Connect with us

Kitab

Thariqah Alawiyah; Jalan Lurus Menuju Allah

Al-Manhaj as-Sâwiy, Syarh Ushûl Tharîqah as-Sâdah Âl Bâ ‘Alawi

Karya al-‘Allamah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith

Published

on

Thariqah Alawiyah

Kitab ini merupakan penjelasan yang luas tentang prinsip-prinsip dan adab menuju Allah dalam Thariqah Sâdah Âl Ba ‘Alawi. Dalam hal ini, pengarang menjadikan titik tolaknya adalah ungkapan menyeluruh dari al-Imam al-Muhaqqiq al-Habib Ahmad  bin  Zain al-Habsyi (wafat 1145 H), yang dimakamkan di al-Hauthah, “Thariqah Sâdah Âl Ba ’Alawi adalah ilmu, amal, wara’, khauf, dan ikhlas.”

Bagian-Bagian Kitab dan Kandungannya

Pengarang membagi kitab ini menjadi lima bagian besar, sesuai dengan lima sifat yang disebutkan oleh Habib Ahmad bin Zain, dan menandai masing-masingnya dengan keadaan tertentu. Maka kandungan-kandungan kitab ini adalah sebagai berikut:

  • Keadaan pertama, ilmu. Karena luasnya pembahasan, keadaan ini yang mencakup hampir setengah kitab, maka pengarang menjelaskannya dalam sepuluh bab, masing- masing bab memiliki sejumlah pasal, dan dilengkapi dengan penutup.
  • Keadaan kedua, amal. Pengarang menjelaskannya dalam mukadimah dan sepuluh pasal.
  • Keadaan ketiga, wara’. Penjelasannya terbagi dalam mukadimah dan enam pasal.
  • Keadaan keempat, khauf. Penjelasannya seperti yang sebelumnya, yakni dalam mukadimah dan enam pasal.
  • Keadaan kelima, ikhlas. Karena luasnya masalah- masalahnya, maka penjelasannya setelah mukadimah mencakup tiga bab yang memiliki sejumlah pasal.

Metode Syarh

Metode  syarh  (penjelasan)  yang  digunakan   pengarang  dalam kitabnya ini adalah memulai pembicaraannya dengan mukadimah, yang menjadikan orang memerhatikan pentingnya keadaan yang dibicarakan dan yang berhubungan dengannya secara global, kemudian mengutip ucapan Habib Idrus bin Umar al-Habsyi dalam menjelaskan maknanya secara umum, selanjutnya beralih pada pasal-pasal penjelasan.

Setelah membuka masing-masing pasal dengan pengantar, maka pengarang menyebutkan nash-nash syariah yang sesuai dengan setiap pasal,  dimulai  dengan  ayat-ayat  Al-Qur’an, lalu hadits-hadits Nabi, ucapan-ucapan para salaf, kemudian perkataan Sâdah Ba ‘Alawi, di mana masing-masing nash diberi komentar, penjelasan, dan keterangan. Selanjunya pengarang mengomentari pasal yang sedang dibahas dengan hal-hal yang sesuai dengannya, berupa masalah-masalah dan peringatan- peringatan, manfaat-manfaat dan hikayat-hikayat, dan sebagainya. Sehingga masing-masing pasal menjadi lengkap dalil- dalilnya, masalah-masalahnya, dan segala yang menyertainya. Kemudian pengarang mengakhiri pembahasannya dengan penutup, jika diperlukan dan dipandang relevan dengan yang dibicarakan. Inilah metode yang digunakan pengarang dalam kitab ini secara umum. Pengarang juga memerhatikan kaitan dan kesesuaian di antara pasal-pasal yang dibicarakan.

Bahan-Bahan Rujukan

Dalam mengumpulkan materi kitab ini, pengarang berpegang pada berbagai sumber dan kitab yang beragam, yang diambilnya selama bertahun-tahun sampai terkumpul materi yang memadai, dan disusun dalam rangkaian yang sangat bernilai. Sejumlah sumber masih berupa tulisan tangan. Kemudian pengarang membuat hal-hal berharga dari  kitab-kitab  itu  menjadi  sesuatu yang menyenangkan bagi orang yang melihatnya. Di  banyak tempat, pengarang menyebutkan dengan jelas sumber- sumbernya. Pengarang banyak menyebutkan nash-nash dan manfaat-manfaat dari materi yang sangat banyak, yang ada dalam ingatannya. Apa yang kami kemukakan di sini terbatas pada apa yang pengarang sebutkan.

Sumber-sumber tersebut berasal dari bermacam-macam disiplin ilmu. Kami susunkan di sini agar menjadi jelas bagi pembaca, betapa beragam dan kayanya materi kitab ini.

  1. Kitab-kitab adab dan tasawuf, terutama kitab Ihyâ ’Ulumuddin di mana seorang pengarang sangat butuh untuk mengambil bekal darinya. Juga karangan- karangan Hujjatul Islam al-Ghazali yang lain pada umumnya. Selanjutnya, karangan-karangan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, surat-surat, dan ucapan- ucapannya. Misalnya, Risalah al-Mu’âwanah, Risalah al-Mudzâkarah, ad-Da’wah at-Tâmmah, al-Fushûl al- ’Ilmiyyah, ad-Diwân, kumpulan-kumpulan ucapannya yang bernama Tatsbît al-Fuâd, dan lain-lain. Juga kitab- kitab an-Nawawi seperti at-Tibyân dan al-Adzkâr. Selain itu, kitab Tadzkirah as-Sâmi’ wa al-Mutakallim karya al-Badr bin Jamâ’ah, Adab al-Muta’allimîn karya ath- Thusi, dan sebagainya.
  2. Kitab-kitab biografi, sirah, dan manaqib. Kitab tentang sirah di antaranya adalah Zad al-Ma’âd karya Ibn al- Qayyim. Sedangkan kitab-kitab biografi dan manaqib adalah seperti Nasyr al-Mahâsin al-Ghâliyah karya al- Yâfi’i, al-Masyra’ ar-Râwi karya asy-Syilli, al-Fawâid as- Saniyyah karangan al-Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Qurrah al-’Ain dan Bahjah az-Zamân, keduanya karya al-Imam Muhammad bin Zain bin Sumaith, Majma’ al-Bahrain karya Syaikh Bajammal, ‘Iqd al-Yawâqît karya Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, asy-Syajarah al- ’Alawiyyah, dan sebagainya.
  3. Kitab-kitab fiqih. Di antaranya al-Majmu’ Syarh al- Muhadzdzab karya al-Imam an-Nawawi, al-Madkhal karya Ibn al-Haj, al-Asybah wa an-Nazhâir susunan al-Imam as-Suyuthi, Bughyah al-Mustarsyidîn karangan al-Imam Abdurrahman al-Masyhur, Mathlab al-Iqâzh karya al-‘Allamah Abdullah Bilfaqih, dan sebagainya.
  4. Kitab-kitab tafsir dan Ulumul-Quran. Seperti, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Baghawi, al-Iklîl dan al-Itqân, keduanya karya as-Suyuthi, dan sebagainya.
  5. Kitab-kitab hadits dan syarahnya. Seperti, Shahih al- Bukhari, Syarh Shahih Muslim oleh al-Imam an-Nawawi, Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya al-Jurdani, dan kitab-kitab lain.
  6. Diwan-diwan (kitab-kitab kumpulan syair), baik diwan orang-orang terdahulu seperti al-Imam asy-Syafi’i atau diwan para Sâdah ‘Alawiyyin seperti Diwan al-Imam al-Haddad, Diwan al-Habib Ali al-Habsyi, Diwan al- Imam Ahmad bin Umar bin Sumaith, Diwan al-Imam Abdullah bin Husain bin Thâhir, dan sebagainya.
  7. Kitab-kitab bahasa. Pengarang telah mengatakan bahwa ia hanya mengutip dari kitab Tahdzîb al-Asma wa al- Lughât, karya al-Imam an-Nawawi.
  8. Kitab-kitab kumpulan dan kitab-kitab para Sâdah ‘Alawiyyin. Di antaranya Majmu’ Mawâ’izh wa Kalam al-Habib ad-Da’iyah Ahmad bin Umar bin Sumaith, Tatsbît al-Fuâd yang merupakan perkataan-perkataan al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, kumpulan perkataan imam para ulama mutaakhirin, Syaikhul Islam Ahmad bin Hasan al-Attas, an-Nahr al-Maurûd, ucapan-ucapan al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, al-Majmu’ ath-Thâhiri yang merupakan risalah-risalah, surat-surat, dan ucapan-ucapan al-Imam Abdullah bin Husain bin Thahir, dan wasiat-wasiat saudaranya, al- Habib Thâhir, dan sebagainya.

    Pengarang juga berpegang pada sejumlah kitab para Sâdah seperti Ma’ârij al-Hidâyah karya asy-Syaikh Ali bin Abu Bakar as-Sakran, al-Qirthâs karya al-Habib Ali bin Hasan al-Attas, Fath Bashâir al-Ikhwan karya ‘Allamah ad-Dunya Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, dan sebagainya. Ini di samping karangan-karangan al-Imam al-Haddad yang telah disebutkan sebelumnya pada bagian kitab-kitab tasawuf dan adab.

Proses yang Dilakukan dalam Penyusunan Kitab Ini

Dengan anugerah-Nya, Allah telah menetapkan untuk kitab ini kemauan seorang anak yang berbakti kepada ayahnya, yaitu anak pengarang sendiri al-Ustadz as-Sayyid Muhammad bin  Zain bin Sumaith. Dia telah mengeluarkan pokok-pokok, lembaran- lembaran,  dan  konsep-konsep  kitab   ini   yang   berserakan  di perpustakaan ayahnya. Dia kibaskan debu-debu yang mengotorinya dan berusaha melalui tim ilmiah di Dar al-‘Ilim wa ad-Da’wah untuk mengurus kitab ini dan memunculkannya dalam spesifikasi yang terbaik. Untuk itu, dia telah mencurahkan waktu, usaha, dan hartanya dengan harapan mendapatkan pahala yang besar dan keberkahan di dunia dan di akhirat.

Khidmat terhadap kitab ini dapat diringkaskan dalam beberapa hal berikut:

  1. Menepatkan matannya dengan harakat yang semestinya dan membuat penomoran-penomoran dengan teliti.
  2. Men-takhrij-kan hadits-hadits Nabi yang marfu’. Di dalam kitab ini juga terdapat beberapa hadits dhaif, yang dikutip oleh pengarang mengikuti pandangan ulama bahwa boleh menggunakan hadits-hadits dhaif dalam masalah-masalah keutamaan. Sebagian hadits-hadits yang disebutkan terkandung dalam nash-nash yang dikutip oleh pengarang dari kitab-kitab yang disebutkan oleh pengarangnya. Maka, sebagian matan hadits diriwayatkan bil-ma’na (sesuai maksud, tidak tepat seperti matannya). Hal itu kami sebutkan di beberapa tempat.
  3. Mengenalkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam kitab ini, baik dari kalangan Sâdah Ba ‘Alawi maupun yang lainnya. Setiap tokoh yang riwayat hidupnya tidak didapati oleh pembaca di suatu tempat (bagian) dari kitab ini, biasanya telah disebutkan sebelumnya, kecuali jika tokoh itu adalah seorang sahabat atau termasuk tokoh yang telah sangat dikenal oleh orang pada umumnya, seperti para imam yang empat dan Khulafaur-Rasyidin. Tokoh-tokoh seperti itu tidak kami sebutkan riwayat hidupnya.
  4. Menyebutkan sumber dari kutipan-kutipan pengarang, yang mudah didapatkan tanpa diberi komentar, dan memberikan beberapa penjelasan.
  5. Berkonsultasi dengan pengarang mengenai beberapa bagian yang sulit bagi kami ketika mengerjakannya, serta menambahkan beberapa subjudul yang bermanfaat.
  6. Membuat indeks ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, atsar, tokoh, karangan, tempat, serta dua daftar isi dari materi kitab, yang rinci dan yang global.
  7. Menerbitkan kitab ini disertai riwayat hidup yang memadai tentang pengarang, yang kami kumpulkan dengan bantuan putranya, Sayyid Muhammad. Lalu kami ikuti sekilas, pengenalan mengenai Thariqah Sâdah Ba ‘Alawi yang ditulis oleh seorang peneliti, Iyad al-Ghauj sebagai pengantar bagi para pembaca yang belum mengenal thariqah ini.
  8. Kami mengulang-ulang pada kitab ini—setelah melakukan segala hal di atas—koreksi dan memastikan keselamatan teksnya dari kesalahan, sesuai dengan kadar kemampuan, hingga—menurut penglihatan kami— bersih dan kemungkinan kecil didapati kesalahan, insya Allah.[]

Glossary Tasawuf

جامع الأصول في الأولياء – معجم الكلمات الصوفية

السيد أحمد النقشبندي الخالدي

Published

on

Glossary Tasawuf

Mukadimah

Tidak diragukan, penggunaan orientasi sufisme dan budaya sufisme untuk memahami ungkapan dan istilah khusus mereka, menjadi tugas yang sangat sulit bagi pembaca. Terutama, jika ungkapan dan istilah tersebut sengaja menggunakan bahasa yang pemahamannya berkaitan dengan indikasi keimanan dan dimensi intuisi.

Ternyata, penulis telah menyadari tugas itu dan berdedikasi membuat pengantar yang sempurna. Di akhir bukunya, dia menulis kamus kosa kata sufi untuk menjelaskan konsep-konsep, yang dinamai “definisi-definisi”. Meskipun dia secara total menggunakan bahasa elite, tetapi dia menghendaki bukunya untuk umum. Di dalam bukunya, dia melakukan klasifikasi konsep-konsep dan indikasi-indikasi ke dalam tiga kategori yang penjelasannya ditujukan kepada umum, elite, dan super elite. Oleh karena itu, penulis menerbitkan sebuah buku yang komprehensif tentang tema tarekat sufisme, macam-macamnya, penjelasan substansinya, dan syarat-syarat murid, untuk pembaca di setiap ruang dan waktu.

Gaya langka yang digunakan penulis di awal bukunya, yang menulis “Ini tiada tandingan dan tiada lagi”, menunjuk dengan jelas kepada standar buku Arab terdahulu pada abad-abad yang lalu dan penghormatan penulis kepada pembaca mengenai isi sistematika kepenulisan, jika boleh dikatakan, di berbagai standar. Maka, buku ini tidak dilahirkan kecuali setelah menjadi pekerjaan sempurna dan komplementer yang menyentuh tema, penjelasan, perincian, dan menyampaikan berbagai titik perspektif secara menyeluruh. Untuk mencapai level ini, disyaratkan telah mendapatkan perhatian para ilmuwan dan para tokoh pemikiran lain yang mendukung dan memberi “kesaksian” penghargaan tentang pekerjaan yang telah diselesaikan sebagai proposal yang memiliki unsur kebaruan (novelty).

Oleh karena itu, buku yang ada di hadapan kita ini telah mendapatkan ucapan selamat dari empat ilmuwan kontemporer pada waktu itu. Mereka memujinya. Salah satu dari mereka berpendapat, “(Penulis) telah menyelami, melakukannya dengan baik, dan mendisiplinkan”. Yang lain berpendapat, “(Buku ini adalah) risalah yang komplit tentang dasar-dasar tarekat dan koleksi komprehensif tentang adab-adab sufisme”.

Terakhir, semoga kita diberi taufik untuk menjaga amanah adab dan menyajikan buku yang ada di hadapan kita sebagaimana seharusnya.[Jamal]

Continue Reading

Pustaka

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Published

on

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Banyaknya problematika hidup yang semakin kompleks di zaman modern ini sering kali menjadikan manusia terkungkung dengan berbagai kebingungan dan tekanan-tekanan batin yang semakin tak menentu. Banyak manusia yang disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi yang setelah dirasa-rasakan ternyata tidak memberikan apa-apa selain kelelahan. Banyak manusia pun yang menjadi pemburu harta, sebab dikiranya dengan itu semua mereka akan menjadi mulia dan bahagia. Tetapi setelah di rasa-rasakan pemburuan terhadap harta tak lebih dari dari sekedar kelelahan, kebingungan bahkan penderitaan batin yang yang tiada ujungnya. Banyak orang yang tak merasa bahwa harta sesungguhnya telah memperbudak dirinya dan telah meracuni pikirannya. Hingga sampai pada ujungnya mereka tidak sadar bahwa harta tak sanggup memberikan kebahagiaan bagi hidupnya dan berburu harta tak semakin menjadikan manusia puas, malah menjadi makhluk yang ambisius yang tak pernah merasakan cukup.

Dalam sadar, bagi mereka yang secara materi berkecukupan dan bergelimangan harta, mereka mulai sadar bahwa ada kebahagiaan lain yang itu tidak akan diberikan oleh harta. Tetapi bagi mereka yang gagal, hidup melarat secara materi, mereka merasakan bahwa pencarian dunia malah menjadikan mereka jauh dari kebahagiaan. Pada saat seperti itulah, secara kodrati manusia lari kepada agama. Mereka mulai sadar bahwa hanya pada agama kebahagiaan hakiki akan diketemukan.

Dalam berbagai kasus, banyaknya masalah-masalah hidup yang tak kunjung habis membuat manusia mencari jalan alternatif untuk mengatasi masalah-masalahnya. Dan salah satu alternatif tersebut adalah dalam tasawuf. Fakta membuktikan bahwa kian banyak orang memasuki dunia mistik dalam islam ini. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya orang-orang yang masuk dalam suatu tarikat maupun mengikuti jamaah dzikir yang diadakan oleh para pecinta Tuhan itu. Juga bisa dilihat dalam penerbitan sekaligus penjualan buku-buku tentang tasawuf yang semakin marak. Gejala ini menunjukkan bahwa tasawuf ternyata banyak diminati oleh banyak orang sebagai cara alternatif untuk mencapai ketenangan batin. Sayangnya masih saja banyak orang yang memasuki dunia ini dengan tanpa bekal yang memadai. Hingga secara mendasar mereka banyak salah dalam meresepsikan arti tasawuf itu sendiri sekaligus salah, bahkan cenderung menyimpang dalam mengamalkan latihan-latihan atau olah batin (riyadhah) yang merupakan ajarannya.

Berangkat dari kenyataan seperti itu kajian dalam buku ini disusun. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang tentu selalu membutuhkan benahan, masukan atau bahkan kritikan dari pihat manapun, setidak-tidaknya buku ini mempunyai daya guna dan manfaat terutama bagi para pembaca yang ingin mengarungi dunia tasawuf.

Akhirnya, semoga Allah menilai karya yang masih jauh dari sempurna ini sebagai bentuk ibadah. Juga saya ucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberi kontribusi dalam bentuk apapun, terutama kepada keluarga, istri dan anak sehingga karya ini dapat terselesaikan. Terakhir, kepada pihak penerbit saya haturkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas penerimaan naskah ini. Semoga Allah senantiasa membalas semua amal baik kita semua. Aamiin.[Asrifin An-Nakhrowi]

Continue Reading

Pustaka

Tasawuf Aceh; Mengungkap Kembali Khasanah Klasik Keislaman Tanah Rencong

Penulis: Sehat Insan Shadhiqin

Published

on

Tasawuf Aceh

Sejarah seakan berulang. Apa yang terjadi hari ini seolah terjadi lagi di masa depan. Mungkin saja dengan tempat dan objek yang berbeda. Namun, nilai dan hakikatnya selalu sama. Ini yang dikatakan Allah dalam al-Quran bahwa manusia mesti belajar dari apa yang dialami oleh nenek moyangnya. Apa yang baik dari mereka mesti menjadi pelajaran dan apa yang keliru yang telah mereka lakukan, maka hendaknya kita menghindarinya. Tujuannya, manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di didunia dan tempat kembali yang baik di akhirat kelak.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu usaha untuk menulis sebagai khasanah klasik Aceh, agar kekayaan dan kebanggaan Aceh masa lalu dapat memerikan manfaat untuk kahidupan masyarakat saat ini, bukan hanya untuk masyarakat Aceh sendiri, namun untuk umat Islam Melayu seluruhnya. Khusus bagi Aceh, khasanah pemikiran klasik ini semakin penting untuk melacak jejak Syariat Islam dalam sejarah Aceh masa lalu. Selama ini Syariat Islam selalu dikaitkan dengan kemajuan Aceh tempoe doloe.  Bagaimana mungkin ia bisa menjadi rujukan jika rujukan itu sendiri tidak jelas bentuknya? Hanya dengan studi khusus mengenai faham beragama masyarakat Aceh masa lalu sajalah kita bisa mendapatkan sebuah konstruk pemahaman dan pelaksanaan Syariat Islam masa lalu di Aceh untuk bisa menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Dorongan yang paling besar dari penulisan ini adalah tumbuhnya semangat menulis dan diskusi tentang berbagai masalah di Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah kontemporer di kalangan anak muda Aceh saat ini. Wacana penulisan dan pengkajian berbagai khasanah klasik Aceh mendapat porsi besar dalam pembicaraan di warung kopi dan  milis. Beberapa “anak muda gila” menginginkan diskusi tersebut menjadi sebuah relita yang tertulis. Apalag ada di antara mereka yang memiliki bukti historis mengenai sejarah Aceh masa lalu berupa benda budaya dan catatan lama (manuskrip). Sangat disayangkan jika saja potensi tersebut  tidak direalisasikan dalam wujud studi yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Studi ini merupakan langkah awal untuk “memotret” pemikiran dan perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu, sekaligus realisasi  semangat yang tercecer  di warung kopi. Bagi saya tasawuf Aceh masa lalu bukanlah sekadar tasawuf sebagaimana dipahami saat ini, namun ia adalah Islam itu sendiri. Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Islam di Aceh pada masa lalu dan dokumen-dokumen tertulis yang diperoleh saat ini diberbagai tempat, menunjukkan kalau Islam yang berkembang di Aceh masa lalu adalah Islam dalam dimensi tasawuf. Meskipun dalam sejarah  tercatat Ar-Raniry pernah melakukan mihnah untuk faham wujudiyah Hamzah Fansuri  dan Syamsuddin as-sumatrani, namun ia juga mengembangkan tasawuf Rifa’iyah dalam masyarakat Aceh. Berbagai buku yang dikarangnya juga tidak terlepas dari dimensi tasawuf. Hanya saja, arraniry akhirnya mempengaruhi sultan untuk memberikan tindakan politik bagai ajaran Hamzah Fansuri dan pengikutnya.

Namun demikian, saya mengakui kajian ini tidak akan sampai ke tangan pembaca tanpa bantuan beberapa antuan teman. Terutama sekali, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk BANDAR PUBLISHING yang dimotori oleh Mukhlisuddin Ilyas , Lukman Emha, Husaini Nurdin,Tgk. Jabbar dan Khairul Umami. Atas dorongan dan motivasi, serta beberapa koreksi yang mereka berikan menjadikan buku ini menurut saya menjadi sempurna. Tanpa Mukhlis dkk, mungkin buku ini masih “bersemayam” dalam hard disk laptop, berupa out line dan draf kasar, ataupun sebuah cerita yang selalu saya lantunkan di warung kopi.

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk  teman-teman di warkop Philo-Sophia, atas internet gratis dan tentu saja yang paling penting  adalah diskusi-diskusi “langit”. Terima ksih untuk bapak Zulkarnaini di Pustaka Paskasarjana IAIN ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Sayed di Pustaka Ali Hasimy, dan Prof. Yusny Saby yang telah memberikan komentar untuk buku ini. Pengantar ini bukan hanya mengantarkan pembaca pada pemahaman yang benar mengenai tasawuf, namun juga mengantarkan saya memahami dengan tepat apa yang telah saya tulis.

Terima kasih ta’zim saya sampaikan kepada Nur Ibrahim NK, orang tua dan guru saya sepanjang masa. Dari beliaulah Allah curahkan saya kecintaan pada pengetahuan, dan keterbukaan hati untuk menghormati perbedaan dalam hidup. Terima kasih juga untuk iu dan adik-adik saya semuanya. Mereka semua adalah para “profesor” yang di hadapan mereka saya menjadi bodoh, bahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele sekalipun. Terima kasih juga untuk keluarga Yahbit dan Pakloet di Banda Aceh yang menjadi rumah kedua dalam kehidupan saya saat ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada saudari Cut Aina Shaharina Putri yang menjadi teman diskusi dalam masalah non teknis, apapun dalam kehidupan saya. Salam untuk bapak dan keluarga semuanya.

Saya menyadari karya ini tidaklah sempurna dan masih jauh dari sebuah studi ilmiah sebagaimana layaknya. Saya masih bahkan terlalu banyak menggunakan referensi sekunder dan bahkan beberapa di antara sebenarnya  tidak layak dijadikan rujukan. Namun saya tetap berharap, sumbangan pemikiran dan kajian ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kajian sejarah di Aceh. Dan yang paling penting, ini dapat menjadi semangat awal bagi teman-teman kelompok diskusi yang selama ini hanya membuang ide di bawah kolong meja kedai kopi. Mari kita mulai menulis! Saya tidak mau mendengar apa yang ada katakan, tapi saya mau membaca apa yang anda pikirkan.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending