Tasawuf dan Tarekat Bagian dari Ajaran Islam

0

BANTAENG – Islam yang datang ke Indonesia dibawa oleh para sufi membuat karakteristik ajaran Islam yang dibumikan di Nusantara bercorak sufistik. Taman Sufi (Ta’aruf MATAN Sufi) yang digelar di Hotel Ahriani Bantaeng, Sulawesi Selatan, pada Rabu (14/8) oleh PW MATAN Sulsel ingin menegaskan kembali bahwa tasawuf dan tarekat adalah bagian dari ajaran Islam.

Dalam kegiatan tersebut 200 peserta yang hadir dari tiga kabupaten yang berbeda yakni Kab. Bantaeng, Kab. Bulukumba dan Kab. Jeneponto diperkenalkan bahwa tasawuf dan tarekat adalah termasuk bagian dari agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Bagaimana tasawuf dan tarekat sebetulnya sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. Sehingga secara praktik dan amaliah sudah menjadi kesatuan dalam praktik keagamaan dari generasi sahabat hingga saat ini.

Memang belum dikenal istilah tasawuf dan tarekat pada masa itu, namun secara esensi, apa yang dilakukan para sahabat, tabiin dan tabiut tabi’in ialah laku tasawuf yang kemudian berkembang menjadi sebuah metode dan organisasi sufi yang dikenal dengan nama tarekat.

Hal demikian terjadi juga dalam khazanah keilmuan Islam lain seperti fikih. Bagaimana praktik ritual seperti shalat, puasa dan zakat sudah dijalankan. Namun saat itu belum dikenal istilah fikih dan mazhab sebagaimana kita mengenalnya saat ini.

“Dasar keberadaan tasawuf adalah hadis sahih tentang kedatangan Malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw yang bertanya tentang Islam, Iman dan Ihsan. Dimana Ihsan inilah yang merupakan pokok atau dasar dari tasawuf dan tarekat tersebut,” jelas Dr. Kiai Mahmud Suyuti kepada JATMAN Online.

Menjadi moderator, Dosen Universitas Islam Makassar tersebut menyebutkan bahwa MATAN adalah sebuah lajnah di JATMAN yang sarat dengan acara ritual dalam bentuk Suluk. Sedangkan Taman Sufi adalah acara pra Suluk tersebut.

Kiai Suyuti juga membebebrkan bahwa dalam Taman Sufi dibahas pentingnya memiliki seorang Guru Mursyid yang memiliki sanad atau silsilah keilmuan yang bersambung sampai kepada Rasulullah.

“Sah atau tidaknya ulama disebut sebagai pewaris Nabi adalah karena memiliki sanad, sebagaimana seseorang berhak disebut sebagai ahli waris dalam keluarga jika memiliki nasab atau silsilah keturunan,” pungkas Dosen Hadis tersebut. (eep)

Comments
Loading...