Tiga Kisah Keteladanan KH. Moh. Hasyim Zaini

0

Kiai Hasyim, Santri dan Sepeda Onthel
Suatu ketika, kiai Hasyim ingin pergi ke Kraksaan untuk suatu keperluan. Beliau lalu memanggil salah seorang santri untuk menemani beliau mengemudikan sepeda onthel. Maklum pada waktu itu sepeda motor masih jarang.

Setelah beberapa saat, ternyata santri yang beliau panggil tersebut nampaknya kurang terbiasa mengemudikan sepeda onthel. Melihat kejadian ini, beliau tidak memanggil santri lainnya untuk menggantikan santri yang tidak terampil mengemudikan sepeda onthel tersebut.

Namun oleh beliau santri tersebut disuruh membonceng di belakang untuk menggantikan posisi beliau yang semula. Subhanallah, dari Pondok Nurul Jadid Paiton hingga ke Kraksaan pulang pergi beliaulah yang mengemudikannya.

Inilah teladan dari seorang yang dikenal rendah hati dan amat menjaga perasaan orang lain bahkan kepada santrinya.

Dokar dan Seekor Burung Yang Sedang Makan
Pernah suatu ketika, seorang santri yang duduk di Madrasah Aliyah mau berangkat ke sekolah yang terletak di daerah Tanjung. Si santri tersebut lalu berjalan kaki melewati sawah dan kebetulan berpapasan dengan Kiai Hasyim yang sedang mengendarai dokar. Akhirnya beliau memanggil si santri ‘ayo bareng saya’.

Setelah si santri tersebut bersama beliau di atas dokar tak lama kemudian, tiba-tiba beliau berhenti. Si santri penasaran apa yang membuat kiai menghentikan dokarnya. “Ada apa ya, kok kiai berhenti?,” tanya santri dalam hati.

Kemudian beliau berkata pada si santri “Nanda bentar dulu ya, masih ada burung yang sedang makan, ini kan mengganggu, jadi tunggu saja.”

Inilah sifat penyayang luar biasa yang dimiliki oleh orang arif. Jangankan kepada manusia, kepada sesama makhluk beliau tidak ingin mengganggu dan mengusiknya. 

Menukar Uang Sobek
Suatu ketika Kiai Hasyim bersama seorang santri menumpangi bus dari terminal Pamekasan menuju Paiton, Probolinggo. Sesampainya di terminal Pasuruan, beliau lalu membeli salak. Namun, ketika sudah sampai di daerah Probolinggo, Kiai Hasyim tiba-tiba menyuruh santrinya tersebut kembali lagi ke terminal Pasuruan untuk menemui si penjual salak agar menukar uang yang sobek tadi dengan uang lain yang tidak sobek. Namanya santri, maka akan tetep sami’na wa atha’na. Dawuh beliau kepada santrinya;

“Nanda kembali lagi ya ke Pasuruan, ke terminal. Uang yang saya belikan salak itu uangnya sobek, tolong kembalikan ya, diganti, takut ndak laku uangnya,” ucap Kiai Hasyim.

Ketika santri tersebut sampai di terminal Pasuruan, penjual salak tersebut sudah tidak ada bahkan di terminal tersebut sudah sepi.

Mungkin bagi kita kesalahan kecil seperti tidak akan membuat kita sampai perlu jauh-jauh kembali untuk menukarnya kembali. Namun bagi orang-orang yang arif, hal tersebut terasa besar karena tingginya perasaan dan kasih sayang mereka.

KH. Moh. Hasyim Zaini (w.1984) ialah putra pertama dari KH Zaini Abdul Mun’im (w.1976) dan merupakan pengasuh kedua PP. Nurul Jadid Paiton, Probolinggo (1976-1984). Beliau juga Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

Sumber: FB MATAN Universitas Nurul Jadid

Comments
Loading...