Connect with us

Resensi

Cairo Oh Cairo; Perjalanan Seorang Aktivis MATAN

“Mushibatu qowmin ‘ala qowmin fawaidu”. Saya mendengar pesan hikmah ini pertama kali dari Romo KH. Hisyam Syafaat pada saat mengikuti pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin setiap selesai shalat ashar di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, saat mondok dulu. Pesan itu berarti bahwa “Musibah suatu kaum, bagi kaum yang lain bisa menjadi keberkahan atau memberikan sebuah manfaat”.

Published

on

Cairo Oh Cairo Viral

Dalam kasus sebuah negara, penjajahan negara Palestina adalah sebuah musibah, tapi bagi Israel itu adalah keberkahan. Dalam contoh kecil, musim hujan adalah musibah bagi penjual es campur, tapi bagi penjual minuman STMJ yang hangat adalah sebuah berkah. Begitu seterusnya.

Pada bulan Januari tahun 2011, saat itu saya masih mengikuti perkuliahan di Universitas Al-Azhar Mesir, seperti biasa tidak ada yang istimewa. Berangkat dari rumah di Toubromly memakai bus 926 di Mahattah Akhirah bersama teman-teman pelajar ma’had Al-Azhar yang rata-rata dari Rusia.

Usai mengikuti perkuliyahan hingga siang hari, teman akrab saya hafidz dan rajif mengajak terlebih dahulu untuk makan siang di warung biasanya yang berada di pintu belakang Al-Azhar untuk membeli Tho’miyah bil baidh, makanan khas Mesir. Warung ini tidak pernah sepi dari pembeli, kami semua yang beli tidak ada kursi untuk duduk makan, silakan cari sendiri di mana saja tempat, yang penting bisa makan.

Biasanya saya dan hafidz, usai disodori makanan yang sudah disiapkan, akan mencari tempat untuk makan di tangga flat apartemen dekat Maktabah penjual buku yang berada dekat warung tadi. Di sana, sambil makan kami sering mengobrol sesuatu yang kebanyakan tidak jelas, alias tidak ada temanya, palingan hanya seputar urusan kuliyah dan film-film terbaru yang bisa ditonton di rumah saat malam hari.

Setelah shalat dhuhur berjama’ah di masjid Al-Azhar yang bersebelahan langsung dengan Universitas Al-Azhar dan berhadapan dengan masjid Sayyidina Husein yang berada di seberang jalan, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya berjalan menyusuri toko-toko souvenir, makanan, hingga ashir ashob, minuman perasan tebu hingga sampai di mahattah Darrasah, tempat mangkalnya bus yang akan mengantarkan ke wilayah-wilayah di Cairo.

Bus yang saya cari adalah 80 Coret. Bus ini menjadi bus favorit mahasiswa Al-Azhar yang bertempat tinggal di kawasan Nasr City. Tidak seperti biasanya yang harus berebut untuk mencari kursi. Hari ini, jalanan sepi, para penumpang bus yang menunggu juga tidak banyak.

Tidak ada fikiran apapun hingga saya sampai di rumah dan membuka layar televisi Al-Jazeera. Rupanya lengangnya jalanan Cairo yang kami lalui mulai dari Darrosah, Nadi Sikkah, Hayyu Sadis, Hayyu Sabi’, hingga Hayyul Asyir diakibatkan oleh keadaan Mesir yang mulai tidak normal seperti biasanya.

Televisi Al-Jazeera menayangkan secara live demonstrasi yang terjadi di kawasan Tahrir Square yang menjadi Bundaran HI-nya kota Cairo. Hingga menjelang maghrib, semakin banyak para demonstran yang hadir. Polisi mulai kewalahan untuk mengaturnya.

