Connect with us

Artikel

Tasawuf: Solusi Terhadap Problematika Masyarakat Modern

Oleh: DR. H.M. Hamdan Rasyid, MA.
Bagian 1 dari 2 tulisan.

Published

on

A. Pendahuluan

Dewasa ini, kita hidup pada zaman modern atau era digital yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mendapatkan berbagai kemudahan dan kesenangan hidup, karena hampir semua kebutuhan hidup manusia terutama yang bersifat lahiriyah dapat dipenuhi dengan bantuan mesin dan robot yang dihasilkan oleh industri maju. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi transportasi dan komunikasi telah mengantarkan manusia memasuki era globalisasi, suatu era dimana manusia mampu melakukan hubungan antar bangsa sejagat (global) dalam berbagai segi kehidupan secara lebih luas, lebih mudah dan lebih cepat. Berkat kemajuan teknologi transportasi, hubungan antarbangsa semakin mudah dan cepat. Akibatnya, kontak langsung antarbangsa semakin sering terjadi sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran pikiran, gagasan serta saling mempengaruhi yang pada gilirannya dapat mengubah pola pikir dan tingkah laku masing-masing.

Dengan kemajuan teknologi komunikasi, dunia terasa kecil dan menjadi transparan. Semua kejadian di suatu negara, dalam waktu yang sama dapat diketahui oleh manusia sejagat. Hampir tidak ada rahasia suatu negara atau masyarakat yang tidak diketahui oleh negara atau masyarakat lain. Untuk menghadiri seminar internasional, seseorang tidak harus pergi meninggalkan negaranya masing-masing. Untuk belanja berbagai keperluan sehari-hari,  orang tidak perlu keluar rumah dan membayar uang kontan. Begitu canggihnya sistem perdagangan dan pembayaran, orang dapat bepergian kemana saja dan membeli apa saja tanpa membawa uang tunai, tetapi cukup dengan membawa bank card.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat sejak dasawarsa 70-an telah menimbulkan revolusi informasi yang melanda semua bangsa, baik di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang tanpa menghiraukan apakah masyarakatnya sudah siap menerima perubahan yang sedemikian cepat atau tidak. Alfin Toffler, penulis buku “Future Shock” memperkenalkan nomenklatur baru powershift, yaitu bahwa globalisasi tidak hanya mengubah peta kekuatan, tetapi juga mengubah secara mendalam sifat dan hakikat kekuatan.  

Dewasa ini, arus globalisasi makin terasa. Perkembangan dunia internasional baik dalam bidang ekonomi, politik maupun sosial budaya secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia. Arus globalisasi, positif maupun negatif telah menembus batas-batas negara, bahkan menembus dinding-dinding rumah tangga dan keluarga kita. Jika kita tidak siap menghadapinya, dapat dipastikan arus globalisasi dapat mengancam, bahkan menimbulkan malapetaka bagi kita. Karena melalui teknologi komunikasi seperti radio, televisi, film, video, internet dan yang lain, sangat memungkinkan terjadinya penyebaran nilai-nilai baru yang dapat menggoyahkan nilai-nilai yang selama ini dianggap baku, termasuk nilai-nilai agama. Demikian juga melalui teknologi komunikasi, kebiasaan-kebiasaan buruk suatu masyarakat dunia, seperti penyalah-gunaan obat-obatan terlarang, alat kontrasepsi, minuman keras dan pergaulan bebas akan berdampak negatif terhadap masyarakat Indonesia.


B. Ciri-ciri Modernisme

Ditinjau dari aspek sejarah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengantarkan manusia menuju zaman modern dan era globalisasi pada saat sekarang ini, bermula dari revolusi ilmu pengetahuan pada akhir abad XV Masehi, yang ditandai oleh kemenangan rasionalisme[1] dan empirisme[2] terhadap dogmatisme agama di Barat.[3] Perpaduan antara rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi, telah melahirkan apa yang disebut dengan metode ilmiah. Dengan metode ilmiah, kebenaran pengetahuan hanya diukur dengan kebenaran koherensi dan korespondensi. Suatu pengetahuan baru diakui kebenarannya secara ilmiah jika secara logika bersifat koheren (runtut) dengan kebenaran sebelumnya dan didukung oleh fakta empirik (koresponden).[4]

Kepercayaan yang terlalu berlebih-lebihan terhadap rasionalisme dan empirisme sebagai metode ilmiah yang diakui kebenarannya, menyebabkan masyarakat Barat kurang apresiatif terhadap pengetahuan yang berada di luar lingkup pengujian metode ilmiah, termasuk di dalamnya pengetahuan dan nilai-nilai religius.[5] Inilah ciri-ciri modernisme, yaitu memisahkan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang bersumber dari nilai-nilai religius. Hal ini dapat dimengerti karena sejak awal kelahirannya, modernisme memang merupakan suatu bentuk “pembangkangan” terhadap tradisi Kristen yang mengungkung pemikiran manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Arnold Toynbee, bahwa modernisme semula muncul di Barat ketika mereka berterima kasih bukan kepada Tuhan, melainkan kepada diri mereka sendiri karena mereka telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen Abad Pertengahan.[6]


C. Problematika Masyarakat Modern

Akibat dari penggunaan akal yang terlalu berlebihan dengan mengesampingkan dimensi spiritual dan nilai-nilai keagamaan, maka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menimbulkan persoalan serius bagi kehidupan manusia di zaman modern. Di antara problematika yang dihadapi oleh masyarakat modern adalah:

Pertama, hilangnya orientasi hidup yang bermakna serta pegangan moral yang kokoh. Pada umumnya, masyarakat industri maju (modern) tidak tahu lagi, untuk apa mereka dihidupkan, sebagaimana mereka juga tidak tahu bahwa sesudah mati mereka akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggung-jawaban dan menerima balasan dari amal perbuatan mereka di alam dunia. Mereka tidak lagi mengenal Allah SWT sebagaimana mereka juga tidak mau tahu tentang ajaran-ajaran agama yang mengatur kehidupan mereka. Tujuan hidup mereka hanya terbatas pada pencapaian sasaran-sasaran yang bersifat material dan duniawi.  Oleh karena itu, yang terpenting bagi mereka adalah bekerja, mencari uang, dan bersenang-senang. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, yang ada dalam benak mereka adalah bekerja dan mencari uang, tidak peduli apakah pekerjaan tersebut halal atau haram. Sesudah itu mereka mencari kesenangan-kesenangan untuk memperturutkan hawa nafsunya dengan berjudi, mengunjungi diskotik, bar, night club, mengkonsumsi minuman keras, berzina dan sebagainya. Dalam kadar tertentu, hal ini telah berkembang di tengah-tengah masyarakat kita. 

Kedua, terjadinya pergeseran tata nilai, dari tatanan kehidupan yang bertumpu pada nilai-nilai spiritual beralih pada pola hidup materialistik, hedonistik, bahkan sekularistik. Hasil penelitian tentang kehidupan masyarakat industri Barat telah menggoreskan catatan-catatan yang antara lain adalah sebagai berikut, “Proyek-proyek industri selalu menghasilkan kemudahan-kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan. Akan tetapi manusia harus menempatkan diri sebagai bagian dari mesin yang didesain secara rasional menurut hukum fisika. Mereka lebih banyak bergaul dengan mesin-mesin. Dalam pekerjaan seperti ini mereka merasa tidak memerlukan agama sehingga menjadi agnostic, bahkan ateistic. Konsekwensinya, pandangan hidup mereka menjadi sekuler”.[7]

Pergeseran tata nilai sebagaimana yang dialami masyarakat industri Barat tersebut, kini mulai terasa pada sebagian masyarakat Indonesia. Di antaranya, tercermin pada hal-hal sebagai berikut :

  1. Semakin berkembangnya pandangan dan orientasi hidup materialistik. Akibatnya, terjadilah pergeseran tata nilai dari semangat mementingkan kepuasaan rohani yang berjangka panjang kepada kepuasan hedonistik sesaat. Untuk memenuhi nafsunya terhadap materi, sebagian bangsa Indonesia tidak segan-segan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
  2. Semakin mencairnya nilai-nilai agama, kaidah-kaidah sosial dan susila. Dewasa ini, semakin banyak manusia yang tidak lagi merasa takut berbuat dosa dan melanggar hukum sehingga dengan enteng melakukan pembunuhan dan perkosaan, penodongan dan penjambretan, pencurian dan perampokan, perjudian dan mabuk-mabukan, perkelahian antar pelajar, tawuran antar warga masyarakat dan sebagainya. Mereka juga tidak merasa malu melakukan perbuatan zina, kumpul kebo (free sex), menenggak ektasi, menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan berbagai perbuatan maksiat lainnya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, mereka merasa bangga dalam melakukan berbagai perbuatan maksiat tersebut. Akibatnya, banyak di antara anak-anak kita yang menjadi korban narkoba dan melakukan praktek aborsi[8] serta tidak sedikit di antara mereka yang terserang virus HIV/AIDS.
  3. Semakin berkembangnya sikap permissif pada sebagian masyarakat, terutama masyarakat kota. Akibatnya, mereka tidak mau perduli terhadap berbagai pelanggaran hukum agama dan norma-norma susila yang terjadi di tengah-tengah masyarakat modern.
  4. Timbulnya kecenderung sebagian masyarakat, terutama masyarakat kota untuk bersikap individualis bahkan egois, karena dengan alat-alat elektronik mereka merasa bisa hidup tanpa bantuan orang lain.   

Ketiga, timbulnya perasaan terasing (alienasi), frustasi, dan kehampaan eksistensi. Akibat dari hilangnya orientasi hidup yang bermakna dan hanya diarahkan pada dunia materi, maka manusia modern banyak mengalami keterasingan diri (self alienation), frustasi, dan kehampaan eksistensi.[9] Sebagaimana dikatakan oleh Alvin Toffler, bahwa di antara gejala-gejala negatif yang muncul di kalangan masyarakat industri maju (modern) adalah, timbulnya rasa kesepian, hilangnya struktur masyarakat yang kukuh, dan ambruknya makna yang berlaku.[10] Pengertian alienasi sebagaimana dijelaskan oleh seorang psikoanalisis terkenal, Eric Fromm adalah sebagai berikut “Alienasi yang kita temukan dalam masyarakat modern adalah hampir total; ia meliputi hubungan manusia dengan pekerjaannya, ke benda-benda yang ia komsumsi, ke negara, ke sesamanya, dan ke dirinya sendiri. Manusia telah menciptakan suatu dunia dari barang-barang buatan manusia yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia telah membangun permesinan sosial yang ruwet untuk mengatur permesinan teknis yang ia bangun. Namun seluruh kreasinya itu tegak di atas dan mengatasi dirinya sendiri. Semakin kuat dan besar kekuatan yang ia lepaskan, semakin ia merasa dirinya tak berdaya sebagai manusia. Ia menghadapi dirinya sendiri dengan kekuatan dirinya yang dikandung dalam benda-benda yang ia ciptakan, yang terasing dari dirinya sendiri. Ia telah dikuasi oleh kreasinya sendiri, dan telah kehilangan kekuasaan terhadap dirinya sendiri. Ia telah membuat sebuah  patung anak sapi emas dan berkata”inilah dewamu yang membawa kamu keluar dari Mesir”.[11]

Alienasi yang menimpa masyarakat modern telah menimbulkan rasa kesepian yang mencekam sehingga mereka merindukan perkawanan yang akrab dan hangat serta mendambakan suatu penjelasan tentang apa dan kemana hidup ini. Dalam keadaan demikian, mereka sangat mendambakan persahabatan dan kehidupan komunal. Maka orang-orang modern yang merasa kesepian mulai tertarik kepada kultus-kultus, yaitu bentuk bentuk gerakan spiritual (dan keagamaan) yang menawarkan persahabatan dan kehidupan komunal. Kehangatan dan perhatian yang tiba-tiba ini sedemikian kuatnya memberi rasa kebaikan sehingga anggota-anggota kultus sering bersedia untuk memutuskan hubungan dari keluarga dan teman-teman lama mereka, untuk mendermakan penghasilannya kepada kultus. Kadang-kadang mereka menerima narkotika dan bahkan seks sebagai imbalannya. Seperti yang dilakukan oleh sekte Children of God beberapa waktu lalu yang melakukan pesta seks di antara sesama anggota.

Kultus bukan sekedar perkumpulan. Karena ia juga menawarkan struktur yang banyak dibutuhkan di samping menyodorkan ketentuan-ketentuan yang ketat pada tingkah laku. Mereka menuntut dan menciptakan disiplin yang sangat kuat, pengorganisasian yang ketat, absolutistik, dan dengan sendirinya kurang toleran kepada kelompok lain. Bahkan sebagian nampaknya bertindak begitu jauh sehingga memaksakan disiplin melalui penyiksaan, kerja paksa, dan bentuk-bentuk kurungan serta penjara yang mereka buat untuk diri mereka sendiri. Bahkan lebih dari itu, tidak jarang mereka melakukan bunuh diri bersama seperti yang dilakukan oleh sekitar 235 orang anggota sekte pemujaan Hari Kiamat (sekte Pemulihan 10 Perintah Tuhan) di bawah pimpinan Joseph Kibwetere di sebuah Gereja di Kanungu, distrik Rukingire yang terletak sekitar 320 kilometer Baratdaya Kempala Ibukota Negata Uganda pada hari Jum’at 17 Maret 2000 dengan cara melakukan bakar diri. Pimpinan sekte ini menyatakan, bahwa dunia akan berakhir pada 31 Desember 1999 tapi akhirnya mengubah ajarannya menjadi akhir tahun 2000. Sebelum melakukan bakar diri, para anggota sekte pemujaan ini menjual seluruh harta bendanya di pusat perdagangan Kanungu sebagai persiapan kematian mereka.[12]

Kultus biasanya berpusat pada ketokohan seorang pribadi yang menarik, berdaya pikat retorik yang memukau, dan dengan sederhana namun penuh keteguhan, menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan. Contoh yang paling sering disebut untuk gerakan kultus adalah Unification Church, Divine Light Mission, Hare Krishna, The Way, People’s Temple, Yahweh ben Yahweh, New Age, Aryan Nation, Christian Identity, The Order, Scientology, Jehovah Witnesses, Children of God, Gerakan Bhagwan Shri Rajneesh dan lain-lain. Semuanya di Amerika, namun hal serupa dan yang analog dengan itu juga muncul dimana-mana, termasuk akhir-akhir ini di negeri kita.[13] Di antaranya adalah berkembangnya Organisasi Usrah, Daarul Arqam dan terutama Islam Jamaah yang berubah menjadi Lemkari dan kini telah berubah menjadi Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII).

Keempat, terjadinya perubahan sosial yang sangat drastis di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut:

  1. Meningkatnya kebutuhan hidup. Kalau pada masyarakat agraris tradisional, manusia sudah merasa cukup apabila telah tercukupi kebutuhan primernya, seperti sandang, pangan dan papan (perumahan) secara sederhana, maka pada masyarakat modern, kebutuhan primer tersebut berubah menjadi suatu prestise yang bersifat sekunder. Akibatnya, kehidupan orang-orang modern selalu dikejar-kejar waktu untuk mengejar materi dan prestise. Segala upaya akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tadi, sehingga terkadang harus melanggar norma-norma agama dan susila, seperti korupsi, kolusi dan manipulasi meskipun harus mengorbankan orang lain. Semua ini akan membawa mereka kepada hidup seperti mesin yang tidak mengenal istirahat. Akibat lebih lanjut adalah timbulnya kegelisahan (anxiety) yang tidak jelas ujung pangkalnya sehingga menghilangkan rasa bahagia dalam hidup.
  2. Timbulnya rasa individualis dan egois. Karena kebutuhan sekunder meningkat, maka berkembanglah rasa asing dan terlepas dari ikatan sosial. Manusia lebih memikirkan diri sendiri dari pada orang lain. Urusan orang lain tidak lagi menjadi perhatiannya sehingga mereka akan merasa kesepian dalam hidup ini. Semua hubungan dengan orang lain, didasarkan pada kepentingan, bahkan motif profit (motif keuntungan), bukan hubungan persaudaraan yang didasarkan pada rasa kasih sayang dan saling mencintai. Seperti hubungan bawahan dengan atasan, dokter dengan pasien, buruh dengan majikan, dosen dengan mahasiswa.
  3. Persaingan dalam hidup. Berangkat dari adanya kebutuhan yang meningkat, yang membawa manusia modern kepada hidup yang mementingkan diri sendiri, maka terjadilah persaingan dalam hidup. Persaingan itu didorong oleh prestise yang tinggi sehingga terjadilah hal-hal yang tidak sehat, seperti memfitnah orang lain, menjatuhkan teman atau menyengsarakannya, bahkan menjerumuskannya ke penjara dan membunuhnya semata-mata untuk meraih keuntungan pribadi. Akibatnya, kehidupan sosial menjadi berantakan, dan persahabatan berubah menjadi permusuhan.[14]

BERSAMBUNG…


[1] Rasionalisme adalah suatu metodologi ilmiah yang terlalu mengutamakan rasio atau akal. Metode ini dikembangkan oleh Rene Descartes (1596 – 1650 ) dari Perancis, dan John Locke (1632 – 1704) dari Inggris.

[2] Empirisme adalah suatu metodologi ilmiah yang mendasarkan pada pengalaman dengan cara melakukan percobaan-percobaan (experiment) secara obyektif dan berulang-ulang serta akhirnya menghasilkan kesimpulan yang sama walaupun dilakukan oleh berbagai orang. Kebanyakan orang Barat mengklaim bahwa empirisme sebagai suatu metodologi ilmiah berasal dari Roger Bacon (1214 – 1294) dan Francis Bacon (1561 – 1627), keduanya dari Inggris. Akan tetapi Prof. J.W. Draper, Ph. D., M.D., Ll.D. dalam bukunya “History of the Conflict between Religion and Science” 6th printing, London 1866, dan Robert Brifault dalam bukunya “The Making of Humanity”, London, 1919 esp. h. 202 mengungkapkan, bahwa Roger Bacon  dan Francis Bacon, keduanya telah melakukan plagiat.

[3]F.B. Burnham, “Postmodern Theology”, Harper & Row Publisher, 1989, h. ix.

[4]Jujun S. Surissumantri, “Ilmu Dalam Perspektif”, PT. Gramedia, Jakarta, 1983, h. 10.

[5] T.G. Masaryk, “Modern Man and Religion”, Westport, Connecticut: Green Wood Press Publisher, 1970, h. 55.

[6] Arnold Toynbee, “A Study of History”, Oxford University Press, Oxford, 1957, h. 148.

[7]Drs. H. Kafrawi Ridwan, MA. “Metode Dakwah Pada Masyarakat Industri”,  

[8] Menurut Laporan Majalah Editor, edisi 1 Juni 1991, di Jakarta setiap tahun terjadi 5000 kasus aborsi.

[9] Allen E. Bergin, “Psikoterapi dan Nilai-nilai Religius”, dalam ‘Ulum al-Qur’an, 1994, No. 4, Volume V. h. 5

[10] Alvin Toffler, “The Third Wave”, Bantam Books, New York, 1990, h. 374.

[11] Eric Fromm, “The Sane Society”, Holt, Reinehart and Winston, New York, 1964, h. 124-125.

[12] Harian Umum Republika, Senin, 20 Maret 2000/14 Dzul Hijjah 1420, h. 1

[13] Dr. Nurcholish Madjid, “Islam Agama Kemanusiaan”, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1995, h. 128.

[14] Zakiah Darajat, “Peranan Agama dalam Kesehatan Mental”, Gunung Agung, Jakarta, 1992, h. 10 – 14. 

Artikel

Ngopi Online: Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Kajian psikologi dan tasawuf beberapa tahun belakangan semakin banter dibicarakan kalangan akademis. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Dua ilmu ini ibarat kopi dan gula, sama-sama nikmat diarungi terutama jika dileburkan menjadi satu maka muncul sebuah perkataan; nikmat mana yang bisa didustakan?

Berpijak dari sini, pada Rabu (24/2) Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Training Gets Indonesia mengadakan webinar bertajuk “Ngopi Online” (Ngilen).

Webinar ini dikemas dengan konsep santai, namun tidak kehilangan substansi materi yang didiskusikan. Mengangkat tema “Similaritas Psikologi dan Tasawuf dalam Pengembangan Diri”.

Coach Indra Hanjaya sebagai pemateri yang merupakan founder Gets Indonesia dan M. Aqil Syahrian selaku perwakilan dari PW MATAN DKI Jakarta sebagai moderator.

Diskusi ini diawali dengan sambutan yang disampaikan Wakil Ketua PW MATAN DKI Jakarta Idris Wasahua, M.H. dan dari perwakilan Gets Indonesia Sri Herlina, S.Psi.

Ngilen perdana ini, begitu menarik perhatian para peserta karena Keluasan wawasan dan pengalaman Coach Jaya sebagai Spiritual Life.

“Similaritas psikologi dan tasawuf bisa ditemukan dalam psikologi transpersonal,” kata Coach Jaya.

Psikologi transpersonal sendiri merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam disiplin keilmuannya.

“Psikologi tidak hanya menyentuh aspek pikiran dan perilaku saja, tetapi juga bergerak lebih jauh hingga aspek spiritual yang menyentuh jiwa, hati, dan rasa” ujarnya.

Psikologi semacam ini, telah tumbuh dan berkembang di daerah Timur (termasuk Indonesia) sejak dua ribu tahun yang lalu. Hanya saja, hal itu memang tidak banyak diperhatikan dan disorot sebagaimana psikologi transpersonal beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, tasawuf yang berkutat pada tazkiyah al-nufus dan tashfiyah al-qulub merupakan proses pembentukan karakter yang melalui tahapan-tahapan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya terdapat trilogi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang menjadi doktrin umum dalam dunia tasawuf.

Ketiga fase tersebut tidak lain bertujuan untuk menuju insan paripurna, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tak hanya itu, tasawuf di era modern juga bisa diaplikasikan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme; pencegahan korupsi; hingga rehabilitasi pengguna narkoba.

“Gets Indonesia sendiri dalam hal pemberdayaan diri mengembangkan sebuah metode bernama Panca Olah, yakni sinergi antara Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, dan Olah Karsa. Dengan kelima aspek tersebut, seseorang akan mampu mengetahui potensi dirinya, lalu kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata”, pungkasnya

Lebih lanjut, Coach Jaya menjelaskan, tujuan utama dari penerapan Panca Olah ialah terciptanya revolusi spiritual dalam diri manusia. Revolusi spiritual merupakan sebuah peningkatan dan perluasan kesadaran yang berdampak pada perubahan pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di muka bumi, baik itu sesama manusia, tetumbuhan, hewan, dan lain sebagainya itulah hasil dari aktulisasi Panca Olah”, Jelas Coch Jaya.

Dengan hal itu, maka terciptalah harmoni dalam struktur alam semesta secara keseluruhan.

Continue Reading

Artikel

Maqom Kasyaf Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

Oleh: Habib Muhdhor as-Segaf

Published

on

Ibnu Athoillah

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang dikasihiNya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Allah SWT untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat.

Kasyaf dapat digapai oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu sebagaimana spa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Imam Yusuf ibn Ismail An-Nabhani RA dalam salah satu karyanya yang berjudul Jami’ Karamat Al-Auliya.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali RA, Ibnu Arabi RA, dan Imam Syafi’i RA. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi kehidupan para wali tersebut.

Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab Ihya Úlum Al-Din, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti qalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagad raya kita.”

Di dalam al-Quran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Salah satu contoh maqom kekasyafan adalah cerita yang dialami oleh Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA atau yang disebut Ibnun Nahwi dengan gurunya Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA. Semoga kita memperoleh barokahnya. amin.

Adapun cerita tersebut adalah sebagai berikut.

يقول الامام ابن النحوى ابو فضل يوسف بن محمد رحمه الله حضرت مجلس سيدى ابن عطاءالله السكندرى ذات يوم وهو يومئذ من كبار أهل التصوف فى عصره.

Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA yang terkenal dengan sebutan nama Ibnun Nahwi, pengubah qashidah al-munfarijah, pernah menceritakan bahwa suatu hari saya menghadiri majlis ilmu guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA, dan pada saat itu beliau tergolong salah seorang pembesar ahli tasawuf di zamannya.

فنظرت إليه متعجبا من علومه ، فقلت فى نفسى, ياترى الشيخ فى أى مقام من المقامات هو؟

Maka kedua mataku menatap kepadanya dengan penuh kekaguman akan keluasan ilmunya, sembari berkata pada diriku, “Betapa tinggi derajat dan maqommu wahai guruku, namun, ia berada di tingkatan dan maqom yang mana??” dengan penuh penasaran, hatiku bertanya.    

فنظر لى الشيخ و قطع حديثه وقال فى مقام المذنبين العاصين يا بن النحوى.

Eh, ternyata dia tahu bisikan hatiku, dia langsung melihatku, lalu menghentikan perkataanya, seraya mengatakan, “Wahai Ibnu Nahwi, kedudukan dan maqomku adalah kedudukan dan maqom orang-orang yang berdosa dan ahli maksiat,” dengan dengan penuh kerendahan beliau menjawab.

فعجبت من ذلك و لزمت الصمت من هيبته ثم سلمت عليه و انصرفت.

Akupun terkejut mendengar ucapanya itu, aku langsung diam, melihat begitu besarnya haibah beliau, lalu aku mendekat kepadanya dan berjabatan tangan, kemudian pulang.

فرأيت فى تلك الليلة سيدنا رسول الله ﷺ

على مرتبة عالية و الصحابة الكرام حوله و الناس مجتمعون.

Malamnya aku mimpi Baginda Nabi SAW, beliau berada di tingkat yang sangat tinggi dan para sahabat berada di dekatnya, sementara para sholihin berkumpul di sekitarnya.

فقال رسول الله ﷺ: أين تاج الدين بن عطاء الله ؟

Lalu Baginda Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Dimana Tajuddin Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari?”

فقال : نعم يارسول الله.

Maka dia mendekat kepadanya, dan berkata,”Iya, ini saya ya Rasulullah.”

فقال رسول الله ﷺ تكلم فإن الله يحب كلامك. فتكلم.

Lalu Nabi saw berkata kepadanya, “Berbicaralah, karena Allah SWT senang dengan ucapamu, silahkan berbicara.”

واستيقظت, فجئت لسيدى ابن عطاءالله رضى الله عنه.

Akupun terbangun, lalu esok harinya aku segera menemui guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

فسمعته يتكلم بما سمعته فى الرؤيا أمام سيدنا رسول الله ﷺ.

Begitu sampai dan mendengar apa yang dituturkannya itu, ternyata sama seperti apa yang disampaikan di hadapan Baginda Nabi SAW, yang didengar dalam mimpinya semalam.

فقلت فى نفسى هذا والله هو المقام.

Maka aku langsung berkata pada diriku, “Ohh, ternyata itu maqomnya, sungguh sangat tinggi.”

فنظر لى سيدى ابن عطاء الله السكندرى

وقـــــــــــــــال “وما خفى عنك كان أعظم يا بن النحوى.” رضى الله عن الشيخ ابن عطاءالله السكندرى.

Begitu bisikan hatiku itu berhenti, ternyata dia tahu, maka guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA langsung menoleh kepadaku dan berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Nahwi, apa yang belum kamu ketahui tentang diriku ini masih banyak.”

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending