Kontribusi Ulama Sufi dalam Perjuangan Kemerdekaan Umat Islam

Sufisme, dari sejak kemunculannya sampai dengan hari ini, masih dan akan tetap menjadi fenomena dan diskursus yang menarik perhatian para ahli di bidang sosial-keagamaan.

November 3, 2023 - 04:23
November 3, 2023 - 04:22
 0
Kontribusi Ulama Sufi dalam Perjuangan Kemerdekaan Umat Islam

Sufisme, dari sejak kemunculannya sampai dengan hari ini, masih dan akan tetap menjadi fenomena dan diskursus yang menarik perhatian para ahli di bidang sosial-keagamaan. Terutama terkait dengan eksistensi dan perannya di dalam kehidupan masyarakat Muslim kontemporer. Sufisme, dalam sejarah perjalanannya bukanlah sesuatu yang bersifat statis. Sufisme terus mengalami perkembangan seiring dengan dinamika perubahan kehidupan masyarakat. Mulai dari definisi atau makna sufisme, praktik dan aliran-aliran yang berkembang di dalam sufisme, model keanggotaan sufisme, hingga perannya dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim pun terus mengalami perkembangan yang kompleks dan dinamis.

Dalam sejarah, sufisme tidak hanya berkontribusi dalam pembinaan keagamaan, partisipasi sosial dan kenegaraan, tetapi juga berandil besar terhadap penyebaran Islam ke berbagai penjuru dunia. Ulama Sufi meminkan peranan penting dalam memberikan perlawanan terhadap era kolonialisme dan Imperialisme Barat. kontribusi ulama sufi melalui gerakan tarekat, memainkan peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan dari kolonialisme dan Imperialisme. Sepanjang abad ke-19 dan 20, berbagai tarekat memainkan peran penting dalam memengaruhi respons kaum Muslim, baik terhadap Barat atau situasi internal kaum Muslim. Kenyataan itu paling terlihat jelas di Afrika. Salah satunya, gerakan jihad melawan kedatangan dan ekspansi kolonial Prancis yang dipimpin oleh Amir Abd al-Qadir dari Aljazair. Gerakan ini didukung penuh oleh Tarekat Mukhtariah, cabang dari Tarekat Qadiriah. 

Bermula pada 1830, ketika Prancis menyerbu Aljazair, Abd al-Qadir memimpin perlawanan selama 13 tahun. Ia tertangkap pada 1847 kemudian dibebaskan diasingkan ke Syria, namun para pengikutnya terus mengadakan perlawanan hingga 1904. Perlawanan juga dilakukan Haji Umar al-Fouti dari Tarekat Tijaniyah selama 1855-1864. Gerakan ini meliputi wilayah Guinea, Senegal, dan Mali, melawan penguasa non-Muslim Afrika dan Prancis.

Masih di Afrika, gerakan dilancarkan Syekh Muhammad Abdullah Hasan, yang oleh kolonialis disebut Mad Mullah karena kegilaannya melawan kolonialisme Inggris dan Italia di Somalia selama lebih dari dua dekade (1899-1920). Gerakan ini disokong penuh oleh Tarekat Sahiliyah. Perlawanan itu tidak hanya melibatkan Inggris, tapi juga Etiopia dan Italia setelah Inggris angkat kaki dari Somalia pada 1905. Tarekat Sanusiyah di Libya. Tarekat Sanusiyah didirikan di Makkah pada 1837 oleh Sidi Muhammad bin Ali as-Sanusi, kemudian menyebar ke Libya dan sekitarnya. Tarekat Sanusiyah di Libya berkembang menjadi alat pemersatu masyarakat. Van Bruinessen menuturkan, orang Badui di Libya terdiri atas sejumlah suku yang saling bertikai. Karena itu, Syekh Muhammad as-Sanusi biasanya mendirikan zawiyah di perbatasan antara wilayah dua atau tiga suku supaya pengikutnya tidak terdiri dari satu suku saja.

Pada awal abad ke-20, tarekat ini memiliki ratusan zawiyah di kawasan Gurun Sahara sampai Timbuktu. Kedudukan tarekat Sanusiyah tidak terusik sampai kedatangan Prancis dan Italia ke Libya pada 1911. Menjalin afiliasi dengan Turki Utsmani, perlawanan pun dilancarkan terhadap pasukan kolonial. Guru-guru tarekat mempersatukan dan mengoordinasikan semua suku Badui. Negara Libya modern merupakan hasil perjuangan tarekat Sanusiyah. Pergolakan politik usai Perang Dunia II menempatkan Sayid Muhammad Idris sebagai penguasa Libya.

Perlawanan juga terjadi di kawasan Asia Tengah dan Kaukasus. Amjad Jaimoukha dalam The Chechens: A Handbook mencatat, tarekat yang paling berkembang di Kaukasus Utara adalah Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Sementara, pengikut Naqsyabandiyah terkonsentrasi di timur Chechnya, Qadiriyah mendominasi di bagian barat Chechnya dan Ingushetia.

Tarekat Naqsyabandiyah menjadi kekuatan utama di balik perlawanan Muslim pada paruh pertama abad ke-19. Di bawah pimpinan Syekh Mansyur Usyurma, gerakan jihad melawan ekspansi Rusia dilakukan oleh para pengikut tarekat ini antara 1782-1791. Ia mendapat dukungan luas di Daghestan Utara dan Chechnya. Kaum tarekat berhasil mematahkan gerakan pasukan Rusia di Sungai Sunzha pada 1785.

Tertangkapnya Syekh Usyurma tak membuat perlawanan ini lemah. Pada 1820-an, kaum tarekat kembali melancarkan perlawanan di bawah pimpinan Syekh Muhammad Effendi, ulama asal Turki Utsmani. Gerakan ini bertahan hingga 1860. Tarekat Qadiriyah di wilayah ini juga melancarkan pemberontakan yang kemudian dikenal dengan 'Revolusi Daghestan dan Chechnya' pada 1877-1878. Hingga awal abad ke-20, kedua tarekat ini berulang kali mengadakan perlawanan.

Khawatir dengan gerakan kedua tarekat ini, Rusia sampai mengeluarkan pelarangan terhadap Tarekat Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Tapi, itu tidak banyak berarti karena para pengikut tarekat tetap menjalankan aktivitas di bawah tanah. Selain perjuangan kemerdekaan, sufisme juga mengembangkan budaya literasi di Kaukasus Utara.

Perlawanan kaum tarekat melawan Rusia juga terjadi di Azerbaijan, Turkmenistan, dan Kirghistan. Sejak 1918, di wilayah ini muncul gerakan Basmachi Naksyabandi. Gerakan ini berhasil ditumpas Tentara Merah Rusia pada 1928, tetapi penumpasan itu malah mendorong politisasi lebih kuat di kelompok tarekat. Gerakan serupa muncul di kawasan Asia Tengah lain, khususnya yang berada di bawah kekuasaan Cina. Pada 1817, kaum Tarekat Naqsyabandiyah di wilayah Xinjiang melancarkan perlawanan terhadap kekuasaan Dinasti Qing. Kemudian, di daerah Shanxi dan Gansu pada 1862.

Gerakan Sufi dalam menentang penjajahan di Nusantara melalui gerakan tarekat terus mendapatkan momentum sepanjanjang abad ke 16 sampai -19. Dimulai perjuangan Syekh Syamsuddin Asy-Syumatrani dari tarekat Qadiriyah, muft kerajaan Aceh Darussalam, pada era Sultan Islandar Muda, sebagao pejuang awal melawam kolonialisme Portugis di Semenanjung Malayah [tepatnya di Malaka]. Peran tarekat dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan juga tampak menonjol dalam Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa, Dalam pertempuran itu, Pangeran Diponegoro disokong para kiai, haji dan kalangan pesantren melawan kolonial Belanda. Peran tarekat yang tak kalah pentingnya dalam perlawanan penjajah Belanda juga dilakukan Tarekat Sammaniyah di Palembang dibawah komando Syekh Abdussamad al-Palembani Perang Menteng. Perjuangan para tokoh dan pengikut tarekat itu berhasil mengalahkan gempuran pertama pasukan Belanda pada 1819. Satu abad sebelum Tarekat Sammaniyah yang dipimpin Syekh Abdussamad melakukan gerakan perlawanan terhadap Belanda, tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Makassar yang bergelar 'al-Taj al-Khalwati' telah melakukan hal yang sama. Di Banten, Syekh Yusuf dengan memimpin 5.000 pasukan dan 1.000 di antaranya berasal dari Makassar telah mengobarkan perang terhadap 'kolonial kafir'. Bahkan, ketika di buang ke Srilanka pun, Syekh Yusuf terus mengobarkan semangat perlawanan lewat karya-karyanya kepada para Sultan dan pengikutnya di Gowa dan Banten. Sebagai seorang sufi, Syekh Yusuf pun telah ikut terjun ke dunia politik saat itu, dengan menjadi penasehat Sultan Ageng Tirtayasa.

Perjuangan Ulama Sufi di Nusantara terus berkiprah pada abad 19 yang diwakili oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nadhatul Ulama (NU) Peran KH Hasyim Asy’ari untuk kemerdekaan tanah air yang pertama yaitu mengeluarkan fatwa jihad.

di Aceh turut memberikan kontribusi perjuangan pada pasca kemerdekaan melalui pembangunan dan pembinaan pesantren dan mencetak kader-kader ulama pesantren yang beriktikad Ahlussunnah wal Jama'ah, dalam fiqih mengikuti imam 4 madzah [mayoritas Indonesia Syafi’i], dan tasawuf mengikuti Imam Al-Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali. Perjuangan Abuya Muda Waly pasca kemerdekaan adalah membentengi akidah, dari masuknya faham-faham pemikiran salafi yang bersifat fundmental.

Demikian lah Kontribusi perjuangan ulama sufi, tarekat dalam arti tidak hanya sebagai lembaga tarbiyah ruhani (pendidikan spiritual) dan metode tazkiyatun nufus, melainkan peran tarekat sufi memiliki kekuatan politik dalam membela jati diri umat Islam dari imprealisme Barat.

Penulis Merupakan Dosen di STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh Aceh Barat