Saat malam tiba, kerusuhan terjadi. Gedung yang berada di sekitar Tahrir mulai dirusak oleh massa, bahkan ada yang dibakar. Museum Ramses yang menyimpan seluruh benda-benda purbakala Mesir, termasuk di dalamnya ada sekitar 30 mumi dan diantara mumi itu adalah mumi Raja Ramsis II yang konon adalah fir’aun zamannya Nabi Musa juga ikut dijarah dan hendak dibakar oleh massa.

Mesir mengalami revolusi setelah sebelumnya diawali oleh negara Tunisia yang sukses dan Libiya yang dalam proses. Semakin malam, sekitar wilayah Nasr City semakin sepi, apalagi yang menjadi tempat tinggal saya di Toubromly, hanya ada suara-suara anjing liar yang berkeliaran saja, tanpa ada manusia yang lalu Lalang.

Rupanya, saat pagi hari, saya membuka kembali televisi Al-Jazeera dan beberapa televisi yang menyiarkan berita. Dari sekian banyak televisi berita, tidak ada satupun televisi Mesir yang menyiarkan kerusuhan dan demonstrasi yang terjadi di Tahrir Square, apalagi televisi yang dimiliki oleh pemerintah.

Para demontran masih bertahan walaupun semalaman mereka harus berperang dengan gas air mata dan senjata peluru karet dari para polisi usai menghacurkan dan membakar gedung-gedung yang ada di Tahrir Square. Wilayah-wilayah lain selain Cairo masih belum merasakan dampak dari kerusuhan yang ternyata bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Hosni Mubarok yang sudah memerintah sekitar 30 tahun ini.

Beberapa hari para demonstran malah semakin membludak. Tahrir Square menjadi rumah mereka. Tenda-tenda didirikan. Demonstrasi mulai meluas di kota-kota lain selain Cairo, termasuk sampai di wilayah yang menjadi basis berkumpulnya kebanyakan mahasiswa Indonesia di Nasr City, demo terjadi di Mahattah Zahra, hanya sekitar 10 menit berjalan dari rumah tempat saya tinggal.

Dalam kondisi politik yang memanas. Bukan hanya terjadi di Mesir, tapi di banyak negara-negara arab. Pemerintah Indonesia di Syiria yang sudah ramai dengan ISIS memutuskan untuk mengevakuasi seluruh warga yang ada di sana. Di Mesir, pemerintah China, Malaysia, Jerman, dan banyak negara lain sudah mulai mengevakuasi warganya. Indonesia masih belum bergeming.

Saya yang bekerja di pengiriman barang dari Mesir ke Indonesia merasakan imbasnya. Gara-gara dalam kondisi kerusuhan Mesir seperti ini tetap bekerja, saya bersama Omar dan Asif harus berhadapan dengan beberapa kompi militer Mesir yang mendatangi rumah kami yang penuh dengan barang-barang yang hendak dikirim ke Indonesia.

Dengan ditodongkan senjata laras panjang yang pucuknya berupa pisau, saya duduk di antara para tentara itu di mobil militer. Kami diajak ke markaz militer yang paling dekat dari Toubromly. Awalnya saya yang dipanggil untuk diinterogasi, namun Omar yang kebetulan juga dibawa bersama kami, memberikan aba-aba kepada pimpinan militer agar dia saja yang bicara. Omar pernah bertugas wajib militer selama 3 tahun sebelum bekerja bersama kami.

Beberapa jam kami diinterogasi, satu alasan yang membuat rumah kami digerebek adalah akibat laporan dari tetangga atas rumah, entah lantai berapa, yang menelpon pihak militer, karena dia mencurigai adanya aktifitas di lantai satu setiap hari yang ramai lalu lalang orang asing yang membawa barang. Mereka takut barang-barang itu dikumpulkan untuk mensuplay para pendemo di Tahrir Square untuk menggulingkan pemerintah.

