Connect with us

Artikel

Tingkatan-tingkatan dalam Ilmu Tasawuf

Published

on

Tasawuf dapat diartikan dua pengertian; pertama adalah tarekat dan kedua  adalah hakikat. Adapun kedua macam tasawuf ini wajib di bawah bimbingan  seorang syekh atau mursyid arif billah. Tasawuf dalam arti tarekat adalah takhalli yaitu membersihkan hati dari kotoran-kontoran nafsu dan tahalli yaitu menghiasi hati dengan segala sifat-sifat  terpuji.

Tasawuf tarekat mencakup tasawuf dalam bentuk amali seperti dalam proses takhalli dan tahalli seorang salik wajib melakukan zikir, wirid-wirid, memperbagus akhlak, adab dan ibadah yang ikhlas. Tasawuf ini banyak dijelaskan dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah,  Qutul Qulub, Ihya Ulumuddin, Awarif al-Ma’arif dan lain sebagainya.

Tasawuf dalam arti hakikat adalah tajalli yaitu tersingkapnya cahaya keghaiban di dalam hati seseorang sehingga nyata segala perbuatan, sifat dan Dzat Allah. Tasawuf hakikat mencakup rahasia-rahasia batin yang tidak mungkin ditakbirkan  dengan kalimat-kalimat tegas dan lugas. Kalimat tasawuf sarat dengan paradoks dan maudluiyah (makna tersirat).

Ujaran-ujaran tasawuf sangat pekat dengan isyarah-isyarah yang dapat dipahami oleh seseorang yang hatinya telah mendapatkan cahaya Ilahiyyah. Adapun puncak tasawuf hakikat adalah fana di dalam lautan Ahadiyah Allah dan baqa dengan Wahidiyah Allah.

Kajian tasawuf hakikat ini banyak dijelaskan di dalam kitab-kitab Syaikul al-Akbar Ibnu Arabi seperti kitab al-Futuhat al-Makkiyah, Fushush al-Hikam dan lain sebagainya ataupun kitab Syaikh Abdul Karim al-Jili seperti al-Insan al-Kamil dan lainnya.

Dalam pengamalan tasawuf terdapat istilah syariat, tarekat, dan hakikat atau disebut juga Islam, Iman dan Ihsan. Ketiganya adalah satu kesatuan sistem dalam agama (ad-Din) yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Syekh Sayyidi Muhammad bin Ahmad al-Ajibah al-Hasani dalam kitab al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarhi al-Mahabits al-Ashaliyyah menjelaskan:

فالشريعة هي : إصلاح الجوارح الظاهرة، وهي تدفح إلى الطريقة التي هي إصلاح السرائر الباطنة، وهي أيضاً تدفح إلى الحقيقة التي هي كشف الحجاب ومشاهدة الأحباب من داخل الحجاب، فالشريعة أن تعيده، والطريقة أن تقصده، والحقيقة أن تشهده

Syari’ah adalah memperbaiki organ-organ tubuh secara lahir dan syariah merupakan jalan menuju thariqah, yang mana thariqah merupakan perjalanan ruhani untuk memperbaiki batiniyyah, dan thariqah merupakan pengantar menuju hakikat yang dapat menyingkap tabir penghalang (kasyf hijab) dan musyahadah (menyaksikan) dengan kekasih. Pendek kata syariah adalah beribadah menghamba kepada-Nya, sedangkan thariqah adalah menjadikan Allah satu-satunya tujuan dan hakikat merupakan kemampuan menyaksikan Allah Swt. dengan mata hatinya.

Dalam pengamalan tasawuf terdapat beberapa level atau tingkatan-tingkatan seseorang yang masing-masing mempunyai kapasitas tersendiri. Maka dalam hal ini, Abuya Syekh H. Amran Waly al-Khalidi membagi tingkatan-tingkatan dalam ilmu tasawuf menjadi empat tingkatan, yaitu:

1. Ahlul Bidayah

Bagi mereka dituntut untuk memperbaiki nafsu dan melakukan amal sesuai dengan hukum, berakhlak yang bagus serta dapat bergaul yang baik, sesuai dengan kitab-kitab yang kita pelajari di pesantren, baik itu fiqih, tauhid kalam dan tasawuf akhlak.

2. Ahlul Suluk

Bagi mereka dapat bertujuan untuk menghadirkan hati di hadapan Allah, mengamalkan zikir-zikir yang diatur dalam tarekat yang mu’tabar dan memutuskan kerlingan hati kepada selain Allah, supaya dapat mencintai Allah dan bermesraan dengan Allah.

3. Ahlul Wilayah

Mereka telah tajalli keberadaan Allah di dalam batinnya meyakini bahwa segala sesuatu yang Maujud merupakan bekas perbuatan Allah, bentuk dan rupa adalah dari sifat Allah, keberadaan kita adalah limpahan keutamaan Allah dari Nur Aqdas (cahaya yang bersih), wujudnya dari Wujud Allah dan juga kesempurnaan wujud, ia tidak membanggakan sesuatu yang ada kepada selain Allah, baik itu ilmu, amal dan maqam.

4. Ahlul Nihayah

Dia kembali kepada hakikat wujudnya, yaitu Adam Ma’had (tidak ada sama sekali), Fana pada Allah dan Baqa dengan Allah. Mereka telah dapat bertauhid jam’i, merdeka dari dirinya dan alam.

Bagi Ahlu wilayah dan nihayah tidak datang ketakutan dan kegundahan, sesuai dengan firman Allah,

إن أولياء الله لاخوف عليهم ولا هم يحزنون

“Sesungguhnya para wali-wali Allah itu tidak takut bagi mereka dan tidak merasa gundah” (QS. Yunus: 62).

Sedangkan ahlu bidayah dan ahlul suluk, mereka banyak mengalami kesusahan dan kegundahan dalam mengarungi kehidupan yang fana ini. Kalau di negeri kita ada ahlu wilayah dan ahlul nihayah, maka akan cepat kerkembang ajaran tasawuf dan kesufian ini. Dan kalau tidak ada, maka perjuangan tauhid kesufian ini banyak mengalami kemacetan sehingga tidak dapat diangkat ke permukaan.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Artikel

Habib Luthfi Ingatkan Ketum KNPI, Inilah Pesannya

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online – Ketua Umum DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama sowan ke kediaman Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya di Jalan Dr. Wahidin, Noyonyaan Gg.7 Pekalongan Timur, Jawa Tengah, Senin (27/6).

Di depan Habib Luthfi, Haris bercerita soal dinamika kepemudaan dan rencana pelantikan pengurus DPP KNPI yang akan dilaksanakan pada Juli 2022 di Kota Yogyakarta.

“Abah Luthfi sangat ramah dan banyak wejangan yang diberikan kepada saya agar bisa memimpin KNPI lebih baik lagi,” ujarnya.

Haris mejelaskan pertemuan tersebut merupakan silaturahmi kebangsaan dan permohonan doa restu dalam masa kepemimpinan periode kedua dirinya menahkodai KNPI.

“Alhamdulillah pertemuan ini jadi momen berharga, selain dapat bersilaturahmi dengan Habib Luthfi sebagai salah satu ulama mahsyur pemersatu umat, saya dapat sowan secara empat mata dan menyampaikan mohon doa restu dalam kepemimpinan periode kedua ini,” kata Haris dalam keterangannya, Selasa (28/6).

Sementara itu, Habib Luthfi berpesan agar pemuda dapat terus menjaga persatuan dan kesatuan serta berkontribusi pada pembangunan nasional.

“Generasi muda harus terus memompa semangat persatuan dan kesatuan di tengah arus globalisasi dan penuh keprihatinan. Buktikan KNPI dapat jadi motor penggerak untuk berbakti kepada negeri,” tutur Habib Luthfi.

Habib Luthfi pun mengingatkan kepada Haris agar KNPI tidak terjebak pada politik praktis hanya pada kepentingan partai politik tertentu saja.

“KNPI jangan sampai terjebak pada kepentingan politik praktis kekuasaan dan partai politik tertentu saja, arah politik KNPI harus untuk kepentingan rakyat Indonesia,” ungkapnya.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (2)

Published

on

Kegiatan JATMAN di Jawa Timur terbagi menjadi dua katagori, pertama yang berkaitan dengan ritual dan yang kedua berkaitan dengan organisatoris yang mengacu pada NU yang orientasinya bisa bermanfaat bagi JATMAN, NU dan negara bahkan bagi pengamal thariqah.

Kegiatan yang berkaitan dengan ritual, telah dibentuk sebuah forum untuk pertemuan para mursyid,  yang mana selama dua tahun ke belakang telah berjalan dengan nama Forum Halaqah JATMAN, yang membahas permasalahan thariqah dan kewargaan serta keorganisasiannya.

Sedangkan yang berkaitan dengan organisatoris, ada sekitar 18-23 program prioritas yang dilakukan sebagai upaya konsolidasi organisasi. Ada sekitar 40 Idaroh Syu’biyyah di Jawa Timur yang diprioritaskan untuk diremajakan, dengan terlebih dahulu melakukan musyawarah pergantian pengurus dan pengusulan program.

Di JATMAN Jawa Timur, untuk menentukan rois dan jajaran pengurus baru yang mendapat amanah untuk menjalankan roda organisasi dan mengusung program kegiatan, dilakukan di dalam Musyawarah Daerah (Musda). Pada Tahun 2018, Musda dilaksanakan mulai Bulan April-Juli. Bahkan, sebelum Idaroh Wustho dibentuk pada tanggal 22 April, Idaroh Syu’biyyah Kabupaten Magetan sudah terlebih dahulu melakukan Musda pada tanggal 5 Juli.

Selama satu periode kepengurusan, hampir seluruh Idaroh Syu’biyah sudah melaksanakan Musda termasuk lepas pantai, Bawean. Kemudian Syu’biyyah juga sudah membentuk Ghusniyah di tiga kecamatan, bahkan beberapa sampai di tingkat desa.

Rois JATMAN Jawa Timur, Kiai Ngadiyin Anwar mengungkapkan jika tanpa ada kendaraan lain, dan dalam kondisi sehat dan normal, JATMAN tidak akan bisa jalan dengan baik. Kendaraan ini adalah kesiapan pengurus dalam menejemen organisasi di berbagai tingkatan. Di samping itu, aturan main  dan mekanisme kerjanya juga harus diperbaiki. Sebagaimana menurutnya, Haq bilaa nidzam, yaghlibul bathin bin nidzam, tanpa ada sistematika yang baik dalam mengelola organisasi, nanti yang tidak sah, bisa mengalahkan yang sah. Itulah peran Syu’biyyah dan ghusniyyah.

Pada tahun ini, Kegiatan besar JATMAN Jawa Timur akan digelar, yakni Multaqa Mursyid yang akan dilaksanakan sekitar Bulan Agustus mendatang. Pada forum ini, dilakukan bahsul matsail yang membahas permasalahan ketarekatan. Namun yang sering menjadi kendala adalah Multaqa ini mauquf karena ada masalah internal thariqah tertentu yang dibawa ke antar thariqah yang lain. Di samping tidak menguasai thariqah tersebut juga ada perasaan tidak enak jika membahas lebih detail, sedang itu menjadi faktor internal yang mengandung berbagai hal yang tidak perlu diketahui oleh yang lain. Maka permasalahan itu akhirnya dikembalikan. Tapi sayangnya, ketika dikembalikan, belum ada yang bisa mengkoordinir potensi ulama thariqah dari thariqah tertentu.

Maka dua tahun yang lalu, di Jawa timur, atas inisiasi sendiri yang bukan bagian dari program JATMAN Aliyyah, JATMAN Jawa timur membentuk Forum Multaqa untuk masing-masing thariqah yang bukan bagian dari Forum Multaqa Mursyid, Khalifah, Badal JATMAN Jatim. Seperti Thariqah Naqsabandiyah yang sudah tidga kali megadakan multaqa dan terakhir di trenggalek, Thariqah Qadiriyah juga sudah tiga kali dan terakhir di Magetan, Thariqah Sadziliyiah satu kali di Mojokerto, Thariqah Syathariyah sudah dua kali, dan hanya Thariqah Tijaniyah yang belum melaksanakan multaqa.

Selama kepengurusan JATMAN Jawa Timur pada periodesasi ini, Kiai Ngadiyin Anwar menyadari jika mungkin program pembaharuan ini belum sepenuhnya tuntas dan masih harus diteruskan pada periode yang akan datang. Rencananya, kepengurusannya ini akan diakhiri pada Februari 2023.

Continue Reading

Artikel

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (1)

Published

on

Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Pulau Jawa yang menjadi basis gerakan tarekat. Dalam tulisan Syekh Abul Fadhol, Ahla al Musamarah fi Hikayat al Auliya’ al ‘Asyrah, Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel selama mengajar di Pesantren Ngampel Denta Surabaya, membekali para muridnya Tarekat Naqsabandiyah yang kemudian diteruskan oleh Raden Paku atau Sunan Giri.

Mengingat basis Islam di Jawa pada waktu itu ada di Surabaya, maka tidak heran jika perkumpulan tarekat ini sudah mendarah daging bersamaan dengan berkembangnya Islam di Jawa Timur.

Dengan berjalannya waktu, Tarekat Naqsabandiyah ini kemudian menyebar di berbagai wilayah dan terintegrasi dengan berbagai tarekat besar seperti Khalidiyah, menjadi Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah yang mana di Jawa Timur ada beberapa wilayah yang dianggap sentral seperti Malang, Kediri, Nganjuk, Ngawi dan Madiun

Di Malang, mursyid sepuhnya adalah Kiai Abdul Hayyi yang sudah mengalami tiga kali regenarasi. Saat ini, ijazah kemursyidan dipegang oleh Kiai Yahya Mu’idi yang zawiyahnya berada di Pondok pesantren Baitul Mukhlasin, Dusun Cokro, Desa Sukoanyar, Kec. Pakis, Kab. Malang.

Adapun di Kediri, Tarekat Naqsabandiyah berkembang di Kecamatan Baran yang saat ini dipimpin oleh Syekh Muhammad Miftahur Riza al-Barrani. Selanjutnya di Kecamatan Kertosono, Nganjuk dipimpin oleh Kiai Munawwir kemudian berlanjut kepada Kiai Hambali dan kepada Kiai Muslih, pengasuh Ponpes al-Musthofa.

Selain itu, ijazah mursyid Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah di Jawa Timur juga dipegang oleh Kiai Adnan Ngawi, Kiai Abdul Rouf di Madiun Selatan serta Kiai Ngadiyin Anwar, pengasuh Ponpes Thariqah Sulaimaniyah Madiun melalui jalur Kiai Sulaiman pada tahun 1904-1936, dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Adnan sampai tahun 1940, oleh Kiai Imam Muhyidin sampai tahun 1983, dan saat ini oleh Kiai Ngadiyin Anwar.

Di samping terintergrasi dengan Tarekat Khalidiyah, Tarekat Naqsabandiyah juga terintegrasi dengan Tarekat Qadiriyah yang dikenal dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN).

Di Jawa Timur, perkembangan tarekat ini rata-rata melalui sanad dari jalur Jawa Tengah seperti Mranggen-Demak oleh Kiai Abdurrahman, Kiai Muslih dan Kiai Muthohar, kemudian Kiai Sholeh Sukoharjo dan Kiai Nawawi Purworejo. Namun ada pula yang langsung dari jalur Banten oleh Syekh  Abdul Karim melalui Kiai Kholil Bangkalan di Madura, Kiai Romli Tamim Jombang dan lain-lain.

Perkembangan tarekat di Jawa Timur, mengalami pertumbuhan yang pesat. Setidaknya ada sekitar 13-16 tarekat yang ada di provinsi ini, dengan populasi tarekat yang terbesar ada sebanyak lima tarekat, termasuk dua di antaranya sudah lebih dulu dijelaskan di atas, sedangkan tiga lainnya adalah Tarekat Sadziliyah, Tarekat Syattariyah dan Tarekat Tijaniyah.

Adapun Tarekat Sadziliyah, pusatnya ada di Tulungagung yaitu di Pondok PETA, di mana mursyid sepuhnya adalah Kiai Mustaqim, kemudian dilanjutkan oleh puteranya Kiai Abdul Djalil Mustaqim dan saat ini dipegang oleh Syekh Charir M Sholahuddin al Ayyubi melalui dua jalur, yaitu Kiai Makruf Mekkah dan Syekh Yasin al-Fadani Madinah. Selanjutnya ada Tarekat Tijaniyah dari Maroko dan Tarekat Syattariyah yang berkembang di Surabaya dan Madura.

Tarekat-tarekat di atas juga tersebar di beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Jember, Pasuruan, Mojokerto, Blitar dan banyak lagi yang selanjutnya terhimpun dan terverifikasi sanadnya dalam Organisasi JATMAN, khususnya Idaroh Wustho Provinsi Jawa Timur.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending