Tiga Macam Pengkhidmat Al Qur’an

Pertama mereka yang berkhidmat kepada Al Qur’an karena kecintaannya kepada Al Qur’an. Tidak mengharap upah apapun dari pekerjaannya. Bahkan menolaknya. Inilah maqam al Anbiya’ atau khawashul khawash. Firman Allah:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَٰلَمِينَ

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam.” (Surat Al-An’am, Ayat 90).

Kedua: mereka yang berkhidmah kepada Al Qur’an. Dia tidak mengharapkan imbalan apapun dari kerjaannya. Tapi tidak menolak pemberian. Bahkan memberi santunan atau bea siswa bagi santri-santrinya. Ini maqam ulama, para kiai atau maqam khawash. Kata ulama:
لا تطلب ولا ترد
“Jangan berharap, tapi jangan menolak”

Ketiga: mereka yang berkhidmat kepada Al Qur’an. Dia berharap dapat imbalan terhadap pekerjaannya untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Ini maqamnya orang awam atau kebanyakan orang. Dalam hadis Bukhari

أَحَقُّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ
(رواه البخاري)

Oleh: Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, MA

Komentar
Loading...