Wali Quthub

Istilah yang sangat dikenal di dalam khazanah masyarakat Nahdliyin. Bahkan, istilah ini juga dikenal secara luas dalam tradisi tasawuf. Karena masyarakat Nahdliyin tidak hanya mendasarkan basisnya kepada fiqih, tetapi juga tasawuf, maka dengan sendirinya juga akrab dengan istilah wali quthub.

Istilah wali quthub terdiri dari dua kata, wali dan quthub. Kata wali merujuk pada pengertian orang yang sangat dicintai Allah dan dilindungi segala urusannya. Sebaliknya, ia mencintai Allah, beribadah, dan istiqamah, dalam keadaan senang atau susah. Sang wali tidak memiliki rasa takut, kecuali kepada Allah. Dalam sebuah hadits riwayat Aisyah disebutkan: “Barang siapa menyakiti wali-Ku, maka ia telah menghalalkan permusuhan-Ku….”

Di dalam hierarki para menempuh suluk, wali adalah maqam yang ditempati oleh seseorang karena anugerah dari Allah. Bila telah mencapai maqam wali, seseorang biasanya memiliki banyak keramatan, meskipun jarang sekali ditunjukkan kepada publik. Sedangkan kata quthub, berarti poros. Jadi, wali quthub adalah wali yang menjadi poros. Maksudnya, ia menjadi porosnya para wali.

Wali quthub ini adalah salah satu di antara kategori dan jenis kewalian. Ia adalah pemimpinnya para wali di alam semesta. Meski begitu, ada juga yang membedakan wali quthub dan qutbul ghauts. Wali quthub jumlahnya banyak, tetapi qutbul ghauts jumlahnya hanya satu. Dalam pengertian ini, wali quthub adalah quthub dalam setiap komunitas wali. Sedangkan qutbul ghauts adalah quthub-nya para quthub.

Jenis kewaliaan memiliki banyak kategori. Selain qutbul ghauts dan wali quthub, ada pula wali aimmah (wakil dari qutbul ghauts, jumlahnya ada dua); wali autad (wali penyangga, jumlahnya empat, berada di empat arah mata angin); wali abdal (wali pengganti, jumlahnya tujuh), wali nuqaba (wali yang menjadi ahli ilmu syariat, jumlahnya 12), wali hawariyyun (wali pembela agama dan kemanusiaan yang dibekali ilmu pengetahuan), wali nujaba’ (jumlahnya delapan), wali rajabiyun (jumlahnya 40 orang), khatamul wilayah (penyegelnya para wali di setiap masa, bertugas mengurusi wilayah umat Muhammad); wali maktum (disembunyikan dari pandangan publik), wali uwaisyiyin (dibimbing secara rohani oleh para guru secara barzakhi seperti Uwaisy al-Qarni); dan banyak kategori lainnya.

Posisi qutbul ghauts sangat dihormati di kalangan para wali. Ini terjadi karena sebagian para wali ada yang tahu posisi kewalian sesama mereka, dan karenanya tahu posisi qutbul ghauts pada zamannya. Sebagian wali hanya diberi batas tahu sesama kategori wali dalam satu jenis kewalian. Bahkan, sebagian hanya menjadi rahasia sang wali dengan Tuhan. Ada sebagian yang menyebut qutbul ghauts adalah Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Umar Ibn Abdul Aziz, Yusuf al-Hamadani, Abdul Qadir al-Jilani, Ahmad ar-Rifa’i, Abdus Salam bin Masyisy, Ahmad Badawi, Abu Hasan as-Syadzili, Muhyiddin Ibnu Arabi, Muhammad Bahauddin an-Naqsabandi, Ibrahim ad-Dasuqi, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain.

Posisi terhormat qutbul ghauts digambarkan di antaranya dengan perlambang ketika Abdul Qadir al-Jilani pernah berkata, “kakiku ada di atas seluruh wali”. Beberapa wali terkemuka di berbagai masa memang ada yang menyebutkan, “Meletakkan kepala mereka di bawah kaki Abdul Qadir al-Jilani”. Ini adalah perlambang kedudukan dan posisi terhormat qutbul ghauts di dalam hierarki kewalian.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Komentar
Loading...