Connect with us

Artikel

Tasawuf: Solusi Terhadap Problematika Masyarakat Modern (2-Habis)

Oleh: DR. H.M. Hamdan Rasyid, MA.
Bagian 2 dari 2 tulisan (Habis)

Published

on

D. Tasawuf sebagai Alternatif Solusi

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui, bahwa faktor utama yang menjadi penyebab timbulnya berbagai macam problematika masyarakat modern adalah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang terlepas dari nilai-nilai agama dan spiritual. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan oleh agama Islam dalam menyelesaikan berbagai problematika yang dihadapi manusia di zaman modern adalah mendasari ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan melalui metode ilmiah rasionalisme dan empirisme dengan nilai-nilai agama dan spiritual, bukan dengan menghalang-halangi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat dibutuhkan oleh umat manusia dan sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa faktor utama yang menyebabkan timbulnya berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat modern adalah diabaikannya nilai-nilai agama dan spiritual. Oleh karena itu, solusinya adalah mengajak umat manusia  yang hidup di zaman modern untuk memperhatikan nilai-nilai agama dan spiritual, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini dan mendatang dijiwai oleh ruh agama.  Hal ini sesuai dengan tuntutan masyarakat modern yang harus diperhatikan dan sejalan dengan ramalan almarhum Sudjatmoko yang mengatakan bahwa abad mendatang ini adalah abad spiritualitas melalui agama-agama.[1]

Sungguh pun demikian perlu diperhatikan, bahwa ajaran agama yang sangat diperlukan oleh masyarakat modern adalah ajaran yang mampu memberikan kepuasaan spiritual dan ketenangan batin, bukan ajaran agama yang hanya menekankan formalisme, apalagi yang hanya mementingkan organisasi. Hal ini tercermin dari semboyan sebagian masyarakat Barat seperti diungkapkan oleh dua orang futurolog, John Naisbitt dan Praticia Aburdence, berkenaan dengan masalah kehidupan agama. Mereka berkata, “Spirituality, Yes; Organized Religion, No.[2]  Kedua futurolog itu mengemukakan, bahwa berdasarkan hasil-hasil pengumpulan pendapat menunjukkan adanya indikasi menaiknya spiritualisme di kalangan masyarakat Amerika lebih tinggi daripada masa-masa sebelumnya. Sebagian besar mereka percaya, bahwa “Tuhan adalah kekuatan spiritual yang positif dan aktif”. Akan tetapi gejala itu disertai dengan menurunnya peran agama-agama formal. Kalangan muda yang terpelajar di sekolah-sekolah tinggi adalah yang pertama-tama bersikap sangat kritis terhadap agama-agama formal. Mereka menilai bahwa gereja dan sinagog “sibuk dengan masalah-masalah keorganisasian, dengan mengesampingkan isu-isu teologis dan spiritual”. Maka, kata Naisbitt-Aburdendene, mereka, kaum muda itu bukannya manusia “beragama” (religious), melainkan “berkeruhanian” (spiritual).[3]

Berdasarkan pengalaman yang terjadi pada masyarakat modern Barat di atas, maka satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan masyarakat modern dari berbagai permasalahan yang mereka hadapi adalah ajaran tasawuf atau mistisisme dalam Islam. Sebab jika ajaran agama yang ditawarkan kepada masyarakat modern lebih mengedepankan ajaran-ajaran yang bersifat formal sehingga tidak mampu memberikan kepuasaan spiritual dan ketenangan batin, maka mereka akan menolak dan akan mencari spiritualisme yang tidak berlandaskan ajaran agama, bahkan menyimpang dari agama. Di sinilah letak signifikansi ajaran tasawuf bagi masyarakat modern.


E. Pengertian Tasawuf

Ditinjau dari segi etimologis, satu sumber menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shafa (صفا) yang berarti bersih dan suci, karena seorang sufi adalah seseorang yang hatinya tulus dan bersih di hadapan Allah SWT.[4] Teori lain menyatakan bahwa kata tersebut berasal dari Shaff (صف) yang berarti barisan, karena para sufi senantiasa memilih barisan terdepan untuk mengejar keutamaan dalam shalat berjamaah. Ada pula yang menyatakan bahwa kata tersebut berakar pada kata Shuffah (صفة) yang berarti serambi masjid Nabawi di Madinah yang ditempati para sahabat Nabi yang miskin dari golongan Muhajirin. Mereka disebut ahl al-shuffah, karena mereka berhati mulia, meskipun miskin. Ini merupakan salah satu sifat sufi yang tidak mementingkan dunia, tetapi lebih mementingkan hati yang mulia.[5] Teori lain menegaskan, bahwa tasawuf  diambil dari kata tashawwafa (تصوف) yang berarti memakai kain shuf  (wool kasar). Orang yang memakai kain shuf disebut shufi (jamaknya shufiah).[6]

Menurut Dr. Mir Valiuddin, teori-teori di atas sebagian mengandung kelemahan. Sebab, jika istilah Sufi berasal dari kata Shafa, maka bentuk kata yang benar adalah shafawi, bukan sufi. Jika berakar pada kata shaff, maka bentuk kata yang benar adalah shaffi bukan sufi. Begitu pula jika mengacu pada kata shuffah, maka bentuk kata yang benar adalah shuffi, bukan sufi. Oleh karena itu, ditinjau dari segi etimologis, kata sufi yang paling tepat berasal dari kata shuf, berarti wool kasar.[7] Dengan demikian, kata tasawuf dan sufi dihubungkan dengan kebiasaan mereka mengenakan pakaian wool kasar atau pakaian yang umum bagi fakir miskin di Timur Tengah pada masa itu. Mereka mengenakan wool kasar sebagai simbol atau tanda bahwa mereka adalah golongan yang lebih mengutamakan hidup sederhana dan lebih mementingkan kesucian rohani; berbeda dengan kebanyakan umat Islam waktu itu yang berlomba-lomba mengejar kesenangan hidup duniawi, berlomba dalam memakai pakaian yang indah-indah (sutera) dan mahal. Dengan demikian, pemakaian wool kasar merupakan reaksi terhadap kecenderungan masyarakat yang mengejar kekayaan dan perhiasan duniawi sehingga tidak memperhatikan halal dan haram. Hal ini sejalan dengan penjelasan H.A.R. Gibb sebagai berikut :

