Wawancara dengan Mudir Aam JATMAN: Hakikat Dakwah bil Video? 3/3

Usai mengisi Kajian Tasawuf, KH. Wahfiudin Sakam (Mudir Aam JATMAN) diwawancarai oleh Ahmad Syaid Kokalo (Ketua Ikatan Keluarga Alumni Arafah). Wawancara dilakukan di sela safari dakwah di Sulawesi Utara. Berikut petikan wawancaranya:

T: Pak Kiai, saya kan sebagai santri di pondok pesantren Arafah Bitung yang minoritas di sini. Saat ini santri berbondong-bondong berdakwah salah satunya melalui media You Tube, dakwah bil vidio. Bagaimana tanggapan pak kiai?

J: Dulu kan surat menyurat, kemudian diganti dengan e-mail, diganti dengan medsos, itu semua hanya alat, hanya alat.

Pada dasarnya dakwah itu qalbu yang bersih menyerap hidayah dari Allah, dia akan memancarkan ulang.

Soal bagaimana dia memancarkan ulang melalui tulisan, melalui medsos, itu tergantung kebersihan qalbu. Kalau qalbunya kotor seperti cermin yang buram, cahaya masuk dia gak mampu, gak kuat memantulkannya. Tapi kalau qalbu yang bersih, sedikit pun ilmu, itu akan terpantulkan kembali.

Jadi, bicara soal dakwah jangan lepas dari dzikir. Bagaimana kita mau berdakwah mengajak orang mendekat kepada Allah, kalau kita sendiri tidak lebih dekat lebih dulu. Jadi kalau kita mau mengajak orang mendekat ke Allah, kita dulu harus lebih dekat ke Allah.

Kalau kita mau kuatkan iman orang lain, kita sendiri harus lebih kuat iman kepada Allah.  Nah, baru bisa kita seperti lokomotif yang menarik gerbong-gerbong. Jadi tidak usah khawatir.

Yang minoritas itu kan tidak hanya umat Islam Sulawesi Utara, umat Islam di India juga minoritas, umat Islam di Eropa, Amerika mereka juga minoritas, umat Islam di Rusia minoritas, umat Islam di China, Korea Utara yang masih komunis minoritas, tapi mereka terus berkembang. Karena api iman itu, sesungguhnya milik Allah. Nur, cahaya iman itu milik Allah. Kemana Allah mau turunkan, kembangkan, ya jadi.

Kita ini hanya mir’atullah, cermin, refleksi saja. Karena itu, bersihkan saja cermin kita, sehingga nur datang, pantulannya pun kuat, refleksinya kuat.

Kalau cermin, mir’ahnya itu burem. Masuk cahaya, teredam di situ. Jadi kalau terus dibersihkan. Tok-juss, tok-juss begitu. Mau minoritas ataupun bukan minoritas gak jadi masalah. Sebab bicara minoritas, di Jakarta dengan segala sumber kemaksiatan dan kejahatan. Bisa jadi dai di Jakarta muslimnya minoritas.

T: Mungkin terakhir pesan-pesan Pak Kyai untuk anak-anak muda di luar sana yang nonton video ini, biar mereka terus menjadi anak muda yang bisa terus keep on the track, bisa membawa Islam ini, bisa istiqamah mengamalkan Islam, kemudian bisa berdakwah?

J: Saya sering bercerita, guru mengajar, menyampaikan pelajaran, seratus persen pelajaran disampaikan, ternyata para pelajar ada yang paham tiga puluh persen, ada yang paham empat puluh persen, ada yang lima puluh persen, tahu-tahu ada pelajar yang paham seratus lima puluh persen. Bagaimana mungkin murid, bisa memahami lebih daripada pemahaman guru yang mengajarkannya, kok bisa? Bisa, karena ilmu sumbernya bukan di guru, ilmu sumbernya bukan di kitab, ilmu itu sumbernya dari Allah. Karena itu Allah disebut Al-Alim. Meguasai segala macam Ilmu untuk anak-anak muda, pelajar-pelajar, siswa-siswa yang rajin menjaga kebersihan diri, Allah berikan ilmu.

Maka doa kita Ya Tuhan tambahkan untukku ilmu, limpahkan kepadaku pemahaman. Guru boleh saja dia kurang menguasai pelajaran, guru boleh saja tidak begitu baik cara mengajarkannya, tapi kalau anak-anak muda banyak memohon kepada Allah, maka Allah tambahkan ilmu, Allah berikan pemahaman, meskipun gurunya nggak seberapa paham. Nah, jadi intinya anak-anak muda itu tidak perlu khawatir, selalu saja sambungkan diri ke Allah, selalu sambungkan diri ke Allah. Sumber ilmu Allah, sumber kepahaman Allah, sumber rezeki Allah, sumber kekuatan Allah, sumber inspirasi hidayah Allah, Allah semua. Manusia yang lain itu hanya perantara saja. Jadi menjadi anak muda itu, jadilah anak muda yang Rijallullah. Bukan sekedar pesta pora menikmati.

Dikutip dari petikan wawancara Ahmad Syaid Kokalo (Ketua Ikatan Keluarga Alumni Arafah) dengan KH. Wahifiudin Sakam, S.E, MBA (Mudir Aam JATMAN) usai mengisi kajian di Masjid Agung Kiai Modjo kampung Jawa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.

Komentar
Loading...