Ulama Aswaja Mekah, Syekh ‘Alwi al-Maliki

Nama lengkapnya Alwi bin Abbas al-Maliki. Ayah dari Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki. Guru bagi kaum Aswaja di seluruh dunia. Salah satu guru dan tokoh Hijaz yang dikunjungi oleh kiai-kiai nadhliyin dan kaum aswaja. Ketokohannya di kalangan pengikut Aswaja sangat mengesankan. Bahkan, Syaikh Yasin al-Fadani (Wafat 1990 M) yang tersohor juga pernah berguru kepadanya. Ia dilahirkan di Bab as-Salam, Mekah, pada 1325 H (1907 M). ada juga yang menyebutkan ia lahir pada 1328 H.

Sejak kecil ‘Alwi al-Maliki telah dididik dalam lingkungan Aswaja, terutama dari keluarga bermadzhab Maliki di Mekah. Ia masuk madrasah Al-Qur’an yang dimiliki Sayyid Hasan al-Maliki, yang juga pamannya sendiri. Di Madrasah al-Falah yang juga berada di Mekah. Di samping itu, ia belajar kepada ulama, baik pada waktu ashar, maghrib, maupun isya’.

‘Alwi al-Maliki banyak mengambil ilmu dari para guru di Hijaz. Pertama-tama berguru kepada ayahnya, Sayyid Abbas al-Maliki. Setelah itu, ia berguru kepada Sayyid Marzuq (Abu Hasan), Syaikh Ahmad Nadhirin, Sayyid Muhammad Ali bin Husain al-Maliki, Sayyid Jamal al-Maliki, Syaikh Umar bin Hamdan al-Mahrasy, Syaikh Muhammad Habibullah asy-Syanqithi, Syaikh Isa Rawasy, Syaikh Abdus Syattar ad-Dahlawi, dan masih banyak lagi.

Di Madrasah al-Falah, ‘Alwi al-Maliki tamat dari al-qismu al-‘ali. Setelah itu ia menjadi seorang guru madzhab Maliki di Madrasah al-Falah (1347-1390 H), selain harus masih mengajar di Masjidil Haram. Pada 1347 H, tatkala umurnya menginjak 22 tahun, setiap hari ia sudah sering keluar dari Madrasah al-Falah ke Masjdil Haram untuk shalat zuhur, kemudian mengajar madzhab Maliki, dan terus pulang ke rumahnya (Hayy an-Nuqa).
Setelah shalat ashar, ‘Alwi duduk di rumahnya untuk mengajar balaghah dan mushthalah al-hadits. Setelah tiba shalat maghrib, ia ke Masjidil Haram untuk shalat maghrib, dilanjutkan dengan mengajar. Setelah maghrib itu, berturut-turut hari Sabtu, Ahad, dan Senin, ia mengajar dua kitab shahih, Bukhari, dan Muslim.

Setelah Isya pada hari Rabu dan Kamis, ‘Alwi dan mengajar kitab Bulugh al-Maram dan Tafsir Ibni Katsir. Ketika muslim haji tiba, jadwal mengajarnya berubah, yaitu mengajar tentang manasik haji. Pada bulan Ramadhan, di waktu ashar dia mengajar Ithaf Ahli al-Islam bi Hushushiyat Ramadhan. Ia melakukan kegiatan demikian sampai akhir hayatnya.

Di sampai mengajar, ‘Alwi juga menulis beberapa kitab, yaitu: Faidh al-Khair fi Ushul at-Tafsir, al-‘Iqdu al-Munazham fi Aqsam al-Wahyi, al-Manhal al-Lathif fi Bayan Ahkam al-Hadits adh-Dha’if, Fathub al-Qarib al-Mujib ‘ala Tahdzib at-Targhib, al-Mawa’izh ad-Diniyah, Ibanah al-Ahkam Syarah Bulugh al-Maram, Nail al-Maram Syarah ‘Umdat al-Ahkam, At-Ta’liq ‘ala Riyadh ash-Shalihin, Nafahat al-Islam min Mukhadarati al-Baladi al-Haram, Min Nafahat Ramadhan, Diwan asy-Syi’r, dan Fatawa (dua jilid).

Beberapa aktivitas ‘Alwi al-Maliki di luar sebagai pengajar di Masjidil Haram, imam, khatib, dan menulis, di antaranya: anggota Lajnah at-Tanfidziyah li al-Isyraf untuk perluasan Masjidil Haram (1380 H); anggota Tahdid Lajnah al-Haram; anggota Lajnah Isyraf wa al-Ikhtibar li al-Muthawwifin di Masjidil Haram; Wakil Kepala Jama’ah Tahfizh Al-Qur’an di Mekah; anggota Lajnah al-Ishlah Bain an-Nas; peserta Muktamar Islam ke-5 di Baghdad (1383 H); dan pengisi tetap mingguan tentang hadits di Shauti al-Islam di Arab Saudi.

‘Alwi bin Abbas al-Maliki meninggal pada 1390 H dan dimakamkan di Ma’lah, Mekah. Sepeninggalnya, anaknya yang bernama Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki menggantikan keluarganya. Sang anak menjadi salah satu guru kaum Aswaja dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Komentar
Loading...