Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Irfa’iyah Adakan Suluk Ilahiyah

Ciamis – Bertempat di Rubath Mubarok Pondok Pesantren Kasepuhan Atas Angin, Kamp. Syarok, Desa Darmacaang, Cikoneng, Kab. Ciamis, Jawa Barat. Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Irfa’iyah menyelenggarakan kegiatan kethariqahan bertajuk “Suluk Ilahiyah Thariqoh Naqsyabandiyah Khalidiyah Irfa’iyah”. Suluk ini diadakan dua gelombang, pertama tanggal 19 – 30 September 2018 (09 – 20 Muharram 1440) dan kedua mulai 03 – 14 Oktober 2018 (23 Muharram – 04 Shafar 1440 H). Total peserta selama dua gelombang tersebut sebanyak 300 peserta. Kegiatan ini rutin dilaksanakan selama 4 kali dalam setahun, 2 kali di bulan Muharram dan 2 kali di bulan Rajab.

Peserta yang ikut berasal dari berbagai daerah dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selama 12 hari, peserta rutin mengikuti kegiatan dalam suluk tersebut, diantaranya mandi taubat, selalu shalat fardhu secara berjamaah, shalat sunnah malam, shalat dhuha serta berdzikir dan berkhidmah. “Semua kegiatan termasuk dzikrullah dan khidmah kepada guru muaranya adalah pengabdian kepada Allah Swt. Pada prinsipnya suluk ilahiyah ini mengubur keinginan diri dan menggantinya dengan keinginan guru tentu dalam mencapai ridha Allah Swt”, ungkap ustadz Zaki Mubarok salah seorang peserta dalam suluk tersebut.

Selama suluk peserta hanya melakukan apa yang dikehendaki guru. Diantara adab-adabnya ialah tidak boleh makan selain makanan yang disediakan guru, menuntaskan dzikir yang ditugaskan guru, menyedikitkan makan dan tidur, tidak membicarakan selain hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah Swt, selalu menjaga wudhu, hindari ghaflah (lalai diri), serta tidak diperkenankan menggunakan gadget sampai suluk selesai agar terjaga konsentrasi.

Salah satu metode khidmah dalam suluk yang diadaptasi dari ajaran guru Naqsyabandi dan dipakai oleh PP. Kasepuhan Atas Angin ialah khidmah berkebun dengan melaksanakan perintah guru. “Di sana kita dilatih membaca ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allah dari alam), seperti saat melihat pohon kering, maka kalau diri kurang disiram juga akan kering. Saat melihat kebun kotor kita bersihkan, sebagaimana diri, kebun kalau tidak dibersihkan bisa tumbuh semak dst. Sehingga kita melihat (ayat-ayat) Allah ada dalam setiap apa yang kita lihat,” kembali ust. Zaki menjelaskan.

Menurut ust. Zaki yang juga Dai Instruktur Nasional (DIN) JATMAN, suluk sejatinya adalah perjalanan ruhani, ruhani harus juga dipenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya. Jasad dipaksa harus ikut keinginan ruhani, ruhani yang sambung kepada Allah.

“Tanpa khidmah sulit mendidikmu bersabar. Cara memberitahumu bagaimana bersabar. Itu gak bisa dipelajari dengan diskusi. Kalau apa itu sabar, bisa dengan membaca kitab,” begitu nasehat Syaikh Kiyai Muhammad Irfa’i Nahrawi ketika membimbing peserta berkhidmah di kebun.

Hadratusy Syaikh Kiai Muhammad Irfa’i Nahrawi Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah Irfa’iyah memberikan pembekalan kepada peserta saat suluk, diantara pesan beliau:

  1. Allah memuliakan bulan Muharram dan memanggil kita untuk memanusiakan manusia kembali pada fitrahnya dan menjadikannya sebagai ummatan wasathan.
  2. Dengan adanya suluk ini semoga bisa mengembalikan keseimbangan manusia agar leluasa dalam kehidupan dan tidak terjerat dalam watak yang buruk.
  3. Suka dan benci itu tidak boleh berlebihan.
  4. Suluk ini gunanya agar manusia tidak berkepanjangan dalam kesibukan tertentu, sebab terlalu sibuk dengan urusan dunia, qalbu bisa menjadi keras.
  5. Hal-hal yang dilakukan secara berkepanjangan dan berlebihan akan merusak derajat manusia sejati dan membentuk watak yang buruk.
  6. Jika watak buruk, maka keseimbangan dalam qalbu manusia akan hilang. Jika sudah begitu qalbu menjadi keras, ia akan mudah marah dan mudah tersinggung serta terpenjara oleh kehidupan yang rendah.
  7. Jika kamu berbuat (apapun) dengan landasan iman dan amal shalih maka kamu akan merasakan sedikit banyaknya rezeki itu sama saja dan berkah. Berkah itu tumbuh dan berkembang.
  8. Tidak ada alasan di Bumi ini untuk tidak melaksanakan perintah Allah.
  9. Kamu senang sesuatu (hal duniawi) kamu ikuti kesenangan itu, semakin diikuti maka justru semakin kurang dan semakin memenjarakan kamu.
  10. Jika qalbumu kosong dari dzikrullah, melihat dunia hanya akan memberi pengaruh buruk serta menggelapkan ruhanimu. Tapi kalau qalbumu penuh dzikir, maka dunia yang akan tersinari oleh pandanganmu.

(Eep)

Komentar
Loading...