Tasawuf, Ilmu yang Tak Cukup Hanya Diketahui

Tasawuf adalah ilmu intisari dan intisari tersebut bisa diperoleh dengan diamalkan. Sebagian ulama mengatakan, “Seandainya engkau belajar ilmu dari kitab-kitab tasawuf dan engkau mengumpulkan kitab tersebut sampai segudang, tapi engkau tak mengikuti amalnya ulama Sufi, maka engkau tak akan merasakan dzauqnya (rasanya) Tasawuf”.

Maka ilmu yang kita dapat (meskipun sedikit) seyogyanya langsung diamalkan dengan dilandasi akhlak (tasawuf) dalam mengamalkannya.

Manusia sejatinya tak akan terlepas dari empat hal. Pertama, nikmat, maka akhlak terhadap nikmat ialah dengan selalu mensyukurinya. Kedua, ujian maka akhlak terhadap ujian ialah dengan bersabar atasnya. Ketiga, ketaatan, maka akhlak terhadap ketaatan ialah selalu ingat dan menyadari bahwa itu semua adalah hidayah dan taufik dari Allah SWT. Keempat, maksiat, maka akhlak terhadap kemaksiatan ialah dengan selalu konsisten (istiqamah) beristighfar.

Dengan berdzikir bisa membuahkan kema’rifatan dan ketenangan. Namun, kema’rifatan tetap hak prerogatif Allah SWT. Kewajiban kita adalah mencari sebabnya jalan menuju ma’rifat. Untuk menuju ma’rifat, yang terpenting kita jangan mengingkari maqalah dan nasihat para Al ‘Arif billah, Mursyid.

Oleh: Arif
Disarikan dari Ngofi (Ngobrol Sufi) ke 13 PC MATAN Banyuwangi bersama KH. Ahmad Masykur Fauzan.

Komentar
Loading...