Connect with us

Artikel

Tingkatan Ilmu dalam Perspektif Tasawuf

Published

on

Ilmu merupakan sarana paling utama untuk memahami segala pengetahuan yang ada baik pengetuaan bersifat zahir [fisik] maupun pengetahuan yang bersifat batin [metafisik]. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddun Jilid I Bab Ilmu mengutip Hadits Nabi menyebutkan  “Wahai Rasulullah, amal apakah yang lebih utama? “Beliau bersabda: “Ilmu tentang Allah ‘Azza wa Jallah” lalu ditanyakan’ “Ilmu apakah yang engkau kehendaki? “Beliau bersabda: “Ilmu tentang Allah ‘Azza wa Jallah”. Lalu dikatakan kepadanya: kami bertanya mengenai amal dan engkau menjawab mengenai ilmu”. Maka beliau Saw bersabda: “Sesungguhnya amal sedikit disertai ilmu (mengetahui) tentang Allah Swt. itu berguna dan banyaknya amal serta bodoh mengenai Allah itu tidak berguna. (HR. Ibnu Abdil Barr).  Adapun didalam sebuah atsaar diterangkan, Ali Ibn Abi Thalib ra berkata kepada Kumail (sahabatnya): “Hai Kumail ilmu itu lebih utama dari pada harta karena ilmu itu menjagamu dan kamu menjaga harta. Ilmu adalah hakim sedangkan harta yang dihakimi. Harta menjadi berkurang dengan dibelanjakan, sedangkan ilmu menjadi berkembang dengan dibelanjakan.

Al-Imam Abu Al-Najib Abdul Qahir bin Abdullah As-Suhrawardi di dalam kitab Adabul Muridin menjelaskan Ilmu adalah ruh, jasad adalah amalnya. Ilmu ibarat sebatang pohoh (Ushul) dan amal bagai rantingnya (furu). Ilmu umpama hakim, sedangkan amalan adalah hukumnya.

Mengenai definisi ilmu merupakan suatu hal yang kompleks dan variasi tergantung dari para pakar dan ulama untuk mengartikan ilmu menurut bidang keahliannya masing-masing. Adapun ilmu dalam perspektif tasawuf sebagaimana yang dikatakatan Al-Imam Muhyiddin ibn Arabi di dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah, berkata:

“Ilmu adalah pemahaman terhadap sebuah objek pemahaman (mudrak) yang sesuai dengan bagaimana sebenarnya objek tersebut dalam dirinya. Tetapi hal ini hanya berlaku untuk sesuatu yang tidak terdapat penghalang dalam memahaminya. Bagi sesuatu yang terhalang pemahaman nya, maka ilmu tentang sesuatu itu adalah dengan tidak memahaminya”.

Hal ini selaras dengan perkataan Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq “Ketidakmampuan untuk memahami sebuah pemahaman (idrak) adalah sebuah pemahaman itu sendiri.” Ia mendefinisikan ilmu tentang Allah Swt. dengan ketidakpahaman tentang-Nya. Ketahuilah ketidakpahaman tentang Allah adalah dari segi kasb al-aqal (usaha pencarian akal) seperti yang biasa dipakai untuk memahami selain Allah. Namun seseorang bisa memahami (bermakrifat) Allah melalui limpahan tajalli-Nya, Jud (kedermawanan) -Nya, Karam (Kemurahan) -Nya dan Wahb (anugerah) -Nya sebagai mana para Arif billah dan ahli Syuhud bisa mengetahui Allah bukan dari kekuatan akal yang berasal dari nalar rasionalnya, melainkan dengan Dzauq dan limpahan tajalli Asrar-Nya.

Menurut cara pandang tasawuf ilmu terbagi beberapa macam.  Ibnu Arabi di dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah membagi ilmu kedalam tiga macam tingkatan,

1. Ilmu Aqal (Rasional)

Yaitu ilmu apapun yang diperoleh baik secara dharuri (bukti) maupuan secara nazhori /setelah melakukan pengamatan nalar terhadap sebuah dalil. Dengan syarat bahwa telah ditemukan sebuah pembuktian melalui dalil tersebut. Ketidakjelasan atau kerancuan (syubhah) yang terdapat pada kategori ilmu ini terjadi di alam pikiran yang menghimpun dan menentukan ilmu jenis ini. Itulah sebab orang yang mengatakan bahwa sebuah pengamatan nalar rasional ada benar dan ada yang salah.

2. Ilmu Ahwal

Adalah ilmu keadaan hati. Ilmu ini tidak dapat diraih kecuali melalui Dzauqi yaitu merasakan langsung melalui hati. Tidak ada satupun pemilik ilmu akal yang mampu mendefinisikannya atau memakai dalil dalam bentuk apapun untuk bisa mengetahuinya.

3. Ilmu Asrar

Adalah ilmu tentang segala rahasia-rahasia Ketuhanan (Asrar Ilahiyyah) yaitu ilmu di atas jangkauan akal logika. Ini ilmu yang didapat melalui tiupan Ruh Al-Qudus ke dalam Sirri (rahasia hati) yang hanya dikhususkan bagi para Nabi dan Wali Allah.

Kenapa Tasawuf membagi ilmu kedalam tiga tingkatan? Jawabannya karena di dalam diri manusia terdiri dari 3 [tiga] ;

  1.  Akal
  2.  Hati
  3.  Ruh

Unsur pertama, akal untuk ilmu akal, unsur kedua hati untuk ilmu ahwal dan unsur ketiga ruh untuk ilmu Asrar. Manusia sebagai makhluk yang memiliki akal (akal jiwa =aql) adalah ketika mampu berkata-kata dengan pikiran yang benar. Itu lah proses logika yang benar, karena itu berpikir yang benar merupakan fungsi kebajikan pertama.

Fungsi kebajikan kedua adalah ketika ilmu berbuah amal lalu menyampaikannya melalui mulut, tulisan atau tindakannya. Tetapi kebanyakan manusia, mendahulukan mulut, tulisan, dan tindakannya dengan membelakangi kendali hati dan akal. Hal ini karena disebabkan oleh kotoran nafsu yang menutupi hati. Sehingga akal menjadi keruh dalam memperoleh pemahaman kemudian mengakibatkan ilmu tersebut menjadi tidak berguna dalam menempatkan posisinya untuk kebaikan akhirat.

Fungsi kebajikan ketiga adalah ketika amal lalu berbuah akhlak al-karimah, mencakup fungsi etika (adab) dan estetika (sufi) menempatkan segala sesuatu dengan keadilan, hikmah dan kaca mata Ilahi. Fungsi ini apabila kotoran nafsu telah dibersihkan, maka hati menjadi jernih dan akal pun menjadi sehat. Apabila hati telah bersih dan akal telah sehat, maka ketika itu seseorang akan merasai [Dzauqi] ilmu-ilmu yang halus berupa ilmu ahwal atau ilmu hikmah yang timbul di dalam hati dari ilmu ini yang dapat memberikan manfaat bagi makhluk.

Fungsi kebajikan keempat adalah ketika akhlak bercahaya kemudian menjadi Hakikat Makrifat yang menyinari hati dan akal yang dapat mengatarkan menuju Al-Haq. Maka inilah puncak dari segala kebajikan, dan akhir dari tujuan. Maka inilah disebut ilmu asrar

Wallahu a’lam bi shawwab
Ilahi anta maqshudi waridhaka mathlubi

Penulis: Budi Handoyo

(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)

Artikel

Model-model Pembersihan jiwa (Tazkiyatun Nafs)

Published

on

Pembersihan jiwa atau Tazkiyatun Nafs adalah upaya menghilangkan keburukan-keburukan yang sudah lama terbenam dalam hati hamba. Proses ini berfungsi untuk menyiapkan diri menerima cahaya dari Allah Swt. Karena tidak mungkin cahaya bisa masuk dalam ruang yang gelap tanpa adanya setitik kebaikan di dalamnya. Gelapnya hati inilah hijab yang menghalangi makrifat terhadap Allah.

Oleh sebab itu, untuk membersihkan hati dari kotoran-kotoran tersebut perlu dilakukan beberapa cara, di antaranya:

1. Lapar (Al-Ju’)

Sesungguhnya lapar merupakan keadaan ahli hakikat. Menurut al-Ghazali, lapar dapat mengurangi dan memutihan darah dalam hati (al-qalb). Putihnya darah adalah cahayanya. Dengan cahaya dapat menghancurkan lemak hati. Hancurnya lemak dapat melembutkan hati dan hati yang lembut bisa menjadi kunci mukasyafah, sedangkan kerasnya hati adalah hijabnya.

2. Melanggengkan Wudlu (Dawam al-Wudlu’)

Wudlu adalah cahaya dan dosa akan berguguran ketika seorang hamba berwudlu. Para ulama menyatakan bahwa melanggengkan wudlu akan meluaskan rizki. Perbuatan itu juga merupakan amaliyah waliyullah sebagaimana yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani

3. Khalwat

Khalwat menurut Kiai Muhammad Shiddiq Piji adalah menyendirinya hati dari manusia. Menurut sebagian ulama, tarekat khalwah adalah pembicaraan rahasia (muhadatsat al-Sirri) bersama al-Haqq. Khalwah merupakan salah satu kebiasaan Nabi Muhammad saw. saat memulai perjalanan ruhaninya hingga mendapat wahyu untuk berdakwah

4. Zikir

Zikir dalam keterangan Kiai Muhammad Shiddiq Piji merupakan rukun terpenting dalam tarekat. Tidak mungkin seseorang bisa wushul kepada Allah kecuali dengan membiasakan zikir itu. Zikir adalah ibadah yang bisa dilakukan dalam kondisi apapun dan kapanpun. Oleh sebab itu para ulama’ tarekat mengatakan barang siapa diberikan istiqamah dalam zikir, maka ia telah mendapat hamparan dunia kewalian (wilayah). Dalam al-Qur’an, Allah memberi perintah zzikir lebih banyak dari perintah ibadah yang lainnya.

Di antara ke empat proses Tazkiyatun Nafs, zikir menjadi nyawa yang mengisi setiap proses ibadah. Ibn Athaillah menjelaskan bahwa macam macam zikir dalam tarekat dapat berupa zikir lisan lafaz, zikir qalbi, dan zikir sirril khafiy. Sedangkan manfaat zikir menurutnya dapat menghilangkan duka, kesusahan dan gundah gulana; mensucikan bagian tubuh yang terbangun dari makanan haram; menghilangkan gelap dan noda hati; menghilangkan kerak atau karat hati; melembutkan hati; membakar nafsu (syahwat dan ghadab); mencegah ketaatan tubuh pada prilaku yang menyimpang dari agama; mematahkan bisikan syetan; mencegah keburukan, menjaga dari segala sesuatu; membuka pintu ghaib/mengangkat hijab; menjadikan ruh mencintai Allah, dan menjadikan sufi selalu bersama Allah.

Continue Reading

Artikel

Sufi adalah Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Published

on

Permasalahan apakah orang-orang sufi termasuk bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah polemik yang dipertanyakan oleh sebagian orang yang belum mengenal tasawuf secara utuh. Bahkan banyak anggapan bahwa ajaran ini berasal dari Hindu dan Budha dan para Filsuf Yunani.

Menurut Syekh Abul Fadhol dalam Syarh Kawakib al-Lama’ah, ini terjadi karena kebanyakan orang muslim melihat adanya kemiripan antara tokoh-tokoh sufi dan kebiasaan orang-orang Budha, termasuk dalam akhlak mereka, perilaku zuhud serta menahan hawa nafsu. Atas dasar inilah mereka menduga ada korelasi antara ajaran tasawuf dan Budha.

Lebih ekstrem dari itu, ada ungkapan bahwa tokoh-tokoh sufi seperti Abu Yazid al-Busthami, Ma’ruf al-Karkhi dan Abu al Qasim al-Junaidi adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu syariat Islam. Mereka menciptakan amalan fisik maupun hati bersumber dari Agama Budha dan mencampurkannya dengan Syariat Islam.

Yang dimaksud oleh anggapan-anggapan tersebut adalah bagian dari Sinkretisme. Tentu saja ini merupakan kesalahan besar. Bahkan seorang tokoh yang bernama Abu Abdillah al-Marizi, hanya menilai al-Ghazali dari murid-muridnya saja, tidak dengan membaca karyanya. Tentu ini tidak komprehensif untuk mengetahui penilaiannya terhadap ajaran tasawuf al-Ghazali. Padahal, ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para sufi memiliki dasar yang kuat.

Seperti definisi tasawuf menurut al-Ghazali, yaitu mengosongkan hati dari hal selain Allah dan menganggap rendah selain-Nya. Kemudian dijelaskan oleh Syekh Jalaludin al-Mahalli dalam Kitab Syarh Jam’ul Jawami’ bahwa jalan yang ditempuh oleh al-Junaid itu terbebas dari bid’ah-bid’ah yang berputar atas kepasrahan kepada Allah serta terbebas dari hawa nafsu.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan sendiri oleh al-Junaid,

“Jalan menuju Allah Swt. itu tertutup atas makhluknya, kecuali atas orang-orang yang mengikuti jejak Rasulullah saw.“

Dan ungkapannya yang lain,

“Mazhab kita, wahai golongan sufi, ini diikat (berdasarkan) dasar-dasar al-Quran dan Sunnah.”

Juga dipertegas lagi oleh Ibnu Athaillah,

“Allah telah mengumpulkan seluruh kebaikan dalam suatu gedung, dan Dia menjadikan sebagai kuncinya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad saw.”

Dari pendapat tersebut, mana bisa ahli tasawuf disebut sebagai orang-orang yang bodoh dan mencampuradukan syariat serta bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal penjelasan di atas menunjukkan bahwa mereka memiliki dasar tasawuf yang kuat, yaitu dengan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. dan menaatinya.

Sehingga, ini selaras dengan yang disampaikan oleh Syekh Abul Fadhol,

“Barangsiapa yang menjadikan ilmu tasawuf sebagai bagian dari hukum-hukum syariat, ia benar. Namun, ia tidak akan merasakan bahwa tasawuf itu bagian dari syariat kecuali orang yang luas wawasannya di bidang syariat hingga puncak sesuai kemampuan manusia.”

Adapun orang-orang yang mengaku menempuh jalur sufi namun tidak memenuhi syariat adalah kesalahan yang besar. Dan orang-orang yang mengingkari tasawuf secara kesuluruhan hanyalah menilai sesuatu yang umum terhadap sesuatu yang khusus.

Continue Reading

Artikel

Tasawuf dalam Menjawab Problematika Sosial Di Era Milineal

Published

on

Umat Islam dalam skala global maupun lokal menghadapi berbagai problem yang kompleks dan mendasar. Dikatakatan kompleks karena mencakup berbagai unsur kehidupan, baik sosial, politik maupun budaya. Dan mendasar karena mencakup akar identitas dari umat yaitu keislaman itu sendiri.

Kejayaan dan kemunduran umat, bisa dilihat dari tiga variable yang menentukan, yaitu: hubungan dengan Allah, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan agama serta Negara. Adapun kejayaan umat Islam ditandai dengan:

1. Adanya kedekatakan individu hubungan tiap-tiap individu warga umat dengan Allah yaitu berupa ketaqwaan
2. Adanya semangat persaudaraan/ukhuwah islamiyah
3. Adanya tanggung jawab dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar

Pada kenyataannya kondisi umat Islam tidak mencerminkan tiga indikator di atas, bahkan sebaliknya dilanda tiga kelemahan dan kehancuran dalam tiga bidang tersebut yakni:

1. Lemahnya ketaqwaan (moral force), yang ditunjukkan dengan merajalelanya kemaksiatan
2. Lemahnya ukhuwah islamiyah (brotherhood), yang ditunjukkan banyaknya pertikaian, permusuhan, disintegrasi umat baik secara vertikal maupun horizontal
3. Lemahnya tanggung jawab dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, sehingga umat Islam kehilangan self control maupun social control yang menyebabkan Islam menjadi tersisih dan tertindas oleh peradaban sekuler

Kenapa bisa demikian? hal ini disebabkan ada dua faktor, internal dan eksternal:

1. Internal; kedangkalan terhadap agama, kecenderungan cinta dunia dan tiada kepeminpinan umat yang efektif
2. Eksternal; yaitu adanya konspirasi musuh-musuh umat melalui rekayasa sosial dan politik (social and political engineering)

Dua faktor itulah yang menyebabkan umat Islam mengalami kemunduran dan kejatuhan sehingga tersisihkan peranannya sebagai mercusuar dan pimpinan dunia. Lalu apa yang harus dilakukan?

Setidaknya ada beberapa point sebagai solusi mengatasi problematika di atas:

1. Memacu semangat generasi muda untuk mengkaji agama secara intesif dengan dibangunnya lembaga-lembaga pendidikan yang qualified baik sistem sekolah, unversitas maupun pesantren-pesantren. Membangkitkan kembali semangat spiritual agama yaitu kehidupan bertasawuf melalui tarekat-tarekat yang shahih dan mu’tabarah
2. Menghidupkan kembali lembaga kesultanan dan ruhnya yaitu tauhid tasawuf sebagai pusaka keramat kerajaan

Syekh Abul Abbas Ahmad Zarruqimengartikan tasawuf adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki hati dan memfokuskan hati hanya untuk Allah semata. Kedudukan tasawuf seperti kedudukan ruh dan jasad, karena untuk mencapai Ihsan yang dijelaskan Rasullullah dalam sebuah hadis dikatakan:

مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك

“Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. (HR.Muslim).”

(Al-Futuhat al-Rahmaniah fi Hall Alfaz al-Hikam al-Ataiyah, Dar Nashirun, Beirut, Hal 43-44).

Selama ini umat islam telah kehilangan ruhnya yaitu tasawuf sehingga Islam di era milineal sekarang ibarat jasad yang mudah menjadi rekayasa sosial dan potitik melaui konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk merusak tatanan diniyah. Kehadiran tasawuf di era milienal  sangat dibutuhkan untuk memperbaiki moralitas bangsa. Sayyidi Abu Hasan Asy-Syadzili berkata,

التصوف تدريب النفس على العبودية، وردها لأحكام الربوبية

“Tasawuf itu tadrib al-nafs (melatih nafsu) untuk tekun beribadah dan mengembalikannya kepada hukum-hukum Rububiyah (ketuhanan).”

(Kitab Haqa’id at-Tasawuf, Dar al-Taqwa Damaskus hal 18).

Syekh Ahmad bin Muhammad Ajibah al-Hasani, menjelaskan terdapat lima pokok dan dasar tasawuf yang dapat membaguskan amal yang benar, yaitu,

1. Takwa kepada Allah di kala sepi dan keramaian
2. Mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw. baik dalam perkataan dan perbuatan
3. Tidak bergantung kepada makhluk baik di hadapan maupun di belakangnya
4. Ridla dengan pemberian Allah baik banyak maupun sedikit
5. Segala permasalahan diserahkan kepada Allah baik waktu gembira maupun susah.

(Al-Futuhat al-Ilahiyyah fi Syarhi al-Mahabits al-Ashaliyyah, Dar-Al-Kotob al-Ilmiyah, Beirut, hal 354).

Tujuan tasawuf  adalah  untuk memperbaiki tiga varibel yaitu memperbaiki variabel vertikal yaitu  memperkokoh iman melalui peningkatan tauhid makrifat dan membersihkan kotoran-kotoran nafsu yang ada dalam hati dan membersihkan sangkutan hati dari selain Allah Swt. sehingga hubungan antara hamba dan Allah menjadi baik. Kemudian perbaikan dua variabel horizontal dengan  memperbagus akhlak sehingga hubungan sesama, masyarakat dan agama serta negara menjadi baik. 

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending