Syekh Abdur Rauf Singkel: Menyelaraskan Tarekat dan Syariat

Abdur Rauf Singkel menginginkan harmoni antara syariat dan tarekat. Dalam sejumlah karyanya ia menyatakan, tasawuf harus bekerja sama dengan syariat.

Sebab, hanya dengan kepatuhan yang total terhadap syariat maka seorang pencari di jalan sufi dapat memperoleh pengalaman hakikat yang sejati.

Ajaran tasawuf yang dikembangkan Syekh Abdur Rauf Singkel, seolah ingin menjadi jembatan bagi perbedaan tajam antara dua aliran tasawuf yang berkembang saat itu, yaitu “wahdatul wujud” atau Wujudiyah yang dan paham Syuhudiyah. Dua kelompok ini, yang pertama diwakili Syekh Syamsuddin As-Sumatrani dan yang kedua oleh Syekh Nuruddin Ar-Raniri.

Wujudiyah mengajarkan bahwa manusia dan alam berasal dari pengetahuan Ilahi, dan segala sesuatu ada di dalam kandungan Tuhan. Sementara, Syuhudiyah meyakini adanya dua dzat, yakni dzat Yang Nyata dan yang tidak nyata. Yang pertama adalah Tuhan dan yang kedua adalah makluk atau hamba.

Abdur Rauf Singkel bernama Aminuddin Abdur Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Ia lahir di Fansur kemudian dibesarkan di Singkel sekitar awal abad ke-17 M.

Ayahnya, Syekh Ali Fansuri, masih memiliki hubungan saudara dengan Syekh Hamzah Fansuri. Syekh Ali terkenal sebagai ulama yang memimpin sebuah Dayah, bernama Simpang Kanan di pedalaman Singkel.

Pada tahun 1642 M Syekh Abdur Rauf memperdalam ilmu agama ke jazirah Arab. Ia diperkirakan kembali ke Aceh sekitar tahun 1662 M. Di Aceh ia mengajarkan serta mengembangkan tarekat Syattariah yang diperolehnya.

Banyak murid yang berguru kepadanya baik dari Aceh maupun wilayah Nusantara lainnya. Di antara murid yang kelak menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan dari Pariaman, Sumatra Barat dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dari Tasikmalaya, Jawa Barat.

Syekh Abdur Rauf Singkel wafat pada tahun 1693 di usia 73 tahun. Ia dimakamkan di samping masjid yang dibangunnya di Kuala Aceh, desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Banda Aceh. Ia mendapat sebutan gelar yang juga terkenal, yaitu Tengku Syiah Kuala yang berarti Syekh Ulama di Kuala.

Makam Syekh Abdur Rauf Singkel (bercungkup) di desa Dayah Raya, Muara Krueng Aceh, Banda Aceh. Foto: Wikimedia.

Tarekat Syatariyah

Menurut sumber, salah satu guru Syekh Abdur Rauf Singkel adalah Syekh Ahmad al-Qusyasyi, seorang ulama di Madinah, mursyid Tarekat Syattariyah. Nama Syekh Abdur Rauf sendiri muncul dalam silsilah tarekat, dan ia menjadi orang pertama yang memperkenalkan Tarekat Syattariyah di Nusantara.

Di antara karya besar Syekh Abdur Rauf Singkel adalah “Tarjuman al-Mustafid”, yaitu terjemahan dan tafsir Alquran pertama dalam bahasa Melayu.

Kitab ini banyak dipengaruhi oleh karya Abdullah bin Umar bin Muhammad Syairazi al-Baidawi, Tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil. Kitab terdahulu yang sudah dikenal mendunia.

Namun, “Tarjuman al-Mustafid” karya Syekh Abdur Rauf Singkel juga tak kalah mendunia. Kitab ini pernah diterbitkan dalam edisi dua jilid di Istanbul, Turki pada tahun 1884/1885.

Ajaran Tasawufnya

Setidaknya ada tiga poin pokok yang dapat menggambarkan ajaran tasawuf Syekh Abdur Rauf Singkel, yaitu:

Pertama, tentang hubungan ketuhanan dengan alam. Ia menganut paham satu-satunya yang wujud hakiki adalah Allah. Sedangkan alam ciptaannya adalah wujud bayangan-Nya, yakni bayangan dari wujud hakiki.

Kedua, Insan Kamil adalah sosok manusia ideal. Ia memahami “Insan Kamil” sebagai kombinasi dari paham al-Ghazali, al-Hallaj dan paham martabat tujuh.

Ketiga, terekat adalah jalan menuju Allah. Kecendrungannya untuk menyelaraskan syariat dan tarekat terlihat sekali ketika ia menjelaskan bahwa tauhid dan zikir sejalan dengan kepatuhan total pada syariat.

Sementara itu, mengenai zikir, Syekh Abdul Rauf berpandangan bahwa zikir penting bagi orang yang menempuh jalan tasawuf. Bahkan ia menyebut bahwa dasar dari tasawuf adalah dzikir. Fungsinya, mendisiplinkan rohani.

Ia mengajarkan dua metode zikir, yaitu zahr (suara keras) dan khafiy (suara pelan). Menurutnya, zikir merupakan usaha untuk melepaskan diri dari sifat lalai dan lupa. Dengan zikir hati seorang hamba selalu mengingat Allah. Tujuannya ialah mencapai fana‘, yakni tidak ada lagi wujud selain wujud Allah, yang juga berarti bahwa wujud hati yang berzikir amat dekat dengan wujud-Nya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...