Connect with us

Tokoh

Syeikh Marwani Angin; Ulama Kharismatik Asal Rancailat, Tangerang

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Syeikh Marwani

Rancailat adalah nama desa yang terletak di perbatasan Kecamatan Kresek dan Kronjo. Nama tersebut berasal dari kata “Ranca” yang berarti Rawa dan “Ilat” yang berarti lidah. Pemberian diksi “Rawa” ditafsirkan sebagai kobangan air yang disekitarnya dipenuhi flora dan fauna.

Desa Rancailat terbagi menjadi beberapa kampung seperti Kampung Kandang, Pecung, Tonjong, Bojong, Cayur dan Rancailat Utara. Cikal bakal Desa Rancailat ada di kampung Rancailat Utara yang tepat berada di ujung utara Desa Rancailat. Pemberian nama desa tersebut juga berkaitan dengan letak wilayahnya yang dikelilingi oleh sawah. Sehingga, desa ini diumpamakan seperti lidah dan giginya sebagai sawah. Jadi, Desa Rancailat adalah gambaran lidah yang dikelilingi oleh gigi.

Legenda Musafir Sakti yang Dikecewakan

Ada semacam legenda di desa ini yang menyebabkan rasa air di Desa Rancailat menjadi asin dan hambar. Zaman dahulu ada seorang musafir beristirahat di Desa Rancailat. Ia merasa sangat lapar dan haus. Ia meminta makanan warga setempat tetapi warga disana tidak ada yang memberinya makan dan minum sedikitpun. Akhirnya dengan rasa kesal dan amarah musafir itu mengutuk seluruh penduduk Desa Rancailat agar terjadi kemarau sehingga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan. Kemudian lambat laun, sedikit demi sedikit mata air di Desa Rancailat mulai mengucur. Sayangnya, rasa air tersebut telah berubah menjadi asin dan hambar. Di sisi lain, secara geografis, rasa air yang asin itu sangat wajar karena jarak antara Desa Rancailat menuju laut lumayan dekat sebagaimana tempat wisata dan ziarah Pulo Cangkir dan Tanjung Kait.

Syeikh Marwani; Ulama Besar Setempat yang dilupakan Generasi Milenial

Wilayah Desa Rancailat menurut penduduk setempat adalah wilayah agamis. Banyak sekali hal-hal menakjubkan yang terdapat di sini diantaranya adalah cerita tentang Syeikh Marwani Angin. Menurut cerita, Syeikh Marwani tidak memiliki garis keturunan yang istimewa. Namun berkat ketaatannya yang dalam serta tirakatnya yang kuat, Syeikh Marwani menjadi salah satu ulama hebat di wilayahnya pada masa itu.

Syeikh Marwani hanyalah rakyat biasa yang seumur hidupnya tidak pernah makan nasi. Ia hanya memakan oncom tanpa garam yang dibungkus dengan aci sebagai pengganti makanan pokoknya. Perjalanan rohaninya bermula ketika ia frustasi disebabkan kematian anaknya yang tercebur sumur. Setelah itu, ia memutuskan untuk melalang buana hingga wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Ia sempat dianggap gila oleh sebagaian penduduk setempat. Namun kenyataannya yang mengatakannya gila justru kehidupannya tidak berkah. Menurut informasi, apa yang pernah ia ucapkan dulu, kini menjadi kenyataan. Konon, ketika ia dan rombongannya kehujanan dalam suatu perjalanan, baju orang-orang yang ikut serta basah karena kehujanan, sedangkan ia tidak.

Dalam mengemban misi dakwah, ia mendirikan Masjid Al-Aqsha dengan usahanya sendiri tanpa meminta sepeserpun dari warga. Demikian juga warga setempat, tidak ikut menyumbangkan hartanya untuk membangun masjid ini. Padahal selama hidupnya, ia hanya tinggal di sebuah gubuk. Masjid Al-Aqsha mulai dibangun pada tahun 1990 dan selesai dibangun pada tahun 2002. Masjid ini berasitektur Arab-Jawa.

Syeikh Marwani wafat pada tahun 2007 dan dimakamkan di bangunan yang berseberangan dengan Masjid Al-Aqsha yang berdekatan dengan kediaman keluarga. Sampai saat ini, setiap malam jumat banyak sekali jamaah yang menziarahi pesareannya. Menurut cerita, siapa saja yang memiliki masalah kehidupan kemudian dan datang bertaqarrub serta melaksanakan shalat di lima masjid di Rancailat yang salah satunya adalah Masjid Al-Aqsha ini, maka Insyaa Allah permasalahannya akan segera terselesaikan.

Berdasarkan cerita lain, ada tamu dari Arab yang mengaku bertemu dengan Syeikh Marwani dan diminta untuk datang ke Desa Rancailat. Padahal pada waktu itu sang ulama sudah meninggal. Wallaahu a’lam.[]

Tokoh

Mengenal KH. Zamrodji Kencong, Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah

Published

on

Kiai Zamrodji adalah putra dari pasangan Kiai Syairozi bin Kiai Syakur dengan Nyai Asiyatun binti Kiai Sirojuddin. Ia bersama saudaranya antara lain Kiai Sholhah, KH. Ahmadi dan KH. Abdul Hadi merupakan perintis Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kencong, Kediri pada tahun 1951. 

Pada masa remaja, Kiai menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan berguru kepada beberapa ulama, di antaranya KH. Dimyathi bin KH. Abdulloh bin KH. Abdul Manan yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tremas Pacitan, dimana pesantren tersebut berhasil mencetak ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh nasional seperti mantan Menteri Agama Dr. KH. Mu’thi Ali, MA, KH. Ali Ma’shum, Pengasuh Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Bantul Yogjakarta, waliyullah KH. Abdul Hamid Pasuruan, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh lulusan pesantren Tremas yang lain.

Di pondok tersebut, Kiai kerap melakukan riyadlah secara rutin berupa melakukan ziarah ke makam perintis dan pendiri Pondok Pesantren Tremas, KH. Abdul Manan dan juga para masyayikh lainnya selama 41 Jum’at dengan berjalan kaki melalui jalan setapak di lereng bukit yang jaraknya sekitar 10 Km dari pesantren. Bahkan menurut kepercayaan para santri, barangsiapa yang mampu istiqamah untuk berziarah ke makam masyayikh Tremas selama 41 Jum’at tanpa putus, maka ia akan menjadi kiai besar. Dan rupanya itu menjadi salah satu keberkahan dari masyayikh yang mengantarkan Kiai Zamrodji menjadi ulama besar pada masa berikutnya.

Di pondok Tremas pula Kiai bertemu dan berkawan dengan Kiai Hamid Pasuruan. Meskipun demikian, Kiai Zamrodji tidak sungkan untuk berguru kepada Kiai Hamid untuk memperdalam ilmu Bahasa dan Sastra Arab lewat kajian kitab Uqudul Juman. Sayangnya, belum tuntas Kiai belajar, Kiai Hamid malah hendak boyong. Akhirnya Kiai selalu berusaha mengejar dan mengikuti Kiai Hamid kemanapun gurunya itu pergi.

Setelah belajar di Tremas, Kiai melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, hingga Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Dari Pondok Rejoso inilah Kiai berguru Ilmu Thariqah serta berbai’at kepada KH. Romli Tamim, Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Tidak lama berselang dari kedatangannya di Pondok Rejoso, Kiai diberi tugas dan amanah oleh Pengasuh KH. Romli Tamim untuk memperkenalkan Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah kepada penduduk Kencong dan mencari jamaah untuk dibaiat langsung oleh KH. Romli Tamim.

Setelah mendapatkan dawuh dari gurunya, Kiai kembali ke Kencong bersama seorang temannya yang bernama Khoiri. Selanjutnya Kiai mendatangi Kiai Mahalli ke Dusun Nongkorejo untuk membantunya mengumpulkan jamaah yang akan dibaiat thariqah sebagaimana amanah KH. Romli Tamim.

Atas bantuan Kiai Mahalli, terkumpullah sebanyak 17 orang dari Dusun Nongkorejo sendiri dan juga dari Desa Pleringan yang siap dibaiat. Informasi tersebut kemudian disampaikan oleh Kiai kepada KH. Romli Tamim. Dan untuk pertama kalinya, pada Hari Rabu Legi, bertepatan dengan Bulan Dzulhijjah tahun 1952 KH. Romli Tamim membaiat jamaah di daerah Kencong yang dilanjutkan dengan kegiatan khususiyah pada hari Sabtu Wage berikutnya dan berjalan hingga saat ini.

Pada pasca pesta demokrasi tahun 1977 terjadilah gejolak dalam lingkungan warga dan tokoh-tokoh thariqah karena masuknya KH. Mustain Romli ke Partai Golongan Karya. Karena dipicu oleh sentimen kepartaian saat itu, maka banyak warga dan tokoh thariqah yang mufaroqoh dari Rejoso, antara lain Kiai Zamrodji sendiri, KH. Adlan Ali Cukir Diwek Jombang dan masih banyak lagi.

Akhirnya  Kiai Adlan sowan dan berbai’at mursyid kepada KH. Muslih Abdurrohman Mranggen, salah satu Mursyid Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabndiyyah yang mengembangkan thariqah di wilayah Jawa Tengah. Sekembalinya Kiai Adlan dari Mranggen, masyarakat yang akan masuk thariqah sowan dan berbai’at kepadanya. Pada saat Kiai Mahalli sowan kepada Kiai Adlan, ia menyampaikan pesan dari Kiai Zamrodji agar gelar mursyid supaya mengikuti KH. Adlan Ali saja. Namun rupanya pesan tersebut ditolak secara tegas oleh Kiai Adlan. Bahkan, Kiai Adlan meminta Kiai Mahalli untuk menyampaikan pesan balik untuk Kiai Zamrodji agar dirinya juga menjadi mursyid.

Tidak lama berselang dari gejolak warga thariqah tersebut, KH. Makhrus Ali Lirboyo mengumpulkan para Kiai se-Kediri untuk  membahas keberadaan Guru Mursyid thariqah di daerah Kediri. KH. Makhrus dalam pertemuan tersebut bertanya kepada para kiai yang hadir, 

Sinten sing sampean pilih dadi Guru Mursyid? (Siapa yang anda pilih menjadi Guru Mursyid?)”

Para kiai mengharap kepada Kiai Makhrus untuk menjadi Guru Mursyid, tetapi Kiai Makhrus menolak karena ia sudah memiliki pilihannya sendiri

Ben Kiai Zamrodji wae sing dadi Guru Mursyid (Biar Kiai Zamrodji saja yang menjadi Guru Mursyid).” kata KH. Makhrus Ali.

Para kiai yang hadir menyatakan setuju atas pilihan tersebut. Karena dorongan dari pertemuan itu, Kiai Zamrodji kemudian berangkat ke Mranggen untuk mengambil bai’at Guru Mursyid kepada KH. Muslih dengan diantar oleh KH. Jupri Karangkates Kediri dan Bapak Syafi’i Sulaiman Bangsongan Kediri.

Setelah mengambil bai’at kepada KH. Muslih, Selanjutnya Kiai Zamrodji mengadakan bai’atan di Kencong pada setiap Sabtu Wage dan murid thariqah yang mengambil bai’at darinya sampai saat ini tersebar di berbagai daerah di Jawa Timur dan juga di daerah-daerah lain, khususnya para alumni Pondok Pesantren Raudlatul Ulum.

Pembai’atan murid yang diadakan setiap hari Sabtu Wage sempat ditiadakan sekali, karena kondisi kesehatan Kiai yang mulai melemah pada bulan-bulan terakhir menjelang kepergiannya. Pada Hari Sabtu Wage tanggal 11 September 1999, adalah hari yang menjadi saksi terhadap perjuangan Kiai Zamrodji dalam dunia thariqah. Sebab pada hari itulah kesempatan terakhirnya mengikuti kegiatan Sabtu Wage-an. Namun pada hari itu Kiai masih memberikan pengajian kepada para murid thariqah dan mengadakan bai’atan yang terakhir sebelum akhirnya kembali ke Hadlirat Allah Ta’ala dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, bai’atan dilakukan oleh Kiai Muhammad Nuril Anwar, putranya yang sudah dibai’at sebagai Guru Mursyid pada malam Kamis Pahing tahun 1413 H. yang disaksikan oleh KH. Rofi’i Hasan yang kala itu sedang menjabat sebagai Ketua Pengurus Koordinator Pusat.

KH. Zamrodji wafat pada hari Selasa Pahing, tanggal 8 Rajab tahun 1420 H, bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1999 M. Kiai dikaruniai lima orang putra yang semuanya laki-laki dengan meninggalkan lembaga pendidikan Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kencong. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kencong juga menjadi salah satu pusat kegiatan pengamal Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Continue Reading

Tokoh

Mengenal Mama Ajengan KH Ahmad Syuja’i Ciharashas, Ulama Kondang dari Tanah Sunda

Published

on

Mama Ajengan KH. Ahmad Syuja’i Ciharashas atau yang kerap disapa dengan panggilan Mama Ciharashas lahir pada 15 Juni 1910 M, di Kampung Tugu, Desa Pasirhalang, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Ia merupakan putra dari pasangan KH. Gojali Singapraja dan Ny. Hj. Hafsah.

Mama Ciharashas memulai pendidikan dengan belajar di sekolah desa dan Vervolg School (sekolah Belanda) pada tahun 1926-1927. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya dengan belajar di berbagai pondok pesantren, di antaranya Pesantren Sumursari Garut dari tahun 1927-1928, Pesantren Gentur yang diasuh KH. Mama Ajengan Ahmad Syatibi (Mama Kaler) dan Mama Ajengan KH. Ahmad Kurtubi (Mama Kidul) mulai tahun 1929-1938. Kemudian ia berguru kepada KH. Raden Husen (Mama Ciajag) bin KH. Ahyad Cianjur dan KH. Djunaidi Tangerang.  Ia juga berguru kepada para habib, di antaranya Habib Ali Al-Attas, (Bungur, Cikini, Jakarta), Habib Muhammad Al-Haddad, (Tegal, Jawa Tengah) dan Habib Syekh bin Salim Al-Attas ( Sukabumi).

Riwayat Hidup KH. Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas) bin Haji Ghojali Singapraja, Mama Ciharashas dianjurkan masuk dan aktif di NU oleh KH. Mansur Jembatan Lima, Jakarta (Guru Mansur). Bahkan Guru Mansur menganjurkan harus punya ‘Kartano’ (sekarang Kartanu).  

Setelah Mama Ciharashas mendirikan Pesantren Asy-Syuja’i, banyak dukungan dari masyayikh agar menjadi pengurus Nahdlatul Ulama. Dukungan ini juga diberikan oleh Habib Muhammad Al-Haddad, Tegal, Jawa Tengah, Habib Syekh bin Salim Al-Attas, Sukabumi, dan Al-Habib Utsman Al-Idrus, Bandung. 

Kendati Demikian, Mama Ciharashas masuk NU tidak sagawayah (sembarangan). Ia dianjurkan aktif di NU oleh tiga habib jempolan dan satu kiai. Tak heran, sejak masih santri KH. Ahmad Syatibi Gentur (Mama Kaler), Mama Ciharashas sudah memiliki Kartanu.   

Ketika Habib Utsman Al-Idrus menjabat sebagai Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, dengan pendirian yang teguh, dilandasi ilmu agama yang kuat dan mendalam, serta desakan para masyayikh, maka dengan keputusan bulat, Mama Ciharashas menjadi Pengurus PCNU Kabupaten Cianjur.

Kemudian Mama Ciharashas diangkat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Provinsi Jawa Barat, hingga akhir hayatnya pada 20 Dzulqadah 1403 H atau 28 Agustus 1983 M.

Sampai sekarang banyak santri-santrinya yang aktif di NU, bahkan menjadi Rais Syuriah PCNU di Priangan Barat. Sebut misalnya Rais Syuriyah PCNU Sukabumi KH. Mahmud Mudrikah Hanafi (Pengasuh Siqoyatur Rohmah, Selajambu), almaghfurlah KH. Zezen Zainal Abidin (Pengasuh Pesantren Az-Zainiyah, Nagrog), KH Abdullah Mukhtar (Pengasuh An-Nidzom Panjalu), Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung KH Tajuddin Syubki dan lain-lain.

Penulis: Zaki
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Tokoh

Mengenal Kiai Djamhari Ponorogo, Pendekar dan Ulama Thariqah yang Nyaris Dilupakan Zaman

Published

on

KH. Moch. Djamhari Ghozali Anwar merupakan ulama thariqah sekaligus Muassis Pondok Pesantren An-Nur, Trisono, Babadan,  Ponorogo, Jawa Timur. Ia lahir dari pasangan suami istri Muhammad Darman dan Nyai Satinem dari Desa Banaran, Delopo, Madiun. 

Sewaktu kecil, Kiai Djamhari hanya berguru kepada ulama-ulama kampung. Barulah setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Tebu Ireng di bawah asuhan KH. Hasyim Asyari. Belum seberapa lama Kiai belajar bersama Hadratussyekh, ia sudah diperintahkan oleh sang guru untuk melanjutkan pencarian ilmunya ke arah barat. Ini dikarenakan Kiai Hasyim sudah melihat potensi lain dalam diri Kiai Djamhari.

Kemudian Kiai mengikuti perintah gurunya untuk terus berjalan ke arah Barat sampai ia bertemu Syekh Imam Bakri dan Syekh Imam Rifai. Menurut keterangan KH. Muhammad Fuaidil Khalik Alhamdani, selaku pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, mereka bertemu di wilayah Cirebon dan Banten. Dari kedua ulama tersebut, Kiai mendapatkan ijazah satu, dua dan tiga. Ijazah dua dan tiga ia dapat dari Syekh Imam Bakri dan ijazah satu ia dapatkan dari Syekh Imam Rifai. Ijazah ini pula yang nantinya akan diajarkan kepada para muridnya yang diberi nama Asmaul Haq

Setelah Kiai beranjak dewasa, ia menikah dengan seorang perempuan yang berasal dari Baleboto, Madiun dan tinggal di sana. Bersamanya, Kiai dikaruniai empat orang puteri. Kemudian Kiai menikah lagi dengan istri kedua yang berasal dari Babadan, Ponorgo dan hijrah ke sana. Istrinya tersebut bernama Nyai Ismi Munawwarah. Dari istri yang kedua ini, Kiai dikaruniai dua orang putra dan putri. Sayangnya, sebelum dewasa keduanya meninggal. Akhirnya, Kiai mengangkat tiga keponakan dari istrinya untuk dijadikan anak, mereka adalah Ning Harin Darmasastuti, Gus Arba’ dan Ning Nuraini. Bersama istrinya yang kedua ini lah Kiai mendirikan Pondok Pesantren An-Nur.

Setelah itu, Kiai menikah lagi dengan seorang perempuan dari Sareng, Madiun dan dikaruniai seorang putra yang bernama Gus Zamzuli. Kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan dari Tulungagung dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Gus Andri dan Gus Maksum Singgih Kusumo Yudo.

Berdirinya Pondok Pesantren An-Nur

Setelah berguru kepada Syekh Imam Bakri dan Syekh Imam Rifai, Kiai Djamhari mendapat mandat untuk melakukan baiat oleh gurunya. Namun, karena rasa ta’zimnya, ia menolak sebanyak tiga kali dengan alasan sang syekh masih ada. Kiai akan menyanggupi amanat itu jika gurunya tidak mau lagi membaiat dan ia sudah mendapatkan derajat yang sama seperti gurunya.

Akhirnya Syekh Imam Rifa’i berdoa dan diamini oleh Kiai Djamhari. Seketika itu, atap masjid seakan hilang tembus ke jagad raya bertabur bintang. Sedangkan dari timur terpancar cahaya putih memanjang memenuhi cakrawala, cahayanya meliputi ufuk timur dan barat.  

Setelah kembali ke asal, Kiai membuka sebuah perguruan bernama Bunga Islam (BI). Secara kemasan, perguruan tersebut memang didirikan sebagai wadah pencak silat Bunga Islam. Tapi secara substansi, perguruan itu dijadikan sarana dakwah, sebagaimana Sunan Bonang dan Sunang Kalijaga yang menjadikan kesenian budaya sebagai media dakwah. Sedangkan tujuan Kiai mendirikan perguruan itu adalah untuk mengembangkan keilmuan Asmaul Haq yang dikemas dengan pencak silat. Terlebih di Ponorogo sendiri pada waktu itu merupakan basis pencak silat.

Perguruan BI bisa diikuti oleh siapapun dengan syarat anggota tersebut melaksanakan shalat lima waktu, menjauhi molimo, memiliki perilaku sabar dan akhlak yang baik. Oleh sebab itu, BI menamakan seluruh anggotanya dengan sebutan santri. Karena memang ketika masuk bunga Islam, pada dasarnya mereka mengaji sebagaimana di pesantren lain.

Dahulu, perguruan ini bisa menerima 500-600 orang setiap harinya untuk menjadi santri. Bahkan untuk bertemu dengan Kiai bisa menunggu 2-3 hari karena saking banyaknya antrian.  Untuk efisiensi waktu, mereka memilih menginap di sekitar lokasi tersebut. Karena banyaknya calon santri yang menunggu, akhirnya Kiai membangun tempat menginap seadanya. Tapi semakin lama jumlah mereka semakin banyak dan mereka merasa nyaman tinggal di tempat tersebut dan tidak mau pulang. Atas dasar itu lah Kiai mendirikan Pondok Pesantren An-Nur. Nama An-Nur sendiri dinisbatkan dari anak angkatnya yang ketiga yang bernama Nuraini.

Selama hidupnya, Kiai memimpin Pondok Pesantren An-Nur hanya selama 15-16 tahun, yakni sejak babat alas sekitar tahun1984 hingga wafatnya pada tahun 1999. Namun dengan dakwahnya yang relatif singkat itu, Kiai sudah bisa diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia. Bahkan santrinya ada yang berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam dan beberapa negara lain.

Sayangnya, santri-santri lamanya banyak yang tidak terdata. Sehingga tidak bisa terkodifikasi dengan baik. Namun dapat diketahui, termasuk santri Kiai juga Bapak Harmoko, Bapak Muslimin Nasution, Bahkan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, dai sejuta umat KH. Zainudin MZ hingga raja dangdut Rhoma Irama pernah berguru kepadanya.

Seiring perkembangan zaman, An-Nur yang dulunya hanya menyediakan perguruan Bunga Islam, sekarang bertransformasi menjadi Pondok Pesantren pada umumnya, yaitu memiliki pendidikan formal setingkat MTs dan MA. Adapun kegiatan pembaiatan hingga kini masih dilakukan pada Hari Jumat setelah jumatan untuk di pusat dan untuk di luar jawa selain hari Jumat sebagaimana yang dilakukan oleh Kiai.

Wafatnya Sang Ulama dan Penerus Estafet Perjuangan

Menjelang hari-hari terakhirnya, Kiai jatuh sakit. Ketika bertepatan dengan Hari Jumat, Kiai bertanya kepada pengurus yang kala itu mendampingi, “Hari ini ada baiatan apa tidak?”

Kemudian dijawab, “Tidak ada baiat. Panjenengan kan sakit.”

Mendengar jawaban itu, Kiai malah sedih dan berkata,

“Kenapa harus berhenti? Teruskan saja. Di pondok ‘kan banyak yang bisa untuk mewakili saya. Ada organisasi dan ada pengurusnya yang bisa mengaturnya. Jangan menunda dan menahan hidayah mereka yang mencari jalan kebenaran ilmu yang haq.” 

Sebelum kepergiannya, Kiai tidak memberikan isyarat terbuka kepada siapa yang akan menjadi penerusnya. Tapi dahulu, ada rekaman dari sebuah kaset ketika pendadaran dua, Kiai pernah menyampaikan di masjid bahwa,

“Sesok seng nerusno aku neng kene (Besok yang meneruskan saya ada di sini –sambil menunjuk ke arah lantai masjid).”

Beruntungnya, ketika ditinggal olehnya, secara lahir, Kiai sudah membuatkan wadah untuk dimusyawarahkan bersama keluarga meskipun dalam banyak versi ada yang mengaku diberi amanah oleh Kiai.

Setelah wafatnya Kiai, salah seorang dari putranya menemukan tulisan tangan Kiai yang berisi beberapa nama yang tidak diridlai Kiai jika mereka mendirikan BI sendiri. Benar saja, kebanyakan yang membuka pendidikan sendiri tanpa restu Kiai tidak akan bertahan lama.

Kiai Djamhari dikebumikan di area Pondok Pesantren An-Nur sebagaimana wasiatnya yang ingin dimakamkan di lokasi tempat ia berjuang. Setelah kepergiannya, banyak santri yang kehilangan arah. Kemudian para pengurus sowan kepada Kiai sepuh dengan niat menanyakan bagaimana kelanjutan BI ini. Tapi ternyata yang disowani itu juga santrinya Kiai.

Akhirnya, Pengasuh Pesantren sempat mengusulkan untuk membuat panduan yang diperuntukkan bagi kader yang berisi kitab tentang Tauhid, Syariat, Tasawuf, untuk diajarkan kepada santri. Sehingga setiap cabang ada majelis zikirnya, dapat mengadakan kegiatan rutinan sebulan sekali.

Seputar Asmaul Haq

Isi dari Asmaul Haq adalah mengajarkan Tauhid, yaitu mengesakan Allah sebagaiman yang diajakarkan oleh Syekh Imam Bakri dan Syekh Imam Rifai. Intinya, mempelajari bagaimana mendekatkan diri kepada Allah. Jika dianalogikan, Islam seperti lautan yang berisi pemandangan, ikan dan biota-biota laut yang bisa dinikmati. Tapi ada bagian laut yang tidak bisa dinikmati, yaitu bagian paling dasar.

Begitu pula di BI, ada senam, ada latihan fisik, latihan pernapasan dan latihan bela diri serta ilmu hikmah yang bisa dinikmati untuk kesehatan raga.  Namun di dalam BI ada substansi dari latihan itu, yaitu Ilmu Tauhid, yakni mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan seorang hamba jika sudah dekat dengan Tuhannya, meminta apapun pasti akan diberikan. Maka dari itu, Kiai Djamhari pernah mengatakan jika ilmu BI ini bisa bermanfaat untuk apa saja dengan syarat tidak hanya sekedar menjadi santri BI tapi juga mengamalkan seluruh ajaran Islam.

Karena cara memperolehnya yang dianggap tidak masuk akal, serta keberadaan guru yang tidak diketahui secara pasti, sempat ada masa di mana ajaran ini dianggap sesat. Lalu dari pengurus yang berinisiatif untuk melakukan tabayun kepada masyarakat NU dengan menanyakan kepada Kiai Mahrus dan itu dishahihkan. Tidak puas dengan hanya satu Kiai, mereka juga pernah mengajukan ijazah sanad Asmaul Haq kepada Habib Luthfi dengan menyertakan ajaran dan wirid yang diamalkan. Kemudian Habib Luthfi menshahihkan. Bahkan Habib pernah berkata bahwa ia ingin ke Ponorogo. Namun sayangnya belum pernah tersampaikan hingga saat ini.

Karamah Kiai Djamhari

Sebagaimana waliyullah yang tidak pernah terlepas dari karamah, begitu pula yang dianugerahkan Allah kepada Kiai Djamhari. Tercatat ada beberapa keanehan yang dialami muridnya selama dan setelah belajar bersama Kiai Djamhari.

1. Cerita dari Bapak Abdul Malik Tuban

Bapak Abdul Malik adalah santri sekaligus supir pribadi Romo Yai Djamhari. Suatu ketika, Kiai hendak menghadiri acara baiatan di daerah di Sumatera dengan membawa mobil yang disupiri Pak Malik. Ketika perjalanan memasuki tengah hutan yang jalannya agak menanjak, tiba-tiba mobilnya mogok dan hal yang harus dilakukan agar mesinnya dapat hidup kembali adalah didorong. Kemudian Pak Malik minta izin untuk mendorong, sedangkan Kiai yang menyupir dari dalam. Namun tawaran tersebut ditolak oleh Kiai, karena ia memilih mendorong mobil dan Pak Malik yang menjadi supir. Pak Malik akhirnya manut. Anehnya, Kiai yang bertubuh kecil itu kuat mendorong mobil sendirian. Ditambah muatan Pak Malik dengan berat 85Kg.  Belum lagi kondisi jalan yang menanjak. Akhirnya mobil tersebut dapat berjalan seperti sedia kala.

2. Cerita Dari Kang Bayan

Ketika sedang pendadaran satu, semua santri diwajibkan berzikir. Ketika itu ada sebagian sesepuh dari madiun dan beberapa santri yang sebelumnya sudah ikut pendadaran satu tidak ikut zikir. Salah satu dari mereka berkata,

Awak dewe wis tau melu pendadaran siji, saiki gak usah terlalu konsen zikir, tapi delengen romo Kiai Djamhari, lak metu mujizate (Kita sudah pernah ikut pendadaran satu, sekarang tidak perlu terlalu konsen zikir, tapi lihat saja Kiai Djamhari pasti keluar karamahnya).”

Dan benar saja. Disaksikan oleh beberapa santri kala itu bahwa Kiai sedang berkeliling mengawasi murid murid yang berzikir. Tiba-tiba Kiai bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sekedipan mata. Waktu itu peserta sekitar 3000 orang dari barisan pertama sampai membeludak ke halaman dan teras rumahnya. Tapi semuanya bisa dipantau oleh Kiai secara langsung.

Dan banyak lagi karamah Kiai yang dialami santri-santrinya. Wallahu a’lam bisshawwab

Sumber: Wawancara

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending