Connect with us

Resensi

Risalah Amalia (Kumpulan Ratib, Wirid dan Doa-doa Mustajab)

Al-Faqir Irsan Daeng Mangngerang

Penerbit: Zawiyah Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah

Published

on

Risalah Amalia

Buku Amalia ini disadur dari kitab al-Urwatul Wutsqa karangan Syekh Abdul Samad al-Falembani murid al-Qutub ar-Rabbani wal Arif al-Samadani Sayyidi Syeikh Muhammad bin Syeikh Abdul Karim as-Samman al-Qadiri al-Khalwati al-Madani qs. Kemudian kutambahkan beberapa amaliah dari para wali Allah yang mulia. Maka kuberi nama Risalah Amalia.

Sayyidi as-Syeikh Abdus Shamad al-Falembani ra. berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku bahwa orang-orang yang menapak jalan kepada Allah Ta’ala dengan membiasakan diri mengamalkan wirid-wirid secara rutin merupakan jalan yang menyampaikan kepada Allah Ta’ala dan kepada makrifat (pengenalan) yang sebenarnya tentang Allah Ta’ala. Tidak akan sampai kepada maklamat ini, melainkan seseorang membulatkan kasih sayangnya kepada Allah Ta’ala dan makrifat-Nya secara benar.”

Risalah Amalia

Setelah saya mendengar perkataan Syeikh hamba dan membaca kitab Siyarus Salikin, maka kususunlah Risalah Amalia ini agar memudahkan hamba dan para penempuh jalan yang menginginkan ridha Allah dan kebahagiaan dunia dan akhirat mengamalkannya.

Susunan buku ini diawali dengan surah al-Qur’an pilihan (fadilah Q.S. al-Kahfi, Q.S Yasin, Q.S. al-Waqi’ah, dan Q.S. al-Mulk), kemudian disajikan amalan-amalan khas Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, bacaan bacaan wirid, hizib, ratib dan fadilahnya, doa-doa, seputar amalan hari Jum’at, Ismul Azham, amalan Rabu terkahir Bulan Safar, amalan Nisfu Sya’ban, seputar anak yang baru lahir, penyelenggaraan jenazah, adab ziarah kubur, doa arwah, shalawat, shalat-shalat sunnah, zakat, thaharah, istinja, mimpi bertemu nabi saw., sujud sahwi dan tilawah, adab khalwat, kumpulan syair Syekh Samman qs., silsilah dan ijazah tarekat Khalwatiyah Sammaniyah.

Buku ini diterbitkan oleh Zawiyah Tarekat Khalwatiyah Sammaniyah, lebar buku 11 cm dan Panjang 14,5 cm, yang terdiri dari 382 halaman.[Hardianto]

Kitab

Kualat: Pembelaan KH Abdullah Bin Nuh terhadap Kaum Sufi

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

kh-abdullah-bin-nuh

KH. Raden Abdullah Bin Nuh atau sering dikenal dengan Mama ABN merupakan ulama dari Bogor yang mendunia. Saking cintanya dengan karya-karya Imam Al-Ghazali, beliau dijuluki dengan Al-Ghazali dari Indonesia. Dalam sebuah kitab Masterpiece-nya “Ana Muslim Sunni Syafi’i, beliau menunjukkan pembelaan kepada kaum sufi di bagian akhir kitabnya. Beliau membahas cukup panjang, diantaranya akidah kaum sufi, amaliyah (suluk), karomah, syathathat, dan lain-lain.

Dalam pembelaanya, beliau banyak sekali mengutip pendapat-pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami. Beliau menceritakan kekeramatan para wali Allah seperti Syekh Ibnu Arabi, Syeh Abdul Qodir Al-Jailani, Imam Junaid Al-Baghdadi, Abu Yazid Al-Busthomi, Syekh Ibnu Al-Faridh dan ulama sufi lainnya. Yang menarik bagi saya, beliau mengisahkan orang-orang yang “kualat” karena mengingkari ke-wali-an ulama sufi tersebut dan bahkan mengkafirkannya.

Berikut saya ceritakan ulang apa yang disampaikan beliau dalam kitabnya, yang saya sajikan dalam bentuk tanya jawab:

Abu Said Abdullah bin Ibnu Abu Ashirun, seorang imam madzhab Syafi’i mengisahkan:

“Aku pergi ke Baghdad untuk menimba ilmu. Bersamaan dengan itu, Abu As-Saqa juga pergi ke Baghdad, yaitu ke Nazhamiyyah. Kami menuntut ilmu disana dan sering mengunjungi orang-orang saleh. Konon, di Baghdad ada seorang saleh yang masyhur disebut sebagai “Al-Ghoust” (Penolong). Kemudian, Aku, As-Saqa dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (saat itu masih muda) mengunjungi orang saleh tersebut”

Ditengah perjalanan kami berbincang-bincang:

Ibnu As-Saqa : “Aku akan bertanya kepadanya perihal sesuatu yang ia tak bisa jawab”

Abu Ashirun : “Aku akan bertanya suatu hal saja”

Syekh Abdul Qadir: “aku akan bertanya kepada beliau kalau aku sudah ada di hadapannya sambil menunggu berkah karena bertemu beliau”

Akhirnya, mereka bertiga sampai di rumah beliau. Setelah, mereka masuk. Syekh Al-Ghoust memandang Ibnu As-Saqa dengan menunjukkan kemarahannya dan berkata:

“Celaka kau, wahai Ibnu As-Saqa, kau bertanya sesuatu yang menurutmu aku tak bisa menjawabnya, pertanyaanmu ini…dan jawabannya ini… sungguh aku melihat api kekufuran yang menyala-nyala dalam dirimu”

Syekh Al-Ghoust berkata kepadaku: “Pertanyaanmu ini dan jawabannya ini, dunia akan dikumpulkan kepadamu hingga engkau tenggelam olehnya hingga sampai pangkal telingamu karena kelakuanmu yang buruk”

Kemudian, Syekh Al-Ghoust memandang Syekh Abdul Qadir dengan menunduk dan memuliakannya, lalu berkata: “Wahai Abdul Qadir, engkau membuat ridla Allah dan Rasul-Nya dengan budi pekertimu. Aku bermimpi bertemu denganmu di kota Baghdad. Engkau sedang naik di atas kursi memberi khutbah kepada orang, dan berkata “Telapak kakiku ini berada di atas setiap pundak wali Allah”. Aku melihatmu dalam mimpiku, para wali merendahkan pundaknya dan mengagungkanmu”.

Baca juga: Jalan Hamba Menuju Pintu Takwa

Lalu, Syeh Al-Ghoust tersebut menghilang dan tak pernah melihatnya lagi. Singkat cerita, Ibnu As-Saqa melanjutkan pendidikannya dan menjadi orang yang cerdas dan ditugaskan oleh khalifah menjadi diplomat untuk menemui Raja Romawi. Sang Raja justru tertarik dengan penampilannya dan dikumpulkanlah semua pendeta nasrani dan disuruh berdebat dengan Ibnu As-Saqa. Semua dikalahkan oleh Ibnu As-Saqa. Raja Romawi memasang perangkap, yaitu ditampilkan putrinya dihadapannya dan Ibnu As-Saqa tertarik.

Celakanya, Sang Raja Romawi mensyaratkan dan berkata: “Engkau boleh menikahinya asalkan engaku masuk Nasrani”. Akhirnya, Ibnu As-Saqa masuk Nasrani dan menikahinya. Tak lama kemudian, Ibnu As-Saqa sakit keras dan dibuang di pasar oleh pihak istana. Ibnu As-Saqa meminta makanan kepada orang-orang, namun tidak diberikan.

Sempat ada orang yg mengenalnya dan berkata: “Kenapa kamu begini?”

Ibnu As-Saqa: Fitnah menimpaku seperi yang kamu lihat”

“Apakah engkau hafal sesuatu Al-Qur’an?” Tanya orang tersebut

“Tidak kecuali, -orang orang kafir itu sering kali menginginkanmu, kiranya mereka dahulu menjadi muslim (Qs Al-Hijr (15:2))” Jawab Ibnu As-Saqa.

“Aku (Abu Ashirun) sempat melihatnya (Ibnu As-Saqa) dalam keadaan terbakar saat ia sekarat menjelang ajalnya. Lalu, aku menghadapkannya ke arah kiblat, namun ia berguling lagi ke arah timur lagi. Hingga, ia menjemput ajalnya dengan wajah menghadap ke timur. Konon, ia (Ibnu As-Saqa) pernah mengisahkan perkataan seorang wali yang disebut Al-Ghoust dan ia pun sadar bahwa dirinya sakit karena itu.”

Baca juga: 162 Masalah Sufistik

“Sedangkan aku (Abu Ashirun) datang ke Damaskus dan dipaksa oleh Sultan Nuruddin Asy-Syahid sebagai Kepala Perwakafan hingga aku mendapatkan penerimaan harta yang amat banyak”.

Adapun Syekh Abdul Qadir terlihat jelas tenda-tanda kedekatan dengan Allah, bahkan baik orang yang awam maupun yng khusus sepakat bahwa beliau pernah berkata: “Telapak kakiku ini berada di atas pundak setiap wali”.

Mama ABN menuturkan bahwa cerita tersebut mencapai derajat mutawatir secara makna, karena begitu banyak orang yang meriwayatkannya berikut adil periwayatannya.

Semoga kisah ini menjadikan pelajaran bagi kita untuk berhusnudhon dan bersikap sopan kepada wali-wali Allah. Beliau (mama ABN) dalam kitabnya  juga mengisahkan “kualat”-nya seseorang yang mengkafirkan Syekh Ibnu Arabi.

Wallahu a’lam bishoshowab

Continue Reading

Kitab

Jalan Hamba Menuju Pintu Takwa

Resensi: Idris Wasahua, Redaktur JATMAN Online

Published

on

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani

Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, penulis buku ini adalah seorang ulama Nusantara asal Palembang yang hidup pada masa 1704-1789 M. Buku ini merupakan gabungan dua kitab Karya Syekh Abdus Shamad al-Palimbani yang ditulis dalam Bahasa arab dengan judul “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” dan “Anisul Muttaqin”. Karena gabungan dua kitab, pembahasannya dibagai dalam dua bagian, dimulai dari kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin”, yang terdiri dari 7 bab dan bagian penutup.

Bab 1 tentang Aqidah, Bab 2 tentang Taat Zhahir, Bab 3 tentang Menjauhi Maksiat Zhahir, Bab 4 tentang Menjauhi Maksiat Bathin, Bab 5 tentang Taat Batin, Bab 6 tentang Fadhila Adab dan Tata Cara Dzkir, Bab 7 tentang Adab Hubungan Kepada Allah & Pergaulan Terhadap Manusia, dan bagian penutup tentang Adab Berkenalan.

Sedangkan pada kitab “Anisul Muttaqin’ terdiri dari 5 bab, yakni Bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, Bab 2 tentang Penjelasan Ilmu dan Kebodohan, Bab 3 tentang Penjelasan Akal dan Kebodohan, bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dan Bab 5 tentang Penjelasan Tawakal dan Tamak. Untuk melengkapi buku ini, penerbit menambahkan pula biografi Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, meliputi tempat kelahiran, pendidikan dan pemikiran, wafatnya, dan alasan kenapa makam Syekh Abdus Shamad al-Palimbani berada di Thailand. Kedua kitab tersebut membahas tentang tasawuf akhlaqi yang dipelopori oleh Imam al-Ghazali. Pada kitab Hidayatus Salikin, Syekh Abdus Shamad menerjemahkan dan mensyarah kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali, yang memuat tema-tema pendidikan karakter yang kental. Sedangkan pada kitab Anisul Muttaqin, pembahasannya meliputi tiga persoalan pokok. Pertama, anjuran untuk selalu berkata benar. Kedua, mengikhlaskan seluruh perbuatan hanya kepada Allah SWT. Ketiga, menyucikan hati setiap saat. Semua tema pembahasan itu pada intinya memusatkan perhatian pada cara pencapaian makrifat kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam.

Sebagai sebuah kitab Tasawuf, topik pembahasan dalam buku ini tidak terbatas pada amaliah-amaliah zahir, namun meliputi pula amaliah-amaliah bathin yang menjadi karakteristik dari ajaran tasawuf.

Pembahasan kitab “Hidayatus Salikin fi Suluk Maslaki Muttaqin” diawali dengan mukadimah yang menjelaskan tentang arti Ilmu yang bermanfaat, yakni sesuatu yang menambah rasa takut kepada Allah, bertambah dalam mengetahui kejelakan diri, bertambah ibadah kepada Allah, berkurang kecintaan pada dunia, bertambah kerinduan pada akhirat, terbuka mata hati akan sesuatu yang bisa menghapus amal, berusaha menjaga diri, dan bisa melihat bagaimana tipu daya setan. Ilmu yang bermanfaat ini sangat utama dalam Islam. Beberapa hadits Nabi terkait hal ini antara lain yang artinya: “Manusia yang paling utama adalah orang mukmin yang alim dan bermanfaat jika dibutuhkan, jika ia tidak dibutuhkan, maka ia mencukupi dirinya”. Sayyidina Abdullah Abbas RA berkata: Derajat para ulama itu lebih mulia 700 derajat di atas kaum muslimin, jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya adalah sejauh 500 tahun. Dalam bab 1 tentang aqidah, dijelaskan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu baginya. Allah itu tunggal, tiada banding bagi-Nya. Allah itu ada sejak dahulu, tiada bagi-Nya permulaan. Allah itu kekal, tiada kesudahan bagi-Nya. Allah itu maha suci, tiada menyerupai segala ciptaan-Nya. Hal-hal tersebut harus diketahui dan diyakini oleh seorang yang telah baligh dan berakal.

Pada bab 2 tentang taat zahir, dijelaskan tentang ketaatan dalam ibadah-ibadah zahir, yang berisi petunjuk, amalan, yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits berkaitan dengan adab buang air besar & kecil, adab berwudhu, adab mandi, adab tayamum, adab pergi ke Masjid, adab masuk Masjid sampai terbit matahari, adab ibadah sejak terbit hingga terbenamnya matahari, adab persiapan menjalankan shalat, keutamaan shalat tasbih, faedah shalat istikharah, faedah shalat hajat, adab shalat, adab imam dan makmum, adab pada hari Jumat, dan adab puasa. Menurut Imam al-Ghazali, ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah adakalanya ada yang wajib adan yang sunnah. Ibadah wajib bagaikan ra’sul mal (modal perniagaan), sedangkan ibadah sunnah adalah laba (keuntungan) dari perniagaan.

Dalam bab 3 tentang menjauhi maksiat zahir, disebutkan bahwa seluruh anggota tubuh kita bagaikan rakyat yang kita pimpin. Sebagaimana halnya pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, kita pun akan dimintakan pertanggungjawaban atas seluruh anggota tubuh kita. Karenanya, seluruh anggota tubuh kita dengan fungsinya masing-masing harus digunakan dalam tuntunan Agama.

Pada bab 4 tentang maksiat batin, maksiat batin merupakat maksiat yang ada dalam hati meliputi segala perangai jahat dan sifat-sifat tercela, antara lain seperti: Riya, takabur, cinta dunia, Ujub, dengki, dan kikir. Sifat-sifat ini wajib dijauhi, dan bagi yang telah terjangkit wajib mensucikan hatinya dari sifat-sifat tersebut. Dalam Q.S. As-Syams ayat 8 Allah berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. Menurut Imam al-Ghazali, Hadits Nabi SAW yang artinya: “Kebersihan itu Sebagian dari iman”, bermakna mensucikan hati dari sifat tercela dan memperbaikinya dengan sifat terpuji.

Dalam bab 5 tentang taat batin, lain halnya dengan taat zahir yang bersifat fisik, taat batin merupakan ibadah yang ada di dalam hati. Beberapa diantaranya yakni; zuhud, sabar, bersyukur, ikhlas, tawakkal, ridha atas takdir Allah, dan mahabbah (Cinta kepada Allah). Mahabbah ini merupakan salah satu martabat tertinggi yang akan menghantar seseorang kepada makrifat. Nabi SAW bersabda: “Setiap sesuatu punya sumber, dan sumber ketakwaan adalah hatinya orang-orang yang makrifat kepada Allah”. Cinta kepada Allah memiliki beberapa ciri yakni; mendahulukan apa yang diperintahkan Allah daripada yang disenanginya, selalu mengingat kematian, benci terhadap godaan maksiat dunia serta hatinya tidak condong pada harta dunia.

Dalam bab 6 tentang fadhilah, adab dan tata cara dzikir, disebutkan bahwa Syekh al-Murshafi dalam kitabnya Manhajus Salik ila Asyrafil Masalik mengemukakan 35 keutamaan bagi ahli zikir dibandingkan ibadah lainnya, antara lain; Allah akan selalu menyebut diri ahli zikir. Allah berfirman: “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu”. Ahli zikir sangat dekat dengan Allah seakan tidak ada penghalang sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi: “Aku Bersama hambah-Ku Ketika ia mengingat-Ku”. Terdapat 2 jenis zikir, zikir jahr (Suara keras), dan zikir sir (Suara perlahan).

Bab 7 tentang adab hubungan kepada Allah dan pergaulan terhadap manusia, meliputi adab orang alim, adab pelajar, adab anak kepada orang tua, dan adab berteman. Beberapa adab dari 17 adab orang alim yang dikemukakan dalam buku ini adalah: menanggung dan menerima risiko apapun dari seorang murid, baik pertanyaan atau pekerjaan yang memberatkan. Orang alim hendak bersikap sabar dan tidak lekas emosi kepada muridnya, dan jangan malu berkata tidak tahu atau mengucapkan “wallahu a’lam” jika masih ragu atas jawaban suatu masalah yang belum jelas persoalannya. Adab pelajar antara lain: jangan banyak bicara di depan guru, jangan bertanya kepada guru sebelum meminta izin, jangan berbisik dengan orang lain di depan guru, dan jangan berburuk sangka kepada guru jika melihat perbuatannya berlainan dengan i’tikad kita atau berlainan dengan perbuatan kita, karena guru lebih mengetahui rahasia-rahasianya seperti kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa. Adab anak kepada orang tua antara lain: jangan meninggikan suara melebihi suara Ibu dan Bapak, bersungguh-sunggu dalam nenuntut keridhaan orang tua dengan perkataan atau perbuatan serta merendahkan diri, dan jangan memandang kepada mereka dengan pandangan yang menyakitkan atau yang membuat mereka marah. Adab berteman antara lain: menutupi rahasia teman, menutup aibnya, turut bergimbira atas keberhasilannya dan sedih atas musibah yang menimpanya, dan memaafkan kesalahannya. Pada bagian penutup tentang adab berkenalan disebutkan bahwa manusia itu terdiri dari tiga perkara. Pertama, sahabat kita, yakni teman dan kekasih kita, kedua, orang yang kita kenal, dan ketiga, orang yang kita tidak kenal. Dalam memilih teman, hendaknya menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskan kita ke jalan kesesatan, dan mencari teman yang menghantarkan kita kepada kebaikan. Qadi Ibnu Ma’ruf berkata: “Hati-hati terhadap musuhmu sekali dan berhati-hatilah terhadap temanmu seribu kali”.

Pada kitab Anisul Muttaqin bab 1 tentang Lalai dan Tafakur, dijelaskan bahwa kelalaian dapat mecegah berbagai kebaikan. Kelalaian merupakan kekufuran bagi seorang salik dan kesesatan bagi bagi orang bertaqwa, karena lalai dapat mendatangkan dosa, dan dosa dapat mengakibatkan kekufuran. Kelalaian juga merupakan sesuatu yang lebih memabukan yang lebih jelek dari minuman keras, karena minuman keras menutupi akal sedangkan kelalaian menutupi kebenaran. Dalam bab 2 tentang Ilmu dan Kebodohan, dijelaskan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat tanpa amal, sedangkan amal tidak akan bermanfaat tanpa ikhlas. Alangkah mengherankan jika ada orang yang puas karena ilmunya meskipun tidak beramal. Pada bab 3 tentang Akal dan Kebodohan, dijelaskan bahwa orang berakal adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, beramal untuk bekal di alam kubur sebelum ia dimasukan ke dalam kubur, dan Allah ridho kepadanya sebelum ia bertemu dengan Allah. Dalam bab 4 tentang Orang Fakir dan Dunia, dijelaskan bahwa kefakiran lebih baik dari semua kebaikan karena kefakiran mengandung enam perkara, tiga di dunia, yakni selalu senang bertambhanya ibadah, dan berkurangnya musuh, dan tiga di akhirat, yakni sedikit hisab, tercegah dari siksa, dan perolehan pahala. Sedangkan dalam bab 5 tentang Tawakal dan Tamak, dijelaskan bahwa tidak ada pemimpin di dunia selain tawakal, karena tawakal membebaskan seseorang dari kecemasan dan kesedihan. Selain itu tawakal juga merupakan amal yang utama dan wajib bagi kaum muslimin sebagaimana firman Allah “Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. Tawakal juga lebih utama dari zuhud, karena zuhud tidak akan berhasil dengan baik kecuali disertai tawakal. Adapun tamak, adalah sama dengan syirik karena tamak menyebabkan syirik. Orang yang tamak tercegah dari semua kebaikan dan nikmat Allah.

Buku ini sangat bermanfaat dibaca terutama bagi kaum “Salik” (Penempuh jalan spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah), maupun para pemula pengenal dunia tasawuf/thoriqah. Dengan membaca buku ini, kita menjadi semakin sadar mengenai adanya perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) batin yang selama ini tanpa sadar sering kita lakukan, karena menganggap perbuatan-perbuatan maksiat (dosa) hanya terbatas pada bentuk zahir.

Continue Reading

Artikel

‘Aqidatul Awam, Kitab Tauhid Populer

Oleh: Muhammad Nashrudin

Published

on

aqidatul awam

Tauhid merupakan salah satu pokok dalam tradisi keislaman. Tauhid menjadi dasar bagi seluruh bangunan ajaran dalam Islam. Memeluk agama Islam adalah meyakini segala fundamen yang tercakup di dalam fan ilmu tauhid: mulai dari keesaan Allah SWT; para malaikat; kitab-kitab Allah; Nabi dan Rasul; hari akhir; serta qadha dan qadar.

Semua hal ini dibahas secara utuh-seluruh dalam fan ilmu tauhid. Sesuai dengan nomenklatur yang ditetapkan, tauhid artinya mengesakan Allah SWT. Begitulah tujuan kita belajar ilmu tauhid. Titik tekan ilmu ini adalah pengenalan dan pemantapan hati untuk mengesakan Allah, sepaket dengan lima rukun lain sehingga genap menjadi enam rukun iman.

Dalam konteks ini masyarakat awam tentu saja membutuhkan pedoman sederhana untuk memahami poin-poin penting dalam keimanan. Dan kebutuhan ini terjawab dalam kitab kecil yang berjuluk ‘Aqidah al-Awam. Sesuai namanya, kitab ini merangkum kajian akidah dan ya, ditujukan kepada masyarakat awam.

Kitab ini dikarang oleh Sayyid Ahmad al-Marzuki, seorang mufti asal Makkah yang lahir pada tahun 1205 H atau 1791 M. Kitab ini berbentuk nazam atau syair yang mudah dibaca dengan lagu sehingga mudah dihafalkan, terutama bagi anak-anak. Tak heran kitab ini menjadi kitab wajib di banyak Madrasah Diniyah kelas Awwaliyah dan santri pemula Pondok Pesantren. Santri biasanya diwajibkan menghafalkan dan menyetorkan hafalan kitab ini.

Aqidatul Awam merangkum materi-materi primer dalam ilmu tauhid, mulai tentang lima puluh aqaid yang wajib diketahui, yakni: 20 sifat wajib bagi Allah SWT.; 20 sifat mustahil bagi Allah SWT (tidak disebutkan secara eksplisit); satu sifat jaiz bagi Allah SWT; empat sifat wajib bagi para Nabi; empat  sifat mustahil bagi para Nabi (tidak disebutkan secara eksplisit); dan 1 sifat jaiz bagi Nabi.

Kitab ini kemudian merinci identitas 25 Nabi dan Rasul. Lantas mengenalkan karakter dan identitas para malaikat. Setelah itu, ia merinci empat buah kitab beserta siapa saja penerimanya. Lalu mengisahkan peristiwa hari akhir. Pembahasan ini disambung dengan nasab dan kisah hidup Nabi Muhammad saw beserta putra/puteri dan para istri. Kitab ini juga merinci beberapa sahabat yang sekaligus menjadi paman dan bibi Nabi.

Peristiwa Isra Mi’raj menjadi pembahasan selanjutnya yang kemudian disambung dengan doa penulis dan penyebutan identitas kitab: nama penulis, kapan ditulis, jumlah nazam, dan judul kitab. Kitab ini agak berbeda dengan kitab lain di mana judul dan identitas justru menjadi penutup sementara lazimnya kitab mencantumkan di halaman depan.

Benar-Benar Risalah

Kitab Aqidatul Awam ini benar-benar kecil. Ia hanya terdiri atas 57 (lima puluh tujuh) syair. Tidak lebih. Jika ditulis berurutan, ia hanya membutuhkan empat halaman buku tulis ukuran A5. Kalau mengikuti standar Unesco, tentu saja naskah ini tidak akan bisa disebut sebagai buku karena kurang dari 40 halaman.

Saking kecilnya naskah matan nazan ini, penerbit harus mengakalinya dengan menulis kitab ini dengan jarak antar bait yang sangat renggang. Tentu saja hal ini bermanfaat bagi santri pemula untuk memberikan catatan makna gandul. Kalau antar bait ditulis rapat, maka ia akan dimasukkan ke dalam satu volume kitab-kitab yang biasa dihafalkan: AlfiyahImrithi, dlst lalu dicetak dalam wujud kitab saku.

Adapun edisi cetak yang paling populer adalah versi terjemah bahasa Jawa dengan aksara Pegon yang diterjemahkan oleh KH. Zahwan Anwar, Pengasuh PP Darul Huda, Ngemplak, Kajen, Pati. Kitab ini pun hanya setebal 20 halaman. Tetapi jusru terjemah pegon inilah yang mempopulerkan ‘Aqidatul Awam. Saking populernya kitab ini, santri pemula atau siswa Madrasah Diniyah Awwaliyah terkadang memahami kitab ‘Aqidatul Awam itu ya berbahasa Jawa Pegon, padahal yang ia pegang adalah terjemahnya.

Sebagai sebuah kitab yang populer, kitab ini tentu saja mendapatkan sambutan positif dari khalayak. Jika ukuran popularitas artikel di jurnal adalah jumlah sitasi, popularitas kitab matan adalah seberapa banyak kitab tersebut diberi syarah. Nazam ‘Aqidatul Awam sendiri disyarah oleh beberapa ulama.

Yang pertama oleh Sayyid Ahmad al-Marzuqi sendiri dengan judul Tahshil Nail al-Maram Libayani Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam. Kemudian Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani tak ketinggalan turut menuliskan syarahnya dengan judul Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam. Ada juga Tashil al-Maram li Daarisil Aqidatil Awam karya Syaikh Ahmad al-Qaththa’aniy al-‘Aysawiy.

Yang belakangan banyak dikaji adalah Jala’u al-Afham Syarh Aqidatul Awam. Kitab ini merupakan kumpulan penjelasan Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Makki Al-Hasani atas kitab Aqidatul Awam. Penjelasan tersebut kemudian dikumpulkan oleh KH. M Ihya Ulumuddin, mudir PP Nurul Haramain Pujon, Malang, Jawa TImur. Semoga kita mendapatkan keberkahan. Amin. [Ali Akbar]

Kunjungi MATAN Indonesia

Baca juga: Ahla al-Musamarah fi Hikayat al-Auliya’ al-‘Asyrah; Sebuah Karya Prosa Ulama Nusantara

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending