Wawancara Bersama KH. Wahfiudin Sakam (Mudir Am JATMAN): Fokus dan Kelemahan JATMAN (Bag. 5)

0

Wawancara oleh Didik Suyuthi dari majalah Nahdlatul Ulama Aula yang terbit untuk edisi Februari 2019, berikut ini petikannya.

Organisasi JATMAN sudah berdiri lama. Bagaimana kiprah ke depannya Kiai?

Alhamdulillah sejak tahun 2000-an sejak dipimpin oleh Maulana Habib Luthfi, tarekat mengalami sebuah proses sosialisasi yang sangat meluas. Dan sekarang kelompok-kelompok tarekat di Indonesia lebih bisa menampakkan dirnya. Tidak lagi dianggap aliran sesat karena sudah jelas kitab-kitabnya sebagai pedoman amaliyah mereka.

Secara umum perkembangan tarekat di dunia, di Afrika, di Eropa, ini baru tahap awal kebangkitan kembali kelompok tarekat untuk lebih mudah diterima secara sosial oleh peradaban baru, oleh kelompok-kelompok intelektual muslim. Meskipun memang sekarang ini komunitas tarekat di seluruh dunia belum menjadi sesuatu yang pokok sekali untuk terlibat memberi warna dalam kehidupan politik di negeri masing-masing.

Sebagai Mudir Am, apa saja kiat-kiat Kiai untuk meluaskan jangkauan dakwah tarekat-tarekat di lingkungan JATMAN?

Terus terang saya di JATMAN ini kan new comer, orang baru. Keterlibatan diamanahkan untuk menjadi Mudir JATMAN Jakarta baru ketika Mudir yang lama terhalang untuk menjalankan tugas. Jadi saya PAW lah, Pergantian Antar Waktu.

Dan dua tahun kemudian awal 2018 dalam Muktamar di Pekalongan saya diamanahkan sebagai Mudir Am. Sesuatu yang sangat mengejutkan bagi saya. Saat itu terus terang saya menolak. Karena saya sebagai orang baru dan belum paham betul dengan kultur JATMAN. Tetapi Kiai Zaini Mawardi yang ditugaskan oleh Habib Luthfi untuk berkomunikasi dengan saya mengatakan; Pak Kiai Wahfiudin mau tidak memberi khidmat pelayanan kepada masyayikh tarekat seperti Imam Tijani, Syaikh Abdul Qadir, Syaikh Naqsyabandi, dan segala macem, ya iyalah. Mereka tokoh-tokoh besar tentu saya sangat ingin berkhidmat melayani mereka.

“Kalau begitu terima lah posisi sebagai Mudir JATMAN ini dengan niat melayani untuk membangkitkan, menggairahkan kembali kehidupan bertarekat”, pinta Kiai Mawardi. Dalam posisi seperti itu ya saya menerima lah.

Jadi kalau kemudian saya melakukan perjalanan ke berbagai negara sebagai Mudir Am JATMAN itu sebenarnya baru setahun terakhir kemarin, 2018. Sebelum-sebelumnya perjalanan saya lebih didorong karena saya sebagai pengamal dan murid atau juga salah satu Wakil Talqin dalam Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah Suryalaya. Nah kemudian tentu saja sejak saya jadi Mudir Am JATMAN ke berbagai negara saya membuat relasi-relasi sebagai Mudir Am JATMAN. Untuk mempertemukan ulama-ulama tarekat Indonesia ke dunia luar.

Saya menjalin hubungan baik dengan PERTAMA. PERTAMA itu Pertumbuhan Tarekat Mu’tabarah Malaysia. Semacam JATMAN-nya Indonesia lah. Mereka sempat melakukan beberapa kali pertemuan masyayikh tarekat dalam momen-momen pertemuan yang sangat ilmiah. Jadi sekarang saya jadi representatif JATMAN.

Kami berbagi tugas dengan Habib Luthfi. Beliau sebagai tokoh ulama, tokoh Habaib yang senior, yang banyak memiliki relasi kuat dengan pejabat-pejabat pemerintahan. Saya lebih banyak sebagai Mudir Am itu melakukan hal-hal yang sifatnya lebih teknis.

Lalu apa fokus pekerjaan teknis yang menurut Kiai penting?

Saya masuk ke JATMAN ini melihat ada tiga yang harus menjadi fokus kerja saya. Pertama adalah kaderisasi. Yang kedua adalah penerapan teknologi digital. Dan ketiga adalah revitalisasi organisasi.

Karena kelemahan ormas-ormas Islam, saya punya banyak pengalaman di berbagai ormas Islam, adalah kaderisasi. Apalagi kita tengah mengalami apa yang disebut bonus demografi. Dimana orang-orang yang berusia 45 tahun ke bawah itu sedang mengalami pertumbuhan jumlahnya yang sangat besar. Ada generasi X, ada generasi milenial, generasi yang penuh gonjang-ganjing peradaban.

Mereka mencari spiritualitas, dan JATMAN pun harus melirik mereka sebagai kader. Jadi bagaimana mengembangkan materi-materi pelatihan, materi-materi dakwah yang cocok bagi generasi milenial ini. Kalau mereka tidak terangkul mereka akan jauh. Yang jelas JATMAN sendiri, akan fokus kaderisasi.

Ketika saya pergi ke beberapa provinsi mengurus, mengunjungi pengurus-pengurus Idarah Wustha atau Syu’biyah, mengunjungi pesantren-pesantren, kami menekankan itu dan lebih banyak menyelenggarakan pelatihan-pelatihan. Sampai saya membentuk apa yang disebut DIN, Dai Instruktur Nasional, ini dai-dai yang kita persiapkan yang punya kualifikasi instruktur.

Sebelumnya mereka berangkat dari TIDIM. Singkatan dari Tim Inti Dai Internasional dan Media. Saya cari kader-kader muda NU, yang menguasai kitab-kitab daras, bisa berbahasa Inggris dan bahasa Arab. Kita latihkan kemampuan-kemampuan teknis. Kaderisasi penting.

Yang kedua, dengan proses pertumbuhan penduduk yang sekarang ini begitu cepat, dan berkembangnya komunikasi digital, ini akan menyangkut aspek komunikasi, aspek pembelajaran, aspek ekonomi. Komunitas tarekat ini harus diperkenalkan kepada teknologi digital. Selain untuk kepentingan komunikasi organisasinya, juga untuk memepercepat proses pembelajaran.

Saya dilibatkan kemarin sebagai salah satu pembicara dalam ISODEL. Kami dalam International Symposium Open and Distance Learning yang bersifat terbuka  dan jarak jauh ini menegaskan pentingnya teknologi digital untuk pembelajaran, untuk pendidikan dan dakwah. Juga ekonominya akan banyak berkembang berbasis teknologi digital. Jadi komunitas JATMAN ini harus dilatihkan kaum mudanya, supaya kita tidak mengalami ketertinggalan.

Yang ketiga adalah revitalisasi organisasi. Dalam rangka revitalisasi organisasi ini, selain di daerah-daerah yang sifatnya domestik mau tidak mau saya harus menjumpai komunitas tarekat di berbagai negara untuk menjalin hubungan global. Zaman sekarang ini kita tidak bisa lagi hidup dalam batas-batas nasional yang sifatnya domestik. Terutama dengan teman-teman yang ada di Asia Tenggara ini.

Bagaimana tarekat bisa menyentuh kelompok milenial?

Bagi saya pribadi ini bukan hal yang baru. Karena keterlibatan saya berdakwah di kalangan milenial itu sudah memiliki sejarah yang panjang. Sehingga gerakan tarekat di Jakarta misalnya, bisa kita lihat di berbagai masjid dan zawiyah yang ada. 70 persen itu kaum muda lho. Teman-teman Tarekat Idrisiyah atau dari Zawiyah Arraudhah, atau yang dipimpin Syaikh Yunus yang di Jakarta Timur itu mereka sangat adaptif.

Maka dikembangkanlah pola-pola pembahasan ketarekatan yang dikemas dengan bahasa kaum muda. Jadi pengemasannya saja. Karena kaum muda itu intelektualnya lebih kuat. Maka dalam penyampaian pesan-pesan tarekat itu dua yang ditekankan, harus jelas nalar logikanya, dan juga jelas dalilnya.

Bagaimanapun tumbuh kembangnya gerakan wahabi ini memebangun kesadaran pada umat islam dalam mempraktikkan ajaran-ajaran agama, suapay tidak terjebak pada bid’ah, harus jelas dasar dalil-dalil Al Qur’an dan Hadisnya. Kan begitu tantangan kita. Yang sebenarnya dalam kitab-kitab klasik rujukan dalil-dalil itu sudah ada tinggal kita angkat lagi.

Tantangannya adalah karena tahun-tahun ini adalah tahun-tahun politik, mudah sekali umat ini terseret pada unsur-unsur politik. Dengan teknologi infokom sekarang ini, informasi menjadi datar. Jangan kiai ngomong A semua ikut A, tidak. Kiai ngomong A umat belum tentu. Karena umat ini memiliki sumber informasi dari sumber-sumber yang lain. Ditambah banyak ulama-ulama yang terlibat politik, sehingga dianggap tidak murni bahasa-bahasa keagamaan yang disampaikan.

Di TQN Center sekarang diadakan kursus tasawuf yang sudah angkatan 71. Kami tengah mulai rintis JOL juga. JATMAN Online. Boleh datang Sabtu pagi sampai sore, ada training. Ada kelompok muda profesional. Ini yang coba kita getok tularkan. (SELESAI)

Sumber: Majalah Aula

Comments
Loading...