There is room here only for a brief summary of the beginings of the mystical movement in Islam which goes by the name of Sufism. The origin of the term Sufi is complex, but in general connected with the wearing of undyed garments of wool (suf). At first it was not a uniform but a mark of personal panitence, and some early ascetics condemned the use of it. Ibn Sirin (d. 729) criticized some ascetics for wearing suf  in imitation of Jesus (as he said): “I prefer to follow the example of the prophet who dressed in cotton”. It Apears that a particular group of ascetics of Kufa in the second century were called generally al-Sufiye. But by the fourth century the wearing of woolen garments had become the regular badge of the Sufis of Iraq and the name was commonly applied to all mystics.[8] 

Berdasarkan tinjauan etimologis yang memberikan gambaran tentang asal usul kata tasawuf di atas, maka pengertian tasawuf setelah menjadi suatu cabang ilmu agama, diformulasikan sebagai “falsalaf hidup dan cara-cara tertentu dalam tingkah laku manusia dalam upayanya untuk merealisasikan kesempurnaan moral, pemahaman tentang realitas dan kebahagiaan rohaniah”[9] Sementara itu al-Junaid –sebagaimana dikutip oleh Prof. DR. HAMKA—memberikan definisi, bahwa tasawuf adalah keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji.[10] Definisi ini sejalan dengan definisi tasawuf yang sangat populer, yaitu :

التصوف هو التخلي عن الصفات الرذيلة والتحلي بالصفات المحمودة والتجلي إلى رب البرية

“Inti ajaran tasawuf adalah; mengosongkan diri dari sifat-sifat yang hina (tercela), berhias diri dengan sifat-sifat yang terpuji, dan bertajalli pada Tuhannya umat manusia”.

Ditinjau dari aspek sejarah, istilah tasawuf atau sufi baru muncul di dunia Islam pada akhir abad kedua Hijriyah, ketika umat Islam dilanda oleh banjir kekayaan duniawi akibat menang perang (pembukaan daerah-daerah baru di luar Jazirah Arabia). Kekayaan yang melimpah ruah ini menimbulkan wabah penyakit Byzantiniah (mementingkan kemewahan dunia), dan menghambarkan pengamalan agama mereka. Sebagai reaksi terhadap kehidupan yang lebih mementingkan kemewahan dunia tersebut, maka timbullah suatu gerakan yang lebih mengutamakan kehidupan rohani dan memalingkan diri dari kesenangan dunia. Sungguh pun demikian, sebagai fenomena keberagamaan yang memiliki perhatian penuh terhadap esoterisme, sebenarnya prilaku tasawuf dalam arti praktis telah mulai nampak sejak zaman Rasulullah SAW menyebarkan agama Islam. Sebagai respon terhadap dakwah yang beliau sampaikan, sebagian besar umat Islam pada masa itu menampakkan kesadaran yang tinggi untuk berprilaku asketis atau zuhud. Kehadiran mereka memenuhi panggilan Allah SWT, dilakukan semata-mata melaksanakan perintah-Nya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,  tanpa motivasi yang bermacam-macam. Dengan demikian, mereka sangat mementingkan kebersihan qalbu dan kebeningan jiwa sehingga jauh dari berbagai motivasi yang tidak benar dalam beribadah.


F. Hubungan Tasawuf dengan Fiqh (Hakikat dengan Syari’at)

Tasawuf adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dari totalitas ajaran Islam yang meliputi Iman, Islam dan Ihsan. Ia merupakan ruh bagi agama Islam karena ia mengajarkan kepada manusia agar berusaha memperoleh pengalaman-pengalaman batin, rasa agama dan jiwa agama dengan membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela dan dengan mujahadah, bersungguh-sungguh dalam beribadah, bukan hanya berusaha memenuhi segi-segi formalitas dalam syari’at. Sebagaimana dikatakan oleh Syeh Zarruq yang dikutip oleh Drs. Sahilun A. Nasir sebagai berikut :

نسبة التصوف من الدين نسبة الروح من الجسد لأنه مقام الإحسان الذي فسره صلى الله عليه وسلم لجبريل : أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك.

“Hubungan tasawuf dengan ilmu-ilmu agama lainnya, adalah laksana hubungan ruh dengan jasad. Karena tasawuf merupakan tempat keutamaan (ihsan), yang oleh Nabi Muhammad SAW dijelaskan kepada malaikat Jibril ‘Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Bila tidak demikian, maka ketauhilah bahwa Allah itu melihat kamu”.[11]

Dengan demikian, maka setiap orang Islam yang melaksanakan ibadah kepada Allah SWT harus memperhatikan ajaran tasawuf (haqiqat), di samping ajaran fiqh (syari’at). Jika dalam beribadah umat Islam hanya berusaha memenuhi segi-segi formalitas dalam ajaran fiqh (syari’at) tanpa memperhatikan tasawuf, maka ia tidak akan diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya jika hanya berpegang pada tasawuftanpa syari’at, maka ia tidak akan berhasil meraih tujuan ibadah. Sebagaimana dikatakan oleh Syeh Abu Qasim Abdul karim al-Qusyairi :       

كل شريعة غير مؤيدة بالحقيقة فغير مقبولة. وكل حقيقة غير مقيدة بالشريعة فغير محصولة

“Setiap syari’at yang tidak diperkuat dengan hakekat tidak akan diterima. Sebaliknya, setiap hakekat yang tidak terikat pada syari’at tidak akan ada hasilnya”.[12]


G. Tasawuf Akhlaqi dan Tasawuf Falsafi

Pada abad pertama dan kedua Hijriyah, istilah tasawuf dan pemakaiannya belum dikenal. Sungguh pun demikian, pada masa itu telah muncul gejala kehidupan asketis, dimana setiap individu memusatkan dirinya pada kegiatan ibadah. Mereka menjalankan konsepsi asketis dalam kehidupannya dengan meninggalkan sifat ketamakan, keserakahan terhadap dunia dan mengalihkan perhatiannya dengan serius pada kehidupan yang berdimensi aschatologis.

Munculnya kehidupan asketis pada masa itu, semata-mata didasarkan pada anjuran Allah SWT dan Rasulullah SAW. Di antaranya firman Allah dalam surat al-An’an ayat 104 :

قل متاع الدنيا قليل والآخرة خير لمن اتقى

“Katakankah (Muhammad), bahwa kesenangan dunia itu hanya sementara dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Hasyr ayat  9 :

ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة

“Dan mereka itu lebih mengutamakan (orang-orang muhajirin) daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Baihaqi dari sahabat Sahal ibn Sa’ad :

إزهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس

“Bersikap zuhud lah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu. Dan bersikap zuhud lah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu”.

Dalam perkembangannya, pada abad ketiga dan keempat Hijriyah gejala kehidupan asketis di atas berkembang menjadi ilmu tentang moral (tasawuf) secara definitif. Para tokoh sufi pada periode ini mulai memperbincangkan pengetahuan intuitif berikut hal-hal yang menyangkut sarana dan metodenya. Oleh karena itu, mulai periode ini tasawuf mempunyai batasan-batasan terminologis yang khas.

Sejalan dengan berkembangnya tasawuf sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, maka pada abad kelima dan keenam Hijriyah muncul aliran-aliran dalam tasawuf sebagai berikut :

  1. Tasawuf Akhlaki, yang juga disebut tasawuf sunni, aliran transendentalisme, atau mysticism of personality. Yaitu suatu aliran yang masih (tetap) mempertahankan sendi-sendi dasar ajaran tauhid yang membedakan adanya dua pola wujud, yakni wajib al-wujud (Tuhan) dan mumkin al-wujud (makhluk). Dua wujud yang secara fundamental berbeda. Aliran ini mempertahankan prinsip ketidakserupaan hamba dengan Tuhan. Hubungan antara manusia dan Tuhan difahami sebagai hubungan antara makhluk dengan Khalik (pencipta), antara budak di hadapan Tuannya, atau antara si mabuk cinta yang mendambakan kekasihnya. [13]

    Bagi aliran ini, tingkat tertinggi yang dapat dicapai oleh hamba adalah ma’rifat pada Allah, penghayatan terhadap alam gaib (kasyaf) dan mendapat ilmu laduni (langsung dari sisi Allah tanpa belajar, tetapi dengan kasyaf). Tokoh aliran ini adalah al-Sarraj, al-Qusyairi, al-Kalabadzi, al-Qusyairi, al-Ghazali dll. Berhubung aliran ini didasari faham teologi al-Asy’ari yang sesuai dengan semangat al-Qur’an dan al-Sunnah, maka aliran ini disebut tasawuf sunni. 
  2. Tasawuf Falsafi, yang juga dikenal aliran teosofi, tasawuf non sunni, aliran union mystical, atau mysticism of infinity (mistik ketakterhinggaan). Aliran ini menganut faham, bahwa manusia adalah pancaran dari Tuhan dan memiliki sifat-sifat ketuhanan. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai para sufi dalam pendekatannya kepada Allah SWT melalui ajaran tasawuf adalah mencapai penyatuan dengan Allah baik dalam bentuk ittihad, hulul, maupun wahdatu al-wujud. Sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya “Filsafat dan Misticisme dalam Islam” :

“Tasawuf atau sufisme sebagaimana halnya dengan misticisme di luar agama Islam, mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Intisari dari misticisme, termasuk di dalamnya sufisme, ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad (bersatu dengan Tuhan)”.[14]      

Munculnya aliran tasawuf falsafi, dimulai dengan berkembangnya faham Pantheisme dan Kesatuan Wujud (Wahdatu al-Wujud) secara mutlak. Syuhrawardi al-Maqtul (lahir 505 H) karena sangat faham tentang filsafat Platonisme, Neo Platonisme dan Hikmah Persi cenderung untuk memadukan tasawuf dengan berbagai faham filsafat yang ia kuasai. Dari sinilah kemudian berkembang tasawuf yang filosofis sebagai hasil perpaduan antara asketisisme Islam dengan filsafat.

Syuhrawardi cenderung untuk mengembangkan tasawuf falsafi, karena ia telah mengenal dan dipengaruhi faham fana’[15], ittihad[16] dan hulul[17] yang dikembangkan oleh Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj pada abad ketiga dan keempat Hijriyah, di samping mengambil teori emanasi dalam mengembangkan fahamnya tentang wujud Tuhan.

Perkembangan aliran tasawuf falsafi semakin pesat dengan munculnya Muhyiddin Ibnu ‘Arabi dari Andalusia (wafat 628). Tokoh yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu ‘Arabi ini mengembangkan faham Pantheisme dan Kesatuan Wujud (Wahdatu al-wujud), yang pada intinya mencerminkan pengingkaran terhadap keyakinan tentang penciptaan dari ketiadaan (creatio ex nihilo) yang banyak dipercayai para mutakallimin pada waktu itu.

Menurut faham ini, hakekat manusia adalah berasal dari limpahan cahaya Tuhan (emanasi) dan sehakekat dengan Dzat Tuhan. Dengan demikian faham ini menolak kepribadian manusia dan menghasilkan pantheisme atau monisme. Tokoh aliran ini adalah al-Hallaj, Abu Yazid al-Busthami, Muhyiddin ibnu ‘Arabi, Abdul Karim al-Jili, al-Burhanpuri, Ranggawarsito dan lain-lain. Berhubung aliran ini banyak mentransfer ajaran filsafat Gnonisme, Platonisme dan bahkan dari ajaran Masehi, maka disebut aliran filosofis. Di samping itu, meskipun faham ini didasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah, tetapi karena menggunakan takwil yang sangat jauh dan tidak berlandaskan teologi al-Asy’ari, maka aliran ini disebut tasawuf non sunni.


H. Aliran Tasawuf Yang Sesuai dengan Kebutuhan Masyarakat Modern

Di antara kedua aliran tasawuf di atas, yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern adalah aliran yang pertama, yakni tasawuf akhlaqi atau tasawuf sunni, karena aliran ini mempunyai spesifikasi sebagai berikut :

  1. Didasarkan pada nash-nash al-Qur’an dan al-Sunnah dan sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW serta para sahabatnya, tanpa menggunakan ta’wil yang rumit seperti yang ada pada aliran non sunni.
  2. Lebih menekankan pada pembinaan akhlak, mudah difahami dan diamalkan karena tidak terlalu filosofis yang sulit difahami oleh orang awam.
  3. Lebih menekankan pada prilaku zuhud sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW serta menghindari sistem kependetaan yang memutuskan hubungan dengan hal-hal yang bersifat duniawi.
  4. Tidak mensyaratkan kemelaratan atau kemiskinan materi. Sebagai contoh, sahabat Utsman ibn Affan dan Abdurrahman ibn Auf dikenal sebagai sahabat yang sangat kaya. Sungguh pun demikian, kekayaan tidak menghalangi mereka untuk bersikap zuhud. Sebaliknya kehidupan asketisnya juga sama sekali tidak menghalangi mereka untuk melakukan kegiatan duniawi. Dengan kehidupan asketis yang mereka tempuh, mereka sangat menyadari akan fungsi sosial kemasyarakatannya sebagai orang yang kaya sehingga mereka rela mengorbankan sebagian besar hartanya untuk kepentingan dakwah Islamiyah.
  5. Tetap berpegang teguh pada syari’at dengan melaksanakan berbagai macam ritual atau upacara-upacara keagamaan yang diwajibkan dengan penuh keyakinan yang disertai dengan pemahaman dan penghayatan terhadap makna dan rahasia-rahasia setiap ibadah (asrar al-ibadah). Dengan demikian, tasawuf sunni berusaha menggabungkan antara tasawuf dengan fiqh (hakikat dengan syari’at) karena agama memerlukan keduanya. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Malik :

من تفقه ولم يتصوف تفسق ومن تصوف ولم يتفقه تزندق ومن جمع بينهما فقد تحققق

“Barsangsiapa mengamalkan fiqh dengan mengabaikan tasawuf, maka akan menjadi fasiq. Sebaliknya barangsiapa mengamalkan tasawuf dengan mengabaikan fiqh, maka akan menjadi zindiq. Dan barangsiapa yang memadukan keduanya, maka akan mencapai hakekat”.[18] 


I. Tasawuf dan Tarekat

Untuk mencapai tujuan tasawuf di atas, yakni ma’rifatullah seseorang harus membersihkan qalbu-nya. Karena menurut al-Ghazali, qalbu merupakan unsur rohani manusia yang dapat mengenal Allah (ma’rifatullah). Sebagaimana beliau katakan dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Din :

وهو الذي إذا عرفه الإنسان فقد عرف نفسه وإذا عرف نفسه فقد عرف ربه

“Dia itulah qalbu, yang apabila manusia mengenalnya pasti akan mengenal dirinya. Dan jika ia mampu mengenal dirinya, pasti ia akan mengenal Tuhan-nya”. [19]

Agar manusia dapat membersihkan qalbu-nya sebagai syarat mutlak  untuk mencapai ma’rifatullah, maka para ulama sufi telah berusaha merumuskan cara-cara tertentu yang dikenal dengan istilah tarekat (thariqah). Secara etimologis, tarekat berarti jalan. Sedangkan secara terminologis, tarekat berarti jalan untuk mengenal atau mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maksudnya, jalan menuju kepada Allah SWT untuk mendapatkan ridla-Nya dengan menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Secara lebih khusus, tarekat merupakan metode psikologis-moral untuk membimbing seseorang mengerti dan mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah). Melalui metode itu, seseorang yang menempuh berbagai tingkatan psikologis dalam keimanan dan pengamalan ajaran Islam dapat mencapai pengetahuan tentang Tuhan dari satu tingkatan ke tingkatan yang lebih tinggi, sehingga mencapai realitas tertinggi (ultimate reality).

Sementara itu Syeh Najmuddin al-Kubra dalam kitabnya Jami’ al-Aulia menjelaskan, bahwa tarekat adalah cara pelaksanaan dari suatu aturan syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Sedangkan keadaan yang dihasilkan seseorang yang bertarekat dinamakan hakekat.[20]   

Dengan demikian, dalam pengertiannya yang paling luas sebenarnya setiap orang yang mengerjakan ibadah tertentu dan dengan cara tertentu ia telah terlibat dalam aktivitas tarekat. Akan tetapi, dalam terminologi tasawuf, tarekat mempunyai pengertian tertentu, yaitu “suatu sistem untuk melaksanakan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan Nabi dan dikerjakan para sahabat dan tabi’in secara turun temurun dan sambung menyambung hingga pada guru-guru mursyid. Guru-guru tersebut baru dapat membimbing murid-muridnya setelah memperoleh ijazah dari gurunya sesuai dengan silsilah”.[21]

Sebenarnya, gejala lahirnya tarekat-tarekat sudah ada sejak abad III H. Akan tetapi secara resmi dan representatif sebagai aliran tarekat  –misalnya adanya sistem syeh atau guru, adanya ketentuan untuk mematuhi tata tertib yang telah ditetapkan dan sebagainya–  baru terlibat pada abad VI dan VII H.

Di antara tokoh sufi yang namanya termasyhur dan dinisbatkan menjadi nama aliran tarekat adalah; Syeh Abdul Qadir al-Jailani dengan tarekat Qadiriyah, Syeh Syadzili dengan tarekat Syadziliyah, Syeh Sanusi dengan tarekat Sanusiyah dan lain-lain. Pada masa kini, jumlah tarekat yang dianggap mu’tabarah mencapai 41 aliran. Di Indonesia, beberapa aliran tarekat begitu populer dan telah mentradisi di kalangan masyarakat. Di antaranya adalah tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Tijaniyah dan Syadziliyah.[22]   


[1] Dr. Nurcolish Madjid, Op.Cit. h. 127.

[2] John Naisbitt dan Praticia Aburdene, “Megatrends 2000, Ten New Directions For the 1990’s”, Avon Books, New York, 1991, h. 295. 

[3] Ibid.

[4] al-Kalabadzi, “al-Ta’arruf li Madzhab ahl al-Tashawwuf”, al-Maktabah al-kulliyat al-Azhariyyah, Kairo, 1969, h. 28; H.A.R. Gibb & Kreamer, “Shorter Encyclopedia of Islam”, Kuzac & Co. London, 1961, h. 579.

[5] Ali Sami’ al-Nasyr, “Nasy’at al-Fikri al-Falsafi fi al-Islam”, Daar al-Ma’arif, Mesir, 1979, h. 37. 

[6] Ibid.

[7] Mir Valiuddin, “The Qur’anic Sufism:, Matilal Banarsidass, Delhi, 1981, h. 1-2.

[8] H.A.R. Gibb, “Mohammedanism”, Oxford, 1911, h. 89.

[9] Abul wafa al-Ghanimi al-Taftazani, “Sufi Dari Zaman Ke Zaman” (terjemahan A. Rafi’ Utsman), Pustaka, Bandung, tt. h. 53.

[10] Hamka, “Tasawuf Modern”, Yayasan Nurul Islam, Jakarta, 1970, h. 18.

[11] Drs. Sahilun A. Nasir, “Prinsip-Prinsip Tasawuf Islam”, Nur Cahaya, Yogyakarta, 1980, h. 38.

[12] Abu Qasim Abdul karim al-Qusyairi, “al-Risalah al-Qusayairiyah”, h. 46

[13] Annemarie Schimmel, “Dimensi Mistik dalam Islam”, (terjemahan Sapardi Djoko Darmono dkk), Pustaka Firdaus, Jakarta, 1986, h. 3.

[14]Prof. Dr. Harun Nasution, “Filsafat dan Misticisme dalam Islam”, Bulan Bintang, Jakarta, 1978, h. 56  

[15] Fana’ sebagaimana dikatakan oleh para sufi, mempunyai banyak pengertian. Menurut sebagian ulama sufi, fana’ adalah keadaan moral yang luhur yang dicapai berkat terbebasnya  jiwa dari hal-hal yang bersifat duniawi atau sesuatu yang tercela. Dengan demikian, fana’ berarti kosongnya jiwa seseorang kecuali dari pancaran nur (cahaya) Ilahi. (al-Kalabadzi, Op.Cit. h. 60).

[16]Ittihad adalah suatu tingkatan dalam tasawuf di mana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu Tuhan; suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata “Hai aku”. (Prof. Dr. Harusn Nasution Ibid. h. 82)  

[17] Hulul adalah faham tasawuf yang dikembangkan oleh al-Hallaj, bahwa Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan.  (Op.Cit. h. 88)

[18] Syeh ‘Ujaibah, Iqadlu al-Himam ‘ala Syarh al-Hikam, Daar al-Fikr, Beirut.

[19] Imam al-Ghazali, “Ihya’ Ulum al-Din”, Daar al-Fikr, Beirut, 1980, Juz III, h. 2.

[20] Prof. Dr. H. Aboe Bakar Atjeh, “Pengantar Ilmu Tarekat”, Ramadlani, Solo, 1985, h. 46

[21] Ibid. h. 67

[22] Ibib. H. 303.


Tulisan Bagian Pertama

Artikel

Ngaji Kitab Tasawuf Dari Ulama Syam

Published

on

Turki, JATMAN.OR.ID – Kitab Tasawuf Risalah Mustarsyidin karya Imam Haris Al-Muhasibi (243 H) seperti sebuah ceramah yang ditulis, tanpa bab dan tema mengalir bahkan kadang ada beberapa tema yang diulang. Alhamdulillah kemarin pagi langsung dibaca khatam selama 2 jam oleh Syekh Dr Khaled Kharsah.

Karena khatam saya upayakan untuk merekonstruksi dalam bacaan ringan tanpa menghilangkan subtansi, agar orang yang baru memulai belajar Tasawuf seperti saya dapat dengan mudah memahami. Sebab meskipun kitab ini berukuran kecil namun menjadi rujukan beberapa kitab Tasawuf besar seperti Ihya’ Ulumuddin, Qut Al-Qulub, Risalah Qusyairiyah dan sebagainya.

Saya mengawali dari hal. 90. Sebab bahasan utama dari kitab Tasawuf adalah menjernihkan hati, membersihkan jiwa atau menyucikan kalbu.

قال بعض الحكماء مثل القلب مثل بيت له ستة أبواب ثم قيل له احذر ألا يدخل عليك من أحد هذه الأبواب شئ فيفسد عليك البيت فالقلب هو البيت والابواب اللسان والسمع والبصر واليدان والرجلان والشم فمتى انفتح باب من هذه الأبواب بغير علم ضاع البيت

“Hati, ibaratnya adalah rumah dengan 6 pintu. Pintu-pintu tersebut harus dijaga. Demikian pula, hati memiliki 6 pintu, yakni mata, mulut, telinga, hidung, dua tangan dan kaki. Bila ada pintu yang tidak dijaga maka akan ada maling yang mencuri dar dalam rumah.”

Syetan akan berupaya masuk ke dalam hati karena hati adalah pusat kendali dan kontrol. Jika hati baik maka baik seluruh anggota tubuh. Dan jika hati rusak maka rusak seluruh tubuh (HR Muslim).

Kewajiban mulut adalah berkata jujur baik saat senang atau marah. Menahan ucapan baik saat menyendiri atau banyak orang. Sebagaimana terdapat dalam hadis:

ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺃﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﻌﻤﻞ ﻳﺪﺧﻠﻨﻲ اﻟﺠﻨﺔ ﻭﻳﺒﺎﻋﺪﻧﻲ ﻋﻦ اﻟﻨﺎﺭ

“Wahai Rasulullah, beritahu kepadaku sebuah amalan yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka…”

Diantara jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

ﻭﻫﻞ ﻳﻜﺐ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ اﻟﻨﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻮﻫﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻣﻨﺎﺧﺮﻫﻢ ﺇﻻ ﺣﺼﺎﺋﺪ ﺃﻟﺴﻨﺘﻬﻢ

“Bukankah manusia dijerumuskan ke neraka tidak lain karena perangkap mulut mereka sendiri?” (HR Tirmidzi)

Mata juga memiliki tugas, yakni memejamkan mata dari hal-hal yang diharamkan dan hal-hal yang dirahasiakan agar tidak dilihat. Sebagaimana dalam hadis:

«اﻟﻨﻈﺮﺓ ﺳﻬﻢ ﻣﺴﻤﻮﻡ ﻣﻦ ﺳﻬﺎﻡ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻟﻌﻨﻪ اﻟﻠﻪ ﻓﻤﻦ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ ﺁﺗﺎﻩ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻳﺠﺪ ﺣﻼﻭﺗﻪ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ»

“Penglihatan adalah panah beracun dari iblis, semoga Allah melaknatnya. Barangsiapa meninggalkan pandangan (yang terlarang) karena takut kepada Allah maka Allah akan memberikan iman yang dapat ia rasakan manisnya iman dalam hatinya”

Syekh Dr Khaled Kharsah mengutip takhrij dari Syekh Abu Ghuddah terkait riwayat hadis tersebut:

هناك روايات عديدة في الحاكم والطبراني في الكبير باسانيد ضعيفة

Ada banyak riwayat tentang hadis tersebut oleh Al-Hakim dan Thabrani dengan sanad yang dhaif (hal. 93)

Jika hati terlanjur sakit maka penyakit hati diobati (hal. 56)

1. Prasangka buruk

واحم القلب عن سوء الظن بحسن التأويل

Jagalah hati dari prasangka buruk dengan takwil yang bagus

2. Iri hati

وادفع الحسد بقصر الامل

Singkirkan iri hati dengan angan-angan yang pendek

3. Sombong

وانف الكبر بسلطان العز

Buang kesombongan dengan keagungan Allah

4. Menjaga amanah

واحفظ امانتك بطلب العلم

Jaga amanah dengan ilmu

5. Musibah

واستعد الصبر لكل موطن

Persiapkan sabar di semua tempat

6. Nikmat

واصحب النعمة بالشكر

Bersyukur atas nikmat

7. Selalu minta tolong kepada Allah

واستعن بالله في كل أمر

Minta pertolongan Allah dalam setiap hal

8. Tekun

وكل عمل تحب تلقاه به فألزم به نفسك

Setiap amal yang engkau senangi untuk menghadap kepada Allah maka teguhkan hatimu

9. Menghindari keburukan orang lain

وكل أمر تكرهه لغيرك فاعتزله من اخلاقك

Jika tidak senang dari orang lain maka hindarilah

10. Selektif memilih teman

وكل صاحب لا تزداد به خيرا في كل يوم فانبذ عنك صحبته

Jika ada teman yang tidak menambah kebaikan bagi mu maka jangan berteman dengannya

11. Menerima kesalahan orang

وحصن عملك باداب أهل الحلم

Jaga amalmu dengan akhlak mulia

12. Memaafkan

وخذ بحظك من العفو والتجاوز

Sediakan pintu maaf

Oleh: KH. Ma’ruf Khozin

(Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur)

Continue Reading

Artikel

Kelahiran Cahaya Peradaban: Analisa Pergerakan Nabi Muhammad Saw

Published

on

Bekasi, JATMAN.OR.ID – Bayi agung dari klan Bani Hasyim yang lahir pada 12 Robiul Awal tahun 570 M (dalam pendapat lain disebut 571 Masehi) lahir dalam masa konflik itu bernama Muhammad Saw. Bangsa Arab mungkin tidak pernah memprediksi bahwa di tanah panas itu, akan lahir manusia yang mampu mambangun mercusuar peradaban umat manusia kurang dari 1 abad.

Komunitas Yahudi khususnya, mereka menafsirkan bahwa akan ada penerus di dalam komunitas mereka yang akan memperjuangkan “Tanah yang dijanjikan” sebagaimana Musa memperjuangkan kaumnya dari penindasan Fir’aun. Walaupun beberapa Pendeta Yahudi dari mereka yang ahli kitab, juga dari pendeta Nasrani mengakui bahwa akan ada Jabang Bayi yang nanti akan meneruskan Risalah Nabi Ibrahim As., Musa As. dan Isa As. di dalam sejarah Agama Samawi.

Mengapa saya menyebut sebagai Tahun Konflik? Pertama, bahwa pada saat itu, Tanah Makkah yang telah menjadi tempat ziarah seluruh manusia, diserbu oleh Tentara Abrahah yang berambisi menghancurkan Ka’bah yang dibuat oleh Bapak Agama Samawi, Ibrahim As. Mereka iri karena tempat tersebut dijadikan sebagai ritus besar manusia dari berbagai penjuru, khususnya mereka yang bertauhid, untuk kembali mengingat Ibrahim beserta keluarganya. Dapat kita lihat bahwa Abrahah dan Pengikutnya merupakan penganut Kristen dan memiliki tempat ritual sendiri, ia ingin menghancurkan Kabah karena ingin tempat ritualnya menjadi tujuan utama. Menurut Prof. Quraish Syihab, dalam tafsirnya di Surah Al-Fil, menerangkan, bahwa pada Surah Al-Fil ada kata “Kaid” yang berarti ada motif atau sesuatu yang tersembunyi di balik penyerangan Abrahah. Kaid tersebut adalah kedengkian Abrahah terhadap masyarakat Makkah yang mendapatkan keuntungan materi dan kemuliaan akibat banyaknya orang yang mengunjungi Ka’bah.

Kedua, karena pada saat itu terjadi saling klaim antara umat Yahudi dan Nasrani, bahwa Nabi yang meneruskan risalah ialah lahir dari kelompok keduanya.

Muhammad Saw. yang Agung itu kemudian lahir sebagai Bayi yang dicita-citakan agama samawi sebelumnya. Ia lahir dari Bangsa Arab keturunan Abd Manaf, Keturunan Abdul Mutholib, tetua pemegang kunci Ka’bah. Di bawah kendalinyalah Ka’bah diurus. Karenanya beliau tidak pernah menyembah Patung. Karena faham bahwa Tuhan yang disembah adalah Tuhan yang disembah Ibrahim. Bukan Berhala buatan manusia, sebagaimana orang Arab lain kebanyakan menyembahnya. Keluarga keturunan Muhammad kemungkinan besar memahami Sejarah Kenabian karena ketika ditarik garis keturuannya yaitu sampai kepada Ibrahim As melalui Ismail As.

Sebelum lahir, Nabi Agung Muhammad Saw. sudah dalam keadaan Yatim. Ayahnya meninggal pada saat ia masih di dalam kandungan.

Kondisi bangsa Arab pada waktu itu tergolong mapan soal Kesejahteraan (wealth) namun mereka mengalami sebuah disintegrasi Budaya. Hal ini bisa kita lihat akan majunya perdagangan internasional. Bahkan dalam sebuah Teori Genealogi penyebaran Islam, orang Arab sudah berdagang ke Negeri Cina. Bangsa Arab hidup berklan (Clan) dan dipimpin oleh seorang Syaikh, yang memiliki hak prerogatif untuk mengatur harta rampasan perang dan menentukan perang atau tidaknya sekelompok klan. Karakter dipengaruhi lingkungan. Arab ialah tanah panas yang kering, tak heran bahwa mereka mesti berkelompok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan memiliki tatanan politik dalam urusan perang.

Dalam perspektif Sosiologi dan Antropologi, Muhammad Saw. dilahirkan dari Klan Tua, yang dihormati oleh klan-klan lain. Hal tersebut kemudian tidak heran Abdul Mutholib menjadi pemegang kunci Ka’bah. Ketika lahir dari perut Ibunda Aminah, Nabi Muhammad diarak dan diadakan upacara sebagai bentuk penghormatan bahwa telah lahir bayi dari Klan Tua yang terhormat.

Sepertinya jika membuka sejarah, Muhammad sebagai bayi dan masa anak-anak justru seringkali menghadapi situasi yang menyedihkan. Hal ini mungkin dinamakan sebagai “Situasi Ambang Batas”. Bagaimana mungkin Anak yang lahir sudah ditinggal Ayahnya dan ketika umur 6 Tahun menjadi Yatim Piatu dapat membawanya menjadi Pemimpin terkemuka yang sukses mendidik masyarakat arab yang mengalami disintegrasi Budaya parah? Perbudakan, Judi, Membunuh Bayi perempuan, kesalahan orientasi spiritual telah terjadi di masa Muhammad kecil. Jelas secara genetik, intelektualitas Muhammad menolaknya. Inilah awal mulanya ia mentransfigurasi diri dan mentrasformasi masyarakat secara zohir dan batin. Ia akan melampaui “Kemampuan ambang Batas” dirinya sebagai manusia biasa.

Situasi ambang Batas yang dimaksudkan ialah pengalaman merespons keadaan tersulit dalam hidup seseorang. Hal tersebut membutuhkan kemampuan batin dan intelek agar dapat mengendalikan Stimulus (di luar) dan Respons (di dalam) diri Nabi.

Pengalaman menyedihkan, kesulitan hidup, serta kritik atas Budaya bangsanya merupakan hal yang membuat dirinya mampu melampaui manusia biasa sebagai manusia pada umumnya. Bekal-bekal seperti keturunan yang membuatnya memiliki previlage, berada dalam situasi Ambang Batas, serta karakteristik kepribadian yang kuat, ialah modal awal Nabi Muhammad SAW. Hidupnya selalu penuh dengan tantangan dan hampir tidak pernah mengalami “fase nyaman”.

Benar bahwa ketika Muhammad berumur 40 tahun, mengalami fase yang disebut sebagai “menarik diri” (Teori ini seperti dikemukakan Sejarawan Toynbee dalam A Study Of History hal tersebut terjadi pada semua Tokoh Sejarah yang memiliki Kemampuan besar pada Perubahan umat Manusia). Ini merupakan puncak dari Muhammad Saw melepaskan kemampuan biasanya kepada kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain. Situasi puncak ini merupakan pencerahan bagi dirinya dalam menghadapi realitas eksistensi masyarakatnya. Ia mempelajarinya sembari mencari inspirasi dari keadaan hening. Dalam istilah Jawa, ini dinamakan Tapa. Tapa melepaskan sifat-sifat manusia biasa. Dalam diskursus sejarah, sangat sering ditemukan laku ini pada orang-orang yang membawa perubahan besar. Proses tersebut dinamakan Transfigurasi. Mengolah kepribadian lama, menjadi lebih mumpuni menghadapi masalah.

Sampai akhirnya dia Kembali dalam keadaan yang lebih siap. Kekuatan spiritualitas pribadinya membimbingnya untuk secara terang melakukan transformasi sosial.

Kita menjadi tidak heran kemudian beliau mampu mengemban dua tugas secara langsung dan sukses. Selain sebagai Sayyidin Ing Alaga (pemimpin revolusi) dan Sayyidin Panata Agama (pemimpin spiritual) bagi masyarakat Arab.

Kekuatan konsolidasinya seperti air yang membasahi Kapas. Karena ditopang berbagai macam kemampuan. Ia mempunyai simpul-simpul pergerakan yang kokoh. Terlebih sahabatnya yang tak lain adalah mertua, ponakan, serta menantunya. Muhammad mengikatnya secara genetik. Sehingga kuat sekali pengaruhnya.

Agamanya, adalah agama yang rasional, dan membawa rasa spiritual ke arah yang lebih tinggi. Dari Tuhan yang dibuat, menjadi Tuhan yang membuat. Dari Tuhan yang terlihat dan lemah, ke Tuhan yang Tidak terlihat (namun meliputi) dan Maha Kuat. Agamanya menghargai Eksistensi manusia. Ia melarang praktik Budaya membunuh anak perempuan. Dia juga menyampaikan bahwa seumur hidup seorang anggotanya, adalah belajar. Sudah pasti ia menginginkan bahwa masyarakatnya dapat menjadi kelompok di dunia yang intelek tetapi memiliki rasa penghargaan terhadap eksistensi manusia.

Muhammad Saw. adalah manusia yang patut dipelajari fikir dan geraknya. Sayangnya kita mungkin jarang sekali yang mengkajinya. Padahal secara keilmuan, beliau sedang mempraktikkan bagaimana kita dapat mengantarkan sebuah bangsa yang Tandus, yang berkarakter keras ke berbagai belahan dunia dan mengatakan bahwa “Aku berhasil mengubahnya”.

Semoga Allah menyebarkan wewangian di kuburnya yang Mulia, dengan wangi Kebijaksanaan, dan Teladan kepada seluruh Umat Manusia.

Bekasi, 11 Oktober 2021/ Robiul Awal 1443 H

Fajar Chaidir Qurrota A’yun
(Ketua PK MATAN STAI HAS Bekasi)

Continue Reading

Artikel

Model Manajemen Kepemimpinan Transformasional di Bidang Pendidikan

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Mutu proses pendidikan dianggap baik apabila sumber daya sekolah mampu mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu bagi peserta didik. Hal-hal yang termasuk kerangka mutu proses pendidikan ini adalah kesehatan, keakraban, saling menghormati, kepuasan, dan lain- lain.

Hasil pendidikan dikatakan bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurkuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajran tertentu. Selain itu, mutu pendidikan dapat dilihat dari tertib administrasi.

Salah satu model kepemimpinan pendidikan yang diprediksi mampu mendorong terciptanya efektifitas institusi pendidikan adalah kepemimpinan transformasional. Jenis kepemimpinan ini menggambarkan adanya tingkat kemampuan pemimpin untuk mengubah mentalitas dan perilaku pengikut menjadi lebih baik dengan cara menunjukkan dan mendorong mereka untuk  melakukan  sesuatu yang kelihatan mustahil.

Konsep kepemimpinan ini menawarkan perspektif perubahan pada keseluruhan institusi pendidikan, sehingga pengikut menyadari eksistensinya untuk membangun institusi yang siap menyongsong perubahan bahkan menciptakan perubahan. Sejalan dengan yang diungkapkan O’ Leary (2021) menyatakan bahwa Kepemimpinan transformasional adalah gaya kepemimpinan yang digunakan oleh seorang manager bila ia ingin suatu kelompok melebarkan batas dan memiliki kinerja melampaui status quo atau mencapai serangkaian sasaran organisasi yang sepenuhnya baru.

Seiring dengan perubahan kepemimpinan kepala sekolah atau madrasah dalam hal ini pondok pesantren, karena aturan regulasi dari pemerintah melalui peraturan kementrian agama yang ada, maka manajemen kepemimpin juga akan mengalami perubahan. Pondok pesantren adalah salah satu model pendidikan Islam Khas Nusantara.

Secara garis besar metode pendidikan di Pesantren adalah penggabungan antara metode pendidikan modern dan tradisional. Penggabungan dua metode ini didasarkan pada tuntutan zaman, bahwa, kita tidak dapat mengelak dari tantangan, perkembangan, dan kemajuan zaman dengan segala perniknya, tetapi juga kita sepatutnya tidak melepaskan nilai-nilai tradisional yang biasanya mengajarkan tentang nilai-nilai luhur budaya dan agama.

Dr. Suryadi selaku Koordinator Program studi S3 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, mengadakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman Parung Bogor, memberikan pelatihan terhadap kepala sekolah, guru, santri dan mahasiswa/I dari pondok pesantren tersebut, yang berjumlah 400 peserta via zoom (22/09).

“Ekspektasi pelatihan ini adalah Menjadikan pondok pesantren Sebagai role model dalam menerapkan model kepemimpinan transformasional bidang Pendidikan,” ungkap Suryadi.

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini diawali dengan Paparan secara Umum oleh Dr. Suryadi, dilanjutkan oleh dr. Santi Anugerahsari, SpM, M.Sc, FISQua (Kepala SMF Mata RSUD Koja)  menyampaikan materi tentang manajemen kepemimpinan di era covid: cara hidup sehat di era pandemic, dilanjutkan oleh  Nining Parlina, S.Pd. Gr., M.Si (Han) menyampaikan materi tentang Manajemen Kepemimpinan : praktik Mindfullness sebagai strategi Manajemen Stress dikalangan pendidik di era disrupsi.

Materi dilanjutkan oleh Rihlah Nur Aulia,MA (Dosen dan peneliti Fakultas Ilmu Sosial UNJ) memperkuat materi  dengan tema Karakteristik Kepemimpinan Transformasional di Lembaga Pendidikan Islam.  Sesi selanjutnya dilanjutkan oleh pemateri dari kepala sekolah SMAN 36 Jakarta bapak Drs. Moch Endang Supardi, M.Si., M.Pd menyampaikan Materi tentang Kepemimpinan Transformasional kepala sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan di persekolahan. Selanjutnya pemateri pamungkas dari kepala Sekolah SMAN 109 Jakarta menyampaikan materi tentang Kepemimpinan Transformasional dalam manajemen kesiswaan.

Pelatihan ini mendapatkan apresiasi dan antusiasme yang tinggi dari semua peserta, dibuktikan adanya pertanyaan mendalam dari tiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending