Connect with us

Pustaka

Tasawuf Aceh; Mengungkap Kembali Khasanah Klasik Keislaman Tanah Rencong

Penulis: Sehat Insan Shadhiqin

Published

on

Tasawuf Aceh

Sejarah seakan berulang. Apa yang terjadi hari ini seolah terjadi lagi di masa depan. Mungkin saja dengan tempat dan objek yang berbeda. Namun, nilai dan hakikatnya selalu sama. Ini yang dikatakan Allah dalam al-Quran bahwa manusia mesti belajar dari apa yang dialami oleh nenek moyangnya. Apa yang baik dari mereka mesti menjadi pelajaran dan apa yang keliru yang telah mereka lakukan, maka hendaknya kita menghindarinya. Tujuannya, manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di didunia dan tempat kembali yang baik di akhirat kelak.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu usaha untuk menulis sebagai khasanah klasik Aceh, agar kekayaan dan kebanggaan Aceh masa lalu dapat memerikan manfaat untuk kahidupan masyarakat saat ini, bukan hanya untuk masyarakat Aceh sendiri, namun untuk umat Islam Melayu seluruhnya. Khusus bagi Aceh, khasanah pemikiran klasik ini semakin penting untuk melacak jejak Syariat Islam dalam sejarah Aceh masa lalu. Selama ini Syariat Islam selalu dikaitkan dengan kemajuan Aceh tempoe doloe.  Bagaimana mungkin ia bisa menjadi rujukan jika rujukan itu sendiri tidak jelas bentuknya? Hanya dengan studi khusus mengenai faham beragama masyarakat Aceh masa lalu sajalah kita bisa mendapatkan sebuah konstruk pemahaman dan pelaksanaan Syariat Islam masa lalu di Aceh untuk bisa menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Dorongan yang paling besar dari penulisan ini adalah tumbuhnya semangat menulis dan diskusi tentang berbagai masalah di Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah kontemporer di kalangan anak muda Aceh saat ini. Wacana penulisan dan pengkajian berbagai khasanah klasik Aceh mendapat porsi besar dalam pembicaraan di warung kopi dan  milis. Beberapa “anak muda gila” menginginkan diskusi tersebut menjadi sebuah relita yang tertulis. Apalag ada di antara mereka yang memiliki bukti historis mengenai sejarah Aceh masa lalu berupa benda budaya dan catatan lama (manuskrip). Sangat disayangkan jika saja potensi tersebut  tidak direalisasikan dalam wujud studi yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Studi ini merupakan langkah awal untuk “memotret” pemikiran dan perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu, sekaligus realisasi  semangat yang tercecer  di warung kopi. Bagi saya tasawuf Aceh masa lalu bukanlah sekadar tasawuf sebagaimana dipahami saat ini, namun ia adalah Islam itu sendiri. Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Islam di Aceh pada masa lalu dan dokumen-dokumen tertulis yang diperoleh saat ini diberbagai tempat, menunjukkan kalau Islam yang berkembang di Aceh masa lalu adalah Islam dalam dimensi tasawuf. Meskipun dalam sejarah  tercatat Ar-Raniry pernah melakukan mihnah untuk faham wujudiyah Hamzah Fansuri  dan Syamsuddin as-sumatrani, namun ia juga mengembangkan tasawuf Rifa’iyah dalam masyarakat Aceh. Berbagai buku yang dikarangnya juga tidak terlepas dari dimensi tasawuf. Hanya saja, arraniry akhirnya mempengaruhi sultan untuk memberikan tindakan politik bagai ajaran Hamzah Fansuri dan pengikutnya.

Namun demikian, saya mengakui kajian ini tidak akan sampai ke tangan pembaca tanpa bantuan beberapa antuan teman. Terutama sekali, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk BANDAR PUBLISHING yang dimotori oleh Mukhlisuddin Ilyas , Lukman Emha, Husaini Nurdin,Tgk. Jabbar dan Khairul Umami. Atas dorongan dan motivasi, serta beberapa koreksi yang mereka berikan menjadikan buku ini menurut saya menjadi sempurna. Tanpa Mukhlis dkk, mungkin buku ini masih “bersemayam” dalam hard disk laptop, berupa out line dan draf kasar, ataupun sebuah cerita yang selalu saya lantunkan di warung kopi.

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk  teman-teman di warkop Philo-Sophia, atas internet gratis dan tentu saja yang paling penting  adalah diskusi-diskusi “langit”. Terima ksih untuk bapak Zulkarnaini di Pustaka Paskasarjana IAIN ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Sayed di Pustaka Ali Hasimy, dan Prof. Yusny Saby yang telah memberikan komentar untuk buku ini. Pengantar ini bukan hanya mengantarkan pembaca pada pemahaman yang benar mengenai tasawuf, namun juga mengantarkan saya memahami dengan tepat apa yang telah saya tulis.

Terima kasih ta’zim saya sampaikan kepada Nur Ibrahim NK, orang tua dan guru saya sepanjang masa. Dari beliaulah Allah curahkan saya kecintaan pada pengetahuan, dan keterbukaan hati untuk menghormati perbedaan dalam hidup. Terima kasih juga untuk iu dan adik-adik saya semuanya. Mereka semua adalah para “profesor” yang di hadapan mereka saya menjadi bodoh, bahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele sekalipun. Terima kasih juga untuk keluarga Yahbit dan Pakloet di Banda Aceh yang menjadi rumah kedua dalam kehidupan saya saat ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada saudari Cut Aina Shaharina Putri yang menjadi teman diskusi dalam masalah non teknis, apapun dalam kehidupan saya. Salam untuk bapak dan keluarga semuanya.

Saya menyadari karya ini tidaklah sempurna dan masih jauh dari sebuah studi ilmiah sebagaimana layaknya. Saya masih bahkan terlalu banyak menggunakan referensi sekunder dan bahkan beberapa di antara sebenarnya  tidak layak dijadikan rujukan. Namun saya tetap berharap, sumbangan pemikiran dan kajian ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kajian sejarah di Aceh. Dan yang paling penting, ini dapat menjadi semangat awal bagi teman-teman kelompok diskusi yang selama ini hanya membuang ide di bawah kolong meja kedai kopi. Mari kita mulai menulis! Saya tidak mau mendengar apa yang ada katakan, tapi saya mau membaca apa yang anda pikirkan.[]

Hikmah

Mutiara Pencerahan Sufi

Dalam catatan sejarah, tidak sedikit para pemimpin Islam yang meminta fatwa dan nasihat keagamaan kepada para sufi.

Published

on

Mutiara Pencerahan Sufi

Sebut saja sebagian kecil dari pemimpin-pemimpin itu adalah Sulaiman bin Abdul Malik, Ja’far bin Muhammad, dan Harun ar-Rasyid. Bahkan Umar bin Abdul Aziz pun tidak segan-segan mengeluarkan biaya seribu dinar dari kas negara untuk mendapat nasihat Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Uthbah bin Mas’ud.

Tradisi nasihat-menasihati itu sebenarnya juga telah diisyaratkan oleh al-Qur’an baik lewat nashsh perintahnya (misalnya, QS. al-‘Ashr [103]:3), maupun lewat kisah-kisahnya, seperti kisah Luqman Hakim yang memberikan nasihat kepada anaknya. Sehingga dalam kehidupan nabi dan para sahabat pun banyak dijumpai tradisi saling menasihati untuk kebaikan dan kebenaran.

Dan, jika buku yang ada di tangan pembaca ini bermaksud meneruskan tradisi nasihat-menasihati tersebut tentu tidaklah berlebihan. Karena ada sekian ratus hikmah para sufi yang memuat nasihat dan petunjuk, berserakan dalam khazanah Islam. Barangkali muatan itu bisa memadukan pikiranpikiran yang berbeda, melegakan hati, melepaskan beban pikiran yang berat, dan menjaga kesantunan, seperti dikatakan oleh Umar bin Abdul Aziz.

Buku ini terdiri atas 200 cerita, dikumpulkan dari hikmah-hikmah yang bertebaran di berbagai kitab klasik pesantren, dan sebagian merupakan materi ceramah keagamaan penulis, KH. M.A. Fuad Hasyim. Setelah jilid pertama ini, akan menyusul dua jilid berikutnya, yaitu jilid ke-2 dan jilid ke-3.

Banyak kenangan yang sempat kami rekam bersama KH. M.A. Fuad Hasyim selama proses pracetak. Namun sebelum proses ini benar-benar selesai, kami dikagetkan oleh berita bahwa beliau telah berpulang ke rahmatullah, tepatnya 12 Juli 2004. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn, kami turut berbelasungkawa dan berdoa semoga rahmat Allah SWT senantiasa terlimpah untuk beliau. Amin.

Kami baru tahu siapa KH. M.A. Fuad Hasyim yang sebenarnya, ketika kami ta’ziah ke rumah beliau di Cirebon. Sungguh kami kagum, beliau telah menulis puluhan tahun. Karya-karya itu ditulis rapi dengan tangan, dan sebagian telah diketik “manual”. Oleh putera beliau, Kang A’im dan Babas, kami ditunjukkan begitu banyak karya beliau yang tersimpan di dalam kamar pribadi beliau. Mulai dari syair-syair, kisah para sahabat, dan studi keislaman lainnya. Kesemuanya ini menunjukkan sosok kiai yang lengkap, seniman, intelektual, dan dai (orator) yang kondang. Saat ini karya-karya beliau ini sedang kami siapkan untuk diterbitkan. Atas budi baik keluarga dari KH. M.A. Fuad Hasyim kami dapat meng-copy sebagian karya beliau.

Dalam buku ini, untuk pengantar penulis dan biodata, kami juga mendapatkan dari KH. M.A. Fuad Hasyim dalam bentuk tulisan tangan. Sebetulnya tidak begitu sengaja, pada saat kami melihat-lihat tulisan-tulisan beliau, di antara tumpukan buku-buku tebal ada buku tipis yang lusuh dan sudah rusak. Kami yakin itu bukan buku khusus milik beliau karena di dalamnya ada tulisan-tulisan anak kecil yang “awut-awutan”. Di antara lembaran buku itulah, ada tulisan KH. M.A. Fuad Hasyim, dan setelah kami baca ternyata pengantar dan biodata untuk buku yang saat ini ada di tangan pembaca.

Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan KH. M.A. Fuad Hasyim menyerahkan penerbitan naskah ini kepada kami. Juga kepada Ahmad Tohari yang memperkenalkan dan mendorong kami untuk menerbitkan naskah tersebut, dan kepada Agus Mu’thi yang telah dengan susah payah memindah dari naskah ketik ke dalam filefile komputer sehingga bisa diolah di meja redaksi. Dan kepada para pembaca, selamat menjelajah. [Pub]

Continue Reading

Pustaka

Sekuntum Bunga dari Taman Firdaus 

Published

on

Prof. Dr. Kadirun Yahya

Buku Sekuntum Bunga dari Taman Firdaus merupakan cetak ulang dari karya karya besar Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, yang ditulis pada tahun 1982. Buku ini secara ilmiah menjawab pro dan kontra terhadap metode tarekat/tasawuf/sufi, yang selain mengedepankan logika berpikir berbasis ilmu eksakta, juga ditunjang dengan dasar-dasar dari al-Qur’an dan hadist.

Taman Firdaus

Di Indonesia, sejak tahun 70-80 an, telah berkembang dialektika di antara para ilmuwan muslim terkait hubungan agama dan sains. Dalam diskursus ini, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya melalui teori metafisika eksakta yang digagasnya, dapat disebut sebagai pelopor dalam pengembangan pemikiran mengenai keterkaitan ilmu tasawuf serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemikiran ini dinilai mampu menunjukkan ilmiahnya ayat-ayat al-Qur’an melalui metode tarekat/tasawuf, yang bisa dibuktikan kebenarannya secara sains dan terukur, bukan hanya sekedar dogmatis.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya merupakan seorang ilmuwan sekaligus tokoh ulama tasawuf/sufi besar dari Indonesia, mursyid dari Tarekat Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Pemikiran, sosok kepribadian, dan pola dakwahnya yang unik, telah banyak diteliti dan ditulis para akademisi, peneliti, dan penulis, baik dari Indonesia maupun luar negeri. [MUA]

Continue Reading

Pustaka

Menyelami Buku Shalawat Nariyah

Published

on

Shalawat nariyah adalah salah satu shalawat yang paling popular di Indonesia dan Mesir. Menurut ahlul asrar, shalawat nariyah sifatnya dingin karena dilimpahkan dan dipersembahkan kepada makhluk yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad Saw. Dalam Kitab An Najmuts Tsaqib halaman 110 karangan Ibnu Sha’d, shalawat nariah sudah berusia 500 tahun bersamaan dengan islamisasi di Indonesia yang sangat massif oleh walisongo pada abad ke-15.

Menurut beberapa ulama seperti Syeikh Abdullah Siddiq al Ghumari, Syeikh Ali Jum’ah, Habib Mundzir al Musawwa dan Syeikh Muhammad Zaki Ibrahim, shalawat nariyah dikarang oleh ulama yang bernama Syeikh Ibrahim at Tazi. Sedangkan beberapa ulama lainnya seperti Syeikh Muhammad bin Alwi al Maliki dan KH. Aziz Masyhuri menyatakan bahwa shalawat nariyah dikarang oleh Abdul Wahab at Tazi. Namun seluruhnya sepakat bahwa shalawat ini berasal dari Maroko dengan nama lain shalawat taziyah.

Shalawat nariyah yang sampai di Indonesia, sebetulnya sudah banyak mengalami penambahan kalimat dari redaksi aslinya, seperti lafadz “sayyidina muhammadinilladzi”yang sebelumnya hanya kata “ala nabiyyin”. Kemudian pada kalimat setelahnya ditemukan pula lafadz “wa husnul khawatim”, “al karim”, “fi kulli lamhatin wa nafasin bi’adadin kulli ma’lumin laka” yang seluruhnya merupakan tambahan-tambahan dari beberapa ulama dan sudah dijelaskan dalam buku Shalawat Nariyah tulisan Dr. Alvian Iqbal Zahasfan.

Dalam tulisannya, Dr. Alvian juga mengutip kitab Khozinatul Asrar karya Syeikh An Nazili halaman 181 yang menjelaskan tambahan lafadz shalawat, jumlah bilangan yang diijazahkan serta fadilahnya. Di dalamnya dijelaskan,

“Barangsiapa yang ingin menghasilkan sesuatu yang penting, atau menolak bencana, maka bacalah shalawat tafrijiyah (nama lain shalawat nariyah) ini, dan bertawasullah dengannya kepada Nabi, yang memiliki akhlak yang sangat agung, sebanyak 4444 kali, sesungguhnya Allah akan mengabulkan permohonannya sesuai dengan niatnya. Demikian pula disebutkan oleh muhadits besar, Ibnu Hajar al Atsqolani, bahwa bilangan itu ada sirr (rahasia)nya, karena itu merupakan suatu elemen dalam memberikan dampak qabul. Demikian dijelaskan dalam kitab Asrarus shalah (rahasia-rahasia shalawat)

Dr. Alvian juga mengkhususkan pengamal shalawat nariyah untuk bertawasul sebelum membacanya dan tetap menjaga adab-adab seorang muslim. Karena shalawat ini sejatinya ditujukan kepada Rasulullah Saw yang sangat menjunjung tinggi adab, maka membacanya pun harus menggunakan adab.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending