Wukuf; Arena Persaudaraan Umat Manusia

“Sungguh, orang-orang yang beriman kepada Tuhan adalah bersaudara,” (Al Hujurat ayat 10).

Bila waktu yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu tanggal 8 dan 9 Dzhulhijjah, para jama’ah haji mulai bergerak bersama dan serentak, berbondong-bondong bagai gelombang lautan meninggalkan kota Makkah menuju ke suatu tanah tandus, maha luas, bernama Arafah. Di sinilah puncak ritual kolosal ini berlangsung. ‘Al Hajj Arafah’ kata nabi besar Muhammad saw. Sebagian ada yang ke Mina dulu, menginap lalu pagi-pagi berangkat ke Arafah.

Ketika Nabi dulu berhaji, beliau datang ke tempat ini dengan untanya, sesudah sebelumnya bermalam di Mina (08 Dzulhijjah). Tetapi hari ini banyak cara bisa dilakukan orang; jalan kaki, naik Elf, bus pertengahan atau bus besar, bahkan konon, kelak rangkaian kereta listrik (trem) bakal mengantar para tamu Allah itu ke Mina, begitu matahari tanggal 09 Dzulhijjah, tenggelam. Di sini jutaan tangan di bawah tenda, di atas tanah terhampar atau di puncak bukit, ditadahkan  ke langit biru, mengharap ampunan dan Rahmat Tuhan.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Allah menunjukkan kebanggaan di hadapn para Malaikat di Langit, terhadap orang-orang yang ada di Arafat. Dia mengatakan : “Lihatlah hamba-hamba-Ku itu. Mereka datang kepada-Ku dengan penampilan lusuh dan rambut berdebu”. (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits :

“Tidak ada hari di mana Allah paling banyak memberikan jaminan bebas dari api neraka kepada hamba-hamba-Nya selain pada hari Arafah. Dia mendekat dan memperlihatkan Diri, lalu mengatakan dengan bangga : “Apakah yang mereka minta dari-Ku?” .
Razin, seorang perawi lain atas hadits ini menambahkan: “Hai Malaikat-Ku, saksikanlah. Aku mengampuni dosa-dosa mereka”.

Oleh: KH. Husein Muhammad

Komentar
Loading...