusat Mahasiswa Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an-Nahdliyyah

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending