Connect with us

Artikel

Tasawuf: Solusi Terhadap Problematika Masyarakat Modern

Oleh: DR. H.M. Hamdan Rasyid, MA.
Bagian 1 dari 2 tulisan.

Published

on

A. Pendahuluan

Dewasa ini, kita hidup pada zaman modern atau era digital yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mendapatkan berbagai kemudahan dan kesenangan hidup, karena hampir semua kebutuhan hidup manusia terutama yang bersifat lahiriyah dapat dipenuhi dengan bantuan mesin dan robot yang dihasilkan oleh industri maju. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi transportasi dan komunikasi telah mengantarkan manusia memasuki era globalisasi, suatu era dimana manusia mampu melakukan hubungan antar bangsa sejagat (global) dalam berbagai segi kehidupan secara lebih luas, lebih mudah dan lebih cepat. Berkat kemajuan teknologi transportasi, hubungan antarbangsa semakin mudah dan cepat. Akibatnya, kontak langsung antarbangsa semakin sering terjadi sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran pikiran, gagasan serta saling mempengaruhi yang pada gilirannya dapat mengubah pola pikir dan tingkah laku masing-masing.

Dengan kemajuan teknologi komunikasi, dunia terasa kecil dan menjadi transparan. Semua kejadian di suatu negara, dalam waktu yang sama dapat diketahui oleh manusia sejagat. Hampir tidak ada rahasia suatu negara atau masyarakat yang tidak diketahui oleh negara atau masyarakat lain. Untuk menghadiri seminar internasional, seseorang tidak harus pergi meninggalkan negaranya masing-masing. Untuk belanja berbagai keperluan sehari-hari,  orang tidak perlu keluar rumah dan membayar uang kontan. Begitu canggihnya sistem perdagangan dan pembayaran, orang dapat bepergian kemana saja dan membeli apa saja tanpa membawa uang tunai, tetapi cukup dengan membawa bank card.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat sejak dasawarsa 70-an telah menimbulkan revolusi informasi yang melanda semua bangsa, baik di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang tanpa menghiraukan apakah masyarakatnya sudah siap menerima perubahan yang sedemikian cepat atau tidak. Alfin Toffler, penulis buku “Future Shock” memperkenalkan nomenklatur baru powershift, yaitu bahwa globalisasi tidak hanya mengubah peta kekuatan, tetapi juga mengubah secara mendalam sifat dan hakikat kekuatan.  

Dewasa ini, arus globalisasi makin terasa. Perkembangan dunia internasional baik dalam bidang ekonomi, politik maupun sosial budaya secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia. Arus globalisasi, positif maupun negatif telah menembus batas-batas negara, bahkan menembus dinding-dinding rumah tangga dan keluarga kita. Jika kita tidak siap menghadapinya, dapat dipastikan arus globalisasi dapat mengancam, bahkan menimbulkan malapetaka bagi kita. Karena melalui teknologi komunikasi seperti radio, televisi, film, video, internet dan yang lain, sangat memungkinkan terjadinya penyebaran nilai-nilai baru yang dapat menggoyahkan nilai-nilai yang selama ini dianggap baku, termasuk nilai-nilai agama. Demikian juga melalui teknologi komunikasi, kebiasaan-kebiasaan buruk suatu masyarakat dunia, seperti penyalah-gunaan obat-obatan terlarang, alat kontrasepsi, minuman keras dan pergaulan bebas akan berdampak negatif terhadap masyarakat Indonesia.


B. Ciri-ciri Modernisme

Ditinjau dari aspek sejarah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengantarkan manusia menuju zaman modern dan era globalisasi pada saat sekarang ini, bermula dari revolusi ilmu pengetahuan pada akhir abad XV Masehi, yang ditandai oleh kemenangan rasionalisme[1] dan empirisme[2] terhadap dogmatisme agama di Barat.[3] Perpaduan antara rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi, telah melahirkan apa yang disebut dengan metode ilmiah. Dengan metode ilmiah, kebenaran pengetahuan hanya diukur dengan kebenaran koherensi dan korespondensi. Suatu pengetahuan baru diakui kebenarannya secara ilmiah jika secara logika bersifat koheren (runtut) dengan kebenaran sebelumnya dan didukung oleh fakta empirik (koresponden).[4]

Kepercayaan yang terlalu berlebih-lebihan terhadap rasionalisme dan empirisme sebagai metode ilmiah yang diakui kebenarannya, menyebabkan masyarakat Barat kurang apresiatif terhadap pengetahuan yang berada di luar lingkup pengujian metode ilmiah, termasuk di dalamnya pengetahuan dan nilai-nilai religius.[5] Inilah ciri-ciri modernisme, yaitu memisahkan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang bersumber dari nilai-nilai religius. Hal ini dapat dimengerti karena sejak awal kelahirannya, modernisme memang merupakan suatu bentuk “pembangkangan” terhadap tradisi Kristen yang mengungkung pemikiran manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Arnold Toynbee, bahwa modernisme semula muncul di Barat ketika mereka berterima kasih bukan kepada Tuhan, melainkan kepada diri mereka sendiri karena mereka telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen Abad Pertengahan.[6]


C. Problematika Masyarakat Modern

Akibat dari penggunaan akal yang terlalu berlebihan dengan mengesampingkan dimensi spiritual dan nilai-nilai keagamaan, maka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menimbulkan persoalan serius bagi kehidupan manusia di zaman modern. Di antara problematika yang dihadapi oleh masyarakat modern adalah:

Pertama, hilangnya orientasi hidup yang bermakna serta pegangan moral yang kokoh. Pada umumnya, masyarakat industri maju (modern) tidak tahu lagi, untuk apa mereka dihidupkan, sebagaimana mereka juga tidak tahu bahwa sesudah mati mereka akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggung-jawaban dan menerima balasan dari amal perbuatan mereka di alam dunia. Mereka tidak lagi mengenal Allah SWT sebagaimana mereka juga tidak mau tahu tentang ajaran-ajaran agama yang mengatur kehidupan mereka. Tujuan hidup mereka hanya terbatas pada pencapaian sasaran-sasaran yang bersifat material dan duniawi.  Oleh karena itu, yang terpenting bagi mereka adalah bekerja, mencari uang, dan bersenang-senang. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, yang ada dalam benak mereka adalah bekerja dan mencari uang, tidak peduli apakah pekerjaan tersebut halal atau haram. Sesudah itu mereka mencari kesenangan-kesenangan untuk memperturutkan hawa nafsunya dengan berjudi, mengunjungi diskotik, bar, night club, mengkonsumsi minuman keras, berzina dan sebagainya. Dalam kadar tertentu, hal ini telah berkembang di tengah-tengah masyarakat kita. 

Kedua, terjadinya pergeseran tata nilai, dari tatanan kehidupan yang bertumpu pada nilai-nilai spiritual beralih pada pola hidup materialistik, hedonistik, bahkan sekularistik. Hasil penelitian tentang kehidupan masyarakat industri Barat telah menggoreskan catatan-catatan yang antara lain adalah sebagai berikut, “Proyek-proyek industri selalu menghasilkan kemudahan-kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan. Akan tetapi manusia harus menempatkan diri sebagai bagian dari mesin yang didesain secara rasional menurut hukum fisika. Mereka lebih banyak bergaul dengan mesin-mesin. Dalam pekerjaan seperti ini mereka merasa tidak memerlukan agama sehingga menjadi agnostic, bahkan ateistic. Konsekwensinya, pandangan hidup mereka menjadi sekuler”.[7]

Pergeseran tata nilai sebagaimana yang dialami masyarakat industri Barat tersebut, kini mulai terasa pada sebagian masyarakat Indonesia. Di antaranya, tercermin pada hal-hal sebagai berikut :

  1. Semakin berkembangnya pandangan dan orientasi hidup materialistik. Akibatnya, terjadilah pergeseran tata nilai dari semangat mementingkan kepuasaan rohani yang berjangka panjang kepada kepuasan hedonistik sesaat. Untuk memenuhi nafsunya terhadap materi, sebagian bangsa Indonesia tidak segan-segan melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
  2. Semakin mencairnya nilai-nilai agama, kaidah-kaidah sosial dan susila. Dewasa ini, semakin banyak manusia yang tidak lagi merasa takut berbuat dosa dan melanggar hukum sehingga dengan enteng melakukan pembunuhan dan perkosaan, penodongan dan penjambretan, pencurian dan perampokan, perjudian dan mabuk-mabukan, perkelahian antar pelajar, tawuran antar warga masyarakat dan sebagainya. Mereka juga tidak merasa malu melakukan perbuatan zina, kumpul kebo (free sex), menenggak ektasi, menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan berbagai perbuatan maksiat lainnya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, mereka merasa bangga dalam melakukan berbagai perbuatan maksiat tersebut. Akibatnya, banyak di antara anak-anak kita yang menjadi korban narkoba dan melakukan praktek aborsi[8] serta tidak sedikit di antara mereka yang terserang virus HIV/AIDS.
  3. Semakin berkembangnya sikap permissif pada sebagian masyarakat, terutama masyarakat kota. Akibatnya, mereka tidak mau perduli terhadap berbagai pelanggaran hukum agama dan norma-norma susila yang terjadi di tengah-tengah masyarakat modern.
  4. Timbulnya kecenderung sebagian masyarakat, terutama masyarakat kota untuk bersikap individualis bahkan egois, karena dengan alat-alat elektronik mereka merasa bisa hidup tanpa bantuan orang lain.   

Ketiga, timbulnya perasaan terasing (alienasi), frustasi, dan kehampaan eksistensi. Akibat dari hilangnya orientasi hidup yang bermakna dan hanya diarahkan pada dunia materi, maka manusia modern banyak mengalami keterasingan diri (self alienation), frustasi, dan kehampaan eksistensi.[9] Sebagaimana dikatakan oleh Alvin Toffler, bahwa di antara gejala-gejala negatif yang muncul di kalangan masyarakat industri maju (modern) adalah, timbulnya rasa kesepian, hilangnya struktur masyarakat yang kukuh, dan ambruknya makna yang berlaku.[10] Pengertian alienasi sebagaimana dijelaskan oleh seorang psikoanalisis terkenal, Eric Fromm adalah sebagai berikut “Alienasi yang kita temukan dalam masyarakat modern adalah hampir total; ia meliputi hubungan manusia dengan pekerjaannya, ke benda-benda yang ia komsumsi, ke negara, ke sesamanya, dan ke dirinya sendiri. Manusia telah menciptakan suatu dunia dari barang-barang buatan manusia yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia telah membangun permesinan sosial yang ruwet untuk mengatur permesinan teknis yang ia bangun. Namun seluruh kreasinya itu tegak di atas dan mengatasi dirinya sendiri. Semakin kuat dan besar kekuatan yang ia lepaskan, semakin ia merasa dirinya tak berdaya sebagai manusia. Ia menghadapi dirinya sendiri dengan kekuatan dirinya yang dikandung dalam benda-benda yang ia ciptakan, yang terasing dari dirinya sendiri. Ia telah dikuasi oleh kreasinya sendiri, dan telah kehilangan kekuasaan terhadap dirinya sendiri. Ia telah membuat sebuah  patung anak sapi emas dan berkata”inilah dewamu yang membawa kamu keluar dari Mesir”.[11]

Alienasi yang menimpa masyarakat modern telah menimbulkan rasa kesepian yang mencekam sehingga mereka merindukan perkawanan yang akrab dan hangat serta mendambakan suatu penjelasan tentang apa dan kemana hidup ini. Dalam keadaan demikian, mereka sangat mendambakan persahabatan dan kehidupan komunal. Maka orang-orang modern yang merasa kesepian mulai tertarik kepada kultus-kultus, yaitu bentuk bentuk gerakan spiritual (dan keagamaan) yang menawarkan persahabatan dan kehidupan komunal. Kehangatan dan perhatian yang tiba-tiba ini sedemikian kuatnya memberi rasa kebaikan sehingga anggota-anggota kultus sering bersedia untuk memutuskan hubungan dari keluarga dan teman-teman lama mereka, untuk mendermakan penghasilannya kepada kultus. Kadang-kadang mereka menerima narkotika dan bahkan seks sebagai imbalannya. Seperti yang dilakukan oleh sekte Children of God beberapa waktu lalu yang melakukan pesta seks di antara sesama anggota.

Kultus bukan sekedar perkumpulan. Karena ia juga menawarkan struktur yang banyak dibutuhkan di samping menyodorkan ketentuan-ketentuan yang ketat pada tingkah laku. Mereka menuntut dan menciptakan disiplin yang sangat kuat, pengorganisasian yang ketat, absolutistik, dan dengan sendirinya kurang toleran kepada kelompok lain. Bahkan sebagian nampaknya bertindak begitu jauh sehingga memaksakan disiplin melalui penyiksaan, kerja paksa, dan bentuk-bentuk kurungan serta penjara yang mereka buat untuk diri mereka sendiri. Bahkan lebih dari itu, tidak jarang mereka melakukan bunuh diri bersama seperti yang dilakukan oleh sekitar 235 orang anggota sekte pemujaan Hari Kiamat (sekte Pemulihan 10 Perintah Tuhan) di bawah pimpinan Joseph Kibwetere di sebuah Gereja di Kanungu, distrik Rukingire yang terletak sekitar 320 kilometer Baratdaya Kempala Ibukota Negata Uganda pada hari Jum’at 17 Maret 2000 dengan cara melakukan bakar diri. Pimpinan sekte ini menyatakan, bahwa dunia akan berakhir pada 31 Desember 1999 tapi akhirnya mengubah ajarannya menjadi akhir tahun 2000. Sebelum melakukan bakar diri, para anggota sekte pemujaan ini menjual seluruh harta bendanya di pusat perdagangan Kanungu sebagai persiapan kematian mereka.[12]

Kultus biasanya berpusat pada ketokohan seorang pribadi yang menarik, berdaya pikat retorik yang memukau, dan dengan sederhana namun penuh keteguhan, menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan. Contoh yang paling sering disebut untuk gerakan kultus adalah Unification Church, Divine Light Mission, Hare Krishna, The Way, People’s Temple, Yahweh ben Yahweh, New Age, Aryan Nation, Christian Identity, The Order, Scientology, Jehovah Witnesses, Children of God, Gerakan Bhagwan Shri Rajneesh dan lain-lain. Semuanya di Amerika, namun hal serupa dan yang analog dengan itu juga muncul dimana-mana, termasuk akhir-akhir ini di negeri kita.[13] Di antaranya adalah berkembangnya Organisasi Usrah, Daarul Arqam dan terutama Islam Jamaah yang berubah menjadi Lemkari dan kini telah berubah menjadi Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII).

Keempat, terjadinya perubahan sosial yang sangat drastis di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut:

  1. Meningkatnya kebutuhan hidup. Kalau pada masyarakat agraris tradisional, manusia sudah merasa cukup apabila telah tercukupi kebutuhan primernya, seperti sandang, pangan dan papan (perumahan) secara sederhana, maka pada masyarakat modern, kebutuhan primer tersebut berubah menjadi suatu prestise yang bersifat sekunder. Akibatnya, kehidupan orang-orang modern selalu dikejar-kejar waktu untuk mengejar materi dan prestise. Segala upaya akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tadi, sehingga terkadang harus melanggar norma-norma agama dan susila, seperti korupsi, kolusi dan manipulasi meskipun harus mengorbankan orang lain. Semua ini akan membawa mereka kepada hidup seperti mesin yang tidak mengenal istirahat. Akibat lebih lanjut adalah timbulnya kegelisahan (anxiety) yang tidak jelas ujung pangkalnya sehingga menghilangkan rasa bahagia dalam hidup.
  2. Timbulnya rasa individualis dan egois. Karena kebutuhan sekunder meningkat, maka berkembanglah rasa asing dan terlepas dari ikatan sosial. Manusia lebih memikirkan diri sendiri dari pada orang lain. Urusan orang lain tidak lagi menjadi perhatiannya sehingga mereka akan merasa kesepian dalam hidup ini. Semua hubungan dengan orang lain, didasarkan pada kepentingan, bahkan motif profit (motif keuntungan), bukan hubungan persaudaraan yang didasarkan pada rasa kasih sayang dan saling mencintai. Seperti hubungan bawahan dengan atasan, dokter dengan pasien, buruh dengan majikan, dosen dengan mahasiswa.
  3. Persaingan dalam hidup. Berangkat dari adanya kebutuhan yang meningkat, yang membawa manusia modern kepada hidup yang mementingkan diri sendiri, maka terjadilah persaingan dalam hidup. Persaingan itu didorong oleh prestise yang tinggi sehingga terjadilah hal-hal yang tidak sehat, seperti memfitnah orang lain, menjatuhkan teman atau menyengsarakannya, bahkan menjerumuskannya ke penjara dan membunuhnya semata-mata untuk meraih keuntungan pribadi. Akibatnya, kehidupan sosial menjadi berantakan, dan persahabatan berubah menjadi permusuhan.[14]

BERSAMBUNG…


[1] Rasionalisme adalah suatu metodologi ilmiah yang terlalu mengutamakan rasio atau akal. Metode ini dikembangkan oleh Rene Descartes (1596 – 1650 ) dari Perancis, dan John Locke (1632 – 1704) dari Inggris.

[2] Empirisme adalah suatu metodologi ilmiah yang mendasarkan pada pengalaman dengan cara melakukan percobaan-percobaan (experiment) secara obyektif dan berulang-ulang serta akhirnya menghasilkan kesimpulan yang sama walaupun dilakukan oleh berbagai orang. Kebanyakan orang Barat mengklaim bahwa empirisme sebagai suatu metodologi ilmiah berasal dari Roger Bacon (1214 – 1294) dan Francis Bacon (1561 – 1627), keduanya dari Inggris. Akan tetapi Prof. J.W. Draper, Ph. D., M.D., Ll.D. dalam bukunya “History of the Conflict between Religion and Science” 6th printing, London 1866, dan Robert Brifault dalam bukunya “The Making of Humanity”, London, 1919 esp. h. 202 mengungkapkan, bahwa Roger Bacon  dan Francis Bacon, keduanya telah melakukan plagiat.

[3]F.B. Burnham, “Postmodern Theology”, Harper & Row Publisher, 1989, h. ix.

[4]Jujun S. Surissumantri, “Ilmu Dalam Perspektif”, PT. Gramedia, Jakarta, 1983, h. 10.

[5] T.G. Masaryk, “Modern Man and Religion”, Westport, Connecticut: Green Wood Press Publisher, 1970, h. 55.

[6] Arnold Toynbee, “A Study of History”, Oxford University Press, Oxford, 1957, h. 148.

[7]Drs. H. Kafrawi Ridwan, MA. “Metode Dakwah Pada Masyarakat Industri”,  

[8] Menurut Laporan Majalah Editor, edisi 1 Juni 1991, di Jakarta setiap tahun terjadi 5000 kasus aborsi.

[9] Allen E. Bergin, “Psikoterapi dan Nilai-nilai Religius”, dalam ‘Ulum al-Qur’an, 1994, No. 4, Volume V. h. 5

[10] Alvin Toffler, “The Third Wave”, Bantam Books, New York, 1990, h. 374.

[11] Eric Fromm, “The Sane Society”, Holt, Reinehart and Winston, New York, 1964, h. 124-125.

[12] Harian Umum Republika, Senin, 20 Maret 2000/14 Dzul Hijjah 1420, h. 1

[13] Dr. Nurcholish Madjid, “Islam Agama Kemanusiaan”, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1995, h. 128.

[14] Zakiah Darajat, “Peranan Agama dalam Kesehatan Mental”, Gunung Agung, Jakarta, 1992, h. 10 – 14. 

Artikel

Macam-macam Shalawat dan Keutamaannya

Published

on

Shalawat dan Keutamaannya

Bershalawat kepada Nabi Muhammad adalah salah satu bukti cinta kepadanya dan bernilai ibadah, Bahkan dalam Surat Al Ahzab ayat 56 Allah berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”

Sementara itu, shalawat yang kita kenal sampai hari ini banyak sekali jumlahnya dan sangat beragam faedahnya. Beberapa shalawat yang sering kita baca berikut faedahnya:

Shalawat Munjiyat

Keagungan shalawat munjiyat sama seperti setengah dari besarnya arasy. KH. Musta’in Ramli, Khadim Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dalam kitabnya, Al Risalah al Khawashiyyah menjelaskan keutamaan shalawat munjiyat yaitu:

“Barangsiapa yang membaca shalawat munjiyat pada tengah malam sebanyak 1000 kali, kemudian memohon kepada Allah Swt. apapun yang yang menjadi kebutuhannya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, maka insyaa Allah keinginannya akan segera terkabulkan”

Berikut adalah lafaz shalawat Munjiyat:

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muhammadin wa ‘alā āli Sayyidinā Muhammadin shalātan tunjīnā bihā min jamī’il ahwāli wal āfāt wa taqdhī lanā bihā jamī’al hājāt wa tuthahhirunā bihā min jamī’is sayyiāt wa tarfa’unā bihā ‘indaka a’lad darajāt wa tuballighunā bihā aqshal ghāyāt min jamī’il khairāti fil hayāti wa ba’dal mamāt

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Shalawat al-Fatih

Shalawat al fatih bisa menjadi wasilah bagi siapapun yang membacanya, baik untuk memperbaiki kehidupannya ataupun sebagai doa agar hajatnya terkabul. KH. Muhammad Ma’ruf Zuhdi, Pengasuh Pondok Pesantren Khadijatul Kubra, Tuban mengatakan salah satu keutamaan shalawat al fatih yaitu bisa segera dipertemukan oleh jodohnya sebagaimana dawuhnya:

“Apabila ada seseorang yang ingin segera dipertemukan jodohnya, maka bacalah shalawat al fatih sebanyak 100 kali setiap pukul 12 malam sampai pukul 3 pagi selama 41 hari berturut-turut, maka Insya Allah jodohnya akan segera dipertemukan.

Berikut adalah lafaz shalawat al-Fatih:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الحَقَّ بِالحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadinil Fātihi limā ughliqa, wal khātimi limā sabaqa, wan nāshiril haqqā bil haqqi, wal hādī ilā shirātin mustaqīm (ada yang baca ‘shirātikal mustaqīm’). Shallallāhu ‘alayhi, wa ‘alā ālihī, wa ashhābihī haqqa qadrihī wa miqdārihil ‘azhīm.  

Artinya :“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, keluarga dan para sahabatnya dengan hak derajat dan kedudukannya yang agung.”

Shalawat Nariyah

Shalawat ini mungkin tidak asing lagi dikalangan pecinta shalawat karena sering sekali dibaca baik dikalangan orang dewasa sampai anak kecil.

KH. Musta’in Ramli menjelaskan, “Barangsiapa membaca shalawat nariyah sebanyak 10 kali setelah shalat fardhu dan tidak pernah terputus, maka akan diberikan derajat yang tinggi oleh Allah Swt dan dimudahkan dalam mencari rizki. Jika dibaca sebanyak 40 kali setelah shalat subuh tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud. Jika dibaca sebanyak 100 kali setiap hari tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud lebih cepat. Jika dibaca sebanyak 313 kali setiap hari tanpa putus, maka dapat mempertajam mata hati. Jika dibaca 1000 kali setiap hari tanpa putus, maka akan mendapatkan karamah dari Allah Swt.

Berikut adalah lafaz shalawat nariyah:

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Allāhumma shalli shalātan kāmilatan wasallim salāman. Tāman ‘alā sayyidinā Muhammadi llādzi tanhallu bihil ‘uqadu wa tanfariju bihil kurabu. Wa tuqdhā bihil hawāiju wa tunna lu bihirragha ibu wa husnul khawātimi wa yustasqal ghamāmu biwajhihil karīm wa ‘alā ālihī wa shahbihī fī kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lu min laka.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau”

Shalawat Tibb Qulub

Shalawat tibb qulub secara bahasa adalah obat hati. Shalawat ini bisa menjadi bentuk ikhtiar untuk menyembuhkan segala macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani karena sejatinya yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah Swt.  

Habib Sagaf Baharun mengisahkan keutamaan shalawat tibb qulub melalui walitullah dari Mesir yaitu Imam Dardiri, ia berkata: Imam Dardiri adalah seorang wali di Mesir yang membaca shawalat tibb qulub 4000 kali, dalam riwayat lain sebanyak 400 kali. Atas wasilah tersebut, penyakit apa aja selain kematian akan sembuh.

Habib Abdurrahman Bilfaqih juga menceritakan, “Dari Habib Anis Lawang yang ketika itu hadir di 7 hari wafatnya ayah saya, ia mengatakan bahwa dulunya ia adalah seorang pedagang. Ketika ia berusia 9-10 tahun, ia dibawa oleh ayahnya kepada Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. Ayahnya meminta ijazah shalawat dan diberikan shalawat tibb qulub untuk dibaca sebanyak 313 kali. Peristiwa ini membekas di hati Habib Anis dan diamalkan. Ketika rambutnya mulai memutih, pada suatu hari ia diundang untuk berceramah. Meskipun tidak memiliki kemampuan berceramah, karena berniat membahagiakan orang lain, ia menyanggupi. Sewaktu berceramah, hadirin yang datang menangis mendengar ceramah beliau karena merasuk ke hati mereka. Kejadian itu berulang setiap kali ia berceramah. Menurutnya, Ini adalah barakah ijazah Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih yang dilakukan dengan istiqamah.

 Berikut adalah lafaz shalawat tibb qulub:

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Allāhuma shalli ‘alā sayyidinā Muhammadin thibbil quluubi wadawā-iha wa‘āfiyatil abdāni wasyifā-ihā wanuuril ab-shāri wadhiyā-ihā wa’alā ālihī washahbihī wasallim.

Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat ke atas penghulu kami, nabi Muhammad saw, yang dengan berkat baginda, Engkau menyembuhkan hati, menjadi penawar dan menyehatkan tubuh juga memberi kesembuhan penyakit, serta mengurniakan cahaya penglihatan. Dan karuniakanlah rahmat keberkatan dan kesejahteraan keatas keluarga dan sahabat baginda Nabi saw.”[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Artikel

Juru Kunci Makam, Gus Dur: “Makam Sunan Kalijaga yang Asli Ada di Tuban”.

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah satu dari sembilan wali penyebar Agama Islam di tanah Jawa. Sebagaimana diketahui oleh kebanyakan orang di Indonesia, bahwa ia dikebumikan di Kadilangu, Demak. Namun berdasarkan bukti sejarah lain, terdapat makam serupa atas nama Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Medalem, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban. Makam ini berada di tengah sawah dan agak jauh dari pemukiman penduduk.

Menurut Abdul Ghani, juru kunci setempat, keberadaan Makam Sunan Kalijaga atau dengan nama asli Raden Syahid sebelumnya tidak diketahui sama sekali oleh warga. Makam tersebut pertama kali ditemukan oleh Mulyadi yang membangun sebuah gubuk di tengah sawah untuk ditinggali. Suatu malam ia didatangi seorang lelaki berbaju serba hitam dengan mengatakan, “jika anda ingin kembali hidup enak, maka peliharalah Makam Sunan Kalijaga.” Lelaki tersebut kemudian mengajaknya ke komplek Makam Ploso 9 dan menunjukkan letak Makam Sunan Kalijaga. Sejak hari itu, Mulyadi rutin berziarah setiap setelah Salat Isya kurang lebih selama satu tahun.

Karena penasaran dengan apa yang dialaminya, Mulyadi lantas menceritakan hal tersebut kepada gurunya, Kiai Jubaidi Tuban. Kiai Jubaidi yang tidak mengetahui apapun perihal makam itu kemudian mengajaknya sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan. Kiai Hamid membenarkan adanya Makam Sunan Kalijaga di Desa Medalem. Bahkan, sebelumnya Kiai Hamid pernah menyepi di tempat itu selama satu minggu.

Selanjutnya, pada tahun 1979, Kiai Hamid memberikan nama tempat tersebut dengan “Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko” yang kemudian diresmikan oleh Kiai Jubaidi. Nama Moroteko diambil karena makam yang sebelumnya tidak ada, kini menjadi ada. Awalnya, makam tersebut ingin dipopulerkan oleh pihak juru kunci tetapi tidak diizinkan oleh Pemerintah Orde Baru karena khawatir menimbulkan konflik dan kebingungan disebabkan sudah lebih dulu ada nama Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Sebelum diberi nama Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko, komplek makam ini bernama Makam Ploso 9. Nama ini berasal dari adanya sembilan pohon ploso yang terletak di area pemakaman. Adapun sembilan pohon ploso dimaknai sebagai sembilan wali yang juga tumbuh di komplek pelataran makam lainnya yakni di Sebelah Barat Makam Sunan Kalijaga yaitu Syeikh Badawi, Kyai Abdurrahman, Dewi Amirah (Istri Sunan Kalijaga), Abdul Aziz Abdul Basith (Saudara Syeikh Abdul Jabbar Nglirip), Mpu Supo (Adik Ipar Sunan Kalijaga yang juga pembuat keris), Patih Wonosalam dan Abdul Qadir (Putera Raden Patah). Adapun 1 Km dari lokasi tersebut ada Makam Dewi Rosowulan atau Nyai Tembogo yaitu adik Sunan Kalijaga.

Pada tahun 1999, ketika Gus Dur hendak mencalonkan diri sebagai Presiden RI, Ia beserta rombongan dari Surabaya hendak menuju ke Demak. Di Tengah perjalanan ia mampir ke Tuban untuk mengunjungi Gus Riyad putra KH. Moertadji yang kemudian mengantarkan Gus Dur berziarah ke Kadilangu, Demak. Ketika di sana, Gus Dur mendapat petunjuk bahwa jika ia ingin negaranya tentram dan aman, maka ia harus berziarah ke Makam Sunan Kalijaga yang ada di Tuban. Dengan diantar Gus Riyad, untuk pertama kalinya, Gus Dur menziarahi makam tersebut pada 17 ramadhan 1999 dan mengatakan bahwa Makam Sunan Kalijaga yang asli berada di Tuban. Adapun yang di Demak adalah petilasannya.

Setelah terpilihnya Gus Dur menjadi Presiden RI pada tahun 1999, makam ini mulai dibuka secara terang-terangan dan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Dan pada awal tahun 2021, pengusaha asal Banten yang berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat merombak seluruh bangunan makam dan merenovasinya menjadi seperti sekarang ini. Setiap harinya, selalu ada saja pengunjung yang berziarah ke makam. Rata-rata berasal dari Jawa Barat dan Yogyakarta yang biasanya datang pada malam Jumat Legi. Sedangkan dari Jawa Timur kebanyakan peziarah berasal dari Sidoarjo, Pasuruan, Ponorogo dan Madiun.

Sebelum mengakhiri pembicaraan, juru kunci memberikan ijazah yang ia dapatkan langsung dari Sunan Kalijaga melalui mimpi, “Apabila ingin terkabul segala hajatnya, maka bacalah Ya Qahhar dan Ya Jabbar, masing-masing sebanyak sebelas kali sehabis Salat Magrib atau Salat Isya’”.

Wallahu a’alam.

Continue Reading

Artikel

Syeikh Marwani Angin; Ulama Kharismatik Asal Rancailat, Tangerang

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Syeikh Marwani

Rancailat adalah nama desa yang terletak di perbatasan Kecamatan Kresek dan Kronjo. Nama tersebut berasal dari kata “Ranca” yang berarti Rawa dan “Ilat” yang berarti lidah. Pemberian diksi “Rawa” ditafsirkan sebagai kobangan air yang disekitarnya dipenuhi flora dan fauna.

Desa Rancailat terbagi menjadi beberapa kampung seperti Kampung Kandang, Pecung, Tonjong, Bojong, Cayur dan Rancailat Utara. Cikal bakal Desa Rancailat ada di kampung Rancailat Utara yang tepat berada di ujung utara Desa Rancailat. Pemberian nama desa tersebut juga berkaitan dengan letak wilayahnya yang dikelilingi oleh sawah. Sehingga, desa ini diumpamakan seperti lidah dan giginya sebagai sawah. Jadi, Desa Rancailat adalah gambaran lidah yang dikelilingi oleh gigi.

Legenda Musafir Sakti yang Dikecewakan

Ada semacam legenda di desa ini yang menyebabkan rasa air di Desa Rancailat menjadi asin dan hambar. Zaman dahulu ada seorang musafir beristirahat di Desa Rancailat. Ia merasa sangat lapar dan haus. Ia meminta makanan warga setempat tetapi warga disana tidak ada yang memberinya makan dan minum sedikitpun. Akhirnya dengan rasa kesal dan amarah musafir itu mengutuk seluruh penduduk Desa Rancailat agar terjadi kemarau sehingga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan. Kemudian lambat laun, sedikit demi sedikit mata air di Desa Rancailat mulai mengucur. Sayangnya, rasa air tersebut telah berubah menjadi asin dan hambar. Di sisi lain, secara geografis, rasa air yang asin itu sangat wajar karena jarak antara Desa Rancailat menuju laut lumayan dekat sebagaimana tempat wisata dan ziarah Pulo Cangkir dan Tanjung Kait.

Syeikh Marwani; Ulama Besar Setempat yang dilupakan Generasi Milenial

Wilayah Desa Rancailat menurut penduduk setempat adalah wilayah agamis. Banyak sekali hal-hal menakjubkan yang terdapat di sini diantaranya adalah cerita tentang Syeikh Marwani Angin. Menurut cerita, Syeikh Marwani tidak memiliki garis keturunan yang istimewa. Namun berkat ketaatannya yang dalam serta tirakatnya yang kuat, Syeikh Marwani menjadi salah satu ulama hebat di wilayahnya pada masa itu.

Syeikh Marwani hanyalah rakyat biasa yang seumur hidupnya tidak pernah makan nasi. Ia hanya memakan oncom tanpa garam yang dibungkus dengan aci sebagai pengganti makanan pokoknya. Perjalanan rohaninya bermula ketika ia frustasi disebabkan kematian anaknya yang tercebur sumur. Setelah itu, ia memutuskan untuk melalang buana hingga wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Ia sempat dianggap gila oleh sebagaian penduduk setempat. Namun kenyataannya yang mengatakannya gila justru kehidupannya tidak berkah. Menurut informasi, apa yang pernah ia ucapkan dulu, kini menjadi kenyataan. Konon, ketika ia dan rombongannya kehujanan dalam suatu perjalanan, baju orang-orang yang ikut serta basah karena kehujanan, sedangkan ia tidak.

Dalam mengemban misi dakwah, ia mendirikan Masjid Al-Aqsha dengan usahanya sendiri tanpa meminta sepeserpun dari warga. Demikian juga warga setempat, tidak ikut menyumbangkan hartanya untuk membangun masjid ini. Padahal selama hidupnya, ia hanya tinggal di sebuah gubuk. Masjid Al-Aqsha mulai dibangun pada tahun 1990 dan selesai dibangun pada tahun 2002. Masjid ini berasitektur Arab-Jawa.

Syeikh Marwani wafat pada tahun 2007 dan dimakamkan di bangunan yang berseberangan dengan Masjid Al-Aqsha yang berdekatan dengan kediaman keluarga. Sampai saat ini, setiap malam jumat banyak sekali jamaah yang menziarahi pesareannya. Menurut cerita, siapa saja yang memiliki masalah kehidupan kemudian dan datang bertaqarrub serta melaksanakan shalat di lima masjid di Rancailat yang salah satunya adalah Masjid Al-Aqsha ini, maka Insyaa Allah permasalahannya akan segera terselesaikan.

Berdasarkan cerita lain, ada tamu dari Arab yang mengaku bertemu dengan Syeikh Marwani dan diminta untuk datang ke Desa Rancailat. Padahal pada waktu itu sang ulama sudah meninggal. Wallaahu a’lam.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending