Connect with us

Kitab

Thariqah Alawiyah; Jalan Lurus Menuju Allah

Al-Manhaj as-Sâwiy, Syarh Ushûl Tharîqah as-Sâdah Âl Bâ ‘Alawi

Karya al-‘Allamah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith

Published

on

Thariqah Alawiyah

Kitab ini merupakan penjelasan yang luas tentang prinsip-prinsip dan adab menuju Allah dalam Thariqah Sâdah Âl Ba ‘Alawi. Dalam hal ini, pengarang menjadikan titik tolaknya adalah ungkapan menyeluruh dari al-Imam al-Muhaqqiq al-Habib Ahmad  bin  Zain al-Habsyi (wafat 1145 H), yang dimakamkan di al-Hauthah, “Thariqah Sâdah Âl Ba ’Alawi adalah ilmu, amal, wara’, khauf, dan ikhlas.”

Bagian-Bagian Kitab dan Kandungannya

Pengarang membagi kitab ini menjadi lima bagian besar, sesuai dengan lima sifat yang disebutkan oleh Habib Ahmad bin Zain, dan menandai masing-masingnya dengan keadaan tertentu. Maka kandungan-kandungan kitab ini adalah sebagai berikut:

  • Keadaan pertama, ilmu. Karena luasnya pembahasan, keadaan ini yang mencakup hampir setengah kitab, maka pengarang menjelaskannya dalam sepuluh bab, masing- masing bab memiliki sejumlah pasal, dan dilengkapi dengan penutup.
  • Keadaan kedua, amal. Pengarang menjelaskannya dalam mukadimah dan sepuluh pasal.
  • Keadaan ketiga, wara’. Penjelasannya terbagi dalam mukadimah dan enam pasal.
  • Keadaan keempat, khauf. Penjelasannya seperti yang sebelumnya, yakni dalam mukadimah dan enam pasal.
  • Keadaan kelima, ikhlas. Karena luasnya masalah- masalahnya, maka penjelasannya setelah mukadimah mencakup tiga bab yang memiliki sejumlah pasal.

Metode Syarh

Metode  syarh  (penjelasan)  yang  digunakan   pengarang  dalam kitabnya ini adalah memulai pembicaraannya dengan mukadimah, yang menjadikan orang memerhatikan pentingnya keadaan yang dibicarakan dan yang berhubungan dengannya secara global, kemudian mengutip ucapan Habib Idrus bin Umar al-Habsyi dalam menjelaskan maknanya secara umum, selanjutnya beralih pada pasal-pasal penjelasan.

Setelah membuka masing-masing pasal dengan pengantar, maka pengarang menyebutkan nash-nash syariah yang sesuai dengan setiap pasal,  dimulai  dengan  ayat-ayat  Al-Qur’an, lalu hadits-hadits Nabi, ucapan-ucapan para salaf, kemudian perkataan Sâdah Ba ‘Alawi, di mana masing-masing nash diberi komentar, penjelasan, dan keterangan. Selanjunya pengarang mengomentari pasal yang sedang dibahas dengan hal-hal yang sesuai dengannya, berupa masalah-masalah dan peringatan- peringatan, manfaat-manfaat dan hikayat-hikayat, dan sebagainya. Sehingga masing-masing pasal menjadi lengkap dalil- dalilnya, masalah-masalahnya, dan segala yang menyertainya. Kemudian pengarang mengakhiri pembahasannya dengan penutup, jika diperlukan dan dipandang relevan dengan yang dibicarakan. Inilah metode yang digunakan pengarang dalam kitab ini secara umum. Pengarang juga memerhatikan kaitan dan kesesuaian di antara pasal-pasal yang dibicarakan.

Bahan-Bahan Rujukan

Dalam mengumpulkan materi kitab ini, pengarang berpegang pada berbagai sumber dan kitab yang beragam, yang diambilnya selama bertahun-tahun sampai terkumpul materi yang memadai, dan disusun dalam rangkaian yang sangat bernilai. Sejumlah sumber masih berupa tulisan tangan. Kemudian pengarang membuat hal-hal berharga dari  kitab-kitab  itu  menjadi  sesuatu yang menyenangkan bagi orang yang melihatnya. Di  banyak tempat, pengarang menyebutkan dengan jelas sumber- sumbernya. Pengarang banyak menyebutkan nash-nash dan manfaat-manfaat dari materi yang sangat banyak, yang ada dalam ingatannya. Apa yang kami kemukakan di sini terbatas pada apa yang pengarang sebutkan.

Sumber-sumber tersebut berasal dari bermacam-macam disiplin ilmu. Kami susunkan di sini agar menjadi jelas bagi pembaca, betapa beragam dan kayanya materi kitab ini.

  1. Kitab-kitab adab dan tasawuf, terutama kitab Ihyâ ’Ulumuddin di mana seorang pengarang sangat butuh untuk mengambil bekal darinya. Juga karangan- karangan Hujjatul Islam al-Ghazali yang lain pada umumnya. Selanjutnya, karangan-karangan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, surat-surat, dan ucapan- ucapannya. Misalnya, Risalah al-Mu’âwanah, Risalah al-Mudzâkarah, ad-Da’wah at-Tâmmah, al-Fushûl al- ’Ilmiyyah, ad-Diwân, kumpulan-kumpulan ucapannya yang bernama Tatsbît al-Fuâd, dan lain-lain. Juga kitab- kitab an-Nawawi seperti at-Tibyân dan al-Adzkâr. Selain itu, kitab Tadzkirah as-Sâmi’ wa al-Mutakallim karya al-Badr bin Jamâ’ah, Adab al-Muta’allimîn karya ath- Thusi, dan sebagainya.
  2. Kitab-kitab biografi, sirah, dan manaqib. Kitab tentang sirah di antaranya adalah Zad al-Ma’âd karya Ibn al- Qayyim. Sedangkan kitab-kitab biografi dan manaqib adalah seperti Nasyr al-Mahâsin al-Ghâliyah karya al- Yâfi’i, al-Masyra’ ar-Râwi karya asy-Syilli, al-Fawâid as- Saniyyah karangan al-Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Qurrah al-’Ain dan Bahjah az-Zamân, keduanya karya al-Imam Muhammad bin Zain bin Sumaith, Majma’ al-Bahrain karya Syaikh Bajammal, ‘Iqd al-Yawâqît karya Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, asy-Syajarah al- ’Alawiyyah, dan sebagainya.
  3. Kitab-kitab fiqih. Di antaranya al-Majmu’ Syarh al- Muhadzdzab karya al-Imam an-Nawawi, al-Madkhal karya Ibn al-Haj, al-Asybah wa an-Nazhâir susunan al-Imam as-Suyuthi, Bughyah al-Mustarsyidîn karangan al-Imam Abdurrahman al-Masyhur, Mathlab al-Iqâzh karya al-‘Allamah Abdullah Bilfaqih, dan sebagainya.
  4. Kitab-kitab tafsir dan Ulumul-Quran. Seperti, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Baghawi, al-Iklîl dan al-Itqân, keduanya karya as-Suyuthi, dan sebagainya.
  5. Kitab-kitab hadits dan syarahnya. Seperti, Shahih al- Bukhari, Syarh Shahih Muslim oleh al-Imam an-Nawawi, Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya al-Jurdani, dan kitab-kitab lain.
  6. Diwan-diwan (kitab-kitab kumpulan syair), baik diwan orang-orang terdahulu seperti al-Imam asy-Syafi’i atau diwan para Sâdah ‘Alawiyyin seperti Diwan al-Imam al-Haddad, Diwan al-Habib Ali al-Habsyi, Diwan al- Imam Ahmad bin Umar bin Sumaith, Diwan al-Imam Abdullah bin Husain bin Thâhir, dan sebagainya.
  7. Kitab-kitab bahasa. Pengarang telah mengatakan bahwa ia hanya mengutip dari kitab Tahdzîb al-Asma wa al- Lughât, karya al-Imam an-Nawawi.
  8. Kitab-kitab kumpulan dan kitab-kitab para Sâdah ‘Alawiyyin. Di antaranya Majmu’ Mawâ’izh wa Kalam al-Habib ad-Da’iyah Ahmad bin Umar bin Sumaith, Tatsbît al-Fuâd yang merupakan perkataan-perkataan al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, kumpulan perkataan imam para ulama mutaakhirin, Syaikhul Islam Ahmad bin Hasan al-Attas, an-Nahr al-Maurûd, ucapan-ucapan al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, al-Majmu’ ath-Thâhiri yang merupakan risalah-risalah, surat-surat, dan ucapan-ucapan al-Imam Abdullah bin Husain bin Thahir, dan wasiat-wasiat saudaranya, al- Habib Thâhir, dan sebagainya.

    Pengarang juga berpegang pada sejumlah kitab para Sâdah seperti Ma’ârij al-Hidâyah karya asy-Syaikh Ali bin Abu Bakar as-Sakran, al-Qirthâs karya al-Habib Ali bin Hasan al-Attas, Fath Bashâir al-Ikhwan karya ‘Allamah ad-Dunya Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, dan sebagainya. Ini di samping karangan-karangan al-Imam al-Haddad yang telah disebutkan sebelumnya pada bagian kitab-kitab tasawuf dan adab.

Proses yang Dilakukan dalam Penyusunan Kitab Ini

Dengan anugerah-Nya, Allah telah menetapkan untuk kitab ini kemauan seorang anak yang berbakti kepada ayahnya, yaitu anak pengarang sendiri al-Ustadz as-Sayyid Muhammad bin  Zain bin Sumaith. Dia telah mengeluarkan pokok-pokok, lembaran- lembaran,  dan  konsep-konsep  kitab   ini   yang   berserakan  di perpustakaan ayahnya. Dia kibaskan debu-debu yang mengotorinya dan berusaha melalui tim ilmiah di Dar al-‘Ilim wa ad-Da’wah untuk mengurus kitab ini dan memunculkannya dalam spesifikasi yang terbaik. Untuk itu, dia telah mencurahkan waktu, usaha, dan hartanya dengan harapan mendapatkan pahala yang besar dan keberkahan di dunia dan di akhirat.

Khidmat terhadap kitab ini dapat diringkaskan dalam beberapa hal berikut:

  1. Menepatkan matannya dengan harakat yang semestinya dan membuat penomoran-penomoran dengan teliti.
  2. Men-takhrij-kan hadits-hadits Nabi yang marfu’. Di dalam kitab ini juga terdapat beberapa hadits dhaif, yang dikutip oleh pengarang mengikuti pandangan ulama bahwa boleh menggunakan hadits-hadits dhaif dalam masalah-masalah keutamaan. Sebagian hadits-hadits yang disebutkan terkandung dalam nash-nash yang dikutip oleh pengarang dari kitab-kitab yang disebutkan oleh pengarangnya. Maka, sebagian matan hadits diriwayatkan bil-ma’na (sesuai maksud, tidak tepat seperti matannya). Hal itu kami sebutkan di beberapa tempat.
  3. Mengenalkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam kitab ini, baik dari kalangan Sâdah Ba ‘Alawi maupun yang lainnya. Setiap tokoh yang riwayat hidupnya tidak didapati oleh pembaca di suatu tempat (bagian) dari kitab ini, biasanya telah disebutkan sebelumnya, kecuali jika tokoh itu adalah seorang sahabat atau termasuk tokoh yang telah sangat dikenal oleh orang pada umumnya, seperti para imam yang empat dan Khulafaur-Rasyidin. Tokoh-tokoh seperti itu tidak kami sebutkan riwayat hidupnya.
  4. Menyebutkan sumber dari kutipan-kutipan pengarang, yang mudah didapatkan tanpa diberi komentar, dan memberikan beberapa penjelasan.
  5. Berkonsultasi dengan pengarang mengenai beberapa bagian yang sulit bagi kami ketika mengerjakannya, serta menambahkan beberapa subjudul yang bermanfaat.
  6. Membuat indeks ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, atsar, tokoh, karangan, tempat, serta dua daftar isi dari materi kitab, yang rinci dan yang global.
  7. Menerbitkan kitab ini disertai riwayat hidup yang memadai tentang pengarang, yang kami kumpulkan dengan bantuan putranya, Sayyid Muhammad. Lalu kami ikuti sekilas, pengenalan mengenai Thariqah Sâdah Ba ‘Alawi yang ditulis oleh seorang peneliti, Iyad al-Ghauj sebagai pengantar bagi para pembaca yang belum mengenal thariqah ini.
  8. Kami mengulang-ulang pada kitab ini—setelah melakukan segala hal di atas—koreksi dan memastikan keselamatan teksnya dari kesalahan, sesuai dengan kadar kemampuan, hingga—menurut penglihatan kami— bersih dan kemungkinan kecil didapati kesalahan, insya Allah.[]

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

By

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Fase Kehidupan di Alam Dunia (2)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Kehidupan di Alam Dunia

Tujuan dan Tugas Hidup Manusia di Alam Dunia

Untuk apa manusia diciptakan dan menjalani kehidupan di alam dunia? Sebagai orang yang beriman kita wajib yakin dan percaya, bahwa Allah SWT tidak mungkin menciptakan suatu makhluk sekecil apapun kecuali pasti didasarkan pada maksud dan tujuan yang sangat agung. Mustahil Dia menciptakan sesuatu sia-sia belaka tanpa ada maksud dan tujuan.10 Oleh karena itu, kita wajib meyakini dengan sepenuh hati bahwa penciptaan manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan sempurna pasti didasarkan pada tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang sangat mulia sebagai berikut:

1.   Mengabdi dan beribadah kepada Allah SWT.

Menurut ajaran Islam, tujuan utama penciptaan manusia sebagai makhluk yang hidup di alam dunia adalah agar mereka benar-benar menjadi hamba Allah (abdullah). Seseorang layak menyandang predikat sebagai hamba Allah (abdullah) yang hakiki, jika ia telah memiliki iman yang mantap serta bersedia mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Karena predikat sebagai hamba Allah mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan diri kepada Allah SWT secara total inilah yang disebut Islam. Dengan demikian, seseorang berhak menyandang predikat sebagai muslim atau muslimah (pria atau wanita yang beragama Islam), jika ia telah menyerahkan diri secara total kepada Allah SWT untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Dzariyah (51) ayat 56:

“Dan Aku tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi dan beribadah kepada-Ku”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Bayyinat (98) ayat 5:

“Dan mereka tidak disuruh melainkan agar menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; Yang demikian itulah agama yang lurus”.

Firman Allah SWT di atas menunjukkan bahwa tujuan penciptakan manusia serta tugas yang harus dilaksanakan dalam kehidupan di alam dunia ini, tiada lain adalah; menyerahkan diri secara total kepada Allah SWTdengan melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada-Nya.Hal inibukan berarti bahwa seluruh waktu manusia sepanjang hayatnya harus dipergunakan untuk salat, puasa, membaca al-Qur’an, wirid dan bentuk-bentuk ibadah formal yang lain saja. Karena yang dimaksud dengan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah adalah: kesediaan manusia untuk mendasarkan semua amal perbuatannya dengan aturan-aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam haditnya. Aturan-aturan tersebutmeliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, baik dalam memenuhi kebutuhan lahiriah maupun batiniah, serta baik dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT (hablun minallah) maupun dalam melakukan interaksi dengan sesama manusia (hablun minannas).

2.   Sebagai Khalifah Allah di Muka Bumi

Sebagai makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna—yang dilengkapi dengan ruh, akal, qalbu, dan nafsu di samping anggota badan—manusia diberi amanat untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Sebagai khallifah, tugas manusia adalah mengolah, memanfaatkan dan menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya, sehingga manfaat dan maslahat, baik bagi manusia yang hidup pada masa kini, maupun bagi anak cucu yang hidup di kemudian hari. Agar manusia dapat melaksanakan tugas sebagai khalifatullah fi al-ardl, maka Allah SWT telah menganugerahkan fisik yang kuat dan sempurna, serta berbagai potensi rohaniah, bakat, minat dan talenta yang beragam sehingga mereka saling melengkapi dan bersinergi dalam membangun bumi. Dengan nafsu, manusia mempunyai kehendak dan keinginan untuk memanfaatkan serta mengolah alam. Dengan akal manusia mencari cara yang efektif dan efesien untuk mengolah dan memanfaatkan alam, serta dengan qalbu manusia diarahkan agar tidak serakah dan tidak mempergunakan cara-cara pengolahan dan pemanfaatan alam yang dapat menimbulkan kerusakan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah (2) ayat 30:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Demikian juga firman-Nya dalam surat Hud (11) ayat 61:

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya (orang-orang yang membangun)”.

Sebagai khalifah Allah di muka bumi, manusia harus aktif dan kreatif, bekerja keras serta tidak bermalas-malasan untuk membangun dunia ini sebaik mungkin. Meskipun demikian, manusia harus memperhatikan keselarasan dan menjaga kelestarian alam. Oleh karena itu, menusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan sehingga menimbulkan berbagai dampak lingkungan yang sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia, baik pada masa kini maupun masa yang akan datang.

Di samping itu, dalam membangun dunia ini manusia harus memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan orang lain, tidak boleh egois, hanya mementingkan diri sendiri. Pada masa kini dapat kita perhatikan, betapa banyak sekali orang yang tega mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Betapa banyak pabrik-pabrik yang dibangun di tengah-tengah pemukiman penduduk tanpa memperhatikan bahaya polusi bagi masyarakat sekitarnya. Betapa banyak pabrik yang membuang limbah di sungai sehingga menimbulkan polusi dan berbagai penyakit. Betapa banyak pembangunan yang justru merugikan masyarakat dan rakyat kecil karena menggusur rumah-rumah mereka dengan memberikan ganti rugi yang amat kecil dan jauh di bawah standar. Semua ini jelas dilarang oleh Allah SWT karena merusak lingkungan hidup serta dapat mengancam kelestarian peradaban dan kebudayaan umat manusia. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-A’raf (7) ayat 56:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat Rum (30) ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Qashash (28) ayat 77:

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Islam adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT serta melaksanakan amanah  sebagai  khalifah-Nya  di  muka  bumi  yang  bertugas mengolah, memanfaatkan serta melestarikan alam. Hal ini perlu ditegaskan, karena dewasa ini masih banyak manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya. Akibatnya, banyak  manusia yang beranggapan  bahwa  tujuan  hidup  adalah  untuk  menumpuk-numpuk  kekayaan,  meniti  karier  agar  meraih  kekuasaan  dan jabatan yang tinggi dsb.

Meskipun demikian, bukan berarti manusia tidak boleh mencari kekayaan atau meniti karier untuk mencapai kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Agama Islam memperbolehkan dan bahkan memerintahkan umatnya untuk bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan harta kekayaan atau kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Akan tetapi hal itu bukan menjadi tujuan, melainkan semata-mata sebagai sarana untuk melaksanakan tugasnya dalam beribadah kepada Allah SWT serta sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Oleh karena itu dalam mencari kekayaan atau meniti karier tersebut tidak boleh menyimpang dari peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an dan al-Hadits.

3.   Berdakwah dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Selain beriman, beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi, manusia mempuyai tugas berdakwah dengan melaksanan amar ma’ruf dan nahi munkar. Dakwah adalah suatu ajakan atau seruan kepada orang lain untuk memahami, menghayati, dan melaksanakan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan nyata sehingga tercipta kebahagiaan hidup yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam bukunya Tadzkirat al-Du’at, Bahi al-Huli mendefinisikan dakwah sebagai “upaya memindahkan manusia dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik”.11 Pemindahan situasi ini mengandung makna yang sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik, sains, teknologi, dsb. Berdasarkan definisi tersebut, maka dakwah merupakan proses pemberdayaan individu dan masyarakat untuk melakukan pemindahan atau perubahan situasi, dari kebodohan kepada pengetahuan, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari kemiskinan kepada kehidupan yang sejahtera, dari permusuhan dan perpecahan kepada kasih sayang dan persatuan, dari kekacauan kepada keteraturan, dari suasana mencekam kepada suasana sejuk, damai, dan tenteram.

Menurut Syekh Ali Mahfudz dalam bukunya Hidayatu al-Mursyidin ila Thuruq al-Wa’dli wa al-Khithabah, dakwahadalah; “mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk serta menyeru untuk melakukan perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan buruk (amar ma’ruf nahi munkar) agar mereka

mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat”.12 Berdasarkan definisi tersebut dapat dipahami bahwa pada hakikatnya dakwah adalah segala aktivitas yang bertujuan mengajak orang lain untuk melakukan perubahan dari situasi yang mengandung nilai tidak islami kepada kehidupan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan nilai -nilai Islam, baik dalam bidang akidah, syariah, maupun akhlak. Kewajiban berdakwah ini langsung diperintahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”.

Bersambung….


10 Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 190 – 191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

11 Bahi al-Khuli, Tadzkirat al-Du’at, (Mesir: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1952), h. 27; Quraish Shihab; Membumikan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, Cet. II, 1992), h. 194.

Continue Reading

Artikel

Keutamaan Bulan Syaban dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

KH Zainal Arifin

Published

on

By

Keutamaan Bulan Rajab dalam Kitab Maadzi fi Syaban Karya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki

Hari ini (Rabu, 16/03/2021) memasuki tanggal 2 Syaban 1442 H, artinya sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Pembahasan bulan Syaban merujuk pada Kitab Maadzi fi Syaban yang artinya “Ada apa di bulan Syaban?” Kitab ini disusun oleh putra seorang ulama di kawasan Rusaifah di sebelah utara pusat Kota Mekah, yaitu Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Hasaniy. Saat ini, beliau sudah berpulang ke Ramahatullah. Namun, majelis ilmu di Rusaifah masih terus hidup yang dihadiri oleh murid-murid dari segala penjuru dunia. Beliau adalah pakar hadis dan menjadi guru khususnya ulama Ahlul Sunnah wal Jamaah.

Kitab tersebut dimulai dengan membahas nama Syaban. Secara bahasa, syaban setidaknya mimiliki 3 (tiga) arti, yaitu:

  1. Bulan yang memiliki banyak cabang-cabang kebaikan
  2. Tersebar luas nampak dengan jelas/istimewa
  3. Jalan yang berada di pegunungan

Dari sisi nama, kemuliaan bulan Syaban sebagai gerbang masuknya orang beriman menuju bulan Ramadhan.

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Syaban, yang sekaligus dijadikan sebagai penuntun bagi umat muslim:

  1. Taahwilul Qiblah, yaitu diubahnya kiblat dari Baitul Maqdis menjadi ke arah Kabah, yang sekaligus sebagai isyarat dari Allah agar umat muslim melakukan instropeksi diri dan memperbaharui orientasi hidup. Diantaranya  adalah untuk ibadah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah:”Tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzaariyaat: 56). Ayat ini mengajarkan bahwa hidup dengan orientasi ibadah adalah kebahagiaan dan kenikmatan sejati di dunia dan di akhirat bersama orang-orang sholeh
  2. Rof’ul Amal, yaitu pada bulan Syaban, amal-amal dilaporkan kepada Allah sebagai pelaporan akbar dan pelaporan yang paling luas atau dapat dianalogikan dengan laporan tahunan. Rasulullah SAW selalu berpuasa di bulan Syaban, karena beliau ingin agar saat Malaikat melaporkan tahunan, Rasulullah dalam keadaan sedang berpuasa.
  3. Syahru sholawati ‘ala Nabiyi shalallahu alaihi wassalam, yaitu bulan Syaban adalah bulan shalawatnya kepada Rasulullah. Diantara keistimewaan bulan Syaban adalah Allah menurunkan ayat yang memerintahkan untuk bersholawat dan menyampaikan salam kepada Rasulullah, yaitu dalam QS Al Azhab 56:

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Jika ayat tersebut diperhatikan, terlihat bahwa tidak ada perintah ibadah seperti perintah bersholawat kepada Nabi SAW, karena diawali dengan penegasan bahwa Allah dan Malaikat bersholawat kepada Rasulullah. Artinya, sholawat adalah ibadah yang istimewa. Sekaligus ayat itu menjelaskan bagaimana sholawat kepada Rasulullah dengan benar, yaitu sholawat yang lengkap adalah sholawat dan salam, Allahuma shollu ‘alaihi wa sallimuu tasliima.

Baca juga: Bulan Rajab, Ini Beberapa Amalannya

Selain laporan tahunan, adapula Ar-Rof’ul Shouri yaitu laporan harian. Dalam hadis disebutkan bahwa waktu untuk laporan harian adalah ba’da zawal saat dzuhur. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menjaga 4 rakaat sebelum dzuhur dan 4 rakaat setelah dzuhur, maka Allah haram akan dirinya dari siksa Neraka” (Hadis at-Tirmidzi Nomor 428). Jumhur ulama termasuk Imam Nawawi berpendapat bahwa lebih utama melaksanakan shalat qabliyah dan ba’diyyah dzuhur masing-masing 2 rakaat atau 4 rakaat dengan 2 salam.

Dengan demikian, waktu dzuhur adalah waktu istimewa. Rasulullah SAW bersabda: “Waktu sebelum dzuhur adalah saat pintu-pintu langit dibuka oleh Allah, aku ingin ada amal sholeh yang diangkat ke langit“. Jika Rasulullah yang ma’sum (terjaga dari dosa) berdoa seperti itu, hal ini berarti menjadi motivasi umat muslim untuk melakukan banyak perbaikan dari begitu banyaknya dosa di masa lalu.

Dalam kitab tesebut juga disebutkan keutamaan, keistimewaan dan hakikat sholawat kepada Rasulullah: “Orang yang bersholawat pada Nabi, Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali“. Dan ada riwayat lain yang menjadi penyelamat dan pembela kita yang kurang ibadahnya di dunia.

Ada sebuah riwayat, seorang pemabuk yang bertanya pada guru cara mengatasi mabuknya. Lalu, ia dibimbing oleh gurunya dengan memintanya agar pemabuk itu membaca sholawat untuk nabi berulang kali. Sampai lidahnya terasa manis, menggetarkan hati, dan muncul kerinduan kepada Rasulullah SAW.

Syaban adalah bulan bersholawat. Mari kita persiapkan sebaik-baiknya diri kita untuk ibadah di bulan Ramadhan. Para shalafush sholeh telah berdoa 3 bulan sebelum Ramadhan, yaitu doa tanpa putus agar dapat merasakan bulan Ramadhan sejak bulan Rajab, dan agar diberikan kesehatan dan kekuatan selama di bulan Ramadhan: “Ya Allah Berkahi di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikan serta pertemukan kami kembali dengan bulan Ramadhan”.

Semoga kita termotivasi untuk meningkatkan ibadah mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki bulan Ramadhan, dan berdoa semoga seluruh ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin

Kajian ini disampaikan oleh KH Zainal Arifin dalam Ta’lim Madinah Quran pada hari selasa, 16 Maret 2021 pukul 05.35-06.10.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending