Tafsir Berdialektika dengan Realitas

Tangerang Selatan – Islam Nusantara Center kembali menggelar Diskusi buku yang berjudul ‘Tafsir Al-Qur’an dan Kekuasaan di Indonesia: Peneguhan, Kontestasi dan Pertarungan Wacana’. Diskusi buku seri ke-18 ini diadakan di Sekretariat Islam Nusantara Center, Ciputat, Tangerang Selatan pada Selasa (2/10) lalu.

Hadir langsung penulis buku tersebut, Dr. Islah Gusmian MA, dan sebagai pembanding Prof. Dr. Mn. Harisudin M.Fil. I (Dekan Fak. Syariah IAIN Jember).

Buku yang awal mulanya merupakan disertasi doktoral penulis di UIN Sunan Kalijaga itu menurutnya, ingin membuktikan bahwa menafsirkan Al-Qur’an itu tidak bisa di ruang hampa. Tafsir yang ditulis akan berkaitan sekaligus bersinggungan dengan realitas sosial politik. Buku itu juga menurutnya, menggambarkan penafsir itu berada pada posisi seperti apa, peran sosial politiknya bagaimana, ini mempengaruhi. Ada proses dialektika ketika dia menafsirkan Al-Qur’an.

Foto: IG islamnusantaracenter.

“Karena pada akhirnya tafsir itu akan selalu melakukan proses dialektika. Terhadap realitas sosial di luar diri penafsir, bagitu juga di dalam terhadap penafsirnya itu sendiri,” kata penulis Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeneutika hingga Ideologi.

Karena, menurut Ahli Tafsir dari IAIN Surakarta itu, menafsirkan pada hakekatnya adalah pertama membaca Al-Qur’an, berusaha memahami pesan-pesan Allah dalam firmannya. Pada saat yang sama seorang mufassir mendialekkan realitas dengan teks yang dibaca. Begitu juga dengan situasi kebatinan mufassir.

“Sejarah Orde Baru itu memperlihatkan bahwa tafsir-tafsir yang ditulis sepanjang 30 tahun itu melakukan proses dialektika dengan caranya sendiri dengan modelnya yang berbeda-beda,” ujarnya.

Foto: IG islamnusantaracenter.

Dengan begitu, peneliti tafsir Jawa ini menegaskan bahwa tidak ada tafsir yang selesai. Tafsir akan selalu berkembang dan berdialektika dengan realitas.

“Tetapi jika tafsir tidak ada signifikansi terhadap realitas saya kira akan ditinggalkan orang karena tidak lagi punya makna secara kongkrit dalam kehidupan baik sosial atau politik di mana tafsir itu ditulis,” tutupnya. (damar/eep)

Komentar
Loading...