Connect with us

Artikel

Tentang Penganugerahan Dr. HC kepada KH. Afifuddin Muhajir

Published

on

KH. Afifuddin Muhajir

“Selamat untuk Almukarram KH. Afifuddin Muhajir, Rais Syuriah PBNU, atas gelar Doktor Honoris Causa yang beliau terima dari UIN Walisongo Semarang”. KH Afifuddin tidak memerlukan gelar. Namun pemberian gelar ini, menunjukkan bahwa lembaga akademis —dalam hal ini UIN Walisongo— cukup jeli mengetahui dan mengakui keilmuan dan kepakaran beliau. Sekali lagi Selamat. Mabruk alfu-alfi mabruk.” (KH. Ahmad Mustofa Bisri, Mustasyar PBNU, Pengasuh PP Raudlatut Thalibin Rembang).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah salah satu jimat NU. Beliau sanggup menjaga keseimbangan antara al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih dan al-a’akhdzu bil jadidil ashlah. Ini karena beliau mengerti turats klasik sambil terus membaca buku-buku keislaman kontemporer. Semoga Allah SWT memperbanyak orang-orang seperti Kiai Afif ini. (KH Miftachul Akhyar, Rais Am PBNU & Pengasuh PP Miftahus Sunnah Surabaya).

“K.H. Aifuddin Muhajir adalah seorang alim dan penulis yang tawadhu‘, padahal posisi sebagai salah seorang al-raasikhuuna fii al-’ilm patut disematkan kepada kiai ini. Maka penganugerahan gelar Doktor (HC) untuknya sudah pada tempat yang tepat dan benar.” (Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 1998-2005, Pendiri Maarif Institute).

Di lingkungan NU, tak mudah menemukan seorang kiai yang kealimannya disepakati oleh semua. Kiai Afifuddin Muhajir adalah salah satu kiai NU yang kealimannya sudah “mujma’ alaih” itu. Ia telah menjadi marja’ (acuan akademis) di forum-forum bahtsul masail NU, baik di Munas maupun Muktamar. Atas penganugerahan ini saya ucapkan selamat dan sukses. (Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PBNU dan Pengasuh PP al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta).

Gagasan Islam Washatiyah Kiai Afifuddin Muhajir dapat diterima oleh berbagai kalangan baik pada tingkat nasional maupun internasional. Dengan argumen yang logis, obyektif dan rasional, gagasan Kiai Afif ini telah meneguhkan persemaian Ahlussunah Waljama’ah di segala penjuru dunia. Selamat atas penganugerahan Doktor Honoris Causa untuk beliau di UIN Walisongo Semarang. (KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo).

Saya mengenal KH Afifuddin Muhajir sebagai kiai yang hampir seluruh perjalanan hidupnya ditempa dan mengajar di pondok pesantren dengan penguasaan dan penghayatan yang tinggi pada tradisi akademik yang, kata orang, hanya ada di perguruan tinggi. Oleh sebab pemberian gelar doktor honoris causa oleh UIN Walisongo kepada beliau sangat layak dan patut diapresiasi. (Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, guru besar Hukum Tata Negara dan Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah kiai alim yang mengerti teks (nash) dan konteks (siyaq) secara sekaligus. Ia tahu wilayah ta’qquli yang perlu dimasuki aktivitas ijtihad dan wilayah ta’abbudi yang seharusnya sepi dari lalu lalang istinbath. Mungkin karena keunggulan itu, pikiran-pikiran Kiai Afif lebih mudah diterima publik Islam secara luas. Atas penganugerahan doktor honoris causa kepada beliau, saya ucapakan selamat dan semoga maslahat buat umat. (KH Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriyah PBNU).

Kiai Afifuddin Muhajir adalah kiai yang tak hanya berfikir moderat melainkan juga bertindak secara moderat. Ketika muncul pro-kontra tentang suatu masalah di kalangan para ulama, Kiai Afif selalu mencari jalan moderasi dengan melakukan al-jam’u wa al-taufiq. (Ning Hj. Yenny Zannuba Wahid, Pendiri Wahid Foundation).

Saya melihat KH Afifuddin Muhajir sebagai seorang kiai ahli Fiqh yang tidak mau hanya berhenti pada ‘ibârah, melainkan menukik ke relung maqâshid dan mabâdi’; cermat dalam menangkap masalah dan mencari jalan keluar dengan tetap berpegang pada dalil yang kuat. Sudah semestinya kalau gelar doktor dianugerahkan kepadanya. (Prof. Dr. Muhammad Machasin, Musytasyar PBNU dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Salah satu kepiawaian Kiai Afif yang amat menonjol dan dikenal luas adalah di bidang ushul al-fiqh. Dalam banyak kesempatan ia sering menyatakan, untuk memahami teks (ayat, nash), tak cukup hanya mengandalkan kitab tafsir al-Quran semata, apalagi cuma merujuk terjemahannya saja. (Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia Periode 2014-2019).

Penganugerahan Dr. HC kepada KH Afifuddin Muhajir sudah sangat tepat, kerena keahlian Kiai Afif dalam bidang Ilmu Ushul Fiqh sudah sangat masyhur di kalangan peminat ilmu-ilmu keislaman. Selamat dan sukses! (KH Dr. Abdul Malik Madani, Katim Am PBNU Periode 2010-2015, Dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta).

KH Afifuddin Muhajir merupakan sosok unik yang sulit dicari bandingannya. Kemampuan inteleklualitasnya khususnya di bidang ushul fiqh benar-benar mengagumkan, melampaui batas lokalitas, menjangkau dunia global. Semua itu diperolehnya hanya di satu pesantren, Pondok Pesantren Sukorejo Situbonbo. Keilmuan yang benar-benar berkah dan memberkahi dunia keilmuan. Auranya kian bersinar kuat saat intelektualitasnya menyatu dalam kepribadiannya yang sangat rendah hati. (Prof Dr KH Abdul A’la Basyir, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya).

KH Afifuddin Muhajir adalah ulama yang berpikiran moderat, dalam arti kuat menjaga pemikiran Islam tradisional sambil mengapresiasi pemikiran modern. Ia bukan hanya bagus dalam berbicara tetapi juga beliau mampu menulis kitab dalam bahasa Arab fasih, bagai ulama Arab. (KH Husein Muhammad, Pengasuh PP Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon).

Sosok ini sangat santun dan bersahaja. Produk asli pesantren namun wawasannya sangat luas. Semangat mencari ilmu dan rasa ingin tahunya sangat besar. Beliaulah salah satu mutiara terpendam dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo (Prof. Nadirsyah Hosen, P.hD, Monash University dan PCI NU Australia – New Zealand).

K.H. Afifuddin Muhajir adalah kiai alim terutama dalam bidang fikih dan ushul fiqh. Salah satu keistimewaan Kiai Afif adalah kepiawaiannya mendialogkan khazanah kitab kuning dengan diskursus modern. Reputasi akademiknya sangat mengesankan. Ciri nalar fikihnya adalah wasathiyyah, memadukan nushush al-syari’ah dan maqashid al-syari’ah. Sebagaimana umumnya Kiai NU, Kiai Afif menghadirkan diri dalam ekspresi Islam yang ramah dan santun. Selamat atas penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada beliau. Penghargaan ini sangat layak untuk beliau. (Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag, Guru Besar UIN Semarang, Ketum PW IKA PMII Jateng / Wakil Ketua PWNU Jateng).

Gagasan Kiai Afifuddin tentang NKRI dalam perspetif Maqashid al-Syariah, bukan saja merupakan komitmen religiusitas dan nasionalisme beliau, tetapi juga merupakan penuguhan eksistensi NKRI sebagai negara yang secara teologis dan politis memang sudah Islami. (Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Artikel

Model Manajemen Kepemimpinan Transformasional di Bidang Pendidikan

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Mutu proses pendidikan dianggap baik apabila sumber daya sekolah mampu mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk kerangka mutu proses pendidikan ini adalah kesehatan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain- lain.

Hasil pendidikan dikatakan bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurkuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajran tertentu. Selain itu, mutu pendidikan dapat dilihat dari tertib administrasi.

Salah satu model kepemimpinan pendidikan yang diprediksi mampu mendorong terciptanya efektifitas institusi pendidikan adalah kepemimpinan transformasional. Jenis kepemimpinan ini menggambarkan adanya tingkat kemampuan pemimpin untuk mengubah mentalitas dan perilaku pengikut menjadi lebih baik dengan cara menunjukkan dan mendorong mereka untuk  melakukan  sesuatu yang kelihatan mustahil.

Konsep kepemimpinan ini menawarkan perspektif perubahan pada keseluruhan institusi pendidikan, sehingga pengikut menyadari eksistensinya untuk membangun institusi yang siap menyongsong perubahan bahkan menciptakan perubahan. Sejalan dengan yang diungkapkan O’ Leary (2021) menyatakan bahwa Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manager bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.

Seiring dengan perubahan kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah dalam hal ini pondok pesantren, karena aturan regulasi dari pemerintah melalui peraturan kementrian agama yang ada, maka manajemen kepemimpin juga akan mengalami perubahan. Pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan Islam Khas Nusantara.

Secara garis besar metode pendidikan di Pesantren adalah penggabungan antara metode pendidikan modern dan tradisional. Penggabungan dua metode ini didasarkan pada tuntutan zaman, bahwa, kita tidak dapat mengelak dari tantangan, perkembangan, dan kemajuan zaman dengan segala perniknya, tetapi juga kita sepatutnya tidak melepaskan nilai-nilai tradisional yang biasanya mengajarkan tentang nilai-nilai luhur budaya dan agama.

Dr. Suryadi selaku Koordinator Program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman Parung Bogor, memberikan pelatihan terhadap kepala sekolah, guru, santri dan mahasiswa/I dari pondok pesantren tersebut, yang berjumlah 400 peserta via zoom (22/09).

“Ekspektasi pelatihan ini adalah Menjadikan pondok pesantren Sebagai role model dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional bidang Pendidikan,” ungkap Suryadi.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diawali dengan Paparan secara Umum oleh Dr. Suryadi, dilanjutkan oleh dr. Santi Anugerahsari, SpM, M.Sc, FISQua (Kepala SMF Mata RSUD Koja)  menyampaikan materi tentang manajemen kepemimpinan di era covid: cara hidup sehat di era pandemic, dilanjutkan oleh  Nining Parlina, S.Pd. Gr., M.Si (Han) menyampaikan materi tentang Manajemen Kepemimpinan : praktik Mindfullness sebagai strategi Manajemen Stress dikalangan pendidik di era disrupsi.

Materi dilanjutkan oleh Rihlah Nur Aulia,MA (Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Sosial UNJ) memperkuat materi  dengan tema Karakteristik Kepemimpinan Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam.  Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pemateri dari kepala sekolah SMAN 36 Jakarta bapak Drs. Moch Endang Supardi, M.Si., M.Pd menyampaikan Materi tentang Kepemimpinan Transformasional kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di persekolahan. Selanjutnya pemateri pamungkas dari kepala Sekolah SMAN 109 Jakarta menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional dalam manajemen kesiswaan.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari semua peserta, dibuktikan adanya pertanyaan mendalam dari tiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Continue Reading

Artikel

Kurikulum Ecopesantren: Model Pendidikan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Pondok Pesantren (Ponpes) memiliki peran penting dan strategis dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal yang melatar belakanginya. Ponpes merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sehingga keberadaanya sangat mengakar dan berpengaruh ditengah masyarakat.

EcoPesantren adalah program dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dicanangkan sejak tahun 2008. Program ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan peran serta aktif warga pondok pesantren terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup berdasarkan ajaran agama Islam.

Program Eco Pesantren adalah memberdayakan komunitas pesantren dalam meningkatkan kualitas lingkungan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Rihlah Nur Aulia, MA, selaku dosen dan peneliti Ecopesantren bersama dengan Tim melakukan pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) tentang Kurikulum Ecopesantren di era daring bagi guru-guru di Pondok pesantren SPMAA Lamongan. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru pondok pesantren SPMAA Lamongan Jawa Timur.

Dalam paparannya peneliti menyebutkan tujuan dari kegiatan ini untuk melakukan pengarusutamaan ecopesantren melalui penguatan kurikulum dalam pendidikan di Pondok Pesantren.

Peneliti pernah menulis karya ilmiah yang berjudul Management of Ecopesantren Curriculum Development in Forming The Ecopreneurship of Santri kesimpulan dari hasil penelitiannya tersebut pertama, Pesantren SPMAA menerapkan kurikulum manajemen yang berbeda dengan pesantren lain di Indonesia. Kedua, dalam pengelolaan atau pengelolaan kurikulum SPMAA Pesantren mengacu pada kurikulum Nasional, dan ketiga, kurikulum ekopesantren, manajemen kurikulum meliputi; Perencanaan kurikulum: pemetaan kurikulum, silabus, program inkuiri, unit inkuiri, unit perencanaan pembelajaran.

Secara simultan, penataan kurikulum terdiri dari struktur kurikulum, pembagian tugas guru, pengembangan program transdisipliner, pengembangan program transdisipliner, penetapan unit inkuiri untuk setiap jenjang kelas. Selain itu, implementasi kurikulum terdiri dari pengalaman belajar, penilaian, dan laporan hasil belajar. Sedangkan evaluasi kurikulum terdiri dari review unit dan dua review mata pelajaran yaitu review unit dan review mata pelajaran.

Pemateri pada acara ini disampaikan oleh Faisal M. Jasin, ST, M.Si, dari kementerian KLHK,  Ibu Dr. Amaliyah, M.Pd, sebagai  salah satu dosen Kurikulum FIS UNJ, dan Ibu Rihlah Nur Aulia, MA sebagai dosen UNJ, karena di era corona dalam suasana pembelajaran daring, maka kegiatan ini juga diperkuat oleh dr. Santi Anugrahsari, SpM, MSc, FISQua dari  kepala SMF Mata RSUD Koja.

Continue Reading

Artikel

Selayang Pandang tentang Thariqah ‘Alawiyah

(Jalan Lurus menuju Allah)

Published

on

Thariqah 'Alawiyah

Jadilah seorang Asy’ari dalam aqidahmu
karena ia Sumber yang bersih dari penyimpangan dan kekufuran
Imam sandaran kita telah menyusun aqidahmu
Dan itulah penyembuh dari bahaya
Yang kumaksud dengannya adalah, yang selainnya tak digelari dengan Hujjatul Islam, betapa bangganya engkau

Itulah penggalan qasidah raiyah, al-Imam al-Hadad yang dengannya Sang Imam seolah mengirimkan pesan bahwa madzhab Fiqih yang dianut oleh para Saadah Ba ‘Alawiyah adalah madzhab Imam Syafi’i yang sejak awal ditakdirkan berkembang di Yaman. Sedangkan dalam hal aqidah mereka bermazhab Sunni asy-Asy’ariyah sebagaimana yang dianut sandaran mereka al-Imam Hunjatul-Islam Abu Hamid al-Ghazali.

Thariqah Alawiyyah diajarkan oleh leluhur (salaf) mereka secara turun temurun. Dari kakek mengajarkan kepada ayah, kemudian kepada anak-anak lalu cucu-cucu mereka dan seterusnya. Demikian sampai sekarang sehingga thariqah ini di kenal sebagai thariqah yang langgeng sebab penyebaran di lakukan dengan ikhlas dari hati ke hati.

Nasab para Saadah Ba ‘Alawiyah kembali ke datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam Al-Muhajir, Ahmad bin Isa an-Naqib, yakni Naqib (pemimpin) para Syarif di Irak, bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Peletak pondasi bangunan thariqah’Alawiyah adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah yang bergelar al-Faqih al-Muqaddam lahir di Tarim pada tahun 574 H. al-Muqaddam menerima thariqah ini seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi. al-Muqaddam lah yang menyempurnakan thariqah ini sebagaimana dikatakan Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-dunnya (wafat tahun 1162 H), “Asal thariqah’Alawiyah adalah thariqah Madyaniyyah,yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu’aib al-Maghribi, sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqih al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah al-Husaini al-Hadrami”.

Setelah al-Muqaddam wafat di kota kelahirannya pada tahun 653 H, di tangan keturunannya thariqah ini tetap mengikuti sistim dan caranya. Thariqah ‘Alawiyah adalah jalan yang menomorsatukan tahqiq (pendalaman), rasa dan rahasia sehingga cenderung bersikap khumul (menutup diri) dan merahasiakan. Periode ini pertama ini berlangsung demikian hingga zaman al-‘Aydarus (wafat 864) dan saudaranya, as-Syikh Ali (wafat pada tahun 892 H). Namun seiring dengan semakin meluasnya wilayah penyebaran thariqah ini maka dipandang perlu untuk segera melakukan kodifikasi ajaran thariqah ‘Alawiyah. Maka mulailah ditulis kitab-kitab yang berisi adab thariqah ini dan petunjuk-petunjuk untuk menjalaninya seperti al-Kibrit al-Ahmar, al-Juz al-lathif, al-Ma’arij, al-Barqah dan lainnya.

Lalu bermunculanlah di antara para pemuka thariqah ini mereka yang memiliki keunggulan dalam kecerdasan, ilmu dan amal di angkatannya. Yang masing-masing memiliki prasasti sejarah berupa karya ilmiah dan sastra yang tak cukup ruang untuk menyebutnya di sini. Masing-masing juga memiliki biografi sendiri-sendiri. Setiap kali kita tenggelam dalam lautan salah satu dari mereka, maka itu akan membuat kita lupa dengan yang lain.

Akhirnya sampailah thariqah ini sampai kepada Pembaru menaranya dan penyebar cahayanya, al-Imam Syaikh Abdul Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alwi Al Haddad (1132 H).

Di tangan al-Imam al-Hadad, thariqah ini mengembangkan metode baru yang dinamainya Thariqah Ahl al-Yamin. Dalam pandangannya yang paling sesuai dengan kondisi orang-orang di masa itu, yang paling dekat dengan keadaan mereka, yang paling mudah untuk menarik mereka menuju ketaatan adalah dengan menghidupkan keimanan mereka, yang dengan perannya dapat menyiapkan mereka meningkat ke tangga Ihsan. Sehingga Thariqah ini mengajarkan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu guna menegakkan agama Allah.[Syuaib]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending