Connect with us

Mursyid

Syekh Yusri: Apa Itu Kebahagiaan?

Published

on

Mursyid Tarekat Syadziliyah dari Mesir Syekh Dr. dr. Yusri Rusydi hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah menjelaskan tentang sebuah hakikat kebahagiaan bagi seorang mukmin. Banyak orang yang mengira bahwasanya kebahagiaan itu terletak pada perkara dunia seseorang.

Ketika dirinya melihat seorang yang memiliki harta lebih, memiliki rumah yang banyak dan dimana-mana, maka ia adalah merupakan orang yang bahagia. Sesungguhnya kebahagiaan itu adalah apa yang telah baginda Nabi Saw sabdakan kepada kita yakni;

“ إن الله عزَّ وجل بقسطه، جعل الفرح والروح في الرِّضا واليقين وجعل الغم والحزن في الشَّك والسّخط ”
Artinya: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan kebahagiaan dan kelapangan hati pada keridhaan dan keyakinan, dan Allah telah jadikan kekhawatiran dan kesedihan pada sebuah keraguan dan ketidak ridhoan“(HR. Al Mundziri)

Ini adalah merupakan pengertian tentang kebahagiaan menurut baginda Nabi Saw yang telah diajarkan kepada ummatnya. Baginda merupakan orang yang paling sayang terhadap kita, beliau adalah orang tua bagi ummatnya. Sebagiamana beliau bersabda:

“إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْوَالِدِ ”

Artinya “Sesungguhnya kedudukanku adalah seperti ayah bagi kalian“(HR. Abu Dawud). Orang tua yang selalu mengharapkan kebahagiaan bagi anak-anaknya.

Baginda mengajarkan makna kebahagiaan ini sesuai dengan pandangannya seorang Nabi, seorang utusan Allah Dzat yang mengetahui akan kemaslahatan hamba-Nya. Kebahagiaan itu adalah ada pada makna keridhaan, yaitu ridha terhadap segala sesuatu yang telah Allah tuliskan untuk kita.

Ridha terhadap apapun yang terjadi kepada kita, dengan qodho dan takdir-Nya. Keridhaan adalah merupakan hasil dari sebuah keimanan dari seorang yang beriman kepada Tuhan yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang terbaik untuk hamba-Nya.

Ketika seorang mukmin diberi karunia sebuah kenikmatan oleh Allah Ta’ala, maka hendaknya dirinya ridha dengan menggunakan kenikmataan itu pada hal yang Allah ridhai.

Dan ketika seorang itu diberi cobaan oleh-Nya, maka hendaknya ridha terhadap cobaan tersebut, yaitu dengan bersabar, sehingga dirinya mendapatkan pahala yang tidak ada batasnya. Allah telah berfirman:

“إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ”

artinya: “Sesungguhnya Allah memberikan pahalanya orang-orang yang bersabar dengan tanpa batas“ (QS. Az Zumar:10).

Dan sebaliknya, kesengsaraan adalah ketika seorang mukmin itu tidak ridha terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Ketika Allah Ta’ala memberikan sebuah cobaan bagi seorang mukmin, maka ketahuilah bahwa Allah benar-benar telah mencintainnya.

Allah akan memberikan ridha Nya, jikalau dirinya juga ridha terhadap apa yang menimpanya. Hal ini sebagaimana dalam sabda baginda Nabi Saw:

“وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ ”

Artinya: “Dan sesungguhnya ketika Allah mencintai sebuah kaum, maka Allah akan memberikan cobaan bagi mereka. Maka barang siapa yang ridha (terhadap cobaan ini) maka baginya keridhaan Allah, dan barang siapa yang marah maka baginyapun murka Allah“ (HR. turmudzi).

Maka selagi kita yakin, bahwa tidaklah sesuatu di dunia ini terjadi melainkan atas kehendak Allah, maka hendaklah kita ridha, sehingga keridhaan ini akan menjadikan ridha Allah kepada kita, dan memasukkan kita kepada surga keridhaan di dunia sebelum masuk surgaNya di akhirat nanti.

Yaitu جنة المعارف قبل جنة الزخاريف yang artinya surga kemakrifatan kepada Allah Ta’ala sebelum surga keindahan di akhirat Nya. Wallahu A’lam.

Laporan: Abdullah AlYusriy

Artikel

Maqam Ihsan Menurut Syekh Yusri

Published

on

By

Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah pada pengajiannya menjelaskan tentang maksud dari ilmu tasawuf adalah sampai kepada maqam ihsan.

Tidaklah setiap orang melakukan pekerjaan kemudian ia menyempurnakannya. Begitu pula dengan seorang yang beribadah, maka tidak semua mengerjakannya dengan sempurna sesuai dengan yang dipinta oleh Allah Ta’ala.

Ilmu tasawuf ini mengajarkan kita untuk mewujudkan makna dari maqam ihsan, sehingga kita menjadi orang yang ahli ihsan. Makna ini lebih penting dari pada membahas asal kata tasawuf itu sendiri, karena terkadang lafaz itu membuat kegaduhan dari banyaknya pendapat.

Allah Ta’ala telah berfirman tentang makna ihsan ini, yaitu pada ayat:

“الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا”

Artinya: “Allah Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya “ (QS. Al Mulk: 2).

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa yang akan menjadi pertimbangan adalah kesempurnaan atau kwalitas dari amal kita, bukan kwantitasnya. Pada ayat lain Allah berfirman:

“إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”

Artinya: “Sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)” (QS. Al Baqarah: 195).

Allah mencintai orang yang ihsan dalam amalnya, sehingga maqam ihsan ini adalah maqam yang diridhaiNya. Sebagaimana orang yang bermaqamkan ihsan juga akan mendapatkan rahmatNya, sebagaimana disebutkan dalam Al qur’an:

“إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ”

Artinya: “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan“ (QS. Al A’raf: 56).

Syekh Yusri mengatakan bahwa Maqam ihsan adalah menyempurnakan amal perbuatan, dan mempersembahkannya hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak bermaksudkan dunia yang ia bisa dapatkan, atau perempuan yang akan ia nikahi sebagaimana dalam hadits baginda Nabi SAW. Yaitu dengan ikhlas dalam beramal dan tidak menyekutukannya dengan selain Allah Ta’ala:

“وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا”

Artinya: “Dan tidaklah ia menyekutukan Allah dalam beribadah kepada Tuhannya dengan sesuatu apapun“(QS. Al Kahfi: 110).

Bukan pula karena surga dan neraka, meskipun dia berharap untuk mendapatkan pahala dan diselamatkan dari neraka, karena dia adalah seorang hamba yang lemah, akan tetapi tidaklah hal ini sebagai faktor utama dalam ibadahnya.

Yang menjadi tujuan utama dalam ibadahnya adalah cinta kepada Allah Ta’ala, karena Allah cinta kepada orang yang ahli ihsan.

Maqam ihsan adalah derajat yang sangat mulia, yang tidak bisa dicapai kecuali dengan riyadhah nafsu dan mentarbiahnya hingga selamat dari perkara yang menghalangi dirinya dari tujuan ini.

Yaitu, menjadikan Allah sebagai tujuan kita, sesuai dengan sifat Allah dalam surat Al Ikhlas yaitu As Somadiyyah yang artinya Allah adalah yang Maha dituju pada setiap sesuatu. Wallahu A’lam.

Sumber: Akun Facebook Ahbab Maulana Syeikh Yusri Rusydi Al Hasany

Continue Reading

Artikel

Al-Fuhum al-Yusriyah Menurut Syekh Yusri Rusydi

Published

on

By

Sudah menjadi maklum bahwa Maulana Syekh Yusri Rusydi tidak jarang menyampaikan pemahaman beliau di tengah penjelasan kitab, jika penjelasan yang beliau sampaikan itu belum pernah ada yang menyampaikannya, beliau akan menamakannya dengan istilah “al-Fuhum al-Yusriyah ‘ala…

Tak ayal. Contohnya, beliau sendiri berseberangan pendapat dengan sang Guru, syeikh Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari dalam permasalahan lafadz أب dalam Quran tepatnya kisah Nabi Ibrahim yang mendoakan sang Ayah.

Menurut syekh Yusri hafizahullah, أب disitu berarti paman, bukan ayah kandung, karena lafadz أب dalam bahasa Arab tidak melulu berarti ayah kandung, tapi juga paman, kakek atau buyut. Ayah kandung Nabi Ibrahim bernama Tarih, wafat ketika sang Nabi masih kecil, kemudian sang pamanlah -Azar- yang mengasuhnya.

Juga pada hadis Nabi yang mengatakan, “Inna abi wa abaaka finnar” (Sungguh Abi dan abimu di Neraka), Abi di sini berarti paman Nabi (Abu Lahab), bukan Abdullah bin Abdul Muthallib, seperti yang dipahami kaum Wahabi.

Contoh lain, makna Sabar menurut “al-Fahmu al-Yusri” ada 4, Sabar dalam ketaatan menjalankan ibadah, Sabar untuk menjauhi maksiat, Sabar dan ridha atas qadar dan ketetapan Allah pada setiap makhluk, dan Istiqomah dengan manhaj ini selama hidup.

Ridha menurut “Al-Fahmu Al-Yusri” ialah merasa bahagia dalam setiap keadaan. Apapun itu, bahkan ketika tidak punya apa-apa, jika manusia merasa senang, sabar dan Qona’ah, disitu ia mencapai derajat ridha, untuk melaju derajat di atasnya, yaitu Mahabbah.

Fitnah, menurut “Al-Fahmu al-Yusri” ialah segala sesuatu yang dapat menjauhkan kita dari Allah. Makna ini lebih umum dari makna biasanya.

Makna-makna semacam ini beliau dapatkan dari pemahaman yang luas terhadap al-Quran, Bahasa Arab, dan hadis-hadis Nabi. Tak perlu bertanya bagaimana dahsyatnya beliau kalau menjelaskan hadis, lengkap dengan hikmah dan kisah yang melatarbelakangi.

Laporan: Mohammad Hendri Alfaruq

Continue Reading

Artikel

Salat Sebagai Sarana untuk Merehatkan Jiwa

Published

on

By

Baginda Nabi Saw bersabda:

عَلَيْكُمْمَا تُطِيقُونَ مِنَ الأَعْمَالِ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا

Artinya: “Lakukanlah pekerjaan sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidaklah akan pernah bosan (dengan memutus pahalanya) hingga kalian yang merasa bosan (denganmeninggalkan untuk mengerjakannya)”. (HR. Bukhari).

Allah akan menerima hamba-Nya yang telah beribadah kepada-Nya serta membalasnya dengan pahala atas dasar kemurahan-Nya, dan tidak akan pernah memutusnya. Hingga hamba tersebutlah yang meninggalkan amal tersebut sehingga Allah memutus pahalanya.

Karena bosan adalah suatu ‘ard (perkara yang datang dan pergi) yang merupakan sifat makhluk, sedangkan Allah adalah Dzat yang Maha Kekal dan Tidak berubah-ubah, sehingga sifat bosan ini diartikan dengan sesuatu yang menjadi lazimnya sifat tersebut, yaitu tidak memberikan balasan.

Telah diriwayatkan, bahwa para sahabat waktu itu menunggu waktu salat bersama baginda Nabi Saw, hingga sebagian dari mereka terlihat menundukkan kepalanya dan tertidur. Ketika qamat dikumandangkan, merekapun langsung terbangun dan salat bersama baginda Nabi.

Imam Abu Jamrah RA berkomentar atas perkara ini, bahwa diantara faidah qamat adalah menghilangkan rasa mengantuk, kelalaian, serta menghudurkan hati menghadap Allah Ta’ala

Ketika dikumandangkan qamat “Allahu Akbar “ maka keimanan akan bergetar dan terbangun dari kelalaiannya. Ketika terdengar “Asyhadu an laa ilaha illallah”, maka hati akan menjadi terang dan datanglah pertolongan Allah Ta’ala. ”Asyhadu an Muhammadan Rasulullah” menjadikan keyakinan semakin menguat dan menyebar keseluruh jiwanya.

“Hayya ‘ala as shalat” membuat azam semakin mantap, “Hayya‘ala al falah” memperbaharui dalam kesungguhan dan kesempurnaan menghambakan diri, “Allahu Akbar” berulangnya keagungan dan datang rasa haibah (rasa takut dengan penuh mengagungkan kepada Allah).

“laa ilaha illallah” menjadikan jiwa berpasrah, kesungguhan batin semakin sempurna, dengan terulangnya rasa haibah, dan keikhlasan, dzahir menjadi tunduk dan pasrah menjalankan ibadah salat.

Maka apabila seorang mukmin benar-benar merasakan makna yang terkandung pada kalimat-kalimat qamat yang telah disebut di atas, niscaya dirinya akan benar-benar siap menghadap kepada Sang Khaliq.

Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud RA, bahwa ketika waktu qamat telah tiba, maka baginda Nabi Saw akan berkata kepada sahabat Bilal:

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَابِهَا

Artinya: “Wahai Bilal, qamatlah untuk salat, rehatkanlah kami dengan salat itu”. (HR. Abu Dawud).

Salat adalah merupakan sarana untuk merehatkan jiwa dari kepayahan dunia ini, karena shalat adalah sebaik-baik dzikir yang hanya dengan berdzikirlah hati seorang mukmin menjadi tenang. Wallahu A’lam.

Laporan: Abdullah Alyusriy

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending