Connect with us

Resensi

Cairo Oh Cairo; Perjalanan Seorang Aktivis MATAN

“Mushibatu qowmin ‘ala qowmin fawaidu”. Saya mendengar pesan hikmah ini pertama kali dari Romo KH. Hisyam Syafaat pada saat mengikuti pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin setiap selesai shalat ashar di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, saat mondok dulu. Pesan itu berarti bahwa “Musibah suatu kaum, bagi kaum yang lain bisa menjadi keberkahan atau memberikan sebuah manfaat”.

Published

on

Cairo Oh Cairo Viral

Dalam kasus sebuah negara, penjajahan negara Palestina adalah sebuah musibah, tapi bagi Israel itu adalah keberkahan. Dalam contoh kecil, musim hujan adalah musibah bagi penjual es campur, tapi bagi penjual minuman STMJ yang hangat adalah sebuah berkah. Begitu seterusnya.

Pada bulan Januari tahun 2011, saat itu saya masih mengikuti perkuliahan di Universitas Al-Azhar Mesir, seperti biasa tidak ada yang istimewa. Berangkat dari rumah di Toubromly memakai bus 926 di Mahattah Akhirah bersama teman-teman pelajar ma’had Al-Azhar yang rata-rata dari Rusia.

Usai mengikuti perkuliyahan hingga siang hari, teman akrab saya hafidz dan rajif mengajak terlebih dahulu untuk makan siang di warung biasanya yang berada di pintu belakang Al-Azhar untuk membeli Tho’miyah bil baidh, makanan khas Mesir. Warung ini tidak pernah sepi dari pembeli, kami semua yang beli tidak ada kursi untuk duduk makan, silakan cari sendiri di mana saja tempat, yang penting bisa makan.

Biasanya saya dan hafidz, usai disodori makanan yang sudah disiapkan, akan mencari tempat untuk makan di tangga flat apartemen dekat Maktabah penjual buku yang berada dekat warung tadi. Di sana, sambil makan kami sering mengobrol sesuatu yang kebanyakan tidak jelas, alias tidak ada temanya, palingan hanya seputar urusan kuliyah dan film-film terbaru yang bisa ditonton di rumah saat malam hari.

Setelah shalat dhuhur berjama’ah di masjid Al-Azhar yang bersebelahan langsung dengan Universitas Al-Azhar dan berhadapan dengan masjid Sayyidina Husein yang berada di seberang jalan, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya berjalan menyusuri toko-toko souvenir, makanan, hingga ashir ashob, minuman perasan tebu hingga sampai di mahattah Darrasah, tempat mangkalnya bus yang akan mengantarkan ke wilayah-wilayah di Cairo.

Bus yang saya cari adalah 80 Coret. Bus ini menjadi bus favorit mahasiswa Al-Azhar yang bertempat tinggal di kawasan Nasr City. Tidak seperti biasanya yang harus berebut untuk mencari kursi. Hari ini, jalanan sepi, para penumpang bus yang menunggu juga tidak banyak.

Tidak ada fikiran apapun hingga saya sampai di rumah dan membuka layar televisi Al-Jazeera. Rupanya lengangnya jalanan Cairo yang kami lalui mulai dari Darrosah, Nadi Sikkah, Hayyu Sadis, Hayyu Sabi’, hingga Hayyul Asyir diakibatkan oleh keadaan Mesir yang mulai tidak normal seperti biasanya.

Televisi Al-Jazeera menayangkan secara live demonstrasi yang terjadi di kawasan Tahrir Square yang menjadi Bundaran HI-nya kota Cairo. Hingga menjelang maghrib, semakin banyak para demonstran yang hadir. Polisi mulai kewalahan untuk mengaturnya.

Saat malam tiba, kerusuhan terjadi. Gedung yang berada di sekitar Tahrir mulai dirusak oleh massa, bahkan ada yang dibakar. Museum Ramses yang menyimpan seluruh benda-benda purbakala Mesir, termasuk di dalamnya ada sekitar 30 mumi dan diantara mumi itu adalah mumi Raja Ramsis II yang konon adalah fir’aun zamannya Nabi Musa juga ikut dijarah dan hendak dibakar oleh massa.

Mesir mengalami revolusi setelah sebelumnya diawali oleh negara Tunisia yang sukses dan Libiya yang dalam proses. Semakin malam, sekitar wilayah Nasr City semakin sepi, apalagi yang menjadi tempat tinggal saya di Toubromly, hanya ada suara-suara anjing liar yang berkeliaran saja, tanpa ada manusia yang lalu Lalang.

Rupanya, saat pagi hari, saya membuka kembali televisi Al-Jazeera dan beberapa televisi yang menyiarkan berita. Dari sekian banyak televisi berita, tidak ada satupun televisi Mesir yang menyiarkan kerusuhan dan demonstrasi yang terjadi di Tahrir Square, apalagi televisi yang dimiliki oleh pemerintah.

Para demontran masih bertahan walaupun semalaman mereka harus berperang dengan gas air mata dan senjata peluru karet dari para polisi usai menghacurkan dan membakar gedung-gedung yang ada di Tahrir Square. Wilayah-wilayah lain selain Cairo masih belum merasakan dampak dari kerusuhan yang ternyata bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Hosni Mubarok yang sudah memerintah sekitar 30 tahun ini.

Beberapa hari para demonstran malah semakin membludak. Tahrir Square menjadi rumah mereka. Tenda-tenda didirikan. Demonstrasi mulai meluas di kota-kota lain selain Cairo, termasuk sampai di wilayah yang menjadi basis berkumpulnya kebanyakan mahasiswa Indonesia di Nasr City, demo terjadi di Mahattah Zahra, hanya sekitar 10 menit berjalan dari rumah tempat saya tinggal.

Dalam kondisi politik yang memanas. Bukan hanya terjadi di Mesir, tapi di banyak negara-negara arab. Pemerintah Indonesia di Syiria yang sudah ramai dengan ISIS memutuskan untuk mengevakuasi seluruh warga yang ada di sana. Di Mesir, pemerintah China, Malaysia, Jerman, dan banyak negara lain sudah mulai mengevakuasi warganya. Indonesia masih belum bergeming.

Saya yang bekerja di pengiriman barang dari Mesir ke Indonesia merasakan imbasnya. Gara-gara dalam kondisi kerusuhan Mesir seperti ini tetap bekerja, saya bersama Omar dan Asif harus berhadapan dengan beberapa kompi militer Mesir yang mendatangi rumah kami yang penuh dengan barang-barang yang hendak dikirim ke Indonesia.

Dengan ditodongkan senjata laras panjang yang pucuknya berupa pisau, saya duduk di antara para tentara itu di mobil militer. Kami diajak ke markaz militer yang paling dekat dari Toubromly. Awalnya saya yang dipanggil untuk diinterogasi, namun Omar yang kebetulan juga dibawa bersama kami, memberikan aba-aba kepada pimpinan militer agar dia saja yang bicara. Omar pernah bertugas wajib militer selama 3 tahun sebelum bekerja bersama kami.

Beberapa jam kami diinterogasi, satu alasan yang membuat rumah kami digerebek adalah akibat laporan dari tetangga atas rumah, entah lantai berapa, yang menelpon pihak militer, karena dia mencurigai adanya aktifitas di lantai satu setiap hari yang ramai lalu lalang orang asing yang membawa barang. Mereka takut barang-barang itu dikumpulkan untuk mensuplay para pendemo di Tahrir Square untuk menggulingkan pemerintah.

Omar berhasil membujuk pimpinan militer yang menginterogasinya. Entah bagaimana cara dia membicarakan perihal aktifitas yang kami lakukan setiap hari di rumah flat apartemen lantai satu untuk mengumpulkan barang-barang dari Mesir yang hendak dikirim ke Indonesia. Sebelum kami digelandang ke markaz militer tadi, banyak sekali karton-karton yang dibuka paksa oleh prajurit militer Mesir dengan menggunakan pisau di ujung senjata laras panjangnya, memastikan tidak ada benda terlarang.

Mesir benar-benar kacau. Kerusuhan semakin meluas. Seluruh aktivitas sekolah dan perkantoran di seluruh negara diliburkan termasuk di Universitas Al-Azhar. Internet sempat diblokir hingga hampir satu minggu. Kami tidak bisa membuka facebook, tidak bisa bermain twitter. Hanya bisa menonton kondisi Mesir lewat televisi dan menonton film yang sudah disimpan di laptop.

Hampir tiap malam, Toubromly yang menjadi wilayah pinggiran sudah sering terjadi tembakan. Bahkan beberapa hari, saya sering menemukan selongsong bekas tembakan peluru yang dilakukan pada malam hari. Kalau malam tiba, orang-orang Mesir juga mulai banyak yang turun ke jalan untuk ronda malam.

Padahal, belum lama, saya bersama Mahmudi dan Asif beberapa bulan yang lalu masih asyik berkeliling wisata di Luxor dan Aswan dan disponsori oleh Menteri pendidikan Mesir. Luxor dan Aswan adalah dua kota bersejarah dan pernah menjadi ibu kota pada masa Fir’aun. Di Luxor ada museum terbuka terbesar sedunia. Kami juga mengunjungi Abu Simbel yang hampir berbatasan dengan Sudan. Saya sudah mencatat banyak artikel sebelumnya tentang perjalanan ini.

Peristiwa penangkapan saya oleh para militer Mesir, saya tuliskan dalam catatan di Kompasiana ini berjudul “Cairo Oh Cairo” dan ternyata viral. Kabar itu sampai di tanah air dan besoknya beberapa kali saya mendapatkan telepon dari beberapa stasiun televisi tanah air untuk mengabarkan kondisi Mesir terkini, beberapa televisi yang menghubungi saya diantaranya adalah Metro TV, TV One, Kompas TV, Jak TV dan SCTV.

Dari sinilah, yang awalnya pemerintah agak cuek dengan kondisi WNI yang ada di Mesir, akhirnya memerintahkan Bapak AM. Fachir yang menjadi Duta Besar Indonesia di Mesir untuk memutuskan evakuasi total seluruh WNI yang ada di Mesir. Saya tidak ikut evakuasi dan tidak mendaftarkannya. Saat ramai evakuasi, awalnya saya mencari tiket pesawat di teman-teman yang ada di Cairo tapi kesulitan mendapatkannya.

Akhirnya seorang teman yang ada Dubai membantu saya, dia membelikan tiket pesawat Emirat untuk saya buat perjalanan dari Mesir ke Dubai dan menuju Jakarta. Ketika pulang di Jakarta, saya bertemu dengan teman-teman blogger Kompasiana di Taman Ismail Marzuki, termasuk diundang Kang Pepih dan Mas Isjet ke kantornya Kompas Gramedia.

Itulah kisah yang pernah saya alami pada tahun 2011 lalu saat Mesir mengalami revolusi. Semua kisah itu, dari peristiwa sebelum rusuh, ketika saya jalan-jalan keliling Mesir di kota Luxor hingga Aswan, temasuk di Bali-nya Mesir yang di Sarm Syeikh dan Hurgada yang ada di Laut Merah, sampai peristiwa kerusuhan yang mengakibatkan kami diinterogasi ke markaz militer dan akhirnya kisah itu viral, semua itu sekarang bisa dinikmati kisahnya di salah satu 3 buku serial “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” berjudul “Cairo Oh Cairo”, sama dengan judul catatan Kompasiana yang dulu juga sempat viral.

Serial “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” terdiri dari tiga buku, pertama berjudul 926 Cairo, kedua berjudul Cairo Oh Cairo, dan yang ketiga berjudul Umroh Koboy. Masing-masing dari buku itu memiliki karakteristiknya sendiri.

Kembali ke pesan pertama tadi bahwa, Musibatu qowmin ‘ala qowmin fawaidu, telah menjadikan saya mendapatkan banyak bahan untuk menuliskan tentang Mesir. Selama di Mesir, saya mengalami 4 kali pergantian presiden. Mulai dari Presiden Hosni Mubarok yang nota bene kalau di Indonesia ibarat zamannya Pak Soeharto.

Lalu kedua menjumpai masa revolusi, digantikan oleh Presiden masa transisi adalah bernama Adli Mansour, selanjutnya digantikan oleh Presiden hasil pemilihan umum yakni Presiden Mohamed Morsi, dan kembali lagi Presiden dari kalangan Militer Mesir yakni Presiden Abdul Fattah As-Sisi. Semua masa pemerintahan memiliki ceritanya masing-masing.

Saya mendapatkan keberkahan hidup di Mesir di semua 4 masa itu. Dengan kondisi pemerintahan yang berbeda-beda itu, saya mendapatkan banyak catatan dan akhirnya alhamdulillah lahirlah 3 buku “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” yang berjudul 926 Cairo, Cairo Oh Cairo, dan Umroh Koboy ini.