Omar berhasil membujuk pimpinan militer yang menginterogasinya. Entah bagaimana cara dia membicarakan perihal aktifitas yang kami lakukan setiap hari di rumah flat apartemen lantai satu untuk mengumpulkan barang-barang dari Mesir yang hendak dikirim ke Indonesia. Sebelum kami digelandang ke markaz militer tadi, banyak sekali karton-karton yang dibuka paksa oleh prajurit militer Mesir dengan menggunakan pisau di ujung senjata laras panjangnya, memastikan tidak ada benda terlarang.

Mesir benar-benar kacau. Kerusuhan semakin meluas. Seluruh aktivitas sekolah dan perkantoran di seluruh negara diliburkan termasuk di Universitas Al-Azhar. Internet sempat diblokir hingga hampir satu minggu. Kami tidak bisa membuka facebook, tidak bisa bermain twitter. Hanya bisa menonton kondisi Mesir lewat televisi dan menonton film yang sudah disimpan di laptop.

Hampir tiap malam, Toubromly yang menjadi wilayah pinggiran sudah sering terjadi tembakan. Bahkan beberapa hari, saya sering menemukan selongsong bekas tembakan peluru yang dilakukan pada malam hari. Kalau malam tiba, orang-orang Mesir juga mulai banyak yang turun ke jalan untuk ronda malam.

Padahal, belum lama, saya bersama Mahmudi dan Asif beberapa bulan yang lalu masih asyik berkeliling wisata di Luxor dan Aswan dan disponsori oleh Menteri pendidikan Mesir. Luxor dan Aswan adalah dua kota bersejarah dan pernah menjadi ibu kota pada masa Fir’aun. Di Luxor ada museum terbuka terbesar sedunia. Kami juga mengunjungi Abu Simbel yang hampir berbatasan dengan Sudan. Saya sudah mencatat banyak artikel sebelumnya tentang perjalanan ini.

Peristiwa penangkapan saya oleh para militer Mesir, saya tuliskan dalam catatan di Kompasiana ini berjudul “Cairo Oh Cairo” dan ternyata viral. Kabar itu sampai di tanah air dan besoknya beberapa kali saya mendapatkan telepon dari beberapa stasiun televisi tanah air untuk mengabarkan kondisi Mesir terkini, beberapa televisi yang menghubungi saya diantaranya adalah Metro TV, TV One, Kompas TV, Jak TV dan SCTV.

Dari sinilah, yang awalnya pemerintah agak cuek dengan kondisi WNI yang ada di Mesir, akhirnya memerintahkan Bapak AM. Fachir yang menjadi Duta Besar Indonesia di Mesir untuk memutuskan evakuasi total seluruh WNI yang ada di Mesir. Saya tidak ikut evakuasi dan tidak mendaftarkannya. Saat ramai evakuasi, awalnya saya mencari tiket pesawat di teman-teman yang ada di Cairo tapi kesulitan mendapatkannya.

Akhirnya seorang teman yang ada Dubai membantu saya, dia membelikan tiket pesawat Emirat untuk saya buat perjalanan dari Mesir ke Dubai dan menuju Jakarta. Ketika pulang di Jakarta, saya bertemu dengan teman-teman blogger Kompasiana di Taman Ismail Marzuki, termasuk diundang Kang Pepih dan Mas Isjet ke kantornya Kompas Gramedia.

Itulah kisah yang pernah saya alami pada tahun 2011 lalu saat Mesir mengalami revolusi. Semua kisah itu, dari peristiwa sebelum rusuh, ketika saya jalan-jalan keliling Mesir di kota Luxor hingga Aswan, temasuk di Bali-nya Mesir yang di Sarm Syeikh dan Hurgada yang ada di Laut Merah, sampai peristiwa kerusuhan yang mengakibatkan kami diinterogasi ke markaz militer dan akhirnya kisah itu viral, semua itu sekarang bisa dinikmati kisahnya di salah satu 3 buku serial “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” berjudul “Cairo Oh Cairo”, sama dengan judul catatan Kompasiana yang dulu juga sempat viral.

Serial “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” terdiri dari tiga buku, pertama berjudul 926 Cairo, kedua berjudul Cairo Oh Cairo, dan yang ketiga berjudul Umroh Koboy. Masing-masing dari buku itu memiliki karakteristiknya sendiri.

Kembali ke pesan pertama tadi bahwa, Musibatu qowmin ‘ala qowmin fawaidu, telah menjadikan saya mendapatkan banyak bahan untuk menuliskan tentang Mesir. Selama di Mesir, saya mengalami 4 kali pergantian presiden. Mulai dari Presiden Hosni Mubarok yang nota bene kalau di Indonesia ibarat zamannya Pak Soeharto.

Lalu kedua menjumpai masa revolusi, digantikan oleh Presiden masa transisi adalah bernama Adli Mansour, selanjutnya digantikan oleh Presiden hasil pemilihan umum yakni Presiden Mohamed Morsi, dan kembali lagi Presiden dari kalangan Militer Mesir yakni Presiden Abdul Fattah As-Sisi. Semua masa pemerintahan memiliki ceritanya masing-masing.

Saya mendapatkan keberkahan hidup di Mesir di semua 4 masa itu. Dengan kondisi pemerintahan yang berbeda-beda itu, saya mendapatkan banyak catatan dan akhirnya alhamdulillah lahirlah 3 buku “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” yang berjudul 926 Cairo, Cairo Oh Cairo, dan Umroh Koboy ini.

Selamat mencari buku itu dan membacanya.[Bisri]

MATAN

Rahasia 926 Cairo

Inspirasi pertama dan utama bagi saya untuk menulis catatan perjalanan selama di Mesir adalah seperti yang terpampang dengan jelas di profil Kompasiana saya dan sudah saya tulis sejak pertama kali bergabung di blog kroyokan miliknya group Kompas ini pada bulan Oktober 2009.

Published

on

By

Hampir sepuluh tahun yang lalu, yakni saya adalah orang yang sangat penasaran kenapa di dalam kitab suci al-qur’an, hampir sebagian besar kisahnya, ketika menyebutkan tentang sejarah, selalu berkaitan dengan Mesir. Ya selalu Mesir. Sejarahnya Nabi Musa bersama Fir’aun, hampir di banyak sekali surat-surat di dalam al-qur’an, ada kisahnya Nabi Musa yang nota bene rata-rata berada di Mesir.

Sejarahnya Nabi Musa yang berada di Mesir saja tidaklah cukup. Penasaran dan pertanyaan saya berlanjut ketika Allah Swt. memberikan satu surat khusus yang hampir 100 % isinya, lokasinya berada di Mesir juga, surat itu adalah surat Yusuf yang berkisah antara Nabi Yusuf kecil bersama keluarganya, hingga dirinya dibuang saudaranya ke dalam sebuah sumur, dan ditemukan oleh para pedagang dari tanah Mesir, lalu dijual sebagai budak di Mesir, hingga dibeli oleh seorang perempuan kaya raya dari keluarga kerajaan yang bernama Siti Zulaikha.

Hingga kisah itu berlanjut sampai dipenjarakannya Nabi Yusuf gara-gara fitnah yang menimpa dirinya, sampai Nabi Yusuf di dalam penjara bawah tanah Mesir bertemu dengan dua orang laki-laki yang curhat kepadanya perihal mimpi yang mereka alami. Satu laki-laki akhirnya dipenggal, dan satunya menjadi pelayan di kerajaannya fir’aun. Disinilah nasib berpihak ke Nabi Yusuf, saat sang raja mencari seorang yang pandai dalam mentakwilkan sebuah mimpi, dan Nabi Yusuf menjadi pahlawan karena bisa mengartikan mimpi itu secara tepat.

Hingga akhirnya Nabi Yusuf diangkat sebagai tangan kanan dari fir’aun pada masanya. Istilah kerennya adalah menjadi Menteri Kordinator Ekonomi waktu itu. Karena mimpi yang dialami oleh raja terbukti nyata dan Nabi Yusuf sebagai pengendali atas seluruh peristiwa yang terjadi dari implementasi adanya mimpinya fir’aun itu. Nah, semua kisah Nabi Yusuf ini terjadi di Mesir. Ada apa dengan Mesir? Apa istimewanya Mesir?

Selama 4 tahun selama di Mesir, saya mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Keterbatasan otak saya untuk menyimpan memori perjalanan selama di Mesir, menjadikan saya secara perlahan, sejak oktober 2009  memutuskan untuk bergabung di blog Kompasiana, agar segala sesuatu yang saya lihat, yang saya dengar, yang saya ketahui, bisa saya tuliskan. Walaupun mungkin bagi sebagian orang sesuatu itu adalah terlihat sederhana.

Hasil dari catatan-catatan perjalanan yang saya tulis di Mesir bisa dirasakan hasilnya pada saat sekarang ini. Saat catatan itu menjadi sebuah buku. Tepatnya menjadi 3 buku serial “Catatan Perjalanan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” berjudul “926 Cairo”, “Cairo Oh Cairo”, dan “Umroh Koboy”. Setelah menunggu hampir sepuluh tahun lamanya. Saat saya membaca kembali catatan itu, yang dulu ketika di Mesir, saya menganggap banyak dari catatan itu terlihat sederhana, saat ini tidak menjadi sederhana lagi. Semakin saya membacanya, kerinduan kepada Mesir semakin menjadi-jadi. Saya juga akhirnya meyakini, bisa jadi inilah jawaban yang dulu pernah menjadikan saya bertanya “Kenapa banyak kisah dalam al-qur’an saat berbicara sejarah, banyak terjadi di Mesir?”. Saya mengungkap nol koma nol nol nol…sekian dari rahasia besar itu dalam catatan-catatan sederhana yang pernah saya tuliskan.

Dari catatan sederhana, lahirlah 3 buku. Itupun masih ada sekitar 150 artikel lain yang belum saya edit kembali dan belum dijadikan sebagai buku. Mungkin nanti, saya akan mengeditnya kembali dan juga menjadikannya sebagai buku lanjutan dari 3 serial buku yang ada sekarang. Pada tulisan ini, saya hanya ingin sedikit mengungkap apa rahasia dari judul “926 Cairo” itu?. Perlu diketahui, angka 926 bagi saya saat di Mesir merupakan angka yang selalu menolong untuk sampai kepada kampus Al-Azhar.

926 adalah nama bus yang ada di Toubromly, yang menjadi kawasan flat apartemen tempat saya tinggal. Untuk pergi ke kampus Al-Azhar, saya selalu menggunakan bus 926 yang bermesin Mer-C. Dengan bus inilah, saya bisa berangkat kuliyah, bisa tau suasana sekitar kota Cairo. Berawal dari dalam bus ini, malamnya saat berada di flat Toubromly, saya menuliskan catatan perjalanan hampir setiap hari.

Pertama kali saya mencatatkan tentang perjalanan pertama saat berangkat ke Mesir. Hanya bermodal 40 dolar saat saya datang di Cairo dan dijemput oleh seorang teman di bandara. Belum genap satu hari di Cairo, sorenya uang itu sudah habis. Saya memutar otak, bagaimana mampu bertahan di ganasnya ibu kota negara Mesir ini. Sebagaimana banyak anggapan bahwa, kejamnya ibu tiri tidaklah lebih kejam dari kejamnya ibu kota.

Dari sini, saya akhirnya tidak pilih-pilih pekerjaan untuk bertahan, mulai dari membantu laundry, jualan tempe, membantu membuat produksi tauge, hingga bekerja di pengiriman barang dari Mesir ke Indonesia, semua saya lakukan dan kisahnya saya tuliskan yang catatannya sudah menjadi buku “926 Cairo”. Walaupun ada beberapa artikel yang belum saya cantumkan di sana untuk melengkapi kisah-kisah itu.

“Disetiap ada kesulitan, pasti ada kemudahan”. Kalau kita melihat ayat al-qur’an yang menjalaskan tentang perkataan barusan, di sana diketahui bahwa satu kesulitan paling tidak akan lahir dua kemudahan. Faktanya, dari kesulitan hidup yang saya alami ketika di Mesir, ada banyak sekali kemudahan yang saya rasakan. Seluruh kemudahan itu terwujud dari banyaknya kisah yang saya dapat dari catatan perjalanan yang tertulis dan bisa mengelilingi negara Mesir.

Jika biasanya, teman-teman di Mesir yang kuliyah di universitas Al-Azhar akan keliling berwisata di Mesir pada saat musim panas ketika liburan sekolah. Saya hampir tiap hari keliling Cairo. Saya sering menemani Omar, sahabat saya orang Mesir untuk mengambil karton-karton barang yang akan dikirim ke Indonesia, saya juga sering berkeliling di kota-kota sekitar Cairo, ke restoran-restoran, mall, hingga supermarket yang ada di Mesir untuk mensuplay kebutuhan masyarakat di Mesir yang diimport oleh bos saya dari Thailand. Beberapa catatan perjalanan itu juga ada dalam artikel di buku “926 Cairo”.

Berkat kuliyah sambil bekerja, di setiap liburan, saya bisa menyisihkan keuangan untuk bisa berjalan-jalan wisata bersama teman-teman para mahasiswa Al-Azhar, diantaranya ke Sarm Syeikh yang konon terkenal sebagai kota Bali-nya Mesir. Ke Pantai Dahab, Hurgada, yang semuanya menawarkan keindahan laut merah. Juga wisata sejarah ke gunung Sinai yang dulu menjadi tempat bertapanya Nabi Musa selama 40 hari. Hingga ke 12 sumur Nabi Musa yang masih ada dan terpelihara.

Dalam satu kesempatan, saya dipertemukan dengan Mas Ippho Santosa saat beliau ke Mesir, beliau adalah seorang pembicara dan penulis terkenal di tanah air, saya menuliskan beberapa catatan perjalanan bersama beliau, kami mengunjungi gunung sinai kembali, yang berbeda kali ini adalah kami semua pergi ke puncak gunung dengan mengendarai onta, mengunjungi sumurnya Nabi Musa, juga berziarah ke pemakaman yang di dalamnya ada 5000 sahabat Nabi pada masa Sayyidina Amr bin Ash saat membuka tanah Mesir saat kepemimpinan Khalifah Sayyidina Umar bin Khatab Ra. Juga berkunjung ke benteng perang yang dibangun oleh panglima perang Shalahuddin Al-Ayyubi yang terkenal dalam sejarah Islam.

Alhamdulillah. Pertanyaan penasaran saya tentang Mesir yang terpampang di profil Kompasiana mulai sedikit memberikan jawaban. Semakin saya menulis tentang Mesir, semakin saya menemukan ada banyak sekali hal-hal menarik dan istimewa yang saya temukan. Masih banyak sekali hal-hal yang belum saya tuliskan tentang Mesir. Saya berharap bisa mengunjungi Mesir kembali dan menuliskan kisahnya dengan gaya dan kondisi yang berbeda. Bahkan, saya menganggap, potensi dari Mesir yang perlu dituliskan tidaklah terbatas. Mesir sampai kapanpun, akan selalu menjadi misteri dan menarik untuk diungkap dalam sebuah tulisan. Buku “926 Cairo” sedikit mewakili untuk mengungkap misteri itu. Tentu dalam hal sesuatu yang sederhana. Selamat berburu dan membaca bukunya.[Bis]

Continue Reading

Facebook

Trending