Wawancara dengan Mudir Aam JATMAN: Apa itu Tarekat? 1/3

Usai mengisi Kajian Tasawuf, KH. Wahfiudin Sakam (Mudir Aam JATMAN) diwawancarai oleh Ahmad Syaid Kokalo (Ketua Ikatan Keluarga Alumni Arafah). Wawancara berlangsung di Masjid Agung Kiyai Modjo kampung Jawa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Berikut petikan wawancaranya:

T: Alhamdulillah kita sudah bersama KH. Wahfiudin Sakam. Sekarang kita akan bertanya sedikit kepada beliau.

J: Silahkan

T: Tadi kan dijelaskan tentang masalah Thariqah, mungkin Pak Kiai bisa menjelaskan sedikit, meluruskan, mungkin ada masyarakat yang belum paham dengan Thariqah?

J: Tarekat atau thariqah itu artinya metode. Metode untuk apa? Membersihkan diri, membersihkan qalbu, dan menyambungkan qalbu kepada Allah. Itu adalah wujud atau manifestasi daripada ihsan.

Kita tahu, ketika Jibril datang mengajarkan agama kepada Rasulullah saw yang Jibril ajarkan adalah Islam, Iman, Ihsan.

Islam yang lima itu syahadatain, shalat, zakat, puasa haji. Iman yang enam itu, kita kenal dengan rukun iman.

Dan Ihsan adalah,

ان تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

Engkau dalam beribadah, seakan-akan sedang melihat Allah. Kalaupun engkau tidak melihat Allah, engkau merasakan sedang dilihat oleh Allah.

Pertanyaannya adalah dengan apa orang melihat Allah?

Apakah dengan mata visual ini? Tidak,

لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَـٰرُ وَهُوَ یُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَـٰرَۖ وَهُوَ ٱللَّطِیفُ ٱلۡخَبِیرُ

(QS. Al-An’am: 103).

Allah itu tidak dapat dijamah,

لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَـٰرُ

tidak bisa dijamah dengan penglihatan mata, justru Allah yang bisa melihat penglihatan mata.

Jadi melihat-Nya bukan dengan mata kepala, mata visual tetapi penglihatan dengan qalbu, hati nurani.

Persoalannya, qalbu yang bagaimana yang bisa melihat? Atau setidak-tidaknya merasakan sedang dilihat oleh Allah?

Qalbu yang bersih. Maka perlu proses Tazkiyah. Nah bagaimana tazkiyah pembersihan qalbu? Ada metodenya, itulah thariqahnya, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah, para sahabat dan para sahabat mengajarkan lagi kepada tabiin, tabi’ut-tabi’in dengan beberapa variasi. Nah sampailah kepada kita, lewat berbagai macam silsilah.

Jadi sebenarnya, ajaran tarekat itu bukan sesuatu yang aneh, lagi pula itu sesuatu yang diamalkan oleh ulama kita sejak masa lalu sampai sekarang.

Memang ada masa-masa tertentu, tarekat itu karena dihantam oleh penjajah Belanda, dia harus menyingkir ke pinggir masuk ke dalam hutan, ke gunung, lalu mengalami distorsi, mengalami penyimpangan. Sehingga banyak orang mengaku tarekat tapi ujung-ujungnya perdukunan. Ngaku tarekat ujung-ujungnya zindik dan klenik. Bagaimana sakti-saktian.

Tapi sekarang, para ulama sudah kembali lagi, kitab-kitab yang dulu-dulu tersimpan di tempat tersembunyi, kitab-kitab tarekat sekarang dibahas kembali, diluruskan kembali.

Jadi, sebagaimana Islam, Iman, Ihsan itu satu kesatuan, maka Fiqih (Mazhab), kemudian Firqah dan Thariqah itupun satu kesatuan.

Dikutip dari petikan wawancara Ahmad Syaid Kokalo (Ketua Ikatan Keluarga Alumni Arafah) dengan KH. Wahifiudin Sakam, S.E, MBA (Mudir Aam JATMAN) usai mengisi kajian di Masjid Agung Kiai Modjo kampung Jawa Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.

Komentar
Loading...