Tawadu

0

“Siapa yang merendahkan hatinya, pastilah Allah mengangkat derajatnya.” (HR. Baihaqi dari Sayyidina Umar Ra.)

Sebagian orang beranggapan bahwa tawadu adalah nunduk-nunduk. Akibatnya, setiap kali ada yang menampilkan sikap fisik demikian otomatis disebut tawadu. Benarkah begitu? Sebagai sikap ekspresif mungkin benar, tetapi sebagai makna hakiki yang dimaksud oleh istilah “tawadu” belum tentu benar.

Hakikat tawadu adalah kerendahan hati karena menyaksikan keagungan dan kebesaran Allah. Domainnya hati. Karena itu, tawadu tidak selalu identik dengan ekspresi fisikal tertentu. Menundukkan kepala memang bagian dari akhlak, tatakrama kepada sesama. Sementara, melampaui itu, tawadu adalah kondisi hati. Oleh karena itu, menurut al-Munawi, boleh jadi seseorang menundukkan kepalanya atau membungkukkan badannya, tetapi hatinya masih menyaksikan kehebatan dirinya; merasa besar, kuasa, mulia, dan seterusnya, maka saat itulah sebenarnya ia takabur (Fayd al-Qadir, 6/108).

Ditanya tentang bagaimana cara tawadu yang sebenarnya, Dzun Nun menjawab: “Siapa yang ingin tawadu, hadapkanlah dirinya pada keagungan Allah. Maka saat itulah ia akan mendapati dirinya meleleh, mencair dan mengerdil. Siapa yang melihat kepada kekuasaan Allah, lenyaplah kekuasaan dirinya. Setiap diri manusia itu sungguh tak ada apa-apanya di hadapan kebesaran-Nya.” (Syu’ab al-Iman, no. 7879).

Oleh karena itu, marilah kita tawadu, karena semakin curam kita merendahkan hati di hadapan Allah, semakin tinggi Allah mengangkat derajat kita. Semakin rendah air meresap ke akar pohon, semakin tinggi ia kemudian mencapai pucuknya. Orang tawadu melihat dirinya hina, tetapi Allah justru menjadikannya mulia di mata publik sehingga mereka pun menghormatinya. Sebaliknya, orang takabur melihat dirinya mulia, tetapi Allah justru menjadikannya hina di mata publik sehingga mereka pun meremehkannya.

Tawadulah, karena mustahil orang-orang yang tawadu memendam permusuhan antar sesama sehingga terciptalah keharmonisan dalam kehidupan dunia dan tercapailah kebahagiaan kelak saat menghadap-Nya.

Oleh: Moh. Al-Faiz Sa’di (Dai Instruktur Nasional JATMAN)

Comments
Loading...