Tegaskan Khittah NU yang Dilanggar, Komite Khittah Kembali Gelar Silaturahim

SITUBONDO – Komite Khittah 1926 Nahdlatul Ulama kembali menggelar halaqah ke-12 pada Kamis (21/11) di Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Sumberejo, Kec. Banyuputih, Kab. Situbondo, Jawa Timur.

Acara yang bertajuk “Silaturahim Dzurriyah, Masyayikh, Habaib dan Ulama se-Jawa Timur” itu mengusung tema “Menegaskan Khittah NU”.

Ditemui JATMAN Online, KH. Solachul Aam Wahib Wahab, Ketua Panitia Pusat Komite Khittah 1926 Nahdlatul Ulama (KK 1926 NU) berharap melalui silaturahim ini para ulama bisa mengetahui visi dan misi Komite Khittah.

“Semoga dengan silaturahim ini, para kiai terutama yang hadir saat ini bisa lebih memahami, lebih mengerti tujuan Komite Khittah ini dan selanjutnya bisa mengamalkan atau mengeksekusi. Insya Allah kita juga akan membuat posko-posko di setiap kabupaten dan pondok-pondok pesantren,” ungkap cucu pendiri NU KH. Abdul Wahab Chasbullah itu.

Selain itu, KH. Solachul Aam atau akrab disapa Gus Aam menuturkan bahwa penting warga NU mengetahui Khittah NU dan mengembalikan NU agar tetap di relnya.

“Kita juga akan mengadakan dialog dengan seluruh komponen masyarakat yang peduli terhadap NU. Baik itu kepada pengurus NU yang ada di cabang, kecamatan ataupun di desa. Kita akan undang mereka semua, dan sampaikan visi misi Komite Khittah NU dan sama-sama berjuang untuk mengembalikan NU sebagaimana Khittah 1926,” papar Gus Aam lebih lanjut.

Gus Aam berharap, nantinya akan lebih banyak media yang meliput kegiatan sosialisasi KK 1926 NU di setiap posko di kabupaten dan pesantren.

“Sehingga sosialisasi ini betul-betul sampai ke masyarakat,” imbuhnya.

Gus Aam juga berharap pada muktamar yang akan digelar tahun depan dan selanjutnya berjalan sesuai dengan harapan.

“Semoga tidak terjadi politik uang, premanisme dan abuse of power. Mudah-mudahan kegiatan ini insya Allah akan menjadi motor yang mengembalikan NU ke khittahnya,” ucap Gus Aam.

Yang paling penting untuk dipahami, sambung Gus Aam, NU itu harus dikelola berdasarkan ashabul haq wal adl. Jadi kuncinya itu NU harus membela kebenaran dan keadilan dalam hal apapun.

“Bahwa NU itu salah satu organisasi yang menjunjung tinggi politik kebangsaan, politik kenegaraan, politik kerakyatan dan keumatan serta etika politik. Bukan politik praktis,” tegas Gus Aam.

Nah sekarang, salah satunya, Gus Aam mencontohkan, saat ini NU terlibat politik praktis, tidak sesuai dengan harapan sesepuhnya NU.

“Kalau NU tidak jalan di relnya, otomatis akan terjadi pelanggaran di Qanun Asasi dan AD ART NU yang tidak boleh dilanggar, dan ini harus ditegur, jangan kita biarkan,” pungkas Gus Aam.

Hadir Prof. Dr. Rohmat Wahab (mantan Rektor dan Guru Besar UNY serta Ketua PWNU DIY), KH. Afifudin Muhajir (Rais Syuriah PBNU), KH. Ahmad Azaim Ibrahimy (Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo), Ustadz Muhammad Hilmi Ash Shiddiqi (Tim Kajian KK 1926 NU) dan Dr. Marzuki Ali (Ketua DPR RI 2009-2014) sebagai narasumber, serta Prof. Dr. KH. Achmad Zahro, MA sebagai moderator.

Perhelatan untuk menegaskan Khittah NU ini dihadiri lebih dari 500 kiai, ulama dan habaib se-Jawa Timur. Sedangkan Dr. KH. Solahuddin Wahid (Gus Sholah) yang sebelumnya dijadwalkan hadir dikabarkan sakit. (eep)

Komentar
Loading...