Selamat mencari buku itu dan membacanya.[Bisri]

Kitab

Kualat: Pembelaan KH Abdullah Bin Nuh terhadap Kaum Sufi

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

kh-abdullah-bin-nuh

KH. Raden Abdullah Bin Nuh atau sering dikenal dengan Mama ABN merupakan ulama dari Bogor yang mendunia. Saking cintanya dengan karya-karya Imam Al-Ghazali, beliau dijuluki dengan Al-Ghazali dari Indonesia. Dalam sebuah kitab Masterpiece-nya “Ana Muslim Sunni Syafi’i, beliau menunjukkan pembelaan kepada kaum sufi di bagian akhir kitabnya. Beliau membahas cukup panjang, diantaranya akidah kaum sufi, amaliyah (suluk), karomah, syathathat, dan lain-lain.

Dalam pembelaanya, beliau banyak sekali mengutip pendapat-pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami. Beliau menceritakan kekeramatan para wali Allah seperti Syekh Ibnu Arabi, Syeh Abdul Qodir Al-Jailani, Imam Junaid Al-Baghdadi, Abu Yazid Al-Busthomi, Syekh Ibnu Al-Faridh dan ulama sufi lainnya. Yang menarik bagi saya, beliau mengisahkan orang-orang yang “kualat” karena mengingkari ke-wali-an ulama sufi tersebut dan bahkan mengkafirkannya.

Berikut saya ceritakan ulang apa yang disampaikan beliau dalam kitabnya, yang saya sajikan dalam bentuk tanya jawab:

Abu Said Abdullah bin Ibnu Abu Ashirun, seorang imam madzhab Syafi’i mengisahkan:

“Aku pergi ke Baghdad untuk menimba ilmu. Bersamaan dengan itu, Abu As-Saqa juga pergi ke Baghdad, yaitu ke Nazhamiyyah. Kami menuntut ilmu disana dan sering mengunjungi orang-orang saleh. Konon, di Baghdad ada seorang saleh yang masyhur disebut sebagai “Al-Ghoust” (Penolong). Kemudian, Aku, As-Saqa dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (saat itu masih muda) mengunjungi orang saleh tersebut”

Ditengah perjalanan kami berbincang-bincang:

Ibnu As-Saqa : “Aku akan bertanya kepadanya perihal sesuatu yang ia tak bisa jawab”

Abu Ashirun : “Aku akan bertanya suatu hal saja”

Syekh Abdul Qadir: “aku akan bertanya kepada beliau kalau aku sudah ada di hadapannya sambil menunggu berkah karena bertemu beliau”

Akhirnya, mereka bertiga sampai di rumah beliau. Setelah, mereka masuk. Syekh Al-Ghoust memandang Ibnu As-Saqa dengan menunjukkan kemarahannya dan berkata:

“Celaka kau, wahai Ibnu As-Saqa, kau bertanya sesuatu yang menurutmu aku tak bisa menjawabnya, pertanyaanmu ini…dan jawabannya ini… sungguh aku melihat api kekufuran yang menyala-nyala dalam dirimu”

Syekh Al-Ghoust berkata kepadaku: “Pertanyaanmu ini dan jawabannya ini, dunia akan dikumpulkan kepadamu hingga engkau tenggelam olehnya hingga sampai pangkal telingamu karena kelakuanmu yang buruk”

Kemudian, Syekh Al-Ghoust memandang Syekh Abdul Qadir dengan menunduk dan memuliakannya, lalu berkata: “Wahai Abdul Qadir, engkau membuat ridla Allah dan Rasul-Nya dengan budi pekertimu. Aku bermimpi bertemu denganmu di kota Baghdad. Engkau sedang naik di atas kursi memberi khutbah kepada orang, dan berkata “Telapak kakiku ini berada di atas setiap pundak wali Allah”. Aku melihatmu dalam mimpiku, para wali merendahkan pundaknya dan mengagungkanmu”.

Baca juga: Jalan Hamba Menuju Pintu Takwa

Lalu, Syeh Al-Ghoust tersebut menghilang dan tak pernah melihatnya lagi. Singkat cerita, Ibnu As-Saqa melanjutkan pendidikannya dan menjadi orang yang cerdas dan ditugaskan oleh khalifah menjadi diplomat untuk menemui Raja Romawi. Sang Raja justru tertarik dengan penampilannya dan dikumpulkanlah semua pendeta nasrani dan disuruh berdebat dengan Ibnu As-Saqa. Semua dikalahkan oleh Ibnu As-Saqa. Raja Romawi memasang perangkap, yaitu ditampilkan putrinya dihadapannya dan Ibnu As-Saqa tertarik.

Celakanya, Sang Raja Romawi mensyaratkan dan berkata: “Engkau boleh menikahinya asalkan engaku masuk Nasrani”. Akhirnya, Ibnu As-Saqa masuk Nasrani dan menikahinya. Tak lama kemudian, Ibnu As-Saqa sakit keras dan dibuang di pasar oleh pihak istana. Ibnu As-Saqa meminta makanan kepada orang-orang, namun tidak diberikan.

Sempat ada orang yg mengenalnya dan berkata: “Kenapa kamu begini?”

Ibnu As-Saqa: Fitnah menimpaku seperi yang kamu lihat”

“Apakah engkau hafal sesuatu Al-Qur’an?” Tanya orang tersebut

“Tidak kecuali, -orang orang kafir itu sering kali menginginkanmu, kiranya mereka dahulu menjadi muslim (Qs Al-Hijr (15:2))” Jawab Ibnu As-Saqa.

“Aku (Abu Ashirun) sempat melihatnya (Ibnu As-Saqa) dalam keadaan terbakar saat ia sekarat menjelang ajalnya. Lalu, aku menghadapkannya ke arah kiblat, namun ia berguling lagi ke arah timur lagi. Hingga, ia menjemput ajalnya dengan wajah menghadap ke timur. Konon, ia (Ibnu As-Saqa) pernah mengisahkan perkataan seorang wali yang disebut Al-Ghoust dan ia pun sadar bahwa dirinya sakit karena itu.”

Baca juga: 162 Masalah Sufistik

“Sedangkan aku (Abu Ashirun) datang ke Damaskus dan dipaksa oleh Sultan Nuruddin Asy-Syahid sebagai Kepala Perwakafan hingga aku mendapatkan penerimaan harta yang amat banyak”.

Adapun Syekh Abdul Qadir terlihat jelas tenda-tanda kedekatan dengan Allah, bahkan baik orang yang awam maupun yng khusus sepakat bahwa beliau pernah berkata: “Telapak kakiku ini berada di atas pundak setiap wali”.

Mama ABN menuturkan bahwa cerita tersebut mencapai derajat mutawatir secara makna, karena begitu banyak orang yang meriwayatkannya berikut adil periwayatannya.

Semoga kisah ini menjadikan pelajaran bagi kita untuk berhusnudhon dan bersikap sopan kepada wali-wali Allah. Beliau (mama ABN) dalam kitabnya  juga mengisahkan “kualat”-nya seseorang yang mengkafirkan Syekh Ibnu Arabi.

Wallahu a’lam bishoshowab

Continue Reading

Kitab

Jalan Hamba Menuju Pintu Takwa

Resensi: Idris Wasahua, Redaktur JATMAN Online

Published

on

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, penulis buku ini adalah seorang ulama Nusantara asal Palembang yang hidup pada masa 1704-1789 M. Buku ini merupakan gabungan dua kitab Karya Syekh Abdus Shamad al-Palimbani yang ditulis dalam Bahasa arab dengan judul “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” dan “Anisul Muttaqin”. Karena gabungan dua kitab, pembahasannya dibagai dalam dua bagian, dimulai dari kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin”, yang terdiri dari 7 bab dan bagian penutup.

Bab 1 tentang Aqidah, Bab 2 tentang Taat Zhahir, Bab 3 tentang Menjauhi Maksiat Zhahir, Bab 4 tentang Menjauhi Maksiat Bathin, Bab 5 tentang Taat Batin, Bab 6 tentang Fadhila Adab dan Tata Cara Dzkir, Bab 7 tentang Adab Hubungan Kepada Allah & Pergaulan Terhadap Manusia, dan bagian penutup tentang Adab Berkenalan.

Sedangkan pada kitab “Anisul Muttaqin’ terdiri dari 5 bab, yakni Bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, Bab 2 tentang Penjelasan Ilmu dan Kebodohan, Bab 3 tentang Penjelasan Akal dan Kebodohan, bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dan Bab 5 tentang Penjelasan Tawakal dan Tamak. Untuk melengkapi buku ini, penerbit menambahkan pula biografi Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, meliputi tempat kelahiran, pendidikan dan pemikiran, wafatnya, dan alasan kenapa makam Syekh Abdus Shamad al-Palimbani berada di Thailand. Kedua kitab tersebut membahas tentang tasawuf akhlaqi yang dipelopori oleh Imam al-Ghazali. Pada kitab Hidayatus Salikin, Syekh Abdus Shamad menerjemahkan dan mensyarah kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, yang memuat tema-tema pendidikan karakter yang kental. Sedangkan pada kitab Anisul Muttaqin, pembahasannya meliputi tiga persoalan pokok. Pertama, anjuran untuk selalu berkata benar. Kedua, mengikhlaskan seluruh perbuatan hanya kepada Allah SWT. Ketiga, menyucikan hati setiap saat. Semua tema pembahasan itu pada intinya memusatkan perhatian pada cara pencapaian makrifat kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam.

Sebagai sebuah kitab Tasawuf, topik pembahasan dalam buku ini tidak terbatas pada amaliah-amaliah zahir, namun meliputi pula amaliah-amaliah bathin yang menjadi karakteristik dari ajaran tasawuf.

Pembahasan kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” diawali dengan mukadimah yang menjelaskan tentang arti Ilmu yang bermanfaat, yakni sesuatu yang menambah rasa takut kepada Allah, bertambah dalam mengetahui kejelakan diri, bertambah ibadah kepada Allah, berkurang kecintaan pada dunia, bertambah kerinduan pada akhirat, terbuka mata hati akan sesuatu yang bisa menghapus amal, berusaha menjaga diri, dan bisa melihat bagaimana tipu daya setan. Ilmu yang bermanfaat ini sangat utama dalam Islam. Beberapa hadits Nabi terkait hal ini antara lain yang artinya: “Manusia yang paling utama adalah orang mukmin yang alim dan bermanfaat jika dibutuhkan, jika ia tidak dibutuhkan, maka ia mencukupi dirinya”. Sayyidina Abdullah Abbas RA berkata: Derajat para ulama itu lebih mulia 700 derajat di atas kaum muslimin, jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya adalah sejauh 500 tahun. Dalam bab 1 tentang aqidah, dijelaskan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu baginya. Allah itu tunggal, tiada banding bagi-Nya. Allah itu ada sejak dahulu, tiada bagi-Nya permulaan. Allah itu kekal, tiada kesudahan bagi-Nya. Allah itu maha suci, tiada menyerupai segala ciptaan-Nya. Hal-hal tersebut harus diketahui dan diyakini oleh seorang yang telah baligh dan berakal.

Pada bab 2 tentang taat zahir, dijelaskan tentang ketaatan dalam ibadah-ibadah zahir, yang berisi petunjuk, amalan, yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits berkaitan dengan adab buang air besar & kecil, adab berwudhu, adab mandi, adab tayamum, adab pergi ke Masjid, adab masuk Masjid sampai terbit matahari, adab ibadah sejak terbit hingga terbenamnya matahari, adab persiapan menjalankan shalat, keutamaan shalat tasbih, faedah shalat istikharah, faedah shalat hajat, adab shalat, adab imam dan makmum, adab pada hari Jumat, dan adab puasa. Menurut Imam al-Ghazali, ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah adakalanya ada yang wajib adan yang sunnah. Ibadah wajib bagaikan ra’sul mal (modal perniagaan), sedangkan ibadah sunnah adalah laba (keuntungan) dari perniagaan.

Dalam bab 3 tentang menjauhi maksiat zahir, disebutkan bahwa seluruh anggota tubuh kita bagaikan rakyat yang kita pimpin. Sebagaimana halnya pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, kita pun akan dimintakan pertanggungjawaban atas seluruh anggota tubuh kita. Karenanya, seluruh anggota tubuh kita dengan fungsinya masing-masing harus digunakan dalam tuntunan Agama.

Pada bab 4 tentang maksiat batin, maksiat batin merupakat maksiat yang ada dalam hati meliputi segala perangai jahat dan sifat-sifat tercela, antara lain seperti: Riya, takabur, cinta dunia, Ujub, dengki, dan kikir. Sifat-sifat ini wajib dijauhi, dan bagi yang telah terjangkit wajib mensucikan hatinya dari sifat-sifat tersebut. Dalam Q.S. As-Syams ayat 8 Allah berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. Menurut Imam al-Ghazali, Hadits Nabi SAW yang artinya: “Kebersihan itu Sebagian dari iman”, bermakna mensucikan hati dari sifat tercela dan memperbaikinya dengan sifat terpuji.

Dalam bab 5 tentang taat batin, lain halnya dengan taat zahir yang bersifat fisik, taat batin merupakan ibadah yang ada di dalam hati. Beberapa diantaranya yakni; zuhud, sabar, bersyukur, ikhlas, tawakkal, ridha atas takdir Allah, dan mahabbah (Cinta kepada Allah). Mahabbah ini merupakan salah satu martabat tertinggi yang akan menghantar seseorang kepada makrifat. Nabi SAW bersabda: “Setiap sesuatu punya sumber, dan sumber ketakwaan adalah hatinya orang-orang yang makrifat kepada Allah”. Cinta kepada Allah memiliki beberapa ciri yakni; mendahulukan apa yang diperintahkan Allah daripada yang disenanginya, selalu mengingat kematian, benci terhadap godaan maksiat dunia serta hatinya tidak condong pada harta dunia.

Dalam bab 6 tentang fadhilah, adab dan tata cara dzikir, disebutkan bahwa Syekh al-Murshafi dalam kitabnya Manhajus Salik ila Asyrafil Masalik mengemukakan 35 keutamaan bagi ahli zikir dibandingkan ibadah lainnya, antara lain; Allah akan selalu menyebut diri ahli zikir. Allah berfirman: “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu”. Ahli zikir sangat dekat dengan Allah seakan tidak ada penghalang sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi: “Aku Bersama hambah-Ku Ketika ia mengingat-Ku”. Terdapat 2 jenis zikir, zikir jahr (Suara keras), dan zikir sir (Suara perlahan).

Bab 7 tentang adab hubungan kepada Allah dan pergaulan terhadap manusia, meliputi adab orang alim, adab pelajar, adab anak kepada orang tua, dan adab berteman. Beberapa adab dari 17 adab orang alim yang dikemukakan dalam buku ini adalah: menanggung dan menerima risiko apapun dari seorang murid, baik pertanyaan atau pekerjaan yang memberatkan. Orang alim hendak bersikap sabar dan tidak lekas emosi kepada muridnya, dan jangan malu berkata tidak tahu atau mengucapkan “wallahu a’lam” jika masih ragu atas jawaban suatu masalah yang belum jelas persoalannya. Adab pelajar antara lain: jangan banyak bicara di depan guru, jangan bertanya kepada guru sebelum meminta izin, jangan berbisik dengan orang lain di depan guru, dan jangan berburuk sangka kepada guru jika melihat perbuatannya berlainan dengan i’tikad kita atau berlainan dengan perbuatan kita, karena guru lebih mengetahui rahasia-rahasianya seperti kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa. Adab anak kepada orang tua antara lain: jangan meninggikan suara melebihi suara Ibu dan Bapak, bersungguh-sunggu dalam nenuntut keridhaan orang tua dengan perkataan atau perbuatan serta merendahkan diri, dan jangan memandang kepada mereka dengan pandangan yang menyakitkan atau yang membuat mereka marah. Adab berteman antara lain: menutupi rahasia teman, menutup aibnya, turut bergimbira atas keberhasilannya dan sedih atas musibah yang menimpanya, dan memaafkan kesalahannya. Pada bagian penutup tentang adab berkenalan disebutkan bahwa manusia itu terdiri dari tiga perkara. Pertama, sahabat kita, yakni teman dan kekasih kita, kedua, orang yang kita kenal, dan ketiga, orang yang kita tidak kenal. Dalam memilih teman, hendaknya menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskan kita ke jalan kesesatan, dan mencari teman yang menghantarkan kita kepada kebaikan. Qadi Ibnu Ma’ruf berkata: “Hati-hati terhadap musuhmu sekali dan berhati-hatilah terhadap temanmu seribu kali”.

Pada kitab Anisul Muttaqin bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, dijelaskan bahwa kelalaian dapat mecegah berbagai kebaikan. Kelalaian merupakan kekufuran bagi seorang salik dan kesesatan bagi bagi orang bertaqwa, karena lalai dapat mendatangkan dosa, dan dosa dapat mengakibatkan kekufuran. Kelalaian juga merupakan sesuatu yang lebih memabukan yang lebih jelek dari minuman keras, karena minuman keras menutupi akal sedangkan kelalaian menutupi kebenaran. Dalam bab 2 tentang Ilmu dan Kebodohan, dijelaskan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa amal, sedangkan amal tidak akan bermanfaat tanpa ikhlas. Alangkah mengherankan jika ada orang yang puas karena ilmunya meskipun tidak beramal. Pada bab 3 tentang Akal dan Kebodohan, dijelaskan bahwa orang berakal adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, beramal untuk bekal di alam kubur sebelum ia dimasukan ke dalam kubur, dan Allah ridho kepadanya sebelum ia bertemu dengan Allah. Dalam bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dijelaskan bahwa kefakiran lebih baik dari semua kebaikan karena kefakiran mengandung enam perkara, tiga di dunia, yakni selalu senang bertambhanya ibadah, dan berkurangnya musuh, dan tiga di akhirat, yakni sedikit hisab, tercegah dari siksa, dan perolehan pahala. Sedangkan dalam bab 5 tentang Tawakal dan Tamak, dijelaskan bahwa tidak ada pemimpin di dunia selain tawakal, karena tawakal membebaskan seseorang dari kecemasan dan kesedihan. Selain itu tawakal juga merupakan amal yang utama dan wajib bagi kaum muslimin sebagaimana firman Allah “Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. Tawakal juga lebih utama dari zuhud, karena zuhud tidak akan berhasil dengan baik kecuali disertai tawakal. Adapun tamak, adalah sama dengan syirik karena tamak menyebabkan syirik. Orang yang tamak tercegah dari semua kebaikan dan nikmat Allah.

Buku ini sangat bermanfaat dibaca terutama bagi kaum “Salik” (Penempuh jalan spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah), maupun para pemula pengenal dunia tasawuf/thoriqah. Dengan membaca buku ini, kita menjadi semakin sadar mengenai adanya perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) batin yang selama ini tanpa sadar sering kita lakukan, karena menganggap perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) hanya terbatas pada bentuk zahir.

Continue Reading

Resensi

Risalah Amalia (Kumpulan Ratib, Wirid dan Doa-doa Mustajab)

Al-Faqir Irsan Daeng Mangngerang

Penerbit: Zawiyah Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah

Published

on

Risalah Amalia

Buku Amalia ini disadur dari kitab al-Urwatul Wutsqa karangan Syekh Abdul Samad al-Falembani murid al-Qutub ar-Rabbani wal Arif al-Samadani Sayyidi Syeikh Muhammad bin Syeikh Abdul Karim as-Samman al-Qadiri al-Khalwati al-Madani qs. Kemudian kutambahkan beberapa amaliah dari para wali Allah yang mulia. Maka kuberi nama Risalah Amalia.

Sayyidi as-Syeikh Abdus Shamad al-Falembani ra. berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku bahwa orang-orang yang menapak jalan kepada Allah Ta’ala dengan membiasakan diri mengamalkan wirid-wirid secara rutin merupakan jalan yang menyampaikan kepada Allah Ta’ala dan kepada makrifat (pengenalan) yang sebenarnya tentang Allah Ta’ala. Tidak akan sampai kepada maklamat ini, melainkan seseorang membulatkan kasih sayangnya kepada Allah Ta’ala dan makrifat-Nya secara benar.”

Risalah Amalia

Setelah saya mendengar perkataan Syeikh hamba dan membaca kitab Siyarus Salikin, maka kususunlah Risalah Amalia ini agar memudahkan hamba dan para penempuh jalan yang menginginkan ridha Allah dan kebahagiaan dunia dan akhirat mengamalkannya.

Susunan buku ini diawali dengan surah al-Qur’an pilihan (fadilah Q.S. al-Kahfi, Q.S Yasin, Q.S. al-Waqi’ah, dan Q.S. al-Mulk), kemudian disajikan amalan-amalan khas Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, bacaan bacaan wirid, hizib, ratib dan fadilahnya, doa-doa, seputar amalan hari Jum’at, Ismul Azham, amalan Rabu terkahir Bulan Safar, amalan Nisfu Sya’ban, seputar anak yang baru lahir, penyelenggaraan jenazah, adab ziarah kubur, doa arwah, shalawat, shalat-shalat sunnah, zakat, thaharah, istinja, mimpi bertemu nabi saw., sujud sahwi dan tilawah, adab khalwat, kumpulan syair Syekh Samman qs., silsilah dan ijazah tarekat Khalwatiyah Sammaniyah.

Buku ini diterbitkan oleh Zawiyah Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, lebar buku 11 cm dan Panjang 14,5 cm, yang terdiri dari 382 halaman.[Hardianto]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending