Connect with us

Artikel

Sufisme Milenial, Jembatan Keislaman-Kebangsaan: Refleksi 9 Tahun MATAN

Published

on

Ngaji TI

Tradisi Islam Indonesia dipengaruhi gerakan sufisme yang menjadi nyawa, semangat, dan sekaligus karakternya. Sufisme tidak hanya menjadi nilai, namun juga menggerakkan Islam Indonesia. Sufisme mendorong perubahan dan membangkitkan semangat Islam Indonesia.

Kisah-kisah perjuangan dan proses menuju kemerdekaan Indonesia, termaktub bagaimana para kiai sufi bergerak, menumbuhkan nilai, sekaligus menjadi nyawa perjuangan. Kiai-kiai sufi di berbagai kawasan menggerakkan pengikutnya tidak hanya sebagai komunitas yang mandiri, tapi juga menginspirasi perjuangan kemerdekaan.

Pangeran Diponegoro (1785-1855) menjadi cermin penting bagaimana gerakan sufisme dan tradisi pesantren, menjadi nyawa bagi perjuangan melawan kolonial. Raden Mas Mustahar atau Sultan Ngabdul Kamid dikenal luas sebagai penggerak, pahlawan, yang menginspirasi perlawanan terhadap kolonial. Perang Jawa pada 1825-1830 merupakan perang tersulit yang membangkrutkan pemerintah Hindia Belanda, tapi juga menjadi titik balik gerakan perjuangan kemerdekaan.

Para kiai sufi pengikut Diponegoro menyebar di berbagai kawasan di penjuru Jawa untuk merawat nilai, tradisi, pengetahuan, sekaligus mimpi besar kemerdekaan. Jaringan pesantren terkoneksi dengan semangat perjuangan dan nilai sufisme, yang kemudian menginspirasi perjuangan kemerdekaan satu abad setelahnya.

Kita bisa mencatat gerakan-gerakan sufi yang termaktub dalam sejarah, sebagai gerakan keislaman-kebangsaan yang saling berjejaring, terkoneksi dalam ide dan gagasan, sekaligus punya tujuan yang sama untuk masa depan Indonesia. Meski kenyataan merdeka masih jauh dari proses, tapi para kiai sufi tidak berhenti menabur semangat, menanam nilai-nilai, dan menyiram semangat untuk menjadi bangsa yang terlepas dari penjajahan asing. Keteguhan niat, kekuatan tekad dan fokus pada tujuan yang dilambari oleh kepercayaan kuat kepada Allah merupakan kunci gerakan dari kaum sufi menjemput kemerdekaan.

Lalu, bagaimana sufisme pada masa sekarang, di zaman inovasi teknologi, big data dan machine learning dengan lompatan kecerdasan buatan?

Saat ini, kita bisa melihat bagaimana tantangan-tantangan zaman yang tidak kalah besar. Problem radikalisme beragama, pelintiran kebencian, hingga berbagai masalah kemanusiaan yang menyeruak di sekitar pandemi, menjadi tantangan bersama.

Kami, bersama-sama santri-santri yang tergabung di Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (MATAN) berusaha merumuskan gerakan bersama untuk menjadikan sufisme membumi di kalangan anak muda: generasi milenial dan lapisan-lapisan generasi setelahnya. MATAN bergerak atas perintah dan dawuh para guru kami, terutama Maulana Habib Luthfi bin Yahya, sebagai mursyid kami secara dhahir dan batin.

MATAN menjadi ruang sekaligus oase bagi generasi muda, santri-mahasiswa, untuk mendorong gerakan-gerakan kemaslahatan berbasis kampus. Selain itu, juga bersama-sama dan berkolaborasi dengan beragam organisasi pemuda, ormas, dan komunitas muslim di berbagai kawasan untuk menggerakkan tradisi: agar nilai-nilai sufisme menjadi inspirasi. Sebagaimana dawuh para guru, kami berkhidmah di berbagai ruang dan profesi untuk berjuang dengan cara masing-masing memberi dampak kemaslahatan.

Di usia 9 tahun MATAN saat ini, ada tiga hal mendasar yang menjadi refleksi bersama.

Pertama, menumbuhkan solidaritas di tengah pandemi. Saat ini kita berada di tengah situasi yang tidak mudah bagi semua pihak. Pandemi telah merontokkan tatanan dunia, dengan segala konsekuensinya. Konstelasi politik, tatanan ekonomi, hingga ekosistem pendidikan berubah secara drastis. Dunia pendidikan di seluruh dunia juga terdampak, dengan lebih 60 negara di dunia menghentikan sistem pembelajaran tatap muka. Lompatan penggunakan teknologi di dunia pendidikan membantu menumbuhkan semangat pembelajaran, mendukung agar nyala api belajar tidak padam.

Para kiai mengajarkan kita untuk adaptif terhadap pandemi, meski sangat tidak mudah. Sebagian pesantren telah beradaptasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Majelis dizkir dan shalawat ditunda sementara dan diatur dengan protokol kesehatan agar semua aman. Meski majelis dzikir dan shalawat bergeser formatnya, tapi nilai-nilai keberkahan tetap meresap dan menjadi semangat para santri.

Nah, menumbuhkan solidaritas bersama ini hal yang krusial. Para kiai sufi sekaligus juga pengikutnya turut memainkan peran sentral, sebagai penghubung kohesi sosial dan solidaritas. Dalam konteks ini, para kader MATAN menjadi jembatan aksi untuk menguatkan solidaritas di tengah pandemi.

Kedua, pentingnya agama sebagai inspirasi dan sumber berbagi kemaslahatan. Saya setuju dengan pernyataan Menteri Agama Gus Yaqut C Qoumas bahwa agama seharusnya menjadi satu inspirasi. Ini sejalan dengan petuah Maulana Habib Luthfi bin Yahya untuk terus menjadikan Islam sebagai agama yang memancarkan kasih sayang, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW. Petuah, ajaran, dan tindakan Maulana Habib Luthfi mencerminkan Islam sebagai agama rahmah, bukah agama penuh amarah.

Tren interaksi digital membawa dampak meningkatnya kebencian di berbagai ruang, baik ruang interaksi maupun media sosial. Kebencian-kebencian ini berbahaya untuk masa depan perdamaian dan kohesi sosial. Maka, perlu terus menjaga semangat dengan beragama sebagai inspirasi, agama yang menebar kemaslahatan.

Ketiga, tantangan di tengah era big data dan machine learning. Inovasi digital yang sangat massif juga menantang kita, terutama dalam menentukan referensi yang tepat. Otoritas di ruang digital dipertarungkan, dengan menggunakan algoritma spesifik dan ketepatan optimasi data.

Nah, generasi muda yang berpegang pada nilai-nilai sufisme bisa mengalirkan inspirasi di media sosial. Ini penting agar referensi beragama dan otoritas digital menjadi seimbang dengan pilihan yang beragam. Menginjeksi nilai-nilai sufisme dalam konten-konten digital berarti menanam cinta di tengah belantara. Nilai-nilai itu, beragama dengan cinta, akhirnya akan mekar di tengah belantara digital dengan meminggirkan kebencian, hate speech dan pelintiran kebohongan.

Sembilan tahun MATAN, mari tetap berkhidmah di garis perjuangan. Mari tetap berpegang pada dawuh para Habaib dan kiai. Mari bersama-sama menjaga Indonesia dengan Islam cinta, semoga Allah meridhoi segala ikhtiar kita.

*M. Hasan Chabibie, Plt. Ketua Umum Pimpinan Pusat Mahasiswa Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an-Nahdliyyah

Continue Reading

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending