Tarekat dan Kesehatan Mental

Kesehatan fisik seseorang biasanya terganggu pada saat kesehatan mentalnya melemah. Untuk itu, guna menangkal penularan penyakit, dokter biasanya menganjurkan agar kita tidak stres. Karena saat stres imunitas tubuh melemah dan virus atau bakteri sumber penyakit mudah masuk ke dalam tubuh kita.

Secara global, spiritualitas, tanpa melihat agama tertentu telah dipahami dari sudut pandang ilmiah, dan terbukti telah memberikan kontribusi terhadap ilmu kedokteran dan kesehatan, baik sebagai pencegahan maupun penyembuhan (healing).

World Health Organization (WHO) mendefinisikan ‘sehat’ sebagai keadaan yang baik dan sempurna secara fisik, mental maupun sosial. Artinya, prasyarat seseorang dikatakan sehat adalah dari segi psikologis, biologis maupun juga sosial.

Sebab itu, dalam bahasa Inggris ada tiga kata yang bermakna sakit, yaitu disease, illness dan sickness. Ketiganya menunjukkan makna berbeda-beda. Disease maknanya sakit secara biologis, illness memiliki makna sakit secara psikologis, sementara sickness bermakna sakit secara sosiologis.

Dalam bahasa Arab sakit adalah al-maradh lawan kata dari as-Sihah. As-Sihah berarti orang tersebut sehat secara psikis, biologis, sosial dan spiritual.

Pada abad ke-20, Sigmund Freud mengenalkan teori Psikoanalisis, di mana gangguan mental ringan atau “psikoneurosis” yang menimpa seseorang dapat menimbulkan gangguan organik seperti kelumpuhan, mati rasa, gangguan lambung, kecemasan, rasa takut dan lain sebagainya.

Tentu saja banyak temuan ilmiah tentang keterkaitan antara spiritualitas agama, termasuk di dalamnya ajaran tasawuf atau tarekat, dengan kesehatan seseorang.

Seperti ditulis J. Levin dalam, “Religion and mental health: Theory and research” pada sebuah jurnal internasional bahwa, di antara pengaruh ajaran spiritualitas atau agama terhadap kesehatan mental, adalah mencegah gangguan mood seperti depresi dan kecemasan. Dengan begitu para pengamalnya akan mendapatkan kesejahteraan psikologis seperti kepuasan dan kebahagiaan hidup.

Banyak sumber penelitian ilmiah memberi kesimpulan bahwa spiritualitas dan ketaatan beragama berpengaruh positif terhadap kesehatan mental seseorang.

Seorang sufi, dalam bertasawuf atau bertarekat selalu diajarkan untuk menjalani hidup dengan ketenangan. Dalam tarekat juga diajarkan pelatihan-pelatihan atau riyadhah dalam suasana ketenangan atau semacam relaksasi.

Dengan sering melakukan riyadhah atau berkontemplasi, mental seorang pengamal tarekat akan makin sehat. Akan dijumpai olehnya kepuasan hidup, makna dan tujuan hidup, kedamaian, ketenangan, optimisme, serta harapan yang lebih baik di masa mendatang.

Namun tentu dibutuhkan bimbingan yang baik dan benar dalam bertarekat, sebab itu ada yang dinamakan mursyid. Jika tidak, dampak positif dari mengamalkan tarekat justru bisa berbalik menjadi negatif, misalnya dalam bentuk kecemasan, stres dan sejenisnya. Salah pemahaman terhadap ajaran sufi bisa saja terjadi karena kesalahan komunikasi dan bimbingan.

Dalam situasi darurat wabah global virus korona yang terjadi saat ini, amaliah tarekat bisa menjadi alternatif untuk menjaga kesehatan mental kita dan menghindari stres, agar tubuh tetap sehat dan kuat sehingg terhindar dari berbagai macam penyakit.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...