Tips Habib Abdullah Agar Bisa Menjaga Kesucian

Salah satu kebiasaan Nabi dan orang-orang shalih ialah menjaga kesucian diri dengan dawam wudhu. Namun bukan hal yang mudah bagi yang belum terbiasa. Apalagi bagi mereka yang baru hendak mengikuti sunah nabi ini dan berusaha istiqamah.

Kebiasaan ini, menurut Imam Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad dalam kitab Risalatu Adabi Sulukil Murid memang seyogyanya dilakukan setiap murid atau pengamal tarekat. Jadi setiap kali hadas, dia berwudhu kemudian shalat dua rakaat.

Beliau menambahkan, jika murid tersebut sudah menikah, maka ketika selesai mendatangi istrinya atau sebaliknya, maka bersegeralah mandi junub saat itu juga. Jadi jangan sampai dia berdiam diri atau tertidur dalam keadaan junub.

Sedikit Makan

Ada hal yang bisa membantu agar murid bisa menjaga kesucian, salah satunya kata Imam Habib Abdullah adalah dengan sedikit makan. Karena mereka yang banyak makan, biasanya akan banyak hadasnya. Apabila banyak hadasnya tentu akan menyulitkan apabila hendak dawam dalam kesucian.

Dengan sedikit makan juga, lanjut Habib Abdullah, akan membantu seseorang bangun malam (terjaga).

Itulah sebabnya, seorang murid dalam pandangan Habib Abdullah, tidak makan kecuali sekedarnya demi memenuhi kebutuhan. Tidak tidur kecuali memang sudah tak tertahankan lagi. Tidak berbicara kecuali berdasarkan kebutuhan. Tidak bergaul atau berinteraksi kecuali dalam pergaulan yang berfaedah dan memberi manfaat.

Siapa yang banyak makannya, akan keras qalbunya dan jadi berat tubuh fisiknya melakukan ibadah. Banyak makan juga akan menyebabkan orang banyak tidur dan banyak berbicara (yang tak bermanfaat). Jika seornag murid itu banyak tidur dan bicara, maka keinginannya (iradahnya) tidak memiliki esensi dan substansi, demikian penjelasan beliau.

Foto: Rajesh TP.

Hal ini selaras dengan hadis Nabi Saw

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ “.

Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah anak Adam memakan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika hal itu sulit (mustahil), maka jadikanlah sepertiganya untuk makanan, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiganya untuk bernafas. (HR. Tirmidzi).

Allah memang menganugerahkan kepada setiap muslim hal hal yang halal untuk dinikmati. Namun, melarang untuk mengonsumsinya secara berlebihan.

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf: 31).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...