Teladan Kesetiaan Ummu Darda’

Ummu Darda’ merupakan Sahabat Nabi Saw dari kalangan perempuan (shahabiyah) yang merupakan penghafal Alquran sekaligus hadits. Ia termasuk salah satu murid kesayangan Ummul Mukminin Aishah ra dalam mempelajari ilmu hadits.

Ummu Darda’ merupakan istri dari Sahabat Nabi Saw yang juga merupakan perawi hadits, Abu Darda’. Nama kecilnya Hujaimah binti Huyay al-Awshabiyah. Ia dikenal dalam sejarah dengan kezuhudannya, serta kesetiaannya sampai mati terhadap suami yang dikaguminya.

Hujaimah berasal dari Washshab, sebuah kabilah di Himyar. Sejak kecil ia telah menjadi yatim yang kemudian diasuh oleh Abu Darda’. Saat dalam pengasuhannya, Hujaimah selalu diikutkan dalam majelis-majelis ilmu di antara para Sahabat Nabi Saw yang lain. Ketika usianya dewasa atau mencapai akil baligh, Hujaimah bergabung dengan majelis ilmu kaum perempuan.

Karena sejak kecil selalu diikutsertakan dalam majelis ilmu oleh Abu Darda’, tumbuhlah Hujaimah menjadi perempuan yang cerdas dalam ilmu-ilmu agama. Bahkan ia sudah menghafal Alquran sejak usianya belia.

Tidak saja hafal, ia juga mempunyai bacaan yang sangat baik dan pemahaman yang mendalam terhadap ayat-ayat Alquran. Hal ini wajar, karena ia mendapatkan kesempatan untuk mempelajari Alquran langsung dari para ahlinya, yakni para Sahabat Nabi Saw.

Sepeninggal istrinya yang pertama, Khairah binti Hadrad, Abu Darda’ melihat berbagai keutamaan yang dimiliki Hujaimah, sehingga ia pun tertarik dengannya. Akhirnya Abu Darda’ meminang Hujaimah sebagai istrinya. Ia pun menamai Hujaimah Ummu Darda’ ash-Shughra, untuk membedakannya dengan Khairah, istri pertamanya.

Kesetiaan sampai mati

Sebagai perempuan yang diasuh dan dididik ilmu agama oleh Abu Darda’, Ummu Darda’ sangat menghormati, mengagumi, dan mencintai suaminya. Abu Darda’ merupakan sahabat Nabi Saw yang memiliki kedalaman ilmu serta zuhud.

Menjadi istrinya, merupakan kesempatan terbaik bagi Ummu Darda’ untuk menimba ilmu agama lebih dalam lagi dari sang suami.

Saking mencintai suaminya, Ummu Darda’ pernah meminta kepada Allah Swt untuk bisa dikumpulkan kembali dengan suaminya di surga kelak.

“Ya Allah, Abu Darda telah meminangku dan menikahiku di dunia ini. Oleh karena itu Ya Allah, saat ini aku meminangnya dan aku memintanya kepada-Mu, agar kelak ia menjadi suamiku ketika di surga.”

Ternyata, doa itu didengar oleh sang suami. Sahabat Nabi Saw yang pernah dipercaya Khalifah Umar bin Khattab memimpin Negeri Syam itu, mengatakan, “Kalau begitu, jangan engkau menikah lagi sepeninggalku.”

Ummu Darda’ memegang teguh janji kepada suaminya sepanjang hidupnya. Ia tidak pernah menikah lagi, meskipun pada saat ia menjanda sempat datang pinangan dari Muawiyah.

Ummu Darda’ pun dengan tegas menolak pinangan Khalifah itu, dengan mengatakan, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan menikah lagi di dunia ini, sehingga kelak Allah menikahkanku dengan Abu Darda’ di surga-Nya.”

Ummu Darda’ akhirnya menjanda sampai menemui ajalnya, dan Insyaallah bertemu kembali dengan suami yang dicintainya di surga Allah.

Seorang perempuan zuhud

Selain setia, Ummu Darda’ juga dikenal sebagai sosok perempuan yang memiliki kedalaman ilmu agama, ahli ibadah, dan memiliki kezuhudan.

Selain sang suami yang mengajarinya, ia juga sempat belajar kepada Sahabat-sahabat Nabi yang lain seperti Salman al-Farisi, Abu Hurairah, Abu Malik al-Anshari, Fadhalah bin Ubaid, serta Ummul Mukminin Aisyah. Ummu’ Darda juga tidak segan-segan untuk membagikan ilmunya kepada yang lain.

Ummu Darda’ merupakan orang yang rela dengan takdir Allah Swt. Pernah suatu hari, puterinya meninggal dunia dan sedang dibawa untuk dikubur, Ummu Darda’ pun berkata, “Pergilah kepada Tuhanmu dan aku akan pergi kepada Tuhanku,” Kemudian ia masuk ke dalam masjid.

Ummu Darda’ juga diajari oleh sang suami agar mampu hidup mandiri dari hasil keringat sendiri, sebagaimana Rasulullah Saw juga mengajarkan hal ini kepada keluarganya. Ini merupakan salah satu sikap zuhud Ummu Darda’ dalam hidupnya.

Suatu kali ia bertanya kepada suaminya, Abu Darda’, “Apabila sepeninggalmu aku merasa perlu untuk makan harta sedekah, bagaimana?”

Abu Darda’ menjawab, “Tidak boleh. Bekerjalah dan makanlah dari hasil kerjamu.”

“Kalau aku tak mampu lagi bekerja?” Kata Ummu Darda’.

“Carilah bulir padi, jangan sampai kamu makan dari sedekah!”

Baca Lainnya
Komentar
Loading...