Syekh Muhammad Nafis

Ulama sufi, mursyid tarekat, dan penulis kitab tasawuf ad-Dur an-Nafis. Lahir di Martapura, Kesultanan Banjar, yang sekarang masuk wilayah Kalimantan Selatan, pada 1148 H (1735 M). Nama lengkapnya Muhammad Nafis bin Idris bin Husein.

Syekh Nafis merupakan keluarga Kesultanan Banjar. Ia hidup hampir semasa dengan Syekh Arsyad al-Banjary. Berbeda dengan Syekh Arsyad yang mencurahkan perhatiannya pada pengembangan fiqih dan penataan kelembagaan hukum di dalam lingkungan Kesultanan Banjar dan kerajaan-kerajaan Islam Melayu, Syekh Nafis banyak berkecimpung di kalangan masyarakat, menjadi mursyid tarekat dan mencurahkan perhatiannya pada tasawuf.

Ia mulai belajar agama kepada guru-guru agama di wilayah Kesultanan Banjar. Pada awal abad ke-18, ia berangkat ke Makkah dan Madinah, bertahun-tahun bermukim di kedua kota suci tersebut untuk mempelajari agama. Diantara guru-gurunya tercatat nama-nama seperti Syekh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi al-Azhari, Syekh Shiddiq bin Umar, Syekh Muhammad bin Abdul Karim Saman al-Madani, Syekh Abdul Rahman bin Abdul Aziz al-Maghribi, Syekh Muhammad al-Jauhari al-Mishri, Syekh Yusuf Abu Dzarrah al-Mishri, Syekh Abdullah bin Syekh Ibrahim al-Mirghani, dan Syekh Abu Fauzi Ibrahim bin Muhammad ar-Rais az-Zamzami al-Makki.

Riwayat hidup Syekh Nafis memang tidak seterang Syekh Arsyad al-Banjary. Tidak diketahui pasti, misalnya, kapan ia kembali ke Banjar dan mengabdikan diri dalam pengembangan tasawuf di Banjar dan beberapa daerah di Sumatera. Beruntung ia meninggalkan kitab ad-Durun Nafis (permata yang indah) yang hinggga kini masih dibaca serta ditelaah oleh kalangan pembelajar tasawuf di kawasan Kalimantan, Sumatera, dan Malaysia.

Kitab ini berjudul lengkap ad-Dur an-Nafis fii Bayani Wahidatil Af’al Wal Asma’i Wash Shifati Wadz Dzati Taqdiis. Kitab yang beraksara dan berbahasa Arab Jawi (Melayu) ini ditulis pada 1200 H untuk memenuhi permintaan teman-temannya dan ditujukan untuk para pembelajar tasawuf yang tidak mengerti bahasa Arab. Kitab setebal 40 halaman ini berisi ajaran-ajaran pengesaan Tuhan (tauhid), mulai dari pengesaan perbuatan (af’al), pengesaan nama (asma), pengesaan atribut (sifat), maupun pengesaan esensi (dzat) dan jalan menuju Tuhan. Untuk menuju hakikat, Syekh Nafis mengingatkan hal-hal yang membatalakan suluk (jalan menuju hakikat Allah) yaitu: malas beribadah (kasl), lemah atau tidak kuat beribadah dan sibuk urusan dunia (futur), dan bosan beribadah (malal).

Dikemukakan juga rintangan bagi salik untuk menuju hakikat Allah, yaitu: anggapan segala sesuatu berasal dari dan bersandar kepada makhluk (syirik khafi), memperlihatkan dan memamerkan ibadah kepada orang lain (riya’), mencertikan ibadah kepada orang lain demi kemuliaan duniawi (sum’ah), bangga dengan ibadah yang banyak dan merasa itu dari dirinya sendiri (‘ujub), berhenti beribadah karena merasa sudah sampai kepada Allah, dan terlena dengan ibadah yang dilakukan tanpa menyadari itu semua merupakan nikmat Allah (hijab).

Syekh Nafis mengingatkan pentingnya meluruskan dan menguatkan I’tiqad. Ia mengemukakan ada empat madzhab I’tiqad yaitu: madzhab Mu’taziliah, Jabariyah, Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan Ahli Kasyaf. Madzhab yang pertama, menurutnya, bid’ah fasik, madzhab yang kedua bersifat zindiq dan madzhab yang ketiga selamat dunia akhirat, namun tidak sampai pada “Martabat Kasyaf”. Meski tidak dijelaskan secara eksplisit, ajaran tasawuf Syekh Muhammad Nafis jelas ditujukan untuk mencapai martabat kasyaf, yaitu mereka yang terbuka seluruh tirai dari alam yang nyata menuju alam batin.

Dalam kitab tersebut, Syekh Nafis mengemukakan posisi ideologi keagamaannya dengan terbuka bahwa ia pengikut madzhab Syafi’i dalam fiqih, I’tiqad-nya Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan mengikuti Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam ushuludin, mengikuti Imam al-Junaid dalam tasawuf, Qadiriyah tarekatnya, Syattariyah pakaiannya, Naqsyabandiyah amalnya, Khalwatiyyah makannya, dan Sammaniyah minumannya. Maksudnya yang terakhir ini adalah ia mengikuti tarekat dengan tarekat-tarekat yang mu’tabarah.

Dalam penulisan kitab ad-Durun Nafis, selain menyitir Al-Quran dan hadits, Syekh Nafis juga menyandarkan pendapatnya pada para sahabat, tabi’in, dan ulama terkemuka lainnya. Kendati demikian, ajarannya dituduh mengajarkan paham wahdatul wujud.

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Komentar
Loading...